SINOPSIS Solomon’s Perjury Episode 3 Bagian 2

SINOPSIS Solomon’s Perjury Episode 3 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: jTBC

Keesokan harinya, Ayah memerintahkan Ibu untuk membangunkan Seo Yeon, nanti dia terlambat. Ibu masih agak jengkel, siapa yang peduli urusannya? Itu masalahnya. Ayah akhirnya masuk ke kamar Seo Yeon dan menemukan catatan yang telah ia kumpulkan.

Alarm Seo Yeon berdering, dengan terkantuk – kantuk ia menduga sudah telah berangkat sekolah. Ibu juga masuk kedalam kamar Seo Yeon dan melihat catatan ditangan Ayah. Apa Seo Yeon perlu melakukan sampai sejauh ini?

Seo Yeon tidak berani menjawab dan mengangguk pelan. Ayah sepertinya sudah tidak bisa lagi menghalangi keinginan putrinya, ia memberikan senyuman lembut sembari mengusap pundaknya dengan penuh kasih sayang.

Detektif Oh datang ke rumah Joo Ri dan melihat foto keluarga di sana hanya terdiri dari Joo Ri dan Ibunya saja. Joo Ri turun dari kamar, ia tidak bisa bicara sehingga menulis di kertas, untuk apa dia kemari?

Detektif Oh mengaku datang kesana hanya untuk bicara. Ibu Woo Hyuk telah menuntutnya atas tuduhan pencemaran nama baik. Mungkin beberapa hari lagi akan datang surat panggilan. Ia ingin bicara dengannya sebelum surat itu sampai. Joo Ri berubah panik, ia kembali menuliskan “Bukan aku. Park Cho Rong yang melakukannya. Bukan aku!”

Detektif Oh mengaku percaya dengannya, yang penting sekarang dia menceritakan detail kejadiannya saja. Joo Ri tidak mau mengatakan apapun lagi, ia menyeret Detektif Oh keluar dari rumahnya.


Ibu Seo Yeon datang ke sekolah untuk melakukan mediasi. Tapi ia tidak melihat adanya Guru BK yang sudah menampar wajah Seo Yeon. Wakil Kepsek beralasan jika Guru BK sedang sakit sehingga tidak bisa hadir. Mediasi akan tetap dijalankan, toh dengan adanya Guru yang terlibat tidak akan berpengaruh.

“Mediasi? Maksudnya mediasi antara siapa dan siapa?” tanya Ibu kurang suka.

Wakil Kepsek tidak memperdulikan ucapan ibu, ia membacakan putusan jika Go Seo Yeon telah melakukan pelanggaran karena memberontak ucapan gurunya. Tentu saja Ibu tidak terima. Wakil Kepsek mencoba menjelaskan jika secara teknis, tetap Seo Yeon yang bersalah.

Ibu tidak bisa lagi menahan emosinya, jadi Wakil Kepsek menganggap jika anaknya memang pantas mendapatkan tamparan dihadapan teman – temannya karena membantah? Seo Yeon putrinya, apakah dirinya bisa duduk diam melihat putrinya tidak makan selama tiga hari? Bu Guru yang terlibat pun sama sekali tidak mengatakan permintaan maaf. Ibu memutuskan untuk menelfon ayah dan ingin memprosesnya secara hukum.

Seo Yeon mengejar Ibu yang meninggalkan ruang Kepsek. Dia heran kenapa Ibu sampai seperti itu padahal dia belum mengatakan apapun. Ibu tersenyum mengatakan jika Ayah tidak mengangkat panggilannya. Ini adalah cara terampuh dalam mengatasi mereka yang berniat meninggalkan tanggung jawab (dengan ancaman). Ibu menepuk punggung Seo Yeon supaya melakukan tugasnya sekarang, lakukan apa yang ingin ia lakukan. Seo Yeon tersenyum senang pada Ibunya.

“Putriku, Fighting!” ucapnya.

Seo Yeon kembali ke ruangan Kepsek. Wakil Kepsek mengubah sikapnya menjadi sangat ramah, Guru BK akan segera datang kemari jadi bisakah dia membawa Ibunya kembali. Seo Yeon berjanji akan menangani masalah Ibunya. Sebaliknya... Seo Yeon memberikan proposal sidang sekolah.

Guru BK datang dan Seung Hyun buru-buru menguping didepan pintu. Ia pun mengirimkan pesan untuk Yoo Jin.

Yoo Jin memberitahukan pada Soo Hee kalau Seo Yeon mengajukan proposal sidang sekolah pada Wakil Kepsek. Jadi ini masalah yang dimaksud oleh Seo Yeon kemarin. Min Suk mendengar pembicaraan mereka berdua, ia merebut ponsel Yoo Jin untuk melihat SMS-nya. Dia pun bergegas pergi setelah membacanya.

Bu Guru tidak percaya jika Seo Yeon akan melakukan sidang di sekolah, apa dia pikir sekolah akan menyetujui pengajuan tidak masuk akal? Seo Yeon dengan tenang meletakkan ponsel dihadapan Bu Guru dan menunjukkan bagaimana dia menerima kekerasan dalam sekolah. Bu Guru bangkit dari duduknya dengan sangat marah karena merasa diancam.

Wakil Kepsek langsung menatapnya mengisyaratkan supaya dia duduk tenang. Wakil Kepsek dengan lembut membujuk Seo Yeon untuk mengurungkan niatnya. Apalagi dia adalah siswa pintar, nilainya sempurna. Apakah tidak lebih baik dia belajar saja?

“Ini bukan persoalan fokus belajar semata. Itulah sebabnya sidang sekolah lebih diperlukan. Ini jalan keluar agar kita bisa mengakhiri ini.”

Wakil Kepsek meyakinkan bahwa sekolah telah mengusahakannya. Tidak, Seo Yeon tidak sependapat. Sekolah hanya menangani kasus ini supaya tidak menerima kritik dan memikirkan seberapa cepat orang akan melupakannya. Mereka hanya berusaha menghindari masalah.

“Melanjutkannya bukan jawaban terbaik. Sudah lama sejak kejadian itu. Sekolahpun kembali normal. Tapi kalau Seo Yeon ingin membesarkan insiden Lee So Woo lagi sekarang ini, itu hanya akan membuat sekolah menjadi lebih kebingungan.”

Min Suk tiba-tiba masuk dalam ruangan. Ia tidak ingin tinggal diam sekarang. Guru BK menatapnya dengan sebal, apa dia juga mau ikut-ikutan? Min Suk dengan tegas mengatakan jika Bu Guru BK tidak pantas mendapatkan title guru. Dia sudah menampar murid yang mengutarakan pendapatnya. Dia tidak ingin sekolah disini. Dia tidak mau mempertaruhkan hidupnya di sekolah tidak waras.

“Min Suk.” Sela Wakil Kepsek.

Min Suk menatap Wakil Kepsek dengan bersungguh-sungguh, dia menuntut mereka untuk membuktikan bahwa siswa adalah prioritas utama mereka. Buktikan, meskipun sekolah tidak mendapatkan keuntungan.

Wakil Kepsek memegangi kepalanya yang pening, dia menyuruh mereka semua untuk meninggalkan ruangannya. Seo Yeon ingin mengatakan sesuatu pada Min Suk namun Min Suk menghentikannya, dia tidak mau mendengar kata-kata emosional saat ini. Jangan katakan apapun!

Seo Yeon tersenyum karena sikap Min Suk yang masih dingin padahal baru membantunya.

Seung Hyun bergosip tentang Min Suk yang penuh karisma saat bicara dengan Wakil Kepsek. Yoo Jin tidak percaya dengan ucapan Seung Hyun. Min Suk masuk dalam ruangan, Seung Hyung langsung menyambutnya “Yo~ Bulgeo charisma Min Suk.” (SMTM4 fell.. Mino-ya!!)


Tidak berapa lama, Seo Yeon juga masuk dalam kelas. Dia berbicara dihadapan teman – temannya untuk menjelaskan bahwa dia ingin mengadakan sidang sekolah. Tidak ada seorang pun yang mau mendengarkan penjelasannya, mereka tidak mau ikut campur. Ujian sudah semakin dekat jadi mereka akan belajar.

Seo Yeon memutuskan untuk memangkas penjelasannya, intinya dia ingin mengadakan sidang sekolah. Tapi sekolah akan menyetujuinya jika siswa yang lain menyetujuinya, dia meminta mereka menulis nomor induk dan tanda tangan.

Tidak ada yang merespon.

“Tidak ada satupun dari kalian?”

Joon Young, Yoo Jin, Soo Hee, Seung Hyun dan temannya pun mengangkat tangan mereka. hanya mereka berlima saja.


Hmm.. agak pesimis nih mereka. Yoo Jin sebenarnya setuju saja tapi dia belum mengerti dengan rencana yang akan dilakukan Seo Yeon. Soo Hee menyuruhnya supaya mempercayai Seo Yeon saja lagipula dia tidak pernah menyimpang. Lalu apa yang harus mereka lakukan? Berapa tanda tangan yang diperlukan?

Seo Yeon mengangkat tangannya. Soo Hee tertawa remeh, 50 orang mah gampang. Seo Yeon meralah karena mereka membutuhkan 500 tanda tangan. Tambah pesimis sebenernya bahkan Seung Hyun sampai mau kabur.

Soo Hee menahannya. Dia menunjukkan jempolnya “Tantangan!” Mereka berlima pun akhirnya sepakat dan menumpuk tangannya. Mereka menerima tantangan ini, mengumpulkan 500 tanda tangan dalam 3 hari.

Yoo Jin menunjukkan dua tiket koser VIP EXO. Uwaaaahh... mendadak fangirls berubah ganas dan berniat membelinya, tahu sendiri tiket EXO sold out dalam waktu 5 menit. Yoo Jin tidak menjualnya, dia akan membagikan dengan gratis bagi siapa saja yang bisa mengumpulkan tanda tangan paling banyak.


Seung Hyun membagikan jus dengan syarat mereka harus menandatangani form persetujuan dulu. Seo Yeon berusaha keras membagikan form persetujuan namun semua orang mengabaikannya. Ia melihat seseorang yang ia kenal dan memberikan form persetujuan itu padanya. 

Sayangnya mereka tidak menerimanya dengan baik, ia malah meremas kertas itu dan membuangnya dihadapan Seo Yeon. “Memang siapa dia? Mentang – mentang pandai di sekolah.”

Seo Yeon memungut kertas remasan dan mencoba mempergunakannya kembali. Ji Hoo tetiba muncul dihadapan Seo Yeon dan bertanya apakah dia bisa menjalankan sidangnya? Seo Yeon merasa diremehkan, memangnya dia siapa? Dia bukan dari sekolah ini.

“Aku Han Ji Hoon dari SMA Seni Jeong-guk.”

Seo Yeon sudah tahu namanya.. tapi kenapa dia menanyakan hal itu padanya? Ji Hoon mempertanyakan itu karena Seo Yeon sudah menyimpang. Bukankah dalam sidang seharusnya ada penggugat? Lalu siapa penggugat dalam kasus ini?

“Aku. Ini bukan dakwaan formal tapi akulah yang mengusulkannya.”

“Lalu siapa peranmu?”

“Secara teknis, akan menjadi jaksa.” Seo Yeon marah karena merasa diremehkan, dia tahu bagaimana jalannya sebuah sidang.


Ji Hoon sekarang tanya, lalu apa yang akan didapatkan terdakwa setelah jalannya sidang ini?

“Tentu saja bersalah atau tidak terdakwa.”

“Siapa yang bersalah atau tidak?”

“Choi Woo Hyuk.” Jawab Seo Yeon agak ragu.

Ji Hoon kembali ceramah bahwa syarat dalam sidang adalah argumen verbal antara penggungat dan terdakwa. Lalu bagaimana penggungat dalam kasus ini bisa hadir? Apakah dia bisa membawa Woo Hyuk menghadiri sidang? Seo Yeon tidak mau, dia yakin kalau Woo Hyuk cuma akan mengumpat dan mengacaukan segalanya.

“Itu prasangka.”

“Itu pengalaman.” Balas Seo Yeon.

Kalau begitu, Ji Hoon bertanya siapa yang akan membela Woo Hyuk secara rasional dalam sidang ini sedangkan semua orang berprasangka buruk padanya. Bukan sidang namanya kalau mereka sudah menentukan siapa yang bersalah, apalagi kalau dia tidak memberinya kesempatan untuk mengungkapkan pendapat! Itu namanya pencemaran nama baik!

“Jaga mulutmu!”


Ji Hoon menyuruh Seo Yeon untuk menjalankan sidangnya dengan benar. Agar sidang berjalan adil maka yang pertama, Woo Hyuk harus datang sebagai terdakwa. Kedua, siapkan seseorang yang bisa membela Woo Hyuk secara obyektif. Siswa dari sekolah lain mungkin.

Seo Yeon makin pusing, mengumpulkan tanda tangan dari sekolah sendiri saja sulit apalagi membuat siswa sekolah lain terlibat. Ji Hoo duduk dihadapannya. Seo Yeon terkejut.. kau? Ji Hoon mengangguk. Seo Yeon segera menolaknya, meskipun dia membutuhkan bantuan seseorang tapi dia tidak akan menerima bantuan dari Ji Hoon.

Soo Hee dan Yoo Jin melihat pembicaraan mereka. Yoo Jin ngomel karena Seo Yeon tidak menerima bantuan dari makhluk imut. Dia sudah melakukan kejahatan atas keindahan! Soo Hee juga menceramahinya, dia seharusnya menerima bantuan Ji Hoo, mereka kan memang membutuhkan banyak bantuan.

“Hentikan!” sentak Seo Yeon pusing dengan ocehan keduanya.

Wakil Kepsek langsung mendapatkan teguran karena menyetujui permintaan siswa. Dia meminta maaf tapi dia yakin anak – anak tidak akan bisa mengumpulkan tanda tangan. Sampai saat ini, mereka belum bisa mendapatkan separuhnya. Kepala Han dengan dingin menyuruhnya untuk mempersiapkan rencana untuk mengatasi kejadian tidak terduga. Wakil Kepsek mengangguk.

Joon Young pergi ke PC Bang, dia awalnya mendekati anak-anak yang bermain disana. Dia menunjukkan beberapa rahasia jurus dan membuat mereka menang. Joon Young pun menunjukkan kemampuannya bermain game, dia menang dan membuat mereka kagum. Joon Young membagikan form persetujuan supaya mereka bisa menandatanganinya.

Seo Yeon merasa bersalah, ia meminta maaf di grup chat. Tidak menerima balasan, Seo Yeon memeriksa IG Soo Hee dan Yoo Jin tapi akunnya sudah diblokir mereka berdua.


Joon Young menemui Seo Yeon ditaman, dia sedang menangis disana. Selang beberapa saat, Seo Yeon curhat kalau Soo Hee dan Yoo Jin marah padanya hanya karena dia emosi. Mereka sampai memblokir ig –nya padahal dia selalu me “like” postingan mereka. Joon Young cuma bisa menemani Seo Yeon tanpa mengatakan apapun. Wkwkw.. meskipun begitu, tetep manis ih..

Seo Yeon meminta ponsel Joon Young, dia mau lihat apa hanya ig-nya saja yang diblokir. Nah ternyata memang hanya ig –nya yang di blokir tapi prasangka Seo Yeon tidak benar. Mereka memblokirnya karena memposting konser Ji Hoo di ig, konser untuk mendapatkan tanda tangan anak-anak.

Seo Yeon datang ke konser Ji Hoon, anak-anak sudah berkumpul. Yoo Jin, Soo Hee dan Seung Hyun bergegas ngumpet melihat kedatangannya.

Joo Ri juga melihat foto Ji Hoon yang melakukan penampian spesial di SNS. Anak-anak mengisi form persetujuan hanya untuk melihat wajah Ji Hoon. Dia langsung sebal dan meninggalkan komentar “Aku sangat tidak ingin berada di pihak Ko Seo Yeon!”


Sesampainya didepan rumah, ia berpapasan dengan tukang pos yang mengirimkan surat panggilan. Di rumah, Joo Ri meremas surat panggilan itu dan mengobrak-abrik kamarnya dengan frustasi. Dia menjerit marah dan Ibu datang menenangkannya. Rupanya trauma dia cuma alasan saja yah..



Penutup konser, Ji Hoon memilih sebuah lagu yang ia persembahkan untuk seseorang. Ia berharap jika orang itu bisa mendengarnya. Mungkin lagu ini ditujukan untuk So Woo kah?

Seusai konser, Seo Yeon menemuinya. Dia tidak pernah mengatakan ini sebelumnya tapi dia bilang kalau Ji Hoo adalah baj*ng*n. Persidangan bukanlah lelucon atau bersenang-senang. Bukan berarti dia juga bisa ikut campur. Kedepannya, Seo Yeon berharap supaya Ji Hoo tidak lagi ikut campur.

Dan untuk surat persetujuan yang sudah ditandatangani, ia mengucapkan terimakasih.

“Memangnya kau pikir hanya kau saja yang tulus melakukannya? Aku juga tulus.” Ucap Ji Hoon.

“Kau.. mengenal Lee So Woo?”

Tanpa pikir panjang, Ji Hoon menjawab “Tidak.”

-oOo-

2 Responses to "SINOPSIS Solomon’s Perjury Episode 3 Bagian 2"

  1. tengkyu admin..^_^
    eps selanjutnya jngn lama2

    ReplyDelete
  2. Fighting!! Gomawoo..Teruskan ya admin,,jangan lama2..Ini drama aku sangat menentukannya soalnya ceritanya tentang kejadian di sekolah..

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^