SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 11 Bagian 2

SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 11 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: MBC

Bok Joo sedang mengepel lantai tapi Ayah melarangnya, dia membiarkan Bok Joo cuti bukan untuk mengepel lantai. Dia bisa beristirahat atau melakukan apapun yang ia inginkan. Dae Ho juga melarang Ayah untuk melakukan pekerjaan, lebih baik dia ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Bok Joo menawarkan diri untuk mengantarkannya namun Ayah menolak tawaran itu.

Karena tak punya pekerjaan, Bok Joo iseng menulis bucket list –nya. Pertama, dia ingin belajar di perpustakaan. Kedua, ia ingin berlatih instrumen misalnya piano. Ketiga, pergi ke taman hiburan pada akhir pekan dan menaiki lima wahana termasuk Mad Swing dan Pirate Ship. Keempat, mendapatkan pacar. Minum bersama dan berjalan dengan meletakan tangannya di saku sang pacar. Selain itu, dia juga menginginkan bucket bunga darinya.
Anak – anak angkat besi penasaran kenapa Bok Joo mengambil cuti, mereka pun bertanya pada Nan Hee dan Sun Ok. Nan Hee dan Sun Ok juga tidak tahu dengan pasti, mungkin sedang kurang enak badan.
“Tidak masuk akal. Kita tidak bisa cuti setiap kali merasa tidak enak badan.” Keluh yang lain.

Profesor Yoon datang dengan riang –nya, tapi keriangan yang ia tunjukkan sangat jelas dibuat – buat. Dia mencoba menyemangati anak angkat besi supaya berlatih keras meskipun turnamen sudah berakhir. Mereka harus tetap menunjukkan hasil yang bagus. Semangat!

Anak angkat besi tidak menjawab ucapannya. Profesor Yoon menjadi canggung kemudian meninggalkan mereka setelah memberikan apel pagi.

Woon Ki menemui Profesor Yoon untuk mempertanyakan nasib dari Pelatih Choi. Profesor Yoon mengaku sudah menekan Ketua, jadi Pelatih Choi akan segera kembali. Dia menyuruh Woon Ki untuk tidak mengkhawatirkan masalan ini, yang perlu ia lakukan hanyalah berlatih. Hanya itu yang bisa membantu Pelatih Choi saat ini. Woon Ki mengerti, dia pun pamit meninggalkan ruangan.

Profesor Yoon menatap papan organisasi dan melihat wajah Pelatih Choi disana. Ia belum juga menghubunginya sampai saat ini, dasar gadis berhati dingin.


Pelatih Choi sedang memandangi ponselnya sambil bergumam kalau sekarang mungkin mereka sudah memulai pelatihan musim dingin. Ia kini hanya bisa bantu – bantu disalon keluarganya. Saat sedang sibuk mengambil handuk, seseorang menghubungi nomornya.

“Hai, ini Kim Dae Ho.”

“Kau pamannya Bok Joo kan?”

“Kau tidak ada acara malam ini? Aku akan mentraktirmu minum.”


Bok Joo melaksanakan bucket list pertamanya untuk belajar di perpustakaan. Dia duduk dihadapan anak SD dan anak itu langsung meringis remeh melihat Bok Joo mengeluarkan buku belajar bahasa inggris dasar. Bok Joo menatap anak itu, jiwa pesaingnya tertantang dan membuka tempat pensilnya dengan semangat.

Tapi selang beberapa saat, Bok Joo sudah terlelap diatas bukunya. Anak itu sengaja bersin dan Bok Joo langsung berteriak kaget “Uwaaa!” sontak semua orang menatapnya.

Bucket list kedua adalah berlatih piano. Lagi – lagi dia diremehkan oleh anak kecil, berapa umurmu? Pelatih bersikap ramah pada Bok Joo, karena dia masih sangat baru dalam hal piano maka dia harus berlatih tiga kali seminggu dengan biaya 150 dollar.


Bok Joo rasa biaya berlatihnya begitu mahal. Dia harus mendapatkan uang dengan pekerjaan paruh waktu. Dalam perjalanannya, Bok Joo tanpa sengaja melihat Jae Yi yang sedang membantu Ahjussi untuk mengangkut barang. Dia pun kontan bersembunyi dibalik tiang “Dokter Jung masih baik seperti biasa.”

Bok Joo menggelengkan kepalanya, membuang jauh – jauh perasaan sukanya pada Jae Yi. Yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari pekerjaan paruh waktu.


Bok Joo memohon pada Ahjussi untuk menerimanya sebagai karyawan angkat barang. Ahjussi tentu menolak, pria yang kekar saja tidak bisa bertahan selama seminggu apalagi gadis sepertinya. Bok Joo berkata kalau dia bukan gadis, dia adalah atlet angkat besi. Ia bisa mengangkat beban sampai seratus kilogram. Ia bahkan memenangkan medali di turnamen baru – baru ini.

Mau menjelaskan apapun, Ahjussi menegaskan bahwa angkat besi dan pekerjaan itu adalah hal yang berbeda. Punggungnya harus sekuat besi.


Ada seorang pria yang kesulitan memindahkan barang. Bok Joo dengan entengnya mengambil alih gardus besar yang dibawa pria itu dan mengangkatnya ke bak mobil. Dia pun mengangkat gardus lain dengan enteng.

Pria yang dibantu Bok Joo sampai melongo melihat kekuatan Bok Joo. (Cameo Ji Soo)

Joon Hyung sibuk membersihkan tempat renangnya. Ia menunggu panggilan dari Bok Joo tapi ponselnya masih sepi sampai sekarang. Ia menduga kalau Bok Joo mungkin sedang tertidur saat ini.

Ponselnya berdering, Joon Hyung mengeceknya dengan harapan Bok Joo yang menghubunginya. Sayangnya zonk, Jae Yi –lah yang menghubungi Joon Hyung.

Joon Hyung menemui Jae Yi di pinggir lapangan, ada apa dia menemuinya? Jae Yi kesana untuk menemui Ah Young dan ia pikir bisa bertemu dengan Joon Hyung juga. Joon Hyung tanya apakah Jae Yi sudah makan malam dengannya?

“kita akan melakukannya.”

“Kau memang benar – benar tahu bagaimana memenangkan hati wanita.”

Jae Yi sadar akan apa yang ia lakukan, tapi dia juga tidak merasa kesimpulan yang dibuat Joon Hyung itu benar. Motto hidupnya hanya tidak ingin menjadi b*jing*n. Joon Hyung rasa itu yang membuatnya semakin buruk, kalau dia b*jing*n maka ia bisa langsung mengumpatnya.


Jae Yi menanyakan kabar tentang Bok Joo, dia masih sedikit mengkhawatirkannya. Joon Hyung langsung sewot, menyuruhnya untuk tidak menunjukkan ketertarikan pada Bok Joo. Dia yang akan menjaganya.

Jae Yi meringis penuh arti “Hei, apa kau... aku berfikiran benar tentang hal ini. Kalian lebih dari sekedar teman kan?”

Joon Hyung belum yakin, mungkin dia sudah gila tapi yang jelas Bok Joo bukan tipenya. Jae Yi rasa cinta bukan sekedar masalah tipe, kalau dia menyukainya maka dia akan tetap menyukainya. Ia sadar mata Joon Hyung tampak bersinar jika bersama Bok Joo.

Joon Hyung langsung mengomentari Jae Yi yang lelet dalam menyadari sikap Bok Joo padanya. Harusnya dia tahu saat Bok Joo tanya soal Messi. Jae Yi sungguh tidak menyadarinya saat itu. Lalu, kapan Joon Hyung akan mengungkapkan perasaannya?

Belum saatnya, Joon Hyung akan menanti sampai waktu yang tepat karena sekarang Bok Joo sedang mengalami keterpurukan. Dia memperingatkan supaya Jae Yi tidak membuat Bok Joo menangis lagi atau dia akan... menendangnya.

“Wah.. kau membuatku takut.”


Soo Bin sedang bergosip dengan temannya. Kemudian mereka berdua melihat Si Ho sedang meregangkan kaki sambil terus diam. Mereka menduga kalau Si Ho sedang melamun lagi, dia juga punya lingkaran hitam dibawah matanya.

Tapi Si Ho bukan sedang melamun melainkan ketiduran. Dia akhirnya terjatuh dan meringis kesakitan.

Ah Young dan Jae Yi makan gukbap direstoran langganan mereka dulu. Jae Yi merasa restorannya tidak berubah. Ah Young membenarkan karena hanya manusianya saja yang berubah “Oh, ya. Sang Gu tidak menampakkan diri. Aku ingin tahu kalau semua berjalan baik untuknya.”

Jae Yi kurang suka mendengar nama Sang Gu disebutkan dan ia pun hanya memberikan jawaban pendek. Ah Young bertanya bagaimana progres hubungan Bok Joo dan Joon Hyung? Ia rasa wanita licik kurang cocok dengan Joon Hyung. Ia pantas dengan Bok Joo karena Bok Joo punya sifat keren.. seperti aku. Ia berharap semoga hubungan keduanya berjalan baik.

“Aku juga berharap semuanya berjalan dengan baik.” Ujar Jae Yi.

Dae Ho sedang basa basi busuk dengan Ayah supaya dia bisa pulang cepat hari ini. Ia beralasan kalau restoran sedang sepi jadi tutup cepat saja. Dia harus pergi untuk penyegaran. Ayah tidak menjawab dan terus menghitung penjualannya.


Joon Hyung nongol. Dae Ho memberi isyarat supaya Joon Hyung keluar dulu. Ia pun buru – buru kabur dari hadapan Ayah dan menemui Joon Hyung. Joon Hyung menyapanya dengan ramah kemudian menanyakan keberadaan Bok Joo. Dia menelfonnya tapi tidak diangkat.

Dae Ho memberitahukan kalau Bok Joo tidak dirumah, dia kerja paruh waktu. Dia sudah menghubunginya karena katanya akan pulang telat. Joon Hyung terkejut, kerja paruh waktu?

Senior (Ji Soo) memuji Bok Joo yang kerjanya begitu bagus. Bok Joo dengan bangga mengatakan bahwa dia sudah biasa mengangkat beban dari kecil, barang – barang ini seringan bulu untuknya. Senior memberitahukan bahwa Manager sudah pulang jadi mereka juga sudah bisa pulang sekarang.


Senior menawarkan untuk makan udon bersama hari ini sebagai ucapara penyambutannya. Bok Joo tentu saja senang, dia minta dua mangkuk kalau begitu. Senior bangga menunjukkan lembaran uangnya “Oppa itu kaya, kau bisa makan dumpling juga.”

“Kau luar biasa.” Ucap Bok Joo menepuk lengan senior.

“KIM BOK JOO!” teriak Joon Hyung dari kejauhan.

“Kenapa kau ada disini?”

Joon Hyung terus mendelik ke arah Senior “Bagaimana menurutmu? Aku kesini untukmu. Aku pergi ke restoran dan paman..”

Bok Joo tidak enak melihat tatapan Joon Hyung pada seniornya, dia menyarankan supaya mereka makan bersama lain waktu karena temannya datang. Senior menawarkan supaya mereka makan bertiga saja. Joon Hyung menolak dengan alasan alergi Udon. Kalau begitu, Senior menawarkan menu lain soalnya pemilik restorannya sangat pandai memasak.

“Kalau aku makan dengan seseorang yang tidak membuatku nyaman, aku biasanya panik kemudian menjadi kejam dan mengumpat begitu saja.”

Bok Joo berbicara tanpa suara pada Joon Hyung. Dan Joon Hyung meresponnya seolah memberi isyarat supaya mereka bisa cepat pergi. Bok Joo akhirnya berbisik pada senior, dia mengatakan kalau temannya agak sakit.

Senior mengerti, dia pun berjalan menghampiri Joon Hyung dengan tatapan melas kemudian memeluknya “Kau masih muda. Yang kuat yah.”


Keduanya makan di minimarket, Joon Hyung penasaran dengan pria arogan barusan. Bok Joo menjelaskan kalau Oppa itu adalah pekerja paruh waktu disana tapi dia sangat baik dan memperlakukannya seperti adik.

“Oppa?! Kau bicara padanya seolah sudah dekat. Jangan bersikap sok kenal pada setiap orang. Kecuali ayah dan pamanmu, kau harus jauh – jauh dari pria.”

“Bagaimana denganmu? Apa aku harus menjauh karena kau juga pria?”

“Aku? Bisakah aku menjadi pengecualian?”

“Jangan mengkhayal deh.”


Joon Hyung menanyakan masalah pekerjaannya, dia dengan itu sulit bahkan bagi seorang pria. Bok Joo rasa memang cukup sulit tapi tidak terlalu buruk. Dia bisa kembali bersemangat setelah meminum segelas kopi. Ia menceritakan rahasianya pada Joon Hyung kalau dia ingin berlatih main piano jadi dia harus bekerja paruh waktu.

“Sekarang piano ketimbang cello?”

Bok Joo mengaku kalau dia ingin berlatih piano sejak dulu. Teman sekelasnya bisa main piano semua hanya dirinya saja, dulu dia sibuk olahraga. Ia mengatakan cello waktu itu karena melihat dekorasi saja. Iya, meskipun dia juga ingin berlatih cello tapi sepertinya akan cukup sulit. Bok Joo menunjukkan jemarinya yang menekan – nekan meja seolah memainkan piano.

“Itu akan cocok denganmu. Kau punya jari yang panjang juga.”

Bok Joo berjanji akan memainkan piano dihari pernikahan Joon Hyung. Joon Hyung menolak dengan alasan Bok Joo akan mengacaukan pernikahannya. Mending... dia berdiri disampingnya saja.

“Kenapa aku berdiri disampingmu daripada istrimu?”

Joon Hyung jadi geregetan karena Bok Joo tidak paham sama sekali tentang kodenya. Baiklah, tidak usah berdiri disampingku!


Dae Ho menawarkan punggungnya untuk menggendong Pelatih Choi yang mabuk. Pelatih Choi menuntut alasan kenapa Dae Ho begitu baik padanya, apakah dia menyukainya? Dae Ho awalnya mengelak tapi akhirnya dia mengaku juga kalau dia memang menyukainya. Memangnya kenapa? Apa dia tidak boleh menyukainya?

Tentu saja tidak, memangnya apa yang salah dengan jatuh cinta pada orang lain? Pelatih Choi hanya tidak mengerti mengenai cinta. Dia kemudian berteriak setuju, bagaimana kalau mereka pacaran saja. Pacaran sebelum dia menjadi prawan tua.

Dae Ho sempat tidak percaya karena mengira Pelatih Choi mengatakan hal itu karena sedang mabuk. Pelatih Choi menawarkan untuk menunjukkan buktinya. Dia pun langsung menarik kerah baju Dae Ho kemudian mengecup bibirnya. Bertepatan saat itu juga, terdengarlah suara lonceng natal.

Bok Joo sebenarnya menyuruh Joon Hyung untuk pulang, dia bisa menjaga dirinya sendiri. Joon Hyung menolak lagipula bagaimana pun Bok Joo tetaplah seorang wanita. Bok Joo sengaja memelintir tangan Joon Hyung untuk menunjukkan kekuatannya dan Joon Hyung sama sekali tidak bisa melawan.

Udara terasa dingin, Bok Joo kemudian membahas mengenai pertemuannya dengan Dokter Jung. Dia melihatnya tetap Dokter Jung tidak melihatnya. Joon Hyung tanya bagaimana perasaan Bok Joo saat itu? Apa dia merasa perasaannya terluka saat melihatnya?

Tidak begitu, Bok Joo hanya merasa aneh saja. Dulu saat dia datang ke klinik dan tergila – gila dengannya. Seperti seorang yang terkena demam tapi tidak bisa menyembuhkan bagaimanapun caranya. Tapi sepertinya demam itu akan segera berakhir.

“Bukankah berarti kau baik – baik saja? Aku senang mendengarnya.”

Bok Joo mengangguk, seperti kata Joon Hyung dulu. Waktu yang akan menyelesaikan segalanya.


Bok Joo sudah sampai didepan rumah, dia menyuruh Joon Hyung untuk pulang. Joon Hyung membuat – buat alasan supaya bisa lebih lama dengan Bok Joo, dia menyuruhnya mengantarkan ke sekolah kemudian ia akan mengantarkan Bok Joo pulang lagi.

“Pulang saja sendiri. Aku harus istirahat untuk pekerjaan tambahan.”

Joon Hyung tidak terima Bok Joo harus kerja saat hari libur. Bok Joo menyuruhnya tenang lagipula dia akan bekerja dengan Oppa jadi semuanya akan beres dengan cepat. Ia pun langsung pamit.

Joon Hyung menendangi tiang dengan geregetan, Oppa? Kenapa dia menyebutnya seolah mereka sudah dekat!

Tengah malam, seorang anak asrama berjalan ke toilet sambil terkantuk – kantuk. Namun ketika buang air, dia malah dikejutkan dengan penampakan kaki dibawah pintu bilik toiletnya. Anak itu pun jejeritan takut.

Sontak kabar mengenai penampakan hantu menjadi topik panas di asrama. Mulai dari anak angkat besi, renang dan senam pun menceritakannya.

Sebelum berangkat kerja, Bok Joo memasang koyo dipunggungnya tapi dia berusaha menutupinya dari Ayah. Saat makan, Bok Joo tanya apakah Ayah tidak penasaran dengan pekerjaan paruh waktunya?

Ayah mengaku tidak mempermasalahkan apapun asal bukan sesuatu yang buruk. Dia tidak akan mencampuri urusan apapun lagi. Dia bisa kembali ke sekolah kalau sudah siap. Lakukan apa yang ingin ia lakukan karena ini adalah kehidupannya.

Pelatih Choi berjongkok di lantai sambil berteriak kesetanan. Dia sudah gila dan tidak akan minum – minum lagi. Kakaknya bertanya apakah Pelatih Choi mabuk dan melakukan sesuatu? Pelatih Choi jadi menyalahkan kakaknya, ini semua karena dia sudah meminjam uang darinya.

Tidak lama kemudian, Dae Ho datang. Ia tersenyum ke arah Pelatih Choi yang berjongkok dengan rambut berantakan. Pelatih Choi langsung merapikan rambutnya dan menyapa Dae Ho dengan formal. Dae Ho tersenyum sambil menunjukkan makanan yang sudah ia bawa.

Bok Joo menerima pujian dari Managernya karena kerjanya baik. Dia bertanya apakah Bok Joo punya pacar? Kalau belum, ia akan mengenalkan Bok Joo kepada keponakannya. Bok Joo tentu saja mengaku tidak punya pacar. 

Senior tidak percaya, dia yakin kalau pria yang kemarin adalah pacar Bok Joo. Dia bahwa menatapnya seperti itu, ia pikir pria itu mirip dengannya.

“Dia itu teman pria. Dia hanya pria. A human.”

“Bukankah aku lebih baik dari dia?” tanya Senior.

“Tentu saja, jauh lebih baik.” Mereka berdua pun tos dengan senangnya.

Tae Kwon mengajak Joon Hyung untuk keluar bermain tapi Joon Hyung menolak. Ia lebih baik beristirahat. Tae Kwon akhirnya pasrah dan meninggalkan Joon Hyung sendirian. Selepas kepergian Tae Kwon, Joon Hyung melihat ponselnya yang masih sepi. Dia teringat bagaimana Bok Joo menceritakan tentang ‘pria licik’ itu.

“Anak licik itu. Dia pasti menunjukkan tatapan kotor padanya.”


Tidak lama kemudian, Joon Hyung sudah sampai di pabrik tempat Bok Joo bekerja. Dia mengaku kalau ia baru pergi clubbing tapi tidak ada gadis cantiknya makanya dia kemari. Ia pun membantu Bok Joo yang tengah mendorong troli barang.

Bok Joo menyuruhnya untuk pulang saja, jika orang melihat mereka akan salah paham. Mereka mengira kalau Joon Hyung adalah pacarnya. Joon Hyung tertegun untuk beberapa saat “Mereka tidak salah paham. Kau memang bukan sekedar teman.”

“Apa?” Bok Joo tidak bisa mendengar dengan jelas.

Joon Hyung menggeser trolinya sehingga bertatapan dengan Bok Joo “Kau adalah teman special bagiku.”

Ia pun menghampiri Bok Joo dan menciumnya. Bok Joo yang terkejut bergegas mendorong Joon Hyung, apa dia sudah gila?

“Ya, aku gila. Kalau aku tidak gila, aku tidak akan melakukannya.”

“Apa?”

Joon Hyung mengakui perasaannya kalau dia menyukai Bok Joo. Bukan sebagai teman tapi sebagai seorang gadis “kalau aku tidak melihatmu, aku penasaran. Kalau kau frustasi, aku menjadi kecewa. Kalau kau tersenyum, itu membuatku senang. Kalau kau sakit, aku menjadi khawatir. Ini membuatku gila. Itu berarti.. aku mencintaimu kan?”


Tae Kwon sedang kesulitan masuk kamar karena jendelanya di kunci. Disisi lain, Sun Ok sedang ngumpet di tempat cucian. Ia menghubungi keluarganya dan berjanji akan pulang akhir pekan depan. Kenapa juga mereka tidak memperkerjakan seseorang daripada memintanya bekerja disana?

Saat Sun Ok mau pergi, Tae Kwon malah masuk ke tempat cucian. Dia mengaku mendengar suara seseorang yang familiar makanya dia berani masuk kesana. Sun Ok bertanya apakah Tae Kwon mendengar semuanya?

Tidak.

Bertepatan saat itu, keduanya mendengar suara Nan Hee yang sedang mencari Sun Ok. Tae Kwon buru – buru menariknya untuk bersembunyi. Jarak diantara berdua menjadi dekat, kontan suasana menjadi canggung.


Nan Hee mencari – cari Sun Ok tapi sayangnya bukan Sun Ok yang ia temukan namun penampakan hantu yang sedang hangat menjadi perbincangan. Sontak Nan Hee jejeritan takut melihat penampakan hantu di ujung koridor.

Semua orang pun menghampirinya dan Nan Hee terus menangis menunjuk ke ujung koridor dengan ketakutan. Sedangkan Tae Kwon menggunakan kesempatan ini untuk segera kabur darisana.


Joon Hyung memainkan kulit pohon sambil merasakan hukuman karena Bok Joo terus mendiamkannya. Bok Joo masih kurang yakin dengan ucapan Joon Hyung barusan, kenapa dia? Apa Joon Hyung melakukan ini karena dia ditolak oleh Hyung –nya? Apa dia hanya kasihan padanya?

Tentu saja bukan, memangnya Joon Hyung sedang beramal. Dia hanya menyukainya begitu saja. Tidak ada alasan untuk menyukai seseorang. Lagipula dia baru sadar kalau ternyata.. Bok Joo adalah cinta pertamanya.


HA! Sentak Bok Joo.

“Apa maksudnya Ha? Apa kau membenciku?”

Bok Joo tidak pernah membenci Joon Hyung. Dia menyukainya... dia bahkan bergantung padanya akhir – akhir ini daripada dengan Nan Hee dan Sun Ok. Tidak bisa dipungkiri kalau sebenarnya Joon Hyung juga ganteng. Hanya saja.. dia menyukainya sebagai teman. Dia tidak pernah merasakan sisi romantis dengannya.

Kalau begitu, Joon Hyung menawarkan supaya mereka berkencan selama 1 bulan. Mereka harus melakukan sebanyak mungkin pengalaman dan kemudian Bok Joo bisa memutuskan untuk lanjut atau tidak. Bok Joo mengerucutkan mulutnya, tidak masuk akal, memangnya ini home shopping?

“Apa kau akan langsung menolakku? Kita sudah menjalani banyak hal bersama.”

Bok Joo diam. Joon Hyung pun menganggapnya sebagai jawaban “Ya”.

Bok Joo menjadi canggung dengan Joon Hyung. Joon Hyung mengatainya tidak keren lagi, lebih baik dia bersikap lebih natural. Bok Joo tetap menyangkal kalau dirinya sedang salah tingkah.

Ponsel Bok Joo berdering, Nan Hee ngoceh sana sini menjelaskan tentang hantu jadi dia menyuruh Bok Joo untuk datang karena dia sangat ketakutan. Bok Joo mengiyakan saja permintannya.

Bok Joo menyuruh Joon Hyung untuk pulang lebih dulu soalnya dia pergi ke rumah sebelum ke asrama. Joon Hyung ingin mengantarnya tapi Bok Joo menolak, ia buru – buru pergi sampai saking terburu – burunya dia tersandung dan hampir jatuh.

Saat berniat pergi, Joon Hyung melihat dompet yang tegeletak di jalan. Dia membukanya dan melihat ID Bok Joo. Disana ada banyak uang, ia menduga kalau Bok Joo baru mendapatkan bayaran. Bagaimana dia sangat ceroboh dengan uang yang ia dapatkan dengan susah payah? Ia pun membawa dompet Bok Joo untuk memeriksanya.


Di asrama, Joon Hyung membuka dompet Bok Joo lagi. Dia langsung marah melihat potongan wajah Jae Yi yang tersimpan didompetnya. Ia pun membanting foto itu tanpa ampun. Ia kemudian menemukan bucket list yang ditulis Bok Joo.

Pertama, Bok Joo ingin belajar di perpustakaan. Joon Hyung bertaruh kalau Bok Joo akan langsung tertidur saat membaca buku. Kemudian di poin ketiga, Joon Hyung menganggapnya sebagai poin penting. Poin tentang pacar yang diharapkan oleh Bok Joo.

Joon Hyung merasa kalau takdir berpihak padanya.

Nan Hee sedang menceritakan tentang pengalamannya bertemu hantu dengan ngeri. Bok Joo tidak bisa berkosentrasi karena terus memikirkan ciumannya dengan Joon Hyung barusan. Sun Ok menanggapi cerita Nan Hee, dia tidak mempercayai adanya hantu. Tapi dia bersyukur dengan adanya kejadian ini mereka bisa berkumpul. Lalu kapan kau akan kembali ke latihan Bok Joo –ssi?

Bok Joo tidak memberikan jawaban karena sibuk dengan pikirannya sendiri, wajahnya bahkan sampai memerah memikirkan kejadian bersama Joon Hyung. Sun Ok dan Nan Hee khawatir namun Bok Joo meyakinkan kalau dia baik – baik saja.


Malam harinya, Bok Joo haus dan ingin minum air tapi botol airnya kosong. Dia pun berjalan menuju kulkas, tapi di dekat sana terdengar suara berisik sehingga Bok Joo dengan hati – hati mendekat kesana. Ia terkejut melihat ada penampakan wanita berambut panjang didepan kulkas “Siapa itu?”

Saat menoleh.. wanita berambut panjang itu adalah Si Ho.

-oOo-

0 Response to "SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 11 Bagian 2"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^