SINOPSIS Tomorrow With You Episode 3 Bagian 2

SINOPSIS Tomorrow With You Episode 3 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: tvN

Setelah berhasil keluar dari penjara, Ibu terus-terusan ngedumel mengenai betapa malunya dia kalau sampai teman-temannya tahu. Ma Rin malas untuk menanggapi ucapan ibunya terlalu mendalam. Tak akan ada yang tahu selagi Ibu tidak bergosip dengan temannya.

Sesampainya di depan rumah, sudah ada So Joon yang menantikan kedatangannya. So Joon basa-basi menanyakan kabarnya. Sampai akhirnya, dengan lantang ia mengajak Ma Rin untuk berkencan dengannya. Itulah tujuannya datang kemari.

“Terima kasih sudah jauh-jauh kemari. Tapi sayangnya, hal itu tidak membuatku goyah.”



So Joon meminta Ma Rin supaya lebih lunak padanya. Ma Rin tetap tak mau, lagipula So Joon datang dan pergi sesuka hatinya. Akhirnya dirinya yang harus menanggung malu sendirian. Manabisa ia berkencan dengannya? Seberapapun yang ia pikirkan, ia merasa aneh dengan hubungan mereka. memangnya mereka ini sebenarnya punya hubungan apa?

“Aku juga tidak tahu. Aku tidak mengetahui hal itu. Aku juga kebingungan, sampai rasanya kepalaku hendak meledak.” Aku So Joon

Ma Rin juga merasakan hal yang sama, ia mengulang ucapan So Joon yang tak mau bertemu dengannya lagi dan tak ingin berpapasan dengannya. Ia mengingatkan bahwa So Joon pernah mengatakan hal itu sebelumnya, mungkin sekarang sudah lupa. Ma Rin masuk dalam rumahnya sedangkan So Joon masih berdiri memaku disana.

Ma Rin mengecek lensa kameranya, dia mendesah sedih. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


Ini adalah takdirmu yang sebenarnya. Kau jatuh sakit dan tidak lama kemudian. kau meninggal, membuatku merasa kasihan padamu. Itu sebabnya aku membantumu.” Batin So Joon dalam perjalanan.

Jadi seharusnya, takdir Ma Rin kalau tidak diselamatkan oleh So Joon, dia kemudian lumpuh dan menggunakan kursi roda.


Ponsel So Joon berdering. Tak lama kemudian, ia menepikan mobilnya untuk menemui Se Young. Se Young tak banyak berkata-kata, dia hanya memberikan isyarat dan So Joon sudah mengerti.

Ayah Se Young sibuk membagikan selebaran tentang rumah Hapiness. Dia meminta pada pengunjung bar untuk menyisihkan sedikit uangnya yang mereka gunakan minum-minum demi orang lain. Tak seorang pun diantara mereka yang memperdulikan Ayah Se Young.

So Joon datang kesana untuk menghentikan aksi Ayah Se Young. Ayah malah menghormat pada So Joon, ia memperkenalkan pada mereka semua jika So Joon adalah seorang presdir meskipun usianya muda. Ia donatur terbesar untuk rumah Happiness. So Joon membujuk Ayah untuk bergegas keluar, dia tak pantas melakukan hal ini. Dia itu direktur utama sebuah yayasan amal loh.

Dalam perjalanan pulang, Ayah terus memuji So Joon. Kalau orang tua -nya tahu, pasti dia akan bangga. So Joon tak nyaman dengan ucapan Ayah Se Young. Se Young mencoba menghentikan ocehan ayahnya, Appa selalu bicara hal yang sama terus menerus. Ayah tetap membahas masalah impian keluarga So Joon, mereka yang ingin membetuk yayasan amal dan ternyata anak mereka yang mengabulkan impiannya.

“Kalau terus dibahas, aku berhenti mengucurkan dana, nih!”

Ayah menyarankan agar So Joon berhenti mengingat kejadian tujuh tahun yang lalu. Ingat saja masa bahagianya dan bersyukur masih diberi kehidupan. So Joon makin tak nyaman, dia tidak bisa hidup damai karena ia menginginkannya. Ia juga tetap mengingatnya, sampai mati pun akan tetap saja. Berhentilah membahas hal itu.

Suasana menjadi canggung, Se Young dengan kikuk menawarkan untuk memutar musik.

Ma Rin masih terus memikirkan ucapan So Joon tadi. Tapi dia juga tak mau lama-lama memikirkannya. Ia bergegas membuka komputer dan mencari harga kamera. Dia bingung antara mau beli baru atau sewa saja.


Keesokan harinya, Ma Rin mulai berkeliling untuk melihat-lihat harga kamera digital. Bertepatan saat itu, Gun Sook menelfonnya hanya untuk sekedar pamer kalau dia sedang bulan madu dengan suaminya. Ah.. berhubungan Gun Sook sekarang sudah kaya, Ma Rin ingin meminjam uang padanya.

Gun Sook langsung malas bicara dengan Ma Rin, ia buru-buru memutuskan panggilannya.

Berbanding terbalik dengan omongan manis Gun Sook pada Ma Rin, kenyataannya dia malah sedang jengkel pada suaminya. Mereka batal Bulmad sesaat sesudah resepsi pernikahan. Young Jin tak mau kalah, dia juga tak ingin kehilangan meeting dengan investor luar negeri yang menjadi sumber pendapatannya. Dan.. ia memperingatkan supaya Gun Sook jangan menyingkat ucapannya, kekanak-kanakan.

Gun Sook masih ngomel sebal, Young Jin memberikannya kotak berisi kartu kredit sebagai ganti bulan madu. Lagipula ini demi kebaikan mereka, ia akan berusaha menjadikan Gun Sook sebagai Ibu Presdir. Gun Sook bungkam setelah mendapatkan hadiah, apalagi mendengar ucapan “Ibu Presdir”.



So Joon masih terngiang terus ucapan Doo Sik mengenai anak. Ia menggelengkan kepalanya dengan kasar supaya bayangan itu lenyap. Tapi tiba-tiba dia malah berhalusinasi, melihat seorang anak meminta nasi padanya. Ia sampai tersedak, dan ketika menoleh, disana sudah ada Ma Rin yang keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk. Ia terus memanggilnya manja, Deobbang –ah...

Ma Rin menemui So Ri untuk pinjam uang darinya untuk dia gunakan melamar kerja, dia berjanji akan segera mengembalikannya. Tapi So Ri heran, kenapa tidak pinjam pria itu saja, katanya dia presdir perusahaan real estate. Ma Rin mengklaim kalau pria itu tidak ada hubungannya dengannya. So Rin tak percaya, pria itu kan sudah ke rumah Ma Rin dua kali, berarti pria itu menyukai Ma Rin.


"Aku sempat berpikir begitu, tapi ternyata tidak. Kau tidak tahu saja seperti apa dia itu. Dia sangat kaya jadi tidak mungkin dia menyukaiku. Kurasa otaknya hanya sedang tidak waras saja"

"Tidak masalah gila, yang penting dia kaya"

"Kau jadi kedengaran seperti Gun Sook. Aku punya uang dan ketenaran saat umurku 6 tahun. Sekarang tidak ada gunanya. Kau harus belajar dari pengalaman. kalau kau terjebak dalam situasiku, semuanya jadi sia-sia"


Tepat saat itu juga, So Joon tiba-tiba menelepon, tapi Ma Rin menolak menjawab dan langsung keluar biar dia tidak tergoda untuk menjawab teleponnya So Joon. Akhirnya So Ri yang mengangkat teleponnya dan memberitahu So Joon untuk datang ke tempat kursus pianonya jika So Joon ingin bertemu Ma Rin.

Saat So Joon tiba di depan tempat-nya So Ri tak lama kemudian, dia melihat Ma Rin sedang dikerubungi bocah-bocah yang ribut memanggilnya ahjumma. Ma Rin protes, minta dipanggil unnie atau noona. So Joon tersenyum mendengarnya. Dia teringat akan ucapan Doo Sik untuk punya anak tepat saat seorang anak kecil berlari ke arahnya sambil berteriak "Appa..."

So Joon bingung tapi kemudian membentangkan tangannya untuk menyambut anak itu (mungkin dia kira itu anak khayalannya kali). Anak itu terus menuju ke arahnya... dan melewatinya begitu saja kedalam pelukan ayahnya yang berdiri di belakang So Joon. Ma Rin melihatnya saat itu dan menghampirinya.

