SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 8 Bagian 1

SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 8 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: MBC

Bok Joo terkejut mengetahui kalau Si Ho yang telah meletakkan jurnal dietnya ditempat latihan. Ia pun menuntut alasan kenapa Si Ho melakukannya.

Dengan lantang Si Ho mengaku bahwa dia tidak suka melihat Bok Joo dekat dengan Joon Hyung. Bukankah dia sudah mengatakan kalau dia ingin kembali dengan Joon Hyung? Ini adalah sebuah peringatan darinya. Bok Joo selalu bersama Joon Hyung ketika Si Ho ingin bersamanya. Itulah yang membuatnya bertindak demikian.

Bok Joo menegaskan bahwa dia tidak punya niatan berkencan dengan Joon Hyung. Lagipula Joon Hyung tidak pernah menganggapnya menarik. Kenapa juga Joon Hyung menyukainya ketika dia begitu populer?

“Jadi itu cuma salah paham?”

Iya! Bentak Bok Joo dengan marahnya, bukankah seharusnya Si Ho meminta maaf padanya sekarang?

Tidak. Si Ho tidak mau meminta maaf karena Joon Hyung telah membuatnya sakit hati gara-gara Bok Joo.

“Itu karenamu, bukan karena aku. Kau sangat agresif. Sekarang aku tahu kenapa Joon Hyung tidak menyukaimu dan tidak ingin kembali bersamamu.” Bok Joo berjalan melewati Si Ho “Kau bermuka dua!”

Si Ho tidak terima dikatai begitu, memangnya tahu apa dirinya tentang hubungan mereka berdua? Ya, Bok Joo memang tidak tahu dan tidak punya ketertarikan untuk mengetahuinya. Dia meminta Si Ho melepaskan tangannya, dia mau pergi dan tidak mau berbicara dengannya.

“Itu adalah hal yang serius diantara kami. Itulah kenapa Joon Hyung merasa terluka.”

Bok Joo menghempaskan tangannya sampai dia terjatuh. Ia yang seharusnya marah pada Si Ho bukan sebaliknya.

Nan Hee mencoba menjelaskan tentang masalah kesalahpahaman diantara mereka pada Sun Ok. Dia juga baru mengetahui masalah ini beberapa hari yang lalu, dia dan Bok Joo sama sekali tidak ada niatan mengucilkannya.

Sun Ok masih dongkol dan malas untuk mendengarkan alasannya, ia pun sibuk bermain ponsel mengabaikan Nan Hee.



Bok Joo pergi ke kamar Nan Hee dan Sun Ok, dia minta izin pada mereka untuk menginap disana sampai ia bisa menemukan kamar kosong. Nan Hee menduga kalau Bok Joo sedang ada masalah dengan Si Ho, apa dia meninjunya?

“Kenapa aku harus melakukannya? Dialah yang pertama menyerangku.” Ketus Bok Joo.

Bok Joo kemudian bertanya pada Sun Ok, apa dia tak mau sekedar say hai padanya? Sun Ok masih mengabaikan ucapan Bok Joo.

 “Ya, salahkan saja semuanya padaku. Tapi kumohon jangan marah.”

Pokoknya Sun Ok masih sebal dan tak mau mendengarkan penjelasan apapun. Nan Hee bertanya apa yang terjadi antara Bok Joo dan Si Ho?

“Aku tidak mau membicarakan itu.” Kesal Bok Joo.

Joon Hyung galau memegangi ponselnya, ia ragu untuk menghubungi Bok Joo dan merasa bersalah atas apa yang menimpanya akibat ulah Si Ho.

Episode 8: Angin yang berhembus

Akhirnya Bok Joo menceritakan apa yang terjadi pada Nan Hee. Nan Hee benar-benar marah mendengar ceritanya, ia ingin melabraknya saja. Ia pikir Si Ho berbeda dengan pesenam lainnya tapi ternyata mereka sama saja.

Bok Joo menghentikan niatan Nan Hee, dia sudah melabraknya barusan. Dari dulu memang dia sudah merasa ada yang tidak beres dengan Si Ho.

Meskipun masih belum baikan, Sun Ok diam – diam mendengarkan curhatan Bok Joo pada Nan Hee.

Ponsel Bok Joo bergetar menerima panggilan seseorang, ia mengangkatnya dengan ketus “kenapa?”

Joon Hyung sudah ada di rooftop sambil bergumam caranya bicara dan meminta maaf pada Bok Joo. Dia bingung mau bicara seperti orang yang benar – benar merasa bersalah atau bertingkah tetap cool. Tapi dia merasa kalau gayanya ga ada yang bener.

Bok Joo nongol tiba – tiba sampai membuat Joon Hyung terkejut. Dia bertanya kenapa Joon Hyun memanggilnya malam – malam begini? Bagaimana kalau penjaga asrama memergoki mereka dan salah paham?

“Itu karena panggilannya tiba – tiba terputus. Apa ada yang terjadi?”

Bok Joo meminta Joon Hyung untuk membiarkannya sendirian, dia tidak mau kalau ada yang salah paham dengan hubungan mereka. Joon Hyung menduga kalau Si Ho telah mengatakan segalanya pada Bok Joo. Dia sungguh meminta maaf atas semua yang telah terjadi.

Memang sudah seharusnya Joon Hyun meminta maaf, Bok Joo bertengkar dengan Si Ho juga karena dia.

“Maafkan aku gendut.” Ucap Joon Hyung tulus.



Akhirnya Bok Joo tidak tega untuk menyalahkan Joon Hyung lagi. Dia menyuruhnya untuk melupakannya saja. Lagipula kenapa juga Si Ho bisa jatuh cinta padanya?

“Aku menarik di berbagai hal.” Canda Joon Hyung.

“Kau malah membuatku makin marah.”

Disaat sedang berdebat, tiba – tiba penjaga asrama datang. Joon Hyung sigap menarik Bok Joo untuk bersembunyi dengan memeluknya.

Setelah penjaga asrama pergi, Bok Joo meminta Joon Hyung melepaskan pelukannya. Kalau ada yang lihat malah mereka akan semakin salah paham. Joon Hyung menolak melepaskan pelukannya, ia menyuruh Bok Joo untuk melihat bintang yang bertebaran dilangit.

Bok Joo kembali meminta dilepaskan, dia hanya memakai syal jadi ia mau cepat – cepat masuk. Joon Hyung pun menawarkan untuk memeluknya karena dia memakai jaket tebal. Bok Joo akhirnya diam dalam posisi berpelukan, dia memuji hidung mancung Joon Hyung, itu membuatnya iri. Dia selalu ingin memakai kacamata tapi kacamatanya selalu turun soalnya hidungnya pesek.

“Bok Joo, aku juga bisa melihat kalau kau cantik.”

Bok Joo merasa sedang digoda, tak ada orang lain yang mengatakan demikian kecuali ayahnya.

“Kau tidak jelek.” Ucap Joon Hyung meyakinkan.

Entah apa yang terjadi, Pelatih Choi mabuk sendirian ditempat latihan sambil menyanyikan lagu sedih. Memang benar kalau putus cinta, mereka bisa merasa dunia seperti berakhir.

“Pelatih Choi..” tegur Profesor Yoon.

Pelatih Choi buru – buru jaga sikap dan bertanya kenapa Profesor Yoon bisa ada disana jam segini. Profesor Yoon mengaku kalau dia baru saja rapat dan makan – makan dengan profesor lainnya. Ia begitu sebal karena salah satu profesor ada yang membagakan dirinya karena tim mereka memenangkan banyak medali emas.

Pelatih Choi buru – buru pamit setelah mendengarkan ceritanya. Profesor Yoon menawarkan supaya mereka bisa pulang bersama namun Pelatih Choi menolak, arah rumah mereka kan berlawanan.

Ia pun bergegas pergi bahkan saking buru – burunya sampai tanpa sengaja kakinya tersandung matras dan terjatuh.

Profesor Yoon sampai heran memperhatikan dua kaleng soju yang diminum Pelatih Choi, kenapa dia tampak begitu sedih?


Keesokan paginya, atlet angkat besi sudah berlari menuju ke tempat latihan. Profesor Yoon mengomentari stamina mereka yang payah, padahal belum lari seberapa tapi sudah terengah – engah.

Bulan depan akan ada kompetisi, Profesor Yoon mengingatkan kalau mereka semua akan menjalankan latihan dengan tingkat kesulitan tertinggi.

Sebelum masuk dalam gedung latihan, Profesor Yoon memperingatkan Pelatih Choi untuk tidak mabuk sendirian atau dia akan keblabasan dan menjadi ketergantungan dengan alkohol. Dia mengajaknya untuk minum bersama – sama saja. Pelatih Choi terkejut menerima ajakan tersebut.

“Kau tidak mau minum dengan pria yang perutnya buncit? Aku ingin mentraktirmu.”

“Tentu saja aku tidak keberatan.” Ucap Pelatih Choi.

Baiklah, Profesor Yoon mengajaknya untuk minum bersama di restoran yang pernah ia ceritakan. Belut disana enak.

Pelatih Senam kembali perhatian dengan Si Ho karena dia berhasil tampil baik dalam kompetisi kemarin. Ia sudah mengirimkan video kompetisi di Moscow ke email Si Ho, dia harap itu bisa membantu latihannya. Pelatih pun membeikan Si Ho air mineral.

Si Ho dengan sopan mengucapkan terimakasih.

Soo Bin cs bergosip atas sikap Pelatih yang kembali baik pada Si Ho padahal sebelumnya Soo Bin menjadi murid kesayangan.

“Itu tidak akan bertahan lama. Meskipun kau mengelem mangkuk yang pecah, itu akan segera pecah lagi.” Ujar Soo Bin.

Benar saja, setelah Pelatih pergi, Si Ho langsung membuang air mineral pemberiannya kedalam tempat sampah.


Si Ho keheranan karena ia mencoba menghubungi ibunya tapi panggilannya tidak diangkat. Tak diduga, adiknya Si Ho, Si On datang ke asrama dengan wajah sedih. Kenapa dia datang ke asrama?

Si On langsung menangis. Sepertinya orang tua mereka akan bercerai, mereka berdua terus bertengkar dan Ayah sudah tidak pernah pulang ke rumah lagi. Si Ho memeluknya, ia meyakinkan bahwa semuanya akan baik – baik saja.

Si Ho menemui ibunya di pabrik. Ibu sudah menduga kalau Si On yang sudah mengatakan segalanya padahal dia sudah bilang supaya Si On diam saja. Si Ho semakin geram, memangnya kapan Ibunya mau bilang padanya? Apa sampai dia bercerai? Atau sampai mereka berdua menemukan orang lain dan menikah lagi? Apa ibu akan merahasiakannya selamanya?

“Jangan meninggikan suaramu. Orang-orang akan mengenalimu.”

Bukan itu masalah mereka saat ini, Si Ho mendengar kalau Ibunya sudah menjual rumah dan ayah terlilit hutang. Ibu memintanya untuk tidah khawatir dan fokus dalam berlatih. Mana bisa Si Ho fokus, lebih baik dia keluar saja dari senam dan bekerja mengumpulkan uang.

“Siapa bilang kau bisa melakukan itu? Siapa bilang kau bisa berhenti dari senam? Apa kau pikir hidupmu ini hanya milikmu? Salah. Hidupmu adalah bagian dari hidupku, juga. Orang-orang menuduhku dan mengatakan aku mengeksploitasi putriku. Aku selalu bertengkar dengan ayahmu setiap hari dan disalahkan oleh Si Eon. Apa yang akan kau lakukan dengan itu?”

Itulah yang paling membebani Si Ho, kenyataan kalau hidupnya juga hidup ibunya. Kenapa Ibu begitu serakah akan kehidupannya? Ibu harusnya menjalani hidupnya sendiri dengan lebih baik.

Sontak Ibu langsung menampar putrinya karena ucapannya mungkin dirasa kelewatan. Si Ho benar – benar semakin kecewa dan meninggalkan Ibunya.

Joon Hyung pulang ke rumah malam – malam dengan alasan ingin memakan kari buatan ibunya. Dia tak bisa menikah dengan wanita siapapun karena tidak ada yang bisa membuat kari seenak bikinan ibunya.

“Ini adalah trik ibumu. Aku juga korban.” Timpal ayah.

Ibu dengan ketus menyuruhnya untuk menikah dengan koki kalau begitu, salah siapa dia menikah dengan seorang farmasi. Ayah – Ibu Joon Hyung akhirnya bertengkar kecil tapi keduanya malah semakin terlihat mesra saja.

Keesokan harinya, Joon Hyung kembali menemui dokter terapi. Ia telah mengacaukan segalanya, ia mencoba melatih pernafasan dan mencoba berfikir baik – baik saja namun nyatanya tak berhasil. Dia meminta uang ganti rugi atas biaya konselingnya.

Dokter meminta Joon Hyung tidak mengatakan pada siapapun atas kegagalannya, ia akan menggantinya dengan mentraktirnya makanan. Lebih baik mereka berdua mencoba mengatasinya perlahan kemudian menyelesaikannya.

“Jika kita tidak bisa memecahkannya tahun ini, aku akan hancur. Aku sudah semakin tua.” Ucap Joon Hyung.

Baiklah, Dokter kemudian bertanya masalah Ibu Joon Hyung. Bukankah dia penasaran dengan ibu kandungnya dan ingin menemuinya?

Tidak. Joon Hyung yakin kalau Ibunya melakukan semua itu karena sebuah alasan. Ia merasa mengkhianati Paman - Bibi seandainya dia mencoba mencari Ibu kandungnya. Bibi sudah membesarkannya dengan sepenuh hati.

Dokter mengerti akan apa yang dimaksud Joon Hyung, tapi ia harap Joon Hyung bisa menerima masalah sulitnya ini. Dendam pada Ibu kandungnya dan perasaan rumit pada keluarga bibinya. Seperti rasa terimakasih, rasa bersalah dan rasa lelah karena berpura – pura seolah tidak tahu apa – apa. Paling tidak perasaan itu bisa tersalurkan sekali saja sehingga traumanya bisa sepenuhnya menghilang.

Sun Ok yang pulang dari berlatih meminta Bok Joo untuk tidak duduk diranjangnya. Dia sadar kalau dirinya bukan siapa – siapa bagi Bok Joo tapi kenapa dia masih duduk ditempat tidurnya?

Bok Joo pun buru – buru pindah, tapi sekali lagi dia meyakinkan bahwa apa yang mereka lakukan itu tanpa sengaja.

Ya, Sun Ok paham. Cuma dirinya saja yang terlalu berlebihan, dia bukan teman yang pengertian juga. Ini semua karena dirinya berfikiran pendek dan tidak punya kepribadian yang memuaskan bagi mereka berdua.


“Hei. Apa kau akan terus bicara begitu? Aku juga kecewa padamu.” ketus Bok Joo.

“Apa kau marah padaku sekarang, Bok Joo?”

“Aku sudah cukup sedih. Apa kau benar-benar harus melakukan ini?”

“Kenapa kau marah pada orang lain karena kesalahanmu sendiri?”

Kamar sebelah terganggu karena pertengkaran mereka dan meminta keduanya untuk menyelesaikan masalah diluar. Nan Hee juga berbisik ketakutan, dia takut kalau sampai penjaga asrama mendengar keributan ini.

Mereka bertiga akhirnya pergi ke rooftop. Sun Ok mengutarakan perasaan kecewanya, semenjak dia pergi ke Seoul dan bersekolah disana, dia selalu menganggap keduanya sebagai saudara tapi sepertinya cuma dirinya saja yang berhalusinasi.

Nan Hee meyakinkan bahwa Bok Joo terpaksa memberitahukan rahasianya pada dia karena ia melihat SMS Bok Joo sehingga Bok Joo tidak punya pilihan selain menceritakan semuanya padanya.

“Kau harusnya memberitahuku ketika dia ketahuan oleh Pelatih Choi. Kau berpura-pura tidak tahu apapun, dan mengatakan kalau kita harus menunggu karena ini pasti sulit untuk Bok Joo. Kau membuatku terdengar seperti teman yang buruk.”

Bok Joo membela Nan Hee soalnya dia yang sudah menyuruhnya untuk merahasiakan masalah ini. Sun Ok makin kesal, lalu kenapa dia perlu merahasiakannya sejak awal?

Memangnya siapa yang mau merahasiakannya? Bok Joo juga merasa sulit sejak awal, tapi bagaimana dia menceritakannya kalau mereka berdua mungkin tidak menyukainya. Dia sudah melakukan hal yang tidak masuk akal. Bagaimana caranya dia memberitahukan mereka? Ini sungguh memalukan.

“Jika kau memberitahu kami, kami  akan mengerti. Itulah gunanya teman. Apa hanya itu arti kami untukmu?”


Bok Joo menangis sambil meminta maaf. Sun Ok jadi tidak tega dan memeluknya, dia mengerti kalau Bok Joo sudah mengalami masa sulit. Bok Joo masih terus menangis, dia berjanji tak akan merahasiakan apapun lagi.

Sun Ok akhirnya mengungkapkan kebohongannya selama ini, orangtuanya bukan membuka sebuah toko melainkan motel. Dia merasa malu untuk menceritakannya. Bok Joo meyakinkan bahwa apa yang keluarganya lakukan bukan sesuatu yang memalukan.

Nan Hee juga mengaku kalau dirinya sebenarnya belum pernah ciuman.

Yang ini lagi, Bok Joo kembali meyakinkan bahwa itu bukan hal yang memalukan sama sekali. Ketiganya pun kembali berpelukan sambil menangis.

-oOo-

2 Responses to "SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 8 Bagian 1"

  1. Semangat semangattt ditunggu part 2 nya

    ReplyDelete
  2. Terima kasih sinopsisnya. Ditunggu part 2nya mbak puji.

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^