SINOPSIS Introverted Boss Episode 1 Bagian 2

SINOPSIS Introverted Boss Episode 1 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: tvN

Ro Woon menantikan kedatangan seseorang yang ia panggil Mr Smith. Teman Ro Woon datang dan langsung memeluknya dari belakang, ia mengatai Mr Smith yang ditunggu Ro Woon hanyalah seorang penguntit cabul. Ro Woon tidak terima, ia memukuli temannya yang sudah menjelek-jelekan Mr Smith dihadapannya.

Selang sedetik kemudian, seorang kurir mengirimkan keranjang bunga cantik untuk Ro Woon. Ro Woon menerimanya dengan penuh kebahagiaan. Teman Ro Woon merasa curiga, bagaimana bisa seseorang mengirimkan bunga tanpa nama ataupun nomor telefon? Lagipula Ro Woon hanya memainkan peran kecil dalam opera, itu semakin tampak mencurigakan.

“Tidak perduli se-mencurigakan apa pun itu, ini mungkin akan menjadi hadiah terakhir darinya.” Ro Woon melenggang santai.

“Kau sungguh akan mengundurkan diri?”

Ro Woon membenarkan, dia sudah mendapatkan pekerjaan. Teman Ro Woon merasa dia tidak asik lagi, ia sudah mengkhianati mereka. Kenapa sih sebenarnya dia mau keluar? Sebenarnya apa alasannya?

Diam. Ro Woon tidak memberikan jawaban.


Hwan Ki berkonsultasi dengan seorang wanita. Wanita itu menyarankan supaya Hwan Ki mengatakan pada wanita yang ia kirimi bunga kalau dia adalah fans-nya. Hwan Ki tidak yakin bisa melakukannya, lagipula kenapa dia harus melakukannya? Ia tidak ingin Ro Woon mengetahui wajah dan namanya. Ia lebih suka menjaga jarak.

Wanita itu menjadi heran, lagipula kenapa dia harus menjadi penggemar artis tak terkenal padahal masih banyak artis tenar. Ia yakin ada alasan dibalik semua itu. Hwan Ki diam enggan memberikan jawaban.

Baiklah, wanita itu menyarankan supaya Hwan Ki meyakinkan diri dan bertemu idolanya kemudian katakan “Aku adalah penggemarmu”. Ia yakin kalau hal itu bisa meningkatkan kepercayaan dirinya dalam berinteraksi.

“Aku tidak yakin.” Singkat Hwan Ki.

Wanita itu mendesah heran karena saran yang ia berikan selalu di tolak Hwan Ki. Dan sampai kapan juga mereka harus berkomunikasi dengan cara seperti ini? (Mereka berbicara dengan pembatas tembok sehingga tidak mengenal satu sama lain)

Hwan Ki mengikuti saran wanita tadi, ia terus berlatih mengucapkan aku adalah penggemar-mu. Dia mengucapkannya saat bermain tenis dan berenang. Tanpa diduga, ada empat wanita mengenakan bikini sedang berdiri ditepian kolam, mereka mendengar ucapannya dan salah paham. Mereka menuntut siapa yang digemarinya diantara mereka berempat?

Sontak Hwan Ki panik dan buru-buru bersembunyi dalam air menghindari kejaran wanita-wanita itu.
Ketika berada dalam lift, pintu lift akan segera terbuka. Hwan Ki buru-buru menggunakan topi jaketnya dan menyembunyikan tangannya di balik saku. Rupanya orang yang masuk lift tak lain adalah Woo Il. Ia tanya kenapa Hwan Ki tidak ikut makan malam dengan pegawai? Bukankah sebelumnya dia sudah berjanji?

[FLASHBACK]
Saat perayaan kesuksesan presentasi mereka, Hwan Ki sebenarnya datang ke restoran tempat mereka makan-makan. Dia bersiap melepas topi dan kupluk jaketnya tapi belum sempat melangkah menghampiri mereka..

Dang Yoo Hee berdiri dan berkata jika mereka hanya membutuhkan Direktur Kang. Setelah CEO terdahulu mundur, mereka tidak bisa mempertahankan reputasi perusahaan tanpa Direktur Kang.

Woo Il tersanjung mendengarnya tapi dia memperingatkan mereka supaya tidak bicara buruk tentang CEO Eun. Dia adalah temannya, mungkin ia bisa mengadukan mereka. Maklumilah CEO Eun demi dirinya.  

Hwan Ki mungkin merasa tidak dibutuhkan atau bagaimana.. ia pun memutuskan pergi tanpa menghadiri acara makan bersama.
[FLASHBACK END]

Hwan Ki berbohong kalau dia capek malam itu. Woo Il menenangkan jika dirinya sudah memberikan pengertian pada karyawan lain. Dan tentang ide itu, ia mengatakan jika ide presentasi sepenuhnya adalah idenya. Ia khawatir kalau karyawan lain kecewa jika mengetahui Hwan Ki telah mengubahnya secara tiba-tiba.

Hwan Ki menunjukkan wajah datar, ambigu banget, entah dia suka atau tidak “Kau sudah melakukan hal yang benar."
Sesampainya didepan ruang kerja, Gyo Ri sudah menantinya dengan gemetaran. Ia buru-buru memalingkan wajah saat sudah berpapasan langsung dengan Hwan Ki. Ia sudah tidak tahan lagi dan ingin mengundurkan diri.

Hwan Ki bingung untuk bersikap bagaimana. Woo Il bilang kalau ia akan menyelesaikan masalahnya, ia pun meminta Hwan Ki masuk dalam ruangannya saja.
Gyo Ri mengaku jika dirinya merasa bukan sebagai sekretaris di kantor ini. Dia seolah-olah hanya penjaga pintu, ia tidak bisa bernafas. Ia hanya ingin hidup. Woo Il menatapnya dengan tenang, menyentuh pundaknya dengan lembut. Ia memohon supaya Gyo Ri mau bertahan sedikit lebih lama untuknya.
Hwan Ki menguping pembicaraan keduanya. Ia menatap refleksi dirinya sendiri di cermin, ia kembali mengucapkan Aku adalah penggemarmu.

Setelah memantapkan diri, Hwan Ki pergi ke salon untuk menata rambutnya. Setelah rambut klimis dan ganteng, ia mempersiapkan bunga sambil berlatih mengucapkan kata Aku adalah penggemarmu. Ia terus berlatih dengan berbagai macam intonasi dan suara.

Ia bahkan membayangkan dirinya berdiri diatas panggung bersama Ro Woon. Ia memberikan buket bunga padanya secara langsung. Ro Woon tersenyum dan kelopak bunga mulai berjatuhan diatas panggung. Suasana yang sungguh romantis.

Saking asyiknya berkhayal, dia sampai tidak sadar ada lampu merah dan menubruk mobil yang ada dihadapannya. Sontak pengemudi mobil tersebut turun dengan leher sakit. Dan apesnya lagi, orang yang turun dari mobil itu adalah Ro Woon. Ro Woon menghampiri mobil Hwan Ki. Hwan Ki panik bukan kepalang, ia menutup kepalanya dan segera memalingkan wajah belum siap.

“Anda terluka? Anda syok? Baru mengemudi, ya? Tak apa. Keluarlah.” Ucap Ro Woon dengan sopan.

Karena Ro Woon sangat sopan, Hwan Ki meyakinkan dirinya untuk keluar menyerahkan buket bunga yang ia persiapkan.

Lama-lama Ro Woon kesal tidak mendapatkan respon, ia jadi marah-marah dan menduga Hwan Ki ingin keluar dari tanggung jawab. Hwan Ki berubah tidak siap melihat respon kemarahan Ro Woon, ia malah mengeluarkan uang melalui celah jendela.

Ro Woon marah, memangnya semua bisa diselesaikan dengan uang? Ia menampik uangnya sampai berserakan dijalan dan menuntut supaya Hwan Ki keluar dari mobilnya.
Hwan Ki yang sudah mencapai batas kepanikannya pun tidak bisa berfikir panjang lagi, ia tancap gas meninggalkan Ro Woon tanpa mengucapkan maaf. Ro Woon memunguti uang yang berserakan sebelum mengejar  Hwan Ki. Ia pokoknya benar-benar marah, apa cuma segini kecepatan mobil mahalnya?

Saat sedang getol mengejar Hwan Ki, lampu berubah merah sehingga Ro Woon terpaksa harus menghentikan mobilnya sambil menanti bus lewat. Dia kehilangan jejak mobil yang telah menabraknya.

“Dia hilang kemana?” Ro Woon mengedarkan pandangannya dan melihat perusahaan Brain ada disana “Jangan-jangan..”
Benar saja, Ro Woon bisa menemukan mobil yang menabraknya disana. Wah padahal dia tidak mau mendapatkan masalah di hari pertamanya bekerja. Ia memperhatikan mobil hitam yang terparkir disana tapi satpam menegurnya, CEO mereka tidak suka siapapun melihat beliau.

“Dia CEO? Benarkah?”
Hwan Ki sampai ke ruangannya dengan terburu-buru. Ia menatap pantulannya di cermin, tatanan rambut kece-nya sudah berubah berantakan akibat keringat dinginnya. Ia tampak kecewa dengan dirinya sendiri.

Dang Yoo Hee bertugas mengabsen anak-anak baru yang akan menjadi karyawan di Brain. Dia memanggil nama Chae Ro Woon tapi Ro Woon belum datang. Baiklah, ia akan menerangkan peraturan dalam perusahaan. Pertama, tidak boleh ada yang naik ke lantai paling atas gedung ini.

Kalau sampai mereka ke sana, Yoo Hee menarik kerah baju-nya sampai menutupi wajah dan menggambarkan kalau riwayat mereka akan tamat.

Sayangnya, Ro Woon tidak mengetahui hal itu. Dia masuk dalam penthouse Hwan Ki ketika Gyo Ri sedang pergi ke WC. Dia kagum dengan kemewahan penthouse CEO Brain. Tidak heran kalau dia membuang yang dijalan.

Ia berkeliling kesana-kemari ketika Hwan Ki sibuk mandi. Ia juga iseng melihat apa yang ada dilaci ruang kerja disana. Ia menemukan banyak pensil rautan yang tersimpan dalam laci tersebut.

Terdengar suara langkah kaki seseorang, Ro Woon berniat kabur tapi celakanya dia malah keduluan dan berpapasan dengan Hwan Ki. Hwan Ki membeku di tempatnya, Ro Woon kontan memutar tubuhnya supaya tidak menatap tubuh Hwan Ki yang hanya mengenakan sehelai handuk.

Ro Woon menyuruh Hwan Ki untuk menutup bagian penting tubuhnya. Dia berkata jika Hwan Ki telah memberikan uang terlalu banyak bagi mobil murah miliknya, ia pun mengebalikan beberapa lembar uang Hwan Ki.
Hwan Ki kembali panik sampai-sampai ia terjatuh saat mengenakan celananya sendiri. Dia tidak tahan harus berdekatan dengan orang lain, ia ngabur ke kamarnya. Menutup wajahnya menggunakan topi jaket.

Ro Woon tidak mau kalah, dia langsung mengikuti Hwan Ki ke ranjangnya. Dia mau lihat bagaimana tampang CEO Eun Hwan Ki yang sebenarnya. Hwan Ki gelojotan menutup wajah dan kembali berlari menuju ke kursinya. Terjadilah tarik menarik diantara mereka.
Gyo Ri kembali dari toiletnya, ia dengan gugup meminta maaf dan menyeret keluar Ro Woon. Ia memarahi Ro Woon yang sudah sembarangan masuk kesana, dia dari stasiun mana? Sudah dibilang tidak ada wawancara.

“Aku bukan reporter.”

Lalu? Ro Woon mengaku jika dia mengalami kecelakaan mobil. Gyo Ri menyarankan supaya ia pergi ke tempat asuransi, bukannya kesana. Ro Woon heran, memangnya kenapa? Memangnya ada yang disembunyikan?
“Apakah ada yang aneh di sana? Hanya kau satu-satunya yang pernah masuk ke sana.”

Ro Woon jadi heran, apa dia tidak pernah masuk kesana? Dia kan sekretaris disana. Enggan memberikan jawaban lebih lanjut, Gyo Ri buru-buru menyuruh Ro Woon pergi.
Ro Woon menemukan sesuatu yang janggal disana. Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan?
Sedangkan Hwan Ki juga masih bertanya-tanya, bagaimana dia bisa kemari?
Malam harinya, perusahaan mengadakan pesta perayaan anak baru di Brain. Mereka berkaraoke –ria dan Ro Woon melakukan penampilan yang membuat rekan lainnya bersemangat. Mereka semua joget bersama Ro Woon.
Woo Il sepertinya cukup tertarik dengan sosok Ro Woon, ia terus memandanginya selama Ro Woon joget gila-gilaan.

“Sebagaimana yang kau minta,  aku memasukkan sosok yang bisa menjadi penyemarak suasana sekalipun latar belakangnya tidak memenuhi syarat, dan dia juga terlambat di hari pertamanya bekerja. Kau merasa dia bisa beradaptasi dengan lingkungan serta pekerjaannya?” ucap Rekan Woo Il.

Woo Il tersenyum menunjuk Ro Woon yang sudah asik berjoget dengan yang lain. Sepertinya dia memang sudah beradaptasi dengan baik.
Woo Il menghampiri Ro Woon yang tengah menikmati penampilan Yoo Hee. Sepertinya ia cukup familier dengannya, apa mungkin karena dia ikut dalam musikal. Apa perannya yang paling terkenal?

Ro Woon tidak pernah mendapatkan peran penting, hanya peran pembantu yang menyenangkan orang saja. Ia pemeran pembantu, sama seperti Woo Il.

“Aku?”

Ya. Ro Woon dengar jika pria di lantai paling atas adalah peran utama. Mungkin Woo Il seperti Alfred dan Batman.

Woo Il tidak sependapat, perannya cukup penting juga kok.

Ro Woon menganggap jika semua yang ada disana bergantung pada si kaya dibalik pintu. Mereka harus tetap mengetuknya lebih dulu sebelum masuk. Tapi sepertinya, Woo Il sekarang bisa membuka pintu itu sesuka hatinya. Dia bahkan lebih bersinar daripada pemeran utama. Ro Woon berharap Woo Il akan membukakan pintu untuknya juga.
“Aku baru ingat dimana aku melihatmu. Apa 10 tahun lalu, ya? Kurasa, aku melihatmu dalam cermin (kiasan: mirip). Pintunya sudah terbuka sekarang.” Ucap Woo Il dengan serius.
Hwan Ki menikmati ketenangannya sendiri sambil meminum wine. Namun pikirannya masih terbayang kejadian tadi pagi saat ia menabrak mobil Ro Woon. Dirinya sungguh picik. Tapi ia yakin semuanya kebetulan dan Ro Woon tidak akan datang ke kantornya lagi.
Tapi dugaannya sungguh tidak tepat. Esok harinya, Ro Woon berangkat kerja dengan semangat. Menyapa siapa saja yang berpapasan dengannya, ia bahkan memberikan sekaleng kopi untuk penjaga disana. Bukan tanpa alasan, dia ingin mengintrogasi perihal CEO Eun Hwan Ki. Ia pun segera menyalakan ponselnya untuk merekam ucapan penjaga disana.

Dengan horor, penjaga itu mengatakan jika malam sebelumny hujan turun sangat lebat. Seorang yang sangat misterius menghampirinya memberikan paket. Tanpa sengaja penjaga menjatuhkan paket itu dan didalamnya ada sebuah pisau. Kontan Penjaga ketakutan apalagi saat Hwan Ki tiba-tiba berdiri disampingnya dengan wajah angker. Petir menyambar-nyambar menambah suasana semakin menakutkan.
Ro Woon juga mendekati petugas bersih-bersih disana. Ia bertanya apakah mereka tidak pernah membersihkan ruangan dilantai paling atas? Petugas mengaku jika ia tidak diizinkan kesana. Ro Woon heran, apa dia jorok?

Bukan begitu, kebalikannya, dia sangat gila kebersihan. Entah berapa kali membersihkan ruangannya, CEO selalu menata ulang kembali ruangannya sendiri. Dia mengidap OCD ucapnya.
Dia juga menemui Gyo Ri untuk mengintrogasinya. Gyo Ri awalnya menolak tapi setelah Ro Woon menunjukkan ID –nya, Gyo Ri mengatakan sebuah rahasia.
Jadi dia sering melihat CEO Eun itu masuk ruangan membawa karung. Entah berisi apa, sangat besar dan anehnya lagi, apa yang sudah masuk dalam ruangannya tidak dikeluarkan kembali. Gyo Ri bergidik ngeri menceritakannya.

Ro Woon langsung berfikir liar, apa dia psikopat?
Dalam ruangannya, Hwan Ki memilih salah satu pisau besar. Dia memenggal sesuatu dari dalam karung. Kemudian mencincangnya dengan penuh semangat. Suasana diruangan Hwan Ki sungguh begitu horor.

Tapi tiba-tiba suasana horror itu lenyap seketika saat kita tahu kalau Hwan Ki sedang mencincang bawang. Ampun daah. Ia juga ingat dengan ucapan Gyo Ri sebelumnya jika ia ketakutan dengan dirinya. Ia seperti tidak bisa bernafas disana.
Hwan Ki dengan kikuk mengintip ke luar ruangannya. Ia meminta Gyo Ri supaya tidak makan siang dulu. Gyo Ri mengiyakan dengan kikuk.

Hwan Ki pun masuk dalam ruangannya dan kembali mempersiapkan hidangan yang akan ia berikan untuk Gyo Ri. Tapi saat hendak memberitahukannya. Dia bingung, apa dia harus mengajak makan bersama atau tidak. Nanti Gyo Ri tidak bisa makan bagaimana? Apa dia suka sayuran, dia sudah memilih sayuran segar tadi pagi.

Walhasil ia bertanya, “Apa kau belum makan?”

“Ya. Saya sedang tidak selera makan. Perut saya agak tidak enak.”

Benarkah? Hwan Ki dengan kecewa menyantap masakan yang ia buat sendirian.
Gyo Ri curhat pada Ro Woon kalau CEO Eun telah membuatnya makan siang. Ro Woon tidak terima, kok bisa? Tanpa alasan dan dia membuatnya kelaparan? Entahlah, Gyo Ri tidak pernah masuk ke ruangannya dan dia juga tidak diperbolehkan menatap matanya. Dia tidak suka orang lain memandanginya. Saat bersama dia, mereka harus menatap lantai.

“Astaga. Bos yang menjengkelkan.” Desis Ro Woon.

“Aku juga tidak sudi menatapnya meski disuruh.  Aku tidak akan tahan. Dia memiliki mata yang menyeramkan. Tiga tahun lalu...” Oppsss. Gyo Ri keceplosan.
Ro Woon penasaran apa yang terjadi tiga tahun yang lalu. Belum sempat menjelaskan, sakit perut Gyo Ri tiba-tiba meradang. Ia tidak bisa menahannya sampai harus terduduk dilantai. Ro Woon panik ingin menelfon ambulans, tapi naas-nya baterai ponsel habis.

Tak ada pilihan, ia mengetuk pintu ruangan Hwan Ki untu meminta bantuan. Gyo Ri menghalanginya, CEO tidak suka suara ketukan pintu.

Tapi ternyata Hwan Ki tidak ada di ruangannya, dia sedang pergi ke rumah orang tuanya. Ayah Hwan Ki tidak terlalu dekat dengannya. Bicara dengan orang asing lebih mudah ketimbang dengan putranya sendiri. Belajarlah dari insiden tiga tahun yang lalu, jadi orang-orang tidak bergosip. Hidup dengan tenang, menjauh dari masalah. Pilkada Seoul akan segera dilaksanakan, jangan membuat masalah.

Hwan Ki mengangguk kecil. Tapi tangannya meremas celananya dengan kesal.

“Astaga, kau membuat aku malu saja. Tidak bisa dipercaya dia itu puteraku. Aku adalah pendiri perusahaan humas pertama di Korea...”
Ibu menyela ucapan Ayah. Dia sudah tahu kalau Ayah akan membanggakan semua koneksinya dan mengatakan kesuksesan mereka berkat koneksinya. Ibu menegaskan jika dia sudah mengetahui semuanya.

“Aku cuma mau bilang kalau orang – orang pikir..”

“Orang-orang mungkin akan mengira Kang Woo Il-lah puteramu sebenarnya.” Sela Ibu.
Ditengah aksi saling sindir mereka, adik Hwan Ki datang dan menggandengnya langsung. Keduanya sudah ada di kamar Yi Soo, dia mencukur rambut Oppa –nya yang sudah mulai panjang. Kenapa juga dia tidak pergi ke salon yang banyak gadis muda dan cantik? Omong-omong apakah kakaknya punya ketertarikan pada sesuatu akhir-akhir ini?

“Tidak ada.”

“Kau lebih sering berkonsultasi dengan psikiater belakangan ini. Apa yang mengubahmu? Apa seorang gadis?”
Tidak sempat menjawab, ponsel Hwan Ki sudah berdering. Wajah Hwan Ki seketika berubah serius, seberapa parah?
Woo Il sudah ada di rumah sakit, ia meyakinkan untuk membereskan segalanya.

Ro Woon memperhatikan Gyo Ri yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Ia menangis sedih mengkhawatirkan kondisinya.
Ia pun teringat akan kejadian tiga tahun lalu. Dimana wanita yang bunuh diri di awal episode adalah kakak Ro Woon. Diduga dia meninggal bunuh diri karena depresi. Ro Woon marah mendengar tak ada satu koran pun yang memuat berita kematian kakaknya. Ada sesuatu yang janggal. Ia yang akan datang kesana, dia akan datang kesana meski hanya untuk mengambil sepatu kakaknya saja.

Ro Woon menemui teman polisinya. Dia sungguh ingin mengungkapkan sesuatu tentang hal ini. Ia menyuruh temannya untuk mendengar rekaman kesaksian orang-orang dalam perusahaan. Teman Ro Woon menyarankan supaya dia tidak gegabah mengambil keputusan.

“Aku sudah memeriksanya, dia bukan hanya cowok kaya yang rumit. Dia lebih berbahaya dari perkiraan kita. Seseorang pingsan tepat di depan ruangannya, tapi dia sama sekali tidak peduli. Psikopat itu membunuh kakakku juga.” Ucapnya.

[FLASHBACK]

Dimalam kematian Ji Hye, Hwan Ki berlari dengan tergesa-gesa menuju ruangannya. Namun dia sudah terlambat, disana sudah tidak ada Ji Hye lagi dan jendela ruangannya terbuka. Ada heels Ji Hye yang ditinggalkannya didekat jendela.

[FLASHBACK END]

Heels Ji Hye itu masih ada sampai sekarang dan Hwan Ki menyimpannya dalam laci meja kerjanya.
Hwan Ki benar-benar memantapkannya kali ini. Dia berjalan ke tempat pentas opera dengan membawa sebuket bunga. Selama ini, ia datang untuk menghibur Ro Woon tapi nyatanya malah dia sendiri yang merasa terhibur.
Ro Woon pulang mabuk. Dia menelfon temannya dan bertanya apakah Mr Smith datang menemuinya? Ia meminta mereka menyimpan bunga yang dikirimkan Mr Smith. Dia yakin kalau Mr Smith belum tahu kalau dia berhenti kerja disana.

“Mr. Smith mungkin syok, kan? Dia pasti mencemaskan aku. Bagaimana kalau dia merasa terluka? Dia akan berpikir aku meninggalkan dia.”

Hwan Ki menghampiri wanita yang menggantikan posisi Ro Woon, ia mengenakan gaun dan topeng yang sama dengan yang digunakan Ro Woon. Dia terkejut saat mengetahui wanita dibalik topeng bukanlah Ro Woon. Dimana Chae Ro Woon?

“Dia sudah keluar. Dia dapat pekerjaan lain. Katakan pada cowok yang mengirim bunga itu, acara menguntit cabulnya sudah berakhir sekarang.” Ujar temannya.

Mereka pun menyuruh Hwan Ki supaya minggir, mereka mau foto bareng.
Aku semestinya memberanikan diriku lebih awal. Aku terlalu lama bimbang dan akhirnya kehilangan kesempatan. Dimana dia sekarang? Kenapa dia tiba-tiba keluar?” batinnya.
Ro Woon sampai disana dan berselisih arah dengan Hwan Ki. Untungnya dia masih bisa mengejar Hwan Ki saat Hwan Ki berniat membuang bunganya. Hwan Ki menutupi wajahnya dengan ketakutan.

“Apa kau Mr Smith? Aku Chae Ro Woon.”

-oOo-
NOTE:
Yak.. kepribadian tertutup alias introverted memang menjadi salah satu watak manusia yang sulit dihilangkan. Seperti apa yang digambarkan Hwan Ki disini, dia kesulitan dalam memulai pembicaraan, memikirkan sana sini lebih dulu padahal nyatanya simple banget buat bilang hai atau sekedar tanya "udah makan belum. Makan bareng sini.."

Mungkin berasa sendiri sih nonton drama ini, aku juga tipe yang agak tetutup. Susah buat memulai perbincangan dengan orang asing padahal kalau udah mulai ngobrol sih enak-enak aja. Kadang mikir tanya A.. apa tanya B aja.. apa mending ga usah tanya.. nanti kalo tanya ini kalau dia begitu.. dan ujung-ujung malah diem aja.

Orang yang ada disamping kita pun jadi salah paham. Dikira sombong ato begimana padahal nyatanya di otak kita lagi proses mau tanya ga ya. (Tapi ga separah Hwan Ki juga sih)

Episode satu.. full perkenalan karakter Hwan Ki yang misterius (meskipun nyatanya yang paling misterius menurut aku malah Woo Il sih). Dan berkebalikan dengan Ro Woon yang easy going banget. sekali ketemu langsung bisa asik ngobrol.

Ro Woon sendiri yang emang udah penasaran dengan Hwan Ki karena kematian kakaknya. Lalu apa sih penyebab kematian kakak Ro Woon yang katanya depresi itu? Apa emang depresi karena perlakuan dingin Hwan Ki atau apa.

Hwan Ki yang menyesal atas kematian kakak Ro Woon akhirnya menjadi daddy long legs Ro Woon. Niatnya sih cuma buat bahagiain aja tapi lama-lama dia bahagia sendiri liat Ro Woon. kata orang jawa sih, tresno jalaran soko kulino

Nah disini karakter yang bikin penasaran malah Woo Il. Udah ada kesan liciknya nih dari Woo Il sendiri. Dia yang pengen terlihat lebih dominan di perusahaan ketimbang Hwan Ki. 

Dan mungkin, dia juga yang sengaja memasukkan Ro Woon ke perusahaan karena dia tahu jati diri Ro Woon sebagai adik dari Sekretaris yang bunuh diri. Buktinya, dia memasukkan Ro Woon yang tidak masuk kualifikasi dan juga kata-kata dia sama Ro Woon kek aneh gitu. Dia tahu kalau Hwan Ki masih menaruh penyesalan mendalam atas kematian Sekretarisnya sehingga dia membawa Ro Woon masuk dalam perusahaan. 

-e)(o-

3 Responses to "SINOPSIS Introverted Boss Episode 1 Bagian 2"

  1. bener2 penasaran sama woo il?? kayaknya sih dia bakal sering bikin aku😠

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR