SINOPSIS Goblin Episode 1 Bagian 2

SINOPSIS Goblin 1 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: tvN
[Seoul, 1998]


Seorang pria berpakaian serba hitam melewati jalanan sepi dengan santainya. Auranya penuh misteri, ia menyebrangi jalan dan tiba – tiba sebuah mobil menabraknya. Bukannya terpental, pria itu malah diam ditempat dan mobil si penabrak rusak parah.

Penabrak keluar dari mobilnya sambil terus ngedumel, tapi seketika ia ketakutan melihat mobilnya rusak parah dan pria tadi berdiri ditempat tanpa mengalami luka apapun. Siapa kau?

“Babi hutan.” Ucapnya.

Ia berjalan menghampiri penabrak dan kembali mengatakan “Kau barusan menabrak babi hutan.”

Pria itu melamun saat pria misterius tersebut pergi. Beberapa orang mulai berdatangan karena kecelakaan tersebut, mereka menawarkan untuk melapor polisi. Namun si penabrak malah bergumam bahwa ia baru saja menabrak babi hutan.


Dan saat diperhatikan lebih dekat, bagasi pria penabrak terbuka dan didalamnya terdapat mayat seorang wanita. Mereka semua terkejut melihatnya dan bergegas menghubungi kepolisian.

Sedangkan salah satu diantara mereka begitu kebingungan sekaligus syok “Kenapa aku ada disana?”


Pria misterius itu kembali muncul menghampiri wanita yang tengah syok [Hwang Mi Young, 25 tahun. Lahir tanggal 3 April 1973. Meninggal pukul 08:32 pada tanggal 1 Februari 1998. Penyebab kematian adalah sesak napas]. Pria itu membaca catatannya.

“Kau orangnya, bukan?” tanya pria misterius tersebut.

Pria misterius tersebut adalah Wang Yeo (Lee Dong Wook). Ia menghidangkan sebuah minuman pada Mi Young, minuman tersebut akan menghapus ingatannya. Mi Young masih ragu dan bertanya, bagaimana kalau dia tak mau meminum minumannya?

“Kau akan menyesal bila tidak meminumnya. Kuharap kau tidak menyesali apa pun setelah kau mati.”

Lonceng berbunyi, Mi Young telah menghilang dari tempat duduknya. Wang Yeo meletakkan catatannya ke dalam rak catatan yang begitu banyak jumlahnya. Ia pun mengenakan topinya untuk menjalankan tugas selanjutnya.


Shin melewati jalanan, ia menoleh ke arah tembok keliling tempat Wang Yeo tinggal.

“Goblin?”

“Malaikat pencabut nyawa?”

“Topi yang cukup vulgar juga yang kaupakai itu.” Ujar Shin mengejek. Wang Yeo pun kesal dibuatnya.


Shin sampai di sebuah rumah, ia disambut seorang kakek tua bersama cucunya. Keduanya saling berbasa – basi, kakek sudah semakin menua namun Tuan Shin masih tetap muda dan gagah.

“Dia tidak segagah itu.” Komentar Si Cucu.

Kakek menyuruh cucunya untuk diam. Ia menunjukkan cucunya pada Shin, cucu yang ia ceritakan dalam surat.

“Siapa Ahjussi ini?”

“Kau pasti Deok Hwa. Aku akan menjadi pamanmu, kakakmu, anakmu dan cucumu. Senang bertemu denganmu.”

“Omong kosong macam apa itu. Kau aneh..” ejek Deok Hwa sambil menyilangkan tangan didada.

Shin terkejut menatap mata Deok Hwa, nenek moyangnya dulu ada yang tinggal di Goryeo. Dia sangat mirip dengannya. Deok Hwa penasaran, apakah nenek moyangnya itu tampan?


“Jaga mulutmu. Aku juga tak mengerti kenapa anak ini tidak sopan sekali. Maafkan aku.” perintah Kakek.

Shin tak masalah lagipula tak ada dari keluarga mereka yang membuat Shin kecewa. Deok Hwa mengernyit heran, lalu kenapa dengan Ahjussi sendiri? Kenapa dia begitu tak sopan pada kakeknya dan menggunakan banmal?

Flashback

Seorang pria bersama dengan cucunya menangis di lapangan tempat Shin meninggal, dimana pedang Shin tertancap. Dia begitu terlambat untuk datang karena salama ini ia sakit. Sepertinya sudah waktunya ia untuk pergi, ia menyerahkan tanggung jawabnya pada cucunya. Cucunya akan melayani Shin mulai sekarang.

Cucunya kebingungan, kenapa sang kakek memanggil pedang dengan sebutan Naeuri (tuan)?

Tiba – tiba petir menyambar dengan kuatnya dan pedang yang tertancap mulai bergetar kencang.

[Jiwa rakyatmu telah menyelamatkanmu. Namun, darah ribuan orang ada di pedangmu. Darah musuhmu, yang juga adalah keturunan dewa. Kau harus hidup abadi dan menyaksikan kematian orang yang kaukasihi. Kau tidak akan pernah bisa melupakan satu kematian pun. Ini adalah hadiah yang kuberikan padamu sekaligus hukuman yang harus kau terima. Hanya pengantin goblin yang akan mampu menarik pedang itu. Setelah pedang tersebut ditarik, kau akan menjadi abu dan beristirahat dalam damai.]

Setelah bangkit dari kematiannya, Shin mengatakan bahwa ia harus menuju ke suatu tempat.


Tempat pertama yang ia tuju adalah istana, Raja tersenyum senang karena sesuatu telah terjadi. Shin berdiri dikegelapan tanpa mengatakan apapun. Raja membentaknya yang sudah lancang karena membawa aura negatif.

Tanpa melakukan apapun, Raja langsung terpental keluar ruangan. Tinggal penasehat Raja yang tertinggal diruangan. Tubuhnya langsung melayang ke arah Shin dan Shin pun mencekiknya sampai ia mati.

Shin menghampiri tempat tidur disana, seseorang telah meninggal dan kain sudah menggulungnya. Mungkinkah dia Ratu? Ratu yang dulu terkena panah mungkinkah belum meninggal?

“Aku.. sudah terlambat.” Gumam Shin.

Sekembalinya ke lapangan, anak buahnya yang tadi datang dengan sang cucu sudah meninggal. Cucunya menangis sambil menumpuk batu untuk menghuburkan kakeknya. Shin sempat tertegun sampai akhirnya ia membantu menumpuk batu untuknya, ini pasti hukuman pertama yang harus ia saksikan.

Sang cucu meminta izin untuk membungkuk pada Shin, ia akan mengabdikan dirinya sesuai dengan perintah terakhir dari kakeknya. Shin terharu mendengar ucapan polos anak itu, awalnya ia dibutakan oleh keinginan balas dendam dan tak menanyakan kabarnya. Apa dia masih mau melakukan perintahnya?

Anak itu mengangguk.


Keduanya memulai perjalanan mereka dengan menggunakan kapal. Anak itu begitu menyukai pemandangan dilangit malam, ia begitu menyukainya. Ia kemudian menatap ke arah awak kapal yang sedang makan, ia hanya bisa menelan ludah. Shin bisa menyadari gelagatnya dan memberikan nasi kepal miliknya.

Anak itu menolak, dia tidak lapar. Lebih baik Naeuri saja yang makan, badannya kecil jadi makan sedikit saja sudah kenyang. Naeuri kan badannya besar jadi butuh lebih banyak asupan makan.


Karena terus menolak, Shin akhirnya membelah nasi kepalnya menjadi dua. Anak itu masih menolak, perjalanan masihlah panjang. Kalau bekal makanan dibagi dua maka keduanya akan sama – sama kelaparan. Dia bisa minta makan pada awak kapal saja.

“Kau pikir aku membawamu agar membuatmu minta-minta makanan? Percayalah. Aku mungkin jauh lebih hebat dari yang kaubayangkan.”

Shin menunjukkan sesuatu dari dalam genggamannya, kunang – kunang pun berterbangan dan menunjukkan cahaya indah. Anak itu makin kagum dibuatnya.


Awak kapal rupanya orang – orang jahat, dia menarik anak tadi dan mengancam akan menjatuhkannya ke dalam laut. Ia menyuruh Shin menunjukkan barang bawaannya, mereka harus mengurangi daya tampung kapal. Anak itu memanggil Shin dengan ketakutan “Naeuri... Naeuri....”

Shin menyuruh mereka untuk menurunkan anak itu atau dia akan membunuh mereka. Melihat deru ombak yang tak bersahabat, awak kapal menduga kalau penyebabnya adalah Shin. Dia akan menjadikannya sebagai budak dan membuang anak itu ke lautan.

Ia pun benar – benar menjatuhkan anak itu ke laut.

“Apa kau tahu apa yang akan terjadi pada manusia yang lebih parah dari biadab? Mereka akan menghadapi penghakiman oleh murka keilahian.”

Ombak tiba – tiba berubah begitu kencang, badai menghantam kapal. Kapal oleng tak karuan, mereka mulai memohon pada Shin untuk menyelamatkan mereka. Shin mengeluarkan pedangnya “Semua sudah terlambat.” Dia mengayunkan pedangnya dan membuat kapal menjadi rusak dan karam ditengah lautan.

Kembali ke tahun 1998, Shin duduk dipuncak gedung mendengarkan berbagai macam suara yang tertangkap oleh pendengarannya. Ia senang bisa kembali ke tempat ini, namun tiba – tiba telinganya mendengar suara decitan mobil. Suara tabrakan antara mobil dengan sesuatu.

Dijalanan, seorang pria terkejut melihat dari kaca spion bahwa dibelakanganya terdapat seseorang yang bersimbah darah tak berdaya tergeletak diatas salju. Bukannya menolong, pria itu memilih untuk kabur.

Korban tabrak lari itu adalah wanita pelanggan nenek. Wanita itu menangis meminta pertolongan seseorang, tolonglah aku, siapapun itu. Suaranya yang lirih tak terdengar oleh siapapun, hanya Shin saja yang duduk di puncak gedung dan mendengar permintaannya.

“Akulah si Siapapun itu.” Ucap Shin dihadapan wanita tadi.

Wanita itu meminta pertolongan namun Shin tak tahu apakah ia harus menolongnya atau tidak, prinsipnya adalah ia tak akan mencampuri urusan hidup dan mati manusia. Wanita itu terus memohon, dia tak bisa mati seperti ini atau paling tidak selamatkanlah bayinya.


Setelah mengucapkan hal tersebut, wanita tersebut kehilangan kesadaran. Entah mati atau belum namun Shin memutuskan untuk menyelamatkannya, ia menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan luka wanita tadi.

“Aku akan menyelamatkanmu, karena aku hanya tidak bisa menyaksikan orang mati lagi malam ini.”

Wanita itu kembali sadarkan diri setelah Shin meninggalkannya.

Tak lama berselang, Wang Yeo datang ke tempat terjadinya tabrak lari. Ia kebingungan karena tak menemukan seorang pun disana, ia kembali mengecek tempat serta waktunya, semuanya benar.

“Salju, hujan dan bunga.” Ucapnya.

Wanita tadi pun melahirkan seorang bayi wanita yang mungil. Ia amat senang melihat putrinya. Namun dibalik kesenangan wanita itu, dibelakangnya terdapat banyak hantu yang bergunjing kalau bayi wanita itu adalah seorang pengantin goblin.

8 Tahun Kemudian

Bayi mungil itu telah tumbuh, ia memiliki tanda aneh yang terdapat dipundaknya.

Ibu menghampiri Eun Tak, ia bertanya kue beras apa yang ia inginkan diulang tahunnya? Eun Tak lebih menginginkan untuk membuat pesta ulang tahun dengan kue tart. Dia ingin meniup lilin dan membuat harapan.

Harapannya selalu tak terkabul karena ia merasa selalu meniup lilin diatas kue beras. Makanya tahun ini, ia ingin kue tart supaya harapannya terkabul. Baiklah, ibu setuju untuk mengadakan pesta ulang tahun tahun ini.

Eun Tak melihat seekor anak anjing, ia mengelus anak anjing tersebut dengan riang. Ibu kasihan melihat putrinya karena anak anjing itu bukanlah anak anjing sesungguhnya, itu hanyalah loh yang berkeliaran dan tak seorang pun melihatnya kecuali Eun Tak.

Waktu berlalu, Eun Tak pulang dari sekolah sambil menceritakan bahwa nilai kuis bahasa inggrisnya sempurna. Wah.. dia baru sadar kalau diatas meja sudah ada kue, ia bertanya apakah ia boleh menyalakan lilinnya?

Tentu saja, dia kan sudah sembilan tahun. Eun Tak menyalakan lilin kemudian meniupnya. Ibu hanya bisa tersenyum menyaksikan putrinya yang tampak bahagia.

Eun Tak tertegun untuk beberapa saat, menatap ibunya dalam – dalam mencari sebuah pembenaran dari dugaannya. “Kau bukan ibuku rupanya. Kau bukan ibuku melainkan arwah ibuku.”

Ibu terkejut karena Eun Tak bisa menyadarinya.

“Ibu, kau sudah mati?” tanya Eun Tak dengan mata meremang.

Ibu mengangguk. Eun Tak bertanya dimana (tubuh) ibu sekarang? Ibu mengaku kalau dia ada dirumah sakit dekat persimpangan. Bibi akan segera datang setelah Eun Tak menerima kabar dari rumah sakit dan menyuruhnya untuk bersamanya sementara.

Dia memperingatkan agar Eun Tak jangan lagi menatap mata arwah gentangan. Eun Tak meminta maaf karena bisa melihat hantu tapi ia juga bersyukur karena hari ini ia bisa melihat ibunya. Ia meyakinkan dengan mata berlinang “Aku akan baik – baik saja.”

“Terima kasih banyak sudah melihat ibu. Eun Tak, Ibu harus pergi. Ibu mencintaimu, anakku.”

“Aku juga. Aku juga cinta Ibu. Ibu, selamat tinggal. Hati hati. Ibu harus pergi ke tempat yang baik. Harus ke tempat yang baik.”

Eun Tak mengikuti ucapan ibunya, ia segera mengenakan syal merah setelah menerima panggilan dari rumah sakit. Ia menatap ke arah lilin kuenya, ia tak akan meniup lilin dan membuat harapan. Tak akan pernah.

Rupanya Nenek juga bisa melihat hantu, Ibu mencoba berkomunikasi dengannya. Ia meminta nenek untuk menjaga Eun Tak dari waktu ke waktu. Setidaknya sesekali saja, berikan sisa kubis atau bayam.

“Kau harusnya meninggal saja waktu itu. Kenapa kau harus hidup lagi?” ucap Nenek.

Jahatnya. Lagipula nenek sendiri yang menyuruhnya untuk mengucapkan doa dengan sepenuh hati makanya ia masih diberi kesempatan hidup. Ia mengucapkan terimasih atas segalanya dan juga sampai jumpa.

Ibu pun menghilang.


Sekeluarnya dari rumah, Eun Tak dikejutkan dengan kemunculan Wang Yeo. Wang Yeo juga terkejut karena dia bisa melihatnya. Bagaimana dia bisa melihatnya?

Eun Tak pura – pura kelupaan memakai syal dan berniat kembali ke dalam rumah. Wang Yeo menunjuk syal merah yang sudah ia gunakan. Ia bertanya bukankah ini adalah kediaman Joo Yoon Hee? Wang Yeo tak bisa menemukannya di rumah sakit makanya ia datang kemari.

Ia pun kembali mengingat masa lalu dimana Yeon Hee seharusnya sudah meninggal dari dulu. Bukankah seharusnya Eun Tak adalah anak yang tak terlahir kedunia ini.


“Apa yang kau lakukan disini? Pergi. Jangan ganggu anak ini.” Sela Nenek. Eun Tak ketakutan, ia langsung bersembunyi dibalik punggung nenek.

Wang Yeo kesal karena nenek mengganggu pekerjaannya. Nenek balas menjawab kalau Wang Yeo –lah yang sudah bicara omong kosong dan mengungkit masa lalu.

“Untungnya pada kesempatan ini, aku akan mengatur ulang semuanya seperti semula. Aku tidak punya waktu.” Ucap Wang Yeo.

Kalau memang begitu, Nenek meminta catatan yang menunjukkan kalau anak ini masuk dalam daftarnya. Jika memang ada maka ia akan menyerahkan anak ini sekarang juga. Wang Yeo tak bisa berkutik, ia membutuhkan dukungan dari departemen nama untuk melakukan semua itu.

Ia akhirnya menyerah kali ini “Sampai jumpa... gadis kecil.”


Eun Tak menangis mengingat tentang ibunya. Nenek menyuruhnya untuk memikirkan dirinya sendiri, ia harus pergi dalam tiga hari maka Wang Yeo tak akan menemukannya. Setelah tengah malam, seorang pria dan dua orang wanita akan datang ke rumah duka mencarinya. Dia bisa ikut dengan mereka, meskipun kehidupannya akan sedikit sengsara tapi Eun Tak tidak memiliki pilihan lain.

“Tapi, kenapa Nenek memberitahuku hal ini?”

“Karena kau cantik.” Nenek menghapus air mata di pipi Eun Tak “Ketika aku memberkati ibumu dan kau, aku sangat senang.”

Nenek pun memberikan sayuran sebagai hadiah ulang tahun untuknya.
-oOo-

Hari berlalu, nenek tengah berjalan ditempat biasanya berjualan. Ia berpapasan dengan seorang anak SMA dan memperhatikannya dengan seksama.


Waktu langsung berselang dalam kerjapan mata. 10 tahun kemudian, bukannya menjadi semakin menua, nenek berubah menjadi gadis cantik. Sedangkan anak SMA itu tumbuh menjadi seorang pria yang tak lain adalah Deok Hwa.

Deok Hwa menggodanya “Apa kita pergi minum saja?”

“Boleh juga.” Jawab si gadis.

Dirumahnya, Shin menikmati waktu membaca buku dengan damai. Kecuali suara brisik Deok Hwa ditelefon yang terus memohon bantuan, kartu kreditnya dibekukan dan dia berada di bar. Mereka mencoba meminta nomor Shin, tapi Deok Hwa tak memberikannya. Mereka semua bertindak kasar padanya.. tolong aku.. samchooon.. samchoon.. T_T


Di SMA, Eun Tak menjadi seorang penyendiri. Teman – temannya menggunjing karena dia bisa melihat hantu dan anak – anak takut mendekatinya. Mereka bahkan menganggapnya lebih menakutkan, hantu kan tidak kelihatan tapi Eun Tak mendengar semuanya tapi pura – pura tak mendengar apapun.

Eun Tak melahap makananannya tanpa perduli omongan orang lain.

Dalam perjalanan pulang, hantu mencoba menghentikannya dan terus menganggunya. Ia mendengar kalau Eun Tak adalah pengantin goblin. Dia mengajaknya pergi bersama karena ia merasa kesepian.

Eun Tak pura – pura buta dan tuli, sa bodo amat! Hantunya jadi kesel, dia berteriak dihadapannya sampai Eun Tak terkejut.

Tapi hantu itu melihat sesuatu, ia ketakutan oleh sesuatu “Semua itu benar rupanya. Maaf. Aku sungguh minta maaf. Sungguh.”


Rupanya sesuatu yang dilihat hantu adalah Shin. Eun Tak berpapasan dengannya, keduanya merasakan sesuatu yang membuat mereka bertatapan satu sama lain untuk sekejap. Namun tak ada yang membuat mereka merasa aneh dan berjalan melewati satu sama lain begitu saja.

Setelah jauh terlewat, Shin menoleh dan terus memperhatikan Eun Tak. Entah kenapa.


Malam harinya, kakek menyerahkan passport serta foto tempat yang akan Shin tinggali di Nice. Sudah saatnya. Deok Hwa sudah 25 tahun, dia akan menyuruhnya untuk mengatur segalanya sehingga Shin bisa meninggalkan Korea akhir bulan.

Kakek menatap Shin dengan sedih, kalau dia pergi kali ini maka mereka tak akan bertemu kembali. Saat ia kembali, Deok Hwa akan menyambutnya disini.

Terdengar seseorang memasukkan kode dengan terburu – buru. Deok Hwa masuk rumah dengan kesalnya, tidak paman dan juga kakeknya yang mau menjemput padahal dia sedang pergi dengan seorang wanita. Ia sangat malu. Kakek mengaku kalau sekretarisnya lah yang telah memblokir kartu kredit Deok Hwa.

Deok Hwa tertegun melihat passport Shin, apa dia mau pergi ke suatu tempat? Shin diam dan menutupi passportnya dengan tangan.

“Kemana? Apa ini karena kau mau mencari pengantinmu? Kenapa kau tidak bisa bilang kau ingin pengantin dari negara asing saja? Kenapa kau tidak bisa mengatakan itu? Kapan tepatnya paman akan pergi?” cecar Deok Hwa tanpa henti.

Dirumah Eun Tak, ia sudah bangun pagi hari dan menyiapkan makanan untuk seisi rumah. Menu kali ini adalah sup rumput laut. 

Anak Bibinya bertanya – tanya siapa yang tengah berulang tahun sampai Eun Tak membuat sup rumput laut? Bibi mengatai Eun Tak kurang berpendidikan karena merayakan ulang tahunnya sendiri padahal ibunya meninggal tepat dihari ulang tahunnya.

“Terima kasih atas doanya, Bibi.” Ujar Eun Tak masa bodo.

Bibi merasa kasihan dengan adiknya yang miskin dan bekerja keras untuk membesarkan Eun Tak. Eun Tak memperingatkan bahwa bibinya sudah bicara kelewatan, dia boleh saja adiknya tapi dia juga ibunya. Oleh karena itu, ia merasa lebih dekat dalam hati dan juga dalam hukum.

Hujan turun dengan lebatnya, Eun Tak melirik payung yang tersimpan disana. Belum apa – apa, Paman memperingatkan agar ia tak membawa payung atau dia akan memarahinya. Bibi juga memperingatkan supaya Eun Tak membawa buku rekeningnya ke bank sebelum pulang.

“Sudah kubilang, aku tak punya buku rekening. Berapa kali aku harus mengatakannya pada Bibi?”

“Terus dimana rekening Ibumu? Dimana asuransi ibumu?”

“Mana aku tahu?”

Sebuah mangkuk melayang dan mengenai kepala Eun Tak. Eun Tak jadi marah, bibi yang telah merampas segalanya bahkan uang jaminan rumah! Bibi mengatai Eun Tak yang sudah ngoceh pagi – pagi, biasanya buku rekening ada ditasnya tapi menghilang saat ia pergi ke bank. Kalau bukan Eun Tak yang mengambilnya lalu siapa?

“Apa kubilang, dia itu pasti dirasuki makhluk lain.” Ejek Anak bibinya.

“Ya. Ada hantu di punggungmu.” Balas Eun Tak membuatnya ketakutan. Eun Tak pun memutuskan untuk hujan – hujanan ke sekolah.

Bukan ke sekolah sih, dia malah pergi ke tepian pantai. Memegang kue sambil mengenakan syal merah peninggalan ibunya.

Ditempat lain, Shin tengah duduk merenung di taman bunga. Ia teringat pembicaraannya dengan kakek semalam. Kakek bertanya apakah Shin akan melakukan perjalanan seorang diri lagi?


Entahlah. Shin belum menemukan gadis yang bisa melihat pedangnya. Baguslah, kakek cukup bersyukur karena belum ada yang melihatnya. Ia terkadang ingin Shin segera menemukan wanita yang bisa mencabut pedang tersebut saat ia kesakitan karena pedang itu namun terkadang ia tak ingin seorang pun mengetahuinya. Manusia itu serakah.

Shin juga senang karena kakek masih terus bersamanya sehingga ia punya banyak wine. Keduanya pun bersulang.

Saat umur 9 tahun, Eun Tak memutuskan untuk tak membuat permohonan lagi tapi kali ini sangat mendesak makanya ia ingin membuat permohonan “Tolong berikan aku pekerjaan dan memperbaiki keluarga bibi, dan tolong biarkan aku untuk mendapatkan pacar.”

Ditempat lain, Shin mendengar permohonan Eun Tak. Tangannya pun mengeluarkan asap saat Eun Tak meniup lilinnya.

Eun Tak merutuk karena sudah berdoa entah pada siapa. Angin bertiup kencang dan suasananya kembali mendung. Ia sebal soalnya dirumah hanya ada dua payung saja tapi kenapa setiap hari harus hujan?


“Apa itu kau?” tanya seseorang.

Eun Tak bangkit dan melihat ada Ahjussi yang bertanya padanya. Shin kembali bertanya apakah dia yang sudah memanggilnya kemari? Eun Tak mengernyit keheranan, dia tak memanggilnya kok.

“Bagaimana kau memanggilku?”

“Memanggilmu bagaimana? Aku sungguh tak memanggilmu.”


Eun Tak yakin tak memanggilnya tapi mungkin karena mata mereka sempat bertemu beberapa saat waktu itu.

“Bagaimana maksudmu kau melihatku?”

“Ahjussi itu hantu. Aku bisa melihat hantu.”

“Aku bukan hantu.”

Eun Tak yakin kalau semua hantu tak mau mengakui kalau mereka hantu. Shin juga merasa ada yang aneh dengan Eun Tak, seharusnya dia bisa melihat apa yang biasanya ia lihat. Kenapa ia tak bisa melihat masa depan Eun Tak 20 tahun, 30 tahun, dan seterusnya?

“Mungkin karena aku tak punya masa depan.” Ucap Eun Tak.

Eun Tak berfikiran kalau Shin mungkin dulunya penipu atau peramal, masa depan apaan. Ia menyarankan supaya Shin tidak keluyuran karena tak baik. Ia meminta bunga yang ada ditangan Shin, ia rasa bunga itu tak cocok untuknya. Kali ini dia sedang ulang tahun makanya dia meminta bunga itu sebagai hadiah.

Shin awalnya enggan tapi kemudian ia memberikannya juga. Eun Tak bertanya makna dari bunga yang ada ditangannya?

Bunga itu adalah bunga soba, maknanya adalah kekasih.

“Kenapa kau menangis? Pekerjaan, keluarga bibimu, dan pacar. Manakah dari tiga itu? Aku sesekali mengabulkan permohonan orang.” Jelas Shin.

Eun Tak kegirangan, dia bisa mengabulkan sesuatu seperti Jin atau malaikat pelindung? Pantas saja dia berbeda dari hantu lainnya. Dalam kamus hidupnya, tak ada “sebuah keberuntungan” atau “kebahagiaan”. Kau mengerti maksudku kan?

“Tidak juga.”

Maksud Eun Tak, kalau Shin tak bisa memberikan uang 5 juta won maka ia bisa memberitahukan nomor lotre. Sesuatu semacam itu.

Shin menyarankan supaya Eun Tak mengucapkan selamat tinggal pada bibinya. Ia tidak akan melihatnya dalam waktu lama dan ia bisa bekerja di restoran ayam. Shin pun langsung menghilang begitu saja.

Eun Tak masih penasaran “Lalu bagaimana dengan pacar? Hei?”

Sesampainya dirumah, Shin dikejutkan dengan kehadiran Wang Yeo dirumahnya. Tak lama kemudian Deok Hwa muncul membawakan kopi sambil berkata bahwa perabotannya Wang Yeo akan segera diangkut.

Shin memintanya untuk menjelaskan. Deok Hwa mengaku penasaran saja seberapa besar uang yang bisa ia dapatkan jika menyewakan rumah ini. Ia hanya akan membuka kedai teh disini.

Deok Hwa meminta maaf atas kekasaran Pamannya, dia jarang keluar. Ia memberikan secangkir kopi padanya. Ia kemudian berbisik pada Shin bahwa ia belum mendapatkan uang sewanya.

“Tapi aku tadi lihat ada mobil baru di lantai bawah.”

“Itu mobil penyewa.”

“Itu bukan mobilku. Adapun uangnya, aku sudah memberikan uangku padanya.” Elah Wang Yeo.

Deok Hwa buru – buru ngibrit pergi sebelum kena damprat lebih.

Shin menyuruh Wang Yeo untuk pergi dari tempatnya dan ia akan mengembalikan uang yang dibayarkan olehnya. Itu tak penting, Wang Yeo sudah menandatangani sebuah kontrak. Shin membentuk pistol dengan jarinya dan seketika kertas kontrak Wang Yeo terbakar.

“Ini cuma salinan. Yang asli ada pada sang makelarnya. Aku akan pindah besok. Ini pasti hari keberuntungan bagiku. Pergilah dan kemasi barang-barangmu. Pasti memakan waktu cukup lama jika kau mengemasi barang yang akan dibawa pergi selama 20 tahun.” Ucap Wang Yeo.

Apa dia ingin membuat goblin marah? Tanya Shin. Wang Yeo tanya apakah Shin tahu maknanya membuat kontrak dengan malaikat pencabut nyawa? Dia tak keberatan untuk mengambil anak itu ketimbang tempat ini. Shin akhirnya membiarkannya untuk tinggal, ada banyak kamar kosong jadi pilih saja salah satu. Anggap saja rumah sendiri.

“Ini rumahku.”

“Ini rumahku. Coba saja kau usir goblin dari guanya. Kutantang kau. Fighting.”


Keduanya makan bersama, Wang Yeo mencibir Shin yang sedang makan steak, barbar sekali kau.

“Sama seperti rumor, dietmu juga terlalu vulgar.” Balas Shin.

Wang Yeo sengaja menyenggol bubuk lada hingga terpental masuk dalam minuman Shin “Maaf tak sengaja, Aku tadi mau membumbui makananku dengan lada.”

Shin ikut melempar bubuk cabai dan tumpah tepat di salad Wang Yeo “Aku juga tak sengaja. Aku mencoba membumbui mukamu.”

“Apa?” kesal Wang Yeo.

“Kukira kita sudah sepakat boleh bersikap kasar. Ini, itu, hei, dan kau.”

Eun Tak sedang belajar, ia memperhatikan bunga pemberian Shin “Kekasih? Apaan?” ucapnya malu.

Eun Tak mengikuti saran Shin untuk mendaftar di toko ayam namun berkali – kali mendapatkan penolakan. Ia sampai putus asa dan duduk ditaman sambil merutus sebal. Harusnya dia minta nomor telefonnya saja!

Seseorang membuang putung rokok sepertinya, dan tanpa sengaja tisu yang ada ditong sampah terbakar. Eun Tak buru – buru meniupi tisu itu supaya apinya padam. Dan bertepatan dengan itu, Shin kembali muncul dihadapannya. Ia bertanya – tenya kenapa Eun Tak memanggilnya.

Eun Tak mengelak, memanggilnya bagaimana? Dia saja yang terus mengikutinya. Oiya, dan sebelumnya dia bilang kalau dirinya bisa bekerja di tempat ayam. Tapi ia belum juga diterima. Apa harusnya dia bekerja di tempat unggas?

“tidak.”

“Aku berharap begini karena kau.”


Shin masih bertanya kenapa dia memanggilnya. Eun Tak yakin kalau dia tak memanggil siapapun, tapi.. ah.. mungkin.. coba kau lihat aku, katakan apa yang kau lihat?

“Kau pakai seragam.”

“Apalagi?”

“Cantik.” Eun Tak malu. “...seragamnya.” pfft


“Cuma itu saja. Kau tidak melihat sayap atau yang lainnya? Sepertinya aku ini peri. Tinker Bell.” Tanya Eun Tak sambil menunjuk pipinya dengan gaya sok manis. Shin langsung malas dan menghilang meninggalkannya.

Eun Tak cuma bercanda.. tapi.. dia lupa meminta nomor telefon Shin.

Saat memanjatkan doa di gereja, pastur menyinggung untuk meniup lilin setelah memanjatkan doanya. Eun Tak jadi kepikiran dengan Shin dan coba – coba saat semua orang sudah pergi.

Benar saja Shin langsung muncul tapi dia tak terlalu suka dipanggil ke tempat semacam ini. Eun Tak heran, mereka semua itu baik tapi kenapa ia tak menyukaianya. Shin tak memberikan alasan. Eun Tak tanya kenapa dia tak menghilang seperti biasanya?

“Kau bisa menganggapnya sebagai zona demiliterisasi.”

Eun Tak bertanya – tanya bagaimana dengan permintaannya, belum ada satupun yang dikabulkan. Shin akan mencarikan sebuah tempat pekerjaan untuknya.

“Maksudku keinginanku punya pacar.”

“Kau juga harus usaha sendiri!” ketusnya.

Dilain waktu, Eun Tak masih kepo dan menggunakan aplikasi tiup lilin. Eh nyatanya Shin tetap datang menemuinya. Ia tak menyangka kalau Shin bakalan muncul. Shin jadi kesal soalnya dipermainkan “Terus kenapa kau melakukannya?”

Shin berniat pergi namun Eun Tak menahan tangannya dan keluar api biru. Kok bisa? Entahlah, Eun Tak sampai kepanasan sendiri dibuatnya, ia tak menyangka api biru bakalan panas. Shin menyuruhnya belajar, api biru kan memang api paling panas.

Eun Tak lagi – lagi meminta uang 5 juta won saja ketimbang Shin jadi malaikat pelindungnya. Shin tak menanggapi, dia ada urusan. Besok peringatan kematian seseorang yang ia kenal.


Mungkin kedengaran aneh, tapi Eun Tak ingin menanyakan sesuatu. Ia memintanya jangan salah paham. Awalnya dia berfikiran kalau Ahjussi adalah malaikat pencabut nyawa, tapi kalau dia malaikat pencabut nyawa maka ia pasti sudah mati sekarang. Ia juga berfikiran kalau Ahjussi adalah hantu, tapi ia bisa melihat bayangannya. Karena itulah ia mulai menduga – duga.

“Ahjussi, apa kau goblin?” tanya Eun Tak. Memang agak canggung mengatakannya, tapi Eun Tak mengaku kalau dia adalah pengantin goblin.


Eun Tak menunjukkan tanda lahir dipunggungnya, hantu – hantu sering memanggilnya pengantin goblin karena tanda dipunggungnya ini. Shin sempat tertegun, dia kemudian meminta Eun Tak membuktikan bahwa dia adalah goblin.

Bagaimana? Apa aku harus terbang? Atau berubah menjadi sapu?

“Katakan yang kau lihat pada diriku?”

“Kau sangat tinggi.”

“Dan?”

“Pakaianmu mahal?”

“Dan?”

“Kau umur 30-an.”

Eun Tak jadi heran karena jawabannya belum ada yang tepat, jangan bilang kalau dia menginginkan jawaban kalau dirinya tampan. Shin berkata kalau Eun Tak harusnya tahu jawabannya. Kalau dia tak tahu maka ia bukanlah pengantin goblin. Dia tak berharga bagi goblin.


Ia merasa kasihan karena Eun Tak bisa melihat hantu, tapi ia harap Eun Tak tidak campur tangan dengan kehidupan manusia.

“Bagaimana kalau aku tidak mau bersyukur?” tanya Eun Tak mulai kesal.

“Mati saja kalau kau harus terpaksa.”

Eun Tak makin gondok. Sekali lagi ia tanya, apa ahjussi adalah goblin?

“Bukan.”

Kalau memang bukan, memangnya dia pikir dia siapa sampai menganggap dirinya tak berharga?

“Kau ingin hidupmu lebih baik meski hanya sesaat. Akulah yang peduli padamu meskipun cuma sesaat. Hiduplah berdasarkan kenyataan, jangan berdasarkan rumor karena kau bukanlah pengantin goblin.” Ucap Shin membuka pintu.


Eun Tak membuka pintu dan mereka berdua sudah berada di tempat asing. Shin sampai heran bagaimana Eun Tak bisa ikut dengannya? Bagaimana dia melakukannya. Eun Tak mengaku kalau dia hanya mendorong pintu dan mengikutinya saja.

Ini dimana? Jangan – jangan ini Paju? Desa di negeri inggris? Eun Tak excited melihat tempat tersebut.

“Kita ada di Kanada.”

“Kanada? Negara maple? Kanada yang ada auroranya itu? Kita ada di luar negeri?”


Eun Tak berkeliling, daebak, dia tak menyangka kalau Ahjussi bisa melakukan hal semacam. Jika memang dia bisa melakukan hal semacam ini dan mereka ada di kanada, maka ia telah membuat sebuah keputusan.

“Apa maksudmu?”

“Aku akan menikah denganmu. Menurutku Ahjussi itu memang goblin.” Eun Tak serius. Sarangae~~ ucapnya dengan senyum lebar.


e)(o

8 Responses to "SINOPSIS Goblin Episode 1 Bagian 2"

  1. Seru seru.. Smangadh ya min buat episod2 brikutnyaaaaa..

    ReplyDelete
  2. Seru seru.. Smangadh ya min buat episod2 brikutnyaaaaa..

    ReplyDelete
  3. ommo Gong Yoo ahjussi 😍 scene pas bagian di pantai bikin salah fokus, haduh tampan.. hmm aku msh blum sberapa paham utk eps 1 ini.. tp gomawo kak Puji suda recap'in drama ini 😚

    ReplyDelete
  4. Keren ceritanya gak bikin bosen... Semangat buat recap ya

    ReplyDelete
  5. Deabakkkk, di tunggu sinopsis berikutnya, gomawo, figthing

    ReplyDelete
  6. Namanya mesti kali eun tak ya min? Sikit2 dikirain tidak maksudnya eun tak mungkin eun tak cantik hmmm

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^