Bagaimana bisa So Joon kemari? Apa So Joon membuntutinya? So Joon menyangkalnya, Temannya Ma Rin sendiri yang menyuruhnya datang. So Ri keluar saat itu dan membenarkan ucapan So Joon. So Ri baru mengenali siapa So Joon saat mereka berdua sudah pergi, dia presdir Suaminya Gun Sook.


Mereka lalu makan udon bersama. Ma Rin heran saat melihat So Joon menatap sebuah keluarga yang makan bersama dengan bahagia, tapi So Joon cepat-cepat mengalihkan pandangannya dan melanjutkan makannya. Ma Rin curga, jangan-jangan So Joon menderita penyakit jiwa. Kemarin dia begini, sekarang dia begitu, apa dia penderita Bipolar? Atau mungkin dia ada masalah dengan perusahaan atau warisannya? Atau seperti yang ada di drama-drama, dia main kotor untuk mempertahankan posisi presdir-nya? Apa dia jadi stres karena masalah itu?

Dengan muka serius, So Joon menggoda Ma Rin dengan membenarkan dugaan Ma Rin.
Ma Rin benar-benar mempercayainya dan semakin semangat menduga kalau masalah So Joon ada hubungannya dengan Ibunya. Apa Ibunya So Joon tipe Ibu yang menyiram air pada kekasihnya dan dan memberi uang agar kekasihnya menyingkir? Pasti itu alasan So Joon memberontak. So Joon diam saja sambil menahan senyum gelinya.

"Kau pasti sempat sulit tertawa. Tapi, harus bagaimana yah? Kau tidak kelihatan terlalu licik. Kau tampak sangat manusiawi"

"Terima kasih"

"Kalau begitu kau saja yang bayar udon-nya," ujar Ma Rin dan langsung beranjak pergi, dia sudah tidak lagi penasaran dengan So Joon.

Kaget, So Joon bergegas menyusulnya, dia belum selesai bicara. Dia berusaha menghentikan Ma Rin dengan menarik tasnya tapi malah membuat foto-foto yang akan Ma Rin gunakan untuk melamar kerja berhamburan di jalan.

So Joon membantu memungutinya sambil mengungkit tentang artikel wawancara Ma Rin dan bertanya apakah Ma Rin ingat dengan salah satu korban yang secara ajaib selamat bersamanya?

Kenapa So Joon mau tahu dengan hal itu. So Joon beralasan kalau dia hanya kepikiran hal itu setelah membaca artikelnya Ma Rin. Ma Rin mengaku tak ingat karena waktu itu keadaannya sangat kacau. Tapi dia berharap orang itu hidup dengan baik. Tanpa memberitahukan tentang dirinya, So Joon berkata kalau dia yakin orang itu hidup dengan baik karena dia beruntung bisa selamat.

"Aku akan senang jika memang begitu meski kurasa tidak mudah. Kuharap dia tidak merasa bersalah"

So Joon tidak mengerti apa maksud Ma Rin. Tapi Ma Rin menolak menjelaskan, lagipula So Joon tidak akan mengerti walaupun dia menjelaskannya. "Orang bilang aku beruntung bisa selamat, tapi mereka tidak tahu perasaan bersalah yang kupunya. Akan menyenangkan kalau bisa bertemu dengan pria itu lagi, kami bisa saling menghibur."

So Joon bertanya bagaimana Ma Rin akan menghibur pria itu. Ma Rin menolak mengatakan apapun, dia hanya akan melakukannya di depan orang itu. So Joon termenung menatap foto Ma Rin di tangannya. Ma Rin baru ingat kalau So Joon sudah mengetahui masalah kecelakaan itu bahkan sebelum artikelnya dirilis, bagaimana So Joon bisa mengetahuinya?

So Joon beralasan kalau dia mengetahuinya dari Sekretarisnya. Ma Rin langsung celingukan khawatir, mengira kalau Sekretarisnya So Joon mengawasi mereka dan orang tuanya So Joon tahu tentangnya. So Joon tertawa melihat tingkah Ma Rin lalu mengemblikan foto-fotonya, tapi dia mengambil satu untuknya sendiri.

Ma Rin menolak dan berusaha merebutnya, kenapa juga So Joon mau memiliki fotonya. Tapi So Joon bersikeras untuk memiliki satu foto Ma Rin itu, dia mau membawanya pulang dan memandanginya, dia ingin memperhatikan wajah Ma Rin baik-baik. "Kau terlihat... imut."


