SINOPSIS Hwarang Episode 18 Bagian 2

SINOPSIS Hwarang Episode 18 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2

Tuan Seok dan Dan Sae sudah menunggu dihalaman rumah Park Young Shil. Saat Young Shil keluar, Tuan Seok bergegas menghampirinya. Ia ingin mengajaknya untuk berbicara. Namun Young Shil enggan, ia langsung tanya apakah Tuan Seok membawa kepala Raja? Ia pikir ia sudah menjelaskannya. Mereka akan membicarakan langkah berikutnya nanti.

“Bangku.” Ucap Young Shil.

Tuan Ho memanggil pelayan untuk segera menyediakannya. Namun Tuan Seok berinisiatif untuk berjongkok disamping kuda, ia mempersilahkan Young Shil menggunakan punggungnya sebagai pijakan. Young Shil tak gamang dan langsung memijak punggungnya tanpa rasa bersalah.

Dan Sae mengepalkan tangannya melihat bagaimana Young Shil merendahkan sang kakek. Ia pun bergegas membantunya berdiri setelah Young Shil pergi. Tuan Seok memperhatikan kepergian Young Shil dengan menahan amarah, bukankah Dan Sae sudah mendengarnya? Kepala Raja. Ia mendengar jika Raja ada di rumah hwarang.


Seperti biasanya, Han Sung yang selalu ceria berjalan menuju kamar Sun Woo sambil memanggil namanya dengan manis. Tapi panggilannya tak mendapatkan jawaban, dia melongok kamarnya pun tak ada disana.

“Hei! Aku juga ada disini! Tau gak sih kalau aku juga sangat populer!” kesal Yeo Wool merasa terabaikan.

Han Sung sama sekali tak menggubris, dimana Sun Woo? Yeo Wool bener-bener ingin melemparkan kipasnya, auh! Menyebalkan!

Sun Woo tengah menyendiri memikirkan ucapan Hwi Kyung, Hwi Kyung yang menawarinya untuk menjadi raja yang sesungguhnya. Namun lamunan ruwet Sun Woo terpecah akibat kedatangan Han Sung.

Han Sung yang ceria tiba-tiba berubah serius dihadapan Sun Woo “Tak ada jalan yang dimulai sebagai jalan. Seseorang harus berjalan di atasnya untuk membuat jalan. Bekerja keras untuk memecahkan tanah keras. Dan menembus melalui air mengalir keluar.”

Sun Woo cuma meringis “Ngomong apaan sih?”

Han Sung mengatakan jika ia akan menulis surat untuk kakek. Surat yang menceritakan segala sesuatu dalam hatinya. Ia tidak akan membiarkan Hyung –nya terus diganggu. Melakukan hal ini, tandanya dia sudah melawan kakek untuk pertama kalinya.

“kenapa kau berubah pikiran?”

Bagi Han Sung, Sun Woo adalah sosok yang sangat keren. Apakah seorang pengecut sepertinya bisa menjadi seperti Sun Woo? Apakah ia bisa membuat jalan untuknya sendiri? Han Sung menghembuskan nafas berat, nampak putus asa.

Sun Woo merangkulnya, dia akan berjalan bersamanya. Kontan Han Sung berubah ceria mendengar ucapan Sun Woo. Keduanya pun janji jari kelingking, saking senangnya Han Sung sampai joget-joget girang. Benar loh? Janji loh?

“Iya.” Jawab Sun Woo dengan senyuman.


Pa Oh menemui Ji Dwi di aula untuk mengabarkan jika A Ro dan Sook Myung akan datang ke kuil wonhwa Nam Mo sebelum upacara pengangkatan. Ji Dwi berkata apakah itu Nam Mo, wonhwa yang dibunuh oleh Joon Jung?

Itu hanyalah rumor yang beredar, ujar Pa Oh. Ada yang mengatakan jika kemungkinan dia hanya dijebak, tak ada yang bisa memastikan jika dia sudah mati karena tidak ada yang menemukan jasadnya. Ji Dwi pun mengintruksikan agar Pa Oh membawa A Ro keluar saat mereka kembali dari kuil. Bawalah dia ke tempat yang tidak bisa dijangkau ibunya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk saat ini.


Cie yang udah jadian, Ban Ryu memberikan tatapan penuh cinta pada Soo Yeon terus tanpa jengah. Soo Yeon sampai malu menerima tatapan itu, ia meminta supaya berhenti menatapnya begitu.

“Semakin melihatmu, semakin membuatku merindukanmu.”

Ban Ryu ingin menyentuh pipi Soo Yeon, namun ia masih ragu dan memutuskan membatalkan niatannya. Soo Yeon heran, kenapa? Ban Ryu merasa jika dirinya belum pantas. Ia mungkin akan mendapatkan hukuman jika melakukannya.

Seo Yeon tersenyum dengan kepolosan Ban Ryu. Tangan kanannya menyentuh pipi Ban Ryu dengan lembut “Aku akan mendapatkan hukuman,” kemudian tangan kanannya “Dua kali lipat.”

Keduanya kembali bertatapan sambil tersenyum bahagia. Mereka berdua pun menautkan bibirnya.


Dikamarnya, senyum Ban Ryu merekah menatap kantung pemberian dari Soo Yeon. Ia berniat menyimpannya namun tiba-tiba Soo Ho datang. Senyuman Ban Ryu pun seketika lenyap. Soo Ho sekilas melihat kantung Ban Ryu, apa benar jika dia menyukai adiknya?

“Ya. Aku sangat menyukainya.” Aku Ban Ryu.

Sontak Soo Ho mencengkeram baju Ban Ryu dengan penuh emosi, ayahnya dan ayah Ban Ryu tidak akan pernah setuju dengan hubungan mereka. Mereka cuma akan terluka jadi menyerahlah.

“Apa kau mengkhawatirkan ku?”

Soo Ho mengelak, dia hanya mengkhawatirkan adiknya karena adiknya pasti akan mengkhawatirkan Ban Ryu.

Han Sung memang udah bener-bener ngefans sama Sun Woo. Dia menirukan gaya Sun Woo saat merangkulnya barusan sambil mengatakan jika ia akan berjalan bersamanya. Han Sung sangat kagum, merasa jika Sun Woo sangat keren.

Ketika tengah bicara sendiri, teman Han Sung memanggilnya untuk memberikan sebuah kiriman. Han Sung sempat heran namun menerimanya saja. Ketika ia mengecek isi kiriman tersebut, rupanya ada sebuah botol dan surat yang ditujukan untuk Seok Dan Sae.

“Hyung, kau sedang apa?” tegur Han Sung pada Dan Sae yang tengah melamun.

“Kau sendiri sedang apa? Biasanya kabur saat pelatihan pedang.”

Tidak lagi, ujar Han Sung. Ia tersenyum bahagia karena sekarang ada seseorang yang akan berjalan bersamanya. Baru ingat, ia langsung memberikan kiriman kotak yang ditujukan kakek untuk Dan Sae. Tapi herannya, kenapa kakek mengirimkan kiriman untuk Dan Sae padanya yah?

Dan Sae sudah bisa menerka sendiri alasannya. Han Sung yang penasaran berniat untuk melihat isinya namun Dan Sae buru-buru melarang. Ia mengingatkan kalau sekarang Ui Hwa sedang mengajar. Apa Han Sung mau bolos?


Han Sung dengan malas bangkit untuk masuk kelas. Tapi rasa malasnya sirna seketika melihat Sun Woo. Ia berlari bak anak SD, memperhatikan penampilan Sun Woo dari atas sampai bawah, kenapa dia terlihat sangat keren hari ini? (Jiwa fans mah gitu..) Han Sung melambaikan tangannya ke arah Dan Sae dengan ceria.


Dan Sae teringat dengan pembicaraannya dan Tuan Seok sebelumnya. Jika keluarge mereka tidak bergabung dengan Park Young Shil, Tuan Seok memutuskan untuk bunuh diri bersama Han Sung. Dan Sae tidak terima, kenapa harus dengan Han Sung? Apa yang salah dengannya?

“Kau menyaksikan penghinaanku. Jika ada yang salah saat ini, Han Sung harus menjadi bangku (sebagai pijakan, seperti apa yang ia lakukan sebelumnya). Aku tak bisa biarkan keluarga Suk hidup seperti itu.”

“Anda mengancamku?”

Tuan Seok memberikan botol racun, dia menyuruh Dan Sae melumuri pedangnya menggunakan racun itu. Saat kulit Raja tergores sedikit, maka dia akan mati. Kalau misinya gagal maka Tuan Seok dan Han Sung yang akan meminum racun itu.


Sun Woo tengah berlatih pedang, atau mungkin lebih tepatnya bukan berlatih namun melampiaskan kemarahannya atas segala permasalahan yang menimpanya akhir-akhir ini. Tiba-tiba Dan Sae datang, maukah dia bertarung dengannya?

“Lain kali saja.”

“Tidak. Sekarang.”

Tak lama kemudian, Sun Woo sudah mempersiapkan pedang yang akan ia gunakan. Dan Sae memperhatikannya dari kejauhan. Ia pun menatap botol racun yang ia dapatkan dari kakeknya. Perasaan bimbang menggelayut dalam pikirannya, namun ia memantapkan hatinya dan memejamkan mata. Ia pun melumuri pedangnya menggunakan racun itu.


“Aku minta maaf.” Ucap Dan Sae sebelum memulai pertarungan.

“Minta maaf? Kenapa kau selalu minta maaf? Aku katakan berkali-kali kau dan aku sama.”

Ucapan Sun Woo membuat Dan Sae menelan ludah, mungkin semakin ragu. Namun sepersekian detik kemudian, ia kembali mantap dan menatap Sun Woo tajam. Keduanya memulai peraduan pedang mereka. Dan Sae menyuruh Sun Woo untuk menghindar jika bisa. Jangan sampai tersayat, hanya itulah yang bisa ia lakukan untuknya.

Sun Woo masih santai, toh Dan Sae lebih lihai dibandingnya dirinya. Kenapa dia sangat serius begitu?


“Jika bisa, pastikan kau membunuhku.” Ucap Dan Sae menggenggam erat pedangnya.

Sun Woo mulai mengernyit dengan kejanggalan sikap Dan Sae. Ia menahan tebasan pedang Dan Sae yang kuat. Dan Sae tak main-main, ia mencoba menyayat Sun Woo namun Sun Woo berhasil menghindar hingga bajunya sobek.

“Apa kau tak waras?” bentak Sun Woo.

“Kau terlalu banyak bicara. Lakukan saja di akherat!” ujar Dan Sae kembali menyerang Sun Woo.

Sun Woo yang kalah lihai dalam pertarungan ini, pedangnya terpental akibat kekuatan Dan Sae yang melebihinya. Bertepatan saat itu, Han Sung lewat disana, ia menyaksikan pertarungan diantara mereka. Ia ingat bahwa sebelumnya saat ia menerima kiriman paket dari kakek, Han Sung iseng membuka surat yang ditujukan pada Dan Sae. ‘bunuh dia’ pesan kakek menggunakan tinta mereka.

Han Sung terkejut mengetahui makna dibalik kata-kata itu. Ia pun sontak berlari melindungi Sun Woo dari tikaman pedang Dan Sae. Menggunakan tangannya, ia menahan pedang itu. Darah mengucur dari tangan Han Sung “Hyung.. kenapa kau melakukan ini? Kau ingin membunuh Sun Woo?”

Dan Sae membentak supaya Han Sung melepaskan pedangnya. Han Sung semakin mengeratkan cengkeramannya pada pedang Dan Sae, kenapa minyak yang diberikan oleh kakek ada di pedang ini? Bertepatan saat itu juga, Han Sung semakin melemah dan terduduk ke tanah.


Sun Woo menahan tubuh Han Sung yang mulai kejang-kejang. Han Sung masih terus bertanya kenapa Hyung –nya melakukan semua ini? Hyung adalah orang yang baik. Sun Woo marah, apa yang Dan Sae lakukan? Apa ini?

“Racun. Racun berbisa.” Ucap Dan Sae dengan wajah pucat pasi.

Sun Woo bergegas membopong Han Sung untuk dibawa ke klinik. Dan Sae terduduk dengan pikiran yang kosong. Tangannya bergetar hebat, ia terduduk seolah menyesali segala keputusannya. Orang yang ingin ia lindungi malah terluka akibat keputusannya sendiri.

Tenggorokan Han Sung makin tercekat, dengan terbata-bata ia menangkan jika ia akan baik-baik saja. A Ro Noona akan menyembuhkannya. Sun Woo mengiyakan dan meminta Han Sung jangan menyerah. Wajah Han Sung makin pucat, ia mengungkit ucapan Sun Woo yang berjanji akan berjalan bersamanya. Jadi jangan membenci Hyung-nya.

Sun Woo mengangguk menahan tangisnya. Bertepatan saat itulah, Han Sung melemas dan menghembuskan nafas terakhirnya. Sun Woo terduduk menyadari jika sahabatnya itu sudah tak lagi bernyawa. Dia meraung memeluk tubuh Han Sung dengan pedihnya. Satu lagi sahabatnya yang meninggal dihadapannya.


Sun Woo membopong Han Sung menuju ke aula tempat Ui Hwa mengajak. Semua orang kebingungan menyaksikan kehadirannya apalagi dengan Sun Woo yang ada dalam bopongannya. Yeo Wool panik menghampiri Han Sung, ada apa ini?

Mereka semua merubung Sun Woo yang tak mengatakan sepatah kata pun. Ui Hwa menghampiri Han Sung dan mengecek denyut jantungnya.


Dan Sae menyendiri dengan perasaan sesal yang teramat sangat. Ia menggenggam sebuah pecahan keramik dan berniat mengakhiri hidupnya. Namun Sun Woo datang, ia tahu jika Dan Sae tidak ingin hidup. Tapi jangan mati, Sun Woo tahu perasaannya.

Ia menyodorkan sebuah surat, itu surat Han Sung yang ditujukan untuk kakek tapi Sun Woo berfikir surat itu lebih tepat untuk diberikan pada Dan Sae. Ia juga menegaskan jika Dan Sae masih menjadi nangdongnya.

Dan Sae membaca surat tulisan Han Sung “Kakek. Ini aku, Han Sung. Aku baik-baik saja Rumah di Hwarang. Pada awalnya, kakek memaksaku kesini tapi sekarang aku suka berada disini. Aku belajar dari seorang teman kalau tanah keras dapat jadi jalan. Aku belajar bahwa jika kau meninggalkan jejak bersama-sama, tanah kasar dapat jadi jalan. Aku menulis surat karena aku akan menerima hukumanku mulai sekarang. Hyung tidak salah apa-apa. Aku tak tahu banyak tentang separuh bangsawan tapi hanya Dan Sae saudaraku. Ia seseorang yang selalu di sisiku. Seseorang yang bisa kupercayai.

Ia kini terisak memeluk surat terakhir yang ditulis oleh adiknya.

Sedangkan para hwarang, mereka mengadakan upacara kematian untuk Han Sung. Ui Hwa menyuruh mereka untuk menangis sekerasnya. Silla masih memiliki orang-orang yang berniat untuk menggenggam hwarang dan bertindak sesukanya. Tapi jangan lagi, jangan lagi mereka kehilangan teman mereka.

Aku belajar bagaimana jadi dewasa di sini. Belajar tak bergantung orang lain dan mengambil tanggung jawab atas keputusanku sendiri.” Tulis Han Sung dalam suratnya pula.

Jangan lagi mereka diperbudak, ujar Ui Hwa. Hwarang bukanlah papan catur, mereka bebas dari kekangan siapapun.

Tuan Seok juga menangis dikediamannya.

Kakek, Ada temanku di Hwarang yang mengatakan ia akan berjalan denganku. Aku akan hidup bebas. Aku tak akan berpikir tentang nama keluarga dan kekuasaan. Aku akan hidup sebagai Hwarang.” Pungkas Han Sung dalam suratnya. Ia tersenyum penuh kebahagiaan, menunjukkan bahwa kematiannya bukanlah hal yang menyedihkan.

Di istana, Ratu Ji So membahas mengenai kematian seseorang. Dengan begini, sekarang semua orang semakin yakin jika Sun Woo adalah Raja. Panglima malah khawatir, masyarakat juga semakin percaya jika Sun Woo adalah Raja mereka. kegembiraan mereka terus berkembang hari demi hari. Ia khawatir jika mereka akan kesulitan mengubahnya kembali.

Ratu Ji So tidak mempermasalahkannya. Biarkan saja mereka gembira. Pelayan Ratu Ji So masuk dalam kamarnya, ia memberitahukan jika Young Shil datang kesana.


Park Young Shil datang menghadap Ratu Ji So untuk menyatakan kekalahannya. Setelah ia mengakui kekalahannya, ia percaya jika Ratu Ji So akan mundur dari jabatannya sekarang. Ratu Ji So mengernyit melihat tingkah ganjil Young Shil. Batinnya bertanya-tanya, apa yang tengah ia rencanakan kali ini.

Tiba-tiba para pejabat juga memaksa masuk dalam ruangan. Tuan Ho menyuarakan pendapatnya meminta Ratu Ji So untuk lengser. Pejabat lain juga sependapat, mereka sudah punya Raja yang menang dari Baekje tapi kenapa Ratu Ji So masih berkeras untuk menanggung bebannya sendiri? Mereka bersujud memohon supaya Ratu Ji So turun takhta.

“Kau menggunakan Raja palsu sebagai perisai untuk Sam Mek Jong. Aku akan membuatnya menjadi Raja sesungguhnya.” Batin Park Young Shil.


Sekembalinya dari desa Makmang, semua orang menyapa Ahn Ji dengan hormat. Hwi Kyung seolah sudah menunggu kehadirannya, ia tersenyum ketika Ahn Ji datang. Dia mengomentari ekspresi Ahn Ji yang tidak tampak bahagia setelah berhasil mengalahkan epidemi di desa Makmang.

Ahn Ji berkata jika mereka tak punya obat dan bahkan diberi tanaman beracun. Saat ia melihat orang muntah darah dan mati, itu membuatnya bertanya-tanya apakah ia pembunuh atau dokter. Saat ia berjuang disana, disini malah damai-damai saja. Bagi Hwi Kyung, tempat ini tidaklah se-damai itu. Bahkan putri Ahn Ji ditunjuk menjadi wonhwa.

Ahn Ji mendelik kaget, A Ro menjadi wonhwa?

Hwi Kyung mengibaratkan apa yang terjadi disini tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di desa Makmang. Ia memberikan pilihan pada Ahn Ji, untuk menunggu obat turun dari langit atau memilih menggunakan racun. Dengan mantap, Hwi Kyung akan menjadikan putranya sebagai Raja.

A Ro memegang tiga potongan kayu dengan sangat serius. Namun keseriusannya itu hanya ia pergunakan untuk bermain game. Dia yang pandai dalam bidang ini pun langsung menang berturut-turut dan menjitak penjaganya yang kalah.


Kegaduhan ruangan A Ro seketika lenyap saat Sook Myung datang kesana. Sook Myung memberikan isyarat supaya mereka meninggalkan keduanya. Ia memandang nyinyir A Ro yang masih bisa santai-santai dengan penjaganya padahal dia tak tahu bagaimana nasib Orabinya.

“Apa maksudmu? Apa yang terjadi pada Orabi?”

“Ia bukan Raja tapi ia diserang.”

A Ro terdiam. Sook Myung jadi heran, apa dia tak penasaran apa yang terjadi dengan orabi-nya? A Ro dengan mantap berkata jika Orabinya tidak apa-apa, dia akan aman. Sook Myung makin sebal dengan A Ro yang tidak merasa bersalah padahal apa yang dialami oleh Sun Woo disebabkan olehnya.

A Ro yakin jika Sook Myung sedang cari-cari alasan untuk mengganggunya. Tapi itu tidak akan mempan. Orabinya akan baik-baik saja selama dirinya masih hidup. Sook Myung makin kesal mendengar ucapan A Ro, besok mereka harus pergi ke kuil wonhwa Nam Mo.


Dengan perasaan penuh amarah, Ahn Ji datang ke istana untuk menemui Ratu Ji So. Ia mendengar jika putrinya akan di angkat menjadi Wonhwa. Ratu Ji So membenarkan, itu sebuah kehormatan untuk putrinya. Ahn Ji geram, memangnya beliau pikir beliau bisa mempermainkannya?

“Disini, aku Ratu. Aku bisa lakukan apapun melindungi takhta.”

Ahn Ji berjalan menghampiri Ratu Ji So, putra Ratu Ji So tidak akan menjadi Raja. Putranya –lah yang akan menjadi Raja. Ia berencana membuat putranya menjadi Raja sebelum Putra Ji So menjadi Raja. Mulut Ratu Ji So bergetar marah, mana mungkin petani rendahan menjadi seorang Raja?

“Anda sepertinya keliru. Dia punya hak untuk duduk diatas takhta. Joon Jung. Dia adalah anak dari Joon Jung dan Pangeran Hwi Kyung, kudus Silla.” Ucap Ahn Ji meninggalkan Ratu Ji So.

Kontan lutut Ratu Ji So lemas, ia terduduk di lantai dengan terkejut.

Keesokan harinya, A Ro sudah bersiap mengenakan seragam merah. Penjaga yang mendandaninya. Tak lama kemudian, Sook Myung datang dengan seragam yang sama dan mengajaknya untuk berangkat sekarang juga.


Ji Dwi tengah membicarakan sesuatu dengan Ui Hwa, entah apa yang ia mereka bahas mengenai Park Young Shil. Tapi Ji Dwi enggan untuk melakukannya, dia tidak akan melakukan cara semacam itu. Ui Hwa berkata jika ada kalanya mereka harus melakukan cara yang menjijikkan.

“Aku tak ingin Hwarang disakiti lagi. Aku harus melindungi Hwarang sendiri.”

“Anda tak berteman musuh karena tak suka atau melindungi teman berpura-pura menjadi Raja. Jadi bagaimana anda akan melindungi Rumah Hwarang?”

Dipagi hari, Sun Woo juga sudah bergegas menuju ke suatu tempat menggunakan kudanya. Tanpa disadarinya, Panglima membuntutinya dari kejauhan.

Sook Myung tengah melakukan ritual di kuil, namun pikirannya tak bisa fokus disana. Sebelum berangkat, dia yang pergi ke ruang Ratu Ji So, tanpa sengaja mendengar pembicaraan beliau dengan Panglima. Ratu Ji So bilang pada Panglima jika ia sudah membiarkan oranglain tahu mengenai kepergian wonhwa ke kuil. Dia mewanti-wanti agar Panglima tidak membuat kesalahan.

Sook Myung mencoba melenyapkan pikirannya dan fokus menjalankan ritual. A Ro juga bersamanya menjalankan ritual ini.

Seusai menjalankan ritual, Sook Myung bilang pada A Ro jika mereka sama saja dengan Joon Jong dan Nam Mo. Sang putri dan setengah bangsawan. A Ro berbalik, sebenarnya ia punya pertanyaan yang mengganjal dalam pikirannya. Ia dipilih menjadi wonhwa dengan alasan apa, akankah karena ia melihat wajah Raja atau dia adik dari Sun Woo sebagai seseorang yang pura-pura menjadi Raja?

Itu terlalu berlebihan, ujar Sook Myung. Mereka menjadikan A Ro sebagai wonhwa karena ia bisa dimanfaatkan. A Ro berkata jika Ia hidup untuk Orabinya, tapi sesungguhnya malah sebaliknya. Kalau Sun Woo bersama A Ro, maka Sun Woo dalam bahaya. Bahkan jika ingin hidup, ia tidak akan bisa hidup.


Mata A Ro berkaca-kaca ketika merenung sendirian. Ia ingat bagaimana Sun Woo selalu menjaganya dan melindunginya. Saat Sook Myung memanahnya, Sun Woo mengorbankannya dirinya untuk menahan panah itu. Saat di Baekje, Sun Woo mengaku sebagai Raja karena dirinya pula.

Ketika tersadar dari lamunannya, Sun Woo sudah berdiri tak jauh darinya. Air mata A Ro tak tertahan lagi, apakah ini mimpi? Bagaimana ia tahu jika ia ada disni?

“Di mana pun kau berada Aku akan menemukanmu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun. Aku akan membuatmu berada disisiku.”


Entah apa yang A Ro lihat, matanya melotot kaget dan reflek berlari melewati Sun Woo. Ia berdiri melindungi punggung Sun Woo dan sebuah panah meluncur mengenai dadanya. A Ro pun seketika tidak sadarkan diri dengan dada tertancap panah. Sun Woo panik menyaksikan A Ro jatuh tak berdaya, ia meraung khawatir.

Ratu Ji So yang duduk disinggasananya tampak sangat-sangat cemas. Tangannya terus bergerak-gerak khawatir. Para penjabat dihadapannya tengah cekcok, kekeuh dengan pendapatnya masing-masing. Salah satu pejabat menekankan, “seorang Raja yang nyata bisa pergi berperang!”

Ratu Ji So yang terbatuk-batuk tampak pucat. Wajahnya berkeringat dan pandangannya kabur.


Pintu ruangan terbuka, sosok seorang pria berjalan memasuki ruang pertemuan. Semua mata tertuju padanya. Ratu Ji So perlahan menajamkan pandangannya, ia tersentak kaget dengan kehadiran Ji Dwi alias Sam Mek Jong.

Para pejabat berkasak-kusuk bingung, siapa dia?

Ji Dwi menatap Ibunya tajam, ia berbalik menatap para pejabat “Aku.. Raja Silla. Jinheung.”

2 Responses to "SINOPSIS Hwarang Episode 18 Bagian 2"

  1. Unni kudus silla tu ap

    Bkn nya seonggol yahhh(tulang suci)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba nanti aku lihat lagi yah, di subtitle aku tulisannya begitu.

      Delete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR