SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 5 Bagian 2

SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 5 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: MBC

Mungkin bagi Bok Joo, Jae Yi dan Joon Hyung bagaikan surga dan neraka. Dia menatap Joon Hyung dengan penuh kebencian. Namun seketika memperhatikan Jae Yi yang tengah membantu anak kecil mengambil makanan, Bok Joo langsung tersenyum “Dia manis sekali.”

Jae Yi memberikan sepiring makanan yang bagus untuk orang diet. Joon Hyung mengomentari sikap kakaknya yang terlalu baik sehingga dia begitu populer dikalangan wanita.

Sontak Bok Joo tersedak dibuatnya. Joon Hyung meminta Bok Joo supaya pelan – pelan makanya, dia kasihan melihat Bok Joo harus makan seperti itu.. “Mana dia punya kekuatan untuk mengangkat beban.. tidak.. barbel.. bukan, maksudku cello.”

“Terimakasih atas perhatiannya.” Kesal Bok Joo.


Jae Yi ikut kasihan, pasti berat untuknya harus diet selama bermusik. Bok Joo mengaku kalau dirinya baik – baik saja. Joon Hyung mengangkat tangan Bok Joo “Benar. Beberapa orang diberi kekuatan sebagai kelebihan. Lihat lengannya, dengan lengan seperti ini kau bisa menjadi atlet. Contohnya seperti, angkat besi 130 kg!”

Bok Joo menarik tangannya, dia tak menyukai olahraga.

“Kau menyukai sepak bola. Messi, lebih tepatnya.” Sela Jae Yi. Dia kemudian bercerita mengenai pertandingan messi semalam dan... ceritanya harus terpotong karena dia menerima panggilan dari seseorang. Ia pun permisi pergi sebentar.


Joon Hyung ingat betul kalau Nan Hee pernah menanyakan hal semacam itu padanya. Ia pun bertanya apakah Bok Joo dan temannya sering menanyakan tentang Messi pada semua orang? Apa Messi mengetahui fakta mengerikan ini?

Bok Joo memintanya untuk berhenti kemudian mengangkat gelasnya seperti mau menumpahkan minum padanya. Tepat saat itu Jae Yi kembali, Bok Joo pun pura – pura menyodorkan minumannya “Minum air saja. Nanti kau bisa menelannya..”

Jae Yi pun kembali menceritakan tentang pertandingan bola semalam. Dia bertanya pada Joon Hyung tapi Joon Hyung mengaku kalau dia tak menonton  bola, dia nonton pertandingan angkat besi.

Sontak Bok Joo langsung komat – kamit kesal padanya lagi.


Sepulangnya makan malam, Jae Yi berniat mengantarkan mereka berdua pulang. Bok Joo menolak dan menghalangi Joon Hyung yang meronta minta diantar kembali ke asrama. Bok Joo tetap menahannya, mereka berdua baru bertemu jadi ada banyak hal yang ingin dibicarakan berdua.

Jae Yi sependapat dan membiarkan keduanya untuk berbicara empat mata.

Setelah Jae Yi pergi, Bok Joo menyuruh Joon Hyung untuk ikut bersamanya. Dia tak mau membuat keributan jadi ikut saja! Joon Hyung langsung memanjatkan doa dengan takutnya, takut kena damprat!

Bok Joo membawanya pergi ke gedung tak berpenghuni dengan hawa serem. Joon Hyung sampai bergidik ngeri dibuatnya. Bok Joo tak akan membunuhnya dan menguburnya disini kan?

Bok Joo dengan wajah serius mengajak Joon Hyung untuk membuat kesepakatan. Dia tak bisa terus seperti ini karena khawatir jika Joon Hyung mengatakan sesuatu pada seseorang. Kalau terus begini, dia bisa mati. Lebih baik mereka membuat kesepakatan, sebuah perjanjian besar yang dilakukan dalam sehari.

“Apa maksudmu?”

“Kau boleh memilih.”

Bok Joo mendekati Joon Hyung kemudian menyodorkan wajahnya secara tiba – tiba “Kau ingin memukulku kan?”

Sontak Joon Hyung memundurkan tubuhnya. Kalau mau menunjukkan wajah padanya, berikan peringatan dulu. Joon Hyun menolak usulan untuk memukul wajah Bok Joo, dia bukan seorang preman.

“Apa yang kau inginkan? Uang?”

“Memangnya kau bisa memberikanku uang berapa?”

Bok Joo dengan wajah kasihan mengaku kalau dia memang punya uang sedikit sekarang, tapi dia akan mencoba menambahnya.

Hmmm... Joon Hyung tak tahu apa yang sebenarnya ia butuhkan untuk menutup mulut karena dia cukup menikmati kelemahan Bok Joo. Dia tak membutuhkan uang tapi kalau memukul Bok Joo, itu hanya akan membuat tangannya pegal. Jadi... dia akan memikirkannya terlebih dulu. Karena hanya sekali maka ia tak akan menyia – nyiakannya.

Joon Hyung memperingatkan bahwa mereka harus segera pulang, mereka mungkin akan ketahuan pulang telat.

Sepulangnya ke asrama, Tae Kwon bertanya apakah Joon Hyung bertemu dengan Ki Suk?

“Tidak. Memangnya kenapa? Apa dia bilang mau membunuhku.”

Ya. Dan yang lebih parah, Ki Suk menunjuk Joon Hyung untuk ikut lomba mengangkat karung yang paling dibenci semua orang. Tak ada yang mau melakukannya dan Ki Suk menulis nama Joon Hyung begitu saja. Joon Hyung kesal, seharusnya dia menghentikan Ki Suk.

Mana Tae Kwon berani, dia tak punya kekuatan atau apapun. Terserah saja, Joon Hyung tidak akan datang saat perlombaan itu, dia lebih baik kabur dan mendapatkan hukuman setelahnya. Lalu apa yang kau lakukan?

Tae Kwon bergumam.. cheer.. cheer..

“Apa? Bicara yang jelas, jangan cuma komat – kamit!”

“Cheerleading!!” ucap Tae Kwon sambil menunjukkan gerakannya.

Keesokan paginya ketika sedang latihan, Ki Suk menghampiri Joon Hyung dan membahas dirinya yang kembali keluar tengah malam. Mungkin baginya jalan – jalan adalah sebuah bagian dari latihan sekarang.

“Sesuatu terjadi dirumah.” Bohong Joon Hyung.

Baiklah. Ki Suk tak akan menghukum Joon Hyung dengan hukuman biasanya, dia menyuruhnya untuk membersihkan kolam.

Ketika beristirahat, Tae Kwon khawatir akan nasib Joon Hyung kalau benar dia tidak mengikuti lomba. Joon Hyung masa bodo, memikirkannya saja sudah membuat pusing. Bagaimana dengan cheerleading Tae Kwon, apa semuanya berjalan baik?

Meskipun cheerleading identik dengan cewek, tapi Tae Kwon berlagak seperti menyukai apa yang ia lakukan kali ini.

Saat keduanya sedang berbicara, Shi Ho sudah menunggu Joon Hyung untuk mengajaknya makan pizza bersama. Dia tahu tempat pizza yang enak. Tae Kwon yang merasa terabaikan akhirnya pun memutuskan untuk pamit pergi.

“Kenapa kau melakukan semua ini?”

“Aku ingin mencoba yang terbaik.”

Joon Hyung memperingatkan bahwa hubungan pencintaan tidak seperti olahraga. Usahanya tidak akan menjamin kesuksesan. Tetap saja, Shi Ho ingin mencoba yang terbaik dan melihat apakah ada perubahan? Dia akan berhenti jika memang sudah tak memungkinkan lagi. Joon Hyung adalah satu – satunya yang bisa ia genggam saat ini.

“Learn to stand on your own two feet. Everyone lives his or her own life. You can't expect anyone to solve your problem.”

Joon Hyung berjalan meninggalkannya, dia menolak untuk makan pizza dengan Shi Ho.

Shi Ho melihat punggung Joon Hyung yang meninggalkannya pergi. Kenangan masa lalunya kembali terulas, saat dimana Shi Ho dan Joon Hyung janjian jalan. Joon Hyung keluar rumah dengan rambut masih basah, dia mengaku terburu – buru karena “seseorang”.

Dengan penuh kasih sayang, Shi Ho mengelap rambut Joon Hyung. Ia mengajaknya mencari pizza karena dia ingin melihatnya makan pizza.

“Kalau begitu aku ingin melihatmu menontonku makan pizza.” Balas Joon Hyung kemudian memberikan kecupan kilat pada bibir Shi Ho.

Dan semua itu sekali lagi.. hanyalah kenangan.. Kini Shi Ho menatap punggung Joon Hyung dengan tatapan sendu “Aku akan menerima hukumanku. Aku akan melakukan apapun yang kau pikir pantas aku dapatkan jika itu artinya kita bisa kembali bersama lagi.”

Pelatih menyemangati departemen angkat besi supaya bisa memenangkan kompetisi nanti. Mereka terkenal akan kekuatan serta ketahanan mereka. Dia berniat menceritakan banyak hal namun seperti biasa, Pelatih Choi memperingatkan bahwa Pelatih Yoon punya pertemuan nanti.

Pelatih Yoon mengerti dan mengakhiri pertemuan dengan segera.

Salah satu dari anak angkat besi mengatakan kalau Woon Ki sepertinya akan naik kelas angkat besi, dia mendengar pembicaraan antara Pelatih Choi dan Yoon. Sepertinya Woon Ki akan digantikan olehnya karena mereka berada dikelas angkat besi yang sama.

Anak itu pun bersyukur kalau memang demikian karena dengan begitu dia memiliki kesempatan untuk bekompetisi.


Sepulangnya dari berlatih, Woon Ki duduk sambil bermain ponsel didepan gedung. Ia tersenyum ketika memperhatikan foto bayi mungilnya di layar. Teman Woon Ki Menghampirinya dan memberikan sebotol minuman. Dia menyuruhnya untuk lebih memperhatikan tubuhnya sendiri, kenapa dia mencoba naik kelas saat kelulusan sudah didepan mata? Apa dia merasa bertanggung jawab karena dia adalah ketua tim.

“Aku hanya mengetes batasku.”

“Itu bisa merusak kesehatan. Belajarlah untuk memikirkan dirimu sendiri. Jangan bertindak berlebihan untuk kami. Pikirkan dirimu lebih dulu.” Sarannya.

Tae Kwon yang sudah lelah berlatih mengajak Joon Hyung untuk menyelesaikan latihan hari ini dan bermain game. Joon Hyung menolak dengan alasan apapun. Tae Kwon mengancamnya kalau dia akan mengadu pada Ki Suk kalau besok Joon Hyung tak mau ikut lomba.

“Terserah! Lakukan yang kau mau!”

Tae Kwon duduk disampingnya dengan wajah lesu, terus ngedumel sebal.

Joon Hyung kemudian menerima pesan dari Shi Ho “Apa kau sudah makan? Aku sedang berlatih sekarang.”

Semakin sebal menerima pesan tersebut, Joon Hyung menarik beban latihannya dengan gerakan cepat. Tapi tanpa sengaja tangannya tersentak dan kesakitan karenanya.

Joon Hyung harus berakhir di UKS dan harus diurut oleh Ah Young. Ponselnya kembali berbunyi menerima pesan dari Shi Ho lagi namun ia memilih mengabaikannya. Ah Young bisa menebak kalau dia menerima pesan dari seorang wanita, jangan bersikap jual mahal atau dia akan kehilangannya.

Tak mau dinasehati, Joon Hyung menyarankan supaya Ah Young lebih cepat bertindak. Sekarang kakaknya populer dikalangan wanita, nanti dia kehilangan kesempatan untuk mendarat.

Meskipun mengelak, Ah Young tetap penasaran “Adakah seorang model anggun yang datang ke kliniknya?”

“Model? Siapa yang kau maksud?” tanya Joon Hyung.

Model yang mungkin dia maksud kini tengah sit up –ria, berusaha untuk mengurangi berat badannya. Shi Ho memuji kerja kerasnya belakangan ini. Bok Joo beralasan kalau ABS –nya tak terlalu kuat jadi dia harus bekerja keras.

“Ngomong – ngomong, apa kau melihat Joon Hyung hari ini?”

“Tidak. Shi Ho, maaf tapi tidak bisakah kau tidak  menyebutnya sekarang ini?”

“Kenapa?” Shi Ho merasa aneh.

“Aku mengalami hal yang berat karena dia. Sesuatu membuatku merasa tak nyaman jadi jangan tanya lagi.”
-oOo-

Keesokan harinya, lapangan sudah ramai berisi anak – anak yang akan saling berlomba. Tae Kwon berkeliling menggunakan seragam cheerleading warna ungu muda dengan centilnya, berlari kesana kemari tanpa malu.

Shi Ho memujinya kemudian bertanya tentang keberadaan Joon Hyung. Tae Kwon berbisik bahwa Joon Hyung sebenarnya kabur, dia tak mau mengangkat karung beras.

“Kemana dia pergi?”

Joon Hyung menghabiskan waktunya untuk bermain game disaat teman – temannya tengah berlomba.


Tim Angkat Besi akan beradu dengan Anak Senam, atmosfer persaingan diantara mereka sangat kuat. Keduanya sama – sama mengaku tak mau kalah namun ketika lomba dimulai, anak angkat besi bisa mendominasi permaian lempar bola dan mengalahkan mereka.

Lomba angkat karung beras akan segera dimulai, Ki Suk melihat nama Joon Hyung tertera di daftar perwakilan. Ia langsung menghampiri Tae Kwon untuk menanyainya. Tae Kwon pura – pura tidak tahu namun Ki Suk menarik bajunya dengan kesal, dia harus membawanya kemari sekarang juga!

Shi Ho berhasil menemukan Joon Hyung tanpa kesulitan, dia tak ada di kolam renang, lapangan basket ataupun cyber cafe sehingga ia bisa menebak kalau Joon Hyung ada di PC bang. Apa dia sibuk hari ini, kenapa dia tak membaca pesannya?

“Tidak, aku tidak akan membacanya meskipun aku tidak sibuk.”

Ponsel Joon Hyung berbunyi menerima panggilan dari Tae Kwon, tak perduli, ia mengabaikannya begitu saja.

Disisi lain, Tae Kwon terus merutuk sebal karena panggilannya terabaikan. Saat ia menoleh, tanpa sengaja ia malah berhadapan dengan Bok Joo yang menggunakan masker di siang bolong dan membuatnya terkejut. Bok Joo meminta maaf karena dia kepanasan jadi menggunakannya.

“Apa kau melihat Joon Hyung?”

“Tidak. Kenapa?”

“Bukan apa – apa.”

Tak lama kemudian, ponsel Tae Kwon berdering. Ki Suk mengancamnya untuk bergegas membawa Joon Hyung dalam lima menit. Lakukan apapun untuk membawanya, kalau keduanya tidak muncul maka mereka berdua dalam masalah.

Mendengar Tae Kwon terus ngomel setelah panggilan berakhir, Bok Joo bertanya apakah Joon Hyung melakukan sesuatu? Tae Kwon membenarkan, dia kabur dari perlombaan angkat karung beras dan mereka bisa mendapatkan hukuman karenanya.

Tae Kwon terus ngedumel gaje, kesel karena temannya membuat kesialan untuknya. Bok Joo mendapatkan sebuah ide brilliant dan meminjam ponsel Tae Kwon untuk menghubungi Joon Hyung.

Joon Hyung awalnya bingung mendengar suara Bok Joo di nomor temannya. Bok Joo tanpa basa – basi mengatakan bahwa hari ini sudah tiba waktunya. Dia akan membantu Joon Hyung dan sebagai gantinya, dia tak boleh lagi menertawakannya dengan kelemahannya “Aku menganggapnya sebagai jawaban ya.”

Bok Joo tak memberikan kesempatan Joon Hyung untuk bicara dan segera mematikan ponselnya. Joon Hyung yang kebingungan pun memutuskan meninggalkan PC Bang untuk menemui Bok Joo.

Anak Angkat Besi merasa gatal melihat tumpukan karung beras, mereka ingin mengangkatnya. Seharusnya mereka diperbolehkan untuk mengikuti perlombaan ini. Pelatih Choi rasa kalau mereka ikut serta maka perlombaan menjadi tak adil, toh kalau tim judo menang sama saja tim angkat besi menang. Pelatih Yoon berharap kalau Tim Judo bisa memenangkan lomba.

“Tentu. Tidak mungkin Tim Perenang lebih kuat dari Tim Judo kan?” Pelatih Choi percaya diri.

MC meminta Tim Perenang segera mengirimkan perwakilannya. Ki Suk marah, ia menyuruh siapa saja yang kiranya paling kuat untuk maju bermain. Tae Kwon datang dengan terburu – buru.

“Maaf. Seseorang yang seharusnya berpartisipasi sedang sakit. Daripada dia, bolehkah orang lain menggantikannya?”

Ki Suk tak terima, ia tetap meminta Joon Hyung datang. Tae Kwon meminta yang lain untuk menjagal Ki Suk, kemenangan mereka adalah yang terpenting saat ini. Ia pun kemudian mengundang perwakilan Tim Renang ke arena lomba.


Sudah pasti pengganti Joon Hyung adalah Kim Bok Joo. Nan Hee dan Sun Ok berteriak supaya dia cepat kembali ke bangkunya. Bok Joo memalingkan wajah, mengabaikan mereka semua dan mengikuti perlombaan.

Beban 40 kg pun di angkat dengan mudah olehnya. Perlombaan terus berlanjut menyisakan Bok Joo dan perwakilan dari Tim Judo.


Joon Hyung sampai ke tempat lomba dan menyaksikan Bok Joo menggantikan posisinya. Ia tampak sangat tidak enak hati, dia sama sekali tidak berfikiran untuk menggantikan siapapun untuk lomba ini.

Tapi apa daya, Bok Joo sudah bekerja keras dalam lomba dan memenangkan perlombaan angkat karung tersebut.

Akhirnya Tim Angkat Besi harus menerima kekalahan dan mereka terpaksa berada di posisi kedua. Pelatih Yoon meminta mereka jangan bersedih hati, tak selamanya mereka harus berada di posisi pertama. Meskipun poin yang mereka butuhkan cuma satu saja, satu poin saja sudah menjadikan mereka sebagai jawara.

Pelatih Yoon pergi dengan wajah kesal. Pelatih Choi mengingatkan supaya mereka memijat otot mereka dan jangan datang terlambat esok hari.

“Ya ampun.. Kim Bok Joo.. anak itu...” desis Pelatih Choi saat berjalan pergi.

Semua orang pun menyalahkan kekalahan mereka karena Bok Joo yang sudah berkhianat. Salah satu Sunbae memintanya tak memakan burger dan meminta pada anak perenang saja sana. Bok Joo cuma bisa manyun sambil meminta maaf pada mereka.

Wook Ki dengan bijak menghentikan perkelahian diantara mereka, ia menghukum Bok Joo untuk membereskan ruang latihan sebelum pergi.

Setelah selesai membereskan semua sampai, Bok Joo dengan tak hati – hati meminta maaf. Dia sama sekali tidak tahu apa yang seharusnya ia katakan pada mereka. Nan Hee menuduhnya kalau ia menyukai Joon Hyung. Alasan paling bisa diterima kenapa dia mau mengangkat karung dan membuat segalanya menjadi rumit, pasti ini semua karena dia menyukai Joon Hyung.

“Aku tidak menyukainya.”

“Lalu jelaskan kenapa kau melakukannya sehingga kita bisa mengerti.”

Bok Joo tentu saja bingung mengatakannya. Sun Ok terpengaruh dengan ucapan Nan Hee dan menuduhnya menyukai Joon Hyung. Tapi kenapa hanya demi pria, dia rela mengkhianati mereka?

“Aku benar – benar... itu bukan yang sebenarnya terjadi!”

Joon Hyung memarahi Tae Kwon karena dia tak mencoba untuk menghentikan Bok Joo dan membuat situasinya menjadi rumit. Dia pasti dianggap sebagai pengkhianat oleh anak angkat besi. Tae Kwon sih menanggapi enteng, lagipula ini cuma track meet biasa jadi bukanlah sebuah masalah.

Tepat saat itu, Bok Joo keluar dari gedung latihan dan berpapasan dengan keduanya. Nan Hee melihat mereka berdua, ia langsung membuat kesimpulan akan kedatangannya. Joon Hyung tanpa buang waktu langsung mengajak Bok Joo pergi, mereka harus berbicara berdua.

“Apa yang sedang kau pikirkan?!” kesal Joon Hyung.

Bok Joo kan sudah menjelaskannya di telefon, dia tak mau lagi di ejek karena kelemahannya. Dia gila kalau sampai membeberkan rahasianya setelah ia melakukan semua ini. Jadi jaga mulutnya baik – baik!

“Kau pikir aku orang macam apa? Meskipun kau pikir aku pendek akal, bagaimana bisa kau beranggapan aku akan mengatakan pada tim –mu?”

Bukan. Bok Joo hanya khawatir kalau Joon Hyung keceplosan bicara pada kakaknya. Jadi dia memohon supaya Joon Hyung tak mengatakannya, ia tak mau kalau Dokter Jung mengetahui kebohongannya.

Joon Hyung tampak kecewa dengan jawaban Bok Joo, apa dia begitu menyukai Hyung –nya? Baiklah. Memangnya apa yang dia suka dari Hyung?

Bok Joo hanya menyukainya. Dia tak berharap mendapatkan balasan, ia hanya ingin melihatnya dan menyukainya. Bok Joo meminta maaf karena sudah menyukai kakak Joon Hyung.

Ia pun pergi dengan kesalnya.

Tae Kwon diapit oleh Nan Hee dan Sun Ok. Tae Kwon paling grogi dan mencoba berkenalan bersama mereka berdua. Ia meminta maaf karena temannya telah membuat situasi yang sulit. Nan Hee dan Sun Ok tak mempermasalahkannya, yang membuat masalah adalah Joon Hyung. Sepertinya dia juga sudah mempermainkan perasaan Bok Joo.

Benar. Tae Kwon sudah sering memberikan nasehat tapi tak pernah didengarkan, sebagai teman yang baik, ia akan terus mencoba menasehatinya.

Bok Joo berjalan melewati mereka dengan berjalan cepat, Nan Hee dan Sun Ok reflek mengikutinya.

Tae Kwon menghampiri Joon Hyung dengan kaki gemetar ketakutan. Kenapa dia lama sekali bicaranya?


Malam harinya, mereka bertiga minum – minum. Nan Hee dan Sun Ok menyuruhnya untuk melupakan segalanya (dalam artian Joon Hyung). Bok Joo terus mengelak tapi keduanya terus menuduhnya hingga akhirnya Bok Joo lelah, dia menyuruh mereka berdua beranggapan saja sesukanya.

Nan Hee menunjukkan foto pria koleksinya dan menyuruhnya untuk berkenalan dengan mereka.

Bok Joo menatap langit “Aku merindukanmu!!”

Sun Ok dan Nan Hee putus asa “Hei!”

Dalam bayangan Bok Joo, dilangit ada wajah Jae Yi mengenakan jas dokter dan tersenyum menyambutnya.
-oOo-


Keesokan paginya, Shi Ho bertanya kenapa Bok Joo mau menggantikan Joon Hyung dalam perlombaan angkat karung?

“Aku hanya mempunyai sebuah alasan. Aku hanya bisa bilang begitu. Ini urusan pribadi, aku minta maaf.”

“Kau orangnya penuh rahasia juga.” Ucap Shi Ho.

Ponsel Bok Joo berdering menerima hadiah tiket nonton orkestra dari Joon Hyung. Ia menyuruhnya untuk berpura – pura kalau ia ke tempat orkestra tanpa sengaja, dia juga sudah mengirimkan tiket untuk kakaknya.

Reflek Bok Joo tersenyum kecil dan Shi Ho melihatnya. Ia pun semakin mencurigai sesuatu.

Saat makan pagi, Bok Joo masih terus kepikiran masalah orkestra. Datang? Tidak? Dia akan merasa aneh kalau aku duduk disampingnya. Kalaupun datang, ia mau pakai untuk ke tempat orkestra.

Joon Hyung dan Tae Kwon selesai membersihkan kolam. Ia menerima hukuman tersebut dari Ki Suk. Tapi masih untuk teman Joon Hyung menang jadi hukumannya sedikit lebih ringan. Ia bertanya apakah Bok Joo benar – benar menyukainya? Teman – temannya sepertinya beranggapan seperti itu.

“Mereka salah paham. Dia menyukai orang lain.”

Keduanya tanpa sengaja melihat Sun Ok dan Nan Hee hanya berdua. Dimana temannya Joon Hyung?

“Aku yakin dia sedang sibuk bersikap anggun sekarang.”

Yap. Bok Joo sampai ke tempat orkestra dengan memakai rok dan jepit rambur merah. Ia pura – pura terkejut saat bertemu dengan Jae Yi disana. Jae Yi tak menyangka bisa bertemu dengannya, ia mendapatkan tiket orkestra dari Joon Hyung.

“Aku selalu ingin mendengarkan orkestra ini. Bahkan tempat duduk kita bersebelahan seperti sudah dipersiapkan.”

Jae Yi sempat pangling melihat Bok Joo, kenapa dia terlihat seperti orang yang berbeda?

Bok Joo malu – malu mengatakan kalau dia harus menyesuaikan tempat dan pakaian meskipun dia sendiri merasa tak nyaman.

Bok Joo berjalan menuju ke tempat duduknya dan sepatu yang ia gunakan masih terdapat label yang tandanya ia baru membelinya.

Selama pertunjukan musik, Bok Joo terus memandangi Jae Yi. Curi – curi pandang kemudian tersenyum kasmaran sepanjang waktu.

Seusai pertunjukan, Jae Yi menawarkan diri untuk mengantarnya. Bok Joo sempat menolak tapi akhirnya ia setuju juga untuk diantarkan ke pemberhentian bus.

Pelatih Choi menghubungi Bok Joo namun Bok Joo mengabaikan panggilannya.

Dalam perjalanan pulang, hujan turun dengan derasnya. Jae Yi rasa selama pertemuannya dengan Bok Joo selalu hujan. Bok Joo membenarkan, mungkin awan hitam selalu mengikutinya.

“Tidak. Kebalikannya. Cahaya matahari selalu mengikutimu.” Ucap Jae Yi.

Bok Joo jadi malu “Tidak.”

Bok Joo kemudian memintanya untuk berbicara santai saja padanya, dia jauh lebih muda ketimbang Jae Yi. Jae Yi menolak karena Bok Joo tetaplah pasiennya, dia harus tetap profesional akan hal itu.

“Pa..pasien? ah..”

“Bukan pasien semacam itu. Jangan salah paham.”

Bok Joo keceplosan mengatakan kalau Jae Yi terkadang imut... oppss... maaf dia sudah bersikap kurang sopan. Jae Yi tidak masalah, baru pertama kali ada yang mengatainya imut.

I'm glad. I'm glad that I passed along that street on the day I carried the dressing table. I'm glad that it was raining, and I didn't take an umbrella. I'm glad that... I didn't give up running towards him. I’m so glad that I was born as a girl.” – Kim Bok Joo.

e)(o

0 Response to "SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 5 Bagian 2"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^