SINOPSIS Hwarang Episode 3 Bagian 2

SINOPSIS Hwarang Episode 3 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2

A Ro memukulkan kepalanya ke meja kemudian meremas rambutnya dengan frustasi. Ia cukup percaya kalau pria itu adalah Kakaknya, tapi disisi lain juga dia tidak ingin pria itu menjadi kakaknya. Teman A Ro tahu perasaan A Ro, memang terkadang kakak itu sangat menyebalkan tapi kalau dia pergi maka akan terasa kehilangan.

“Kalau saja aku tidak membuat hal bodoh seperti keluar dari diriku sendiri.” Rutuk A Ro.

“Berbuah hal bodoh? Kau pernah bertemu dengannya sebelumnya.”

A Ro semakin frustasi dan kembali memukulkan kepalanya ke meja.



Preman yang ditugaskan mencari Moo Myung menemui Woo Reuk. Woo Reuk mengabaikannya dan mengatakan bahwa anjing-burung sudah meninggalkan. Preman tertawa tidak percaya kalaupun dia mati maka ia akan menghidupannya kembali dan menjualnya dengan harga mahal. Ah.. ia sebelumnya mendengar kalau pria itu sedang mencari informasi sebuah kalung, ia akan mencarinya anjing – burung sendiri.

Orang desa sedang meminta obat pada A Ro dan berharap mati saja. A Ro menceramahinya supaya dia cepat sembuh dan bermain bersama anak – anaknya lagi. Raja menghampiri A Ro, tentu saja A Ro terkejut karena harus bertemu dengan orang mesum yang ia temui di Okta lagi.
Raja meraih tangan A Ro dan meletakkan di dahinya, dia mengaku sedang demam dan mencari tabib. A Ro menarik tangannya dengan khawatir “Apa kau kesini untuk tidur lagi? Kau tidak gila kan?”

“Aku hanya khawatir.” Ucap Raja mengingat kejadian adu pedangnya dengan Moo Myung yang melibatkan A Ro.

“Denganku? Kenapa?”

Raja mengalihkan pembicaraan dengan meminta diberi obat yang panas dan pahit tapi menyehatkan untuk tubuh. A Ro menolak, dia sibuk karena besok adalah hari perayaan ulang tahun Raja.

“Kau membantu orang sakit dengan gratis dan bekerja di tempat lain? Kau cukup bodoh. Raja adalah orang tolol yang tidak bisa menunjukkan wajahnya. Mengapa dia membutuhkan perayaan?” Ejek Raja pada dirinya sendiri.

A Ro tidak sependapat karena menjadi lemah dan muda bukanlah sebuah dosa. Bayangkan saja jika dia berusaha untuk melakukannya sesuatu tapi tidak mampu untuk melangkah maju. Raja terhenyak mendengar penjelasan A Ro. A Ro menambahkan bahwa setiap orang memiliki waktu saat mereka muda dan lemah.
Seketika saat Ui Hwa menunjukkan gulungan bertuliskan Hwarang, semua anggota dalam rapat berkoar tidak karuan. Ada yang menyetujuinya dan ada juga yang menentang keras dengan alasan tidak mau anaknya di sandera.

Ui Hwa komat – kamit mengumpati sikap mereka, bangasawan menolak menyerahkan anaknya pada Silla karena Silla adalah negara terlemah dan kecil diantara tiga negara lain. Dasar bodoh! Tikus berandal!

Kedatangan Ratu Ji So mampu membungkam mulut bangsawan yang tadinya berkoar tidak jelas. Apa yang menyebabkan keributan ini? Bangsawan dengan tegas menunjukkan penolakan pembentukan Hwarang.

Park Young Shil menyarankan supaya mereka paling tidak menunggu sampai perayaan ulang tahun. Tahun ini Raja sudah dewasa, tidak mungkin mereka terus – terusan menunjukkan tandu kosong.

Setelah Rapat berakhir, Ui Hwa bertanya apakah mereka harus membatalkan penyelenggaraan perayaan? Ratu Ji So tetap akan mengadakannya, kalau sampai mereka membatalkannya maka Keluarga Kerajaan akan kehilangan kewibawaan. Jika mereka tidak membuat Hwarang maka Keluarga Kerajaan Silla mungkin akan menderita dan saling melukai.

Kalau begitu, Ui Hwa meminta Ratu Ji So untuk memberikan perintah kepadanya. Bukankah dari awal beliau memang memberikan wewenang penuh kepadanya?
Joo Ki melongo memperhatikan Ui Hwa sedang menulis menggunakan tangan kiri padahal dia tidak kidal. Tentu saja alasannya supaya tulisan Ui Hwa tidak dikenali penerima suratnya. Ui Hwa berencana untuk mengubah masa depan Silla dengan menggunakan surat ini. Joo Ki yang kurang cerdas pun tidak bisa memahami penjelasan Ui Hwa.
Tidak lama kemudian, surat buatan Ui Hwa sudah berada di tangan kurir yang mengantarkannya ke kediaman Ban Ryu dan Soo Ho. Soo Ho syok karena menduga kalau surat itu buatan Ban Ryu yang mengajaknya bertemu di Najeong. Kenapa harus berada ditempat suci? Tapi kalau tidak datang nanti dia dianggap sebagai pengecut.

Ban Ryu juga kesal mendapatkan surat yang dikiranya dari Soo Ho. Kenapa harus di Najeong?

Park Young Shil tidak bisa berdiam diri, ia juga melakukan pertemuan dengan kroninya. Mereka membuat rencana untuk menggagalkan rencana Ratu Ji So. Mereka membuat keputusan untuk tidak hadir dalam acara perayaan.

“Kita harus menunjukkan bahwa perayaan dengan tandu kosong tidak lain hanya sebuah acara biasa.” Ujar Park Young Shil. Mereka semua menyeringai penuh kelicikan.

Keesokan harinya, Ratu Ji So sudah bersiap menggunakan jubah kebesaran. Ia terkejut saat melihat banyak bangsawan yang tidak hadir. Kim Seub memberitahukan bahwa sebagian besar pejabat tidak hadir dengan alasan sakit.

Ratu Ji So sudah bisa menebak rencana licik para Bangwasan untuk mencegahnya menciptakan Hwarang. Hanya ada satu cara untuk memotong kesombongan mereka, yaitu dengan menciptakan Hwarang.

Arak – arakan dilakukan dan semua orang mencoba melihat ke arah tandu, mereka tidak habis pikir kenapa Raja tidak pernah menampakkan diri. Raja sendiri ada disana sambil memperhatikan jalannya perayaan. Pa Oh menyarankan supaya mereka cepat pergi karena banyak orang yang bisa melihat mereka. Raja tidak perduli lagipula tidak akan ada yang mengira Raja berjalan – jalan dihari ulang tahunnya.

“Menjadi muda dan lemah bukanlah dosa.” Ucap Raja mengulang perkataan A Ro “Tapi itu tidak lagi.”
Moo Myung juga berniat pergi dengan alasan ingin mencari seseorang. Ahn Ji menyuruhnya supaya tidak pulang terlambat. Moo Myung mengangguk kecil namun Ahn Ji masih menaruh kecurigaan padanya sehingga ia pun membuntuti Moo Myung.

Moo Myung tampak keheranan melihat pasar yang begitu ramai dan penuh sesak oleh orang – orang.

Ban Ryu berniat menyebrang jalan namun pejaga menghalanginya karena Ratu Ji So akan segera melintas. Akhirnya ia pun ikut berjajar bersama orang lain, tapi takdir membuatnya harus bertemu dengan saingannya. Soo Ho. Soo Ho memperingatkan supaya Ban Ryu datang malam ini, kalau sampai kabur maka ia akan membunuhnya.

“Aku tahu!” ketus Ban Ryu. Bagaimanapun, dia menduga Soo Ho sangat senang karena akan bertemu dengan Ratu tercintanya.

“Ini merupakan loyalitas tanpa membedakan jenis kelamin. Pemberontak seperti kau tidak akan pernah mengerti.”

“Kau tidak pernah bertemu dengan Ratu kan?” ejek Ban Ryu.

Soo Ho tidak bisa mengelak “Memangnya kenapa?”
Tidak lama setelah itu, Ratu Ji So muncul menggunakan tandu. Pengawalnya memberitahukan padanya bahwa dua pemuda (Soo Ho dan Ban Ryu) yang berdiri disana adalah Putra dari Kim Seub dan Park Young Shil. Ratu Ji So hanya melirik sepintas.
Soo Ho sepertinya memang benar – benar mengaggumi sosok Ratu Ji So, dia terus mencuri padang dengan tatapan terpesona saat ia melihat dihadapannya.
Joo Ki menunjukkan pada Ui Hwa bahwa balkon ditempatnya adalah tempat paling bagus untuk menyaksikan perayaan. Ui Hwa hanya bisa menanggapi remeh, memangnya apa yang bisa dilihat dari perayaan itu? Perayaan tanpa Hwarang dan Raja. Ambisi Ratu memang tidak ada batasnya sampai tidak ada tempat bagi anaknya untuk berdiri.

Saat Joo Ki berniat pergi meninggalkan Ui Hwa, Raja datang kesana untuk menemui Ui Hwa.

Keduanya berbicara empat mata, Raja mendengar bahwa ia harus menemui Tuan Ui Hwa jika ingin menjadi Hwarang. Ui Hwa menyuruhnya untuk memperkenalkan diri dulu sebelum memulai pembicaraan.

“Memang apa pentingnya nama? Aku Ji Dwi.” Jawabnya.

“Tuan Ji Dwi, anak dari siapa?”

Raja menolak untuk memberitahukan masalah keluarganya karena keluarganya cukup berantakan. Ui Hwa juga menolak untuk menerimanya menjadi Hwarang ketika dia tidak bisa membuktikan identitasnya.

Dengan santai, Raja mengaku kalau dia hanya ingin membuat koneksi supaya bisa mempertahankan hidupnya. Ui Hwa menuntut supaya Ji Dwi mengatakan kebenaran atas tujuannya. Raja menawarkan dua opsi, dia ingin mengetahui kebenaran atau setengah kebenaran?

“Apa setengah kebenaranmu karena kau ingin menjadi Hwarang?”

Raja mengaku bahwa dia ingin menyeret bintang yang paling mencolok untuk turun. Bintang itu merujuk pada Ra-tu.

Moo Myung berdiri diantara orang – orang yang berjejer di jalanan. Ia pun menunduk saat menyambut kedatangan Ratu namun saat ia mencuri pandang, ia terkejut melihat sosok Pengawal Ratu. Ia pun langsung sadar bahwa orang itu yang telah menebasnya dan menyebabkan kematian Mak Moon.

Sontak kemarahan Moo Myung tidak terkendali, dia langsung menyerang Pengawal. Pengawal Ratu dengan mudah menangkis serangannya hingga Moo Myung terjatuh. Moo Myung yang terlalu emosi sampai tidak memperhatikan hidupnya dalam bahaya. Dia bangkit dan berusaha menyerangnya menggunakan tangan kosong. Namun prajurit mampu menahannya, mereka menjepit leher Moo Myung menggunakan pedang.


Ahn Ji berdiri ditepian jalan mengkhawatirkan nasibnya. Ratu turun dari tandu, ia bertanya siapa nama Moo Myung? Moo Myung menatapnya diam.

“Kalau memang dia berniat tutup mulut. Bunuh dia!”

“Yang Mulia!” teriak Ahn Ji dan berlutut dihadapan Ratu. Sontak Ratu Ji So membeku ditempatnya.

Kilas balik. Ratu Ji So yang mengenakan pakaian biasa dan sepertinya dia belum menjadi Ratu. Ia menangis dihadapan Ahn Ji “Tolong bawa aku pergi dan biarkan kami meninggalkan ibukota ini.”
“Dia anak laki-lakiku. Aku kehilangan dia ketika dia masih kecil dan aku akhirnya menemukan dia. Ia hidup tanpa ayahnya selama ini, dan dia sudah melakukan dosa besar. Silahkan bunuh aku sebagai gantinya.”

Ratu Ji So mengerti dan seperti biasanya, Ahn Ji memegang teguh kata – katanya. Ia pun menerima pedang dan mengarahkannya di leher Ahn Ji, seorang ayah memang bisa menanggung perbuatan ayahnya.

Moo Myung berteriak memberitahukan bahwa dia tidak ada hubungannya dengan Ahn Ji. Ratu Ji So menyuruh Moo Myung memperhatikan apa yang disebabkan oleh perbuatannya. Ia mengayunkan pedangnya dengan tangan bergetar... tapi scene di potong jadi entah Ahn Ji benar – benar ditebas atau tidak masih tanda tanya.
A Ro terkejut melihat perayaan sudah berakhir. Orang – orang bergosip dan A Ro bertanya pada mereka, apa yang sebenarnya terjadi?

“Beberapa orang gila menghancurkan semuanya. Tuan Ahn Ji dan anaknya mengayunkan pedang dihadapan Ratu.”

A Ro masih belum mengerti dan menuntut penjelasan pada mereka.
Malam harinya, Raja duduk di tandu yang sebelumnya di arak di kota. Ia kembali mengingat pembicaraannya dengan Ui Hwa. Ia mengejek Ui Hwa yang sepertinya ingin menyeret Ratu turun takhta, sepertinya dia punya banyak nyali.

“Apa yang bisa kau lakukan hanya dengan menyeret Ratu turun dari tahta? Kau hanya membuat malapetaka. Kau salah. Aku tidak mencoba untuk merusak Silla, tapi mengubahnya. Aku tidak memiliki keinginan untuk membiarkanmu menjadi Hwarang. Pergilah.”

Raja tersenyum, merubah Silla?
Moo Myung masih mengingat kejadian tadi siang dalam penjara. Pengawal Ratu muncul dan ia langsung bereaksi ingin melawannya tapi tangan terikat sehingga dengan satu gerakan saja Pengawal Ratu mampu menahannya. Ratu Ji So datang kesana, dia memberitahukan keinginannya untuk membunuh adik dan Ayah Moo Myung.
Moo Myung menjelaskan bahwa mereka tidak ada hubungannya dengan dia. Ratu Ji So menegaskan bahwa kejahatan yang ia lakukan tidak bisa hanya ditanggungnya saja.
Moo Myung memohon dengan menunduk sedih, mereka tidak bisa menerima hukuman karena mereka tidak seharusnya mendapatkannya. Bunuh saja aku! Biarkan mereka hidup! Bunuh aku!
Ratu Ji So mengangkat dagunya “Nak, Kau kecil dan lemah. Yang lemah tidak bisa memilih untuk mati atau hidup. Nasib ayah dan adikmu tergantung padamu. Pergi dan tunggulah.”
Raja sedang menunggang kuda, tanpa sengaja ia melihat A Ro dikejauhan tengah menunggu dengan cemas digerbang istana. Ia heran, hari ini tidak mencarinya tapi dia malah muncul dihadapannya.
Moo Myung berjalan dengan lemas keluar dari gerbang. A Ro dengan panik mempertanyakan keberadaan ayahnya, dimana Ayah? Kenapa hanya dia yang keluar? Bagaimana dengan Ayah?
Moo Myung menatap A Ro dengan pandangan kosong. Menyimpan kesedihan. Ia perlahan menghampirinya.
A Ro sempat kebingungan. Moo Myung kehilangan tenaga, ia hilang kesadaran dan menjatuhkan tubuhnya ke pelukan A Ro.
Raja pun terkejut melihat keduanya berpelukan dan saling mengenal.
-oOo-
Note:
Sebenarnya setelah aku menonton episode 1 dan 2, belum terlalu ngena dengan dramanya. Entahlah..

Mulai dari masa lalu Ratu Ji So.. Jadi dia budak yang menikah dengan Ahn Ji kah? Kalau memang begitu berarti antara A Ro dan Raja adalah saudara? (Tapi jaman ini, pernikahan sedarah sepertinya bukan masalah sih)

Dan aku menyadari bahwa memang Ratu Ji So punya niatan baik untuk membuat Hwarang. Dia ingin memperkuat Silla dengan memperkuat pertahanannya disaat tiga negara tetangga mereka yang lebih kuat menginginkan perluasan daerah. 

Tapi mungkin dari sudut pandang Raja sendiri, dia merasa seperti Raja Boneka yang harus menanggung gunjingan dari warganya sendiri. Dia yang seharusnya menjadi Raja, pemegang tampuk kekuasaan tertinggi namun nyatanya dia tidak diberi kewenangan. 
Tidak salah jika dia mencurigai Ratu Ji So.

Loveline dalam drama ini masih terbilang.. belum ada yah. Belum ngena baik dari A Ro dan Moo Myung maupun Raja dan A Ro. Tapi lebih suka interaksi antara Raja sama A Ro sih.. hahahaha.. abis Hyun Sik -nya keceh banget dalam drama ini.

Dan yang jelas aku lebih suka lihat bromance -nya.. tolong kapan ini mulai bromance-nya?

4 Responses to "SINOPSIS Hwarang Episode 3 Bagian 2"

  1. Akhirnya muncul juga sinopsisnya,makasih ya kak

    ReplyDelete
  2. Tolong update trus dong, ceritanya bikin penasaran

    ReplyDelete
  3. Ma kasih sinopsis nya di eps 3 part satu scene yg ada lee kwang soo nya smp nangis😭😭 eps 3 cerita nya makin seruh di tunggu eps 4 nya

    ReplyDelete
  4. Makasih kak updatetannya, ditunggu ya updatetan yg lainnya.. makin lama, makin seru aja ceritanya ^^

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^