SINOPSIS Tomorrow With You Episode 1 Bagian 2

SINOPSIS Tomorrow With You Episode 1 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: tvN


Ma Rin sibuk melakukan pekerjaannya sebagai fotografer baju online. Dengan sopan ia menjelaskan pada rekannya, Bit Na supaya bergaya seperti biasa. Mereka sedang mengenakan pakaian biasa, bukannya karya designer. Bit Na cemberut membenahi gayanya, dia mendengus sebal bertanya-tanya kapan mereka bisa sukses? Apa mereka akan berakhir gini-gini aja?

Tak bisa menjawab, Ma Rin menunjukkan hasil jepretannya pada Bit Na dan memujinya yang tampak imut. Ia meminta Bit Na supaya tidak mengkhawatirkan tentang masa depan.




Ma Rin menerima panggilan dari Gun Sook. Dengan malas menjawab, dia tengah sibuk saat ini. Gun Sook mengomentari Ma Rin yang selalu beralasan sibuk, bisa-bisa dia menjadi orang tersibuk di dunia. Datanglah menemuinya, ia mau belanja banyak dan meminta Ma Rin untuk membawakannya.

“Memang aku budakmu, huh? Kau jadi semakin tidak tahu malu.”

Gun Sook menawarkan sebuah kesepakatan saling menguntungkan, dia dengan kalau Ma Rin mengirimkan portofolio pada Fotografer kemarin. Ia akan meminta suaminya untuk membujuknya. Ma Rin sempat ragu, tapi kemudian menegaskan jika ia tak ingin menggunakan koneksi Gun Sook. Dia akan membuktikan dengan bakatnya sendiri.


Hehehe.. meskipun sudah menolak tapi Ma Rin nyatanya tetap datang menemani Gun Sook berbelanja. Gun Sook terus membicarakan soal suaminya yang ini dan itu. Katanya suaminya yang sudah membuat Fotografer itu menjadi kaya, makanya dia kemarin mau memotret mereka secara pribadi.

Ma Rin bosan mendengarkan cuitan Gun Sook. Ia meminta Gun Sook untuk menanyakan pendapat Fotografer tentang dirinya. Mereka kan sudah membuat kesepakatan give and take. Gun Sook mendengus dengan sikap tak sopan Ma Rin yang terlalu to the point. Lagipula, lebih baik dia menyerah dengan mimpinya dan menikah saja. Ia punya kenalan loh..


Hilang kesabaran, Ma Rin menarik tangan Gun Sook untuk cepat-cepat membeli barang yang dibutuhkannya. Gun Sook mengancam bahwa Young Jin –nya tidak akan tinggal diam kalau ia diperlakukan seperti itu.

Tak perduli, Ma Rin memesan pada pelayan untuk menunjukkan barang yang membuat orang lain penasaran dengan harganya. 

Young Jin dan Sekretaris Hwang memasuki lift. Ki Doong buru-buru untuk bisa ikut naik bersama mereka. Namun Sekretaris Hwang menghalanginya, dia menyuruh Ki Dong untuk naik nanti saja. Tapi lagak sok mereka langsung lenyap saat So Joon datang. Mereka dengan hormat memanggilnya Presdir dan mempersilahkannya masuk.


So Joon basa-basi membahas pernikahan Young Jin, katanya baru menikah? Penikahan yang kedua atau yang ketiga? Young Jin tampaknya tak nyaman menerima pertanyaan itu, ia mengaku jika ini adalah pernikahan pertamanya. So Joon menyindir Young Jin yang perhitungan seperti biasanya, berarti dia melajang lama (alias bujang tua).

“Tunggu, isterimu tidak sepuluh tahun lebih muda darimu, kan? Mirip pelecehan di bawah umur.” Tambah So Joon.

Young Jin menahan kesal, itu memang benar. So Joon dengan sok polos menunjukkan jempolnya “Daebak!”



Tak lama berselang, mereka semua sudah ada di ruang presentasi dan Young Jin memaparkan hasil pengamatannya. Ia menyarankan untuk membangun residen di sebuah wilayah yang ia yakin akan sangat menguntungkan.

Banyak anggota rapat yang tak sependapat, banyak rumor tak sedap tentang wilayah itu. Young Jin meyakinkan mereka, ia mendengar kabar jika Grup Baekje dalam proses negosiasi untuk membelinya. Mereka bisa telat kalau tidak buru-buru bergerak.



So Joon yang sejak tadi sibuk bermain game tiba-tiba berdiri, dia menunjuk salah satu area dan menyarankan supaya mereka segera melakukan pembangunan disana. Young Jin mengernyit tak mengerti, tapi lokasi yang ditunjuk itu adalah lokasi pegunungan?

Baguslah, ucap So Joon. Mereka bisa mendapatkan tanah lebih murah. Informannya mengatakan jika mereka akan sukses jika membangunnya disana. Young Jin tidak mau menerima usulan itu, darimana Presdir mendapatkan informasi tadi?

“Kalau begitu, kau bisa memberitahukan siapa informanmu juga? Dibanding saran yang kau dapatkan dari minum dan makan golf bersama relasimu, saran yang kumiliki selalu lebih tepat. Percayalah padaku.”


Seusai rapat, Young Jin tentu saja gondok dengan ulah So Joon. Sekretaris Hwang terus ngoceh tentang informasi yang didapatkan oleh Presdir Yoo So Joon. Apa dia punya koneksi? Dia benar-benar anak yatim piatu bukan sih? Apa mungkin punya koneksi dengan keluarga kaya atau dia anak haram dari politisi? Pasti ada rahasia dibalik kelahirannya.



Setelah rapat usai, Ki Doong mengomeli So Joon untuk bersikap lunak sedikit pada Direktur Kim Young Jin. So Joon tidak bisa melakukan itu, bisa-bisa mereka tidak akan mendapat uang kalau memakai ide Direktur Kim karena rencana pembangunan akan berubah. Walaupun begitu, seharusnya So Joon mencoba meyakinkan Direktur Kim supaya dia bisa dia mengerti.

"Lalu apa aku harus berkata kalau aku melihatnya di masa depan?"

Dia punya ide, bagaimana kalau Ki Doong saja yang menggantikannya mengikuti rapat. Saat Ki Doong mengacukannya, So Joon menarik perhatiannya dengan memberitahukan nomor lotre minggu ini. Ki Doong mengklaim kalau dia tidak akan percaya, tapi begitu So Joon menyebut angka-angkanya, Ki Doong langsung bergegas menulisnya. LOL.



Ki Doong tetap bersikeras menolak mempercayainya karena So Joon sendiri yang bilang tidak akan pernah memberitahu nomor lotre padanya. Dia curiga kalau ini nomor palsu dan So Joon tertawa membenarkannya. So Joon bertekad tidak mau ikut campur barang sedikitpun dalam hidup Ki Doong karena hal itu hanya akan mengacaukan hidup Ki Doong.

Tapi bagaimanapun, dia mengaku kalau baru-baru ini dia ikut campur dalam kehidupan seseorang. "Aku mengetahui suatu kecelakaan jadi aku menyelamatkan seseorang... bak pahlawan."


Dia langsung nyerocos panjang lebar tentang bagaimana hebatnya dia jika orang-orang tahu dia bisa melihat masa depan dan mereka akan langsung antri memintanya menyelamatkan mereka dari ini dan itu. Dia sungguh tidak bisa melupakan aksi heroiknya itu. Ki Doong penasaran, apakah dia seseorang yang So Joon kenal? Seorang wanita? So Joon tidak mengenalnya, tapi benar yang diselamatkannya itu wanita.

"Apa dia cantik?"

"Sedikit."


Di rumah, Ma Rin sedang bersih-bersih dan membuang kaleng-kaleng alkoholnya. Dia memberitahu dirinya sendiri untuk berhenti minum tapi pada akhirnya dia berubah pikiran dan memutuskan untuk terus minum sampai mati. Setelah memasukkan cuciannya ke mesin cuci, dia menemukan sebuah album foto berisi berbagai foto-foto hitam-putih.


Saat itu, dia mendapat telepon yang mengabarkan kabar baik untuknya. Ma Rin pun langsung pergi ke Sinbi Studio yang mengabarkan kalau Ma Rin diterima... di akademi. Ma Rin bingung, jadi dia bukannya diterima sebagai asisten studio? Sang Fotografer datang saat itu dan Ma Rin pun langsung menanyainya.