Malam harinya, So Joon bertemu Se Young dan Ki Doong di cafe tapi baik Ki Doong maupun So Joon sibuk nge-game dengan ponsel masing-masing sampai Se Young protes. Baru saat itulah Ki Doong akhirnya menyudahi permainan mereka dan mulai memperhatikan Se Young. So Joon lalu menanyakan pendapat mereka, bagaimana jika dia menikah?

"Kasihan sekali wanitanya," ujar Se Young "dia harus hidup dengan seseorang yang hanya peduli dengan dirinya sendiri sepertimu? Berkencan sajalah dulu"

"Sebelumnya aku tidak pernah memikirkan masalah pernikahan"

"Kalau begitu jangan menikah," saran Ki Doong

"Iya, kau kan tidak akan mati meski tidak menikah. Ada apa sebenarnya?"

So Joon langsung membeku mendengarnya. Tapi dia cepat-cepat mengalihkan pikirannya dan meminta pesanan yang tadi dimintanya dari ki Doong. Ternyata dia meminta Ki Doong membelikannya kamera fotografer pro, dia heran kenapa So Joon membutuhkan alat ini? So Joon cuma mengeceknya sebentar lalu langsung pergi tanpa menjelaskan apapun.

Dalam perjalanan pulang naik subway, Ma Rin teringat akan pertanyaan So Joon tentang pria yang selamat bersamanya dalam kecelakaan itu. Setibanya di stadiun, dia berhenti di memorial dan menatap foto-foto kenangan para korban termasuk orang tua So Joon. Dia meminta maaf pada mereka karena sampai sekarang dia masih diberi ucapan selamat karena selamat dari kecelakaan itu. Dia meminta maaf pada para almarhum dan memanjatkan doa untuk mereka.

Keesokan harinya saat dia keluar rumah, dia menemukan tas berisi kamera itu tersembunyi di bawah bangku depan rumahnya. Ma Rin shock melihat isinya, apa Langit yang mengirim kamera ini padanya? Tapi dia menemukan pesan di dalamnya yang tertulis: Hadiah, dari pria pemberontak yang kaya raya.

Ki Doong serius membahas pembelian lahan di distrik Sobeol, tapi So Joon malah nyantai menggambar wajah sapi di peta.
Dia mendapat sms dari Ma Rin saat itu. Dia berterima kasih atas kameranya, tapi dia tidak bisa menerimanya jadi dia mau mengembalikannya, So Joon dimana sekarang? So Joon mengaku sedang bekerja dan menyuruh Ma Rin menerimanya saja, kameranya kan tidak bersalah, itu cuma hadiah kecil dari cowok kaya raya sepertinya. So Joon lalu pergi.

Ma Rin tiba di depan gedung perusahaannya So Joon dengan membawa kamera itu. Memikirkan ucapan So Joon, dia merasa So Joon memang benar, kameranya tidak bersalah. Dia pun berubah pikiran dan langsung mundur, batal mengembalikannya. Tapi... akhirnya dia balik lagi, kameranya memang tidak bersalah tapi tetap saja harganya terlalu mahal dan harus dikembalikan.

Dia masuk lobi dan langsung melongo melihat kemewahan kantor itu, apa gedung ini milik orang tua So Joon. Tepat saat itu juga, dia melihat So Joon keluar dari lobi. Ma Rin langsung mengejarnya.
Dia mengembalikan kamera itu tapi So Joon menolak menerimanya, katanya kameranya Ma Rin rusak saat di kantor polisi.

"Aku akan mengurus itu sendiri"

"Di sini banyak orang, sebaiknya kau pergi kecuali kau mau buat keributan, kau bisa diseret ke ibuku kalau sampai begitu. Kau tahu, kan? Disiram air lalu dikasih amplop uang," ujar So Joon sambil masuk kedalam mobilnya.

Ma Rin tetap bertekad mengembalikannya. Tapi entah apakah karena terlalu konsen berdebat dengan So Joon sampai-sampai dia tidak sadar kalau dia salah memasukkan tasnya sendiri kedalam mobilnya So Joon alih-alih kameranya. Dia memberitahu So Joon bahwa walaupun kamera ini tidak mahal bagi So Joon, tapi baginya sangat mahal.

Dia lalu langsung pergi, tanpa menyadari Direktur Kim dan Sekretarisnya yang sedari tadi keheranan melihat mereka. Ma Rin dengan santainya memeluk tas kameranya sambil memberitahu dirinya sendiri kalau dia sudah melakukan hal yang benar dengan mengembalikan kameranya... dan baru saat itulah dia menyadari kalau dia sudah melakukan kesalahan.


Parahnya lagi, dia melihat mobilnya So Joon sudah pergi saat itu. Dia langsung mencegat taksi dan menyuruh supir membuntuti mobilnya So Joon. Dia mencoba menelepon So Joon tapi ponselnya tidak bisa dihubungi. So Joon berhenti di parkiran Subway dan meninggalkan mobilnya di sana. Dia santai berjalan memasuki stasiun sambil cengar-cengir tanpa menyadari Ma Rin yang berlari mengejarnya dengan keheranan, kenapa So Joon meninggalkan mobilnya dan naik subway?

Dia hampir berhasil menyusul So Joon saat kereta tiba dan So Joon masuk kedalamnya.

Ma Rin pun buru-buru ikut masuk lewat gerbong sebelah lalu berjalan mendekati So Joon yang masih senyam-senyum gaje. Tapi senyumnya mulai menghilang saat dia menoleh dan melihat Ma Rin berjalan menghampirinya.


Ma Rin berjalan menghampirinya dengan senyum. Tapi saat So Joon menoleh padanya, langkahnya langsung terhenti. Saat itulah dia mulai teringat siapa So Joon, dia pria yang berdebat dengannya 7 tahun yang lalu, pria yang selamat bersamanya dari kecelakaan itu. Sekarang dia mulai mengerti kenapa So Joon bertanya-tanya tentang kecelakaan itu dan pria yang selamat bersamanya.

Kereta melewati terowongan saat itu. Terlalu shock dengan apa yang barusan disadarinya, Ma Rin langsung memalingkan muka. Dia hanya menenangkan diri beberapa saat. Tapi saat dia berbalik kembali, So Joon sudah menghilang.
So Joon sudah berada di masa depan. Kereta yang ditumpanginya lebih sesak, meskipun begitu tak ada satu orang pun yang menyadari kemunculannya.

Gun Sook memanggil Sekretaris suaminya ke rumah hanya untuk menyuruhnya memperbaiki ledeng, dia kira itu juga salah satu pekerjaan yang harus dilakukan Sekretaris. Sekretaris Hwang terpaksa harus menurutinya.

Sementara dia bekerja, Gun Sook menelepon So Ri, lagi-lagi pura-pura sedang bulan madu di Hawaii.

So Ri protes karena Gun Sook pamer lalu memberitahu Gun Sook kalau Ma Rin sedang berkencan dengan seseorang, tapi dia tidak yakin apakah harus memberitahu Gun Sook tentang pria yang Ma Rin kencani. Gun Sook menduga, jangan-jangan dia pria yang sudah menikah.

"Hei! Memangnya Presdir My Rich sudah menikah?" protes So Ri "Presdir perusahaan suamimu yang sedang kencan dengannya."

Gun Sook langsung tertawa, sama sekali tak percaya omongan So Ri dan langsung menutup teleponnya. Tapi Sekretaris Hwang yang mendengarkan segalanya dari dapur, memberitahu Gun Sook kalau tadi dia memang melihat presdir-nya bersama Bap Soon.

Ma Rin termenung setibanya di Stasiun Seoul. Sambil memandangi foto So Joon, dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa selama ini dia tidak mengenali So Joon.


So Joon juga termenung di stasiun masa depan. Diam-diam dia mengambil ponsel masa depan (yang seluruhnya terbuat dari kaca) yang tersembunyi dibawah vending machine. Tapi saat dia mengecek ponselnya, dia malah mendapati peringatan kalau hari ini adalah hari kematiannya. So Joon shock, bingung kenapa dia bisa kemari.


Dia buru-buru keluar dan menelepon So Joon masa depan, menanyakan dimana dia berada sekarang. So Joon masa depan terdengar tak bersemangat saat dia berkata kalau dia sedang mengemudi dan memberitahu So Joon tidak ada jalan keluar. So Joon masa kini kesal mendengarnya, dia sudah gila apa? Apa dia tidak tahu ini hari apa? Dia terus menuntut keberadaan So Joon masa depan. Tapi So Joon masa depan hanya menyuruhnya untuk kembali saja, So Joon bisa dalam bahaya kalau tetap di sini saat dia mati.

"Seharusnya kau mengunci diri didalam rumah atau pergi mendaki gunung yang jauh," protes So Joon.

Tapi So Joon masa depan tidak mau menjalani saat terakhirnya dengan cara seperti itu. Malah saat ini dia sedang menuju Stasiun Namyeong, dia ingin naik subway untuk yang terakhir kalinya. So Joon masa kini jadi semakin kesal, "Berhentilah menyebut 'terakhir'. Tidak mungkin kau itu aku, aku bukan pecundang sepertimu!"


So Joon masa depan hanya tersenyum sendu. Dia berhenti di lampu merah dan melihat Ma Rin hendak menyeberang jalan tak jauh darinya. So Joon melihatnya dengan mata berkaca-kaca seolah bersiap menerima takdir yang sudah diketahuinya. Mendengar suara teriakan So Joon masa kini di telepon, So Joon masa depan berkata "Kenapa kau tidak coba membuat hubunganmu dengannya berhasil?"

Tepat saat itu juga, seorang pria berlari tergesa-gesa ke arah Ma Rin dan tak sengaja menubruknya. Ma Rin terjatuh ke jalan saat itu dan langsung ditabrak sebuah mobil. Tabrakan itu membuat mobil-mobil lain jadi kacau dan saling bertabrakan hingga terjadilah kecelakaan beruntun. Sebuah mobil menabrak mobil lainnya hingga terpelanting jauh dan terbanting tepat ke mobilnya So Joon.


So Joon masa kini gelisah mencari sosok masa depan dirinya saat beberapa mobil polisi dan ambulance lewat. Menyadari apa yang terjadi, So Joon bergegas ke TKP dan mendapati So Joon masa depan sudah digotong ke ambulance. Dia menghampiri Ma Rin yang saat itu sekarat. Dengan lemah dia mengenggam tangan So Joon dan menggumam "Aku takut, jangan pergi"

"Aku... kau mungkin tidak tahu. Aku pernah sekali menyelamatkanmu. Jangan cemas," petugas ambulance cepat-cepat memasukkan Ma Rin kedalam ambulance saat So Joon berjanji "Aku... akan... menyelamatkanmu."

Hujan mulai mengguyur deras saat itu dan So Joon bergegas pergi dengan tekad baru.

Di masa kini, Ma Rin berniat menelepon So Joon tapi dia terlalu gugup melakukannya dan akhirnya memutuskan untuk mengetik pesan untuk So Joon. Dia mengaku ingat akan pertemuan pertama mereka dalam insiden Stasiun Namyeong dan mengajak So Joon untuk ketemuan sekarang, dia akan menunggu di Stasiun Namyeong.

So Joon berlari secepat mungkin ke stasiun. Sementara di masa kini Ma Rin, Ma Rin berjalan keluar subway sambil bernarasi "Suasana hatiku sangat baik sekarang. Karena... karena tidak peduli siapapun kau... aku senang kau selamat."


Sayangnya, So Joon terlambat. Pintu kereta sudah menutup saat dia tiba. Dia makin panik karena waktu kematiannya adalah pukul 9:15 malam sementara saat ini sudah pukul 9:14 malam. Peringatan Doo Sik kembali teringang saat menit berganti 9:15. So Joon masa kini pun perlahan menghilang.

Sementara di masa kini, Ma Rin menunggu kedatangan kereta dengan senyum bahagia sembari melanjutkan narasinya "Karena hari itu kita selamat bersama. Aku selalu bersyukur. Karena bukan hanya aku yang selamat, aku senang bertemu lagi denganmu"

3 Responses to "SINOPSIS Tomorrow With You Episode 3 Bagian 2"

  1. Terima Kasih chingu atas sinopsisnya. Ditunggu sinopsis ep 4 nya....SEMANGAT..

    ReplyDelete
  2. terima kasih ....

    ReplyDelete
  3. kak, kasih komentarnya dong disetiap akhr episode, lebih seru kalo ada komentarnya kak,heheh
    aku udah nonton dramanya, cuman aneh aja rasanya kalo engga baca sinopsis nya heheh
    semangat ya kak ^^

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR