SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 13 Bagian 2

SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 13 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2

Sampai malam pun Na Ri masih terus menanti dan menunggu dengan gusar. Beberapa kali membuka ponselnya tapi belum juga menerima kabar apapun.


Yong Gyu (sebelumnya aku panggil Joon, tapi ternyata Yong Gyu) mengeluh selepas keluar dari kamar Nan Gil, katanya dumpling buatan mereka rasanya masih hambar. Na Ri datang mengejutkannya, kenapa mereka tidak memberikan kabar kalau Nan Gil sudah kembali?

“Yah... Bos memintaku untuk tidak mengatakannya. Kami benar-benar sibuk mempersiapkan diri untuk besok. Para penulis akan menuntut kita kalau kita juga tutup besok.”

Na Ri memasuki kamar Nan Gil yang begitu gelap, ia berniat menyalakan lampu tapi Nan Gil melarangnya. Nan Gil menyuruh Na Ri untuk membicarakan saja masalah properti dengan Duk Bong. Ia meletakkan sebuah amplop dan menyuruh Na Ri untuk membawanya.

“Katakan kepadaku untuk menyalakan lampu. Aku berjanji dalam doaku bahwa aku akan melakukan apapun yang kau katakan kalau kau kembali. Minta aku untuk menyalakan lampu. Aku harus berbicara denganmu.”

Tidak. Nan Gil menyuruhnya untuk tidak menyalakan lampu.

Na Ri bilang kalau ia sudah bertemu dengan Ayahnya, Nan Gil benar kalau Ayahnya memang masih hidup. Nan Gil menghampirinya dengan penasaran dan mencecarnya, dimana dia menemuinya? Kapan? Bagaimana?

Bukannya menjawab, Na Ri penasaran dengan luka yang didapatkan oleh Nan Gil. Nan Gil mengaku kalau dia baik – baik saja.

Na Ri yang tidak baik – baik saja, apa dia melakukannya demi dirinya? Apa dia melakukannya demi ayahnya?

Untuk menenangkan Na Ri, Nan Gil memeluknya dan memintanya tidak mengatakan apapun lagi.

“Maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku harus mengurus sesuatu. Semua sudah berakhir sekarang. Semua sudah diselesaikan.”


Dan rupanya Tuan Bae adalah bawahan dari Tuan Kwon. Dia mempertanyakan masalah buku besar dan tanah miliknya. Tuan Bae memberitahukan bahwa mereka telah memberikan apa yang Nan Gil miliki pada jaksa.

Sejak kapan Tuan Bae menepati janji? Dulunya Nan Gil adalah putranya, maka ia boleh melakukan apapun padanya. Tuan Kwon menyuruhnya untuk menyingkirkan Nan Gil... seperti cara lama.

Setelah menanti Na Ri tenang, ia bertanya apakah Na Ri benar – benar bertemu dengan ayahnya? Dimana dia? Siapa yang memberitahu Na Ri?

Na Ri yakin kalau dia telah bertemu dengan Ayahnya. Ia tidak akan memberitahukan siapapun dimana keberadaan ayah untuk sementara waktu ini. Wanita yang berhubungan dengan ayahnya menghubunginya setelah pertunjukan.

Tapi anehnya, dia tak tahu bagaimana wanita itu mendapatkan nomornya. Bibi itu memintanya untuk datang sendirian jadi dia berasumsi kalau Bibi itu juga hidup dalam persembunyian.


Nan Gil memperingatkan supaya Na Ri jangan pergi sendirian lagi kalau ada yang menyuruhnya datang sendirian, katakan padanya lebih dulu.

Siapa yang seharusnya khawatir sekarang? Na Ri tak mau mengatakan hal semacam ini pada Nan Gil lagi. Apa dia sudah ke rumah sakit? Nan Gil cemberut seraya mengangguk layaknya anak kecil.

Baiklah kalau begitu, Na Ri akan pergi dan Nan Gil harus beristirahat.

“Terimakasih.. Aku sangat berterima kasih karena dia (Ayah Na Ri) masih hidup.” Ucap Nan Gil tulus.

Na Ri tersenyum, dia juga sudah mengatakan pada ayahnya kalau dia sangat berterimakasih karena ayahnya masih hidup. Ia pun berniat pergi supaya Nan Gil bisa beritirahat.

“Na Ri. apa kau tidak bisa tetap bersamaku?” Nan Gil tiduran sambil memegangi tangan Na Ri “Aku terluka..”

Na Ri tersenyum melihat ke –imut –an Nan Gil.

Ayah Na Ri tersenyum bahagia memperhatikan fotonya bersama Na Ri. Jung Sook mengomentari sikapnya yang membuatnya jadi ikut emosional. Apa dia pura – pura punya masalah kesehatan dan anaknya meminta pulang?

Ayah menolak, sudah 20 tahun tak bertemu dan dia tak mau menjadi beban. Jung Sook mengompori Ayah kalau ia mendengar dari orang Da Da Finance kalau Ayah tirinya bersikap layaknya ayah tiri dan merebut tanah milik Na Ri.

Tidak begitu percaya omongan mereka, Ayah tidak ingin mempercayai ucapan preman karena ia melihatnya di acara TV.

Nah itu dia, Jung Sook menyuruh ayah untuk mengusir preman yang tinggal bersama putrinya. Dia harus pergi dan melindunginya. Ayah menolak, dia tak mau pergi. Ia merasa dirinya sudah melakukan terlalu banyak dosa.

“Mari lihat apa yang terjadi. Aku akan menonton dan melihat.” Ucap Bibi.

Karena Nan Gil belum juga tidur, Na Ri menawarkan untuk menceritakan sebuah kisah. Nan Gil mempersilahkannya.

“Dulu sekali, hidup seorang Ko Nan Gil yang legendaris. Katanya dia bisa melawan 100 orang dan menang. Tapi dia selalu punya selera yang baik sejak dia masih kecil dan jatuh cinta kepada seorang gadis cantik bernama Hong Na Ri.”

“Dasar tukang pamer..” bisik Nan Gil.

Na Ri tidak perduli dengan ucapan Nan Gil dan melanjutkan kisahnya. “Bahkan saat ia berkencan, dia masih melawan 100 orang.”

Baiklah. Nan Gil menyerah dan meminta maaf karena sudah bersalah.

Janji? Na Ri akan melakukan hal yang lebih kejam kalau sampai Nan Gil melakukannya lagi. Tidak karena Nan Gil juga merasa takut, takut kalau sampai ia membuat Na Ri kecewa. Na Ri menyuruhnya untuk menutup mata dan tidur.

Nan Gil pun menuruti ucapannya, meskipun harus mendengarkan kisah mengerikan tapi dia suka mendengarkan suara Na Ri.

Na Ri tersenyum kemudian meletakkan kepalanya di pundak Nan Gil. Nan Gil pun melakukan hal yang sama, keduanya memejamkan mata seolah posisi itu begitu nyaman.


Pagi sekali Yong Gyu sudah berangkat dengan riangnya, tepat saat itu Na Ri baru keluar dari kamar Nan Gil. Ia mencoba menjelaskan.. tidak.. anu..

“Mandu.. mandu.. mandu.. mandu..” nyanyi Yong Gyu dengan senyuman menuduh. Muehehehe.

Teman Nan Gil berangkat kerja pula, dia langsung masuk ke kamarnya dan memberikan amplop dokumen.

Nan Gil langsung menemui Duk Bong dan bertanya apakah ada sesuatu yang ingin ia katakan tentang tanah padanya? Duk Bong tak mengerti akan maksud perkataan Nan Gil. Nan Gil pun mengajaknya untuk menyelesaikan masalah tanah, hanya diantara mereka berdua.

Ia menunjukkan bukti transaksi antara Da Da dan Greenland.

Duk Bong mempelajari catatan tersebut kemudian bergumam, Ketua Kwon dalam masalah. Apa maksud Nan Gil memberikan bukti tersebut padanya, apa dia tidak mau menjual tanahnya pada keluarga sekotor ini?

“Aku punya buku besarnya sebagai bukti. Aku sedang mengancammu.”

Duk Bong tidak tahu bagaimana Nan Gil mendapatkan bukti tersebut tapi bagaimana kalau ancamannya tidak berhasil?

“Kami sudah mengatakan kalau kami akan melunasi hutangnya! Tapi Da Da menolak karena ayahmu. Itu sebabnya Na Ri hampir terluka. kau tahu itu.”

Duk Bong meminta dokumen asli, dia mempercayainya kan? Dia juga temannya Na Ri. Nan Gil tidak menjawab dan menyuruh Duk Bong untuk menyelesaikan masalah ini dengan ayahnya. Dan pastikan kalau Tuan Bae tidak bisa lari!

Selepas kepergian Nan Gil, Duk Bong menghubungi Tuan Kwon. Pertama, mereka sudah membuang limbah dan menjadi lintah darat. Sekarang, ayahnya malah bermitra dengan preman?

Tuan Kwon marah, ada hal yang Duk Bong tak tahu. Mereka harus bicara secara pribadi!

Duk Bong menolak. Dia ingin hidup sendiri saja dan akan mengirimkan Duk Shim kembali ke Seoul. Sebaiknya mereka tidak menjadi keluarga lagi.

Laporan terkini mengatakan bahwa Wan Shik menjadi buronan polisi. Wan Shik menonton beritanya dengan gusar. Anak buahnya memberitahukan bahwa Tuan Bae sedang menyuruh anak laki – lakinya untuk melacak nomor telfon Wan Shik, dia tak akan bisa bertahan lama kalau begitu.

Wan Shik menyuruhnya jangan membahas masalah ini lagi, toh sudah jelas mereka akan melacaknya setelah dia sekali pakai ponsel.

Nan Gil menelfonnya dan Wan Shik memutuskan untuk mengangkatnya. Nan Gil bertanya apakah dia sudah memutuskan untuk menyerahkan diri?

Wan Shik tersenyum sinis, dia sudah mengatakan dimana keberadaan buku besar pada Nan Gil dan membantunya...

“Aku tidak menganggap itu sebagai bantuan. Kau memanfaatkan aku untuk bisa bebas dari Tuan Bae. Aku mempertaruhkan hidupku untuk mengambilnya. Hubungi aku setelah kau membuat keputusan.” Nan Gil mengakhiri panggilannya.

Duk Shim protes karena tiba – tiba dikirim kembali ke Seoul. Dia sudah menjaga sikap dan mereka berdua kan saudara. Duk Bong dengan dingin bilang kalau mereka berdua bukanlah saudara, mereka tak berbagi darah. Dirinya sudah memutuskan hubungan darah, keluarga dan semuanya!

Duk Shim menolak untuk kembali ke rumah bodoh itu. Yang tua selalu merusak barang dan bertindak kejam pada ibunya. Ia membencinya! Kalau mau mengirimkannya kesana, ia memilih pergi saja dari sini!

Nona Kwon juga tak sependapat dengan keputusan Duk Bong, dia akan membawa Duk Shim ke rumahnya untuk sementara.

Nan Gil mencicipi dumpling buatan anak buahnya dan rasanya sudah cukup bisa diterima. Ia memutuskan untuk cuti dan meminta mobil pada dua anak buahnya. Mereka terkejut namun Nan Gil meyakinkan akan mengembalikan mobilnya secara utuh lagipula dia belum pernah mengalami kecelakaan sebelumnya.

Yong Gyu mengambil alih posisi Bos namun dua hoobae -nya menolak untuk menerima perintahnya. Mereka lebih memilih istirahat karena mengkhawatirkan mobilnya.

Nan Gil meminta Na Ri untuk berganti pakaian dan pergi bersamanya. Na Ri masih bertanya-tanya akan permintannya itu. Nan Gil cemberut soalnya dia sudah menjalankan apa yang diminta Na Ri bahkan Na Ri juga sudah berjanji akan melakukan apa yang dimintanya.

Na Ri akhirnya setuju tapi sebelum masuk mobil, dia bertanya “Apakah kau bisa mengemudi?”

Nan Gil meyakinkan. Na Ri masih agak ragu dan terus memegangi sabuk pengamannya dalam perjalanan. Nan Gil terusik akan sikapnya, sekali lagi dia meyakinkan bahwa dulu ia bisa melakukan apa saja dengan baik.



Ia memberitahukan bahwa dini hari tadi, ia sudah menemui Ibu. Nan Gil memberitahukan bahwa Na Ri telah bertemu dengan Ayahnya kemudian ia bertanya apa yang akan ia lakukan hari ini.

“Apa yang akan kau lakukan? Apa kau mengatakan selamat tinggal kepada Ibu atau sesuatu?”

Kenapa harus mengatakan selamat tinggal? Nan Gil malah akan lebih sering menemuinya. Wah... Na Ri yakin kalau “ayah tirinya” sedang dalam mood baik kali ini. Nan Gil sebal disebut ayah tiri, Na Ri kan sudah bertemu dengan ayah kandungnya.

Loh.... Na Ri meledek, memangnya salah untuk memanggil ayah tiri dengan sebutan ayah tiri?

Na Ri diam menatap keluar jendela sembari membatin “Nan Gil. Apa yang kau persiapkan? Untuk mengatakan selamat tinggal?

Nan Gil tersenyum, ia selalu penasaran apa yang tengah dipikirkan oleh Na Ri ketika ia menerawang keluar jendela. Apa itu buruk? Ia benar – benar penasaran.

Na Ri menoleh sebentar.

Nan Gil jadi perasaan sendiri “Iya. Aku tidak akan terluka.”

Na Ri menoleh sekilas lagi.

“Aku berjanji.” Tambah Nan Gil.

Duk Bong memeriksa kamar Duk Shim kemudian meminta anak buahnya untuk membongkar lagi barang – barangnya. Tak lama kemudian, Tuan Kwon menghubunginya tapi Duk Bong mengabaikan panggilan itu.

Yeo Joo terbatuk – batuk saat menantikan bus yang melintas. Ia berniat naik taksi karena busnya belum kunjung datang tapi tepat saat ia berniat membuka pintu taksi, bus sampai ke halte dan ia berniat mengejarnya.

Duk Bong menelfonnya bertepatan saat itu. Yeo Joo sempat berfikir sejenak sebelum akhirnya ia masuk dalam ruangan supaya lebih hangat dan mengangkat panggilan Duk Bong.

Duk Bong membahas mengenai uang yang ia bayar sebagai denda kantor polisi kemudian meminta Yeo Joo menggantinya. Yeo Joo terbatuk – batuk, ia mengatai Duk Bong sebagai orang kaya pelit. Kalau begitu beritahu dia nomor rekeningnya.

“Seperti apa jadwalmu?” tanya Duk Bong.

“Aku baru saja ke Seoul, jadi aku akan berlibur.”

“Kalau begitu datang kesini.”

“Kalau kau merindukanku, kau harus datang ke sini. Kenapa aku harus pergi?” Yeo Joo terus terbatuk.

Sepertinya Yeo Joo sedang kena flu, kalau begitu Duk Bong menyuruhnya untuk istirahat saja. Sebelumnya dia ingin meminta bantuan pada Yeo Joo. Yeo Joo penasaran, kalau dia membantunya apakah uangnya akan lunas?

Membantunya atau tidak, Duk Bong sudah menganggapnya lunas kok jadi dia istirahat saja.

Yeo Joo sengaja terbatuk – batuk sekarang “memangnya bantuan apa?”

Nan Gil menghentikan mobilnya di tempat peristirahatan. Ia sering datang ke sini saat ada masalah dan tidur. "Tempat peristirahatan tidur siang" melihat namanya saja sudah membuat Nan Gil ngantuk.

“Teruskan. Jangan hentikan satu jam sehari untuk mengenalku. Daripada merasa takut masa lalu akan ketahuan, lebih baik untuk mengetahui segala sesuatu tentang satu sama lain.”

Na Ri hanya diam memperhatikan Nan Gil yang terus berbicara. Nan Gil merasa aneh dengan sikapnya hari ini, ketenangannya membuat dia kehilangan keberanian. Nan Gil mencoba menyesap kopi ditangannya tapi dia malah kepanasan sendiri, Na Ri pun tersenyum karena tingkah konyolnya.

“Kupikir aku melindungimu, tapi kau melindungiku. Saat aku merasa lelah sehingga aku pikir aku akan mati, aku menyelinap untuk mengintipmu dan merasa lebih baik. Aku punya Pemberhentian Hong Na Ri.”

Tapi apapun itu, setiap kali dia menemui Na Ri pasti dia sedang bersama seseorang. Ia yakin kalau Na Ri sering bolos kelas. Na Ri sebal, jangan membahas masa lalu!

Nan Gil kemudian mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan menemui Ayah Na Ri.

“Kenapa kau ingin menemui ayahku? Apa kau ingin membahas hak asuh putrimu?”

“Haruskah kita melakukannya? Haruskah aku katakan kau milikku? Karena dia meninggalkanmu selama 20 tahun, tapi aku tidak pernah meninggalkanmu?”

Heol... Na Ri heran dengan ke –enegik –an Nan Gil hari ini.

Dalam perjalanan, Na Ri mengaku bingung bagaimana harus berurusan dengan ayahnya. Dengan bijak, Nan Gil menyarankan supaya menanyakan keinginakan ayahnya kemudian membuat keputusan.

Na Ri sejenak menatap Nan Gil seolah dia terkejut dengan sikap dewasanya.

Bak bertemu dengan camer, Nan Gil sudah grogi duluan sebelum memasuki rumah sakit. Ia menghela nafas dalam.

“Bagaimana penampilanku?”

“Kau terlihat seperti Ko Nan Gil yang legendaris.”

Nan Gil menghembuskan nafas semakin berat. Na Ri memintanya untuk tidak gugup lagipula dia bukan seorang calon menantu yang memperkenalkan diri. Seorang ayah tiri juga ayah, jadi keduanya sederajat.

Nan Gil terus berdiri meremas tangannya dengan gugup. Ayah terus mendongak menatapnya, ia mengaku lehernya sakit dan memintanya untuk duduk. Kenapa dia begitu tinggi padahal dulu generasinya tak begitu mempermasalahkan tinggi badan?

Mereka berdua akhirnya mengutarakan keinginan untuk membawa Ayah pulang. Ayah menolak soalnya dia akan dibunuh oleh Bae Byung Woo (Tuan Bae) kalau kembali. Nan Gil meyakinkan bahwa Da Da Finance akan berakhir.

“Da Da Finance?” Ayah tak tahu kalau Tuan Bae menjadi CEO perusahaan keuangan.

Sontak dia bangkit dengan marahnya, penipu itu menjadi seorang CEO perusahaan keuangan. Ayah langsung menjaga sikapnya setelah berteriak, dia tak mau kembali. Mengunjunginya sesekali saja sudah membuatnya senang.

Ia memperhatikan keduanya kemudian berbisik pada Nan Gil “Apa hubunganmu dengannya (Na Ri)?”

Nan Gil melirik bingung kepada Na Ri.

Yeo Joo menemui Duk Shim disaat sedang flu, dia mengatakan bahwa bertemu dengannya sebagai ganti atas bantuan kakak Duk Shim. Kakak Duk Shim mengatakan kalau dia adalah pria jadi dia tak tahu bagaimana harus bicara dan memintanya untuk kembali.

Duk Shim menghembuskan nafas panjang.

“Hei! Apa kau mengabaikanku?”

Apa masalah Duk Shim sebenarnya? Yeo Joo berharap dia tak berakhir sepertinya. Dia tak punya teman dan menginginkan milik orang lain namun hatinya masih selalu terasa kosong. Dia tak percaya orang lain bahkan ketika orang itu mengatakan kalau dia menyukainya.

Lama – lama Yeo Joo baper “Kau tidak akan menikmati apapun, atau percaya saat seseorang mengatakan dia menyukaimu. Kau tahu kau cantik, tapi bertanya-tanya berapa lama itu akan bertahan. Dan kemudian kau tidak akan tahu siapa kau.”

Yeo Joo menangis. Duk Shim memberikan tisu dengan malas, sebenarnya Yeo Joo mau menghibur atau minta dihibur sih?

Tak lama kemudian, Duk Bong datang. Duk Shim buru – buru bangkit. Duk Bong menghentikannya tapi Duk Shim mengatakan kalau dia mau pergi kerja.


Duk Bong menyuruh Yeo Joo untuk melupakan saja masalah adiknya. Ada apa dengannya?

Yeo Joo meyakinkan kalau adik Duk Bong akan segera kembali ke rumah. Tiba – tiba Duk Bong berubah serius dan bertanya, bagaimana dia bisa memiliki Na Ri? Ia sungguh ingin memilikinya.

Untuk sesaat, Yeo Joo tampak sedikit kecewa dan diam tidak menjawab.

“Berpura-pura kau tidak mendengarnya. Aku tidak melakukannya dengan baik.” Ucap Duk Bong akhirnya.

“Daya saingmu akhirnya muncul karena cinta segitigamu yang membosankan.”

Na Ri terdiam menerawang keluar jendela mobil. Nan Gil menggenggam tangannya sejenak kemudian mengajaknya untuk sering – sering menemui Ayah. Ia kemudian bertanya apakah Na Ri lelah? Kalau begitu mereka akan pulang ke rumah.

Na Ri masih diam.

“Kau lelah, bukan?”

“Kenapa kau terus bertanya apa aku lelah? Ini melelahkan.”

Akhirnya Nan Gil jujur ingin mengajaknya nonton film sambil makan popcorn. Pesan kopi dan makan kue. Pergi ke tenda... Na Ri menambahkan untuk minum soju. Itu adalah berkat dimusim dingin.

“Ayo kita makan kue ikan dengan isi ulang sup gratis. Seperti yang pasangan pada umumnya lakukan.”

Oho... mereka tidak dalam hubungan yang bisa melakukan semua itu. Tolak Na Ri. Nan Gil kembali membahas kalau dia sudah melakukan apapun yang dikatakan Na Ri loh.

“Memangnya kau punya buku besar?”

Nan Gil kaget, apa?

“Kau harus menuliskan segala sesuatu yang aku minta dalam sebuah buku besar.” Jelas Na Ri membuat Nan Gil lega.

Tuan Kwon datang ke kantor Duk Bong. Duk Bong mengkonfrontasinya untuk menceritakan semuanya secara detail. Tuan Kwon kekeuh kalau dia tidak punya hal detail yang ia bisa diceritakan. Dia hanya menggunakan uangnya.

“Dan itu penggelapan!”


Duk Bong mendengar kalau mereka sedang menyelidiki hubungan Da Da finance. Apa mereka memiliki buktinya?

Tuan Kwon bilang kalau Tuan Bae tidak memiliki buku besarnya. Duk Bong semakin marah, mereka punya catatan buku besar selama bertahun – tahun. Ia pun menunjukkan bukti yang ditunjukkan oleh Nan Gil.

Tuan Kwon terkejut, dia ingin tahu siapa yang memberikan catatan ini padanya. Ia harus tahu supaya ia bisa mengurusnya.

“Ayah. Tolong lakukan seperti yang aku katakan untuk sekarang.” Ucap Duk Bong.

Dalam perjalanan, Nan Gil dan Na Ri melihat beberapa pasangan sedang berfoto didekat pohon natal yang indah. Mereka saling bercanda kemudian foto sambil cium pipi. Keduanya cuma mesem saja kemudian melanjutkan perjalanan.


Diwarung pinggir jalan, Nan Gil ingin mengakhiri perjalanan mereka hari ini. Na Ri menolak soalnya pergi ke warung tenda tanpa minum soju berasa ada yang kurang. Ia tidak mau berpura – pura bodoh lagi. Saat ayahnya akan pergi, ia menghabiskan banyak waktu bersama dan tersenyum lebih sering kemudian memberikan banyak hadiah. Dia menyukainya sekaligus gugup, Na Ri menyadarinya setelah Ayah pergi. Jadi apakah Nan Gil juga akan meninggalkannya?

“Kenapa aku harus meninggalkanmu?”

“Lalu kenapa kau berpura-pura kuat dan ceria hari ini?”

Nan Gil memang biasanya ceria dan kuat. Sejujurnya, ada sesuatu yang belum sempat ia katakan pada Na Ri.

“Apa itu?”

“Na Ri. Sekarang setelah kau menemukan ayah kandungmu. Aku ingin menjadi pria normal untukmu. Sama seperti yang kau katakan, Aku ingin berkencan, mencintai, menikah, dan punya anak. Ayo kita berkencan sebagai pasangan yang normal yang bisa melakukan apa saja.”

Sepulangnya, mereka berdua melakukan apa yang pasangan lain lakukan dan berfoto didekat pohon natal.

Nan Gil memperhatikan tangan Na Ri namun tak berani untuk menggenggamnya. Dalam batinnya ia bertanya – tanya, kenapa Na Ri belum juga memberikan jawaban?

Tuan Bae mendapatkan informasi bahwa mereka sudah menemukan telfon serta mobil yang ditinggalkan oleh Wan Shik. Tuan Bae memerintahkan Pengacara Kim untuk memeriksa semua keluarga dan teman – temannya. Lalu apa yang dimiliki oleh pihak penuntut?

Pengacara Kim yakin kalau mereka memiliki bukti yang lebih serius. Ia yakin kalau komputer mereka juga sudah diretas.

Tuan Bae menggumam geram “Nan Gil...”

Na Ri mengobati luka ditangan Nan Gil. Ia mengucapkan terimakasih karena Nan Gil bersedia menjenguk ayahnya padahal kondisinya sendiri sedang tidak baik. Ia kemudian ingin melihat foto – foto mereka tadi.

Ia tersenyum melihat foto keduanya yang tampak bagus. Namun ia langsung sebal saat menemukan foto jeleknya sedang berusaha membuka komputer Nan Gil, dulu.

Jelek apanya? Nan Gil malah sering membukanya saat ia merindukan Na Ri.

Na Ri berusaha merebut ponsel dari tangan Nan Gil karena ia ingin menghapusnya. Nan Gil menolak dan berusaha menjauhkan ponselnya dari jangkauan Na Ri. Keduanya dalam posisi yang begitu dekat hingga akhirnya Nan Gil malah memeluk Na Ri.

“Ayo kita mulai sebagai pasangan biasa yang bisa melakukan apa saja.”

“Ayo kita lakukan itu. Ayo kita mulai sebagai pasangan yang normal sekarang.”

Dengan berat hati, Na Ri mengantarkan Nan Gil keluar rumah dan menolak untuk masuk kembali ke rumah duluan. Dia mau melihat Nan Gil masuk ke kamarnya lebih dulu. Nan Gil memintanya untuk tetap masuk tapi Na Ri terus menolak.

“Kau begitu kekanak-kanakan.”

“Selamat datang kembali ke dunia kekanak-kanakan.” Ujar Na Ri.


Tak disangka sebelum sempat berpisah, Tuan Bae datang ke rumah mereka. Nan Gil terkejut melihat kedatangan Tuan Bae ke tempatnya.

-oOo-

2 Responses to "SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 13 Bagian 2"

  1. Unnie aku saranin buat next project nya itu hwarang soalnya rindu ama park se joon ya unnie please

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^