Fotografer berterus terang kalau dia tidak mempercayai orang seperti Ma Rin yang menurutnya hanya main-main dengan kamera. Dia yakin kalau Ma Rin terjun ke bidang fotografi hanya karena dia gagal berakting di depan kamera. Ma Rin pasti merasa malu dengan kegagalannya karena itulah dia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang hebat agar dia merasa terhormat.



Ma Rin langsung menghalangi langkah Fotografer "Anda pasti berpikir kalau apa yang anda lihat adalah yang benar"

Dia mengaku kalau dia adalah penggemar-nya Fotografer karena foto-foto Fotografer membuatnya merasakan sesuatu didalam perasaannya yang tidak bisa dilihat oleh mata. Dia tak menyangka kalau Fotografer adalah orang yang meyakini kalau apa yang dilihatnya adalah segalanya.

"Alasanku memotret adalah karena apa yang kau lihat bukanlah segalanya"

"Bap Soon-ssi"

"Namaku Song Ma Rin!" tegas Ma Rin

"Kalau kau punya harga diri maka jangan minta temanmu untuk mendapatkan pekerjaan. Kau mencoba mendapatkan pekerjaan ini melalui koneksi dan kau bilang apa? Apa yang kau lihat bukan segalanya?"


Dalam perjalanan pulang naik subway malam harinya, Ma Rin merenung memikirkan bagaimana 7 tahun yang lalu dia terlahir kembali di tempat ini. Dulu ada seorang pria asing yang memotretinya, Ma Rin marah dan berusaha membuat orang itu menghapus foto-fotonya hingga dia pun terpaksa turun di stasiun lain. Tepat saat dia masih melabrak pria asing itu, kereta yang tadi ditumpanginya tiba-tiba meledak.



"Terkadang aku berpikir, adakah alasan aku selamat? Apakah ada sesuatu yang spesial di masa depan yang menungguku? Aku berharap itu benar"


Tepat saat itu juga, So Joon muncul di sana, baru kembali dari perjalanan waktunya. Awalnya dia memalingkan muka menghindari Ma Rin, tapi akhirnya dia memutuskan untuk menyapa Ma Rin. Dengan sok akrab dia meletakkan tangannya di bahu Ma Rin sambil mengagumi pertemuan mereka yang kebetulan ini.

Ma Rin tak suka dengan sentuhannya dan langsung menjauhkan tangan So Joon dari bahunya. Dia acuh tapi So Joon terus mengajaknya bicara bahkan membuntutinya keluar dari subway dan mengajaknya makan malam bareng sambil menyentuh lengan Ma Rin. Ma Rin menampiknya dan mengingatkan So Joon kalau So Joon sudah beberapa kali menyentuhnya dan berharap So Joon berhenti melakukannya karena mereka tidak saling mengenal.


So Joon heran mendengar Ma Rin menghitung berapa kali dia pernah menyentuh Ma Rin. Ma Rin membenarkannya, dia memang orang yang kolot. So Joon lebih suka menyebutnya sebagai 'memegang' daripada 'menyentuh'. Ma Rin berhenti berjalan dan bertanya apakah So Joon dari luar negeri hingga dia suka menyentuh dan bersikap sok akrab dengan orang yang dia temui secara kebetulan.


Ma Rin lalu berjalan pergi dan berhenti sejenak untuk memberikan penghormatannya pada memorial kecelakaan subway. So Joon tak menyangka kalau masih ada orang yang berhenti di memorial ini. Saat Ma Rin berusaha menghindarinya lagi, So Joon langsung mengajaknya minum-minum. Undangannya sukses membuat Ma Rin berhenti.


Mereka kemudian duduk bersama di cafe. So Joon belum habis satu gelas bir, Ma Rin sudah menenggak gelas bir kedua. So Joon menasehatinya untuk minum pelan-pelan, apalagi makanannya belum datang. Ma Rin mengklaim kalau dia hanya bisa minum bir, So Joon tertawa garing mendengarnya.

So Joon penasaran apa pekerjaan Ma Rin. Ma Rin berkata kalau dia memotret. Lalu umurnya? Ma Rin mulai heran, kenapa So Joon penasaran dengan umurnya. So Joon mengklaim kalau dia hanya penasaran, tidak ada alasan spesifik. Ma Rin menolak menjawabnya dan berniat untuk menyelesaikan acara minum mereka setelah satu gelas ini. Mereka pun minum lagi...



Dan beberapa saat kemudian, Ma Rin malah mabuk duluan sambil nyerocos tentang umurnya. Dia tidak kelihatan seperti umur 31 tahun, kan? Tapi menurut So Joon kalau Ma Rin kelihatan sesuai umur itu. Ma Rin lalu gantian tanya umur So Joon, So Joon berkata kalau dia umur 30 tahun. Lalu apa So Joon punya pekerjaan. Saat So Joon butuh waktu lama untuk berpikir, Ma Rin menduga kalau dia pasti pengangguran.

So Joon tersinggung, dia CEO sebuah perusahaan investasi real estate. Tapi Ma Rin salah paham mengira So Joon punya agensi real estate. Dia memanggil So Joon sebagai 'makelar' dan bertanya kenapa So Joon mengejarnya sejak pertama kali mereka bertemu bahkan sampai menyentuh-nyentuh segala. 

So Joon langsung protes, masa tidak pernah ada orang asing yang bilang suka pada Ma Rin. Dia pasti suah membuat Ma Rin sangat terkesan, atau Ma Rin tidak menyukainya?

Mungkin mengira kalau So Joon protes karena malu, Ma Rin langsung mengedip seksi padanya dan berkata "Tidak apa-apa, Noona mengerti kok"


So Joon berusaha menjelaskan kalau Ma Rin salah paham, tapi Ma Rin terus saja menatapnya dengan tatapan menggoda. Puas menghabiskan segelas bir, Ma Rin sempoyongan ke toilet dan So Joon terpaksa harus membantunya memegangi pintu toilet karena Ma Rin terus berteriak-teriak menyuruhnya memegangi pintunya. 

Tiba-tiba Ma Rin membuka pintu toiletnya dan berniat mau keluar. Tapi So Joon langsung mendorongnya masuk kembali, menyuruh Ma Rin menutup resletingnya.


Mereka lalu melanjutkan acara minum-minum mereka di kedai kaki lima. Ma Rin memberitahu So Joon untuk tidak terlalu menyukainya karena So Joon belum begitu mengenalnya. So Joon mengiyakannya, dia tidak akan pernah menyukai Ma Rin. Dia sudah membuat kesalahan besar waktu itu.

Ma Rin malah semakin percaya kalau So Joon menyukainya dan menanyakan pedapat So Joon, menurut So Joon apa yang paling cantik darinya? Dia sering dengar kalau matanya sangat cantik, tapi sebenarnya kakinya lah yang paling cantik. Dia bahkan langsung membuktikannya dengan pose seksi dengan kakinya. 

So Joon menantangnya untuk menunjukkan kakinya kalau kakinya memang secantik yang Ma Rin bilang. Ma Rin menolak, dia bukan wanita gampangan yang tidur dengan sembarang orang.

"Aku tidak kencan, aku muak dengan cinta. Kau mengerti aku seperti apa, kan? Aku adalah wanita yang percaya diri dan pemberani"

Walaupun dari luar dia kelihatan lugu tapi sebenarnya dia tidak seperti itu, karena itulah So Joon jangan menyukainya. So Joon hanya akan terluka, dia akan membuat hati So Joon tercabik-cabik.

"Kalau aku bilang aku menyukaimu dua kali maka kau akan membuntutiku selama tiga hari. Kau tidak mau aku menyukaimu? Kurasa bukan kau yang seharusnya mengatakan itu" desah So Joon frustasi.

Ma Rin terus saja bicara dan berkata kalau teman-teman So Joon pasti akan menertawainya karena mengencani Bap Soon yang hidupnya sekarang hancur. Pada akhirnya So Joon akan muak mendengar gosip tentang hidup Bap Soon yang tidak berjalan mulus. Bahkan orang-orang asing pun mengasihaninya dan mengolok-oloknya.

"Kau akan melihat mereka mengunyahku seperti camilan saat minum alkohol. Siapa tahu... kau juga akan jadi salah satu dari mereka"

Menurut So Joon, Ma Rin hanya bereaksi terlalu berlebihan atas kepopuleran masa kecilnya. Ma Rin tersinggung, So Joon tahu apa? Memang So Joon tidak tahu apa-apa tentang hidup Ma Rin, tapi orang lain kan juga tidak tahu. Orang-orang sebenarnya tidak terlalu peduli dengan kehidupan orang lain karena mereka terlalu sibuk dengan hidup mereka masing-masing.

So Joon menduga kalau Ma Rin pasti kurang kerjaan sampai sibuk sendiri mendengarkan omongan orang tentangnya. Ma Rin tidak terima kritikannya dan langsung mengayunkan tangan hendak memukulnya. Tapi So Joon langsung menangkap tangannya dan berkata, "Hidup lebih singkat daripada yang kau pikir. Tidak seharusnya kau terpaku pada masa lalu."

Ma Rin mendengus mendengarnya dan langsung memukul kepala So Joon, "Apa kau mau kelihatan jantan? Kau kira hatiku akan berdebar atau semacamnya"


Tak lama kemudian, mereka berada dalam taksi. Ma Rin sudah teler dan menggumam kalau besok matahari akan terbit. So Joon melihat keluar jendela dimana ada kereta subway melintas. Ia pun mengingat sesuatu...
-KILAS BALIK Ingatan So Joon-



[25 Maret 2019]
So Joon melihat jalanan tengah ramai karena terjadinya suatu kecelakaan besar. Tapi yang paling membuatnya tercengang adalah saat dia melihat dirinya di masa itu dan Ma Rin tengah digotong dalam keadaan berlumuran darah.

Dia hendak melihat lebih dekat saat seorang pria tiba-tiba menghentikannya dan menyuruhnya untuk kembali ke masa kini. So Joon harus kembali ke masanya sebelum dirinya di masa depan ini meninggal dunia jam 9:15 malam. Kalau dia terus di sini maka dia bisa menghilang saat dirinya (versi masa depan) mati.

Begitu mereka kembali ke masa kini, So Joon mengaku merasa aneh karena ini pertama kalinya dia melakukan perjalanan waktu sejauh itu. Dia kira pasti terjadi sesuatu hingga dia bisa pergi sejauh itu dan ternyata karena dia mati pada tanggal itu. Saat So Joon berkata kalau dia berencana hidup 50 tahun lebih lama, pria bernama Doo Sik itu menyuruhnya untuk mencoba mencari wanita yang kecelakaan dan mati bersamanya itu.

"Kami mati bersama?"

Doo Sik membenarkannya "Di UGD, pada saat yang bersamaan"

So Joon heran, dia tidak tahu siapa wanita itu, dia bahkan tidak melihat wajahnya dengan benar tadi. Doo Sik tetap bersikeras menyuruh So Joon untuk mencari wanita itu. "Dia satu-satunya orang yang berhubungan dengan kematianmu. Siapa tahu, dia mungkin memegang kunci untuk menyelamatkanmu. Kau hanya punya sisa waktu 3 tahun"
-KILAS BALIK BERAKHIR-


Keesokan paginya, Ma Rin memaki dirinya sendiri yang kelihatan kacau balau dan tidak ingat apapun. Dia tidak bilang kalau kakinya cantik, kan? Yah, dia yakin kalau dia tidak mengatakan itu semalam... sebelum akhirnya menghempaskan dirinya ke kasur, ingat kalau semalam dia memang mengatakannya.

Dia lalu menyalakan ponselnya dan langsung melemparnya. Tapi kemudian dia memungutnya lagi. Dia menutupi layarnya terlebih dulu lalu menurunkan tangannya perlahan-lahan... dan melihat foto-foto selfie-nya saat mabuk semalam. Ma Rin langsung guling-guling stres, menolak mempercayai kalau yang semalam itu adalah dirinya sebelum akhirnya dia merasa mual dan langsung pergi ke kamar mandi.

Dia akhirnya keluar rumah tak lama kemudian dalam keadaan masih agak lemas. Yakin kalau hari ini dia tidak akan bertemu lagi dengan si 'makelar', Ma Rin menyatakan pada dirinya sendiri kalau dia akan terlahir kembali hari ini. Tapi kemudian dia terpaksa berhenti karena merasa mual lagi.

Tanpa dia sadari, So Joon sebenarnya ada di depan bersama Doo Sik. So Joon bertanya tak percaya "Apa kau sungguh berpikir kalau wanita aneh itu memegang kunci penting hidupku?"

