SINOPSIS Hwarang Episode 10 Bagian 2

SINOPSIS Hwarang Episode 10 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2


Sepanjang perjalanan pulang, A Ro menjadi canggung dan tidak bisa bersikap seperti biasanya. Ia berkata bukankah seharusnya siapapun yang melihat wajah raja akan..

“Dibunuh.” Sela Ji Dwi.

Dia tahu akan hal itu tapi bagi Ji Dwi, A Ro adalah seseorang yang special baginya. Hanya dia yang tahu akan hal ini, jadi bersikaplah seperti biasa. Berhenti bersikap canggung dan jadilah dirinya sendiri. Kalau tidak, Ji Dwi bisa ketahuan lagi nantinya.


Sun Woo berpapasan dengan keduanya, nafasnya terengah-engah karena berlarian mencari A Ro “Kau.. darimana saja kau?”

“Dia bersamaku.” Ucap Ji Dwi.

“Aku tidak menanyaimu.”

Suasana menjadi canggung, A Ro gugup bertatapan dengan Sun Woo. Ia meminta Ji Dwi untuk pulang sekarang dan terimakasih untuk hari ini. A Ro pun berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


Sun Woo menatap tajam ke arah Ji Dwi sebelum akhirnya ia mengejar A Ro. Ia menghentikan A Ro dan bertanya sekali lagi, kemana dia pergi? A Ro sudah membuatnya khawatir. A Ro enggan menjawab, kenapa harus khawatir toh Sun Woo bukan Oraboni-nya. Dia bukan siapa-siapa.

“Itu keinginan orabonimu.”

“Aku sudah bilang aku tak ingin kau jadi oraboniku. Tinggalkan aku.”

Sun Woo mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat. A Ro menolak namun Sun Woo tidak menerima penolakannya dan tetap menarik A Ro menuju ke sebuah tempat.


Sun Woo membawa A Ro ke makam Mak Moon di tengah hutan. Dengan sedih, ia memintamaaf pada Mak Moon karena terlambat membawa A Ro dihadapannya. Dia memang cantik tapi tidak sebaik yang Mak Moon katakan. Dia juga tampak bodoh. Lihatlah sepuasnya, A Ro adalah adik yang selama ini ia rindukan.

Kenangan Sun Woo bersama Mak Moon pun kembali dalam ingatannya. Dia teringat bagaimana  Mak Moon selalu membicarakan adiknya. Tersenyum mengatakan akan membiarkan Sun Woo menikah dengan adiknya.

A Ro sadar sekarang kalau gundukan batu dihadapannya adalah makam sang kakak. Ia menangis sedih disana.

“Dia mencoba menemuimu. Ia pernah bilang melihatmu makai kalung itu. Dia bilang harus menemuimu. Dia merindukanmu sampai akhirnya, dia mati.” Ujar Sun Woo.

Sepanjang perjalanan pulang, A Ro tidak banyak mengucapkan kata-kata. Ia penasaran bagaimana sosok kakaknya?

Sun Woo bilang kalau kakak A Ro senang tertawa dan suka memberi tanpa pikir panjang. Orang paling baik diseluruh dunia. Bagi Sun Woo, dia adalah teman, ibu dan keluarganya. A Ro rasa akan menyenangkan jika ia bisa bertemu dengan kakaknya.


Sontak Sun Woo memegang tangan A Ro. A Ro mengibasnya, sekarang pun masih sama, fakta kalau Sun Woo bukanlah kakaknya tetap sama.

“Apa pun yang kau katakan, aku akan hidup sebagai orabonimu. Aku tak peduli apa kau menerimanya. Aku harus tetap di sisimu, beginilah caraku bisa melindungimu. Melindungimu adalah alasanku untuk tetap hidup.”


Woo Reuk bertemu dengan seseorang yang semalam memperhatikan Sun Woo. Ia meminta maaf karena tidak bisa menepati janjinya.

“Ini sudah menjadi takdirnya. Dia mungkin bisa hidup tenang tanpa masalah sekarang. Itulah yang aku inginkan.” Ucap orang itu.


Ahn Ji sibuk menganalisa racun yang tidak menimbulkan gejala jika menanggaknya secara perlahan-lahan. Tiba-tiba seseorang datang menemuinya, orang itu tidak lain adalah orang yang bertemu Woo Reuk sebelumnya. Ahn Ji mengenalnya sebagai Hwi Kyung. Apa yang membawanya kemari?

Hwi Kyung ingin dokter terbaik di Silla mengobati kakinya. Ahn Ji heran, polio bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan saat tabib terlambat menanganinya.


“Itulah sebabnya aku kesini. Jika aku bisa naik kuda dan pergi berperang, aku tak akan didiskualifikasi sebagai raja. Namaku tidak akan dihapus dari buku Keluarga Kerajaan.” Ucapnya getir.

Ahn Ji yakin ada sesuatu yang membawa Hwi Kyung datang menemuinya. Hwi Kyung mengatakan bahwa seseorang membawa putri Ahn Ji ke istana. Dia pikir Ratu akan membunuhnya. Ahn Ji terkejut, tapi apa alasan Hwi Kyung mengatakan hal itu padanya?

“Aku mengatakannya untuk membayar hutang.” Jawaban Hwi Kyung membuat Ahn Ji mengernyit aneh.

Kroni Park Young Shil melakukan pertemuan. Mereka geram karena pertunjukkan selamam berjalan dengan mulus, seharusnya mereka menggagalkannya sejak awal. Tuan Ho diam tidak bisa mengatakan apapun.

Mereka dengar kalau Ratu Ji So mengirimkan Sook Myung ke asrama Hwarang. Mereka juga harus melakukan sesuatu dengan hal ini.

Tuan Ho memarahi Ban Ryu yang telah gagal melaksanakan misinya. Dia bisa-bisa tidak menjadi anak Park Young Shil lagi kalau seperti ini. Lupakan saja kalau dirinya juga ayahnya. Ban Ryu kecewa mendengarkan ucapan Tuan Ho, kalau begitu dia tidak mempunyai Ayah. Ayah sudah tidak mengakuinya sebagai anak dan Ayah menyuruhnya untuk melupakannya.

Ban Ryu pergi dari hadapan Tuan Ho dengan hati dongkol.

Ji Dwi senyam-senyum sendiri hari ini, hatinya tengah berbunga-bunga. Ia senang orang pertama yang mengetahui identitasnya adalah A Ro. Pa Oh ngeri sendiri melihat ekspresinya, padahal menurutnya A Ro tidak terlalu cantik. Dibandingkan dengan gadis Okta, wajahnya kalah cantik.

“Itulah sebabnya kau sendiri tanpa pasangan. Kau tak punya mata mengenali gadis cantik.”


Pa Oh tak tahu soal itu tapi yang ia yakini, Ratu tidak akan tinggal diam dan pasti mencoba menyakiti A Ro. Dengan wajah serius, Ji Dwi menyuruh Pa Oh untuk membunuh orang yang mencoba menyakiti A Ro sekalipun prajurit kerajaan.

“Aku akan mematuhinya.” Jawab Pa Oh serius.


Ban Ryu duduk bersama dua temannya di Okta. Mereka tanya apakah Ban Ryu benar-benar tidak merusak alat musik? Belum sempat menjawab, Kang Sung tiba-tiba masuk keruangan mereka. Ia bersikap lancang merebut gelas minum temannya dan memakan buah dengan gaya sok –nya.

“Kau tidak bersyukur? Kau harus melakukannya dengan benar. Lalu aku tak harus melakukannya.”

Sontak Ban Ryu menggebrak meja menatap Kang Sung. Dia sekarang tahu siapa biang kekacauan semalam.


Soo Ho meyakini jika Ban Ryu bukanlah pelaku yang merusak alat musik. Han Sung dan Yeo Wool heran, bagaimana dia bisa yakin akan hal itu. Soo Ho tahu kalau Ban Ryu akan menggingit lidahnya jika dianiaya dan tak akan melakukannya bahkan jika ia meninggal.

“Aku tak tahu apa kau musuh atau teman.” Ledek Yeo Wool.

“Anehnya. Dia tahu semua tentang hal lain tapi tentang dada...” celetuk Han Sung. Kontan Yeo Wool membekap mulut Han Sung supaya tidak keceplosan.


Seo Yoon masuk ke ruangan mereka dan sudah berdandan cantik. Tak melihat orang yang ia cari, Seo Yoon pun bergegas keluar. Soo Ho sampai pangling, apa dia adiknya? Kenapa mengabaikannya?

“Itu dada.” Ucap Han Sung lagi. Yeo Wool memperingatkan dengan marah supaya dia bisa diam.

Soo Ho melihat botol yang dibawa Seo Yoon barusan. Botol? Ingatan yang sempat hilang pun kembali di kepala Soo Ho. Dia ingat tentang kejadian adiknya ‘di lecehkan’ oleh Ban Ryu. Soo Ho bangkit dari duduknya “Aku akan menghabisi anak itu. Ban Ryu!!!!”

Ban Ryu meninggalkan ruangannya dengan marah, sepertinya Kang Sung terus memprovokasinya. Seo Yeon muncul disana dan mengajak Ban Ryu untuk bicara sebentar. Ia memberikan botol minuman yang sudah ia bawa. Ia mengucapkan terimakasih dan penampilannya kemarin sangat keren.

Ditengah pembicaraan mereka, Soo Ho datang ngamuk-ngamuk. Dia langsung menarik Ban Ryu lalu memukulnya. Yeo Wool dan Han Sung coba menenangkan tapi usaha mereka sia-sia. Soo Ho terus ngamuk dan memukuli Ban Ryu.

Seo Yoon cuma bisa menghela nafas panjang karena kelakuan kakaknya. Dengan enteng, dia memukul memukul kepala Soo Ho dengan botol minuman. Kontan Soo Ho pingsan ditempat, Seo Yoon tidak memperdulikan kakaknya, dia malah sibuk membantu Ban Ryu berdiri dan pergi dari sana.


Yeo Wool dan Han Sung melongo menyaksikan nasib Soo Ho. Mereka tidak menduga bisa sampai segitunya.

Ahn Ji memeriksa denyut nadi pergelangan tangan Sun Woo. Ia bertanya apakah kehidupan dalam asrama Hwarang sulit. Sun Woo tahu kalau Ahn Ji berbasa-basi, apa yang sebenarnya ingin ia ketahui?

“A Ro baik-baik saja di sana, 'kan?”

“Tanyakan sendiri. Jangan tanya padaku, tuan.”

Ahn Ji rasa memang benar kalau Sun Woo seharusnya menjaga A Ro. Dia meminta Sun Woo untuk menjaga A Ro seperti kakak yang sesungguhnya. Sun Woo terdiam tanpa menjawab ucapan Ahn Ji.


Keesokan paginya, mereka bertiga sarapan dengan canggung. Ahn Ji memecah keheningan dengan berkata jika lauk dirumahnya tidak banyak padahal ini hari istimewa, jarang-jarang dua anaknya bisa pulang. Keduanya pun hanya menjawab singkat tanpa banyak bicara.


Dirumah kediaman Tuan Kim Seub, Soo Ho menatap tajam Seo Yoon yang mencoba mengabaikan tatapannya. Soo Ho sendiri lehernya tampak di gips, sepertinya terluka akibat dipukul botol oleh Seo Yoon.

Kim Seub mendengar jika Ban Ryu lulus dalam ujian tapi Soo Ho gagal. Soo Ho dengan jujur membenarkan. Kim Seub tahu jika putranya memang tidak terlalu pintar jadi dia mewanti-wanti supaya Soo Ho tidak kalah saat adu otot. Mereka tidak boleh kalah layaknya anak pengkhianat.

Seo Yoon cepat-cepat kabur saat acara minum teh berakhir. Soo Ho bergegas menarik dan mengapit lehernya menggunakan lengan. Kenapa dia melindungi Ban Ryu? Kenapa dia melindungi si br*ngsek yang sudah memegang... mm.. didepan semua orang?

“Aku menyentuh pantat Ban Ryu lebih dulu.”

Soo Ho tidak mengerti maksudnya. Seo Yoon menjelaskan jika dia memang memegang pantat Ban Ryu yang ia kira adalah Soo Ho. Dia mau balas dendam karena Soo Ho sering memiting kepalanya. Jadi mulai sekarang, Seo Yoon menyuruh Soo Ho berhenti mengganggu Ban Ryu lagi.


Hwarang kembali ke asrama dan berkumpul dihalaman. Ui Hwa puas dengan penampilan mereka semalam, jadi ia memberikan kelulusan pada mereka semua. Anggota Hwarang senang mendapatkan kabar kelulusan mereka.

Baiklah, Ui Hwa juga akan mengumumkan tugas mereka selanjutnya hari ini. Dia akan menambahkan Nangdo.

Nangdo adalah pasukan pembantu Hwarang dan menjadikan Hwarang menjadi panutan mereka. Salah satu dari anggota Nangdo adalah Dan Sae. Disana juga ada Kang Sung dan Pa Oh. Ui Hwa mengernyit menatap wajah Pa Oh, berapa umurnya?

“22 tahun.” Jawab Pa Oh. Ui Hwa semakin kurang percaya, tapi Pa Oh terus menatapnya dan menunjukkan senyum lebar sok imut. Hehe

Nangdo masuk ke halaman berdiri dihadapan Hwarang yang mereka pilih. Pa Oh berdiri dihadapan Ji Dwi. Ji Dwi kesannya enek banget liat dia ada disana, apa dia sudah gila? Apa yang ia lakukan disini?

“Tak ada cara lagi. Ini satunya cara melayani Anda.”

“Kau bilang berapa umurmu?”

Pa Oh meletakkan jari disamping pipi dengan imut, dia mengaku umurnya 22 tahun. Ia merasa dirinya masih terlihat muda. Wkwkwk.. Ji Dwi berasa pengen nampol Pa Oh kek –nya.


Soo Ho dan Yeo Wool iri karena Dan Sae menjadi nangdo Sun Woo. Sun Woo sih engga tahu apa-apa, dia malah bertanya kenapa Dan Sae memilihnya, bukan yang lain.

Dikejauhan, Han Sung menatap Dan Sae dengan kecewa karena Dan Sae tak memilihnya.


Kang Sung berdiri dihadapan Ban Ryu. Ban Ryu menatapnya dengan penuh kebencian. Kang Sung memang sikapnya jadi sok banget sekarang. Dia tanya siapa yang Ban Ryu harapkan memilihnya?

“Yang jelas bukan kau.”

Kang Sung mengejeknya, dia juga memilih Ban Ryu bukan karena dia ingin tapi karena Park Young Shil memintanya secara pribadi. Tuan Young Shil tidak bisa mempercayai Ban Ryu.

“Kalian harus belajar dan bersaing dengan Hwarang lainnya. Kalian paham?”

“Ya!” jawab Hwarang dan Nangdo serempak.

Hwarang dan Nangdo harus berlatih naik kuda sambil memanah. Sun Woo seolah malas melakukannya, kenapa juga harus berlatih naik kuda sambil memanah. Kenapa tidak latihan salah satu saja?

“Karena itu yang dilakukan dalam perang.”


Sun Woo lagi-lagi tanya kenapa Dan Sae memilih menjadi Nangdonya. Dan Sae bilang kalau alasannya tidak terlalu enak didengar, apa dia masih ingin mendengarnya. Sun Woo mengiyakan.

“Jika aku menjadi nangdo di Hwarang lain, aku harus melayaninya. Tapi sepertinya tidak akan berlaku jika ia bersama Sun Woo.”

Sun Woo mengerti lagipula dia juga tidak mau dianggap tuan oleh Dan Sae. Dirinya dan Dan Sae, dimatanya semua sama saja kok.  

Han Sung murung di ruangan A Ro. A Ro menghidangkan secangkir teh, tidak biasanya dia melihat Han Sung murung, apa yang terjadi? Dia dengar kakaknya menjadi Nangdo. Han Sung bertanya bukankah A Ro juga setengah bangsawan?

“Memangnya apa yang salah dengan setengah bangsawan? Apakah dia setengah bangsawan dari ibunya atau ayahnya?”


Han Sung curhat kalau dia dan Dan Sae punya kakek. Kakek memperlakukan dirinya dengan baik tapi kakeknya sangat membenci Dan Sae. Sedangkan Han Sung lebih suka Hyung-nya ketimbang kakek. Memang sih, dia kecewa karena Hyung –nya tidak memilih menjadi Nangdonya. Tapi dia juga lega karena Hyung bersama Sun Woo, dia orang yang baik. Dia adalah Hwarang terkeren bagi Han Sung.

A Ro semangat, benarkah?

“Iya. Itulah mengapa aku lega. Hyungku adalah nangdonya.”



A Ro membawa tumpukan buku dan berpapasan dengan Ji Dwi. Ia pun kebingungan harus bersikap bagaimana, A Ro memilih memalingkan wajah celingukan bingung. Ji Dwi tersenyum, dia kenapa? Sepertinya A Ro menghindarinya, apa karena dia Raja?

Kontan A Ro mengomeli Ji Dwi yang menyebut Raja sembarangan. Tapi dia sadar kalau dirinya juga memanggil Ji Dwi dengan sebutan Raja. Dia pun langsung mengapit mulutnya rapat – rapat.

“Kau mau membawa buku ini kemana?”

mm.. ucap A Ro dengan mulut tertutup. Ji Dwi mengambil alih tumpukan bukunya begitu saja meskipun A Ro melarangnya.


A Ro meminta Ji Dwi untuk berhenti mengikutinya. Ji Dwi menuntut alasan, apakah karena dirinya adalah seorang Raja? A Ro sebal soalnya Ji Dwi terus mengucapkan kata angker itu. Lagipula dia merasa kalau hal itu aneh.

Sadar kalau sudah salah omong, A Ro buru-buru mengucapkan maaf dengan formal dan penuh hormat.

Ji Dwi baru sadar bagaimana rasanya bertemu dengan seseorang yang mengenali identitasnya yang sebenarnya. Ini sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Itulah bertapa berharganya A Ro bagi Ji Dwi.


Seo Yoon kembali berbicara dengan A Ro memanjat tembok. Dia menyuruh A Ro memberitahukannya kalau Soo Ho sampai macam-macam pada Ban Ryu. A Ro sampai heran, apakah dia benar-benar Seo Yoon temannya?

“Aku akan melindungi priaku.”

A Ro jadi iri. Ia berharap bisa seperti Seo Yoon.


Dan Sae bisa memanah sambil berkuda dan tetap mengenai sasaran dengan tepat. Berbanding terbalik dengan Sun Woo yang terus kehilangan keseimbangan saat melepaskan anak panah. Dan Sae tanya apa yang akan terjadi jika Hwarang gagal tiga kali? Ia berfikir ingin berganti orang saja.

“Aku tak akan gagal. Aku anjing burung! Kau seperti rendah hati tapi nyatanya bajingan gila juga.” sentak Sun Woo sebal.

“Aku anggap sebagai pujian.” Hehehe. Dia menyuruh Sun Woo untuk terus berlatih.

Di kejauhan, ada A Ro yang memperhatikan latihan keduanya.


Suasana antara Soo Ho dan Ban Ryu masih memanas. Soo Ho bilang kalau dia akan melepaskannya kali ini. Ban Ryu santai, dia menyuruh Ban Ryu makan saja, ia tidak akan memaksanya meminta maaf.

Soo Ho langsung memegang kepalanya akibat kesal yang sudah sampai ubun-ubun. Han Sung meledeknya kalau yang dipegang bukan dada adiknya tapi pantat Ban Ryu. Hehehe.


A Ro datang ke kantin. Ji Dwi sengaja bertanya, apa A Ro datang mencarinya. Ia melirik ke arah Sun Woo menunggu reaksinya. Sun Woo tidak mau menoleh sama sekali, ia terus melahap makannya meskipun Yeo Wool memberitahukan kalau A Ro ada disana.

“Dia tidak datang mencariku.” Jawabnya.

A Ro cemberut mendengar ucapan Sun Woo.

Seusai makan, A Ro menghadang Sun Woo yang menghindar darinya. Dia juga tidak datang ke ruang tabib. Sun Woo ingat ucapan Ahn Ji supaya dia tetap menjadi kakak A Ro. Menjadi Oraboni-nya yang sesungguhnya.

“Kau bilang aku bukan orabonimu saat aku mencoba hidup sebagai orabonimu.”

“Lalu kita tak saling kenal? Aku benci kasih sayangmu. Buatku muak. Aku ingin kau terluka juga sepertiku. Aku ingin kau terluka selamanya.” Ucap A Ro.

Sun Woo berlatih keras supaya bisa memanah sambil berkuda. A Ro memperhatikannya dari kejauhan. Tapi tiba-tiba, Sun Woo merasakan pusing kepala seperti biasa dan ia langsung pingsan seketika itu pula. Dia pun terjatuh dari kudanya.

A Ro menghampirinya dengan panik. Ia memeriksa denyut nadinya yang sudah tidak ada lagi. Ia mengguncang tubuhnya dengan khawatir. Bingung, A Ro pun memberikan nafas buatan untuk Sun Woo.

Tidak ada reaksi juga, A Ro semakin menangis sedih “Ini tidak adil. Aku belum mengatakan perasaanku. Punya Oraboni sepertimu aku senang. Perasaan itu membuatku gila. Aku benci diriku sendiri. Itulah mengapa aku begitu berarti bagimu. Kau membuat jantungku berdebar, aku tidak bisa bernafas dan seperti ingin mati. Sekarang, aku akhirnya bisa bernapas. Sering sekali aku merasa jantungku ingin copot, tapi kenapa kau mati seperti ini? Apa yang harus aku lakukan?”

Tanpa disadarinya, saat sedang mengoceh, tangan Sun Woo bergerak-gerak. Sampai akhirnya A Ro sudah mengucapkan semua kata-katanya, Sun Woo tiba-tiba bangkit dan mencium bibir A Ro yang tengah menangis khawatir.

-oOo-
NOTE:

Uwaaaah... seneng rasanya pas tahu kalau ternyata Sun Woo keturunan bangsawan. Disejarahnya sendiri, diceritakan kalau Raja Jinheung ini mewarisi takhta setelah kematian kakeknya. 

Mungkin ga sih kalau Ayah Sun Woo adalah anak dari Raja terdahulu?

Tapi diceritakan dia punya penyakit polio yang artinya dia punya cacat dan tidak bisa jadi Raja. (inget Moon Lover) biasanya saudara yang bisa menjadi penghalang mendapatkan takhta akan dilenyapkan. Mungkin itulah kenapa Ayahnya sengaja menyembunyikan identitas Sun Woo.

Kalo emang begitu.. ruameee... suka-suka. Soalnya aku pengen loh liat Sun Woo sama Ji Dwi rebutan takhta. Apalagi nanti dia juga bakal tahu kalau Raja adalah penyebab kematian dari Mak Moon yang jelas-jelas udah dia anggap sebagai teman, ibu, ayah pokoknya orang terbaik dan terdekat Sun Woo.

PREVIEW

Park Young Shil menemukan gelang raja di asrama Hwarang. Yang artinya dia akan segera berburu Hwarang di asrama.

A Ro merawat Sun Woo, sampai dia nginep dikamarnya dan memeluknya. alasannya sih memberikan perawatan. Tapi perawatan yang ada plus -nya nih hahahaha.

Ji Dwi menuntut penjelasan kenapa Sun Woo melakukan itu pada A Ro. Apa yang sebenarnya terjadi? 


Mereka mendapatkan tugas, ini tentang beladiri. Entah ada angin barat atau timur, tetiba Sun Woo dan Ji Dwi ketawa bareng.

"Aku suka dia. Dan aku suka adiknya lagi." Ji Dwi.


Ratu Jiso memberikan perintah pada Sook Myung untuk melenyapkan A Ro tanpa diketahui orang lain. A Ro berjalan di hutan pencari Putri Sook Myung, Sook Myung mengintainya dari kejauhan dan siap melecutkan panahnya.

Heol.. episode ini penuh dengan kekocakan.. Pa Oh ahjussi emang paling bisa ajaah bikin ngakak. Dan aku suka juga bagian pas Ji Dwi sebagai Raja Jinheung membentak ibunya. Ituloh greget banget.

Meskipun sepertinya karakter dia naas banget, udah jadi Raja tapi dia Raja yang seolah ga dianggep. Dan sebagai seorang pria yang jatuh cinta, cintanya pun bertepuk sebelah tangan meskipun dia udah melakukan segala upaya buat dapetin A Ro.

Dan kebanyakan scene A Ro juga sama Ji Dwi yah.

Tapi tetep karakter kesukaan ku dalam drama ini itu BAN RYUUUUU!!!


8 Responses to "SINOPSIS Hwarang Episode 10 Bagian 2"

  1. Tapi karakter yg ku suka adalah Ratu Ji so, i love u, ratu nya cantik banget. Ternyata nama karakter aslinya kim ji_soo mirip nama ratu yg sebenarnya

    ReplyDelete
  2. Tooosss aah, aku jg suka Ban Ryu..he is a stealling star di hwarang. Apalagi couple ban ryu dan seo yeon mereka berdua lucu bgt deh. Berasa romi dan yuli ala negeri Shilla krn kedua keluarganya saling membenci

    ReplyDelete
  3. Tooosss aah, aku jg suka Ban Ryu..he is a stealling star di hwarang. Apalagi couple ban ryu dan seo yeon mereka berdua lucu bgt deh. Berasa romi dan yuli ala negeri Shilla krn kedua keluarganya saling membenci

    ReplyDelete
  4. So hoo Dan ban Ryu. Suka klo mereka lagi berantem2 gitu. Genesis bgt yaaa
    Hehehehe. Gumawo sinopsisny mbak. Semangath2 terus yaa

    ReplyDelete
  5. wah ternyata kita sama author๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ aku jga suka Ban Ryu๐Ÿ˜๐Ÿ˜ apalagi pas berantem sma sohoo klop bgt liatnya๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  6. Semangat thor.. episode 9 ngenes banget bkin sedih tapi di episode 10 terbayar sudah sakit hati nya bnyak scene yg lucu makin seru ceritanya..

    ReplyDelete
  7. Gak sabar nunggu kelanjutannya. Gumawo....

    ReplyDelete
  8. Aku juga suka ama Ban Ryu... Bikin baper... Antara kasian liat jalan hidupnya dan kidah cintanya yg cuteeeee

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR