SINOPSIS Introverted Boss Episode 3 Bagian 2

SINOPSIS Introverted Boss Episode 3 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: tvN

Yoo Hee menawarkan supaya Hwan Ki bisa bergabung dengan mereka. Hwan Ki menolak dengan alasan ingin menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu.


Mereka berlima pun mengadakan perayaan kecil-kecilan tanpa Hwan Ki. Ro Woon menyarankan supaya mereka menentukan panggilan masing-masing. Bukankah biasanya kalau layanan rumah begini, mereka bisa saling memanggil nama depan. Yoo Hee setuju-setuju saja, dia merasa lebih muda kalau begitu.


Ro Woon juga ingin memanggil Daepyo –nim sebagai.. mereka serempak menghentikan niatannya, meskipun mereka bekerja sama tapi Daepyo –nim tetaplah Daepyo –nim. Gyo Ri mengisyaratkan supaya Ro Woon tidak melakukan hal itu.

“Terasa aneh, sih, tapi untuk beberapa alasan, aku justru merasa lebih nyaman.” Ucap Se Jong.

So Bong sependapat dengan ucapan Se Jong. Ia bahkan meminta Gyo Ri untuk memanggil Hwan Ki dengan nama depannya. Bukankah dia yang paling sering memanggilnya dengan sebutan Daepyo –nim?



Dengan sekuat tenaga, Gyo Ri mencoba mengeluarkan suaranya memberanikan diri “Hwan Ki –nim.”

Hwan Ki yang saat itu tengah menenggak kopi terkejut hingga tersedak. Ia mencoba menahan supaya tidak memuntahkan isi mulutnya, ia mendelik tidak tahan dan berlari meninggalkan ruangan. Gyo Ri dan yang lainnya salah paham mengira kalau Hwan Ki pasti marah besar. Gyo Ri yang paling ngeri, tuhkan sudah ku bilang. dia pasti tidak suka? Bagaimana ini?
Sebenarnya, Hwan Ki tersedak karena kopi yang ia minum sangat pahit. Hehe. Dia berfikir apakah harus memberitahukan pada pegawainya kalau dia suka kopi yang banyak krim dan gula? Tapi nanti dianggap tak sopan, mereka pasti sudah memikirkan matang-matang sebelumnya membelikannya kopi.

Tapi kalau di tambah gula, satu toples pun mungkin kopinya belum manis, yang ada malah diabetes. Atau dibuang, tapi dia tidak bisa melakukannya. Ia pun memutuskan untuk membuang sedikit kopi –nya dan menambahkan air supaya tidak pahit.



Bertepatan ketika tengah membuang kopi, Gyo Ri dan Ro Woon menghampirinya. Gyo Ri terkejut mengetahui Hwan Ki membuang kopi pemberiannya. Ro Woon tentu saja tidak terima, bukan salah Gyo Ri kalau dia salah memanggil nama depannya. Gyo Ri menghentikan ucapan Ro Woon, memang dia yang salah kok. Ia pun meminta maaf pada Hwan Ki.



Baiklah, Ro Woon meminta Hwan Ki untuk bergabung bersama yang lain untuk memotong kue.

Ia pun membuka pintu lemari mencari pisau. Tepat saat lemari terbuka, tiba-tiba dua pisau pemotong daging melayang di gantungan lemari. Seketika suasana menjadi horor, Ro Woon mengambil salah satu pisau dengan ketakutan. Dalam batin Hwan Ki berkata, dia baru mengasah pisau sashimi yang diambil Ro Woon tadi pagi.

Ro Woon dengan canggung mengecek bagian tajam pisau tersebut, ini sangat cocok untuk memotong kue. Hwan Ki menyenggol tangan Ro Woon supaya melepaskan pisau tajam itu. Ro Woon terkejut dan menjatuhkan pisaunya ke lantai, suasana pun berubah semakin horor.



Karena suara keributan, Se Jong, So Bong dan Yoo Hee ikut ke dapur. Hwan Ki memungut pisaunya kemudian memperingatkan mereka semua untuk tidak menyentuh koleksi pribadinya. Ia pun pergi meninggalkan mereka yang membeku di tempatnya berdiri.

Se Jong menghampiri Ro Woon dengan khawatir, tangannya baik-baik saja kan? Ro Woon membeku di tempatnya, dia kembali membatin mengatakan jika Hwan Ki bukanlah silent monster melainkan psychopath monster.


Di tempat parkir, Hwan Ki gelojotan sebal sendiri. Kenapa dia malah begini?



Ro Woon menemui Woo Il diruangannya, ruangannya selalu terbuka tidak seperti seseorang. Woo Il mengaku kalau dia tidak suka kalau merasa terkurung. Ro Woon bilang kalau ia punya sesuatu yang ingin ia katakan. Woo Il juga sama, mereka bisa membicarakannya dalam perjalanan.

Mereka berdua pun berjalan menuju parkiran. Dan disaat bersama, Hwan Ki dimobil berniat menghubungi toko bunga langganannya. Ia terkejut dengan kedekatan antara Ro Woon dan Woo Il. Ia jadi ingat kalau sebelumnya Woo Il mengaku menyukai Ro Woon.

Hwan Ki bergegas menghubungi Woo Il. Woo Il mengangkat panggilannya “Aku sedang mengemudi.”


Hwan Ki ingin mengatakan sesuatu namun Woo Il lebih dulu mengakhiri panggilannya. Ia memperhatikan mereka berdua dengan khawatir apalagi melihat senyuman Ro Woon pada Woo Il yang tampak seperti sedang kasmaran.

[3 Tahun yang lalu]

Di tempat parkiran, Hwan Ki terbelalak melihat Woo Il dan Ji Hye tengah bersama. Keduanya tampak sedang sedih entah kenapa, Woo Il pun memberikan pelukan pada Ji Hye.

Setelah itu, tampaklah Hwan Ki yang memerintahkan Ji Hye untuk mencari kancing jas –nya yang hilang. Ji Hye terpaksa lembur dan menghubungi Ro Woon karena tidak bisa datang ke pementasannya.




Ro Woon tentu saja ngampek. Tanpa sengaja, ia bertubrukan dengan seseorang hingga ponselnya jatuh. Pria yang menabrak Ro Woon meminta maaf dan memungut ponselnya yang jatuh menjadi beberapa bagian.


Pria yang menubruk Ro Woon adalah Woo Il. Dan di tempat pementasan, ia tampak menggandeng Yi Soo.


Hwan Ki tampak terus memperhatikan Ji Hye dari balik pintu. Ia mendengar kalau Ji Hye memesan bunga untuk Ro Woon. Hwan Ki duduk ditangga dengan banyak pikiran, ia membuka genggaman tangannya yang memegang kancing jas.

[KEMBALI KE MASA SEKARANG]

Dalam perjalanan, Ro Woon bertanya orang seperti apa sebenarnya Bos Hwan Ki itu. Woo Il tersenyum mendengar pertanyaan semacam itu, yang pasti Hwan Ki adalah orang baik. Jangan percaya dengan rumor yang ada.

Seberapa kukuh ia mengatakannya pada orang lain, tampaknya tidak ada yang mau percaya dengannya. Itu sebabnya semua orang enggan untuk bergabung dengan tim Hwan Ki. Karena Ro Woon sukarela menawarkan diri, ia punya ekspektasi tinggi padanya.



“Astaga, aku tidak tahu apa-apa kok.”

Woo Il memegang pundak Ro Woon. Pikirkan baik-baik tentang perusahaan mereka yang menjual jasa. Sampul memang diperlukan bagi mereka, jadi tugasnya saat ini adalah mengubah image Hwan Ki menjadi pemaaf dan sosok yang pengertian.



Keduanya sampai di tempat tujuan, seorang artis veteran terkena skandal pelecehan pada anak dibawah umur. Tuan Hwang dengan malas berkata jika ia tidak melakukannya. Woo Il memintanya untuk menjelaskan apa yang terjadi supaya mereka bisa membantunya mengatasi masalah ini. Tolong beritahu yang sebenarnya.

Manager Tuan Hwang memohon supaya dia bisa menjelaskan yang sebenarnya, mereka bisa kena penalti 2 milyar karena kontrak mereka terancam dibatalkan. Tuan Hwang tampak enggan, lagipula dijelaskan atau tidak, wartawan akan merangkai cerita sendiri.

“Tidak melakukan apa pun juga merupakan salah satu pilihan.” Ucap Woo Il.


Manager marah, dengan diam sama saja membenarkan tuduhan mereka. keduanya tidak berkencan! Ia sangat mengenal beliau dan dia tidak menyukai daun muda.


Ditengah keseriusan meeting ini, tiba-tiba ponsel Ro Woon berbunyi nyaring melantunkan lagu IOI – Very Very Very. Dengan tidak enak hati, ia pun permisi meninggalkan mereka. Ia tanya apa yang terjadi?

Yoo Hee dengan panik menyuruh Ro Woon untuk segera kembali. Ro Woon kebingungan soalnya dia masih harus rapat. Dia sedang bersama CEO Kang. Ia akan menghubungi kembali setelah ini.



Yoo Hee menyampaikan apa yang dikatakan Ro Woon. Hwan Ki malah pasang wajah mengerikan, memangnya dia bekerja untuk siapa?

“Silent monster bos.” Ucap Yoo Hee ketakutan.


Gyo Ri dan Yoo Hee kembali menelfon Ro Woon. Dengan gemetaran keduanya memintanya untuk cepat kembali. Se Jong dan So Bong juga ada disana, cepat kembali! Apa dia ingin mereka semua mati?



Tak lama berselang, Ro Woon sudah kembali ke kantor. Hwan Ki mendiamkannya meskipun sambil membaca buku. Ro Woon sampai geregetan, apa yang sebenarnya ingin ia katakan? Haruskah ia berdiri di sana seharian?

“Kemana kau pergi selama jam kerja?”

Ro Woon menjelaskan jika ia meeting bertemu klien. Kalau tidak percaya tanya saja pada Kang Daepyo. Ia bertemu dengan Aktor Hwang yang terkena skandal dan...

“Baiklah, balik kerja sana.”

Cuma itu? Ro Woon tambah sebal apalagi dia sudah buru-buru balik dan cuma itu yang ingin ia katakan. Kalau begitu, Hwan Ki pun menyuruh Ro Woon untuk membersihkan mejanya dari sampah sehabis perayaan.


Dalam perjalanan pulang, Ro Woon ngomel-ngomel sebal akibat ulah Hwan Ki tadi siang. Dia kan punya kaki dan tangan, kenapa menyuruhnya kembali ke kantor hanya untuk membersihkan sampah. Augh! Dasar!


Seperti biasa, Ayah sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ia bertanya pada Ro Woon yang pulang, sudah makan?

“Sudah.”

“Hei!”

“Aku bilang sudah.”


Diatas ranjang, Ro Woon kaget mendapati ada keranjang bunga disana. Ia langsung ingat dengan Mr. Smith –nya dan keluar dari kamar dengan tergesa-gesa. Namun tidak ada siapapun disana.

Ia kembali ke kamar memandangi keranjang bunga cantiknya. Mr. Smith meninggalkan pesan [Aku menunggu kembalinya kau ke panggung.] Ro Woon sedih, masih ada hal yang harus dilakukannya.



Ditengah kegelapan kantor, tampak seorang misterius menggunakan booth berjalan masuk kesana. Ia berbisik memanggil “bos” namun tidak ada jawaban dari siapapun. Ro Woon berjalan menuju ke meja tempat duduk Hwan Ki. Ia ingin menggeledah lacinya namun lacinya terkunci.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tegur seseorang secara tiba-tiba.


Ro Woon menoleh dan mendapati sosok mengerikan Hwan Ki sudah ada dibelakangnya. Ia terduduk kelantai sambil tergagap mengatakan “aku ada rapat dengan klien.”


Hwan Ki meletakkan kantung plastik yang ia bawa dengan suasana angker yang mengelilinginya. Ro Woon menghampiri Hwan Ki, ia mengaku sedang diperintahkan Kang Daepyo untuk melakukan PI. Pengenalan karateristik dengan bos –nya.



Tapi dia masih bingung, apakah kepribadiannya yang sebenarnya adalah si manis pengantar bunga? Atau pria dengan silverspoon yang bisa membuang uang di jalan? Kata kunci dari tugasnya sebenarnya mudah, menghasilkan bos pengertian.

Hwan Ki menyuruhnya supaya mengganti kata kuncinya, ia tidak pintar berkomunikasi maupun pengertian. Pergi sekarang dan lupakan kebohongannya tentang klien.


Baru mengucapkan kata itu, tiba-tiba seseorang membuka pintu dan Woo Il pun datang bersama Tuan Hwang.


Keesokan harinya, semua staff di tempat Hwan Ki menyambut kedatangan Tuan Hwang. Memijatnya, memujinya dan segala hal mereka lakukan. Tak lupa mereka juga menyiadan jjajangmyeon untuk menu makannya. Ro Woon bersiap untuk menanyakan sesuatu tapi ucapannya harus terhenti karena Tuan Hwang menjatuhkan mie –nya.


Hwan Ki melotot melihat sofa kulit kambing itali aslinya harus kena kotoran. Woo Il tersenyum memegang pundaknya menenangkan. Ro Woon sengaja membawanya kemari dengan alasan wartawan yang terus mengejarnya. Ia berusaha membujuknya untuk bicara.



Ro Woon menawarkan segela alk*hol untuk Tuan Hwang. Tuan Hwang sudah menebak, dia pasti sengaja ingin membuatnya mabuk supaya ia bisa mengatakan segalanya.

Woo Il tersenyum melihat cara yang digunakan Ro Woon tidak berjalan mulus. Ia meminta Hwan Ki untuk bisa menahan Tuan Hwang sampai ia berangkat ke Amerika malam ini.



Ro Woon membawa setumpuk dokumen terkait skandal Tuan Hwang. Ke –empat temannya sibuk memainkan hapenya sendiri. Yoo Hee sudah malas soalnya dia yakin kalau Tuan Hwang tidak akan mengatakan apapun. Sun Bong juga sama, dia yakin Tuan Hwang memiliki hubungan dengan anak dibawah umur itu jadi dia diam saja.

Ro Woon rasa Tuan Hwang bukan orang seperti itu, ia menunjukkan foto Tuan Hwang yang tampak menyayangi putranya. Se Jong menyuruhnya jangan percaya dengan reality show, yang mereka tayangkan belum tentu sesuai kenyataan. Gyo Ri mengangguk sepaham.

Yoo Hee mulai bergosip tentang Bos mereka, dia skandal penyalahgunaan kekuasaan dan memilih untuk diam bersembunyi dibelakang Kang Daepyo. Ia bahkan tidak ikut rapat.



Tiba-tiba orang yang mereka bicarakan muncul dibelakang mereka. Kontan ke-lima anggota Silent Monster berjingkat kaget. Melihat tingkah Hwan Ki, Sun Bong memintanya supaya mengatakan saja apa yang ingin ia katakan.

Hwan Ki tergagap “pasti ada alasan kenapa dia.. tidak mau mengatakan apapun.”

Semua orang geregetan sendiri, ya memang sudah jelas kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh Tuan Hwang. Tapi yang jadi pokok masalah adalah.. Ro Woon menjelaskan dengan semangat empat lima namun ketika berbalik, Hwan Ki sudah ngabur entah kemana.



Hwan Ki menelfon Yi Soo, ia bertanya kondisi ibunya. Yi Soo melirik ibu yang sibuk menyanyikan lagi “IOI – Pick Me” sambil berlatih gerakan tarinya. Kondisi Ibu baik-baik saja kok, dia terus pura-pura sakit dan membuatnya bosan. Alangkah senangnya kalau kakaknya bisa mampir main kesana.

Terdengar suara ribut dari dalam ruangan, Hwan Ki segera pamit mematikan ponselnya.



Didalam sana, ternyata Se Jong merebut ponsel milik Tuan Hwang. Tuan Hwang marah dan berteriak sangat keras. Se Jong sampai terkejut, ponsel pun terlempar dan jatuh ditangan Hwan Ki yang baru kembali ke ruangan.

Hwan Ki kebingungan. Ro Woon menyuruhnya untuk bergegas pergi. Hwan Ki yang panik jadinya mengikuti instruksi Ro Woon. Ro Woon tersenyum penuh kemenangan, ia mempersilahkan Tuan Hwang untuk meninggalkan ruangan. Disana adalah kantor periklanan, sudah barang tentu banyak wartawan disana.


Gyo Ri mengkhawatirkan kondisi Se Jong, ia menggerakkan tangannya didepan wajahnya. Se Jong bangkit dengan tiba-tiba, wah.. itu tadi suara aktor yang sesungguhnya. Dia sungguh menghormatinya. Respect untuk Tuan Hwang!


Hwan Ki ada di luar ruangannya. Ponsel Tuan Hwang berdering menerima panggilan dari seseorang yang ber-user name “Putriku”. Woo Il sampai disana juga, apa yang terjadi? Ruangannya kedengaran berisik.



Ro Woon menuntut Tuan Hwang untuk mengatakan yang sebenarnya. Dia yakin kalau ponsel Tuan Hwang di penuhi oleh nomor keluarganya. Apa dia tidak memikirkan keluarganya dan memetingkan semua ini dengan tetep diam? Ia berharap supaya Tuan Hwang bisa menjernihkan segalanya.

“Memang kau tahu apa? Beraninya bicara soal keluargaku.”

Ro Woon mengaku pernah menonton reality show Tuan Hwang. Bukankah dia selalu mengajarkan anak –nya untuk berkata jujur dan berjanji akan memaafkannya jika dia mau berkata jujur?



Hwan Ki kembali ke ruangan memberikan ponsel Tuan Hwang, Putrinya menelfon. Ro Woon terkejut tak percaya, Tuan Hwang hanya memiliki seorang putra. Dia tidak punya putri. Sontak kemarahan Tuan Hwang semakin membuncah, ia menampar wajah Ro Woon. Memangnya kau siapa? Kenapa kau terus memaksaku untuk bicara?


Suasana berubah tegang, Se Jong dan Woo Il pun bergegas pasang badan melindungi Ro Woon. Hwan Ki terus memperhatikan Ro Woon yang terdiam memegangi pipinya, dalam batinnya ia bertanya-tanya, kenapa dia harus bertindak sampai sejauh ini?


Tapi Ro Woon tampak tidak masalah, ia kembali ke dirinya yang biasa dalam hitungan detik. Ia merasa lebih baik sekarang. Ia mengaku jika ia menyukai karakter Tuan Hwang yang tegas dan tidak bertele-tele. Ro Woon mempercayainya sehingga ia berusaha keras. Ia mohon supaya Tuan Hwang bisa mengatakan yang sejujurnya pada mereka.



Baiklah, sebagai seorang aktor dia akan mengatakan kejujurannya sebagai hadian untuk Ro Woon. Ia dengar kalau Ro Woon artis drama musikal. Sekarang banyak artis yang lebih mudah dan cantik darinya. Jadi menyerahlah untuk menjadi artis, dia akan kalah saing dan harganya semakin rendah. Tuan Hwang menyarankan supaya Ro Woon cepat-cepat menikah sekarang juga, dengan wajah pas-pasan jangan sampai nikah ketuaan.

Ro Woon meremas tangannya sendiri menahan amarah. Se Jong hampir mendaprat Tuan Hwang tapi Tuan Hwang mengaku kalau dia bicara kejujuran. Bukankah itu yang mereka minta darinya?

“Keluar. Kalian semua, keluarlah.” ucap Hwan Ki dengan serius. Mereka pun mengikuti perintahnya.



Ro Woon masih bingung, kenapa menyuruhnya keluar, lagian Tuan Hwang sudah mau mengatakan sesuatu. Woo Il melihat keseriusan di mimik wajah Hwan Ki, ia pun menyarankan supaya Ro Woon mengikuti ucapannya.

“Kau juga keluar.” Ucap Hwan Ki pada Woo Il.


Dalam ruangan hanya tinggal berdua. Hwan Ki tidak ingin mendengarkan penuturan apapun dari Tuan Hwang. Dia meminta ketenangan sendiri, maka ia akan membiarkannya untuk sendirian. Hwan Ki pun sibuk meraut pensil –nya membiarkan Tuan Hwang sendirian.


Ponsel Tuan Hwang berdering menerima panggilan dari Putrinya. “Hei. Ya. Reporter? Mungkin mereka sedang berkumpul di hotel sekarang. Aku dengan sengaja mengarahkan mereka ke sana. Aku sudah mengirim mobil padamu. Jangan takut, kemarilah saja. Kita bisa menghabiskan waktu bersama-sama.”

Tuan Hwang mengakhiri panggilannya. Ia bertanya apakah Hwan Ki tidak penasaran. Hwan Ki diam saja tak merespon. Tuan Hwang yang bosan akhirnya pergi ke dapur untuk memeriksanya, dapurnya kelihatan cantik.



Ia membuka pintu lemari dan terkejut karena Hwan Ki menyimpan begitu banyak jenis pisau. Hwan Ki bergegas menghampirinya dan menutup kembali pintu lemari dapurnya. Tuan Hwang meminta supaya Hwan Ki setidaknya menjamu ia dengan makanan kalau ada. Cobalah memberikan sedikit pengertian, apa dia bisa?

“Aku bukan orang pengertian. Aku selalu berusaha melindungi apa pun yang berharga untukku. Anda juga pasti begitu. Aku tidak ingin ikut campur.”


Tuan Hwang tahu kalau sebenarnya Hwan Ki sudah mengetahui semuanya. Dia bisa melihat kalau Hwan Ki sangat bijaksana. Ia pun akhirnya memutuskan untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah selesai mendengar segala unek-unek Tuan Hwang, Hwan Ki melongok ke luar ruangannya dimana yang lain sudah menanti. Seperti biasa, ia panik saat mendapatkan tatapan penuh penantian dari yang lain. Dengan tergagap, Hwan Ki berkata jika mereka tidak akan mengatakan apapun.

Yah.. mereka semua lemas mendengarnya. Apa mereka harus menunggu sampai skandalnya dilupakan?


Ro Woon berdiri di rooftop meyakinkan dirinya supaya tidak sedih masalah pekerjaan. Tujuan utamanya kemari adalah untuk menghancurkan Silent Monster.
Woo Il datang menghampirinya, rupanya dia disana. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga Ro Woon memutuskan untuk menggantung cita-citanya. Tapi dia bersyukur karena akhirnya ia memiliki karyawan berfikiran luas. Ia bisa mempercayai seseorang yang terlihat bisa dipercayainya.

Saat semua orang menuduh kurir –nya sebagai penipu, dia tetap mempercayainya sampai akhir. Ketika klien dituduh c*bul pun ia masih mempercayainya. Ia yakin suatu saat Ro Woon bisa menjadi agen iklan yang baik. Ia mempercayainya.

Woo Il pun pergi darisana. Ro Woon membantin, ia berharap supaya Woo Il tidak mempercayainya. Ia kemari untuk membalas dendam, jangan percayai dirinya.



Semua orang menantikan Hwan Ki supaya bisa ikut dengan mereka untuk pesta barbeque. Hwan Ki masih duduk ditempatnya dengan banyak pikiran, ia mengaku akan segera menyusul mereka.


Diluar lobi gedung, semua orang menantikan kedatangan Hwan Ki. Tapi dia tidak juga menyusul sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan Hwan Ki.


Diruangannya, Hwan Ki bingung melihat daging yang ia persiapkan. Kemungkinan ia ingin mengajak yang lain untuk makan malam bersama tapi dia tidak punya keberanian. Ia pun menawarkan supaya Tuan Hwang mau makan dengannya, ia tidak bisa menghabiskan ikannya sendirian.




Diluar, mereka semua berangkat menuju ke restoran BBQ. Ro Woon berjalan dibelakang mereka semua dan tanpa sengaja melihat seorang gadis sedang menelfon seseorang. Ia menyebut orang diseberang telefon sebagai ayah, dia sudah sampai didepan gedungnya dan waktu penerbangan hampir tiba.

Ro Woon tertegun memperhatikannya. Setelah beberapa lama terus menatapnya, ia sadar kalau wanita dihadapannya itu adalah gadis yang dipeluk Tuan Hwang. Tapi dia memanggilnya sebagai Ayah?

Gadis yang sadar dirinya diperhatikan oleh Ro Woon pun buru-buru menutup kaca mobilnya dan pergi darisana.



Se Jong menegur Ro Woon supaya bergegas jalannya. Ro Woon bohong kalau barangnya ketinggalan di kantor. Ia mempersilahkan yang lain untuk jalan duluan, dia akan menyusul.



Ro Woon sampai ke ruangan, ia bersembunyi dibalik pintu mendengarkan pembicaraan antara Hwan Ki dan Tuan Hwang. Hwan Ki sebenarnya melihat kedatangan Ro Woon tapi dia pura-pura tidak melihatnya.

Tuan Hwang berkata jika ia tidak mengerti kenapa orang-orang ingin mengetahui sesuatu yang sangat pribadi darinya. Bukankah dia punya hak untuk melakukan sesuatu tanpa mengatakannya pada mereka? Lagipula tidak semua orang akan menerima pilihan yang tak normal itu.


Pilihan? Ro Woon mulai menyimpulkan segalanya sendiri. Jadi memang Tuan Hwang itu hanya memiliki seorang putra. Tapi putranya itu memutuskan untuk transgender. Putranya frustasi dan malam itu ia menangis dalam pelukan sang ayah. Wartawan pun memotret keduanya dimalam itu.



“Dia memilih kehidupan baru sebagai wanita. Dia mengikuti banyak reality show dan syuting iklan karena aku. Semua mata sudah tertuju padanya sejak masih muda. Bahkan aktor veteran sepertiku sampai hari ini masih kurang nyaman dengan media. Aku menyukai reaksimu. Tidak mencoba memberi penghiburan palsu, mengasihani, ataupun ingin tahu. Kau sangat bijaksana dalam hal ini.” Ucap Tuan Han.

Setelah menghabiskan makan malam, ia pamit untuk menemui putranya.. bukan.. maksudnya putrinya.


Ro Woon tertinggal sendiri dalam ruangan. Ia sungguh penasaran dengan diri Hwan Ki yang sebenarnya. Ia pun membuka laci penyimpanan sepatu yang sebelumnya terkunci, tapi laci itu sekarang tidak terkunci lagi namun disana tidak terdapat apa-apa didalamnya.

Ketika ia bangkit, ia sadar kalau Hwan Ki berdiri dibelakangnya. Ia pun memberanikan diri bertanya, kenapa sebelumnya dia terus meminta maaf diatap? Pada siapa kau minta maaf? Pada siapa kau merasa begitu bersalah?

Hwan Ki mengingat adiknya, Yi Soo. Dalam hatinya ia berkata jika ia tidak ingin adiknya terluka. Ia ingin supaya dia tetap aman.


Entah Hwan Ki memberikan jawaban atau tidak. Kini dia sudah sendirian di ruangannya. Ia menuju ke dapur dan membuka salah satu laci disana. Sepatu milik Ji Hye sudah ia pindahkannya. Ia menatapnya dengan penuh rasa bersalah.

-oOo-

5 Responses to "SINOPSIS Introverted Boss Episode 3 Bagian 2"

  1. Boleh saran gak? Kalau bisa dibagian akhir sinopsis diberikan link untuk episode atau part selanjutnya untuk memudahkan membaca..jadi saya sebagai pembaca gak perlu back lagi atau tutup laman balik ke halaman utama udah gitu kadang lupa tdi baca sinop episode berapa part berapa hahaha... Maaf kalau tidak berkenan heheh

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR