SINOPSIS Something About 1% Episode 14 Bagian 1

SINOPSIS Something About 1% Episode 14 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: DramaX
Episode 14: A Lie “Will time really heal me?”


Jae In menuntut stempel atas kelakuan baiknya kali ini. Da Hyun meraih tangannya dan menulis dengan jemarinya di telapak tangan Jae In – Kerja Bagus -. Jae In meraih kepala Da Hyun kemudian mengecup pucuk kepalanya dengan senyum penuh kasih sayang.

Da Hyun mengedarkan pandangan ke sekitarnya, setelah yakin tidak ada siapapun, ia memberikan hadiah kecupan singkat di pipi Jae In.

Malam harinya, mereka berdua bicara lewat telfon. Da Hyun bertanya kapan mereka akan bertemu kembali?

“Akhir pekan?”

“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Da Hyun.

Da Hyun mempersiapkan pertemuan mereka dengan membeli pakaian.

Jae In mengenakan pakaian olahraga yang sudah dibelikan Da Hyun. Bukankah ia membelikannya supaya mereka bisa olahraga bersama? Tidak, Da Hyun hanya takut kalau sampai baju kantor Jae In berlubang karena ber-olahraga. Jae In yang membutuhkan cahaya matahari, jadi ia harus berolahraga sendiri.

Tentu saja Jae In menolak dengan alasan bahwa pria yang peka harus selalu memperhatikan kekasihnya. Mereka harus bersama – sama supaya adil.

Dia pun membimbing Da Hyun untuk lari bersama – sama meskipun awalnya Da Hyun menolak.


Setelah lelah berolahraga, keduanya duduk di tangga menikmati udara sejuk sembari mendengarkan musik. Tampak santai. Dan menyenangkan melihat keduanya sudah nyaman satu sama lain.

Keduanya semakin hari semakin lengket saja. Setiap malam sebelum tidur, keduanya berkomunikasi membicarakan apa yang terjadi seharian. Mulai dari makan apa, kegiatan mereka dll.


Saat bertemu pun keduanya seolah enggan untuk berpisah. Jae In membuat alasan untuk berjalan – jalan agar mereka bisa bersama – sama lebih lama. Da Hyun memintanya pulang setelah berjalan – jalan sebentar. Tak lupa ia memberikan stempel “Kerja Bagus” untuk Jae In.


Suatu pagi, Da Hyun dibangunkan oleh morning call Jae In. Ia pun memberikan semangat pada Jae In yang akan berangkat kerja. Da Hyun baru bangkit dari tempat tidur, tanpa sengaja ia memperhatikan kalender dan disana tertera bahwa kontrak pacaran mereka sudah hampir berakhir. Da Hyun tampak kurang bahagia menerima fakta tersebut.

Ibu Jae In menemui Da Hyun di sekolah secara pribadi. Keduanya sudah lama tidak berjumpa, ia berbasa – basi menanyakan kabar Da Hyun yang katanya banyak menerima waktu sulit akibat perbuatan Joo Hee. Da Hyun bilang bahwa dia baik – baik saja.

Ibu Jae In tidak tahu apakah Da Hyun mengetahui bahwa dia dan Jae In sama sekali tidak memiliki hubungan darah tapi dia tidak pernah sekalipun berfikir kalau Jae In bukanlah anaknya. Ia berharap kalau Jae In nantinya akan menjadi pemilik baru dari SH Grup.

Meskipun tak bicara secara langsung, Da Hyun cukup mengerti akan arah pembicaraan Ibu Jae In. Ia memintanya jangan khawatir karena mereka berdua sama sekali tidak berfikiran untuk menikah.

“Kenapa kau pikir aku akan khawatir?” tanya Ibu.

“Anda begitu menghargai Jae In –ssi, itulah kenapa anda sampai datang kesini untuk mengatakan itu. Dia mengatakan padaku bahwa anda adalah seseorang yang baik. Dan dia bukan tipe yang akan berbohong kalau tidak menguntungkan untuknya. Jangan khawatir. Kita tidak punya banyak waktu bersama.”Jelas Da Hyun.

Sebelum masuk ke dalam mobil, Ibu memperhatikan sekolah terlebih dulu “Sangat disayangkan.”

Sekarang Ibu mengerti kenapa kakek memperkenalkan wanita itu dengan Jae In. Meskipun tetap menentang hubungan mereka, Ibu Jae In cukup menyayangkan karena wanita itu tidak bisa bersama Jae In.

“Aku yakin kalau Da Hyun tetap belum mengerti kenapa aku memilihnya menjadi pasangan Jae In. Dia tipe yang akan membantu orang lain tanpa mengharapkan balasan. Wanita seperti dia cukup langka.” Ujar Kakek.

Da Hyun memperhatikan kalendernya dengan sedih, besok adalah hari terakhir berakhirnya kontrak mereka.

Ia sudah mengingat pembicaraan mereka saat dia tengah mabuk. Jae In mengajaknya untuk berjalan bersama – sama meskipun mereka harus melewati jalan yang sulit. Da Hyun meraih pipi Jae In, ia bilang bahwa ia ingin melakukan “itu”. Tapi ia merasa bahwa ia tidak seharusnya melakukan “itu”.

“Kita tidak boleh melakukannya kan?” tanya Da Hyun sedih.

Da Hyun meneteskan air mata mengingat ucapannya tersebut. Ia berfikir bahwa mereka memang tidak boleh melakukannya... lebih tepatnya.. mereka memang tidak seharusnya melakukannya.

Ponselnya bergetar, Da Hyun segera menghapus air matanya dan mengangkat panggilan dari Jae In.


Mereka berdua bertemu saat itu pula, keduanya sama – sama tak bersemangat kali ini. Da Hyun mencoba mencairkan suasana “Besok adalah hari terakhir kita kan? Ini giliranmu untuk memilih apa yang akan kita lakukan. Apa yang akan kita lakukan?”

Jae In mengajaknya untuk bertemu dini hari kemudian melakukan perjalanan. Mereka belum pernah jalan – jalan kemanapun kan?

“Kau benar. Haruskah kita melakukannya?”

Jae In mengangguk dengan senyum kecut.


Keesokan paginya ketika hari masih begitu gelap, mereka berdua sudah memulai perjalanan. Jae In menyarankan pada Da Hyun yang masih ngantuk untuk tidur. Da Hyun menolak karena ia tidak mungkin meninggalkan Jae In menyetir sendirian.

Jae In pun memutarkan musik klasik. Da Hyun tidak begitu menikmatinya, dia malah semakin ngatuk kalau mendengarkan musik semacam itu. Ia pun memutar lagu Ji Soo yang khas boyband.

“Ah.. itu membuat kepalaku sakit.” Komentar Jae In.

Da Hyun tersenyum getir, selera musik mereka sangatlah berbeda.

Jae In meraih tangan Da Hyun “Mungkin memang benar, tapi bukankah selama ini kita baik-baik saja bersama?”

Da Hyun terus memunggungi lautan dan memperhatikan jajaran bukit yang mengelilingi pantai. Jae In penasaran apakah Da Hyun tidak menyukai laut?

Da Hyun hanya berfikir untuk pergi ke bukit dan melihat pemandangan yang lebih indah dari sana. Sepertinya tempat ini tak begitu bagus untuk membangun resort.

Jae In tersenyum meledek, apa kau mau berhenti menjadi guru dan bekerja di perusahaanku?

“Tidak terimakasih.”

Wow.. Jae In tak menyangka kalau mereka sudah berkencan selama enam bulan tapi sepertinya masih banyak hal yang belum mereka lakukan.


Da Hyun menunjuk sepasang kekasih yang telanjang kaki berjalan dibibir pantai menikmati ombak kecil yang menghantam kaki mereka “Mau mencoba seperti itu?” tanya Da Hyun sembari melepaskan sepatunya.

Jae In melongo, apa harus melepas alas kaki? Apa Da Hyun tidak puas hanya dengan melihatnya saja? Dia tidak mau kena air laut yang asin, kakinya pasti jadi lengket.

“Memangnya mereka melakukan itu karena tidak tahu akan hal tersebut?” kesal Da Hyun.

“Tepat! Jadi kenapa juga harus melakukannya?”

Da Hyun menghirup udara lautan dalam – dalam. Lautan! Kenangan! Romatis! Da Hyun menyuruh Jae In untuk memilih salah satu dari hal tersebut.

Terpaksa, Jae In akhirnya menuruti keinginan Da Hyun dan melepaskan sepatunya dengan berat hati. Ia melepas jaketnya kemudian mengenakannya untuk Da Hyun. Dia masih mengeluh, bagaimana hal semacam ini disebut romatis?


Da Hyun menengadahkan tangannya dan Jae In pun menyambut tangan tersebut. Keduanya bergandengan, Jae In senang “Yang ini baru sedikit romatis.”


Meskipun terus mengeluh sebal tapi Jae In akhirnya bisa menikmati bercanda dengan Da Hyun dan melupakan masalah kaki. Keduanya berlarian dan bercanda dengan riangnya.

e)(o

11 Responses to "SINOPSIS Something About 1% Episode 14 Bagian 1"

  1. senengnya... sdh update lg... ganbate!!!

    ReplyDelete
  2. asik2... udah update lagi lanjut. asa... asa...asa.... fighting

    ReplyDelete
  3. wah keren cpet bgt updatenya, terimakasih
    semangaaat

    ReplyDelete
  4. Kurang sedikit lagi Kak... Semangat...

    ReplyDelete
  5. Lanjuuut �� suka baca sinopsisnya ��semangad sampai akhir ����

    ReplyDelete
  6. Semangat semangaatttt unni
    Tetep ditunggu lanjutannya...

    ReplyDelete
  7. di tunggu part2 ea ya unnie fighting.....

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^