SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 8 Bagian 2

SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 8 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: MBC


Setelah berbaikan, mereka bertiga pun makan bersama. Nan Hee mengajak keduanya untuk minum – minum demi merayakan hari ini. Sun Ok menolak soalnya kan besok Bok Joo akan melakukan latihan khusus.

Bok Joo membenarkan, dia tak bisa mengecewakan Profesor Yoon dan Pelatih Choi. Lebih baik mereka makan kemudian pergi ke tempat karaoke. Nan Hee sependapat apalagi Bok Joo sudah mengalami masa sulit karena Si Ho.

Benar. Sun Ok memang ingin pura – pura tak tahu tentang Si Ho, tapi dia ingin sekali melabrak rubah itu. Bok Joo menahannya, mereka tak perlu menumpahkan darah kotor disini. Lebih baik mereka makan dan karokean, biar dia yang membayar karaokenya.

Pelatih Choi berdandan lebih dulu sebelum bertemu dengan Profesor Yoon.

Profesor Yoon bertanya apakah mereka akan makan lebih dulu atau minum duluan? Pelatih Choi menyarankan supaya mereka minum, kalau mereka makan dulu mungkin tak akan banyak ruangan dalam perut yang tersisa. Profesor Yoon sungguh ngeri dengan kemampuan minum Pelatih Choi, memangnya dia mau minum berapa banyak?

Saat sedang ngobrol, Profesor Yoon menerima panggilan dari seseorang yang dia panggil “Yeobo” alias istrinya. Dia tampak cemas, bukankah dia sudah bilang untuk tidak berkendara malam – malam? Dia bukan pengemudi yang handal.

Setelah mengakhiri panggilannya, Profesor Yoon memberitahukan bahwa istrinya mengalami kecelakaan kecil. Meskipun tidak parah tapi sepertinya istrinya begitu ketakutan. Pelatih Choi pun menyuruhnya untuk pergi menemui sang istri. Profesor Choi berjanji akan mentraktirnya lain waktu.

Selepas kepergian Profesor Yoon, Pelatih Choi tersenyum getir “Apa aku hanya menyukai sifatnya? Atau aku masih memiliki perasaan padanya?”

Nan Hee, Bok Joo dan Sun Ok gila – gilaan di tempat karaoke. Nyanyi dan nari sampai kelelahan.

Bok Joo mengeluh soalnya Nan Hee gerakannya salah melulu. Nan Hee beralasan kalau gerakannya salah karena dia memetingkan gerakan khasnya, sexy wave. Sun Ok malah tak tertarik sama sekali, dance Bok Joo yang semakin meningkat.

Ketika mereka sedang sibuk ngobrol, Sun Ok sadar kalau waktu mereka hampir habis.


Bok Joo buru – buru merayu pemilik karaoke untuk memberikan bonus padanya. Pemilik Karaoke menolak soalnya dia sudah memberikan bonus 10 menit. Bok Joo memohon lagipula mereka sudah langganan disini. Dan.. oh.. nyonya.. “Apa yang kau lakukan pada kulitmu? Kulitmu bersinar. Untuk sesaat, kukira usia kita sama.”

Pemilik Karaoke akhirnya luluh, dia memberikan bonus 15 menit lagi. Ia meminta Bok Joo untuk mengucapkan salam pada ayahnya juga, akhir – akhir ini dia tidak pernah mengirimkan ayam sisa lagi.

“Ah, apa yang dia lakukan? Aku harus bicara dengannya.” Ucap Bok Joo penuh keyakinan.

Mereka bertiga kembali gila – gilaan menyanyikan lagu Big Bang – fantastic baby.

Diruangan karaoke yang berbeda, suasana berubah menjadi mellow soalnya Si Ho sedang menangis ditengah kebisingan. Ia memutar lagu Ailee tapi ia tak bernyanyi, ia menangis memikirkan ucapan Ibunya di pabrik barusan.


Pelatih Choi datang ke Ayam Bok sendirian, Dae Ho sampai heran dibuatnya. Pertanyaan Dae Ho membuat Pelatih Choi kesal, memangnya dia tidak boleh datang sendirian? Apa dia harus terus bersama orang lain kalau datang ke sini?

Ia pun memesan sup dan soju.

Saat Dae Ho menghidangkannya, ia mencondongkan wajahnya ke jidat Pelatih Choi hingga membuatnya terkejut. Dae Ho merasa riasan yang digunakan Pelatih Choi berantakan, dia yakin Pelatih Choi habis kencan tapi kencannya berantakan.

Pelatih Choi menggeram marah kemudian menghapus lipstick yang ia gunakan.

Setelah mempersiapkan supnya, Dae Ho pun duduk dihadapan Pelatih Choi. Pelatih risih melihat ia duduk dihadapannya.

“Ini kursiku. Lagipula aku tidak duduk di pangkuanmu. Aku merasa kasihan karena kau minum sendirian dan ingin menemanimu, apa kau biasanya seperti ini?

Pelatih Choi makin terusik “Apa kau biasanya seberisik itu?”

Dae Ho kemudian menyarankan Pelatih Choi untuk tidak minum terlalu banyak, dia kemungkinan tidak kuat minum.

Pelatih Choi tertantang medengar ucapan yang meremehkannya. Mereka berdua pun beradu minum soju setelah itu.

Matahari telah mengingsing tinggi, Pelatih Choi terjatuh dari ranjangnya namun masih malas untuk bangun. Ia memperhatikan sebuah foto yang terbingkai diatas nakas, ia melihat ada penampakan Bok Joo disana.

Sontak Pelatih Choi tersadar kalau dirinya tidak berada dikamarnya sendiri melainkan dikamar Bok Joo.


Pelatih Choi langsung memakai topi dan pamit pergi pada Ayah Bok Joo. Bok Joo menyuruhnya untuk makan sup tauge buatannya lebih dulu. Pelatih Choi menolak, dia telah merepotkan Ayah Bok Joo.

“Apa yang kau bicarakan? Aku bangun pagi untuk membuatkanmu sup ini. Duduk sajalah.”

Pelatih Choi terpaksa makan sup buatan Ayah untuk menghormatinya.

Bertepatan saat itu juga, Dae Ho keluar dari kamarnya dan ikut makan sup tauge. Keduanya menjadi canggung, Pelatih Choi bertanya apakah dirinya membuat masalah semalam? Dae Ho berlagak tidak tahu lagipula dia langsung pingsan setelah minum.

Namun pada kenyataannya, setelah mereka mabuk berat, keduanya bermain game batu-gunting-kerta dengan hukuman saling jitak dan geplak kepala. Dae Ho ingat betul bagaimana tampang lucu Pelatih Choi.

Dae Ho pun tersenyum mengingat hal itu.

Pelatih Choi berangkat ke tempat latihan sambil terus menggerutu, untuk apa juga dia sampai ketiduran disana. Memalukan!

Profesor Yoon menyapanya dan bertanya kalau Pelatih Choi sepertinya tidak ganti pakaian. Pelatih Choi berbohong kalau dia sudah berganti pakaian, dia hanya punya banyak yang model semacam ini karena ia menyukainya.

“Menurutku itu tidak terlalu bagus.” Pikir Profesor Yoon.

Pelatih Choi makin bete dan meremas kepalanya dengan sebal.


Pelatih Senam sedang memeriksa berat badan para atlet. Dia merasa aneh karena semua muridnya lulus tapi dia merasa ada yang aneh. Ia pun memeriksa timbangan tersebut dan menemukan pengganjal didalamnya.

Dia marah, ia meminta mereka untuk mengaku. Tidak seorang pun berani berbicara. Baiklah, pelatih tidak akan memaksa mereka mengaku, hanya saja mulai berok Pelatih akan menggunakan timbangan elektronik yang lebih akurat.

Soo Bin cs adalah pelakunya, malam hari mereka pun pergi keruang latihan untuk menghancurkan timbangan elektronik. Tanpa diduga ada orang lain selain mereka, keduanya langsung berjingkat kaget namun rupanya orang itu hanya Si Ho.

“Ini hanya aku.” Ucap Si Ho santai.

Woon Gi dan Bok Joo menjalankan latihan ekstra mereka dengan bimbingan Pelatih Choi dan Profesor Yoon.

Ayah dan Dae Ho datang ke tempat latihan untuk memberikan makanan pada mereka. Sontak Pelatih Choi salah tingkah, ia melakukan hal lain supaya bisa menghindari keduanya. Ayah menyerahkan minumannya sehingga Pelatih Choi terpaksa harus mengambil gardus minuman dari tangan Dae Ho.

“Pelatih Choi,  aku bertemu lagi denganmu setelah tadi pagi.” Bisik Ayah.

Pelatih Choi langsung meninggikan suaranya supaya tidak ada yang mendengarnya. Ia buru – buru mengambil gardus itu dan pergi.


Bok Joo menerima panggilan dari Dokter Jung, ia pun memutuskan untuk meninggalkan tempat latihan. Ia pun menelfon Dokter Jung dan mengatakan bahwa dirinya mungkin tidak akan pergi ke klinik lagi.

“Kenapa?”

“Sebenarnya, aku akan sekolah keluar negeri.”

“Sekolah di luar negeri? Apa untuk bermain cello? Kemana kau akan pergi? Jerman?”

Bok Joo membenarkan. Jae Yi merasa ikut senang meskipun agak sedih juga, dia merasa seperti akan kehilangan teman dekat. Tapi ia menyemangati Bok Joo untuk kesuksesannya. Ia akan minta tanda tangan kalau Bok Joo sudah terkenal.

Setelah panggilan berakhir, Bok Joo tidak bisa menahan air matanya. Ia menyuruh dirinya berhenti menangis, ini bukan saatnya untuk menangisi hal ini.


Bok Joo kemudian menelfon Joon Hyung, ia memberitahukan bahwa dirinya sudah mengatakan pada Jae Yi kalau dia tidak akan datang ke klinik lagi.

“Apa yang dia katakan?”

“Dia tidak banyak bicara.”

“Apa kau menangis?”

Joon Hyung mengaku kalau dia ada dikamar meskipun sebenarnya dia sudah bersiap untuk pergi ke suatu tempat. Dia pun balik tanya, Bok Joo ada dimana.

Joon Hyung menemaninya untuk melempar koin di kolam. Sebenarnya apa yang ia harapkan akhir – akhir ini? Dengan lemas Bok Joo berharap kalau orang yang ia cintai akan membalas perasaannya. Memang tidak mungkin sih tapi secara tidak sadar Bok Joo masih mengharapkannya.

“Apa alasan yang kau berikan saat kau bilang kau tidak akan ke klinik lagi?”

“Aku bilang aku akan sekolah di luar negeri.. untuk bermain cello.”


Joon Hyung tertawa mendengar kebohongan Bok Joo. Bok Joo menyalahkan Joon Hyung, lagipula ini juga salahnya. Joon Hyung kembali merasa bersalah, ia minta maaf. Dia tidak pernah mengharapkan hal semacam ini terjadi.

“Lupakan saja yang sudah terjadi. Bukan hanya kau yang harus disalahkan. Aku menyalahkan cinta.”

“Kau mungkin bisa jadi puitis setelah cintamu bertepuk sebelah tangan.”

Bok Joo memang agak sentimental saat ini. Dan satu hal yang paling membuatnya terluka, sampai akhir dia harus berbohong pada Dokter Jung. Ia ingin jujur padanya, setidaknya sekali saja.

Joon Hyung menyuruh Bok Joo melupakannya. Anggap saja ini cinta pertama dan biarkan dia pergi saja. Lagipula kan lebih penting cinta terakhir daripada cinta pertama. Bok Joo dengan lemas bilang kalau dia mungkin tidak akan menemukan cinta lagi. Dia akan melakukan angkat besi sampai mati.


“Kau hanya mengasihani dirimu sendiri.”

“Tidak, itulah kenyataannya. Aku harus kembali ke realita dan fokus pada angkat besi.”

Untuk menyemangati Bok Joo, Joon Hyung mengajaknya untuk clubing atau semacamnya. Bok Joo menolak, lain waktu saja soalnya hari ini dia sudah tidak punya tenaga. Kalau begitu, Joon Hyung mengajaknya nonton film. Dia akan mentraktir segalanya termasuk popcorn dan makanan. Dia tidak pernah melakukan hal semacam ini dengan teman – temannya, ia menganggap kalau hal itu buang – buang waktu.

Bok Joo mulai tertarik “Jam berapa?”

Si Ho pergi ke apotek dengan wajah sangat pucat, apoteker melihat kondisinya begitu buruk. Kalau sakit perutnya belum membaik, apoteker menyarankan supaya Si Ho pergi ke rumah sakit.

Baru beberapa langkah berjalan dari apotek, Si Ho sudah sangat lemas dan pingsan. Apoteker yang tadi melayaninya pun langsung memberikan pertolongan.

Dirumah, Ibu memberikan kado yang “katanya” dikirim dari kanada. Joon Hyung sudah menebak kalau hadiah itu berasal dari mereka. Dia pun mencobanya dan ukurannya begitu pas.

“Ibu dan anak pasti punya ikatan batin.” Ucap Ibu dengan kikuk karena suasana jadi agak canggung.

Joon Hyung tersenyum getir, dia pamit untuk masuk kedalam kamarnya.


Ibu berbisik pada Ayah, seharusnya mereka tidak membelikan sepatu yang pas, bukankah itu sangat mustahil?

Meskipun begitu, Ayah tidak mungkin membelikan sepatu dengan ukuran tidak pas karena Joon Hyung tidak akan bisa memakainya.

Joon Hyung membaca surat buatan Paman dan Bibinya. Dia kembali teringat dengan ucapan psikiater yang bertanya apakah dia tidak penasaran dengan keberadaan Ibunya? Rasa penasaran Joon Hyung yang terpendam akhirnya muncul ke permukaan. Dia berniat searching “cara mencari seseorang di Kanada”. Namun ada raut keraguan muncul diwajahnya.

Ponsel Joon Hyung malah berdering menerima panggilan dari Si Ho tepat saat ini. Dia bertanya dengan dingin, kenapa?

Bok Joo menunggu kedatangan Joon Hyung sampai kesal sendiri. Apalagi disana banyak sekali pasangan yang sedang mesra – mesraan bahkan sampai berciuman di publik. Bok Joo semakin risih, matanya sampai sakit melihat mereka, apa tidak bisa cari tempat sepi saja?

Jomblo satu itu terpaksa memainkan ponsel dengan hati dongkol.

Joon Hyung mengantarkan Si Ho menggunakan taksi, dia sudah disuntik jadi mungkin akan segera baikan. Si Ho meminta maaf sudah mengganggu Joon Hyung, hanya dia satu – satunya yang terlintas dalam pikiran Si Ho.

“Bukankah kau harusnya pulang ke rumah dan bukannya di asrama?”

Dengan sedih, Si Ho menceritakan bahwa kedua orangtuanya akan bercerai. Kalau dia pulang kerumah mungkin malah pikirannya semakin kacau. Ia tidak tahu asal mulanya tapi dia sudah kehilangan rumah dan tidak bisa melunasi hutang – hutang. Supaya bisa terus senam, keluarganya telah melakukan banyak pengorbanan.

Si Ho merasa terbebani dengan pengorbanan keluarganya. Mungkin dia tidak akan memulainya jika tahu kalau semuanya akan begitu sulit. Dia terlalu muda saat itu tapi ia tidak bisa berhenti sekarang.

Bok Joo bermain ponsel sampai terkantuk – kantuk, sebenarnya dia mau datang atau tidak?

Si Ho merasa kalau dia sebaiknya terus sakit supaya Joon Hyung bisa merawatnya. Joon Hyung melihat ponsel, ia langsung mengingat janjinya dengan Bok Joo. Ia menyuruh Si Ho untuk melanjutkan perjalananya sendiri. Si Ho memintanya untuk tinggal sedikit lebih lama.
“Aku harus pergi. Aku sudah terlambat.”

Si Ho memeluknya untuk menahan Joon Hyung pergi. Joon Hyung melepaskan pelukan Si Ho, dia memperingatkan supaya Si Ho menghabiskan obatnya. Ia pun pergi meninggalkan Si Ho tanpa menggubris permintaannya.

Bok Joo mengumpat marah sambil bermain game tembak – tembakan. Dia berteriak penuh dendam, mati! Mati! Mati saja kau!


Joon Hyung menemukan Bok Joo yang sedang teriak – teriak, dia langsung merapalkan doa sebelum menegurnya. Bok Joo sinis saat mengetahui Joon Hyung ada disana, filmnya sudah berakhir, untuk apa dia datang?

“Bok Joo. Maafkan aku.. maafkan aku.. Bok Joo.” Rengek Joon Hyung.

Joon Hyung masih terus merengek memohon maaf sepanjang perjalanan pulang. Bok Joo masih sangat kesal, kalau Joon Hyung memang merasa bersalah seharusnya dia mengatakan alasannya mempermainkan dia! Rasanya Bok Joo gatel ingin memukulnya.

“Oke, baik. Hajar saja aku! Hajar aku! Pukul aku!”

“Tidak ada seorang pria pun yang pernah mempermainkanku sebelumnya.”

“Aku berani bertaruh kau belum pernah pergi ke bioskop dengan seorang pria.”

Bok Joo makin murka, dia menyerampang lengan Joon Hyung menggunakan tangannya.

Joon Hyung kembali membujuk, dia akan membelikan daging sebagai permintaan maaf. Bok Joo masih jual mahal tapi dia menyetujuinya. Tapi dia maunya daging sapi bukan daging babi.

Apes, tahu kan seberapa mahalnya daging sapi di Korea. Joon Hyung meringis pahit mengiyakan.

Dalam perjalanan, Bok Joo melihat ada warung penjual kue ikan. Dia mampir dan menghabiskan bertusuk – tusuk kue ikan. Joon Hyung menggerutu apes tapi dia masih berbaik hati mengusap saus yang menempel di dagu Bok Joo. Pemilik warung memujinya, dia punya pacar yang sangat manis.

“Dia bukan pacarku.” Elak Bok Joo.

“Kau pasti menikah muda. Kalian berdua masih terlihat muda.” Elak Bok Joo dan Joon Hyung.

Bok Joo terus makan, Joon Hyung menyuruhnya makan sampai kenyang supaya dia tidak perlu menghabiskan uangnya lagi.

Joon Hyung benar – benar tidak percaya Bok Joo bisa makan sebanyak itu, dia sudah menghabiskan banyak kue ikan dan masih bisa nambah empat porsi daging. Bok Joo sudah berubah bahagia, ia mengucapkan terimakasih pada Joon Hyung yang sudah mengeluarkan banyak uang. Dia memang harus menebus kesalahannya.

“Ya. Aku teman yang buruk. Aku benar-benar minta maaf.”

Bok Joo menganggap kalau Joon Hyung sudah bersikap sinis padanya. Dia pun mengalungkan lengannya ke leher Joon Hyung sambil bercanda.

Si Ho melihat kedekatan mereka dengan cemburu. Ia langsung masuk dalam kamarnya, ia memutuskan menghapus semua foto lamanya bersama Joon Hyung. Ia menangis menyadari bahwa semua fotonya sudah menghilang. Mungkin ada rasa penyesalan tapi tetap dongkol melihat mantan yang masih disukai sudah punya gebetan lain. Perih euy!


Ibu datang ke klinik untuk memberikan makanan pada staff disana. Dia juga meminta Jae Yi untuk memberikan lauk yang ia buat untuk Ah Young. Dia dengar Ah Young tinggal sendiri jadi mungkin dia tidak bisa membuat makanan untuk dirinya sendiri. Ia beralasan bahwa membagi makanan dengan teman saat berulang tahun bisa membuat umur Jae Yi panjang.

“Apa itu alasan sebenarnya?”

“Memangnya apa lagi? Apa kalian berdua lebih dari sekedar teman?”

Jae Yi senang jika ibunya perduli dengan temannya tapi dia berharap ibu tidak berharap lebih. Dia tidak ingin kehilangan temannya.

Ibu hanya berharap supaya mereka berteman baik. Tapi tetap undang dia kerumah, katakan kalau Ibu kesepian dan menginginkan anak perempuan. Ibu bercanda pada Jae Yi.

Bok Joo berlatih keras sebelum kompetisi. Namun saat ia mengangkat barbel, punggungnya terasa sakit dan ia langsung menjatuhkan barbel tersebut. Dia mengaku kalau punggungnya agak kram.

Profesor Choi tidak bisa memaksakannya untuk berlatih, dia menyuruh Bok Joo untuk pergi ke ruang kesehatan dan memijat punggungnya.

Joon Hyung melihat Bok Joo melintas, ia pun langsung mensejajarinya. Dia mau kemana?

“Aku mau ke ruang kesehatan. Jangan pedulikan aku dan pergi saja.”

“Apa kau terluka saat latihan? Aku bilang kau harus lebih hati-hati.”

“Bagaimana denganmu? Kau mau kemana?”

Joon Hyung hampir keceplosan kalau dia mau pergi menemui kakaknya, dia pun meralat ucapannya, dia cuma mau keluar saja.

Ia memperhatikan Bok Joo yang berjalan lemas ke ruang kesehatan, sepertinya cederanya tidak parah. Dia hampir saja bilang kalau dia mau memberikan hadiah untuk Hyung, mulai sekarang dia harus menjaga bicaranya.

Sesampainya di klinik, Joon Hyung menempatkan hadianya di tempat Jae Yi meletakkan pot pemberian Bok Joo. Pegawai klinik mengantarkan kopi untuk Joon Hyung, ia memberitahukan kalau Dokter Jung sedang pergi menemui temannya, katanya dia mau ke sekolahan Joon Hyung.

“Mungkin dia ketempat Nona Go...” Joon Hyung tertegun sejenak.


Jae Yi sudah dalam perjalanan untuk mengantarkan makanan, dia menelfon Ah Young untuk memberitahukan kalau Ibunya telah membuatkan makanan untuknya. Ah Young masih agak kesal dengan kejadian kemarin, apa dia bisa menerimanya? Apakah dia akan mendapatkan ceramah seperti sebelumnya?

Tidak. Jae Yi tahu kalau dia sudah salah, sepertinya Ibu menyukai Ah Young setelah pertemuan kemarin.

Tapi Ah Young meminta maaf, dia tidak bisa keluar karena ada anak yang punggungnya sakit. Bukan masalah, Jae Yi yang akan menemuinya.

Joon Hyung buru – buru kembali ke sekolah, dia mencoba menghubungi Bok Joo tapi panggilannya tidak diangkat.

Ah Young menyuruh Bok Joo untuk membiarkan punggungnya di kompres selama 20 menit.

Joon Hyung akhirnya menghubungi Tae Kwon, dia menyuruh Tae Kwon mengeluarkan Bok Joo dari ruang kesehatan. Pokoknya dia tidak boleh bertemu dengan Hyung –nya, mengerti?

Tae Kwon berpapasan dengan Nan Hee dan Sun Ok, dia menyuruh keduanya untuk menghentikan SUV abu – abu diparkiran bagaimana pun caranya. Kakak Joon Hyung ada didalam mobil itu dan katanya mereka tidak boleh bertemu.


Sun Ok dan Nan Hee berlarian saat melihat SUV abu – abu melintas. Nan Hee langsung mengehentikannya dan pura – pura terjatuh akibat mobil itu. Sun Ok menyalahkannya pengemudi yang sudah membuat temannya sampai begitu.

Saat Nan Hee melihat wajah si pengemudi, dia sadar kalau bukan itu pria yang dimaksud.

Tae Kwon sampai juga ke ruang kesehatan, dia mengajak Bok Joo untuk keluar dari sana karena kakak Joon Hyung mau datang.

Bok Joo sangat terkejut, tapi celakanya belum sempat pergi, Jae Yi dan Ah Young sudah datang ke ruang kesehatan. Bok Joo buru – buru menarik Tae Kwon dan menutup korden ruangannya.

Ia bersembunyi dengan khawatir.


Untungnya Joon Hyung datang tepat waktu dan minta ditraktir makan patbingsu. Jae Yi keheranan, disaat dingin seperti ini makan patbingsu?

Pokoknya Joon Hyung kepengin makan sekarang, dia mengajak keduanya untuk pergi bersama – sama. Jae Yi dan Ah Young akhirnya setuju juga.

Ah Young membuka korden, dia pamit pada Bok Joo untuk pergi keluar sebentar. Dia memintanya untuk menunggu kompresan sampai lima menit lagi kemudian dia harus memijat punggungnya sampai malam.

"Iya" jawab Bok Joo dengan lirih.

Setelah lari bolak balik, Joon Hyung kelelahan. Dia mengirimkan pesan pada Bok Joo kalau situasinya sudah aman.

Tapi baru sesaat bernafas lega, Joon Hyung sudah mendapatkan kabar kalau Jae Yi meninggalkan ponselnya diruang kesehatan. Joon Hyung bilang kalau dia akan mengambilkannya. Ia pun harus berlarian lagi..

Bok Joo bernafas lega setelah mendapatkan SMS dari Joon Hyung. Sepertinya kejahatan selalu mendapatkan ganjarannya.


Celakanya lagi, Jae Yi mengendarai mobilnya dijalan yang Bok Joo lewati. Dan lebih celaka lagi karena Jae Yi melihat Bok Joo, ia keluar dari mobil dan menegurnya.

“Bok Joo-ssi?”

Bok Joo membeku ditempatnya.

Joon Hyung terlambat untuk menyelamatkan Bok Joo. Ia tak bisa berbuat apa – apa lagi untuk menyembunyikan kebohongannya.

-oOo-

7 Responses to "SINOPSIS Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 8 Bagian 2"

  1. Aq suka drama ini, alurnya ringan. Fighting....

    ReplyDelete
  2. Trimakasih banyak sinopsisny♪\(*^▽^*)/\(*^▽^*)/( ˘ ³˘)♥

    ReplyDelete
  3. Love love sama drama ini :*
    Bikin fresh gt ceritanya
    Thanks sinopsisnya :)

    ReplyDelete
  4. Daebak.. Lanjut unni... Thanks a lot... 😘🙌😁

    ReplyDelete
  5. ini dering hp nya kim bok joo judulnya apa yah? lucu...

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^