SINOPSIS Hwarang Episode 16 Bagian 1

SINOPSIS Hwarang Episode 16 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: KBS2


Mengingat kejadian semalam, saat Sun Woo mencium A Ro dengan begitu mesra membuat Ji Dwi marah. Ia melampiaskan emosinya dengan berlatih memanah. Namun pikirannya sungguh tak bisa teralihkan, kemarahannya semakin menggebu saat ingat kalau Sun Woo memproklamirkan bahwa dirinya adalah Raja Silla. Ini sungguh membuat Ji Dwi tak bisa menahan emosinya lagi, ia membanting busurnya dan menarik pedang kemudian melemparkannya ke target panahan dengan amat sangat geram.

A Ro membawa anak yang di tolongnya pada Joo Ki dan memintanya untuk merawat anak itu. Joo Ki sempat menolak, dia kan masih lajang masa harus merawat anak. Anak kecil yang ditolong A Ro berinisiatif untuk mendekati Joo Ki duluan, ia memegang tangannya kemudian memberikan senyuman lebar penuh ketulusan.

Walhasil, Joo Ki tak bisa menolak lagi permintaannya. Tak selang lama, keduanya sudah bermain dengan akrab.

A Ro dan Soo Yeon duduk dengan mimik wajah yang sangat kontras. A Ro menunjukkan wajah penuh kebahagiaan, menganggap bahwa dunia ini masih penuh dengan keindahan. Soo Yeon sebaliknya, ia merasa dunia ini begitu suram. Ia menggebrak meja dengan frustasi.

“Kau mengejutkanku. Orabimu dan Ban Ryu kembali dengan selamat. Ada apa?”

Soo Yeon galau karena Ban Ryu belum mengucapkan sepatah katamu sepulang dari Baekje. Apa perasaannya sudah memudar atau bagaimana? Apa dia bertemu dengan gadis lain di Baekje?

Mereka tidak punya waktu untuk memikirkan itu, ucap A Ro. Dia merangkul sahabatnya dan berbicara bijak. Dalam sebuah hubungan, terkadang ada baik dan buruk. Terkadang matahari bersinar terang namun adakalanya hujan. Percayalah padanya, tunggu dan semuanya akan baik-baik saja.

Kang Sung sengaja menghampiri Ban Ryu hanya untuk meledeknya. Ia merasa kasihan pada Ban Ryu, apa dia kembali tak mendengarkan ucapan Tuan Park Young Shil? Ia pun memberikan sebuah surat pada Ban Ryu.

Ban Ryu mencoba menahan emosinya membiarkan Kang Sung terus bercuit. Ia membuka surat tersebut yang bertuliskan Yi Moo Gong.

Kontan Kang Sung menertawainya, “Kau bekerja keras, tapi tak ada gunanya (arti dari Yi Moo Gong). Ayahmu sepertinya telah dibuang.”


Ban Ryu menarik kerah baju Kang Sung memerintahkannya supaya diam. Kang Sung semakin meledeknya, ia memang tidak pernah bisa diam. Tuan Park sepertinya sudah tak mengharapkan apapun lagi dari Ban Ryu.

“Aku bilang diam!”

“Ban Ryu, pertama kali kau seperti ini. Kau ketakutan.”


Selepas kejadian semalam, Sun Woo jadi malu-malu sendiri saat bertemu A Ro. Dia bersembunyi dibalik pagar sambil cengengesan. Dengan berbunga-bunga, ia ingin menyapa A Ro namun sayangnya Soo Ho mendahuluinya. A Ro tak melihat kedatangan Sun Woo, ia pun mengajak Soo Ho masuk ruangan untuk memeriksa lukanya.

Sun Woo sigap bersembunyi, ia pura-pura mencabuti rumput sambil menggerutu kesal. Dasar tidak peka!

A Ro menunjukkan panah yang menghunus punggung Soo Ho. Ia mendengar kalau Oraboni –nya tidak kena panah karena Soo Ho yang membantunya. Soo Ho membenarkan, dia hanya melakukannya begitu saja. Ia tanya apakah sebelumnya mereka belum pernah kencan?

“Belum.”

“Aneh sekali, sepertinya aku sudah mengencani semua teman Soo Yeon. Ah Ro bukan tipeku, tapi tak buruk kencan denganmu.”

Kontan terdengar suara deheman didekat pintu dan Sun Woo pun masuk dalam ruangan. Soo Ho pun menjadi canggung, ia berusaha berbicara dengan bahasa formal padanya. Sun Woo heran, kenapa kau bicara begitu?

“Aku? Apa?” sanggah Soo Ho.


Sun Woo kemudian meraih tangan A Ro yang tengah mengoleskan salep di luka Soo Ho. Ia menggenggam tangannya kemudian mengoleskan salep dipunggung Soo Ho. Soo Ho yang tak tahu apa-apa cuma bisa mendesis kesakitan, kok rasanya semakin sakit yah?

“Tahan sedikit. Dasar cengeng.” Ucap Sun Soo.

Sun Woo terus bertatapan dengan A Ro dengan penuh cinta. Ia mengucapkan terimakasih padanya.

Soo Ho salah paham mengira kalau Sun Woo bicara padanya “Untuk apa?”

Sun Woo terus menatap A Ro, untuk ini dan itu. Soo Ho tersenyum mengira mendapatkan ucapan terimakasih dari Sun Woo.

Sun Woo dan A Ro jalan bersama-sama. Keduanya tersenyum merasa jika semuanya telah kembali seperti semula. Tapi senyuman A Ro berubah kekhawatiran, sebenarnya ia lebih senang jika Sun Woo tetap aman. Meskipun dia bahagia ada orang yang mau menjaganya dan menghargainya. Ia berharap jika Sun Woo tetaplah aman.


Sun Woo memegang pundak A Ro meyakinkan, “Jika kau mati, maka aku akan mati. Jika kau tak baik-baik saja, aku juga tak akan baik. Tak perduli apapun yang terjadi, aku akan selalu datang padamu. Jadi, jika kau sungguh peduli padaku maka pikirkan dirimu lebih dulu. Berjanjilah.”

A Ro mengangguk. Sun Woo tersenyum, gadis baik.

Han Sung menyilangkan tangannya dengan tatapan menyipit penuh curiga memperhatikan interaksi antara Sun Woo dan A Ro. Yeo Wool ikut nimbrung memperhatikan apa yang tengah ia perhatikan. Han Sung memainkan bibirnya sambil terus berfikir, A Ro dan Sun Woo bukan lagi saudara kandung kan?

“Ngomong apa sih? Ia belajar bagaimana jadi saudara dari Soo Ho.”

Nah, Han Sung makin merasa aneh. Kalau memang Sun Woo adalah Raja maka mereka bedua bukanlah saudara. Yeo Wool agak bingung sih, tapi omongan Han Sung ada benarnya juga.

Sun Woo dan A Ro bermain-main di sungai. Sun Woo memegangi tangannya dan membantunya menyebrang sungai. A Ro sempat hampir terpeleset. Sun Woo menatap wajahnya dan mengatakan ada sesuatu di mata A Ro. Tapi Sun Woo cuma moduh.. dia malah curi kesempatan biar bisa mengecup bibir A Ro.

A Ro menunduk malu. Keduanya pun kembali berciuman.


Ratu Ji So mendengar kabar jika Sun Woo mengakui dirinya sebagai Raja Jinheung. Dia berkorban nyawanya demi menyelamatkan rakyat. Ia bertanya pendapat Sook Myung mengenai Sun Woo?

“Dia adil dan tak kenal takut. Dia punya kepemimpinan untuk memimpin orang lain.”

“Apa.. dia ada dihatimu?”

“Tidak mungkin.” Elak Sook Myung.


Ratu Ji So menganggap jika Sook Myung sangat mirip dengan dirinya. Ini membuatnya khawatir. Ia pun membahas mengenai Won Hwa, kepemimpinan dua gadis muda pada sekelompok pemuda. Bagi Ratu Ji Si, Hwarang sudah tumbuh semakin kuat sekarang. Banyak rakyat yang menjadikan mereka sebagai teladan dan mungkin ia tidak akan bisa menggenggamnya lagi. Karena itu, ia berencana untuk mendirikan Won Hwa.

“Nasib Won Hwa, apa kau tahu?” tanya Ratu Ji So.

“Nasibnya akan mendapatkan kematian.”

“Apa kau tidak takut.”

“Tidak. Karena aku sepertimu.” Mantap Sook Myung.

Ui Hwa tengah mengajar para Hwarang, topik kali ini adalah Buku Syair. Buku Syair adalah nyanyian yang diturunkan dari mulut ke mulut berisikan tangisan kehidupan namun masih memuat sisi positif. Ada kebencian dan kasihan pada Raja yang lemah. Ia akan menunjukkan sebuah syair berjudul Tikur Besar.

Ia mempersilahkan Ji Dwi untuk membacanya. Sun Woo tampak menyipitkan mata saat melihat Ui Hwa menunjuk Ji Dwi begitu saja.

“Tikus besar yang terhormat. Jangan makan Gandumku. Saya merawat Anda cukup lama tapi anda tidak perduli denganku.” Ji Dwi tampak agak terhenyak membaca isi syair itu “Saya akan menyerahkan pada Anda, negeri yang lebih baik. Untuk Ngeri bahagia. Saya akan temukan kebenaran di sana.”

Ui Hwa menerangkan makna dari syait Tikus Besar yang artinya Tikus Penguasa. Mereka menelantarkan rakyatnya dan terus bersembunyi. Jika tikus terus masuk ke kehidupan rakyat, maka akhirnya mereka akan meninggalkan tikus itu. Raja tanpa rakyat bukanlah Raja.

Ji Dwi tampak mematung di tempatnya berdiri.

Panglima (Pengawal Ratu Ji So) datang ke asrama Hwarang untuk mengabarkan jika utusan yang pergi ke Baekje akan mendapatkan penghargaan dari Ratu. Ui Hwa menuntut untuk dirinya, bagaimana dengan ia? Ia yang sudah memimpin Hwarang dan menyelamatkan mereka dari bahaya. Apa beliau tidak menyadarinya?

“Sepertinya tidak.” Ui Hwa cuma bisa pasrah dan menyuruh Panglima pergi dari ruangannya.

Woo Reuk menyarankan agar Ahn Ji cepat kembali ke tempatnya. Penyakit epidemi sulit diobati, mereka kelaparan dan tidak ada obat. Ahn Ji termenung, apakah tidak ada cara untuk mendapatkan obat?

“Meskipun mendapatkannya. Kita tidak akan bisa membawanya kemari. Petani tidak bisa masuk ke ibukota. Kau tahu makna aturan itu?”

“Itu untuk melindungi sistem bangsawan agar tak masuk ibukota.”

Woo Reuk menganggap kalau Ahn Ji terlalu berfikiran pendek. Alasan utamanya adalah untuk mengisolasi para petani dan budak tambang supaya mereka tak tahu seberapa berharganya emas. Emas keluarga Park Young Shil dan kerajaan, semuanya berasal dari sini. Ia menyarankan supaya Ahn Ji cepat kembali, tidak akan ada yang berubah meskipun ia disini. Atau... bagaimana.. kalau membawa obat?

-oOo-

BAGIAN 2




6 Responses to "SINOPSIS Hwarang Episode 16 Bagian 1"

  1. Huhu... Ji dwi yg selalu sukses bkin hati q dag dig dug ... D episode minggu ini bner2 bkin q nangis... Kasihan dia... Thnks min dah bgi sinopsisnya... Makin gk sabar aj nunggu kelanjutannya

    ReplyDelete
  2. Aduh ji dwi nya sedih...jadi ikut sedih...hehehe...kebawa perasaan ,ditunggu kelanjutannya...

    ReplyDelete
  3. makasih buat postingannyaaa..lebih cepat updatenya yaa...semangaat..

    ReplyDelete
  4. Eonni kok bru sekarang aktif buat sinopsis

    Eonni fighting

    ReplyDelete
  5. Ji dwi tetap angkat kepala mu dan jdilah lebih kuat.

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR