SINOPSIS Introverted Boss Episode 5 Bagian 2

SINOPSIS Introverted Boss Episode 5 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: tvN

Woo Il membeli kalung yang diinginkan oleh Yi Soo di hari berikutnya. Pelayan sudah membungkusnya khusus karena kalung itu akan digunakan untuk melamar.



Ia kemudian menemui Ji Hye di rooftop. Woo Il berbasa-basi kemudian bertanya apakah ada hadiah yang diinginkan oleh Ji Hye? Sebentar lagi sudah mau natal. Ji Hye sempat bingung namun ia akhirnya meminta hadiah uang dengan jumlah cukup banyak.


“Uang? Mau kau pakai untuk apa?” Woo Il terlihat heran.

“Saya akan menyumbangkan ke panti asuhan. Panti Asuhan Awan Putih.” Ucapnya dengan senyum lebar.

Woo Il tampak tertegun mendengar Ji Hye mengucapkan Panti Asuhan Awan Putih.

Pulang ke rumah, Ayahnya sedang berkumpul dengan Ahjussi tetangga. Ji Hye tanya apakah Ayahnya sudah makan? Kontan Ahjussi tetangga langsung memuji Ji Hye yang luar biasa dan sangat perhatian dengan ayahnya. Dia juga menyumbang untuk panti asuhan.

Tak lama berselang, Ro Woon juga pulang. Suasana pun menjadi ribuk karena suara keras Ro Woon menyapa mereka semua. Ahjussi tetangga mengomentari sikap Ro Woon, apa mereka berdua saudara kandung?


Ro Woon mendelik “Apa Ahjussi sedang bergosip tentangku?”

Ibu sontak menjewel wajah Ro Woon, siapa yang mengajarinya bersikap begitu? Mana ada Ayah yang menggosipkan putrinya?

“Kau cantik, kok. Cantik.” Puji para Ahjussi kemudian.

Ro Woon menunjukkan wajah manisnya, tuh kan, katanya aku cantik. Ibu pun akhirnya tersenyum melihat kelakuan manis putri bungsunya itu.

Ji Hye sibuk menggambar sesuatu di kamarnya. Ro Woon datang dan penasaran dengan apa yang tengah ia gambar. Ji Hye berkata jika ia menggambar sesuatu yang menjadi perhatian seseorang. Ro Woon meringis, seseorang? Kakak punya pacar yah?

Dengan malu-malu, Ji Hye mengelak dugaan Ro Woon. Cuma rekan kerja saja kok. Kalau begitu, Ro Woon meminta Ji Hye untuk datang ke pertunjukannya bersama pria yang ia suka. Biar dia yang menilai pria itu, kakaknya terlalu baik untuk menilai seseorang. Ia menekankan supaya kakaknya datang. Ia dapat bagian percakapan di pementasannya di malam natal.

Nama mereka berdua artinya adalah “Harapan”. Ro Woon merasa dia bukan apa-apa jika tanpa kakaknya. Jadi ia harus datang. Ro Woon menggelitiki kakaknya supaya dia mau datang ke pementasan. Ji Hye pun setuju untuk datang, ia akan datang meskipun sendirian. Keduanya pun janji jari kelingking.

“Tapi, akan lebih baik kalau datang bersama pacar Kakak.” Ledek Ro Woon.

Keesokan harinya, Ji Hye meminta izin pada Hwan Ki supaya dia bisa pulang cepat di malam natal untuk datang ke pertunjukkan adiknya di auditorium W. Ia ingin menjelaskan tapi Hwan Ki memotong ucapan Ji Hye dan langsung memberikan persetujuan.

Ji Hye tersenyum dengan kebaikan bos –nya itu.

Hwan Ki masuk ke ruang kerjanya dengan dingin. Tapi saat ingat ajakan Yoon Jung untuk minum anggur bersama di malam natal, ia langsung tersenyum lebar. Ia kegirangan dan melompat ke sofa. Ia bersorak ria di ruangannya sendirian.


Ji Hye membuka pintu ruangannya dan melihat tingkah konyol yang dilakukan Hwan Ki. Ia sempat ingin keluar tapi Hwan Ki keburu melihat dia disana. Hwan Ki mematung kepergok joget-joget sendiri.

“Ada lukisan yang akan dikirim dari galeri ke sini.” Ucap Hwan Ki dengan canggung.

“Galeri tempat dia bekerja?” Ji Hye ikut senang.

“Ya. Kami akan bertemu besok, di malam natal. Hadiah apa yang cocok untuknya kira-kira?”

Ji Hye akan membuat daftar hadiah yang mungkin akan di sukai oleh Yoon Jung. Hwan Ki mengiyakan kemudian tanya apakah Ji Hye melihatnya? (melihat apa yang ia lakukan)

Ambigu, Ji Hye cuma tersenyum tanpa menjawab.

“Apa dia melihatnya?” gumam Hwan Ki kemudian.


Gambar Ji Hye sudah selesai, ia menatapnya dengan ragu. Ia kemudian mengirimkan pesan pada Woo Il untuk bertanya apakah ia punya waktu senggang. Ia mengirimkannya dengan gugup. Tidak lama kemudian, Yi Soo datang ke sana dengan riang. Ji Hye menyapanya, sepertinya ia tampak sangat bahagia? Apa ada hal baik yang terjadi?

Yi Soo mengaku kalau ia akan segera menikah. Ji Hye ikut bahagia dengan berita itu, dengan siapa?

“Untuk sekarang masih rahasia. Aku pasti akan mengundangmu.” Ujarnya.

Diruangan Hwan Ki, Yi Soo tidak henti-hentinya cekikikan bahagia. Hwan Ki heran, apakah dia sangat bahagia? Mereka kan sudah mengenal satu sama lain selama 20 tahun.

Yi Soo jelas bahagia, ia kan cuma bisa menatapnya selama 20 tahun ini. Ia bahkan sudah menetapkan pilihan untuk kencan besok, mereka akan menonton drama musikal di auditorium W lalu Woo Il akan melamarnya setelah itu. Hwan Ki jadi ingat kalau Ji Hye juga sebelumnya minta izin untuk menonton drama musikan adiknya di auditorium W.

Ji Hye bingung bagaimana caranya ia memberikan gambar buatannya pada Woo Il. Dia ingin menghiasnya dengan pita tapi takut berlebihan. Tiba-tiba Woo Il sudah berdiri disampingnya. Ji Hye terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan amplopnya.


Woo Il memungut amplop itu “Kau terus bimbang dengan benda itu. Kenapa? Aku penasaran, bolehkah aku membukanya?”

Bukan sesuatu yang istimewa, aku Ji Hye. Woo Il pun membukanya dan melihat gambar buatan Ji Hye. Ia menyukai gambar itu, bolehkah gambar ini untuknya?

“Tidak, tidak boleh.”

“Untuk seseorang yang spesial, ya?”

Ji Hye mengelak.

“Kalau begitu, berikan padaku. Aku ingin memilikinya.”

Ji Hye merasa kalau gambar buatannya tidak terlalu bagus untuk diberikan pada orang lain. Woo Il mengaku sudah mengirimkan sumbangan ke panti atas nama Ji Hye, jadi ia berhak menerima gambar buatannya sebagai balasan.

“Eum... Daepyonim..” Ji Hye tampak ingin mengatakan sesuatu namun ia ragu untuk mengatakannya. Tapi niatannya batal, bukan apa-apa.

Woo Il kembali ke ruangannya dan menemukan Tuan Eun sudah duduk di kursinya. Dengan sinis ia bertanya kemana saja Woo Il kerja selama jam kerja. Woo Il bergegas menyembunyikan gambar buatan Ji Hye dibalik punggungnya. Ia mengaku habis bertemu dengan reporter.

Tuan Eun memperingatkan supaya Woo Il tidak bertindak seenaknya setelah ia menyetujui pemintaan pernikahan mereka. Sebenarnya, dia lebih suka kalau Hwan Ki menikah duluan. Ia dengar kalau Hwan Ki sedang dekat dengan teman kuliahnya?

“Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?”

“Ya, aku mendengarnya dari Yi Soo.”

Woo Il curiga karena dia tahu kalau Hwan Ki mencoba menyembunyikan kedekatan mereka dari keluarga. Tuan Eun merasa sedang di introgasi, sekarang Woo Il sudah keras kepala. Jangan lupa kalau ia selalu mengawasinya!

Woo Il meremas amplop yang ia sembunyikan di balik punggung, menahan emosi.

Selepas kepergian Tuan Eun, Woo Il bergegas menghubungi Hwan Ki untuk memberitahukan masalah ini. Tapi dia tanpa sengaja malah menemukan alat penyadap suara yang menempel dimeja kerjanya. Woo Il tentu saja makin kecewa dan sedih.


Tak lama kemudian, Woo Il sudah ada di bar meminum bir. Ji Hye menemuinya dengan khawatir. Woo Il mengajaknya untuk menemaninya minum tapi Ji Hye menolak. Ia tidak kuat minum.

Woo Il dengan kecewa bilang kalau Presdir baru saja menghardiknya. Meskipun banyak yang menghujatnya dan menudingnya dekat dengan mereka demi uang, ia selalu menganggap mereka sebagai keluarga. Ia menganggap hubungan mereka tulus.

Melihat kesedihan Woo Il, Ji Hye memilih untuk menemaninya minum meskipun harus terus tersedak. Ia kemudian mengajaknya untuk pulang. Woo Il meminta Ji Hye untuk mengantarkannya ke panti asuhan awan putih. Sudah lama ia tidak mengatakannya dengan lantang, ia ingin menyebutnya dengan lantang tanpa malu. Tapi sepertinya ia tidak bisa menyebutkannya, apa memang karena ia merasa malu?

Woo Il ingin kembali minum tapi Ji Hye menahan tangannya. Woo Il menatap Ji Hye kemudian mengecup bibirnya sekilas. Ji Hye terkejut namun Woo Il kembali menciumnya.

Dengan susah payah, Ji Hye memapah Woo Il menuju hotel. Ia berniat untuk cepat-cepat pergi namun Woo Il menahan tangannya. Ia berkata jika ia ingin memberikan sesuatu. Ia pun membuka kotak kalung yang ia persiapkan untuk Yi Soo dan mengenakannya di leher Ji Hye.

Woo Il kemudian memegang wajah Ji Hye dan kembali menciumnya.

Hari berikutnya, Hwan Ki memarkirkan mobilnya dengan bahagia. Ia melihat kado yang sudah ia persiapkan dengan bungkus yang cantik. Tapi senyum di wajahnya langsung lenyap saat melihat Ji Hye tengah bersama dengan Woo Il di dalam mobil.

Ji Hye gemetaran sedih, ia menangis dihadapan Woo Il. Ia merasa sudah melakukan sebuah kesalahan besar. Woo Il menenangkannya kemudian memeluknya.

Woo Il bimbang dalam ruangannya. Ia memutuskan untuk menelfon Yi Soo dan memberitahukan jika ia tak bisa memberikan kalung yang ia inginkan. Yi Soo tidak mempermasalahkannya, ia menginginkan kalung itu supaya bisa tampil cantik di hadapannya bukan berarti dia ingin Woo Il membelikan kalung itu untuknya. Ia akan membelinya sendiri.

Yi Soo sudah ada di toko perhiasan dan meminta pelayan untuk mengambilkan kalung untuknya. Pelayan itu mengenali wajah Yi Soo, sebelumnya pria yang datang bersama Yi Soo sudah datang dan membeli kalung itu. Katanya dia akan menggunakan kalung itu untuk melamar seseorang.

Yi Soo terdiam sesaat mengingat ucapan Woo Il. Tidak mungkin, pasti pelayan yang sudah salah orang.

Malam harinya, Ji Hye bersiap pulang dan meminta izin pada Hwan Ki. Hwan Ki tampak begitu mengerikan hari ini, wajahnya murung dan ia duduk dengan serius meraut pensilnya. Dalam pikirannya, ia terus mengingat kejadian di tempat parkir serta ucapan adiknya dan Ji Hye yang akan pergi ke Auditorium W.

Tanpa banyak kata, ia menyuruh Ji Hye untuk menemukan mansetnya yang hilang. Ji Hye gugup, ia tidak tahu kalau Hwan Ki mengenakan jas. Tapi dimana kira-kira menjatuhkannya?

Hwan Ki dingin tak memberikan penjelasan “Cari sekarang juga.”

Ro Woon marah karena kakaknya tidak bisa datang ke pementasannya. Ia pun bertubrukan dengan Woo Il yang tengah berkencan dengan Yi Soo.


Hwan Ki mengintip Ji Hye yang tengah menghubungi toko bunga dan memesan bunga untuk dikirim ke pementasan adiknya. Hwan Ki terlihat bersalah menatap manset yang ia sembunyikan.

Yoon Jung menunggu kedatangan Hwan Ki namun ia tak kunjung datang. Ia pun memutuskan untuk menelfonnya tapi Hwan Ki hanya mengucapkan maaf, ia tidak bisa datang. Yoon Jung kecewa, malam ini adalah malam natal. Malam yang istimewa. Hwan Ki semakin merasa bersalah, ia meminta Yoon Jung untuk menunggunya sebentar. Ia akan datang kesana.

Hwan Ki berganti pakaian. Ia terkejut melihat manset –nya sudah ada sepasang disana. Ia pun melongok ke luar ruangan.

Dan Ji Hye sedang menelfon Woo Il. Ia akan menunggunya diatap, datanglah selarut apapun ia bisa. Ji Hye tampak memegangi kotak kalung pemberian Woo Il untuknya.

Woo Il semakin bimbang karenanya. Ia menghampiri Yi Soo yang tengah menantikannya. Yi Soo heran, karyawan apa yang masih menunggu atasannya selarut ini. Woo Il terdiam memperhatikan kalung yang digunakan Yi Soo, ia tertegun sejenak. Ia meminta maaf padanya, ia harus kembali ke kantor.

Tampak raut kekecewaan di wajah Yi Soo, namun Yi Soo menyembunyikannya dengan senyuman. Baiklah, tidak apa-apa.

Disisi lain, Yoon Jung masih duduk sendirian di restoran. Ia tersenyum getir penuh kekecewaan karena Hwan Ki belum datang juga. Ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kursinya.

Woo Il sampai ke kantor dan bergegas menuju atap. Hwan Ki menghadangnya, mau kemana dia? Bukankah seharusnya dia bersama Yi Soo? Woo Il gugup ingin membuat alasan. Namun Hwan Ki langsung membahas kedekatannya dengan Sekretaris Chae di dalam mobil kemarin.

Woo Il makin gugup saja, ia menjelaskan jika semua itu hanyalah salah paham. Dia telah membuat kesalahan. Bukankah sudah biasa jika laki-laki membuat kesalah, Ji Hye.. maksudnya Nona Chae sudah mendekatinya lebih dulu dan menggodanya hingga dia membuat kesalahan.

Tanpa disadarinya, Ji Hye sudah berdiri di tangga, mematung tak tahu berbuat apa. Ia pun bergegas pergi dengan linglung dari sana.

Dan lebih parahnya lagi, rupanya di balik tembok sudah ada Yi Soo yang mendengar pembicaraan Woo Il. Woo Il yang sudah memfitnah Ji Hye. Tentu saja Yi Soo memberikan tatapan penuh kesedihan dan kekecewaan pada Ji Hye. Keduanya bertatapan dalam diam.

Pementasan usai, Ro Woon menerima kiriman bunga pesanan kakaknya. Ia membaca note kakaknya dan merasa menyesal atas kemarahannya barusan. Eonni pasti sedih karenanya. Ia pun menghubungi Ji Hye..

Tapi sesaat kemudian, dia sudah berlari dengan cemas berharap kakaknya menunggunya. Namun sayang, Ji Hye sudah tak tertolong lagi. Ro Woon menangis di samping jenazah kakaknya dengan penuh penyesalan dan kesedihan. Ia bahkan belum sempat mengucapkan maaf padanya.


Ro Woon menangis di rumah duka. Ia membuka kotak milik kakaknya berisi barang-barangnya yang tertinggal di kantor dan menemukan kalung yang ia inginkan. Kakaknya sebelumnya menjanjikan akan memberikan kalung itu padanya, tangisnya pun pecah tak tertahan lagi.

Sedangkan di kantor, Hwan Ki terus terdiam tanpa mau mengatakan apapun. Woo Il gemetaran takut, apa yang harus ia lakukan? Kalau ayah sampai tahu maka.. bagaimana kalau sampai orang-orang tahu?

“Itukah yang kau cemaskan?”

Kalau orang lain tahu, apakah tidak apa-apa jika Yi Soo mengetahuinya? Woo Il memohon supaya Hwan Ki mau menolongnya. Dengan suara gemetaran, ia terus memohon dan berlutut dihadapan Hwan Ki.

Hwan Ki memutuskan untuk bertanggung jawab atas masalah ini. Katakan saja pada ayahnya jika ia yang menyebabkan kematian Sekretaris Chae. “Katakan aku sudah menyulitkan Sekretaris Chae.” Ucapnya meneteskan air mata.


Woo Il berjanji akan tutup mulut akan masalah ini, dia akan membuat berita ini tak tersebar. Hwan Ki tidak mau menatap wajah Woo Il dan melepaskan tangan Woo Il yang memeganginya.

Tuan Eun marah besar dan ngamuk di ruangannya. Ia melemparkan barang-barangnya pada Hwan Ki yang berlutut dihadapannya.

Perwakilan perusahaan datang ke rumah duka memberikan uang duka cita. Ro Woon ngomel menerima kabar ini, dia yakin ada sesuatu yang terjadi dan sekarang mereka berusaha menyuapnya supaya tutup mulut. Perwakilan mengaku kalau pihaknya telah melakukan penyelidikan internal tapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

“Justru itu lebih mencurigakan. Dia meninggal. Tapi tidak ada penyebab.  Juga tidak ada penjelasan! Dia melompat dari gedung perusahaan! Bagaimana bisa tidak ada satupun artikel yang dirilis?”

Ro Woon bertindak sendiri dengan menyebarkan berita kematian kakaknya, ia memberikan selebaran pada para pejalan kaki namun tak seorang pun perduli dengannya. Mereka membuang selebarannya dengan acuh tak acuh.

Ibu Ro Woon juga sakit-sakitan setelah meninggalnya Ji Hye. Ia pun juga akhirnya meninggal. Ro Woon kembali menangis ketika ditinggal dua wanita yang sangat ia sayangi dalam kurun waktu yang tak lama.


Dan suatu malam, Hwan Ki datang ke rumah Ro Woon dan menatap potong rambut New York milik ayahnya. Ayah pun menerima Hwan Ki sebagai pelanggan di tempat pangkas rambutnya. Hwan Ki tergagap dihadapan Ayah namun Ayah terus diam tanpa mengatakan apapun.

Ia mengisyaratkan supaya Hwan Ki duduk. Hwan Ki ingin mengucapkan sesuatu namun Ayah tidak menanggapinya. Ia meletakkan handuk hangat untuk menutupi mulut dan hidung Hwan Ki.


Tiba-tiba, Hwan Ki ingat saat terakhir ia berlari menuju ke ruangannya dan menemukan jendela ruangannya terbuka. Disana hanya ada sepatu Hye Ji, yang artinya Hye Ji sudah melompat dan ia gagal menyelamatkannya. Ia pun ingat bagaimana Hye Ji selalu membantunya, memberikan saran dan banyak hal yang mereka lalui.. mungkin ia sudah menganggapnya sahabat.

Hwan Ki meneteskan air mata. Ayah menyadari itu, ia buru-buru memalingkan wajah, ia izin untuk merokok di luar. Ayah kemudian meletakkan handuk hangat itu sampai menutupi mata Hwan Ki.

Terdengar suara isakan lirih Hwan Ki.

Sedangkan diluar, Ayah merokok dengan mata berkaca-kaca.


Ro Woon pun menjadi sering melamun. Ia menatap panggung tempatnya tampil dan saat itulah keranjang bunga pertamanya dari mr smith datang. Dan tanpa ia sadari, Hwan Ki berdiri tak jauh dari sana memperhatikannya.

KEMBALI KE MASA KINI,

Hwan Ki akhirnya membantu Ro Woon pulang ke rumah, ia menggendongnya meskipun Ro Woon berat. Matanya tampak lebam dan ia ngos-ngosan saat harus menaiki tangga. Ro Woon ngedumel terus selama dipunggung Hwan Ki.

“Dalam pembalasan dendamku, justru orang lain ikut terluka. Aku tidak menginginkannya. Kurasa, aku membalaskannya. Tapi kenapa tidak menyenangkan? Aku sama sekali tidak merasa bahagia. Aku merasa sangat menyesal..” gumamnya.

Hwan Ki tertegun “Aku yang seharusnya bilang begitu.”


-oOo-

8 Responses to "SINOPSIS Introverted Boss Episode 5 Bagian 2"

  1. Menurut qu, yisoo yg dorong jihye dari atap, walaupun mungkin itu nggak sengaja.
    Fighting...

    ReplyDelete
  2. oh.. ternyata hwan ki enggak bersalah atas kematian ji hye. fighting kakak, ditunggu eps.sanjutnya😙😙😙

    ReplyDelete
  3. terima kasih ditunggu ya episode selanjutnya .....

    ReplyDelete
  4. Bak puji kemana aj,, kok bru nongol???
    Eps hwarang g s4 nulis jg.
    Sehat sll y.. biar semngat nulisx
    Drakor ini jg,, smg trus d update...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya. Kemarin habis ambil cuti aja hehehe.. Siap! Update terus kecuali ada halangan :D

      Delete
    2. Yups,,, semangat.
      Hwarang ud hampir tammat,, gliran introverted boss.
      Oiah,,g nulis tomorrow with you bak??
      Kyaknya seru jg crtanya...

      Delete
  5. Thanks ya recapnya..
    Tp menurutku gambar ji hye itu buat hwan ki deh.. Dan ji hye sebenarnya mau mengajak hwan ki ke stadium, tp keburu dipotong pembicaraannya sama hwan ki..
    Itu menurutku sih.. Hehe
    #fansberatnyahwanki

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR