SINOPSIS Hwarang Episode 12 Bagian 2

SINOPSIS Hwarang Episode 12 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2


Han Sung meringis kesakitan ketika A Ro memijat pergelangan kakinya. Tapi A Ro malah merasa aneh apalagi melihat gaya lebay Han Sung yang kelihatan cuma pura-pura. Ia menyarankan supaya melakukan akupuntur untuk meredakan rasa sakitnya. Han Sung ngeri mendengar kata akupuntur, sepertinya dia sudah baikan.

“Mmmm..” A Ro menggeleng menunjukkan dua jarum besar –nya. Jika disuntik dengan 30 jarum selama 10 hari, sakitnya akan cepat sembuh. Tidak perlu bayar, tidak usah merasa terbebani.



Han Sung mengakhiri kepura-puraannya. Dia sudah tidak apa-apa kok. A Ro merasakan gelagat aneh pada Han Sung, kenapa dia pura-pura sakit? Ada apa dengannya?

“Aku tak ingin dibandingkan pada orang lain. Seharusnya aku lahir seperti hyungku dan dia sepertiku. Itu akan lebih baik.”


Pintu ruang kesehatan terbuka, Dan Sae masuk dan mengajak Han Sung untuk berlatih pedang bersamanya. Dan Sae menolak namun A Ro mengisyaratkan agar Han Sung mendengarkan ucapan Hyung –nya.


Han Sung menurut untuk pergi berlatih dengan Dan Sae. Sayangnya, Han Sung payah dalam hal kekuatan fisik. Pedang kayunya selalu terpental dan Dan Sae tetap kekeuh untuk melajutkan latihan mereka.

“Keterampilanmu sangat buruk.” Komentar Dan Sae.

Dongkol setelah dipukul jatuh, Han Sung berniat pergi dari sana. Dan Sae menghalanginya.



Han Sung yang kadung marah pun berteriak pada Dan Sae “Aku sudah tahu itu! Ya, kau sudah terlatih. Kau dilatih oleh keluargamu. Aku hanya seperti sampah yang dibuang. Keterampilan pedang dan bela diriku buruk. Aku kalah dalam segala hal! Tapi apa yang bisa aku lakukan? Apa yang bisa dilakukan sampah sepertiku!”

Dia pun pergi meninggalkan tempat latihan dengan teramat kesal.


Ahn Ji merawat luka Sun Woo yang sudah membaik, sepertinya A Ro sudah semakin mirip seperti tabib sekarang. Tentang Ahn Ji yang menyuruh Sun Woo supaya melindungi A Ro, Sun Woo penasaran darimana Ahn Ji tahu soal itu? Siapa yang mengatakan hal itu padanya?

Ahn Ji tidak mau menjelaskannya untuk saat ini, ia hanya bisa berpesan supaya Sun Woo melindungi A Ro.



Sun Woo menunjukkan potongan gulungan yang bergambar dua naga berhadapan. Sebelum kematian Mak Moon, dia bilang kalau ia melihat Raja. Dimalam tertebasnya Mak Moon, Sun Woo melihat orang itu menggunakan gelang yang punya simbol sama dengan gambar dalam gulungan ini. Maka ia menyimpulkan jika pembunuh Mak Moon adalah Raja.

“Jadi, apa yang kau rencanakan?”

“Aku akan membunuhnya.” Ujar Sun Woo mantap.


A Ro modar-mandir di kamarnya dengan galau. Apa yang harus ia lakukan? Ia tidak bisa mengatakan kalau Ji Dwi adalah Raja. Tapi dia juga tidak bisa membuktikan kalau Sun Woo bukan Raja. Kenapa semuanya jadi runyam begini?



Sedangkan di istana, Pengawal Ratu Ji So menyarankan supaya mereka membiarkan rumor Sun Woo adalah Raja. Dengan begitu, Raja yang sebenarnya akan aman. Raja palsu akan melindungi Raja yang sesungguhnya. Tapi yang Pengawal khawatirkan, Ahn Ji Gong tidak akan tinggal diam.

“Kalau begitu, kita harus membuatnya tetap diam.” Ucap Ratu Ji So sembari menyesap teh-nya.



Ratu Ji So menggunakan alasan berobat untuk bisa bertemu dengan Ahn Ji. Tapi lagi-lagi ia kembali berbicara mengenang masa kasmaran mereka. Ahn Ji jelas tidak ingin mengungkit sesuatu macam itu, ia akan melakukan akupuntur. Ratu Ji So menolak dan menahan tangan Ahn Ji.

Sebenci apapun Ahn Ji padanya, Putrinya tidak akan bisa hidup tenang kecuali ia melepaskannya. Sebagai gantinya, ia ingin supaya Putra Ahn Ji Gong melakukan sesuatu untuknya. Jika menolak, Ratu Ji So tidak punya pilihan selain membunuh Putri Ahn Ji.



Hwi Kyung mendengar semua pembicaraan mereka dari balik tirai. Ia menghampiri Ahn Ji yang tengah bergetar menahan amarah. Wanita itu dan putrinya sudah mencoba membunuh anak serta istrinya. Ahn Ji Gong memastikan akan membunuh mereka berdua.



Tengah malam, Joo Ki datang ke asrama hanya untuk membawakan gorangan beras. Joo Ki mengeluh soalnya harus datang tengah malam begini padahal bayarannya tidak seberapa. Ia kemudian membahas masalah rumor Raja di Asrama Hwarang. Bagaimana menurutnya? Jika rumor menyebar akankah asrama Hwarang masih aman?

Ui Hwa santai, benar juga yah? Apa dia harus pindah?

Joo Ki kesal dengan sikap acuh tak acuh –nya. Dia kan instruktur disini, mana bisa bicara seperti itu. Mereka harusnya hidup dan mati bersama.



Ui Hwa menghampiri Ji Dwi yang berdiri sendirian di asrama padahal sekarang libur. Ji Dwi mengaku kalau dia tak punya tujuan pergi kalau berada di luar asrama. Ui Hwa ingin mengetahui sesuatu, kenapa dia punya nama Ji Dwi? Apa maknanya?

“Tak banyak maknanya. Aku menusuk seseorang dari belakang. Itulah arti dari nama, Ji Dwi.”

Tak ada yang mengenal Ji Dwi di ibukota, tidak punya teman atau keluarga, punya nama palsu dan ingin menyingkirkan Ratu. Ui Hwa menebak jika Ji Dwi sebenarnya punya Ibu dan adik yang tinggal di istana. Ji Dwi terkejut mendengar tebakan Ui Hwa yang sangat tepat.



“Apa itu tak benar, Yang Mulia?”

Ui Hwa tersenyum kemudian segera bersujur penuh hormat dihadapan Ji Dwi. Ji Dwi bertambah terkejut menerima perlakuan ini, perlakuan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.



Entah ada angin apa, Ratu ingin bertemu dengan Soo Ho setelah mendengar jika ia cukup baik dalam memainkan pedang. Kim Seub memperingatkan supaya Soo Ho tidak membuat kontak mata dengan Ratu. Bersikap sopan. Katakan “Ya” setiap beliau mengucapkan segala sesuatu. Kim Seub sebenarnya agak khawatir harus mengirimkan Soo Ho menghadap Ratu sendirian.

Soo Ho sih kelihatan santai, dia mengiyakan saja wejangan yang diberikan oleh ayahnya.


Soo Ho sampai di istana dan melihat Ratu sedang jalan-jalan tanpa menggunakan alas kaki. Ia melihat ada tumbuhan menjalar penuh duri ada disekitar sana. Ia berlari menghadang Ratu Ji So, ia menawarkan diri untuk memandunya.


Ratu Ji So tak memperdulikan ucapan Soo Ho dan melanjutkan jalannya dengan tidak berhati-hati. Walhasil, ia menginjak tumbuhan berduri yang dimaksudkan oleh Soo Ho. Soo Ho sigap membopongnya, dia tidak menggunakan alas kaki, akan membutuhkan waktu lama untuk berjalan.



Sesampainya di ruangan Ratu Ji So, Soo Ho dengan telaten mengeluarkan satu persatu duri yang menancap di kaki Ratu Ji So. Setelah selesai, Soo Ho mengucapkan permintaan maaf –nya karena telah lancang. Ia siap untuk mendapatkan hukuman atas perbuatannya tersebut.

“Apa kau anak Putra Kim Seub ini?”

“Ya. Aku Soo Ho.”

“Namamu Sun Woo?” tanya Ratu Ji So. What?



Sun Woo berdiri memperhatikan anak-anak yang masuk ke asrama. Salah satu diantara mereka adalah Raja. Bertepatan saat itu, Ji Dwi dengan tegap dan tenang memasuki gerbang asrama Hwarang. Sun Woo tampak merasa sesuatu dari diri Ji Dwi, mungkin aura –nya terkesan berbeda dari anak-anak lain.


Sook Myung datang ke ruang kesehatan. Ia memberitahukan pada A Ro kalau kakinya terkilir. A Ro siap untuk merawatnya sekarang juga namun dengan angkuh Sook Myung menolak. Dia ingin mendapatkan perawatan di kamarnya.

“Sungguh tak punya hati nurani. Dia memanahku sekarang minta rawat kakinya?” dengus A Ro ketika Sook Myung sudah pergi.



Dikamar Sook Myung, Sook Myung menginginkan supaya kakinya bisa direndam. A Ro membetin sebal, sama saja dia menyuruh supaya ia membasuh kakinya. Ia menolak “Anda juga memiliki pelayan kan?”

Sook Myung menunjuk A Ro sebagai dokter pribadinya. A Ro jelas semakin kesal, kalau memang ia dokter pribadinya, kenapa Sook Myung sudah mencoba memanahnya dan melukai Orabi –nya?

“Yang bedosa pada Ratu pantas mati. Seharusnya kau sudah mati. Jika hari itu belum mati mungkin hari lainnya. Kau harus patuhi permintaanku, mencuci kakiku, itulah yang seharusnya dilakukan separuh bangsawan.”


Kenapa A Ro harus melakukannya? A Ro mencamkan jika ia baik pada Sook Myung karena Orabi –nya. Lagipula semakin tinggi seseorang, seharusnya dia tidak memanah orang lain begitu saja. Bagaimana kalau rakyatnya tahu? Tabib tidak bisa menolong orang sepertinya.

Sook Myung terkejut, dirinya sendiri belum mengetahui siapa Oraboni –nya dan A Ro sudah tahu?

“Aku tidak tahu. Bahkan jika anda memaksa, aku tidak akan memberitahukannya.”



Dan Sae sibuk membersihkan kuda di kandang. Kang Sung menghampirinya dengan gaya angkuh seperti biasa, meskipun mereka berdua sama-sama Nangdong tapi derajat mereka berbeda. Ia mengatai Dan Sae yang hanya seorang separuh bangsawan.

Pa Oh sampai dikandang. Melihat suasana yang agak tegang, ia berniat untuk kabur. Tapi Dan Sae memanggilnya, ia mengedikkan dagu ke arah Kang Sung. Dia lebih muda dua tahun dari mereka tapi terus berulah.

“Ada apa? Kau terlihat seperti kakek tua.” Ejek Kang Sung pada Pa Oh.


Pa Oh langsung menarik kerah bajunya, ia memperingatkan supaya Kang Sung bersikap hormat pada mereka. Ia pun membantingnya tanpa ragu.

“Dah, teman.” Ucap Pa Oh pada Dan Sae lalu ngeloyor pergi.


Dan Sae menghampiri Kang Sung, ia sebelumnya melihat Kang Sung di upacara peringatan. Ia sama sekali tidak perduli dengan apa yang ia lakukan atau siapa yang mengutusnya. Yang terpenting, jangan campuri urusannya dan urusi saja urusannya sendiri.



Sun Woo dan Ji Dwi berhadapan untuk beradu pedang kayu. Keduanya bersiap untuk melancarkan serangannya. Sun Woo benar-benar terlihat penuh keseriusan, nafas –nya terdengat menggebu-gebu. Ji Dwi menyipitkan matanya dengan heran melihat sikap Sun Woo yang seolah sangat bersungguh-sungguh dalam latihan ini.


“Kapan kau belajar pedang? Kau pikir bisa mengalahkanku?” ucap Ji Dwi seusai latihan.

Sun Woo diam menatap wajah Ji Dwi sambil mengingat ucapannya kemarin, dia mengaku tidak pernah punya teman dan Sun Woo adalah teman pertamanya. Ji Dwi heran mendapatkan tatapan seperti itu. Ada yang ingin ia katakan? Dia sungguh seperti kotoran anjing burung.

“Kotoran Anjing Burung. Kenapa?”


“Apa ini? Kau dari tadi diam dan menjawab saat aku bilang kotoran. Apa memang kau seperti kotoran anjing burung?” ledek Ji Dwi makin menjadi.

Sun Woo tidak terima mendapatkan ucapan semacam itu, ia pun mengejar Ji Dwi untuk menutup mulutnya.


Anak-anak akan berkumpul. Soo Ho, Ban Ryu dan Yeo Wool bertanya-tanya dimana keberadaan Han Sung? Tidak ada diantara mereka yang melihatnya. Dan Sae menyadari sesuatu, ia pun bergegas pergi.



Yap. Dia langsung membuka pintu kamar dan menyuruh Han Sung untuk bergegas keluar dari persembunyiannya. Ia tidak ingin mendengar kalau Cucu Suk kabur didepan pejabat dan Ratu. Han Sung tidak mau bertanding, ia tidak perduli. Dan Sae tanya apakah Han Sung ingin mengecewakan kakek? Dia adalah keturunan tunggal keluarga Suk.

“Keturunan. Keturunan. Cukup bicara itu! Apa aku ingin terlahir seperti ini? Mengapa semua orang membebaniku? Kenapa aku? Kenapa? Maka kau harus lahir sebagai separuh bangsawan.”

Dan Sae berkata jika Han Sung sudah memiliki segalanya. Kenapa dia tidak berusaha setelah memiliki segalanya? Jangan menyerah dan buktikan sendiri. Dan Sae meraih tangan Han Sung untuk membawanya ke halaman pertemuan.



Ji Dwi galau memikirkan perkataan Sun Woo, ia memastikan akan membunuh Raja. Sedangkan Sun Woo tengah memainkan dadunya, kembali mengulang ingatannya dan perkataan ambigu Ji Dwi selama ini. Mulai dari dia yang katanya tidak punya teman sejak lahir. Dia juga tidak mau punya hutang dengan seseorang dan yakin jika Sun Woo akan terkejut jika mengetahui tentangnya. Ia juga sempat membujuknya supaya mau menjual gelang dua naga.

Sun Woo seolah menemukan jawaban dari puzzle ini. Ia pun meremas dadunya dengan penuh kekesalan.



Para Hwarang sudah berkumpul. Ui Hwa tanya pada Soo Kyung, sebenarnya apa yang dia inginkan dari pertumpahan darah ini?

“Menemukan seorang panglima.”



Tak lama kemudian, rombongan Ratu dan Pejabat hadir disana. Park Young Shil basa-basi dengan mengucapkan terimakasih pada Putri Sook Myung yang telah mengundang mereka datang menyaksikan pertempuran mereka.



Ditempat lain, Joo Ki terus ngoceh masalah pertumpahan darah ini. Ia penasaran apakah A Ro bisa menjahit kepala seseorang yang terpenggal? A Ro risih mendengarkan pertanyaan tidak masuk akal itu. Dia memegang pisaunya dengan horor, dia belum pernah menjahit sebelumnya tapi dia pernah memotong. Haruskah dia memotong kepala Joo Ki lalu menjahitnya kembali sebagai bahan percobaan?

“Kenapa kau seperti itu? Aku hanya memberitahu. Ini pertandingan pertumpahan darah.”

A Ro juga tahu, dia khawatir sebenarnya. Apa yang sebenarnya penyihir itu inginkan?


Ratu duduk di singgasananya yang megah. Ia menatap ke arah Ji Dwi sambil membatin “Kau akhirnya akan bertarung, jika kau tak mau melakukannya, memohon dan menangislah. Maka aku akan menyelamatkanmu.”


Jika ada pedang melawanku, aku tak akan menghindarinya. Aku akan hadapi, melawan dan menang.” Batin Ji Dwi membalas tatapan Ratu.


Pertarungan pertama dilakukan oleh Soo Ho dan Ban Ryu. Soo Ho yang punya keterampilan dalam bidang fisik mampu memukul mundur Ban Ryu dengan mudah dan melancarkan serangan, perut Ban Ryu pun tertebas.

Soo Ho sama sekali tidak punya niatan untuk membunuhnya. Ia memberikan serangan ringan pada Ban Ryu yang tampak semakin lemah.


Kang Sung mengejeknya dari pinggiran “Lihatlah Tuan Young Shil sangat kecewa. Ban Ryu, habislah kau.”


Putri Sook Myung mendesis marah pada Ui Hwa, mereka harusnya menunjukkan pertandingan yang mensimulasikan peperangan. Bagaimana bisa jadi seperti ini?

Ui Hwa tersenyum, “Karena mereka tahu apa yang lebih penting dari pada pembunuhan.”


Young Shil kecewa dengan pertandingan yang mereka tunjukkan. Ia menyarankan supaya pertarungan dilakukan antara penjaga dengan Hwarang. Dia punya seorang penjaga yang sangat terampil bela diri. Ia pun memanggil penjaga –nya.

Putri Sook Myung menyetujui usulannya. Young Shil juga meminta supaya dia bisa memilih salah satu Hwarang yang akan melawan penjaganya.

“Silakan pilih.”

“Aku dengar Sun Woo terampil seni bela diri.”


Sun Woo pun dipanggil supaya maju ke depan. Soo Ho mencoba menahannya, dia khawatir Sun Woo tidak akan bisa menghadapinya. Sun Woo tidak mau mendengarkan ucapan Soo Ho dan tetap kekeuh maju di hadapan Ratu.


A Ro menggeleng khawatir, lukanya belum sembuh total. Jangan.


Sun Woo dan Penjaga sudah berdiri dihadapan Ratu. Young Shil tanya pada Putri Sook Myung, apakah dia mau bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu?

“Aku siap bertanggung jawab.”

Penjaga dan Sun Woo juga siap untuk bertanggung jawab. Ratu Ji So tampak duduk dengan khawatir menantikan pertandingan Sun Woo.



Young Shil menyindir Ratu Ji So, ketidakpatuhan yang dilakukan oleh Raja telah menyebabkan kekacauan di Hwarang. Ratu Ji So menegaskan bahwa ini bukanlah sebuah ketidakpatuhan. Dalam batin ia berkata, lakukan saja apa yang ia inginkan. Raja tidak disana.

Mari kita lihat.” Ucap batin Young Shil menatap Ratu Ji So.


Pertandingan di mulai, ahli bela diri tunjukan Young Shil bergerak dengan sangat cepat. Dengan beberapa langkah saja, ia sudah mampu membuat perut Sun Woo tertebas. Sun Woo meringis kesakitan menahan lukanya, ia berusaha menangkis gempuran dari si Ahli bela diri tapi kekuatannya memang jauh melampaui Sun Woo.

Sun Woo terjatuh ke tanah.


“Berhenti!” teriak Ratu Ji So.

Ahli beladiri yang sempat ingin menusuk Sun Woo pun segera menghentikan pergerakannya.



Sun Woo tidak mau mengakhiri pertandingan begitu saja, dia melompat menghadang lawannya. Young Shil memberikan instruksi, “Lanjutkan.”

Ahli beladiri itu pun kembali melakukan serangan pada Sun Woo. Namun Sun Woo kali ini lebih tenang dalam bertarung, ia menggunakan kesempatan untuk menangkis pedang si ahli beladiri dan memanfaatkan waktu singkat itu untuk mengambil lompatan. Ia melompak kebalik punggung Ahli beladiri dan menebasnya.

Menebas rambutnya, bukan kepalanya. Meskipun sebenarnya dia bisa-bisa saja menebas kepala Ahli beladiri tapi Sun Woo memilih menghindari pertumpahan darah. Kontan anak-anak Hwarang berseru senang dengan kemenangan Sun Woo. Ui Hwa tersenyum geli melihat rambut si ahli beladiri berantakan. Ia juga puas akan keputusan yang diambil anak didiknya.

“Aku punya jawaban aku inginkan.” Batin Young Shil meringis licik.



Seusai pertantingan, Sun Woo menyendiri menenangkan nafasnya yang terdengar memburu. Ji Dwi menghampirinya dan bertanya bagaimana kondisinya? Sun Woo mengaku baik-baik saja. Memangnya kenapa dia bertanya?

“Tentu, itu karena...”

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Sun Woo sudah meletakkan pedangnya didekat leher Ji Dwi. “Apa kau... Raja?”

-oOo-

1 Response to "SINOPSIS Hwarang Episode 12 Bagian 2"

  1. Wahhhhh Jadi tak sabaaarrr. Trims sinopisnya ��

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR