SINOPSIS Goblin Episode 9 Bagian 1

SINOPSIS Goblin Episode 9 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: tvN

Wang Yeo menjelaskan apabila Eun Tak mencabut pedangnya maka Shin akan berubah menjadi debu yang bertaburan. Ia akan berpindah ke dunia lain. Eun Tak tidak bisa menahan tangisnya.

Wang Yeo memperjelas bahwa ini semua bukanlah salah Eun Tak. Mungkin dia berfikir ia bekerjasama dengan Shin tapi.. itu salah. Shin yang memutuskan untuk tidak memberitahu Eun Tak. Dan sekarang ia memberitahukan segalanya pada Eun Tak, sampai saat ini pun ia berada di pihak Eun Tak.

Eun Tak sudah cukup menerima informasinya, ia mengucapkan terimakasih pada Wang Yeo dan menyuruhnya untuk beristirahat.

Eun Tak membereskan pakaiannya dengan sedih. Ini bukan rumahnya, ia pikir tidak ada rumah untuknya di dunia ini. Eun Tak mengajak boneka Goblin untuk pergi bersamanya.

Deok Hwa dan Nenek Samshin berpapasan didepan toko buku, keduanya cuma melirik sekilas. Sampai akhirnya Nenek Samshin mengatakan kalau dia sedang dalam mood buruk. Deok Hwa dengan agak sinis bertanya, apakah dia perlu mentraktirnya? Tapi sekarang dia tidak punya kartu kredit. Mereka berdua pun hanya berbalas senyum dibuat - buat.

Sedangkan di depan pintu kamar Eun Tak sudah tertulis [Mempelai DDOKKAEBI sedang tidak ada]. Eun Tak sendirian di jalan, ia terus mengingat kembali ucapan Shin di taman bunga soba. Apakah itu adalah sebuah salam perpisahan? Rasanya ia ingin membunuhnya saja.

Hujan tiba – tiba turun dengan derasnya, Eun Tak semakin menangis menyadari Shin sedang sedih saat ini.

“Hari itu, Si Roh Hilang berjalan seorang diri sambil terisak cukup lama. Dia ingin pergi sejauh mungkin dari Ddokkaebi.” Batin Wang Yeo memperhatikan rintik hujan yang sangat deras diluar sana.
Shin mencari – cari keberadaan Eun Tak, dia pun bergegas mencarinya keluar karena ia tidak mengangkat panggilannya dan Paman Jelly juga tidak ada di kamar. Wang Yeo ingin mengatakan sesuatu tapi Shin sangat khawatir dengan Eun Tak sampai tidak memperdulikannya.

Shin berteleportasi ke pantai, sekolah, perpustakaan dan taman tapi dia tidak ada disana. Ia bahkan sampai menanyai para hantu namun tidak ada yang melihatnya. Ia bertanya pada Wang Yeo dimana alamat Restoran Ayam tempat Eun Tak bekerja? Wang Yeon langsung memberikan kupon ayam miliknya.


“Kau selalu membawanya?”

“Aku pelakunya. Aku mengatakan segalanya pada dia. Aku mengatakan padanya bahwa kau akan mati jika dia mencabut pedang itu.”

Tentu saja Shin marah, sebelumnya juga dia yang menyuruhnya untuk tidak mengatakan hal ini pada Eun Tak. Wang Yeo mempersilahkan Shin untuk memarahinya, dia hanya kembali memihak pada Eun Tak karena dia tidak mau Shin mati. Ia pikir akan membosankan jika hidup tanpa Shin.

“Mana bisa aku marah padamu? Kau biasanya mengharapkan aku cepat mati, tapi sekarang kau tidak lagi menginginkannya.” Shin bergegas meninggalkan tempat Wang Yeo begitu mendapatkan alamatnya.

Shin lama menanti didepan Restoran Ayam sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi. Namun belum sempat pergi, ia berpapasan dengan Sunny. Ia menatap matanya dan merasakan sesuatu. Ia melihat masa depan yang akan terjadi pada Sunny.

Sunny dan Wang Yeo sedang bersama – sama, Sunny kemudian menyuruh Wang Yeo untuk tidak menghubunginya lagi. Jangan menyapanya di jalan kalau berpapasan. Ia mengucapkan selamat tahun baru padanya. Wang Yeo tampak seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi ia tidak bisa mengatakannya.

“Oraboni? (panggilan pada kakak laki – laki dijaman sejarah)” tanya Sunny membuat Shin terkesiap “Kenapa kau menatap toko-ku? Apakah mungkin, kau sedang mencari pekerjaan paruh waktu?"

Tidak. Shin sedang mencari pekerja paruh waktu yang sebelumnya bekerja disini. Sunny menatap Shin dari ujung kaki sampai kepala, dia menggunakan pakaian dan aksesoris senilai 25 juta won. Kenapa harus mencari pekerjanya yang hanya dibayar 6300? Apa jangan – jangan dia si brengsek yang membuatnya menangis?

“Dia menangis?” Shin khawatir.

Sunny makin kesal mendapati orang yang membuat Eun Tak menangis, Apakah dia sudah menikah sehingga meninggalkan Eun Tak? Shin menegaskan bahwa ia belum menikah dan baru punya calon. Sampai berjumpa kembali, toh si brengsek yang punya hubungan rumit bukan cuma dia (nyindir Wang Yeo).

“Hei! Apa maksudmu?”


Shin memutuskan untuk meminta Wang Yeo mendaftarkan nama dokumen Eun Tak. Wang Yeo terkejut karena Shin menginginkan kematian Eun Tak. Shin tidak menginginkannya, setidaknya jika dia terdaftar maka ia tahu kapan dan dimana tempatnya. Dia bisa membantunya saat itu terjadi.

“Aku akan melakukannya. Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk begitu aku mendaftarkan dokumennya?”

“Lakukanlah.” Ucap Shin.

Wang Yeo menuruti permintaan Shin dan memberikan data Eun Tak pada Hoobae –nya. Dia menyuruhnya untuk memproses dengan cepat, ini dokumen darurat. Hoobae berjanji akan memprosesnya sampai besok sore.

“Terlalu lama. Sebelum tengah malam ini.”

Hoobae membaca nama Ji Eun Tak, dia ingat kalau itu adalah nama Jiwa Yang Hilang di Halte. Ia penasaran apakah dia benar – benar pengantin Ddokkaebi? Wang Yeo malas menjawab dan menyuruhnya makan sandwich saja.


Teman Eun Tak datang ke rumahnya, pemilik rumah yang baru langsung mengusir Teman Eun Tak karena mengira dia mau menagih hutang. Shin tiba – tiba muncul disana, kenapa kau mencari Eun Tak?

Teman Eun Tak adalah Ketua Kelas, dia ingin memberikan hasil ujian Eun Tak tapi dia tidak pernah berangkat lagi. Shin langsung mengambil kertas ditangan anak itu, dia mengaku kenal dengan Eun Tak dan akan memberikan kertas itu padanya. Tapi ngomong – ngomong, apa hasilnya bagus?

“Ya. Dengan nilai segitu, dia bisa diterima di universitas manapun di Seoul.”

Shin senang, dia bangga sekali dengan Eun Tak.

Shin masih terus menggalau dikamarnya. Ia melihat kantung plastik berisi kaus kaki dikamar, ia memberikan kaus kaki itu pada Wang Yeo yang sedang melipat handuk “Aku sedang tidak waras sekarang ini. Kau harus mengambilnya. Seorang pencabut nyawa sepertinya juga membutuhkan kaus kaki.”

Wang Yeo membuka plastik itu dengan keheranan.

Tidak lama kemudian, berita cuaca mengabarkan kejadian alam yang janggal beberapa hari belakangan ini. Wang Yeo hanya bisa menatap langit dengan sedih.

Shin memandang langit malam dengan, kembali mengingat ucapan Nenek Samshin jika Shin tetap hidup maka Eun Tak –lah yang akan mati. “Jika aku membuat keputusan itu, Kau akan memiliki alasan untuk menyiapkan alasan bagi dirimu sendiri.”

Hoobae Wang Yeo berada di rumah sakit untuk memanggil arwah seorang kakek yang sudah dinyatakan meninggal. Namun ketika ia berniat membaca kertasnya, kertas itu tiba – tiba terbakar. Sontak tubuh pria yang dinyatakan meninggal bangkit dari tidurnya meskipun lukanya begitu parah.

Hoobae menceritakan apa yang terjadi pada Wang Yeo. Wang Yeo dengan dingin memberikan sekantung kaos kaki pada Hoobae –nya. Itu adalah ucapan permintaan maaf dari Ddokkaebi.
Wang Yeo jelas memarahi Shin atas tindakan gegabah yang ia lakukan. Ia tahu kalau hidupnya tragis namun bukan berarti dia bisa bermain – main dengan kehidupan seseorang. Shin menerawang keluar jendela, ia hanya ingin supaya Dewi Kelahiran melihatnya. Atau bahkan Eun Tak bisa melihatnya.

Bagaimana kalau Wang Yeo yang melihatnya? Wang Yeo pergi sambil merutuk marah, sebaiknya dia membiarkan Jiwa Yang Hilang mencabut pedangnya saja sekalian.

“Kau benar. Mungkin itu lebih baik.” Gumam Shin.
Kakek membaca berita mengenai cuaca aneh yang terjadi belakangan ini. Kakek dengan santai berkata bahwa banyak kejadian di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan logis. Pada saat itulah, dewa berada sangat dekat melebihi perkiraan kita. Ia bertanya pada Sekretaris Kim, sepertinya dia punya pendapat sendiri?

Sekretaris Kim mengaku jika ia mengenal seseorang yang tidak pernah menua. Rupanya Sekretaris Kim sering memperhatikan Shin dari kejauhan. Paspor yang ia persiapkan, akomodasi ke venice, ia menyadari Kakek menugaskannya supaya ia menyadari hal itu.

“Apa kau sudah mengatakan hal ini pada orang lain?”

“Tidak. Tidak pernah."
Kakek tertawa dan berkata bahwa pria itu yang telah memilihnya. Kim Shin –lah yang telah membantu anak tanpa impian dan uang mengikuti ujian masuk universitas. Dia pikir siapa yang melakukannya? Sekretaris Kim terdiam menyadari bahwa ia telah menerima bantuan dari Kim Shin.

Deok Hwa mengomeli Shin yang sampai berbuat sejauh itu gara – gara anak SMA. Dia sampai khawatir kalau NASA datang kesana mencari samchoon. Apa yang akan Samchoon lakukan jika ia berhasil menemukannya? Apa dia mau memberikan kartu kredit?

Shin tidak tertarik, dia saja tidak bisa menemukannya apalagi Deok Hwa. Deok Hwa percaya diri jika Eun Tak tidak bisa keluar negeri, paling sekitar sini, mentok – mentok pergi pakai bus. Ia punya cara untuk menemukannya.
Seekor kupu – kupu putih terbang di daerah resort ski. Uwaaah... dia Deok Hwa kah? Kupu – kupu itu hinggap diatap sebuah toko rental.
Didalam toko itu ada Eun Tak yang sedang bekerja. Ia sangat sibuk karena pengunjung resort begitu ramai. Saat waktu istirahat, ia menyempatkan diri melihat info cuaca. Ia sedih karena terjadi kejadian aneh akhir – akhir ini.

Terdengar suara Deok Hwa mengatakan pada seseorang “Aku menemukannya. Dia ada di resort ski."
Saat pulang bekerja, Eun Tak kembali memikirkan ucapan Shin ketika mabuk. Dia berbohong mengatakan bahwa jika Eun Tak mencabut pedangnya, maka ia akan berubah menjadi tampan. Shin tertawa getir saat mengucapkan hal itu. Dengan polos, Eun Tak menawarkan supaya mencabut pedangnya ketika salju pertama turun.
Eun Tak berjalan dengan sedih, langkah terhenti saat Shin muncul dihadapannya. Ia menghampiri Eun Tak dan mengajaknya untuk pulang ke rumah. Eun Tak menolak, dia tidak pernah memiliki rumah. Tidak ada tempat yang benar – benar ia anggap sebagai rumah. Semuanya hanya memanfaatkan dia, yang satu demi uang asuransi dan yang satu sebagai alat untuk mati.
Shin merasa kehilangan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Tapi dia senang, Eun Tak bisa mengetahuinya sebelum dia mati. Pedangnya mengandung darah banyak orang dan beban banyak kehidupan. Jadi cabutlah pedang ini dan akhiri –lah hidupnya.
Eun Tak menahan rasa kesalnya, dia menolak. Sampai mati pun dia tidak akan melakukannya. Jadi jangan temui dia lagi, jangan ganggu dia lagi.
Keesokan harinya, Shin tetap setia menanti Eun Tak dan menunggunya saat bekerja. Ia menemaninya berjalan pulang. Eun Tak masih pura – pura tidak melihat dan mengabaikannya. Namun tiba – tiba Eun Tak tidak lagi mendengar suara langkah kaki Shin, ia menoleh dan mendapati dia sudah pergi.

Tentu saja Eun Tak kecewa.
Tapi ternyata Shin tidak pergi, ia berteleportasi ke hadapannya dan menyerahkan hasil ujian Eun Tak. Eun Tak menerimanya dengan dingin, menganggap kalau hasil ujian itu cuma alasan saja. Shin mengakui bahwa hasil ujian itu hanya alasan, tapi dia tetap senang karena memiliki alasan untuk bisa menemuinya.
“Kenapa kau ingin bertemu denganku? Kenapa juga kau memerlukan alasan? Apa kau ingin aku hidup atau mati bersamamu, begitu?” Bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa aku akan benar-benar membunuhmu kalau berani muncul lagi?”

Shin diam. Eun Tak semakin menyuruhnya untuk maju, dia akan benar – benar mencabutnya kalau begitu.
Shin meraih tangan Eun Tak dan meletakkannya di tempat pedangnya berada. Eun Tak tidak berani menariknya, dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Shin. Ia menangis dihadpannya, apakah semenjak di hotel dia telah memutuskannya? Saat Shin bahwa dia akan mencintai Eun Tak jika memang dibutuhkan.
“Apakah sekarang dia sudah mencintainya? Atau... apakah pernah ia mencintainya?” tuntut Eun Tak.
“Aku sangat takut. Itu sebabnya aku ingin kau terus berkata kau membutuhkan aku. Aku ingin kau terus memintaku seperti itu. Aku membutuhkan beberapa alasan untuk tetap bersamamu. Dengan alasan itu, aku berharap bisa tetap hidup. Denganmu.”

Eun Tak masih merenungkan ucapan Shin tadi, menggalau ria kembali. Sedangkan Shin masih setia menantinya tengah malam dari luar gedung tempat Eun Tak menginap. Dia terus memperhatikan kamarnya yang masih terang.
Keesokan paginya, Eun Tak memberikan papan ski pada rekannya, pelanggan minta ganti papan yang lebih tebal. Rekan Eun Tak menyuruh Eun Tak menunggu karena shift kerjanya sudah habis. Eun Tak pun duduk menanti disana.

Tiba – tiba, es terjatuh dalam ruangan tanpa ada alasan yang jelas. Es itu perlahan semakin banyak dan membuat papan ski yang terpajang pun roboh. Papan – papan itu membuat rak disana ikut roboh. Eun Tak yang tidak jauh dari sana terkejut, ia tidak bisa menghindar dan akhirnya tertimpa rak.

Eun Tak pun pingsan.
Wang Yeo dengan terburu – buru menanyakan keberadaan Eun Tak pada Shin. Shin mengaku jika Eun Tak belum mau pulang. Wang Yeo merasa belum pernah mendaftarkan nama orang secepat ini.. ia pun menunjukkan kartu nama kosong pada Shin. Shin heran, itu kosong?

“Tadi namanya tertulis di sana. Seolah seseorang menginginkan dia mati. Jelas bukan aku,  apalagi kau.”

Shin menduga kalau ini adalah karena dirinya. Kalau Eun Tak hidup maka dia yang harus mati. Itulah takdirnya mereka dan itulah hukuman untuknya. Wang Yeo menyuruhnya berhenti menjadi lemah. Tidak ada yang menginginkan kematiannya jadi Shin punya waktu satu jam untuk menemukan Eun Tak. Dia mati karena hipotermia.

Shin pun bergegas mencari Eun Tak di resort ski.
Eun Tak mulai kedinginan. Dalam kondisi setengah sadar, ia terus memikirkan moment kebersamaannya dengan Shin. “Aku membutuhkanmu. Aku mencintaimu.” Gumam Eun Tak.

Lampu yang berada di dekat Shin pecah, ia langsung bisa menyadari keberadaan Eun Tak. Akhirnya ia bisa menemukan Eun Tak sebelum terlambat, ia memakaikan jaketnya dan menggendong Eun Tak menuju rumah sakit.

-oOo-

6 Responses to "SINOPSIS Goblin Episode 9 Bagian 1"

  1. Part dua nya.. gak sabar lgi seruuuu... gong yoo ajushi idaman.. mantap min😍😍😊

    ReplyDelete
  2. Sukaaa bangeett makasi udah bikin sinopsisnyaa

    ReplyDelete
  3. Sukaaa bangeett makasi udah bikin sinopsisnyaa

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^