SINOPSIS Introverted Boss Episode 7 Bagian 2

SINOPSIS Introverted Boss Episode 7 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: tvN

Hwan Ki curhat pada Konselornya jika dia masih kesulitan untuk berkumpul dengan pegawainya. Mungkin menjadi pemimpin tidak cocok dengannya. Konselor meyakinkan Hwan Ki jika dia adalah seorang pemain utama. Mau sampai kapan dia menjadi pemain pendukung? Lain kali uji diri dengan makan malam bersama tim. Letakkan tangan dipundak mereka dan ajak foto bersama.

Hwan Ki cuma bisa menghela nafas mendengarkan saran kali ini, seperti orang yang benar-benar putus asa.

Meskipun begitu, Hwan Ki merealisasikan saran dari Konselor. Dia mengajak semua orang makan malam. Yoo Hee dan Ro Woon yakin kalau bos mereka ingin berubah sikap, sebelumnya juga dia mengajak mereka untuk rapat. Tapi ngomong-ngomong, kenapa bos mereka lama tidak muncul-muncul?

Mereka langsung bermain urut-urutan angka dan Gyo Ri kalah. Mereka tertawa licik mengucapkan selamat pada Gyo Ri yang bertugas memanggil bos.


Hwan Ki sibuk memilih pakaian yang akan ia gunakan. Ini dan itu, ia terus berganti kebingungan. Bertepatan saat itu, Gyo Ri datang ke ruangannya, ia memberitahukan jika semua orang sudah menunggu kedatangannya.

“Maaf, bisa kau bantu aku?” ucap Hwan Ki.

“Ya?”

Hwan Ki ingin meminta Gyo Ri untuk memilihkan pakaian yang akan ia gunakan. Dari dulu dia sudah berfikir kalau Gyo Ri punya ketertarikan dalam fashion. Mendengar pujian yang dilontarkan bos –nya membuat Gyo Ri bahagia.



Ia berdiri menantikan kedatangan Hwan Ki. Wajahnya sumringah melihat Hwan Ki sangat cocok dengan pakaian yang ia pilihkan, ia sudah menduga bos –nya pasti akan cocok dengan pakaian itu. Hwan Ki masih agak ragu, apa tidak berlebihan menggunakan pakaian ini untuk makan malam?

“Apa anda tidak suka?”

“Bukan begitu.”

Dengan antusias, Gyo Ri pun membantu Hwan Ki menggunakan syalnya. Dia juga memasang jepit rambut, biar lebih rapi katanya. Hwan Ki menutu saja dengan Gyo Ri, dia juga sudah menyiapkan kamera untuk berfoto nanti.


Gyo Ri membawa Hwan Ki kehadapan anggota tim dengan bangga. Etapi, dia buru-buru menghampiri Hwan Ki karena lupa belum melepaskan jepit rambutnya. Sun Bong cekikikan sambil bergumam kalau pakaian yang digunakan Hwan Ki terlalu berlebihan. Ro Woon menatap Hwan Ki dengan kagum, dia pikir penampilannya bagus kok.

Hwan Ki dengan kikuk duduk di meja yang berbeda dengan mereka. Yoo Hee langsung menegur Hwan Ki, ia menyuruhnya supaya dia bergabung. Mereka pun mengangkat gelasnya untuk bersulang, tapi Hwan Ki yang tak begitu tahu pun langsung menenggak minumannya sampai habis.


Semua orang jadi bingung, mereka buru-buru mengikuti apa yang dilakukan Hwan Ki dan menenggap birnya sekali minum. Setelah itu, mereka sibuk untuk selfi menggunakan ponsel dan saling kirim. Hwan Ki yang kikuk tak berani bergabung untuk berfoto. Ro Woon melirik ke arah Hwan Ki yang tampak canggung “Aku menambahkan bos ke obrolan grup.”

Yoo Hee kemudian menyarankan supaya mereka berfoto bersama. Hwan Ki bersiap menggunakan kamera DSLR –nya tapi Yoo Hee melarang, mereka harus foto bersama. Ro Woon pun memanggil pelayan dan meminta tolong.


Tak terbiasa, Hwan Ki tegang dan mulai senam pipi. Ro Woon melihat ketegangan itu, ia menyentuh pundaknya kemudian meminta dia supaya tersenyum. Hwan Ki mengangkat bibirnya ke atas dengan kaku dan melebarkan matanya hehehe.

“Ini foto pertama kita bersama-sama.” Ucap Ro Woon mengirimkan foto mereka di grup chat.

Meskipun tak mengatakan apapun, Hwan Ki tampak tersenyum kecil melihat foto bersama mereka di grup chat.


Bertepatan saat itu, tim Woo Il juga datang ke sana. Dia menyapa mereka dengan akrab, tak menyangka kalau ia akan bertemu dengan Hwan Ki disana. Ia mengomentari pakaian Hwan Ki yang memang agak berlebihan untuk dipakai dalam acara santai macam ini. Yoo Hee berkata jika mereka sedang foto bersama. Woo Il pun menyarankan supaya dia juga foto bersama dengan tim –nya. Ia tersenyum lebar dan natural didepan kamera.


Hwan Ki menatapnya dengan sedih. Ia membuka foto mereka barusan, senyumnya tampak kaku. Ia pun menggunakan jarinya untuk menarik bibirnya supaya terangkat lebih manis. Ro Woon diam, sedari tadi melihat perubahan ekspresi Hwan Ki yang tampak sedih menatap Woo Il.

Saat yang lain sibuk bermain bilyar, Gyo Ri menyendiri memainkan ponselnya. Se Jong pun menghampirinya dan bertanya apa yang tengah ia lakukan. Gyo Ri mengaku kalau ia tengah mencari lowongan pekerjaan. Riwayatnya sudah tamat karena memberikan kostum yang jelek untuk Bos. Mungkin dia yang pertama kali didepak kalau proyeknya sampai gagal. Apakah Se Jong sama sekali tidak khawatir?

Se Jong sih sama sekali tidak masalah, ia malah ingin dipecat. Gyo Ri terkejut menduga jika keluarga Se Jong sebenarnya kaya raya. Bukan seperti itu, Se Jong sebenarnya punya impian lain yaitu menjadi selebritis. Artis multitalent yang baik dalam segala hal, akting maupun bernyanyi.

“Kedengarannya, situasimu sama berat sepertiku.”

“Aku baik-baik saja, kok. Hidupku tidak terlalu berat.” Balas Se Jong sembari memakan sosis darah dengan lahap.

Melihat keadaan Se Jong yang seolah tak punya beban masalah membuat Gyo Ri iri. Membatin ia berkata “Dia tetap ceria meskipun miskin. Bersama pria seperti dia, aku pasti akan bahagia meski tidak punya apa-apa.”

Sadar sudah ngelantur, Gyo Ro buru-buru menepuki wajahnya sendiri.


Se Jong kembali bermain biyar, ia meminta Hwan Ki untuk mengambil gambarnya yang bermain bilyar. Hwan Ki mengarahkan lensa kameranya pada Se Jong, namun fokusnya malah teralih oleh Ro Woon yang sedang ngobrol sambil ketawa-ketiwi dengan temannya. Tanpa sadar, Hwan Ki pun mulai memotreti Ro Woon berkali-kali.

Ia terus mengikuti gerak Ro Woon, sampai akhirnya dia sadar kalau Ro Woon tengah berjalan menghampiri Woo Il. Hwan Ki terkejut, apalagi ketika melihat keduanya berbicara sejenak kemudian keluar mencari tempat sepi.

Ro Woon ingin menanyakan sesuatu, ia ingin mengatakan.. belum sempat menyelesaikan ucapannya, Woo Il sudah menyela ucapan Ro Woon. Mengenai malam natal kemarin, ia ingin Ro Woon tidak mengungkitnya lagi. Ia tak mau menimbulkan ketidaknyamanan. Ro Woon menjawab kikuk, ya, dia tidak akan mengungkitnya.

Woo Il langsung pergi setelah mengucapkan hal itu. Ro Woon cuma bisa menghembuskan nafas heran, sebenarnya bukan hal itu yang ingin ia bahas.

Tak jauh dari sana, Hwan Ki memantau apa yang mereka berdua tengah lakukan.


Woo Il bergabung dengan tim Silent Monster, ia bertanya bagaimana kendala proyek mereka dengan Rose Airlines? Yoo Hee bilang kalau tim sangat sulit untuk berkomunikasi dengan mereka. Woo Il pun bersedia membantu, kirimkan laporannya padanya.

Tidak perlu, ucap Hwan Ki. Woo Il berkata jika ia hanya ingin membantu saja, dia yang akan mengurus Tuan Park. Sontak Hwan Ki kelepasan membentaknya, dia tak membutuhkan bantuannya!

Suasana pun berubah canggung, Hwan Ki yang bingung memutuskan untuk pergi dari sana. Woo Il mencoba mencairkan suasana dan mengajak mereka untuk kembali minum. Ro Woon yang melihat kepergian Hwan Ki pun begegas mengambil mantel dan mengejarnya.


Dalam otak Hwan Ki, dia terus menggeram karena sudah marah. Dia marah. Dia marah. Dan dia marah karena merasa marah. Ponsel Hwan Ki berdering menerima panggilan dari si Konselor. Bagaimana acara makan malam tim –nya?

“Aku mengacaukannya.”

“Kenapa? Apa yang terjadi?”

“Aku marah di hadapan semua orang.”

Konselor malah tertawa, menyalurkan emosi, ia adalah perubahan yang bagus. Hwan Ki tidak sependapat, bukan perubahan seperti itu yang ia inginkan. Dia tak mau lagi melakukan konseling dengannya. Rupanya sedari tadi Ro Woon sudah ada dibelakang Hwan Ki dan mendengar semua pembicaraannya, “Begitukah ceritanya? Kau bahkan melakukan konseling?”

Kontan Hwan Ki mengakhiri telfonnya, ia bergegas lari meninggalkan Ro Woon. Ro Woon terus tersenyum memperhatikan Hwan Ki.

Ibu sedang bercanda ria dengan Yi Soo. Tapi seketika Woo Il pulang, mood Ibu berubah memburuk dan langsung masuk ke kamar. Yi Soo beralasan jika penata rambut Ibu melakukan kesalahan sehingga ia jadi kesal beberapa hari ini. Woo Il tidak percaya, kemarahan ibu pasti ada hubungannya dengannya. Ia menebak jika semua itu gara-gara ia menghilang saat perayaan natal.


Yi Soo mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Woo Il bertanya, apakah Yi Soo sama sekali tidak penasaran dengan apa yang ia lakukan saat menghilang di acara penting semacam itu? Dia juga tidak merasa marah?

“Karena kau tidak akan memberitahuku. Tapi, aku menyukainya. Kata-kata tidak diperlukan antara kita. Meskipun kau tidak berkata apa-apa, aku tetap memahami dan menunggumu. Aku mempercayaimu.”

Woo Il mengepalkan tangannya sendiri mendengarkan ucapan Yi Soo.

Hwan Ki sibuk menatap hasil jepretannya dan menghasilkan banyak foto Ro Woon. Ia tak bisa berkosentrasi hingga akhirnya berjalan mondar – mandir, dalam kepalanya terus berputar bayangan Ro Woon. Ia meremas kepalanya dengan frustasi karena bayangan Ro Woon tak mau lenyap dari kepalanya.

Pintu tiba-tiba terbuka, Ro Woon tersenyum mengatakan jika dompetnya tertinggal. Kontan Hwan Ki membeku ditempat. Ro Woon memberitahukan Direktur dari Panti Asuhan Awan Putih menelepon, soal perjalanan ke Malaysia yang disponsori Rose Airlines. Beliau senang bisa berangkat.

Hati-hati, Hwan Ki kemudian bertanya mengenai perayaan natal. Apakah dia bertemu dengan Woo Il? Ro Woon membenarkan dengan canggung, katanya dia punya sesuatu yang ingin dikatakan. Tapi Ro Woon pikir saat itu Woo Il sangat mabuk hingga salah menelfonnya. Sesampainya disana, bahkan dia ditanya kenapa datang dan siapa dirinya. Yah.. cuma begitu sih.

Hwan Ki terus menatap Ro Woon. Menerima tatapan seperti itu membuat Ro Woon jadi salting. Dia izin untuk ambil air minum sebelum pergi. Ro Woon berjalan menuju ke dapur. Hwan Ki baru ingat kalau laptop yang ia tinggalkan di meja masih dalam keadaan terbuka menampilkan foto-foto Ro Woon. Panik, ia berlari dan reflek menutup wajah Ro Woon menggunakan jaketnya. Ia memeluk Ro Woon supaya tak melihat apa yang ditampilkan laptopnya.

Ro Woon terkejut menerima pelukan itu, ia kira kalau bos –nya mungkin sedang menonton gambar p0rn0. Dia tidak akan melihatnya kok. Hwan Ki tak menjawab, ia terus memeluk Ro Woon sampai ia berhasil menutup laptopnya. Keduanya bertatapan, namun suasana menjadi amat sangat canggung akibat pelukan tak terduga itu. Ro Woon bergegas pamit dan berlari meninggalkan ruangan Hwan Ki.

Lutut Hwan Ki sampai lemas dan terduduk di lantai.

Ro Woon melotot di luar ruangan dengan nafas ngos-ngosan. Dia memegangi dadanya yang jelas tengah berdegup tak menentu. Dia meyakinkan dirinya jika reaksinya sangat wajar. Dia pasti sangat terkejut, yap.. dia hanya terkejut.


Keesokan harinya, Tim Silent Monster sudah bersiap dibandara menyambut kedatangan Tuan Park. Yoo Hee mencoba bicara dengan beliau tapi Sekretarisnya langsung menanyakan keberadaan Hwan Ki. Mereka semua celingukan mencari keberadaan Hwan Ki yang sebelumnya bersama mereka.


Hehe.. Hwan Ki ternyata sedang sibuk memotreti foto anak-anak panti. Tuan Park berbisik pada Sekretarisnya. Sekretarisnya pun menyampaikan pada mereka jika bos –nya sangat pemalu. Dia lebih nyaman dengan orang yang sudah dekat, jadi ia ingin bertemu saja dengan CEO Kang Woo Il.

“Dia mirip sekali dengan Bos kita.” Celetuk Se Jong.

Tuan Park menyalami Se Jong dan mengenalinya sebagai cucu dari Tuan Kwon, Presdir KJ Food. Se Jong tersenyum kaku membenarkan, semua orang pun terkejut mendengar identitas Se Jong sebagai chaebol. Tuan Park tertawa, identitasnya pasti dirahasiakan sehingga ia berpura-pura tak mengenalinya. Se Jong polos berkata jika dia tidak berpura-pura, dia memang tidak mengenali Tuan Park.

Kontan Tuan Park tersinggung, dia membentak “Lalu dimana CEO Kang?”

Woo Il berjalan dengan tergesa-gesa menuju bandara. Ditengah jalan, dia malah melihat seorang anak yang terjatuh. Meskipun sibuk, ia menyempatkan diri untuk membantu anak itu berdiri. Tak lama kemudian, seorang wanita menghampiri anak yang jatuh tadi, dia adalah Kepala Panti Awan Putih.

Ro Woon juga sampai disana untuk memberitahukan jika Tuan Park mencarinya. Tapi ia melihat Woo Il terus tertuju pada Kepala Panti. Ia pun memperkenalkan jika wanita disampingnya adalah Kepala Panti Awan Putih.


“Aku Kang Woo Il. Sudah 20 tahun, hwajangnim.” Ucapnya.

Kang Woo Il? Gumam Kepala Panti serasa familier dengan nama itu. Keduanya pun sama-sama mengenang bagaimana perpisahan mereka 20 tahun lalu saat Woo Il diadopsi oleh Tuan Eun.

“Kau tidak boleh menangis. Kau seperti cahaya mentari di tengah hujan lebat.” Ucap Kepala Panti.

“Aku pasti akan menelepon. Aku tidak akan pernah lupa.” Janji Woo Il kecil dengan tangis tersedu-sedu.

Keduanya bertatapan sendu mengenang kenangan terakhir mereka, 20 tahun yang lalu. Woo Il berkata jika Kepala Panti adalah seorang ibu baginya.

Pertemuan mereka terusik akibat kedatangan Tuan Park yang langsung marah-marah. Apa yang tengah ia lakukan? Kalau sudah ditugaskan sebagai penanggung jawab, seharusnya dia melaksanakan tugasnya dengan benar. Hanya karena tampan dan tinggi, itu bukan modal untuk menjadi Presdir. Datang telat! Apa tak punya tata krama pada klien?

Semua orang tertegun mendengar omelan Tuan Park. Woo Il langsung membungkuk dalam mengucapkan maaf. Dia mengajak Tuan Park untuk ngrobrol di tempat lain. Ro Woon dan Kepala Panti hanya bisa diam, menatap kasihan pada Woo Il.


Tuan Park masih komplain tentang kinerja dari perusahaan Woo Il. Apa hubungan antara membersihkan citranya dengan pergi liburan? Kenapa juga mereka menggunakan Silent Monster atau Monster Bodoh itu? Jangan-jangan mereka mencoba menguras uangnya.

Ponsel Woo Il yang tergeletak di atas meja terus bergetar saat Tuan Park dengan ngoceh. Tentu saja Tuan Park makin kesal, dia tak bisa fokus karena getaran ponsel Woo Il yang berisik. Woo Il dengan tidak enak membaca berondongan pesan dari Ibu, ia memintanya untuk segera datang menemuinya. Darurat!

Tak tahu harus bilang apa, Woo Il hanya diam kebingungan menerima pesan itu. Hwan Ki tiba-tiba datang, ia meminta maaf sudah mengintrupsi pembicaraan mereka. Ia meminta waktu sebentar, pegawainya nanti akan memberikan jadwal mereka.

Woo Il bingung saat Hwan Ki mengisyaratkan supaya dia mengikutinya. Ada apa? Apa yang terjadi? Hwan Ki dengan tenang meminta Woo Il untuk pergi, biar dia yang menyelesaikan urusan disini. Woo Il masih sangsi, apa yang akan dia lakukan? Tuan Park bukan orang yang bisa diatasinya. Kalau sampai gagal dan mempengaruhi pencalonan Ayah, bagaimana nasib pegawainya?

“Seperti katamu, mereka stafku. Jadi biar aku yang mengatasinya.” Ucap Hwan Ki memegang lengan Woo Il menenangkan.


Woo Il harus kembali bergegas menuju ke tempat Ibu. Dia terkejut saat Yi Soo juga berada disana, rupanya ibu sengaja memanggil mereka berdua untuk menunjukkan bagaimana gaunnya. Yi Soo heran, kenapa Ibunya tiba-tiba memakai gaun?

“Memang semua Ibu harus pakai hanbok? Aku juga ingin pakai gaun.”

Bukan begitu, Yi Soo tidak masalah Ibu mau menggunakan apapun sesukanya. Tapi yang jelas, dia dan Woo Il masih lama untuk menikah. Ibu menatap Woo Il dengan sinis, mereka sudah tiga tahun tunangan loh. Dulu mereka menundanya akibat insiden tiga tahun lalu, terus katanya sibuk kerja. Sekarang mereka alasan lagi karena pencalonan Ayah. Cepatlah, biar putrinya cepat memakai gaun pengantin.


Pintu ruangan terbuka dengan kasar, Ayah berjalan dengan langkah emosi menghampiri Woo Il. Tanpa basa-basi ia langsung menapar wajah Woo Il dengan murka. Dia sudah menyuruhnya untuk mengurus Tuan Park, tapi ia malah kemari untuk mengurusi pernikahan?

“Ibu yang menelfonnya.” Bela Yi Soo.

Ibu tak mau disalahkan, dia memang telfon tapi Woo Il bukan robot yang selalu patuh padanya. Kemarin saat perayaan natal, dia juga menghilang entah kemana. Yi Soo kesal dengan kedua orangtuanya, mereka orangtuanya tapi mereka selalu membuatnya lelah.


Woo Il sama sekali tak mengucapkan sekecap kata pun. Tangannya tampak mengepal menahan kemarahan yang amat membuncah. Ia memilih untuk meninggalkan tempat itu. Yi Soo mengkhawatirkannya dan menahan Woo Il sebelum masuk mobil. Bertepatan saat itu pula, ponsel Woo Il bergetar dan nama Chae Ro Woon tertera disana.

Yi Soo melihatnya dan menahan tangan Woo Il, “Tunggu!”

Woo Il tampak sangat lelah dengan segala hal hari ini. Dia tetap diam, masuk dalam mobil meninggalkan Yi Soo seorang diri.

Dibandara, Tuan Park sedang berfoto bersama anak-anak panti. Si Won, salah satu anak panti menangis terus tanpa henti. Kepala Panti memberitahukan jika Si Won tengah sedih karena boneka pandanya hilang. Tuan Park santai, dia berjanji akan membelikannya yang lebih besar lagi. Bukannya diam, Si Won malah makin keras menangis.

Kontan Tuan Park marah didepan anak-anak. Anak-anak ketakutan sampai mereka semua menangis berbarengan. Tuan Park makin kehilangan kesabaran, dimana CEO Kang?

Hwan Ki angkat tangan mengajukan diri sebagai penanggung jawabnya. Tuan Park kembali ngoceh kesal, dia memilih perusahaan mereka karena ayah Hwan Ki. Tapi kenapa mereka malah mencoreng nama baik perusahaan ayahnya sendiri? Dia memintanya untuk memperbaiki citranya, kalau begini maka hentikan saja!

“Baiklah kalau begitu.” Santai Hwan Ki.

Tuan Park sampai bengong dengan ketenangan Hwan Ki. Hwan Ki memotret wajah Tuan Park, tak masalah kalau Tuan Park mau menghentikannya, mungkin dia tidak bisa memperbaiki imagenya tapi dia akan berusaha mempromosikan perusahaannya. Kalau soal itu, Hwan Ki bisa menjaminnya.

Hwan Ki mengedarkan pandangan, disana banyak sekali wartawan. Sepertinya ada selebritas top disana. Ia yakin kalau Tuan Park sangat stres karena gosip penyalahgunaan kekuasaan, ia juga pernah mengalaminya. Kontan Tuan Park tak punya nyali untuk marah-marah lagi, dia malah tersenyum ke arah wartawan yang berdiri tak terlalu jauh dari mereka. Para wartawan yang tak tahu apa-apa cuma bisa pasang tampang jijik dengan senyuman Tuan Park.


Tuan Park bergegas pergi dari sana. Sekretarisnya meminta maaf atas segala perbuatan atasannya, dia orang yang introvert dan tak tahu mengekspresikan kemarahannya. Ia memberikan dompet Woo Il yang tertiggal di meja barusan. Ia menitipkannya pada Hwan Ki.

Hwan Ki menerima dompet tersebut. Sebuah kertas yang terselip dalam dompet Woo Il terjatuh. Ia membuka kertasnya, itu adalah kertas sketsa wajah buatan Ro Woon yang amburadul. Ia tentu tidak suka mengetahui Woo Il menyimpan sketsa buatan Ro Woon.

Si Won masih menangis saat semua teman-temannya sudah berubah ceria. Ro Woon berniat menghampirinya tapi Hwan Ki mendahului. Hwan Ki dengan sabar menceritakan sesuatu pada Si Won sampai tangisnya mereda. Ia pun menyerahkan Si Won pada Ro Woon, dia mau pergi sebentar. Nanti dia akan menyusul.

“Kami akan menunggumu.” Ucap Ro Woon ceria seperti biasa. Hwan Ki memutar matanya dengan sebal, efek masih cemburu akibat sketsa itu loh.


Woo Il tengah dalam perjalanan dalam mobilnya. Ro Woon menelfonnya untuk memberitahukan jika mereka akan segera terbang kecuali Bos. Tapi tidak perlu khawatir, dia mengatakan jika akan segera menyusul.


Di pesawat, Gyo Ri terus menatap Se Jong yang tengah tertidur pulas. Sun Bong memergokinya sedang menatap Se Jong, ia tanya apakah Gyo Ri tertarik padanya? Jangan mimpi, dinding pembatas mereka sangat tinggi. Gyo Ri paham, toh dia cuma menatap doang. Sun Bong mewanti-wantinya supaya sadar, tidak ada yang akan menganggapnya tulus. Orang-orang akan berfikiran jika dia mendekati pria hanya demi mengangkat drajat status sosialnya.

Komentar pedas Sun Bong menohok hati Gyo Ri, matanya sampai memerah. Dia juga tahu itu! Sadar sesadar-sadarnya! Ia perlahan mulai menangis, tapi kenapa kemarin dia makan sosis darah dengan sangat nikmat? Gyo Ri terus merengek nangis.

Yoo Hee menggendong Si Won sampai lelah. Ro Woon pun menggantikannya, dia bertanya pada Si Won, sebelumnya apa yang dikatakan oleh Ahjussi baju hitam padanya?

“Dia bilang tiketnya ketinggalan.”

Malaysia. Disaat yang lain bahagia bermain di kolam, Si Won masih murung dan memperhatikan mereka dari tepian. Kepala Panti memberitahukan pada Ro Woon jika boneka panda yang hilang adalah boneka panda yang sangat disukai Si Won. Boneka itu ada bersamanya saat ia ditemukan. Ro Woon tampak kasihan dengan Si Won, ia menghampirinya dan mengajaknya untuk duduk diluar mencari angin.

Di Korea, Woo Il duduk merenung dalam ruangannya menatap tiket pesawat menuju Malaysia.


Saat duduk menantikan kedatangan Hwan Ki, Se Jong malah nongol memupuskan harapan mereka. Malah kau yang datang? Mengecewakan. Se Jong tidak terima, dia yakin kalau Bos tidak akan datang.

“Apa kau juga menunggu Ahjussi yang berpakaian hitam?” tanya Ro Woon.

“Panda. Apa ahjussi bisa menemukan tiket padaku?”

Ro Woon tidak mengerti makna ucapan Si Won. Se Jong terkejut melihat postingan seseorang di instragam, banyak sekali like –nya. Dia menujukkan foto panda yang tengah memegang tiket pada Ro Woon dan Si Won. Sontak Si Won tersenyum bahagia melihat pandanya sudah mendapatkan tiket pesawat.

Kilas Balik. Sebelumnya saat Hwan Ki berjanji jari kelingking dengan Si Won, dia mengatakan jika pandanya kehilangan tiket pesawat. Ini pertama kalinya panda akan terbang bersama Si Won, dia sangat antusias sampai tiket pesawatnya ketinggalan. Hwan Ki berjanji akan menemukan tiketnya dan menyusul mereka.


Hwan Ki segera mencari keberadaan boneka panda milik Si Won. Sampai tempat sampah pun ia buka sampai ia menemukannya di tempat petugas bandara. Hwan Ki senang, ia bergegas memfoto boneka panda Si Won dengan sebuah tiket disampingnya. Ia juga membuat pandanya seolah hidup, memesan tiket dan mendudukkannya di kursi penumpang.

Di Malaysia, Tim Silent Monster rame-rame melihat postingan Hwan Ki di instragam. Sepertinya mereka mendapatkan respon positif dan kemungkinan mempengarui image dari Tuan Park. Mereka tidak jadi dipecat kan?

Dia pemeran pendukung yang lebih bersinar dibanding pemeran utama.” Batin Ro Woon.


Ro Woon mengajak Si Won untuk pergi menyambut kedatangan panda. Keduanya berjalan menuju ke dekat pintu masuk. Si Won tanya apakah dia sedang menantikan kedatangan Ahjusi yang pakai baju hitam? Ro Woon mengelak, tidak kok.

“Kurasa, aku benar. Kakak terlihat sedih karena merindukan dia.” Si Won menujuk sesuatu “Dia disana.”

Ro Woon mendongak dan menapati Hwan Ki tengah berjalan ke arah mereka. Senyuman merekah dibibir Ro Woon.

“Tuhkan Unni tersenyum.” Tambah Si Won.

Ro Woon tak bisa lagi menutupi senyumannya.

Hwan Ki terus berjalan ke arah Ro Woon “Aku merindukanmu.”

-oOo-

4 Responses to "SINOPSIS Introverted Boss Episode 7 Bagian 2"

  1. Semangaaat buat yang nulis , makin penasaran ma ceritanya semangaaaat ku menunggu sinopsis selanjutnya

    ReplyDelete
  2. Ahhhhh seruuuu.... semangat mb puji😊😊😊

    ReplyDelete
  3. Semangat yaaa mimin nulis nyaa...

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR