SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 9 Bagian 1

SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 9 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: KBS2


Tuan Bae berkata bahwa Nan Gil seharusnya tak berada disini menjadi Ayah Tiri Na Ri. Nan Gil mengepalkan tangannya, dia yakin kalau Ayah Na Ri belum meninggal. Tuan Bae menawarkan untuk mengecek kepastiannya jadi Nan Gil bisa datang kesana kapanpun.

Nan Gil menolak, dia akan memeriksanya sendiri. Ia tak mempercayai siapapun lagi.

Terlalu syok, Nan Gil berjalan dengan tatapan kosong. Na Ru mengkhawatirkannya, apa dia baik – baik saja?

Tuan Bae menyipitkan mata melihat gelagat Nan Gil “Apa dia sakit?”


Ran Sook datang ke Dumpling Hong untuk menemui Na Ri tapi ia harus bertemu dengan gerombolan gangster yang sedang makan disana. Dia mengaku datang untuk menemui Na Ri. Joon disana langsung menghampirinya kemudian bertanya dengan suara rendah “Apa kau melihat mobilnya ada dirumahnya?”

“Ya.”

“Sepertinya dia sedang pergi dengan bos kami.”

“Apa Go Nan Gil benar – benar pemilik Dumpling Hong?” seru Ran Sook.

Joon langsung memberi isyarat supaya dia memelankan suaranya karena disana banyak gangster sangar yang memperhatikan mereka.

Na Ri makin khawatir dengan sikap Nan Gil, ia memegang lengannya dan menawarkannya supaya minum obat. Nan Gil melepaskan pegangan tangan Na Ri dilengannya, dia baik – baik saja.

Menyadari sikapnya yang tak seharusnya, Nan Gil langsung meminta maaf. Dia hanya sedikit sakit kepala.

Sesampainya di Dumpling Hong, gangster sangar tersebut langsung memberikan salam pada Nan Gil. Ran Sook juga bertanya padanya namun Nan Gil mengabaikan mereka semua dan bergegas menuju kamarnya.

Tak lama berselang, Na Ri sampai ke Dumpling Hong juga. Ran Sook langsung menghampirinya dan mengajaknya untuk kembali ke Seoul.

Untuk menenangkan dirinya, Nan Gil meminum obat dan memijit kepalanya yang pening. Bayangan masa lalu kembali terngiang dikepalanya, tubuh Ayah Na Ri yang terkapar dengan kepala bocor membuatnya semakin gelisah.


Saat ia berbalik setelah insiden terjatuhnya Ayah Na Ri, disana sudah ada Tuan Bae dan rekan gangsternya yang lain.

Kembali ke Dumpling Hong, para gangster menerima panggilan dari seseorang yang memberitahukan bahwa Tuan Bae sudah pergi. Mereka pun langsung memberikan salam pada karyawan Dumpling Hong dan serempak pergi dari sana.

Joon merasa tak nyaman dengan kedatangan mereka, bahkan memalingkan wajahnya saat harus bertatap dengan gangster – gangster itu.

“Aku tahu ini akan terjadi. Lihat saja mata Bos. Itu bukan mata biasa. Aku tahu dia punya bahu yang lebar, tapi dia gangster. Apa yang akan kita lakukan? Ya ampun.” Gerutu kawaryannya.


Ran Sook sekali lagi mengajak Na Ri untuk kembali ke Seoul dan berhenti untuk pura – pura baik. Na Ri akhirnya setuju tapi dia harus membereskan barang – barangnya dulu. Ia juga akan bicara sesuatu dulu dengan Nan Gil.

Baiklah, Ran Sook menyuruh Na Ri membawa Nan Gil keluar. Dia bahkan tak menyapanya ketika ia datang.

“Aku juga ada di sini. Aku akan segera pergi. Setidaknya yang bisa dia lakukan adalah menyapa!” seru Ran Sook pada Nan Gil.

Na Ri mengetuk pintu kamar Nan Gil. Nan Gil membuka pintunya dan mengatakan bahwa dia baik – baik saja setelah meminum obat. Na Ri menerobos kedalam kamar Nan Gil kemudian memintanya untuk menatap matanya “Apa kau benar-benar sudah merasa lebih baik?”

“Iya.”

“orang itu.. Dia CEO Da Da kan?”

“Iya.”

“Ayah tirimu?”

“Mantan ayah tiri.”

Na Ri takut karena melihat mereka berkelompok seperti itu, dia takut kalau seandainya Nan Gil terluka. Nan Gil menyuruhnya jangan khawatir karena dia tak akan terluka.


Ran Sook berteriak memanggil Na Ri supaya bergegas.

“Siapa itu?” tanya Nan Gil.

Na Ri memberitahukan bahwa itu suara temannya. Temannya kesal karena Nan Gil mengabaikannya barusan. Nan Gil telah membuat persahabatannya dengan Ran Sook rusak karena dia tak menyukai Nan Gil.

Nan Gil yakin kalau teman Na Ri adalah teman baik, teman Na Ri mungkin tak akan menyukainya.


Memang benar, tapi mungkin Na Ri hanya menjadi nomor empat atau lima bagi Ran Sook karena dia punya suami dan anak serta orangtua. Na Ri memegang dada Nan Gil, tapi dia akan menjadi nomor satu disini. Na Ri akan berusaha memperbaiki persahabatannya dengan Ran Sook.

Na Ri berniat pergi namun Nan Gil menghentikan tangannya “Aku.. kalau..”

Na Ri tak suka untuk mendengar kata “kalau”, lebih baik Nan Gil meyakinkan perasannya lebih dulu kemudian mengatakan sesuatu yang sudah pasti padanya.

Duk Bong dan Duk Shim sampai ke rumah sakit. Duk Shim tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya dan bergegas menemui Ibunya yang sakit. Ibu langsung berlagak sakit leher saat mereka berdua datang. Duk Bong sih sepertinya sadar dengan akting lebay si ibu.

Dia kemudian menghampiri Ayahnya “Pak Ketua?”

“Kau seharusnya memanggilku ayah diluar kantor.”

“Shin Ah..” ibu keceplosan “Maksudku, Duk Shim. Kau harusnya menyapa ayahmu.”

Duk Shim dengan malas menyapa Ayah.

Ketua Kwon pun mengajak Duk Bong untuk keluar dan menyuruh Duk Shim menjaga Ibunya. Ibu bersikap super manis dihadapan Ketua Kwon “Jangan lupa minum obat sebelum tidur yah.”

Ibu langsung menyindir tatapan Duk Shim padanya, apa ada anak perempuan menatap ibunya yang sedang sakit seperti itu? Dia melihat anak perempuan lain bergaul dengan baik bersama ibunya.

“Aku yakin mereka tak mengubah nama anaknya dengan nama yang mengerikan” sindir Duk Shim.

“Apa yang salah dengan nama barumu? aku hanya ingin mengubah hidupmu.”

“Apa yang terjadi?” tanya Duk Bong pada Ayahnya.

Ayah mengaku bahwa Ibu jatuh saat bermain dengan adik Duk Bong. Duk Bong rasa keluarga mereka begitu harmonis. Yah, Ayah pikir apa yang mereka perdulikan hanya -lah uang semata.

Tuan Kwon kemudian memberikan sebuah surat permohonan perubahan kepemilikan tanah. Dumpling Hong dulunya adalah tanah mereka, tapi seseorang menggunakan keuntungan dari kakek Duk Bong dan merebutnya. Duk Bong harus bisa mendapatkannya kembali.

“Kalau mereka menjualnya untuk uang, ini tidak akan terjadi.”

Ya, kalau mereka memberikannya maka mereka tak bisa merebutnya. Ketua Kwon sudah menyiapkan semua dokumen di amplop tersebut. Dia menyuruh Duk Bong untuk belajar hukum supaya dia bisa mengatasi hal semacam ini.

Duk Bong membaca dokumen pemberian ayahnya dengan setengah hati diruang tunggu.

Tak jauh dari sana, seorang resepsionis melayani Yeo Joo dan ibunya dengan setengah hati. Yeo Joo bertanya dengan kesal, dia tahu kalau kamar enam pasien masih ada yang bisa ditempati tapi kenapa pihak rumah sakit selalu bilang kalau kamarnya penuh.

“Kenapa dengan anda?” tanya resepsionis ogah – ogahan.

Yeo Joo makin geram, kalau ada orang yang tanya maka paling tidak mereka pura – pura memeriksanya.  Ibu yang tak enak meminta maaf atas kelakuan putrinya.

“Maaf? Kesalahan apa yang aku perbuat? Apa salah untuk bertanya? Apa kau tahu berapa harga kamar dua pasien? Tidak peduli berapa banyak aku bekerja, aku akan terus berhutang. Apa kau tak bisa membiarkan aku bernafas?” omel Yeo Joo.

Ibu meremas kerta yang diberikan oleh resepsionis, Yeo Joo selalu saja mengeluh saat memberikan mereka bantuan. Masalahnya selalu uang! Uang! Uang!


Yeo Joo menoleh melihat ke bangku tunggu, ia sadar kalau mereka menjadi pusat perhatian dan orang salah satu diantara mereka adalah Duk Bong. Duk Bong tak ambil pusing dan langsung memperhatikan dokumennya kembali.


Nan Gil memberikan bungkusan berisi dumpling ke mobil dan menyarankan supaya mereka memasukannya dalam kulkas. Ran Sook belum bisa menerimanya dan terus menatap lurus kedepan. Ia buru – buru menginjak gas untuk pergi meskipun Na Ri menyuruhnya mengucapkan terimakasih.

Tapi baru beberapa meter meninggalkan rumah Na Ri, Ran Sook menginjak pedal remnya dan memutuskan turun dari mobil untuk menemui Nan Gil. Ia memperingatkan supaya Nan Gil tak memiliki hubungan dengan Na Ri. Ran Sook tak pernah mendiskriminasikan seseorang, hanya saja dia tak mau temannya berkencan dengan gangster.

“Apa yang kau katakan?” Na Ri menghampiri keduanya.

“Aku mengatakan apa yang ada dalam pikiranku.”

“Jangan seperti itu, dia sudah mengalami banyak masalah.”

“Masalah apa yang dia alami?”

“Apa kau akan membantunya jika kau tahu?”

Nan Gil menenangkan keduanya, Ran Sook hanya mengatakan hal yang tak serius. Ran Sook makin marah karena merasa diremehkan oleh Nan Gil. Ia pun berjalan menuju mobilnya dengan sebal.


Nan Gil menyarankan pada Na Ri supaya mereka bisa berbaikan dalam perjalanan. Na Ri merengut, dia tak pandai dalam hal ini “Beritahu aku bagaimana caranya?”

“Bicaralah dengan baik padanya.”

Selama perjalanan, Ran Sook dan Na Ri menjadi canggung. Ran Sook bertanya apakah Na Ri punya perasaan pada Nan Gil? Ran Sook memperingatkan bahwa apa yang dirasakan oleh Na Ri bukanlah cinta melainkan panggilan biologis. Menatap mata Nan Gil mungkin membuat Na Ri berfikiran untuk berada dalam pelukannya.

“Tapi itu bukan cinta. Kau hanya tertarik dengan sosoknya.” Tegas Ran Sook.

Dia tak tahu apa yang dilakukan oleh Nan Gil sebelumnya, tapi melihat gangster menghormatinya membuat Ran Soo berfikiran agar Na Ri tak terlibat dengannya lagi. Jangan datang kesini lagi jadi Na Ri tak perlu melihatnya.

Na Ri tersenyum tapi kemudian murung ketika mengingat saat Nan Gil menciumnya dan menceritakan sekelumit rahasia tentang masa lalu kelamnya.

“Ran Sook. Aku tidak yakin apa aku bisa hidup tanpa dia. Mengeluarkannya dari pikiran? Kurasa itu tidak akan berhasil. Kurasa aku bisa tinggal di sini membuat dumpling sepanjang hidupku.”

“Apa kau ingin melihatku pingsan saat mengemudi?” omel Na Ri.


Joon menghampiri Nan Gil untuk meminta penjelasan akan apa yang terjadi. Ia bertanya – tanya apakah nanti dia juga harus terlibat dalam perkelahian? Joon tak habis pikir dan meminta Nan Gil menjelaskan padanya.

Dua junior Joon membuat isyarat dengan mengetuk piring kemudian menyuruhnya untuk pulang.

Joon curiga dengan mereka bertiga, dia yakin ada apa – apa diantara ketiganya. Nan Gil yang terus menerus diam pun menatap Joon. Joon langsung ketakutan dan memalingkan wajahnya.

Saat melewati ruang tunggu, Yeo Joo mememutuskan untuk menghampiri Duk Bong. Ia bertanya apakah Duk Bong melihatnya barusan? Apa gadis yang bersamanya sedang sakit?

“Bukan dia tapi ibunya.”

Yeo Joo akhirnya duduk di samping Duk Bong dan menceritakan bahwa ayahnya memiliki sakit parah dan sering keluar – masuk rumah sakit selama tujuh tahun. Ia menceritakan hal ini karena Duk Bong sudah melihat sisi suram keluarganya.

“Tidak usah repot – repot. Aku tak perduli.” Balas Duk Bong.

Tak lama setelah itu, Duk Shim berteriak – teriak saat bodyguard menyeretnya. Duk Bong pun bilang pada Yeo Joo bahwa keluarga mereka sama – sama suram. Ia menghampiri Duk Shim dan menyuruhnya untuk jangan membuat keributan. Menurut pada mereka saja.

Duk Shim memohon bantuan tapi Duk Bong malah meninggalkannya. Dia pun menatap Yeo Joo “bantu aku.”

Yeo Joo terkejut “Aku?”

Ketika menunggu pintu lift terbuka, Duk Bong menghela nafas panjang. Akhirnya ia tidak bisa mengabaikan Duk Shim dan memilih untuk membantunya.

Sedangkan Yeo Joo yang biasanya nyebelin ternyata mau menyelamatkan Duk Shim dan membukakan pintu mobil untuknya saat bodyguardnya sibuk berdiskusi. Keduanya lari terbirit – birit dengan ketakutan.

Dua bodyguard itu berniat mengejar mereka tapi Duk Bong muncul “katakan saja kalau aku yang menyuruh kalian.”


Duk Shim terus lari tanpa memikirkan orang – orang disekelilingnya. Yeo Joo kesulitan mengejarnya dan bingung sendiri kenapa ia harus menolong anak itu. Ia pun menarik lengan Duk Shim saat sudah dalam jangkauannya dan menyudutkannya ke tembok. Dia mengaku sebagai teman Duk Bong dan mereka berada di pihak yang sama.

Masih belum percaya, Duk Shim terus melawan sampai akhirnya Yeo Joo memelintir tangannya sampai tak berkutik.

Na Ri menghubungi Nan Gil, keduanya terlihat tak bersemangat. Nan Gil berdoa untuk keselamatannya dalam penerbangan. Na Ri mengingatkan supaya Nan Gil tetap membuat langkah kaki di kebun supaya penghubung hubungan mereka tetap tumbuh. Kirimi pesan dan hubungi aku ya?

“Baiklah.” Jawab Nan Gil.

Keduanya seperti loyo karena merasa kehilangan satu sama lain.


Yeo Joo heran karena Duk Shim belum mengucapkan terimakasih setelah menerima bantuan darinya. Duk Shim dengan santai menyeruput susunya “Apa hubunganmu dengan kakakku?”

“Kita bertemu beberapa kali. Kenapa memangnya?”

Duk Shim menyuruh Yeo Joo untuk mengikat rambutnya kebelakang. Meskipun agak heran tapi Yeo Joo menurutinya saja.

“Heol.. Daebak!”

“Kenapa?” tanya Yeo Joo kegirangan.

“Kau seperti gadis yang dicampakkan kakakku.” Pffft.

Ponsel Duk Shim berdering, Yeo Joo dengan kesal menyerobotnya kemudian mengangkat panggilan Duk Bong. Dia menyuruhnya untuk segera menjemput Duk Shim karena dia buru – buru mau kerja.

-oOo-

1 Response to "SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 9 Bagian 1"

  1. haha duk shim dikirain mau bilang cantik/apa eh ternyata di campakin๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜
    lanjuuut

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^