SINOPSIS Goblin Episode 16 Bagian 1

SINOPSIS Goblin Episode 16 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: tvN


“Di hari lain saat cuaca cukup bagus, maukah kau menjadi mempelaiku?” Aju Shin.

Eun Tak mengusap lembut wajah Shin dengan mata berkaca-kaca, tentu saja dia menerimanya. Dia akan menjadi mempelai wanita dari pria kesepian dihadapannya. Ia akan menjadi mempelai pertama dan terakhir bagi pria tampan itu. Shin meraih kepala Eun Tak dengan lembut dan mengecupnya.


Eun Tak menggunakan syal merahnya dan duduk di rooftop memandangi langit. Ia mengucapkan pada Ibunya jika ia akan segera menikah. Tiba-tiba terdengar suara cempreng seseorang “Sepertinya, kau sudah bertemu Dokkaebi dan kau akan menikah. Baguslah.”

Eun Tak menoleh. Rupanya disana ada hantu ahjumma dan hantu gadis yang biasanya mengikutinya kemanapun. Keduanya terkejut karena Eun Tak bisa melihat mereka lagi. Hantu gadis mengajaknya untuk pergi bersama, dia akan mentratir Eun Tak lebih baik  daripada Dokkaebi.

Eun Tak bilang kalau dia punya garam loh. Hantu takut, dia cuma bercanda kemudian mengucapkan selamat pada Eun Tak.

Wang Yeo menjalankan tugasnya memberikan teh pelupa ingatan. Namun pria yang ada dihadapannya ngeyel tidak mau minum bersama dengan supirnya. Dia tidak sudi minum bersamanya, hidup supirnya bahkan tidak lebih berharga dari jam tangannya.

Mendengar ucapan tersebut, Wang Yeo menjadi marah. Ia menunjuk pintu yang ada disampingnya, mereka disana diperlakukan sama. Jam yang digunakannya juga sudah tidak berdetak. Tidak ada harta secuil pun yang akan ikut bersamanya setelah melewati pintu tersebut. Dia memang pria berkuasa saat ini, tapi nanti dia akan sadar kalau kejahatan yang dilakukannya dengan tangan, mata, mulut, jantung, tangan, kaki akan lebih kuat dibanding yang ia kira. Lihat saja neraka mana dia akan dilemparkan nantinya.

Pria itu lantas sedih menatap dirinya sendiri, ia menangis seolah menyadari kesalahannya selama ini.

Shin berdiri menantikan Eun Tak. Dia tanpa sengaja melihat Ketua Kelas lewat dihadapannya. Ia pun seketika mendapatkan kilasan apa yang Ketua Kelas katakan pada Eun Tak.

Ketua Kelas menawarkan kencan buta pada Eun Tak. Eun Tak menolak dengan alasan tidak mau bersana chef. Ketua Kelas berkata jika pria itu bukanlah chef. Dia adalah kliennya yang kaya, pemilik perusahaan, tampan dan juga masih muda. Ia yang akan mengurusi masalah warisannya. Bagaimana menurut Eun Tak?

Eun Tak cuma mengangguk tidak semangat.


“Kencan buta?”

Shin langsung tidak suka pada Ketua Kelas. Dia menggunakan kekuatan magic-nya untuk menggunting tas selempangnya dan membuat seisi tas jatuh ke lantai. Ketua Kelas sampai mewek melihat bedak yang baru ia beli jadi rusak. Shin melet dengan puasnya kemudian berlari memanggil Eun Tak sambil berteriak – teriak.


Sesampainya di ruang kerja Eun Tak, mereka tidak ada yang mengenal Shin dan Shin memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Eun Tak. Ia mengedipkan matanya pada Eun Tak... lebih tepatnya adalah tunangan. Semua orang disana langsung ber – wow –ria. Eun Tak masih terdiam ditempatnya dengan bingung.

“Mau kencan akhir pekan ini? Mau makan siang dulu? Ayo keluar dari sini.”

Eun Tak pun akhirnya tersenyum menerima ajakan Shin.

Direstoran, Shin memesan makanan satu meja penuh. Dia ingin mempertemukan Eun Tak dengan Deok Hwa. Eun Tak penasaran, bagaimana kalau Deok Hwa tidak bisa mengenalinya karena dia tampak lebih tua. Shin menjewel pipinya dengan gemas, itu tidak akan terjadi.


Deok Hwa datang kesana dan berlagak sok seperti biasanya. Melihat keduanya duduk berdampingan, apakah ini adalah pertemuan resmi? Shin mengatakan jika mereka berdua sudah bertunangan. Dia kemudian bertanya pada Eun Tak, mau sabtu atau minggu?

“Kenapa sih kau hari ini?” tanya Eun Tak bingung.

“Waktu makan siang atau makan malam?”

Deok Hwa memilih hari minggu sore saja. Kalau malam minggu adalah waktunya dia bersenang-senang. Eun Tak masih bingung, mereka berdua sedang membicarakan apa sih. Shin mengaku kalau dia sedang menghentikan Eun Tak supaya tidak pergi kencan buta dengan pria tampan dan kaya.


Dengan PD, Deok Hwa mengatakan kalau deskripsi pria tampan dan kaya adalah dirinya. Tenang saja, Eun Tak bukanlah tipenya. Dia pun memberikan kartu namanya pada Eun Tak. Eun Tak terkejut, Deok Hwa ternyata sudah dipromosikan menjadi seorang manager. Ia banyak mendengar cerita tentang Deok Hwa, Eun Tak pun kemudian memperkenalkan dirinya.

“Ji Eun Tak? Ji Eun Tak dari surat lama itu? Ji Eun Tak yang mengenal penyewa gedungku? Banyak yang belum kau ketahui. Kau tahu samchoon makhluk seperti apa?”

“Dokkaebi. Memangnya ada yang tidak tahu?”

Deok Hwa melongo kebingungan. Siapa sebenarnya Eun Tak? Shin menghentikan ocehan Deok Hwa yang bisa berbuntut panjang. Ia meletakkan sepotong lauk di sendok Deok Hwa, makan yang banyak dan tumbuh dewasa.

Eun Tak juga minta di kasih lauk. Shin meletakkan sepotong lauk di nasi Eun Tak sambil memperingatkan supaya dia tidak kencan buta. Eun Tak meyakinkan lagipula dia akan segera menjadi wanita yang menikah.

Shin senyum – senyum bahagia karena Eun Tak menyebut dirinya sendiri sebagai Wanita yang akan menikah. Sedangkan Eun Tak sibuk bertanya-tanya pada Deok Hwa, Deok Hwa menolak menjawab sambil berkata kalau Eun Tak bukan tipenya.

Deok Hwa curhat perihal pernikahan Samchoon-nya pada Presdir Kim. Tapi dia juga ingin menikah lebih dulu daripada Samchoonnya. Presdir Kim berkata kalau Deok Hwa harus memiliki pasangan dulu sebelum menikah. Tidak usah khawatir, dia punya banyak wanita kok.

“Ya, dan itulah masalahnya. Kau tidak boleh memiliki banyak wanita. Tidak adakah satu yang benar-benar mencuri hatimu? Tidak ada yang membuatmu sampai menangis? Tidak adakah dari mereka yang membuatmu ingin mati demi dirinya?”


Deok Hwa merenung sejenak sebelum akhirnya menjawab, belum ada. Lalu kenapa Presdir Kim sendiri belum menikah?

“Tidak. Aku sudah menikah dan punya tiga anak.”

Deok Hwa sampai terkejut, kenapa dia tidak mengatakan hal itu padanya. Presdir Kim tersenyum, karena dia belum bertanya padanya. Selama ini Deok Hwa tidak perduli dengan lingkungan dan orang disekitarnya. Presdir Kim sudah menunggu Deok Hwa untuk bertanya pertanyaan yang orang dewasa biasa tanyakan. Tentang dunia perihal kesedihan maupun kebahagiaan.

Deok Hwa tersenyum menyadari dirinya memanglah belum dewasa. Ia meminta waktu sejenak, ia akan berusaha untuk tumbuh semakin dewasa.

Eun Tak ngomel-ngomel soalnya Shin tidak menanyakan dulu persetujuannya tapi langsung mengambil keputusan. Shin sibuk memperhatikan Eun Tak sambil gigit jari, dia ngeri memperhatikan cara mengemudi Eun Tak yang payah. Dia menyuruhnya supaya berkosentrasi pada jalanan saja.

Kau takut yah? Goda Eun Tak. Shin cuma merasa Eun Tak tambah dewasa saat melihatnya menyetir. Padahal sih dari ekspresinya, dia lagi was-was banget tuh. Dia mengarahkan Eun Tak untuk menyetir mobilnya ke suatu tempat.

“Kita mau kemana sih?”



Tirai terbuka, Eun Tak tampak cantik menggunakan gaun putih dan Shin tampak gagah dengan tuxedo –nya. Mereka bertatapan bahagia penuh cinta, Shin memuji Eun Tak yang tampak begitu cantik. Eun Tak balas memuji Shin yang tampan.

“Memang selalu tampak.” Balas Shin.

“Mari kita menikah. Dan biar tetap menjadi misterius.” Keduanya pun sama – sama tersenyum dengan bahagianya.


Eun Tak hadiah jam untuk pernikahannya dengan Shin. Ia meletakkan hadiahnya di meja dengan disertai sepucuk surat. Tak lama berselang, Shin masuk keruangannya dan membaca surat yang ditinggalkan Eun Tak.

[Aku menyukai setiap jalan yang kita lalui bersama. Aku menyukai segala sesuatu yang kita saksikan bersama. Aku menyukai setiap pertanyaan yang saling kita lemparkan sambil malu-malu dan semua jawaban atas pertanyaan itu. Aku mencintaimu dalam setiap momentum itu. Dari memperlaimu.]

Shin tersenyum menerima surat yang ditinggalkan Eun Tak untuknya.

Ditempat kerjanya, Penulis Oh membaca surat yang dikirimkan oleh seorang pendengar. Ia merasa surat itu jelek sekali. Eun Tak penasaran dan ikut melihat surat yang masuk tersebut. Entah apa yang terjadi, Eun Tak meminta Penulis Oh untuk membacakan surat itu, sementara dia tergesa-gesa pergi ke suatu tempat.


Dalam siaran radio, DJ membacakan surat yang mereka terima. “Untuk seseorang yang mengira telah membawa kedamaian dalam pikiranku. Saat tatapan kita beradu, aku menyadari bahwa kau juga mengingatnya. Aku berdoa di kehidupan kita selanjutnya, penantian akan sebentar, sedangkan pertemuan berlangsung lama. Kita juga tidak perlu alasan untuk saling bertemu. Tetap menggunakan nama masing-masing. Jadi, kita dapat saling menyapa saat tidak sengaja berjumpa. Cinta kita akan selalu menjadi jalan keluar. Aku berdoa kita dapat bertemu seperti itu. Aku senang melihat wajahmu. Kadang kau menjadi Kim Woo Bin. Kadang kala, kau menjadi Wang Yeo.Kuharap kau panjang umur dan bahagia. Sampai jumpa.

Wang Yeo tersentak mendengar kisah yang dibacakan DJ di siaran radio Eun Tak. Ia pun bergegas menuju ke suatu tempat. Dan tampak -lah cincin giok milik Sunny ada dimeja kamar Wang Yeo.

Eun Tak sampai ke gedung tempatnya tinggal. Seseorang mengatakan jika ia sudah menjadi pemilik gedung ini sekarang. Sunny telah menjualnya minggu lalu. Eun Tak terkejut dan bergegas pergi lagi.

Ia melihat ada sebuah surat yang ditujukan untuk Atap. Ia pun bergegas membukanya dan ternyata itu memang surat dari Sunny. Sunny mengucapkan salam perpisahan, jangan menangis. Selama ini Eun Tak tidak tinggal dengan keluarganya, ia berharap supaya dia sudah memberikan cukup kenyamanan untuk Eun Tak. Jagalah kakaknya yang keras kepala.


Shin sudah berdiri tepat dihadapan Eun Tak. Mata Eun Tak berkaca-kaca menyadari jika Sunny mengingat segalanya sendirian. Dia sudah menjaganya yang lupa ingatan padahal dia sendiri kebingungan karena kehilangan kakaknya secara tiba-tiba. Dia pasti sangat kesepian. Tapi kenapa dia sekarang pergi?

“Itu karena dia tidak bisa memaafkan orang itu. Dia memutuskan untuk tidak bertemu orang itu lagi di kehidupan ini. Tidak ada hukuman lain yang lebih besar untuk Jeoseong-saja.” Jelas Shin.

Sunny berdiri di jembatan penyebrangan menantikan kehadiran seseorang yang sangat ia rindukan. Ia pun akan menghitung 50 orang yang lewat disana. Sampai akhirnya orang yang lewat terhitung sampai 49 dan...

“Satu.” Ucap seseorang.

Sunny menoleh. Disana sudah ada Wang Yeo yang berdiri menatapnya pilu. Sunny berkata jika mereka berdua tidak akan bertemu kembali. Apakah dia boleh memeluknya? Sunny membuka lenggannya menantikan Wang Yeo.


Wang Yeo menangis memeluk Sunny. Begitupula Sunny yang tidak bisa membendung air matanya. Begitulah kisah kehidupan mereka, keduanya tidak pernah bertemu kembali setelah ini.


Wang Yeo menangis pilu di kamarnya selepas pertemuan terakhirnya dengan Sunny. Ia memeluk lukisan Kim Sun dengan pedihnya. Shin sibuk membuat makan kemudian menghidangkannya untuk Wang Yeo. Bahkan ia membuat potongan apel –nya berbentuk kelinci.

“Sunny pergi. Dia selalu pintar dalam meninggalkanku.” Ucap Wang Yeo. Ia kemudian mengembalikan lukisan Kim Sun yang selama ini ia pinjam. Semestinya ia bisa mengembalikannya lebih awal.

“Sejak awal memang bukan milikku. Itu adalah penyesalan, dosa, serta kerinduanmu. Kau yang harus menyimpannya.”


Wang Yeo memastikan, berarti dia boleh menyimpannya? Shin mengiyakan asalkan Wang Yeo mau memakan masakannya. Ia juga berterimakasih karena Wang Yeo telah menyalakan lilin di kuil selama 9 tahun kepergiannya.

Meskipun begitu, Wang Yeo merasa jika dirinya mungkin tidak pantas menyampaikan rasa hormatnya pada mereka. Tapi ia ingin menghadapi dosanya. Shin mengerti, ia berharap ada seorang saja yang mengatakan pada mereka berdua jika mereka sudah melakukannya dengan baik. Sudah saatnya mereka mengakhiri ini.
 
“Aku dengar kau ingin bertemu denganku?” tanya Pencabut Nyawa wanita pada Wang Yeo.

Wang Yeo mengatakan jika ia ingin memberitahukan sebuah rahasia. Rahasia kenapa mereka menjadi Pencabut Nyawa adalah karena sebuah dosa besar yaitu bunuh diri. Mereka terlahir kembali dan bertugas memandu orang mati dan terus bertugas antara hidup – mati. Saat mencari jawaban atas pertanyaan itu, ia sadar kalau tugas mereka akan menyadarkan betapa pentingnya kehidupan dan nama yang pernah mereka miliki.



Dan Wang Yeo tahu alasan kenapa pencabut wanita itu menghindarinya. Ia tahu kalau sembilan tahun yang lalu, ia bertemu dengan Kasim Park. Wang Yeo sungguh meminta maaf, seharusnya dia tidak memilih mati menggunakan tangan Pencabut Nyawa itu.

Ia berharap supaya Pencabut Nyawa itu bisa meneruskan tugasnya tanpa mengingat segalanya. Gunakan tugasnya sebagai penebus dosa dan memaafkan diri sendiri. Yang kuasa menginginkan mereka untuk memaafkan diri sendiri dan lebih menghargai hidup. Pencabut Nyawa menangis mendengarkan ucapan Wang Yeo.



Eun Tak menghidangkan makanan untuk Bibinya dan bergegas pergi. Bibi langsung mengatainya yang sudah punya pacar, dia berharap supaya nasib Eun Tak tidak seperti ibunya. Eun Tak jadi kesal dan berbalik, mau sampai kapan Bibi terus seperti ini? Dia sudah membuatkan upacara pemakaman yang layak. Bibi-nya sudah menjadi hantu, tidak baik berkeliaran terlalu lama.

“Beraninya bicara begitu padaku? Aku tidak bisa pergi seperti ini.  Tidak adil. Jika saja aku memiliki buku rekening itu. Seandainya kau tidak mencurinya, aku tidak akan mati di jalanan.”


Bibi yang kesal ingin memukul Eun Tak. Tapi tiba-tiba hantu gadis datang dan menahan tangannya. Beraninya dia menyakiti seseorang yang ia sayangi. Bibi tidak terima tangannya dipelintir dan membentak Si Hantu gadis. Hantu gadis marah, dia itu sunbae –nya! Sepertinya sekarang dia sudah punya teman ribut yang pas untuk di ajak ke alam baka.


Eun Tak terkejut, apa dia sudah mau pergi?

“Sudah waktunya. Terima kasih untuk segalanya. Berbahagialah selamanya dengan Dokkaebi.” Ucapnya melambaikan tangan.


Eun Tak pergi ke rumah Shin dan Wang Yeo sibuk melipat handuk. Ia bertanya dimana keberadaan Shin. Wang Yeo berkata jika Shin sedang menghirup udara segar, lagipula kali ini dia yang ingin bertemu dengan Eun Tak.

“Apa kau menerima kartu kematianku lagi?”

Bukan. Lagipula hidup Eun Tak punya banyak variable. Apa dia takut? Tanya Wang Yeo. Eun Tak mengaku tidak takut, hidupnya selama 9 tahun ini tanpa masalah tapi fakta bahwa dia adalah Roh yang hilang tidak berubah. Ia hampir tidak lahir di dunia dan ia mengantarkan kematian seseorang yang ia cintai.


Semua orang juga akan mati. Itulah kenapa saat ingatan Eun Tak kembali, dia ingin menjalani hari demi hari dengan baik. Jika hari terakhirnya tiba, ia ingin mengenang kenangannya bersama orang yang ia cintai. Oleh sebab itu, ia berjuang untuk hidup bersama dengan seseorang yang ia cintai.

“Hidupmu sudah cukup indah, kok. Kau tahu itu.”


Eun Tak tersenyum, memangnya apa yang ingin Wang Yeo berikan padanya?

Wang Yeo memberikan kotak kado besar. Saat Eun Tak membukanya, ada sebuket bunga soba. Wang Yeo pun mengucapkan selamat atas pernikahannya.


Pernikahan Eun Tak dan Shin pun dilangsungkan, hanya mereka berdua di padang bunga soba. Keduanya mengucapkan janji suci mereka disana. Keduanya saling melemparkan senyum bahagia, mereka resmi menikah sekarang.

-oOo-

3 Responses to "SINOPSIS Goblin Episode 16 Bagian 1"

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR