SINOPSIS Solomon’s Perjury Episode 4 Bagian 2

SINOPSIS Solomon’s Perjury Episode 4 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: jTBC


Ji Hoon menemui Detektif Oh untuk membahas masalah Joo Ri, ia menduga jika Joo Ri akan segera membuat pergerakan. Dia sedang mencoba melepaskan tanggung jawab setelah mendapatkan tuntutan dan olah sidang terbuka juga membutuhkannya untuk menjadi saksi sekaligus membuktikan ke-autentikan surat tuduhan. Ia menduga Joo Ri akan menggunakan media masa dan membumbui ceritanya agar menarik. Metodenya akan sama dengan yang sebelumnya.

“Lalu, kenapa kau mengatakannya padaku? Kedengarannya, tidak ada yang bisa kubantu atas hal itu.” tanya Detektif Oh.


Ji Hoon meminta Detektif Oh untuk melindungi Joo Ri dari Choi Woo Hyuk. Disaat seperti ini, Woo Hyuk akan meledak karena mendapatkan provokasi dari Joo Ri, saat dimana ia tidak memiliki alibi kuat dan isu yang menyebar dikalangan anak-anak.

“Bagaimana kau bisa tahu soal dia tidak punya alibi?” Detektif Oh tampak agak mencurigai sesuatu. Ji Hoon menunjukkan ponselnya, ia punya mata disana sini.


Pagi hari, suasana rumah Seo Yeon sudah ramai akibat teriakan dua adiknya yang berebut boneka. Seo Yeon bersiap pergi ke rumah Joo Ri. Ibu tahu kalau Seo Yeon sudah lama tidak bertemu dengan Joo Ri. Ia harap semuanya lancar dan tidak terjadi kesalahpahaman.

Soo Hee dan Yoo Jin bergabung dengan Seo Yeon untuk pergi ke rumah Joo Ri. Keduanya mengomel sebal karena pesan mereka tidak dibalas sama sekali. Mungkin Joo Ri sudah memblokir SNS-nya. Tapi ini kesempatan mereka untuk bisa bertemu langsung dengannya.

Yoo Jin memperingatkan supaya Soo Hee menjaga amarahnya. Soo Hee jadi kesal, memangnya kapan dia lepas kendali?

Mendengar keributan dua sahabarnya, Seo Yeon jadi ingat bagaimana dulu dia sering bercanda dan bermain dengan Joo Ri. (Uwahh... jadi mereka dulu temenan? Tapi kenapa tiba-tiba menjauh gitu yah?)

Ibu Joo Ri kesal melihat kedatangan mereka. ia berniat mengusir ketiganya namun Joo Ri menghentikan Ibunya. Dia meminta Ibu untuk membuka saja pintunya. (Joo Ri bisa bicara loh..)

Joo Ri duduk dengan tatapan kosong. Seo Yeon berbasa-basi menanyakan kabarnya. Joo Ri menggunakan tablet untuk berkomunikasi dan menuliskan kata-kata sinis, jangan bepura-pura perduli! Menjengkelkan.

Soo Hee dongkol diperlakukan begitu. Seo Yeon memutuskan untuk meminta Soo Hee dan Yoo Jin keluar, dia akan berbicara sendiri dengan Joo Ri. Soo Hee masih kesal dan menunjuk matanya sebagai isyarat kalau dia memperhatikannya.

Seo Yeon sekarang tahu kenapa Joo Ri mengirimkan surat tuduhan itu padanya, ia yakin kalau Joo Ri mempercayainya. Dia sekarang sudah tidak tinggal diam lagi tentang surat itu. Joo Ri tetap sinis, “Omong kosong. Kau datang kemari untuk sidang olah perkara kan?”

Awalnya memang begitu, tapi setelah melihat kondisi Joo Ri sekarang ini, Seo Yeon tidak jadi melakukannya. Bagaimana dia bisa menjadi seperti ini? Dia disalahkan semua orang karena menyuarakan pendapatnya. Itu tidak adil. Joo Ri tidak seharusnya sembunyi seperti ini dan tidak melakukan apapun.


“Kau ingin aku berhenti sembunyi dan muncul di olah perkara terbuka,  agar aku bisa mendapat lebih banyak cercaan?” tulis Joo Ri.

Seo Yeon meyakinkan jika Joo Ri tidak sendirian. Joo Ri setuju asalkan Seo Yeon tidak terlibat dalam sidang olah perkara, ia bersedia hadir jika Seo Yeon tidak andil didalam sidangnya. Seo Yeon agak ragu, sampai akhirnya dia setuju kalau memang Joo Ri benar-benar mau datang memberikan kesaksian.

Soo Hee menerobos dalam kamar Joo Ri marah-marah, memangnya dia kira dia siapa? Kepribadiannya memang buruk, padahal mereka sudah datang baik-baik dan memintanya menjadi saksi. Soo Hee melempar tablet di tangan Joo Ri “Dia membodohi kita dengan tablet ini!”

Soo Hee menuduh Joo Ri sedang membodohi Seo Yeon tapi sayangnya dia gagal karena dia tidak akan membiarkannya. Meskipun Joo Ri dan Seo Yeon pernah dekat, itu tidak berarti apapun! Seo Yeon tidak menganggapnya teman! Itu semua karena kasihan saja! Dia tidak punya teman sama sekali!

Yoo Jin dan Seo Yeon membawa Soo Hee keluar sebelum terjadi keributan yang lebih parah. Joo Ri tampak sedih dan kesal, ia menangis setelah kepergian mereka bertiga.

Soo Hee berterimakasih pada dua temannya yang sudah membawa dia pergi sebelum ditangkap polisi. Yoo Jin masih kesal, hubungan mereka dan Joo Ri semakin memburuk karena ini. Ia akan mengecek SNS, siapa tahu dia sudah memposting hal buruk tentang mereka.


Soo Hee meminta maaf pada Seo Yeon, meskipun begitu dia tidak menyesal sudah memarahi Joo Ri. Dia benci sekali setiap Joo Ri bersikap seperti itu padanya. Tapi apakah Seo Yeon sungguh-sungguh akan mundur?

“Aku sungguh-sungguh. Dia lebih dibutuhkan dalam olah perkara ini dibandingkan aku. Olah perkaranya membutuhkan Joo-ri, bukan aku.”

Yoo Jin terkejut menemukan video pengakuan Ibu Joo Ri bahwa anaknya hanyalah saksi sebuah kasus pembunuhan tapi keluarga si pembunuh malah melaporkan putrinya. Polisi datang ke rumah dan menekan remaja berusia 19 tahun.

Dikantor polisi, Atasan menemui Detektif Oh dan langsung mendampratnya karena ikut campur padahal Investigasi Ulang sudah ditutup.

Reporter Park juga melihat video yang sama. Entah apa yang ia pikirkan, Reporter Park menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan kamera. Reporter membawa anak buahnya untuk bertemu dengan anggota klub persidangan terbuka. Ia ingin membuat kesepakatan dengan mereka dan izin menyiarkan olah perkara yang diadakan di sekolah.


Ji Hoon to the point mempertanyakan timbal balik apa yang mereka dapatkan? Tentu saja Reporter Park memiliki penawaran untuk mereka. Tapi terlebih dulu ia bertanya apa yang mereka inginkan?

“Mengangkat olah perkara ini kepada publik.” Ucap Ji Hoon.

Semua orang terkejut. Tapi Reporter Park bisa menangkap alasannya, dia ingin masalah ini dipublikasikan agar sekolah tidak bisa lagi menghentikan mereka?

Reporter Park menunjukkan video yang telah ia buat dan menambahkan wawancara Guru Kim dalam videonya. Bu Kim berkata dalam video jika sekolah sangat mendukung akan rencana muridnya untuk mengadakan sidang perkara di sekolah.


Tampaknya mereka cukup puas dengan video itu. Tapi sebelum itu, Seo Yeon memintanya berjanji supaya tidak menyinggung masalah Lee Joo Ri, baik kritik maupun pembelaan. Reporter Park setuju.

Seo Yeon menatapnya diam, belum percaya. Reporter Park sampai menunjukkan jari kelingkingnya untuk mengucapkan janji. Seo Yeon tersenyum sebagai pertanda persetujuan.


Bu Kim mentraktir anak-anak untuk merayakan masalah yang telah Bu Kim timbulkan untuk sekolah. Dia akan membatasi satu anak 100ribu won saja. Yoo Jin merengut soalnya uang segitu hanya bisa untuk mendapatkan beberapa makanan saja. Soo Hee menenangkan mereka, dia tahu kok tempat yang murah dan enak.

Ji Hoon meminta maaf, dia permisi untuk pergi ada urusan. Ia tidak bisa ikut makan bersama. Tidak ada yang mempermasalahkannya, hanya Yoo Jin yang cemberut karena cowok cute –nya engga bisa ikut.


Seo Yeon tampak tidak enak hati pada Bu Kim. Ia senang mendapatkan bantuan dari Bu Kim hanya saja ia takut jika dia mendapatkan masalah. Bu Kim tersenyum lembut, ibaratkan saja orang biasa yang melakukan hal luar biasa.

“Apa maksudnya?”

Lindungi yang lemah, perbaiki yang salah, dan jangan berdusta. Nilai-nilai dasar semacam itu semua orang bisa melakukannya. Seperti mereka, justru itulah yang bisa mengubah dunia. Bu Kim bukan seorang yang hebat dan bisa melakukan hal luar biasa. Mereka –lah yang telah membuat Bu Kim menyadari betapa pentingnya sebuah nilai-nilai dasar. Bu Kim meminta mereka jangan mencemaskannya.

Anak-anak pun tersenyum mendengar ucapan tulus Bu Kim.


Ji Hoon menemui Woo Hyuk di tempat bilyar. Anak-anak disana memperhatikan Woo Hyun penuh tuduhan dan tentu saja itu membuat Woo Hyuk mendelik kesal. Ji Hoon menghampirinya dan mengatakan jika ia akan menjadi pengacaranya. Dia akan menjadi pembela Woo Hyuk.

Keduanya berbicara di luar, Woo Hyuk tidak mempercayai omongan Ji Hoon yang berniat membelanya. Dia yakin kalau mereka berkomplot, pengacara? Omong kosong!

“Aku memercayaimu. Kau tidak membunuh So-woo. Aku memercayaimu.” Ucap Ji Hoon.

“Kau pikir aku akan pergi ke acara seperti itu? Kau pikir aku ini naif?”

Ji Hoon mengaku pernah merasa yang namanya disalahkan dan itu sangat membuat frustasi. Ia tahu rasanya, jadi ia meminta Woo Hyuk untuk datang ke persidangan. Woo Hyuk menyentuh wajah Ji Hoon kemudian menamparnya dengan keras, “Siapa namamu? Han Ji-hoon? Selanjutnya, aku akan membunuhmu. Seperti Lee So Woo.”

Tuan Choi (Ayah Woo Hyuk) mendapatkan telfon dari Tuan Han yang menyuruhnya untuk segera mencabut tuntutannya. Tuan Choi mengerti, istrinya-lah yang sudah lepas kendali dan melaporkan kasus ini. Ia akan mencabut tuntutannya esok pagi.

Sesampainya didepan rumah, Tuan Choi mendapati ibunya sedang membersihkan coretan orang di dinding rumah mereka. Ia langsung menghentikan ibunya dan memanggil Woo Hyuk untuk menggantikannya.

Ibu Woo Hyuk muncul dan terkejut mendapati dinding rumah ada corat-coretnya. Tuan Choi langsung memarahinya yang sudah membiarkan Ibu melakukan pekerjaan sedangkan dia malah santai-santai di rumah. Tuan Choi menyalahkannya yang sudah bertindak tanpa pikir panjang, ini bukan wewenangnya!

Ibu Woo Hyuk hanya mengkhawatirkan anaknya, dia tidak menduga kalau semuanya akan menjadi serumit ini. Tuan Choi geregetan sekali, ia menyuruhnya untuk mencabut tuntutan besok. Baiklah, ucap Ibu Woo Hyuk masuk dalam rumah.


Woo Hyuk sampai didepan rumah, Tuan Choi langsung menarik telinganya dengan marah. Bukankah dia sudah menyuruhnya untuk berdiam di rumah selama dia melakukan perjalanan  bisnis? Ia menampari dan memukul Woo Hyuk, dia meniru perangai buruk siapa sebenarnya? (BAPAKNYA!!)

“Dasar kau sampah tidak berguna!” ucap Tuan Choi mendorong Woo Hyun sampai jatuh.

Nenek membela Woo Hyuk namun Woo Hyuk sudah terlajur marah. Dia pergi meninggalkan rumahnya dengan geram.


Woo Hyuk menelfon Sung Min tapi ponselnya tidak aktif. Dia memutuskan untuk melampiaskan kemarahannya dengan ngakak-ngakak di warnet. Sedangkan dirumahnya, seseorang misterius dengan pakaian serba hitam memanjat pagar. Tidak berselang lama, orang itu pergi meninggalkan rumahnya dan terlihat ada kepulan asap membumbung disana.

Ponsel Woo Hyuk berdering, ia berniat mengabaikannya. Tapi ponselnya kembali berdering dan terus berdering. Ia mengangkat panggilan dari ibunya, Woo Hyuk terkejut dan bergegas pulang ke rumahnya.

Pemadam kebakaran sibuk memadamkan api di rumah Woo Hyuk. Ibu dan Ayahnya menangis didepan rumah. Woo Hyuk kebingungan dan menanyakan keberadaan neneknya, Ibu tidak bisa menjawab dan menatap ke arah rumah mereka.

Woo Hyuk terkejut dan berusaha menerobos dalam rumahnya namun Petugas pemadam langsung menahannya.


Keesokan harinya, kabar kebakaran ini menyebar di internet. Yoo Jin dengar jika kebakaran ini terjadi setelah video pengakuan Ibu Joo Ri di unggah di internet. Seseorang menulis “Pembunuh!” didepan rumahnya dan katanya orang membakar rumahnya gara-gara kasus pembunuhan juga.

“Ini kan salah Choi Woo-hyuk. Neneknya tidak melakukan kesalahan apa pun!” ucap Soo Hee prihatin.

Seo Yeon menjadi tidak mood mendengar kabar ini, dia permisi pulang duluan dan menyelesaikan pekerjaannya di rumah.

Dalam perjalanan pulang, Seo Yeon berpapasan dengan Ibunya yang baru saja berbelanja. Ibu tidak membicarakan apapun dan bersikap seolah tidak mendengar kabar beritanya. Seo Yeon dengan sedih ingin bertanya.. Apakah mungkin..

“Jangan menyalahkan dirimu. Ibu sudah mendengar apa yang terjadi.” Sela Ibu. Seo Yeon mengerti kalau ini bukan salahnya, ia hanya bertanya-tanya apakah olah perkaranya membuat semuanya menjadi lebih buruk.


Ibu menegaskan apabila Seo Yeon menyalahkan dirinya sendiri maka Ibu juga salah telah melahirkan Seo Yeon. Dan Nenek bersalah telah melahirkan Ibu. Akhirnya semua akan kembali pada yang kuasa. Jika seseorang membuat kesalahan maka itu akan menjadi kesalahan dia seorang. Ibu harap Seo Yeon tidak merasa bertanggung jawab atas tindakan orang lain. Yang perlu ia lakukan hanyalah meluruskan yang salah.

“Apakah itu juga dunia orang dewasa yang harus kupelajari?”

Tidak. Ibu merasa jika Seo Yeon terlalu keras pada dirinya sendiri. Ia harus memperlakukan dirinya dengan lebih baik. Jangan membebani diri sendiri.

Ibu Woo Hyuk duduk didepan polisi dengan pandangan kosong. Tuan Go (Ayah Seo Yeon) menanyakan perkembangan kasus kebakaran di rumah Tuan Choi. Detektif Oh berkata jika pelakunya adalah seorang profesional. Awalnya mereka menduga jika ini hanya perbuatan anak-anak tapi saat melihat bahan-bahan yang digunakan, jelas ini dikerjakan oleh orang profesional.

Detektif Oh tidak ingin berfikir terlalu jauh, tapi ia menyarankan supaya Tuan Go memeriksa rekam jejak asuransi Tuan Choi. Tuan Go mengerti, ia juga memikirkan hal yang sama.

Seorang polisi bertanya pada Detektif Oh tentang keberadaan Choi Woo Hyuk. Tuan Go mengaku jika dia tidak melihatnya ada di ruang tunggu saat datang kesana. Tidak lama kemudian, Detektif Oh mendapatkan panggilan dari seseorang.

Ji Hoon sibuk memeriksa komentar di blog sekolah. Rata-rata mereka mensyukuri apa yang terjadi dan menganggap jika Woo Hyuk layak mendapatkannya. Ji Hoon sepertinya admin di blog sekolah ini, dia langsung menghapus beberapa komentar pedas anak-anak.

Ponsel Ji Hoon berbunyi dan Seo Yeon –lah yang menelfonnya. Seo Yeon berlarian dari kamar dan berkata akan segera datang kesana dalam lima menit.  

Woo Hyuk ngamuk-ngamuk didepan rumah Joo Ri. Dia berteriak menyuruhnya keluar dan menendangi gerbang rumahnya dengan marah. Seo Yeon datang, ia mencoba menghentikannya dan meminta dia menahan emosi. Woo Hyuk hilang kendali, dia mencari pot bunga dan berniat melemparnya ke rumah Joo Ri.

Seo Yeon menghadangnya. Woo Hyuk yang kalap hampir saja memukul Seo Yeon dengan pot bunga itu.

Beruntung Ji Hoon datang tepat waktu dan mendorongnya hingga jatuh. Keduanya pun bergulat.

Ibu Joo Ri tiba-tiba keluar dan menyiram air pada Seo Yeon. “Kalian semua tidak punya perasaan! Kenapa kalian ini! Jangan ganggu Joo-ri lagi! Kumohon!”

Soo Hee, Yoo Jin, Seung Hoon, dan Joon Young sampai didepan rumah Joo Ri. Soo Hee langsung pasang badan membela Seo Yeon. Seo Yeon terus menunduk dengan mulut bergetar, ia menunduk dan mengucapkan kata maaf. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. Ia terus mengucapkan hal itu.

Ibu Joo Ri juga sedih sekaligus marah, dia terduduk didepan Seo Yeon sambil menangis.

Joo Ri yang sedari tadi bersembunyi dan memperhatikan mereka dari kamar langsung turun saat melihat Seo Yeon disiram ibunya. Ia tertegun didepan pintu melihat Seo Yeon terus mengucapkan permintaan maaf.

Emosi Woo Hyuk reda saat melihat Seo Yeon meminta maaf setelah perlakuan tidak sopan Ibu Joo Ri padanya.

Detektif Oh baru sampai disana, ia segera menarik Woo Hyuk yang menindih tubuh Ji Hoon. Woo Hyun diam tanpa melawan, dia terus memperhatikan Seo Yeon yang masih terus mengucapkan kata maaf.

Ji Hoon mencari keberadaan Seo Yeon disekolah dan menemukan ia duduk ditangga dengan sedihnya. Awalnya Ji Hoon berniat menemuinya tapi dia tidak jadi. Ia lebih memilih untuk mengirimkan pesan menggunakan aku “Penjaga Sekolah Jeong-guk”.

“Patung Buddha yang kubeli dari Lumbini jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.” Tulis Ji Hoon.

Seo Yeon celingukan mencari pengirim pesan. Ia berniat membalas pesannya tapi Ji Hoon sudah duluan mengirimkan pesan lagi.

“Lengan, kaki, leher, hancur menjadi kepingan-kepingan. Jadi aku berusaha menyatukannya kembali. Aku mengambil lem dan mencoba melekatkannya kembali. Itulah saat Buddha memukul kepalaku, yang terus mencoba memperbaikinya, dan berkata Kau tidak akan dapat menyatukan sesuatu yang sudah hancur berkeping-keping. Hiduplah saja dengan kepingan-kepingan itu jika memang harus begitu.”


Seo Yeon menangis membaca pesan yang dikirimkan penjaga sekolah Jeong-guk. Betapa pun terluka perasaannya kali ini, dia harus tetap bertahan. Bukan berusaha mengobati luka hatinya, tapi dia harus berusaha maju dengan luka yang sudah terlajur tertoreh dalam hatinya.

Joon Young datang membawakan minuman hangat. Seo Yeon bergegas menghapus air matanya, ia tersenyum karena tertangkap basah sedang menangis.

Seo Yeon dan Joon Young kembali ke ruang klub sidang. Dimeja sudah terdapat banyak pakaian dan barang-barang. Yoo Jin barusaja menggunakan kartu kreditnya dalam keadaan kritis. Seo Yeon saat ini kan dalam keadaan kritis jadi dia membeli semua barang-barang ini. Seo Yeon kembali tersenyum bersama mereka.


Sepulang sekolah, Ji Hoon berjalan sendirian. Ia melihat ada motor Woo Hyuk terparkir didepan gerbang. Ia menghampirinya dan Woo Hyuk menatapnya dengan wajah lesu.

Tuan Han sudah menemukan siapa pelaku yang mengirimkan surat tuduhan ke reporter Park, dia adalah penjaga sekolah. Penjaga Sekolah mengakui jika dia memang melakukannya, dia marah karena Kepala Sekolah menyalahkannya saat ada kejadian siswa meninggal jatuh dari atap. Padahal sebelumnya dia sudah bilang kalau kunci pintunya sudah tua dan minta diganti. Tapi Kepala Sekolah tidak mau mendengarkannya, setelah ada kasus, dia malah disalahkan.

Ia dipecat dan dipermalukan dihadapan guru-guru. Baiklah, dia akan mengaku pada stasiun TV kalau dia bohong dan telah mengirimkan surat dakwaan pada mereka. Tapi jika harus meminta maaf pada Kepala Sekolah, Penjaga menolak. Dia lebih baik dipenjarakan saja.

Tuan Han menghela nafas, ia meminta maaf atas apa yang terjadi. Ia menyuruhnya pergi dan tidak akan memperkarakan apa yang sudah ia lakukan.

Saat pertemuan, Ji Hoon memberitahukan jika Woo Hyuk akan datang ke persidangan. Anak-anak terkejut, apa yang sebenarnya Ji Hoon lakukan pada Woo Hyuk? Kesepakatan apa yang telah mereka lakukan?

Ji Hoon dengan dingin berkata jika dia hanya bicara dengannya saja.


“Apa yang kau katakan padanya? Sulit untuk memercayai dia. Dia mungkin akan berubah pikiran pada hari H. Dia bisa saja membuat kekacauan di persidangan.” Tanya Joon Young.

“Jangan cemas, dia tidak akan melakukannya.”

Seo Yeon menatapnya curiga dan berkata jika ia tidak menyangka Woo Hyuk akan setuju datang ke persidangan. Terlebih, Woo Hyuk tidak punya alasan untuk datang jika memang dia tidak bersalah. Jika Woo Hyuk benar-benar bersalah, dia tidak memiliki alasan untuk membuktikan dirinya dalam olah perkara itu. 

Seo Yeon ingin tahu, motif apa yang membuat Woo Hyuk ingin hadir dalam persidangan? Apa yang mereka berdua bicarakan. Ji Hoon sungguh memiliki banyak rahasia.

Pembicaraan Seo Yeon terpotong karena Min Suk datang kesana. Dia memberitahukan jika Seo Yeon dipanggil ke ruang guru.

Setibanya di ruang guru, Bu Kim memperkenalkannya pada seorang pria. Dia adalah kakak dari Lee So Woo, Lee Tae Woo. Bu Kim meninggalkan keduanya. 

Tae Woo dengan wajah serius mengatakan jika kematian adiknya bukanlah karena bunuh diri. So Woo sudah dibunuh. Ia pun menunjukkan sebuah amplop berisi sesuatu.

Ji Hoon mengikuti Seo Yeon dan memperhatikan apa yang sedang Seo Yeon dan Tae Woo bicarakan.
-oOo-
NOTE:

Dari semua tokoh dalam drama ini, cowoknya punya masalah semua dalam keluarga mereka. Mulai dari Joon Young yang tidak dianggap oleh Ibunya dan dikatai sebagai sumber kesialan sang Ibu. 

Woo Hyuk yang kaya tapi tidak bahagia. Ayahnya kasar dan tidak memperhatikannya. (Sakit banget sungguh pas dia didorong sama ayahnya terus dibilang ga berguna) Mungkin kalo aku udah... ga tau jadi apa :( 

Ji Hoon yang masih penuh misteri dan So Woo yang masih meninggalkan banyak tanda tanya.

Dan yang paling nyebelin LEE JOO RI! Meskipun diantara Lee Joo Ri dan Woo Hyuk emang sama-sama ga ada yang bener kayaknya sih. Tapi karakter Joo Ri emang ga ada manis-manisnya sih. Sedangkan Woo Hyuk, emang bikin ngenes, tapi ngenesnya juga salah sendiri sebenarnya.

Oiya.. minggu ini aku ga nulis ep 5&6 karena ada Erindalia yang mau bantuin. Gomawo ^_^ kalian bisa ngintip ep 5&6 di blognya dia yah 

BLOG My-eternalstory 




2 Responses to "SINOPSIS Solomon’s Perjury Episode 4 Bagian 2"

  1. lama banget nih part2 nya, padahal dah ditungguin dr kmrn2... episode 5nya ya min.... tq ;)

    ReplyDelete
  2. Unnie.ini episode 5&6 nya tidak ada ah d blognya erindalia.pliss tulis lahi unnie...lanjutkan sinopsis ini ya.pliss.fighting ! :)

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^