SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 9 Bagian 2

SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 9 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: MBC

Karena tidak kuat berjalan, Joon Hyung terpaksa menggendong.. atau mungkin lebih tepatnya, menggeretnya di punggung. Joon Hyung ngedumel tidak siap mental dengan tindakan ekstrim Bok Joo saat mabuk.

Bok Joo masih terus menuntut pertanggung jawaban Joon Hyung, dia harus membereskan segalanya!

Joon Hyung ketakutan saat Bok Joo mulai diam, dia berteriak menyuruhnya jangan muntah sekarang.

Keduanya duduk ditaman dengan Joon Hyung masih kelelahan. Bok Joo bergumam kedinginan. Joon Hyung yang super kreatif menemukan koran yang berserakan disana, ia pun langsung menutup tubuh Bok Joo dengan koran tersebut.

Bok Joo yang tidak sadar kurang nyaman dengan posisinya dan menaruh kepalanya ke pangkuan Joon Hyung.


Lama kelamaan memperhatikan wajah Bok Joo, Joon Hyung tersenyum kecil “Bagaimana bisa seseorang terlihat seperti ini?”

Setelah waktu berlalu beberapa saat, Joon Hyung mulai terkantuk – kantuk dan kepalanya mulai menunduk. Menunduk. Dan terus menunduk sampai dia hampir mengecup Bok Joo. Untungnya sebelum hal itu terjadi, Joon Hyung terbangun dan langsung terkejut karena wajah Bok Joo tepat berada didepan wajahnya.

Joon Hyung mencoba membangunkan Bok Joo tapi Bok Joo sudah benar – benar tepar. Ia pun mengedarkan pandangan disekitar sana.. pikiran brilian kembali muncul dari otak Joon Hyung saat dia melihat supermarket.

Joon Hyung menggunakan troli untuk mengangkut Bok Joo. Dia yakin kalau ibunya bangga jika melihatnya melakukan hal ini.

Dae Ho setengah membanting Bok Joo ke ranjangnya. Ayah langsung ngomel – ngomel kemudian menyelimutinya dengan khawatir. Dae Ho ngedumel sebal, sebenarnya Ayah itu sangat menyayangi Bok Joo tapi dia selalu saja memarahinya. Berapa banyak memangnya dia minum sampai semabuk ini? Apa dia minum dengan pria itu sendirian tengah malam?

Ayah mendelik “Apa yang kau maksud? Tutup mulutmu.”

“Bertanggung jawablah atas semuanya, Jung Joon Hyung.” Rengek Bok Joo ngelindur.

Sontak ayah marah bukan kepala mendengarnya.

Ayah dan Dae Ho menemui Joon Hyung dengan gaya sangar. Joon Hyung yang ketakutan melipir kepojokan. Ayah bertanya apakah Joon Hyung benar – benar tidak melakukan apapun yang membuatnya harus bertanggung jawab?

“Kami hanya teman. Kami satu sekolah dasar.”

Dae Ho paham betul hubungan antara pria dan wanita, teman bisa jadi kekasih dan kekasih bisa menjadi ayah. Dengan ketakutan, Joon Hyung menegaskan kalau mereka hanyalah teman. Hal itu tidak akan terjadi, dia bersumpah tidak akan terjadi.

Ayah tersinggung oleh ucapan Joon Hyung, kenapa dia bersumpah? Bok Joo memang tidak pernah berdandan tapi kalau diperhatikan baik – baik, dia itu cantik! Apa yang salah dengan Bok Joo –ku?

Joon Hyung langsung cengo mendengar ucapan Ayah Bok Joo.

Dae Ho berbisik pada Ayah “Kau terdengar seperti seorang psikopat sekarang. Tentukan kau berada di pihak mana dan teguhlah pada pilihanmu.”

Ayah sadar dan akhirnya menasehati Joon Hyung supaya menjaga tubuhnya. Sebagai seorang atlet, tubuh adalah aset yang paling berharga. Dia tidak boleh pergi sampai larut malam dan membuat temannya mabuk.

Joon Hyung masih ketakutan “Boleh aku pulang sekarang?”

Dae Ho mengantarkan Joon Hyung ke depan rumah, dia memintanya untuk mengerti Ayah yang cukup protektif dengan anak perempuan satu – satunya. Dia memberikan beberapa lembar uang supaya Joon Hyung bisa naik taksi, dia yakin cukup melelahkan untuk membawa Bok Joo pulang.

Joon Hyung menolaknya, dia mau naik bus saja.

“Rasanya tidak sopan kalau kau tidak menerima ini.” Ucap Dae Ho sambil menyimpan kembali uangnya. Tapi sejujurnya, dia mengharapkan kalau Joon Hyung berkencan dengan Bok Joo. Mereka bisa minum bersama – sama, Calon Suami Masa Depan Bok Joo.

“Ah, tidak.” Elak Joon Hyung.

Sontak senyum Dae Ho lenyap dan mengedikkan dagu supaya Joon Hyung buru – buru pergi.


Joon Hyung sampai ke rumah saat hari sudah pagi. Bertepatan saat dia mau masuk rumah, Jae Yi keluar sehingga Joon Hyung pura – pura mau pergi. Jae Yi tanya, darimana saja dia?

“Aku baru dari supermarket.”

Jae Yi menyuruhnya jangan berbohong. Joon Hyung berbisik, apakah ibu tahu? Tidak, Jae Yi sudah mengatakan pada Ibu kalau Joon Hyung mau pulang terlambat. Joon Hyung agak lega, dia tidak akan mendapatkan omelan sekarang.

“Apa kau minum?”

“Aku tidak minum banyak, tapi Bok Joo minum terlalu banyak padahal dia tidak bisa minum dan pingsan. Jadi aku membawanya pulang ke rumah.”

“Kalian berdua minum bersama?”

Joon Hyung mengiyakan kemudian pamit untuk masuk rumah, dia akan tidur sebentar.


Ayah menghidangkan sup untuk meredakan mabuk Bok Joo. Dirumah juga banyak soju, kenapa juga dia sampai mabuk di tempat lain bersama seorang pria. Dengan manis, Bok Joo meminta maaf dan berjanji hal semacam itu tidak akan terjadi lagi. Ayah tidak mampu mengomeli anaknya lagi, dia menyuruhnya makan pelan – pelan.


Dae Ho menghampiri Bok Joo sambil bicara dengan suara pelan. Dia mengaku kalau dirinya cukup menyukai Calon Suami Masa Depan Bok Joo. Mereka membutuhkan pria tampan untuk memperbaiki keturunan. Bok Joo menegaskan kalau dirinya tidak ada apa – apa dengan Joon Hyung lagipula dia sudah melihat hal yang seharusnya tidak dilihat.

Pikiran liar merasup dalam otak Dae Ho, dia langsung menunjukkan pose menggoda dihadapan Bok Joo.

“Itu tidak seperti itu.”

Dae Ho jadi sok paham. Lagipula mereka hidup di abad 21, saat pria muda dan wanita minum bersama.. “Aku bukan orang kuno jadi akui saja.”

“Aku bilang bukan seperti itu. Kami hanya minum bersama.”

Dae Ho yakin kalau Bok Joo malu untuk mengakuinya. Jadi dia akan memberitahukan kisahnya lebih dulu. Dae Ho kehilangan keperjakaannya saat...

Bok Joo berteriak – teriak memanggil pamannya cabul. Ayah langsung keluar dan memukul kepala Dae Ho tanpa ampun.


“Jam berapa kau sampai rumah, Joon Hyung?” tanya Ibu ketika menghidangkan sarapan.

“Tepat setelah Ibu pergi tidur.”

Ibu tidak percaya, dia yakin kalau Joon Hyung baru pergi minum. Dia mencium bau alk*hol dipakaiannya. Terus saja seperti itu, nanti tetangga akan bergosip kalau anaknya sering pulang larut. Joon Hyung meminta maaf.

“Kapan kau akan kembali ke sekolah?”

“Setelah aku selesai makan. Kenapa?”


Ayah katanya sedang lesu akhir – akhir ini, Ibu ingin membelikan susu untuknya. Seandainya saja dia punya anak perempuan, akan sempurna disaat seperti ini. Ia pun melirik ke arah Jae Yi, apa dia punya rencana?

“Ya. Ah Young mau membeli speaker, dan dia ingin aku melihatnya. Tapi aku bisa membatalkannya.”

Mendengar nama Ah Young membuat Ibu tersenyum sumringah. Lebih baik Ibu berangkat ke pasar sendirian aja. Joon Hyung ikut tertawa bersama ibu tapi Ibu langsung memasang wajah datar saat menatapnya. Jangan lupa minum obatmu!

Pelatih Choi datang ke kantor polisi dengan tergesa – gesa. Disana sudah ada Woon Gi dengan wajah lebam karena pukulan. Dia terlibat kasus dengan supir taksi kemarin dan disana juga ada istrinya yang menggendong bayinya.

“Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?” tuntut Pelatih Choi saat bicara berdua dengan Woon Gi.

Woon Gi mengaku kalau dia sudah menikah dan memiliki anak, hanya saja dia tidak pernah memberitahu Pelatih Choi. Anak nakal, Pelatih Choi heran, kenapa juga Woon Gi yang sudah memiliki anak dan istri malah memukul seseorang?

“Dia menyumpahi istriku. Aku tidak bisa menahannya.”

Pelatih Choi yakin kalau supir taksi itu pasti merasa seperti mendapatkan durian runtuh. Lebih baik mereka menggunakan uangnya untuk membayar biaya ganti rugi. Woon Gi menolak, dia akan mencari jalan lain.

“Bagaimana kau akan menghasilkan 3 juta won? Apa kau punya uang? Istrimu bekerja karena kau tidak bisa membiayai pusat perawatan setelah melahirkan untuknya.”

Woon Gi berjanji akan mengembalikan uangnya.

Tentu saja dia harus mengembalikannya. Pelatih Choi bertanya nama anaknya?

Soon Ri. Woon Gi mengaku kalau dia ingin hidup anaknya tidak susah. Pelatih Choi menyukai nama itu, “Hey, Ayah –nya Soon Ri, kalau kau merahasiakan sesuatu dariku lagi, aku akan membunuhmu!”

Woon Gi tersenyum menerima kebaikan Pelatih Choi.

Sepulangnya dari kantor polisi, Pelatih Choi harus menagih uang yang ia pinjamkan pada seseorang yang ia panggil Eonni.


Jae Yi menemani Ah Young untuk menemukan speaker yang cocok untuknya. Ia kemudian bertanya mengenai seseorang yang namanya Kim Bok Joo pada Ah Young, atlet di tim angkat besi?

Ah Young kenal, dia adalah kartu as dalam tim –nya. Jae Yi memberitahukan kalau Bok Joo datang ke kliniknya, ituloh pasien yang membicarakan tentang Messi. Ah Young mengernyit keheranan, kenapa atlet angkat besi datang ke klinik Jae Yi?

“Dia mengatakan padaku kalau dia seorang pemain cello. Tapi aku tidak sengaja bertemu dengannya di sekolah. Itulah saat aku menemukan kalau dia seorang atlet angkat besi di sekolahmu. Joon Hyung bilang itu karena dia sedang menyukai seseorang. Dan juga, Bok Joo satu sekolah dasar dengan Joon Hyung.”

Dunia memang sangat sempit, Ah Young menduga kalau pria yang disukai oleh Bok Joo adalah Joon Hyung. Joon Hyung sangat populer dikalangan wanita.

“Begitukah? Mereka minum bersama sampai larut tadi malam.”

Ah Young jadi semangat, dia berharap keduanya bisa bersama.

Bertepatan saat keluar dari toko speaker, mereka berpapasan dengan Bok Joo. Ah Young menghampirinya dan bilang kalau dia sudah tahu apa yang terjadi. Bok Joo yang canggung cepat – cepat pamit pergi namun Ah Young menawarinya makan, ajak Joon Hyung juga.

“Tidak, tidak apa-apa.”

“Kau harus bergabung dengan kami. Aku ingin mentraktirmu makan.” Ajak Jae Yi.


Akhirnya Bok Joo harus dihadapkan pada situasi yang begitu membuatnya tidak nyaman. Dia harus melihat kedekatan diantara mereka berdua yang sibuk ngobrol saat memesan makanan.

Tak lama kemudian Joon Hyung datang dan sadar dengan raut wajah sedih Bok Joo. Dia menjadi kasihan karenanya.


Jae Yi dengan perhatian memberikan beberapa potong steak ke piring Ah Young sampai membuat Bok Joo semakin sedih. Ah Young penasaran dan langsung bertanya pada Bok Joo, sebenarnya siapa pria yang disukainya? Apakah dia pria disekolah mereka?

Bok Joo bingung menjawab, dia sempat melirik ke arah Jae Yi. Jae Yi tidak menyadari tatapan mata Bok Joo dan menyuruh Ah Young tidak membahas masalah pribadi. Ah Young meminta maaf, dia lalu bertanya sejak kapan Bok Joo kenal dengan Joon Hyung? Dia sudah satu tahun bekerja disana tapi ia tidak menyangka kalau keduanya saling kenal.

“Kami baru bertemu lagi akhir-akhir ini. Dia banyak berubah.”


Ah Young yakin kalau Bok Joo terkejut, dulunya memang Joon Hyung kecil tapi sekarang sudah berubah menjadi pria dewasa. Sejujurnya, mereka berdua terlihat cocok. Mungkin karena keduanya sama – sama tinggi.

“Ayolah, Dokter Go. Kau berlebihan. Apa kau sadar kau terdengar  sangat tidak natural?”

“Tidak, aku tidak berlebihan. Kalian berdua cocok.”

Jae Yi meminta mereka berhenti, nanti makanannya dingin. Ia pun kembali meletakkan beberapa makanan ke piring Ah Young. Joon Hyung yang kasihan menyuapkan daging ke mulut Bok Joo namun Bok Joo menolak.

Dia terus murung menatap keduanya sedangkan Joon Hyung hanya bisa menghela nafas.


Keduanya sama – sama mengucapkan terimakasih atas makan siang mereka. Ah Young berniat mengantarkan Jae Yi, apakah Joon Hyung dan Bok Joo juga ingin diantarkan? Dia bisa mengantar mereka berdua lebih dulu.

Joon Hyung menolaknya, dia akan berjalan kaki saja. Baiklah, Ah Young pun sekali lagi memberitahukan bahwa mereka berdua sangat cocok.

“Asumsi Dokter Go salah, iya, kan?”

“Itu tidak penting. Itu tidak masalah.” Bok Joo berjalan dengan lemas meninggalkan restauran.

Dalam perjalanan, Bok Joo sebenarnya merasa lebih baik dengan makan siang ini. Sebelumnya, dia merasa perpisahan mereka sangat tidak nyaman dan sekarang semuanya sudah membaik. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah fokus pada kompetisi.

“Bisakah kau bersiap untuk kompetisimu ketika kau terdengar lemah begini?” Joon Hyung merangkul Bok Joo.

Benar. Bok Joo juga merasa lesu dan kosong, dia tidak yakin.


Tapi melihat kedekatan antara Dokter Go dan Dokter Jung, keduanya terlihat serasi. Mereka berdua berada di level yang sama apalagi Dokter Go cantik, dia memiliki kepribadian baik dan juga seorang dokter.

“Kau juga baik. Kau sehat.”

“Apa itu seharusnya membuatku merasa lebih baik? Keu benar-benar buruk.”

Joon Hyung tahu kalau mood Bok Joo masih buruk, dia mengajaknya makan? Bok Joo menolak soalnya mereka baru saja makan. Kalau begitu, Joon Hyung menawarkan nonton film? Klub? Jalan – jalan di pantai?

Bok Joo agak tertarik dengan pantai tapi apa Joon Hyung bisa menyetir? Apa dia punya mobil?

“Aku punya mobil tapi bukan milikku. Perjalanan ke pantai tidak akan lama.”

Bok Joo tidak yakin lagipula perjalanan akan lama. Joon Hyung merengek seraya menggandeng tangannya, ayo ke pantai...

Joon Hyung tiba – tiba mengajak batu-gunting-kertas dan ia pun menang.

Joon Hyung menggunakan mobil Jae Yi untuk pergi. Bok Joo khawatir, apa tidak apa – apa menggunakan mobilnya? Joon Hyung punya kunci cadangan dan Jae Yi pasti tahu kalau dia yang menggunakannya. Dia sudah bisa kok menggunakan mobil ini.

Dia menyuruh Bok Joo berpegangan erat karena mereka tidak punya banyak waktu. Joon Hyung menginjak pedal gas tapi mobilnya malah mundur dengan sangat kencang sebelum akhirnya melaju ke depan.

Kemampuan menyetir Joon Hyung bisa dikatakan payah.

“Bagaimana menurutmu? Bukankah aku mengemudi dengan baik?”

Sangat baik sampai Bok Joo mual. Joon Hyung bilang kalau dia cuma pura – pura tidak bisa, ini hanyalah sebuah konsep. Meskipun begitu, Bok Joo juga senang bisa pergi keluar seperti ini.

“Apa kau menyesal berbohong pada Hyung tentang angkat besi?”

“Tidak. Meskipun memutar waktu, aku akan tetap berbohong.”

“Kenapa? Apa kau tidak bangga dengan angkat besimu?”

Tentu saja Bok Joo sangat bangga pada dirinya sendiri sebagai atlet angkat besi profesional. Angkat besi memang mungkin akan membuat seseorang terkesan namun tidak sepenuhnya indah.

“Apa perbedaannya?”

Kalau ada seorang atlet angkat besi punya kekasih, biasanya mereka tidak akan mengundang kekasihnya ke kompetisi. Mereka tidak akan suka jika melihat kekasihnya karena saat mengangkat bongkahan besi, urat – urat menonjol, wajah memerah dan lemak perut akan kelihatan.


Mungkin atlet angkat besi akan bilang kalau penampilan tidak penting yang terpenting adalah dedikasinya. Tapi itu bukanlah sesuatu yang ingin mereka tunjukkan pada kekasihnya. Mereka harus menyerah sebagai seorang wanita dalam beberapa hal.

“Itu benar-benar omong kosong. Kau hanya perlu bertemu dengan seorang pria yang bahkan bisa menyukai sisimu yang seperti itu.”

“Memang lebih mudah bicara daripada melakukannya. Sangat sulit mencari pria yang seperti itu.”

“Hei, mereka ada. Lihat aku sebagai contohnya...”


Belum sempat Joon Hyung menyelesaikan ucapannya, Bok Joo sudah menunjuk burung camar dipantai. Dia kegirangan menyuruh Joon Hyung melihatnya tapi Joon Hyung menolak, dia harus berkosentrasi menyetir.

“Payah.”

“Pilihlah antara burung camar dan aku.”

“Burung camar.”

“Aku akan bertanya untuk terakhir kalinya. Burung camar atau aku?” tanya Joon Hyung.

Bok Joo tidak menjawab pertanyaan Joon Hyung lagi, dia mengajaknya untuk makan barbekyu.


Bok Joo terus berjalan sambil bicara seperti anak kecil. Joon Hyung menyuruhnya berhenti bersikap memalukan. Bok Joo mengeluh, seharusnya dia datang kesini bersama kekasihnya. Mereka bisa main pasir dan menuliskan nama mereka berdua.

“Hei, tidakkah kau sudah terlalu tua untuk hal-hal seperti itu? Kau sangat kekanak-kanakkan.” Ejek Joon Hyung.

Dia perlahan mendekati Bok Joo dan mendudukannya dengan paksa ke pasir. Bok Joo geram karenanya dan mengejar Joon Hyung. Mereka berdua terus kejar – kejaran, saling menjatuhkan satu sama lain agar terkena air laut.

Joon Hyung rebahan di pasir setelah kelelahan bermain. Bok Joo tidak mau rambutnya kotor sehingga menggunakan lengan Joon Hyung untuk sandaran. Joon Hyung tidak buang kesempatan untuk meledeknya “Gendut, apa ini karena kau biasa mengangkat beban berat? Bahkan kepalamu terasa berat.”

Bok Joo langsung memukulnya. Joon Hyung merasa dirinya berada diambang kematian, dia hanya bercanda tapi kenapa Bok Joo begitu serius?

“Kau tahu aku bisa jadi sekompetitif apa.”

“Kau sebenarnya pelari yang cukup baik.”

“Aku berlari untuk menyelamatkan diriku sendiri.”ujar Joon Hyung.

Bok Joo rasa kalau dirinya sudah mengatakan segalanya pada Joon Hyung. Tidak adil rasanya karena dia cuma mengetahui tentang traumanya saja.


Joon Hyung membuka salah satu rahasianya semasa kecil. Dia dulu yang sudah meletakkan coklat dimeja Bok Joo. Bok Joo yang gendut tanya siapa yang meletakkan coklat dimejanya? Tidak ada yang mengaku, Bok Joo kecil dengan lahap memakan coklat itu.

Dari kejauhan, Joon Hyung tersenyum bahagia memperhatikan Bok Joo.

“Benarkah? Apa kau menyukaiku?”

Joon Hyung rasa Bok Joo sudah berlebihan, ia hanya berterimakasih karena Bok Joo sudah menyelamatkan hidupnya. Dia juga merasa kalau Bok Joo dulu sangat keren, dia pemberani, kuat dan bisa berbaur dengan siapa saja.

“Itu bahkan bukan rahasia besar.” Keluh Bok Joo.


Joon Hyung akhirnya mau membuka rahasia besarnya, tentang Jae Yi yang dia anggap sebagai Hyung. Sebenarnya dia bukanlah kakak kandungnya melainkan sepupunya. Dan orang yang ia panggil ibu – ayah sebenarnya adalah Bibi – pamannya. Ketika Ibu menikah lagi, dia meninggalkannya bersama paman dan bibi lalu pindah ke Kanada.

“Apakah itu kenapa kau pindah ke sekolah yang berbeda secara tiba-tiba?”

“Itulah yang terjadi. Aku bahkan tidak bisa mengucapkan salam perpisahan padamu.”

Sontak Bok Joo menatap Joon Hyung dengan kasihan.


Joon Hyung menyuruhnya jangan memberikan tatapan kasihan begitu. Paman, Bibi dan Hyung memperlakukannya dengan sangat baik. Lihat saja kepribadiannya saat ini, dia bukan tipe yang punya masa kecil kurang bahagia.

“Semua orang menyimpan beberapa luka yang menyakitkan jauh di dalam hati mereka. Jika mereka bisa meneruskan hidup mereka, itu bagus. Tapi meskipun mereka tidak bisa, mereka masih tetap hidup. Mereka jadi kebal terhadap rasa sakit seiring berjalannya waktu. Kau juga akan baik – baik saja.”

Bok Joo membenarkan. Joon Hyung ingat kalau Bok Joo ada pertandingan dua minggu lagi, dia menyarankan supaya Bok Joo fokus dengan apa yang ada dihadapannya dan tunggulah sampai waktu akan menyelesaikan segalanya.

Satu hal baik yang didapat dari menyukai seseorang adalah aku bisa memutuskan bagaimana untuk mengakhirinya. Perasaanku sudah berada diluar kendaliku, tapi aku memutuskan untuk berdamai dengan hatiku mulai hari ini. Kau sudah melakukan hal yang bagus, hatiku.” – Kim Bok Joo.


Seminggu sebelum kompetisi, Bok Joo berlatih keras dan makan dengan penuh semangat.

Sampai akhirnya tiba -lah hari kompetisi, Si Ho yang akan berangkat latihan bertanya apakah hari ini adalah hari kompetisinya? Bok Joo membenarkan.

“Semoga beruntung. Aku serius mengatakannya.”

Bok Joo mempersiapkan perlengkapannya dan memilih kaos keberuntungannya selama ini. Tapi tanpa sengaja dia menyenggol minuman protein dan air tumpah ke kaos putihnya tersebut. Bok Joo panik karena ia harus menggunakan kaos itu hari ini.

Dia berdoa dikolam dengan panik. Joon Hyung datang kesana, dia sudah menduga kalau Bok Joo akan datang kesana. Bagaimana perasaannya, apa dia sudah siap?

“Tidak, aku merasakan firasat buruk. Sepertinya aku akan melakukan hal yang buruk hari ini. Aku bahkan menumpahkan minuman proteinku di kaus keberuntunganku pagi ini. Aku terus mendapatkan perasaan tidak enak. Bagaimana kalau aku membuat kesalahan?”

Joon Hyung menangkup kedua pipi Bok Joo dan menatapnya “Kartu as tim angkat besi Haneol. Kau tidak akan membuat kesalahan. Kau sudah berlatih dengan keras, dan kau juga orang yang kuat. Tidak semua orang bisa jadi kartu as, kau tahu?”

Bok Joo mengangguk. Joon Hyung menyuruh Bok Joo untuk naik ke bus –nya, dia pun terus memberikan semangat untuk Bok Joo.


Jae Yi datang ke tempat Ah Young untuk membetulkan speaker yang tidak mau menyala tapi setelah diteliti ternyata tombol power-nya belum dinyalakan. Ah Young menawarkan untuk makan bersama.

“Tidak, aku harus pergi ke klinik baru Dokter Kang. Apa kau juga akan pergi?”

Tidak, Ah Young shift malam hari ini. Ada dokter lain yang pergi ke pertandingan angkat besi. Ah, Kim Bok Joo juga ikut dalam kompetisi itu. Kompetisinya di Stadium Olympic, bukankah itu dekat dengan tempat Dokter Kang?

Jae Yi mengangguk.


Woon Gi menjalankan kompetisinya dengan baik dan mampu menyelesaikan pertandingan sampai babak akhir.

Giliran Bok Joo, Pelatih Choi dan Profesor Yoon menyuruhnya untuk tenang dan melakukan seperti apa yang biasa mereka lakukan saat latihan.

Nama Bok Joo dipanggil, dia akan menjalankan pertandingan percobaan ketiga dalam kategori Clean and Jerk.

Benar, Bok Joo. Semuanya tergantung dari percobaan kali ini. Jangan gugup. Kau kuat. Kau pasti bisa melakukannya. Jangan meragukan dirimu sendiri. Fokuslah pada barbelnya sekarang.”


Setelah menimbang berat badannya, Bok Joo berjalan menuju ke arena. Sungguh tidak diduga, Jae Yi hadir disana untuk memberikan semangat. Tentu saja Bok Joo terkejut bukan main, dia tertegun menatapnya saat waktu mulai berjalan.

Pelatih Choi dan Profesor Yoon sampai memanggilnya. Bok Joo seolah tampak malu, ia memperhatikan tubuhnya sendiri sebelum akhirnya memegang barbel.

Ia mengangkat barbel itu dengan sekuat tenaga, wajahnya mulai memerah dan berkerut. Dia teringat akan ucapannya sendiri pada Joon Hyung “Kami mengangkat bongkahan besi. Saat itu, urat-urat kami pasti terlihat, wajah kami jadi merah, dagu kami jadi berlipat-lipat, dan lemak perut kami terlihat dari balik ikat pinggang. Itu sangat jelek. Itu bukan sesuatu yang ingin kami tunjukkan pada pria yang kami sukai.”

Tanpa sadar, waktu telah berlalu dan Bok Joo berhasil menyelesaikan percobaan ketiganya. Semua orang bersorak dan Jae Yi menunjukkan dua jempolnya pada Bok Joo. Bok Joo membeku ditempatnya.

Joon Hyung datang kesana dengan tergesa – gesa, dia melihat Jae Yi sedang duduk dibangku penonton menyaksikan pertandingan Bok Joo. Ia pun langsung menatap Bok Joo.

Bok Joo tidak perduli akan apapun lagi, dengan sedih ia meninggalkan arena. Matanya mulai menggenang menahan tangis.

e)(o

2 Responses to "SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 9 Bagian 2"

  1. Gomawoyo! Ditunggu yang ep 10 secepatnya yaaa! penasaran banget>v<

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^