SINOPSIS Goblin Episode 5 Bagian 1

SINOPSIS Goblin Episode 5 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: tvN


Selama perjalanan pulang, Shin terus berkosentrasi menyetir tanpa memperdulikan Eun Tak. Suasana jadi canggung dan Eun Tak meminta diturunkan saja di sekitar sana. Dia tahu area disekitar hotel.

“Baiklah kalau begitu.” Shin menyetujuinya tanpa bilang apa – apa lagi. Eun Tak cukup kecewa karenanya.

Sesampainya di rumah, Shin kembali membayangkan senyum Eun Tak. Tapi tiba – tiba dadanya terasa sakit, dia sampai terduduk ke lantai menahan rasa sakitnya.


Sedangkan Eun Tak masih dalam perjalanan pulang sambil mendengarkan radio. “Hidup adalah campuran dari berbagai genre. Genre apa yang kau punya hari ini? Komedi romatis? Aneh tapi kisah fantasi yang indah? Atau bahkan kisah sedih?

Terdengar suara decitan dari headset yang digunakan oleh Eun Tak. Eun Tak menyadari keanehan itu kemudian mengedarkan pandangannya. Di jalan tak jauh darinya, ada seorang gadis yang tengah menatapnya. Eun Tak menyesal kemudian bergegas pergi.

Namun Arwah itu muncul lagi tepat dihadapan Eun Tak.

“Bisakah kau tidak seperti ini? Bicaralah seperti orang normal. Kau hanya membuatku ketakutan.” Rutuk Eun Tak.

Arwah itu meminta maaf, dia hanya ingin meminta bantuan pada Eun Tak untuk mengisi kulkas dirumahnya. Dia baru saja meninggal dan ibu sibuk mengurusi upacara kematiannya. Dia khawatir kalau Ibu sedih saat melihat kulkasnya kosong.

Eun Tak sedih karena tidak bisa membantu, dia tidak punya uang. Tapi... Ah.. dia tahu apa yang harus ia lakukan.


Dia sudah berada di kos Arwah gadis tadi kemudian mengisi kulkasnya dengan minuman dan makanan. Melihat kamarnya yang berantakan, Eun Tak pun sekalian membereskan selimut dan buku – bukunya.

Hantu itu sangat senang “terimakasih.”

Eun Tak menjawab ucapan terimakasih itu dengan senyuman tulus.

Tak berselang lama, Ibu dari arwah itu datang ke kamar kosnya. Memeriksa kamar peninggalan anaknya yang rapi dengan kulkas yang terisi penuh. Dia menangis sedih atas kepergiannya.

Arwah gadis itu rupanya ada disana pula, ia ikut menangis melihat sang Ibu menangis.

Kini Arwah itu sudah duduk dihadapan Wang Yeo dengan mangkuk minuman penghilang ingatan. Dia masih tertegun memandangi mangkuk tersebut. Wang Yeo memintanya untuk meminumnya sebelum dingin. Dia sudah melakukan hal yang baik selama hidupnya.

Gadis itu pun meminumnya sembari meneteskan air mata.


Sunny masih terus menanti dijembatan tempatnya bertemu dengan Wang Yeo. Dia sudah menanti lama namun dia belum muncul. Akhirnya ia berniat untuk pulang tapi langkahnya langsung terhenti saat melihat Wang Yeo berdiri tidak jauh dari sana.

Sunny menghampirinya “Apa ini kebetulan? Kalau aku tidak. Kenapa kau tidak menelfon? Aku menunggumu. Kau bilang kau akan menelfon.”

“Aku akan menelfonmu. Sekarang.” Ujar Wang Yeo bergegas pergi.

Sunny menahannya, kemana dia mau pergi? Mencari telfon umum?

Bukan, Wang Yeo berniat pulang ke rumah karena ponselnya ada disana. Dia akan menelfon Sunny. Sunny mendesis gila karena cara pikir Wang Yeo yang apa banget itu. Dia mengajaknya untuk pergi ke coffe shop saja ketimbang menelfonnya sekarang.


Wang Yeo terus menunduk menyedot minuman diatas meja tanpa melakukan percakapan sama sekali. Dia diam menghabiskan bergelas – gelas kopi sedangkan Sunny masih menatapnya dengan keheranan. Ia mengetuk mejanya kemudian bertanya apakah dia akan terus begitu? Matahari sudah tenggelam.

“Bukankah hari sangat cepat?”

Bukan itu maksud Sunny, dia ingin bertanya apakah Wang Yeo akan terus begitu? Dia sudah minum kopi seperti itu selama satu jam tanpa mengatakan apapun. Bukankah mereka seharusnya saling sapa dan bertanya kabar satu sama lain.


Wang Yeo langsung menggeser kopinya dan menundukkan kepala memberikan salam dengan sangat formal “Anyeonghaseyo. Bagaimana kabarmu?”

Sunny berkedip – kedip tidak habis pikir dengan tingkah Wang Yeo. Dia akhirnya mengikuti bagaimana caranya berbicara. Kabarnya baik. Bagaimana dengannya? Bagaimana dengan cincinnya? Apa dia masih belum punya ponsel?

“Ya, aku juga baik. Cincinnya baik – baik saja. Aku belum memiliki ponsel.” Jawab Wang Yeo masih kaku.


“Jujur padaku. Sebenarnya kau melukapakan namaku kan?”

“Namamu Sun Hee.” Wang Yeo percaya diri.

“Namaku Sunny bukan Sun Hee.” Sunny tertawa. Dia mengira apa yang dilakukan oleh Wang Yeo cuma akting saja. Wang Yeo seolah terpesona dengan senyuman Sunny, dia diam menatapnya.

Sunny sampai heran menerima tatapan itu. Kenapa kau menatapku begitu?

“Aku tidak bisa berbuat apa – apa... saat kau tersenyum.”

Suasana jadi agak canggung kemudian Sunny pun menanyakan namanya. Wang Yeo tertegun tanpa menjawab.

Shin dan Wang Yeo duduk menggalau ria dengan pikiran masing – masing. Wang Yeo memegang bir sambil mendinginkannya sebelum memberikannya pada Shin. Mereka meneguk bir berbarengan.

“Dia bertanya siapa namaku tapi aku tidak ingat namaku. Dia bahkan bertanya kabarku. Dia bertanya padaku seperti itu ketika aku bahkan tidak hidup.” Tutur Wang Yeo.


Shin termenung mengingat senyuman Eun Tak. Senyuman yang ia anggap seperti sinar matahari yang paling terang. Dia mengingatkannya pada saat hidupnya direnggut. Shin dibuang ke lapangan dan matahari bersinar sangat terik saat itu.

Aku sudah memantapkan pikiranku. Aku harus menghilang sebelum aku semakin sulit melepaskan hidupku. Sebelum aku menjadi lebih bahagia dari sekarang. Ini pilihan.. yang aku buat untukmu. Aku harus mengakhiri hidupku.” Batin Shin.

Wang Yeo bisa mendengar suara batinnya, apa dia benar – benar akan mati?

“Ya. Sebelum salju pertama turun tahun ini.”

Keduanya diam galau sembari meneguk bir secara bersamaan lagi.

Deok Hwa membaca tagihan hotel sambil mengerjapkan mata dan menghembuskan nafasnya beberapa kali. Ia langsung menunjukkan tagihan itu pada Eun Tak yang baru masuk ke lobi hotel. Apa dia habis minum?

“Tidak.”

“Ya, kau habis minum. Kulkasnya kosong semua. Kau pesan dan makan semua cokelat, kacang, dan juga dendeng daging sapi. Tak apa – apa, aku maklum. Tapi kenapa kau membuang semua botol itu? Kau pikir aku tidak bakal tahu kalau kau membuangnya?”


Eun Tak mengaku punya alasan tersendiri lagipula Ketua Yoo memerintahkannya untuk meminta bantuan Deok Hwa kalau butuh apa – apa. Jadi bisakah dia membayarkan tagihannya? Dia tidak punya uang sama sekali.

Deok Hwa memberikan tagihannya dengan kesal. “Aku juga tidak punya uang.” Ucapnya mewek.

Eun Tak menyalakan puluhan lilin. Bel kamarnya berdering, Eun Tak mengira kalau Deok Hwa yang datang ke tempatnya tapi dia berjingkat kaget saat tahu kalau Shin lah yang datang. Apa Deok Hwa Oppa yang sudah memberitahukan segalanya?

“Beritahu apa?”

Eun Tak mengaku habis dimarahi Deok Hwa Oppa gara – gara menghabiskan isi kulkas. Dia meminta Shin untuk membantunya membayar tagihan, dia akan menggantinya kalau sudah mendapatkan gaji paruh waktunya.

Shin menatapnya diam.

“Kau tidak bisa?”

Eun Tak kemudian menyalahkan Shin yang sudah mabuk kemarin, dia memberikan bir –nya demi kebaikan orang lain. Dia mengancam akan meniup semua lilinnya dan membuat Shin keluar masuk dari sini sepanjang hari.

Shin menggunakan kekuatannya untuk mematikan semua lilin diruangan Eun Tak. Dia tidak perlu lagi membuat permohonan. Itu tidak akan ada gunanya karena Eun Tak akan berada disisinya mulai sekarang. Ayo pulang.


“Rumah siapa?”

“Rumahku. Karena kau pengantin goblin.”

Eun Tak ragu, apa Ahjussi mencintainya?

“Aku akan mencintaimu kalau kau butuh.” Shin mengucapkannya dengan sangat datar seolah tanpa ketulusan “Saranghae.”

Eun Tak benar – benar tertegun mendengar kata itu meluncur dari mulut Shin.

Dan seketika itu pula, hujan turun dengan sebegitu derasnya. Eun Tak menjadi semakin sedih, sebenci itu kah Ahjussi padanya? Seberapa bencinya dia sampai membuatnya sesedih ini?


Tapi lupakan saja, Eun Tak bukan dalam kondisi yang bisa pilih – pilih. Meskipun Shin membencinya, ia akan tetap tinggal bersamanya. Entah dia pengantin goblin atau bukan, yang perlu ia lakukan hanyalah menarik pedang.

“Ya.”

Eun Tak pun permisi mengemasi barang – barangnya.


Dalam perjalanan, keduanya sama – sama diam. Setelah memperhatikan Shin, Eun Tak bertanya siapa sebenarnya namanya?

Shin diam.

Eun Tak bilang kalau dia tidak sepenasaran itu juga. Dia tahu kalau hubungan diantara mereka adalah pernikahan dan tinggal serumah. Dia sadar ada yang ambigu dalam hubungan mereka. Dia adalah istri goblin, setidaknya dia tahu nama Ahjussi. Apa kita... Ah, Eun Tak rasa hubungan mereka belum pantas punya sebutan “kita”.


“Hubungan antara kau dan aku sudah dimulai jauh sebelum kau lahir. Hubungan kita.” Ujar Shin “Terkadang, aku Yu Jung Shin dan kadang, aku Yu Ji Shin. Sekarang, aku Yu Shin Jae. Tapi nama asliku Kim Shin.”

Eun Tak tertegun menatap Shin. Dia memberitahukan bahwa lampu –nya sudah berubah hijau. Dia pun tersenyum kecil saat mobil melaju, mungkin senang karena Shin mau berbagi sedikit informasi tentang dirinya.

Sesampainya dirumah, Wang Yeo sudah ada didepan pintu untuk membuang sampai. Dia menunjukkannya pada Eun Tak karena hari ini hari sampah maka dia akan membuangnya. Eun Tak rasa dia bisa melihat sisi baru Wang Yeo setiap harinya. Dia pun menawarkan untuk membantu membuang sampah.

Wang Yeo menolak kemudian menghampiri Shin “Kenapa dia itu? Kenapa dia baik padaku?”

“Dia akan tinggal di sini mulai hari ini.”

Wang Yeo tersenyum licik saat mengingat ucapan batin Shin yang katanya telah membuat keputusan. Ia pun melempar kantung sampahnya dan sampah itu langsung masuk ke truk pembuangan sampah.

Dia mendeklarasikan dirinya pada Eun Tak bahwa dia akan mendukung setiap tindakannya.

Namun beberapa saat kemudian, tiga orang itu menatap ke arah pintu sambil bengong. Diantara mereka tidak ada yang tahu kode pintu rumah Shin, biasanya mereka tidak pernah masuk melalui pintu.

Eun Tak ngoceh sendiri, dia merasa seperti sedang pergi ke rumah hantu. Memang menakutkan tapi juga menyenangkan. Dia menoleh pada Shin dan Wang Yeo tapi mereka berdua sudah menghilang.


Dan Shin pun muncul membukakan pintu dari dalam rumah. Deok Hwa sedang mabuk – mabukan, dia heran melihat Eun Tak ada dirumah Shin. Kenapa dia ada di sini? Sejak kapan? Bagaimana bisa?

“Dia tinggal di sini mulai sekarang. Kasih tahu password rumahnya.”

“1004. Kenapa dia tinggal di sini? Terus aku bagaimana?”

Shin menyuruhnya untuk sadar dari mabuk lebih dulu sebelum dia bicara.

Shin dan Wang Yeo menunjukkan kamar yang akan digunakan oleh Eun Tak. Kamar itu berantakan, Shin menyarankan supaya disana ditaruh kursi gaya baroque. Wang Yeo tidak setuju, memangnya dia mau membuat studio foto? Lebih baik letakkan sofa warna pastel untuk menyenangkan anak itu.

“Memangnya ini tempat penitipan anak? Kita bisa menggantung lukisan romantis abad ke-19 dan memasang perapian di situ.”

“Memangnya ini pondok? Kita akan memasang wallpaper....”

“Memangnya ini model house? Dia itu tamuku.”

“Ini rumahku.” Balas Wang Yeo.


 “Ini kamarku.” Sela Eun Tak.

Dia tidak keberatan untuk memasang walpaper disana dan memasang lukisan abad ke -19 disisi sebelahnya. Biar adil. Tapi bagaimana tempat tidurnya malam ini? Apa dia harus tidur disofa? Atau kalau mereka risih, dia bisa tidur di taman bunga dihalaman depan.

“Tidur saja di kamarku.”

“Bersama Ahjussi?”

“Tidak!”

“Lalu Ahjussi tidur dimana?”


Shin sudah ada dikamar Wang Yeo memeluk bantal sambil menatapnya dengan manis. Dia meminta izin padanya untuk tidur disana. Wang Yeo menolak, dia tidak mau kalau kamar tidurnya ternoda. Shin bisa tidur di sofa luar.

“Nanti dia pasti keliling-keliling rumah.”

“Hotel saja kalau begitu.”

“Aku tidak bisa tidur di hotel kalau dia sendirian.”

Wang Yeo berjalan menuju pintu. Lebih baik dia menyuruh si Jiwa yang hilang itu untuk tidur di taman bunga saja.



Namun tepat saat Wang Yeo membuka pintunya, Shin sudah menghadangnya. Apa dia selalu sekejam itu?

“Ya.”

Shin akhirnya pasrah untuk tidur di sofa. Wang Yeo memperingatkan supaya dia tidak berbicara dengannya.


Eun Tak duduk santai di kamar Shin dengan santai dan nyaman. Dia melihat buku yang ia pinjamkan pada Shin waktu itu ada disana. Ia juga membuka buku kuno milik Shin dan menemukan daun maple laminasi buatannya ada disana.

Ia pun berniat membaca buku Shin tapi bukunya bertuliskan tulisan China. Ah, dia tidak bisa membacanya.

Rupanya buku itu adalah buku yang ditulis oleh Shin sendiri. Didalamnya berisi tentang kisah kehidupan panjangnya.

Perang pun tidak berhenti di negeri yang asing ini. Pedang dan panah memungkinkan mengambil seisi negeri dan makanan dan begitu juga dengan nyawa orang. Dewa di sini dan di Goryeo, semua sama saja. Cucu dari anak kecil yang kutinggalkan di Goryeo serta keturunan-keturunannya, semua dimakamkan. Di kursi di pojokan ruangan yang kecil duduklah aku menghabiskan siang dan malam. Kehendakku bukan kata-kata terakhirku sebelum dihadapkan oleh kematian. Yang Terhormat Dewa, kehendakku adalah permintaanku padamu untuk memberikanku kematian. >Terkadang, aku menganggap hidup ini sebagai hadiah tapi nyatanya, ini adalah hukuman. Aku tidak pernah melupakan kematian siapapun. Karena itulah, aku sangat ingin mengakhiri hidup ini. Namun, ternyata dewa rupanya sudah tuli akan teriakan permohonanku.


Dikamar Wang Yeo, Shin bertanya apakah Wang Yeo pernah melihat Dewa. Wang Yeo sebenarnya malas menjawab tapi dia bilang kalau dia belum pernah melihatnya. Mana mungkin seorang malaikat pencabut nyawa yang biasa ini bisa melihat dewa?

“Aku pernah melihatnya.”

Wang Yeo penasaran, seperti apa dia?

“Dia itu kupu-kupu. Jika dia membiarkanku melihat wajahnya, setidaknya aku pasti bisa membencinya.”

Wang Yeo agak prihatin, apa ini berat bagi Shin? Shin tidak mau menjawab pertanyaannya, lagipula dia tidak akan menangis dalam pelukan Wang Yeo.

“Manusia bisa melihat dia sepanjang waktu tapi kita tidak bisa melihatnya. Tidak sekali pun.” Desis Wang Yeo.

Alarm Eun Tak berbunyi, hari sudah siang. Ia tersadar kalau sekarang dirinya tidur dirumah Tuan Goblin. Dia penasaran, mereka semua sarapan apa yah? Apa mereka juga membeli bahan makanan?

Eun Tak mengedarkan pandangannya setelah sepenuhnya sadar. Ahjussi punya segalanya tapi kenapa kamarnya saja terasa sepi.

Shin dan Wang Yeo sibuk membuat makanan masing masing. Shin dengan steak –nya dan Wang Yeo dengan saladnya. Eun Tak kegirangan, wah, sudah lama sekali tidak ada yang memasakkan makanan untuknya.

“Aku tidak bilang ini untukmu.” Ucap Shin.


Tapi pada akhirnya, Shin dan Wang Yeo membiarkan makanan mereka dilahap oleh Eun Tak. Eun Tak berjanji akan membeli bahan makanan sendiri kalau dia sudah mendapatkan gajinya. Dia juga akan membayar biaya binatu sendiri. Ia bertanya apakah mereka tidak punya pembantu?

Saat Eun Tak menoleh, dia melongo karena Shin dan Wang Yeo sedang adu pisau melayang dengan gaya anak kecil. Eun Tak jadi sadar, mungkin karena alasan ini –lah mereka berdua tidak memiliki pembantu.

Tapi untuk masalah ini, Shin ingin membuat permohonan dan berharap mereka berdua bisa mendengarkannya. Pertama, dia tidak mau hujan terus terusan turun karena akan menyusahkan banyak orang. Jadi dia harap mereka semua tetap bahagia selama dia tinggal disana.

Kedua,  bicaralah hal yang mereka sukai dan tidak sukai lalu katakan padanya. Dia harap tidak ada yang berusaha membawanya ke dunia orang mati. Atau berencana membawanya.

Ketiga, Dalam keadaan darurat, hubungi dia. Jangan muncul begitu saja tanpa pemberitahuan. Ji Eun Tak. Hubungi aku di nomor 010-1234-1234.

Eun Tak menempelkan note –nya dikulkas. Jangan hubungi dia saat jam pelajaran dan bekerja. Dan juga saat di perpustakaan, dia akan mematikan ponsel.

Ahjussi ganteng sama – sama melihat note yang ditinggalkan Eun Tak. Sebenarnya dia menyuruh mereka menelfon atau tidak? Jangan – jangan dia meremehkan mereka karena tidak punya ponsel.

“Benarkah?” tanya Shin.


Deok Hwa memberikan dua ponsel pada mereka. Dengan bersemangat, Wang Yeo memilih ponsel berwarna hitam dan yang biru untuk Shin. Deok Hwa berniat menjelaskan, Shin menolak menerima penjelasan. Biarkan Wang Yeo saja yang diberi penjelasan soalnya dia belum pernah melihat benda itu.

“Dia benar. Kau bisa jelaskan saja padaku.”

Deok Hwa agak sangsi dengan perkataan Shin, Apa dia bisa melakukannya?

“Aku tidak butuh penjelasan.”

Wang Yeo penasaran caranya supaya mereka bisa bertatap muka seperti di drama. Deok Hwa akan menjelaskan bagian itu nanti, pertama mereka harus ke playstore dulu.

Sontak Shin berdiri dan bersiap pergi “Sekarang? Apa tempatnya jauh?” hahahaha. Dia juga menyuruh Wang Yeo bersiap – siap pergi.

E)(O

6 Responses to "SINOPSIS Goblin Episode 5 Bagian 1"

  1. cepet banget sih unnie :D
    ngelembur ini mah yak
    semangat ya.. tulisannya bagus ...

    ReplyDelete
  2. Unnie tahu gk lagu yg diputer pas sunny sm Wang yeo ada dikafe itu? :/

    ReplyDelete
  3. Going to playstore ala shin dan wang yeo hahaha

    ReplyDelete
  4. HAHAHAHAHAHAHAHA PLAYSTORE ADA DIHAPE BANG. GAUSAH RAPIH-RAPIH MAU KEMANA SIH AHAHAHAHAHA😂😂😂

    ReplyDelete
  5. HAHAHAHAHAHAHAHA PLAYSTORE ADA DIHAPE BANG. GAUSAH RAPIH-RAPIH MAU KEMANA SIH AHAHAHAHAHA😂😂😂

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^