Doo Sik berpikir kalau mereka menunggu dan melihat. Saat Doo Sik melihat wajah Ma Rin, dia langsung memuji kecantikannya. Tapi So Joon lebih peduli dengan inner beauty. Doo Sik tidak mengerti apa yang So Joon cemaskan, dia dan Ma Rin kan tidak akan tinggal bersama atau semacamnya. Benar juga, dia memutuskan dia hanya perlu mengenal Ma Rin, tidak perlu terlalu dekat.

Dia lalu keluar sambil bawa payung dan menundukkan kepalanya agar Ma Rin tidak melihatnya lalu berjalan mendekati Ma Rin dengan gaya santai seolah dia tak sengaja lewat. Ma Rin berusaha menghindar saat melihatnya, pura-pura mengomentari cuaca cerah. So Joon menyapanya seolah pertemuan mereka cuma sekedar kebetulan, tapi Ma Rin tak percaya dengan bualannya.

Ma Rin hendak membahas tentang mabuknya semalam, tapi So Joon menyela duluan dan minta maaf jika semalam dia melakukan sesuatu yang buruk. Dia berbohong mengatakan kalau dia pingsan semalam dan tidak ingat apapun, tidak sedikitpun. Dia bertanya-tanya haruskah dia mencoba mengingat? Ma Rin langsung menggelengkan kepalanya, lebih baik dia tidak ingat.


Tapi Ma Rin heran, kenapa So Joon bicara banmal padanya. So Joon menduga kalau mungkin semalam mereka jadi dekat makanya cara bicaranya berubah sekarang. So Joon lalu pamit, "Mari kita bertemu lagi kapan-kapan... secara kebetulan"

Tapi kemudian dia kembali lagi untuk memberikan payungnya pada Ma Rin, Ma Rin akan membutuhkan ini nanti. Ma Rin merasa tidak membutuhkan payung itu karena dia tadi sudah mengecek ramalan cuaca dan hari ini tidak akan hujan.

"Kemungkinan hujan akan turun," alasan So Joon. Mereka pun berpisah dan So Joon baru kembali ke mobilnya setelah Ma Rin sudah jauh. Dia mau minta bantuan Doo Sik, tapi Doo Sik sudah menghilang saat itu.

Setelah pemotretannya usai, Bit Na berterima kasih pada Ma Rin karena awalnya dia hendak dipecat tapi Ma Rin berhasil mencegahnya. Ma Rin dengan bercanda menyuruh Bit Na untuk menyebarkan kebaikannya. Tepat saat itu juga, hujan tiba-tiba mengguyur deras. Mereka pun bergegas berteduh di tempat terkedekat. Ma Rin menatap hujan dengan keheranan.

So Joon hendak pergi saat Ki Doong pulang dalam keadaan basah kuyup. Saat So Joon mengingatkannya kalau dia sudah memberi Ki Doong peringatan akan hujan hari ini, Ki Doong punya ide, bagaimana kalau merea buat aplikasi ramalan cuaca. So Joon menolak, mereka bisa merugikan peramal cuaca nanti. Saat So Joon pamit pergi, Ki Doong heran karena belakangSo Joon jadi lebih sering pergi ke 'dunia lain'. Sebelum pergi, So Joon mengajaknya minum-minum nanti.

[Tiga Bulan Kemudian: Masa Depan]

So Joon pun pergi ke rumahnya tapi di masa 3 bulan yang akan datang. Tapi begitu dia masuk, dia malah terkejut mendapati tembok rumahnya dipenuhi dengan foto-foto pernikahannya dengan Ma Rin. Yang paling mencengangkan, Ma Rin keluar dari kamar mandi saat itu dengan hanya memakai kimono. Dengan gaya imut dia menggoda So Joon yang pulang cepat, dia kentara banget menunjukkan kalau dia masih pengantin baru.


So Joon makin melongo mendengarnya "Pe... pengantin baru?"

"Jangan menatapku seperti itu. Aku jadi malu"

"Ki... kita pengantin baru?"

Di masa kini, Ma Rin mengeluarkan payung pemberian So Joon dan menggunakannya untuk berjalan melewati hujan deengan senyum bahagia.

-oOo-

0 Response to "SINOPSIS Tomorrow With You Episode 1 Bagian 2"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR