SINOPSIS The Legend of the Blue Sea Episode 20 Bagian 1

SINOPSIS The Legend of the Blue Sea Episode 20 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: SBS


Chung berjalan meninggalkan rumah Joon Jae. Nam Doo, Tae Oh dan Ibu baru kembali dan berpapasan dengannya. Nam Doo heran kenapa Joon Jae menyuruh mereka untuk pergi sebentar, apa keduanya sedang bertengkar?

“Aku akan pergi ke suatu tempat sebentar.”

“Sebentar kemana?” tanya Ibu.

Chung tidak memberikan jawaban, ia mengulurkan tangannya mengucapkan terimakasih atas segalanya.


Si Ah dan Keluarga Jin Joo ingin pergi ke suatu tempat. Ia melihat jaket bulu yang dikenakan oleh Jin Joo adalah rambut binatang asli. Untuk membuat jaket seperti itu, apa dia tahu berapa banyak binatang berbulu yang kecil dan lucu harus mati?

“Lalu bukankah parka tebal dan tidak fashinable –mu juga terbuat dari bulu asli? Apa kau hanya kasihan pada binatang itu dan tidak kasihan dengan burung yang dicabuti bulunya satu persatu?”

Si Ah benar-benar tidak bisa bicara dengan kakaknya, dia malas.


Chung datang ke rumah mereka juga. Jin Joo mengenalinya sebagai pacar Joon Jae, ada apa ia datang kesana. Si Ah menanggapi sinis. Dia bukan hanya pacar Joon Jae tapi juga gadis pujaan seorang pria yang cintanya tidak berbalas. Dia pasti senang, ponsel Tae Oh penuh dengan fotonya. Bisakah ia menghapus fotonya?

Tentu saja, Chung sudah menghapus semuanya. Ia mengulurkan tangannya pada mereka bertiga. Ia akan pergi ke suatu tempat jadi dia akan mengucapkan salam perpisahan.


Tak lupa, Chung menemui Yoo Na di toko seperti biasa. Ia pasti akan rindu dengan makanan yang ia makan disana. Chung menyalami Yoo Na sambil mengucapkan perpisahan. Yoo Na heran, apa kau akan segera pergi Unni?

Chung terkejut karena Yoo Na belum melupakan ingatannya. Sesuatu memang agak aneh dengan Yoo Na, fakta kalau dia bisa mendengar suara batinnya yang tidak bisa didengar oleh orang lain. Bagaimana bisa?


Yoo Na mengaku kalau dia bermimpi jika Chung adalah putri duyung. Dirinya juga seorang putri duyung. Ayahnya adalah nelayan dan Ibunya putri duyung. Ia bisa menyelam ke lautan kemudian berkomunikasi dengan para duyung.

Dimasa lalu Yoo Na, dia sering memberikan peringatan pada nelayan jika terjadi cuaca buruk ditengah laut.

“Jadi, jadi apa yang terjadi?” tanya Chung.

Yoo Na pikir kehidupannya cukup bahagia di masa lalu. Chung tersenyum lembur, sepertinya mimpi Yoo Na memang benar-benar terjadi dan bukan dongeng.

Chung sudah berdiri di tepian pantai, “Dia bilang punya ingatan adalah salah satu cara untuk kembali. Kisah kita yang hanya di ingat olehku, jadi kisah kita tidak akan menyedihkan dan menghilang. Aku akan menjaganya. Aku akan menghargainya. Dan aku akan kembali.”

Ia pun meninggalkan sepatunya di tepi pantai dan kembali ke dalam lautan. Berubah menjadi duyung.

Joon Jae terbangun dari tidurnya dengan terkejut, seolah dia baru saja mengalami sebuah mimpi buruk. Ia menatap ke atas nakas dan menemukan sebutir mutiara. Joon Jae diam memperhatikan mutiara itu.

[3 Tahun Kemudian]


Waktu berlalu dengan begitu cepat sepeninggal Chung. Akhirnya mereka sudah menjalani kehidupan selama 3 tahun. Ibu tinggal di rumah Joon Jae dan setiap hari menyajikan makanan enak untuk tiga pria di rumah itu. Nam Doo girang mencium aroma sedap dari dapur, dia tidak bisa pergi dari rumah ini karena Ibu.

Joon Jae merutuki ucapan Nam Doo, dia selalu bilang ingin pergi setiap kali musim panas tapi tidak pernah kesampean. Ibu melarangnya, pergi kemana? Jangan menghambur-hamburkan uang untuk membayar sewa. Mereka bisa tinggal disana sampai menikah.

“Terimakasih ibu. Aku tidak pernah memanggil seseorang dengan sebutan ibu tapi sekarang aku bisa melakukannya.” Ucap Nam Doo terharu.

“Aku juga.” Sahut Tae Oh.

Ibu terkejut, Tae Oh juga? Ia pun meletakkan dadar gulung kesukaan Joon Jae dihadapan Tae Oh. Joon Jae merengut tidak rela, ia mengambil piring dadar gulungnya kemudian meletakkan sepotong untuk Tae Oh. Keduanya pun tersenyum dengan hangat.


Nam Doo heran melihat mereka selalu makan dalam posisi seperti ini. Mereka biasa meninggalkan kursi disamping Nam Doo tetap kosong. Seperti sebuah kebiasaan, dan rasanya kursi ini seolah punya pemilik. Bukankah itu aneh?

Joon Jae terus makan tanpa berkomentar apapun. Wajahnya terlihat serius saat Nam Doo menyinggung masalah kursi Chung. (Apa dia tidak lupa ingatan?)

Joon Jae berangkat kerja ke kantor kejaksaan. Ia tampak gagah mengenakan jas dan masuk dalam sebuah ruangan. Ia mengaku sebagai jaksa magang disana.

Ibu bergaul dengan ibu-ibu sosialita. Jin Joo membanggakan dia dihadapan temannya, putra Unni –nya ini memberikan semua sahamnya pada Unni. Putranya memilih sekolah di universitas hukum dan menjadi jaksa. Unni juga menggunakan separuh keuntungan dari sahamnya untuk membuat tempat istirahat bagi remaja yang kabur. Dia juga menjadikan sekolah alternatif menjadi sekolah umum.

“Itu bukan apa-apa. Dulu putraku kabur saat dia masih remaja dan mengalami masa sulit. Itulah aku berfikir untuk melakukan ini.” Ucap Ibu.

Jin Joo memperlakukan Ibu dengan sangat baik, dia bahkan mengambilkan makan dan minum untuknya. Dengan pengalaman yang dialami oleh Ibu, Jin Joo mengambil sebuah hidayah, hidup memang selalu berubah dan mereka tidak akan tahu apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang.


Jam makan siang. Sunbae berkata kalau dia mau pergi makan duluan dan meminta Joon Jae untuk berjaga disana. Joon Jae heran, kenapa mereka tidak makan bersama-sama saja. Sunbae balik tanya, menurutnya apa yang paling penting dari seorang jaksa?

“Tidak lain.. menegakkan keadilan?”

“Itu memang penting. Tapi ada hal lain yang lebih penting yaitu tidak meninggalkan kantor. Sebelumnya, kita pernah kecurian oleh penipu. Itu terjadi saat kita sedang makan siang, sekitar tiga tahun yang lalu. Br*ngsek itu duduk di kursiku dan bertemu dengan seorang klien. Mereka menghapus semua jejak CCTV –nya.”


Joon Jae berfikir sejenak sampai akhirnya dia ingat kalau penipu yang dimaksud oleh Sunbaenya adalah dia. Ia pun pura-pura polos, ah merinding sekali. Bagaimana bisa mereka bertindak seperti itu? Ada banyak sekali psyco di dunia ini.

Sunbae mengaku kalau dia sebenarnya sudah kembali ke kantor lima menit lebih awal. Tapi saat mau menyebrang jalan, ada masalah dengan rambu-rambu lalu lintasnya. Dan itu ulah Tae Oh yang sudah meretas sistem lalu lintas disana.

“Mereka katanya datang untuk memperbaiki penyaring air.”

“Bukankah untuk memperbaiki elevator?” tanya Joon Jae.

Sunbae heran, bagaimana dia bisa tahu? Joon Jae kembali menunjukkan wajah tanpa dosa, dia sering mendengar modus kejahatan seperti itu di gangnam. Sunbae percaya saja ucapan Joon Jae... tapi kontras dengan sikapnya, dia malah mengaku sulit percaya pada seseorang semenjak kejadian tersebut.

Joon Jae menggebu-gebu berkata jika ia akan menangkap para b*jingan itu.


Joon Jae dan Sunbae –nya bertemu dengan seseorang. Pria itu membela diri jika apa yang ia lakukan bukanlah penipuan. Mereka yang bilang kalau kerusakaannya sebesar 5 juta won per orang. Bukankah hal itu biasa terjadi ketika ada transaksi bisnis? Itulah kenapa polisi sudah membersihkan tuduhannya dan membatalkan tindakan hukum.

Joon Jae melihat informasi –nya di ponsel, disana alamatnya tertera berada disebuah perumahan elit. Tapi melihat dia melakukan pemunduran pembayaran pajak bangunan, itu menunjukkan jika kondisi finansialnya tidak bagus.

Pria itu mencoba mengelak. Namun Joon Jae membeberkan bukti-bukti untuk mematahkan pernyataannya.


Sunbae Joon Jae sampai terkejut. Dalam perjalanan pulang, ia tanya apakah Joon Jae punya koneksi. Joon Jae mengelak, dia hanya melihatnya dari berita saja. Detektif Hong tampak sudah menunggu di lobi gedung. Joon Jae buru-buru pamit pada dua sunbae –nya dan pergi bersama Detektif Hong.

Keduanya makan bersama, Detektif Hong melihat penampilan Joon Jae yang semakin kurus. Apa pelajarannya sangat sulit sampai dia kurus begitu?

“Tentu saja, belajar memang sulit. Memang kau kira aku melakukannya karena menyenangkan?”

Detektif Hong lega melihat perubahan Joon Jae. Sebelumnya dia tampak sering melamun dan mengatakan hal-hal gila. Dia sempat menghilang tanpa jejak, membuatnya khawatir. Joon Jae bilang kalau dia tidak begitu mengingat saat-saat itu. Meskipun ia mencoba mengingatnya baik-baik, ia tidak bisa mengingat dengan jelas.

“Apa yang Nam Doo lakukan akhir-akhir ini?” tanya Detektif Hong.

Nam Doo sudah berhenti menjadi seorang penipu dan bekerja mensosialisakikan tentang hukum pada para orang tua. Dari awal dia memang paling pintar dalam hal bicara, ia pun bisa membawa audiens untuk tetap fokus pada apa yang ia sampaikan.


Nam Doo datang ke restoran menemui Joon Jae dan Detektif Hong. Detektif Hong masih belum terlalu percaya padanya, apa dia hanya ingin menipu dengan mengatas namakan sosialisasi?

“Apa aku gila? Aku lebih baik berhenti menipu ketimbang tertangkap olehnya.” Nam Doo menunjuk Joon Jae.


Nam Doo sungguh tidak menyangka kalau Joon Jae akan bekerja PNS dan memilih menjadi jaksa. Detektif Hong membanggakan dirinya, ini karena Joon Jae bertemu dengannya. Beruntung Joon Jae bertemu dengan orang baik! Mungkin dia berfikir untuk hidup sepertinya dan tidak mengikuti jejak Nam Doo.

“Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin menjadi PNS? Selain itu kau memilih PNS tingkat tinggi seperti jaksa. Pikiran yang ekstrem!”

Joon Jae berubah serius, dia juga tidak tahu alasan apa yang paling mendasarinya. Ia tidak bisa mengingatnya dengan baik. Nam Doo melihat perubahan sikap Joon Jae, ia pun mencairkan suasana kembali dengan mengajak mereka bersulang.

Mereka melanjutkan acara mabuknya di rumah. Joon Jae memastikan apakah Tae Oh sudah bersih sekarang. Nam Doo kesal, berapa kali harus dia katakan? Tae Oh sudah menjadi peretas putih sekarang. Dia memeriksa apakah sebuah perusahaan kena retas atau tidak kemudian memperbaiki sistem keamanannya. Apa kau mengerti apa yang aku jelaskan?

“Aku tidak terlalu yakin. Tapi jangan lakukan hal konyol.” Tegas Joon Jae yang mabuk.

Nam Doo mencari-cari ponselnya dengan kebingungan. Tae Oh dengan santai mengeluarkan ponsel Nam Doo dari balik jaketnya. Detektif Oh juga mencari sesuatu dari balik jaketnya, Tae Oh kembali mengeluarkan borgol dari balik saku jaket. Hehehe. Kebiasaan mabuknya menyimpan apapun di jaketnya, dia bahkan berusaha memasukkan cangkir ke dalam jaket sekarang.

Sedangkan Nam Doo sibuk menghubungi mantan pacarnya. Tapi celakangnya, mantan pacarnya sudah punya suami dan mantan pacarnya itu sedang bersama suaminya. Setelah agak sadar, ia meminta maaf sudah mengganggunya tengah malam.


Detektif Hong bersiap pulang namun Joon Jae menghalanginya, tidak ada yang boleh pulang sampai besok pagi. Ia kemudian menunduk dengan sedih, mulai terdengar isakannya. “Aku merindukannya. Aku merindukannya.”

“Merindukan siapa?”

Nam Doo memarahi Joon Jae yang sekarang punya kebiasaan baru kalau mabuk. Dulu dia cuma melarang orang pulang kemudian mengulang kata – katanya berulang kali. Memangnya siapa yang sangat kau rindukan setiap kali mabuk?

Joon Jae tidak bisa menjawab dan terus menangis.

Dilaut, Chung tiduran di atas karang. Terlihat kesepian, ia mengusap pipinya dan butiran mutiara tampak jatuh dari sana. Ia tengah menangis rupanya.

-oOo-

2 Responses to "SINOPSIS The Legend of the Blue Sea Episode 20 Bagian 1"

  1. Mba, yg bagian 2 nya ndak ada ta? Saya masih setia menunggu. Hehehee... Matur suwun,

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR