SINOPSIS Missing Nine Episode 2 Bagian 2

SINOPSIS Missing Nine Episode 2 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: MBC


“Jadi maksudmu pesawatnya jatuh seperti itu dan hanya dua orang yang selamat? Seo Joon Oh dan kau Ra Bong Hee?” tanya Penyidik Oh.

“Ya.”

Dari alat komunikasi, Hee Kyung menyuruh Penyidik Oh supaya menanyakan semuanya lebih detail lagi. Mereka tidak bisa langsung mempercayainya dan membutuhkan informasi yang konkret. Penyidik Oh melakukan apa yang di perintah Hee Kyung, ia bertanya bagaimana perasaan Bong Hee ketika menyadari jika dirinya terdampar di pulau terpencil?

Bong Hee memegangi kalung yang ia kenakan. Dia sadar kalau mereka semua mungkin sulit mempercayainya, mulai dari ia selamat sendirian dan juga lupa ingatan namun kemudian mengingatnya lagi. Tapi apakah jika ia menceritakan dengan detail, mereka akan mempercayainya?

Dia memang tidak ingat berapa yang hidup atau berapa yang mati. Tapi maukah mereka berjanji untuk menyelamatkan mereka? Kalau mereka bersedia, maka Bong Hee akan melakukan apapun caranya untuk bisa mengembalikan ingatannya. Ia memohon, jangan biarkan mereka sengsara disana.

Hee Kyung meminta Penyidik Oh mengiyakan permintaan Bong Hee. Bong Hee mulai bercerita dengan sedih “Suatu hari, aku bertanya-tanya kenapa hal seperti itu terjadi padaku. Dari sekian banyak orang, kenapa aku harus mengalaminya? Aku benci sekali.”

Di pulau terpencil, Bong Hee duduk dengan sedih dan putus asa menatap lautan tanpa batas. Joon Oh tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya duduk menemaninya dari kejauhan.


Ada kalanya juga, Joon Oh yang merasa sedih. Dia duduk dibalik karang, mengusap air matanya yang menetes dipipinya. Bong Hee tiba-tiba datang memberikan snack untuk menghiburnya. Joon Oh terdiam, dia berlari mengejar Bong Hee dan memberikan kembali snack itu padanya. Bong Hee tersenyum. Disaat seperti itulah dia merasa jika ia beruntung karena masih hidup.


Suatu hari, mereka bisa sangat senang hanya karena melihat kapal yang melintas. Bong Hee berlari dengan penuh semangat, ia berenang mengejar kapal itu meskipun sangat mustahil. Joon Oh tidak berani berenang, ia berdiri ditepian pantai dan berubah menjadi penyemangat bagi Bong Hee.

“Bagus! Terus berenang!” serunya penuh semangat empat lima.


Bong Hee menceritakan segalanya dengan sangat detail. Hari berganti hari, Bong Hee terus menceritakan segala sesuatu yang ia ingat. Hee Kyung sampai memegangi kepalanya karena kelelahan mendengar cerita Bong Hee.

“Lalu suatu hari, aku melihatnya. Sebuah harapan.” Ucap Bong Hee sambil tersenyum.


Bong Hee dan Joon Oh menemukan sebuah tulisan [Alden is Here]. Disana terhitung 25 hari. Secercah harapan muncul bagi Bong Hee dan Joon Oh. Keduanya begitu bahagia menyadari mungkin mereka bisa kembali ke Seoul dengan selamat. Keduanya jumpalitan bahagia di tepian pantai.


Setelah menemukan secercah harapan tersebut, Bong Hee punya semangat untuk tetap hidup. Ia pikir dengan terus bertahan hidup maka suatu saat akan datang seorang yang menyelamatkan mereka. Ia pun menuliskan kata [HELP] di pasir dengan menggunakan rerumputan hijau.

“Apa pernah terpikir olehmu kau harus mencari korban yang lain?”

Mereka mencoba mencarinya tapi tidak mendapatkan hasil apapun. Joon Oh hanya mau mencari sebentar dan keluar dari hutan dengan alasan lapar. Dia tidak bisa mencari orang kalau sedang lapar, lebih baik mereka hidup dulu baru memikirkan orang lain.

“Lalu, bagaimana kau bertahan hidup?”

Bong Hee dan Joon Oh bekerja sama untuk membuat tempat tidur di gua karang. Menggunakan kayu yang ada di hutan, kemudian mengikatnya untuk menutupi lobang gua supaya angin tidak menerpa mereka secara langsung.

Meskipun berkerja sama, tapi perlu digaris bawahi karena Joon Oh lebih banyak ngomong ketimbang membantu. Dia curi-curi kesempatan untuk nyantai dan membiarkan Bong Hee mengerjakannya seorang diri.

Joon Oh rasa kalau mereka tidak akan terdampar di pulau terpencil itu selama 25 hari. Jadi... dia ingin meminta satu botol air mineral dan roti. Dia berjanji tidak akan meminta lagi pada Bong Hee. Bong Hee menyibukkan diri dengan berbagai macam perkerjaan, dengan tegas ia menyuruh Joon Oh untuk meletakkan kembali minumannya.

Hehehe.. Joon Oh tidak bisa menolak perintahnya dan kembali meletakkan roti di tempat asalnya kembali.


Pernyataan Ra Bong Hee selama beberapa hari ini sangatlah konsisten. Hee Kyung akhirnya membuat keputusan untuk melakukan penyisiran di pulau terpencil didekat perbatasan china dan korea. Seseorang mempresentasikan profil dari pulau-pulau terpencil disana.

Hee Kyung menolak mendengarkan penjelasan panjang lebar, katakan saja fakta-faktanya. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyisir ke-97 pulau tersebut? Presentator dengan cemas mengatakan jika mereka membutuhkan waktu secapat-cepatnya 3 bulan kalau mereka sudah mendapatkan cukup dana.

Hee Kyung pusing kepala “Bisa-bisa aku dipecat selama masa itu.”

Hee Kyung meninggalkan ruang rapat. Dia menginstruksikan pada Penyidik Oh untuk terus mengawal Bong Hee. Jangan sampai wartawan mewawancarinya dan jangan sampai mereka mengetahui fakta jika Bong Hee lupa ingatan. Selain itu, tetap lakukan wawancara dan kirimkan video wawancaranya padanya.


Jaksa Choi menghubungi Tae Young. Dia mengabarkan jika mereka telah menemukan adik Tae Young. Dia ada di China, tapi... Jaksa Choi ragu untuk mengatakannya secara langsung, ia pun mengucapkan rasa belasungkawanya. Tanpa dikata secara gamblang, Tae Young sudah bisa menebak maknanya. Ia mencoba tenang, di China bagian mana?


Bong Hee duduk ditepian pantai bersama dua bodyguardnya. Ibu melambaikan tangan ke arahnya, dia berkata akan menangkap ikan untuk mereka.


Dipulau terpencil, Bong Hee menghampiri Joon Oh yang sedang membenarkan tatanan rumput bertuliskan [HELP]. Bong Hee memintanya supaya berhenti, kalau ada yang lihat pasti mereka akan menolong. Ia pun memberikan sepotong kue dan air.

Dengan serius, Joon Oh meminta makanannya di tambah sedikit lagi. Dia sudah banyak bekerja hari ini. Bong Hee menolaknya, toh yang dia kerjakan juga cuma pekerjaan tak penting. Joon Oh pun akhirnya menurut, ia memakan sepotong roti serta air yang jumlahnya cuma seteguk itu.

Joon Oh benar-benar kelaparan kali ini. Dia lemas memperhatikan snack serta minuman yang tergeletak disampingnya. Tidak.. dia memunggungi makanannya supaya tidak tergoda untuk memakannya.


Sesaat kemudian, Joon Oh bangun dan terkejut karena kini dia sudah berada dipantai pasir putih dengan dua dayang yang mengipasinya. Dayang itu mengatakan jika daging barbeque –nya sudah siap. Joon Oh bangkit dengan kegirangan, seorang chef menghidangkan banyak makanan untuknya. Joon Oh pun melahap makanan itu satu persatu.

“Enak yah? Enak?” tanya seseorang mengipasi Joon Oh menggunakan daun.

Ketika menoleh, ia dikejutkan dengan sosok Bong Hee yang tersenyum manis padanya. Senyuman manis itu berubah kemarahan, kenapa kau memakannya? Kenapa kau memakan semuanya? Kau gila! Gila! Bong Hee memukuli Joon Oh menggunakan daun.


Joon Oh tersadar dari imaginasinya dan kini ia tengah melahap semua makanan simpanan mereka. Bong Hee ngomel-ngomel soalnya Joon Oh sudah menghabiskan semuanya padahal mereka masih harus bertahan hidup. Joon Oh mencoba menjelaskan jika ia bermimpi sehingga memakan semuanya.

Joon Oh bersendawa kenyang. Bong Hee makin dongkol “Aku melakukan segalanya buat bertahan hidup. Aku menyimpan ini semua. Bisa-bisanya kau menghabiskan semuanya? Kau pasti sudah gila. Kau gila karena makan semuanya buat menyelamatkan dirimu.”

Joon Oh sampai kesal, apa begitu caranya dia bicara padanya? Bahkan mengatainya gila? Ia berjanji akan mengirimkan satu pak makanan seperti ini kalau mereka sudah selamat. Kalau dia terus bersikap seperti ini, ia mungkin akan memecatnya.

“Baiklah.” Ucap Bong Hee cemberut.

“Aku barusan minta maaf. Aku sudah makan semua makanan tadi. Jadi apa yang akan kita lakukan?”

“Apa lagi? Kita harus cari makan.”


Bong Hee pun berburu di laut mencari ikan dan kerang. Sementara itu, Joon Oh ditugaskan untuk membuat api. Sayangnya Joon Oh terlalu payah untuk melakukan itu, sampai ia kebingungan dan menggunakan pecahan botol untuk memantulkan cahaya ke rumput kering yang sudah ia kumpulkan.

“Apa yang kau lakukan dengan itu?” tanya Bong Hee setelah mendapatkan cukup banyak buruan.

Dengan lemas, Joon Oh mengatakan jika ia sedang memantulkan cahaya untuk membuat api. Bong Hee yakin apinya tidak akan menyala, itu kan hanya kaca biasanya bukan lensa cembung. Tangan Joon Oh kayaknya udah kebas tuh, dia ngomel sebal, kenapa baru ngomong sekarang?

“Aku kan baru melihatnya. Pokoknya nyalakan apinya entah bagaimana caranya. Nanti aku balik kesini bawa ikan.”

Joon Oh kembali berusaha menyalakan api dengan menggesek dua batu. Api pun menyala dengan tiba-tiba. Tapi karena kaget, Joon Oh dengan reflek mematikan api yang sudah susah payah ia buat itu.

Malam harinya, Bong Hee terpaksa menyalakan api sendiri untuk membakar ikan. Ia tampak dengan mudah membuat api. Joon Oh bertanya apa yang dikerjakan oleh Bong Hee sebelumnya? Dia tampak bisa melakukan segala hal.

Bukannya bisa melakukan segala hal, Bong Hee pikir Joon Oh saja yang tidak bisa melakukan apapun. Lagipula dia harus melakukan segala hal supaya bisa bertahan hidup disana. Dia meminta Joon Oh untuk memanggilnya Ra Bong Hee, dia juga punya nama tahu.


Akhirnya ikannya matang, Bong Hee memberikan ikan pertamanya untuk Joon Oh. Joon Oh menolak makan ikan berduri, dulu waktu kecil ada duri yang menyangkut di lehernya. Ia menyuruh Bong Hee untuk membuang durinya lebih dulu.

“Apa tak ada satu pun yang bisa kaulakukan?” ucap Bong Hee.

Joon Oh ngomel, apa Bong Hee lupa apa yang ia katakan tadi siang? Apa mau dipecat? Bong Hee selalu saja membuatnya merasa tak berguna. Dia juga tak mau mengatakannya, tapi Bong Hee membuatnya ingin mengatakan itu lagi. Melelahkan.


Joon Oh makan ikan itu setelah Bong Hee membuang durinya. Enak. Ia pun menyuapkan sepotong ikan ke mulut Bong Hee. Keduanya menikmati makan malam yang enak hari ini.

Berkat makan malam mereka, keduanya bisa tidur dengan nyenyak. Namun saat malam sudah larut, Bong Hee terbangun mendengarkan suara erangan sesuatu. Ia pun membangungkan Joon Oh supaya bisa memeriksanya bersama-sama. Keduanya pun berjalan ke tepian hutan, mereka melihat ada bayangan sesuatu yang bergerak-gerak dibalik semak.

Joon Oh yang ketakutan berniat pergi namun Bong Hee menghalanginya. Ia pun memungut batu besar untuk berjaga-jaga. Tapi ketika sosok dibalik semak semakin mendekat, Joon Oh berteriak-teriak ketakutan.


Tapi rupanya sosok di balik semak itu adalah Lee Yeol. Joon Oh dengan panik menghampiri Yeol yang sudah kepayahan dan pingsan di tanah. Keduanya membawa Yeol ke gua dan merawat luka dilengannya. Joon Oh yang kekanak-kanakan seketika berubah lebih bertanggung jawab dan merawat luka Yeol.


Yeol tersadar setelah beberapa saat istirahat. Ia menghampiri Bong Hee yang sibuk membuatkan makanan. Bong Hee pun memberikan bubur ala kadarnya yang barusan ia masak. Ia meminta izin untuk menanyakan sesuatu, bagaimana caranya Yeol bisa bertahan hidup sampai saat ini?

Yeol sempat tersedak menerima pertanyaan Bong Hee. Ia pun menceritakan jika awalnya ia terdampar di tepian pantai karang dengan lengan terluka. Ia kira hanya dirinya yang selamat, ia pun menunggu ditepian karang menanti penyelamat datang. Tak ada seorang pun yang datang dan selama ia melihat ada cahaya disini sehingga ia memutuskan untuk berjalan kemari.

“Oh, cahaya itu. Kami membakar ikan dan makan disini.”


“Apa menurutmu orang akan datang menyelamatkan kita?” tanya Yeol dengan putus asa.

Bong Hee optimis kalau seseorang mungkin akan datang menyelamatkan mereka. Dia menemukan jejak seseorang yang sepertinya terdampar disini. Namun setelah 25 hari, sepertinya orang bernama Elden itu diselamatkan.

Yeol semakin tampak putus asa “Apa pernah terpikir olehmu kalau kita kemungkinan akan mati disini? Kemungkinan besar penyelamat tidak akan menyelamatkan kita.”

“Kenapa kau pesimis begitu?” Bong Hee tersenyum getir.


Dalam perjalanan kemari, Yeol mengaku melihat Si Alden itu. Ya dia melihatnya, namun Alden itu sudah berwujud tulang belulang. Yeol melihat mayat itu menggunakan kalung bertuliskan Alden. Ia yakin jika sekali saja seseorang datang kesana maka mayat itu sudah dibawa pergi.


Kontan Bong Hee menatap kosong penuh keputus-asaan. Joon Oh bangun dari tidurnya, mereka berdua sangat berisik hingga ia tak bisa tidur. Ia bersikap seolah tak mendengar apapun dan meminta Bong Hee memasakkan ikan untuk Yeol. Kalau sudah habis, cari lagi sana.

Bong Hee diam dengan mata berkaca-kaca. Joon Oh mengancam akan memecatnya jika mereka kembali ke Seoul.

“Pecat saja! Pecat saja, br*ngsek. Pecat saja aku kalau kau bisa beruntung keluar darisini. Tapi kau tidak akan bisa! Kau tidak akan bisa pergi dari tempat ini. Kau, aku, kita takkan bisa pergi dari pulau ini. Kau paham!”

Bong Hee melampiaskan kekesalannya dengan memukuli Joon Oh dan menjambak rambutnya. Yeol berusaha melerai keduanya. Ditengah keributan keduanya, Yeol menunjuk ke arah hutan. Cahaya!

Bong Hee menatap ke arah yang ditunjuk Yeol. Dia dan Yeol memutuskan untuk memeriksa cahaya apa yang ada disana. Joon Oh mencoba menghentikan keduanya, namun Bong Hee sudah berlari duluan dalam hutan. Yeol meyakinkan jika mungkin dia salah satu diantara mereka atau bisa juga penyelamat mereka.

Sedangkan sosok wanita didalam hutan, ia tampak berlarian dengan panik. Ponsel yang ia gunakan untuk penerangan kehabisan baterai. Dia pun membuang ponselnya dan melanjutkan berlari.

Joon Oh mengikatkan kain ke kayu dan membuat obor sebelum mengikuti mereka kedalam hutan.

Bong Hee dan Yeol bingung melihat cahaya yang mereka tuju sudah padam. Yeol menyarankan supaya mereka berpencar, teriak saja kalau terjadi apa-apa atau bertemu dengan seseorang. Bong Hee mengerti.


Bong Hee yang tidak punya penerangan sama sekali, terjatuh dalam kubangan lumpur. Ia berteriak-teriak meminta bantuan. Yeol mendengar suara minta tolong Bong Hee, ia berbalik arah mencari keberadaannya.

Untungnya saat Bong Hee terperosok makin dalam, tangan seseorang muncul memberikan uluran. Dia tak lain adalah Joon Oh. Joon Oh menyuruhnya supaya lebih berhati-hati. Ia pun membantu Bong Hee keluar dari kubangan lumpur.


“Ketika kau pertama kali melihat cahaya itu, kenapa kau terus berlari  tanpa menoleh ke belakang? Apa kau ingin membantu para korban lainnya jika memang ada?” tanya Penyidik Oh.

Sesungguhnya, Bong Hee sama sekali tidak berfikir demikian. Dia hanya berharap supaya seseorang yang datang kesana adalah penyelamat untuk mereka. Penyidik Oh bisa mengerti bagaimana perasaan Bong Hee.

Hee Kyung langsung menegurnya melalui alat komunikasi, tanyakan hal-hal yang penting saja, memangnya kau sedang berkencan atau apa?

“Baiklah, Bong Hee. Cahaya itu cahaya dari ponsel. Kau ternyata menemukan korban dalam menghadapi bahaya. Jadi siapa orang itu? Kau ingat?”

Kembali ke pulau terpencil, Bong Hee mengucapkan terimakasih karena Joon Oh telah menyelamatkan nyawanya. Joon Oh juga sebaliknya, Bong Hee telah menyelamatkannya selama ini.

“Tetap saja aku berterimakasih. Aku akan mengingatnya.”

“Benar. Tentu saja. Ingat itu selamanya.”

Tak lama kemudian, Yeol datang dan bergabung bersama keduanya. Joon Oh mengomeli keduanya yang seharusnya tidak pergi tengah malam. Dingin sekarang, lebih baik mereka segera kembali.


Penyidik Oh meminta Bong Hee untuk mengingat siapa orang yang sudah ditemuinya. Bong Hee memegang kepalanya dan terlintas beberapa ingatan acak dalam otak Bong Hee. Ada kilasa seseorang yang jatuh dari tebing.

Bong Hee mencoba mengingat wanita yang ia temui malam itu. Dia jelas bertemu dengan wanita itu tapi dia lupa dengan wajahnya.


Perlahan bayangan wanita itu mulai jelas. Wanita yang Bong Hee temui malam itu adalah Ji Ah. Yeol memeluk Ji Ah yang menangis ketakutan. Kontan lutut Ji Ah lemas, kenapa mereka meninggalkannya? Dia sangat ketakutan.

“Apa kau sendirian?” tanya Joon Oh.

“Tidak.” Jawab Ji Ah.


Ji Ah membawa mereka untuk bertemu teman yang bersamanya semenjak kecelakaan pesawat. Ia mengatakan jika seorang yang bersamanya sekarang sedang sendirian. Dia terus diam bahkan hampir mencoba bunuh diri karena dia tidak mau mati menyedihkan disini.

Saat sampai di gua, mereka menemukan seorang wanita yang duduk terpekur dikegelapan. Ketika dihampiri, wanita itu tak lain adalah Soo Hee.

“Kau tak apa?” tanya Joon Oh.


Kembali ke masa kini, Tae Young pergi ke tempat penyimpanan mayat. Petugas mengeluarkan salah satu mayat yang baru ditemukan dibibir pantai. Tapi petugas menduga jika mayat ini mati bukan karena kecelakaan pesawat melainkan karena dibunuh.

Petugas bertanya, apa hubungan pria itu dengan si wanita? Jaksa Choi memberitahukan jika Tae Young adalah kakak dari wanita itu. Tae Young diam tak bisa berkata-kata, ia menahan tangisnya melihat sang adik, Soo Hee sudah terbujur kaku tak bernyawa.


Bong Hee terus menerima perawatan. Namun secara mengejutkan, Dokter mengatakan pada Penyidik Oh jika secara medis seharusnya Bong Hee bisa mengingat.

“Jadi maksud anda, ada kemungkinan kalau Bong Hee berpura-pura tidak ingat padahal dia ingat. Apa begitu maksudnya?”

“Itulah yang bisa kukatakan.” Jawab Dokter.

Bong Hee tampak berada di ruang tunggu. Ia duduk dengan gelisah memikirkan sesuatu.
-oOo-

NOTE:

Salah satu rekomendasi drama nih. Bagus kataku, meskipun emang lebih enak nonton kayaknya. Semoga kalian ga bingung cara penceritaannya karena emang semua berbaur mulai dari ingatan di pula sama masa sekarangnya. Aku coba buat yang bold buat masa lalu di pulau terpencil dan yang biasa buat yang masa kini.

Masih penuh misteri banget dan kayaknya drama ini cukup dapet respon positif juga dari netizen korea.

Aku pun juga sama penasaran akan kelanjutan drama ini, mulai dari cerita yang membingungkan, kenapa ada acara bunuh-bunuh segala padahal mereka dalam kondisi yang hampir mati.

Kenapa juga Bong Hee harus pura-pura lupa ingatan? Ada hal apa yang terjadi di pulau terpencil saat itu? Semuanya masih abu-abu dan bikin penasaran sungguh!!!

2 Responses to "SINOPSIS Missing Nine Episode 2 Bagian 2"

  1. Ditunggu lanjutannya min...

    ReplyDelete
  2. semangat nulis sinopsisnya min!!!! ngerti kok ceritanyaa 😂

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR