SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 7 Bagian 1

SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 7 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: KBS2


Na Ri mempertanyakan akankah Nan Gil masih menyukainya? Nan Gil menghampiri Na Ri dengan tangan yang bergerak seakan – akan ingin menggapai wajahnya. Dalam batin, Na Ri merasa semua ini telalu cepat. Ia beranggapan kalau Nan Gil sudah memendam perasaannya selama ini.

Bukannya bersikap romatis, rupanya Nan Gil cuma ingin mengambil potongan timun yang tertinggal didahinya. Ia mengolok Na Ri yang melakukan perawatan tapi sepertinya tidak ada perbedaan.

Na Ri menggerutu sebal dan meminta Nan Gil tak mengalihkan pembicaraan.

Iya. Jawab Nan Gil, dia memang mengingatnya dalam waktu yang lama dan masih menyukainya. Namun semua itu hanyalah kenangan, ia menganggap Na Ri yang sekarang seperti teman lama. Ia tak mengenal Na Ri yang tinggal di Seoul “Aku tidak ingin mengenalnya.  Aku tak merindukannya maupun menyukainya. Aku menganggapnya seperti orang asing.”

Loh. Na Ri jadi semakin bingung dibuatnya, jadi Na Ri yang disini dan Na Ri yang di Seoul adalah dua orang yang berbeda?

Yap. Bagi Nan Gil, Na Ri yang di Seoul adalah orang asing dan Na Ri yang ada disini adalah seseorang yang ia suka. Kalau Na Ri bukan putri Jung Im maka Nan Gil tak akan tertarik. Nan Gil pergi meninggalkan Na Ri begitu saja.

Na Ri sudah menggunakan baju training dan mencekal tangan Nan Gil “Kau tidak tertarik? Pikirkan tentang apa yang kau lakukan padaku. Kau berlari menggandengku di lenganmu, dan kau datang ke Seoul. Kau menghiburku ketika aku menangis, menanam bibit, merawatku ketika aku masih sakit, dan bertindak seperti seorang ayah. Apakah kamu mempermainkan hatiku? Jika hanya aku, maka itu sangat memalukan.” Omel Na Ri.

Tapi.. rupanya itu cuma bayangan Na Ri saja. Nyatanya dia masih diam membeku ditempatnya tanpa mengatakan apapun. Nan Gil rasa kalau Na Ri tak punya sesuatu yang akan ia katakan, maka ia akan pergi.

Baiklah. Mulai sekarang, Na Ri akan membuat Nan Gil mengenal Na Ri yang tinggal di Seoul. Ia akan sering – sering menghubunginya mulai sekarang.


Dua orang polisi mengetuk pintu rumah saat Na Ri dan Nan Gil sedang berdebat. Duk Bong berada disana sehingga ia pun mempertanyakan surat perintah mereka. Mereka tak bisa memaksa masuk begitu saja, mereka bisa bicara dengannya karena ia adalah pengacara.

Nan Gil dan Na Ri keluar. Polisi bertanya apakah benar kalau Duk Bong adalah pengacaranya?

“Ya.” Sahut Na Ri.


“Shin Jung Nam melaporkan Ko Nan Gil atas tuduhan penyerangan, pemerasan, penyekapan, dan penculikan. Kami akan melakukan penyelidikan maka ikutlah bersama kami.” Jelas polisi.

“Jung Nam adalah pamanku. Kami juga sedang mencarinya. Siapa yang anda katakan menyerang pamanku?” tanya Na Ri.

Nan Gil sudah ada di kantor polisi dengan ditemani Duk Bong. Polisi melihat adanya catatan buruk Nan Gil. Duk Bong membela Nan Gil karena sepertinya tuduhan ini terkesan dibuat – buat. Tak jelas bagaimana dan dimana dikurung, tak ada catatan keterangan dokter dan yang jelas Nan Gil tak pernah meninggalkan Seulgi-ri.

Nan Gil dengan santai meminta pada polisi agar mereka mempertemukannya dengan Jung Nam. Jika menolak untuk mempertemukan dengannya, maka ia akan melaporkan bahwa pendakwa menghilang. Ia sering berhubungan dengan Jung Nam namun telfonnya mati baru – baru ini.

Rupanya ini semua akal – akalan Tuan Bae dan bawahannya memberitahukan apa perkembangan kasus ini. Ia mengatakan bahwa Nan Gil menyewa seorang pengacara. Tuan Bae langsung memerintahkan agar anak buahnya memeriksa pengacara yang disewa Nan Gil, cari tahu segala sesuatu tentangnya.

Saat perjalanan pulang, Duk Bong merasa kalau catatan keluar masuk Nan Gil dari penjara akan membuat Nan Gil tampak seperti penjahat. Ia akan dirugikan dalam persidangan. Sekarang sebagai klien –nya, Duk Bong meminta Nan Gil untuk mengatakan segala sesuatu dengan jujur. Apa hubungannya dengan Da Da?

“CEO Da Da ini, Bae Byung Woo, adalah ayah yang mengadopsiku. Aku secara resmi diadopsi ketika Aku masih 16 tahun.”

“Bagaimana dengan sekarang?”

“Dia melepaskan aku.”
Na Ri telah menanti dengan gusar didepan rumah, ia langsung menyambut Nan Gil dengan pertanyaan ketika ia pulang. Apa yang mereka katakan? Apa dia memang benar – benar paman? Apa paman masih mengabaikan panggilannya?

“Dia menuduhku dan aku melaporkannya sebagai orang hilang.”

Omong – omong bicara tentang pemerasan membuat Na Ri ingat akan pembicaraan Nan Gil dan pamannya malam itu. Saat ia tak sengaja mendengarnya dan Nan Gil mengancamnya untuk tak datang lagi ke rumah. Na Ri menyarankan agar Nan Gil untuk mengatakan hal itu pada Duk Bong. Bisa saja mereka merekamnya dan menggunakannya sebagai bukti.

Seketika Nan Gil marah, ia menelfon dikamarnya lalu bagaimana Na Ri bisa tahu? Bagaimana kau bisa mendengarnya?

Na Ri mengaku kalau dia hanya mendengarnya saja saat itu. Duk Bong menyuruh Nan Gil untuk tenang dan meminta Na Ri untuk bicara dengannya empat mata. Nan Gil pun pergi begitu saja dengan kesal.


Ketika masuk dalam rumah, karyawan Nan Gil menyodorkan tofu sambil ngoceh tapi pada intinya dia penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Kalau ada yang perlu ia tahu maka katakanlah. Nan Gil dingin “Kenapa kalau aku tak mengatakannya padamu? Apa kau mau berhenti?”

“Hei, kau tak boleh menyalahkan gunakan kekuasaanmu.” Gerutu karyawannya.

Nan Gil memang benar – benar tak ingin menceritakannya, ia pun berjalan meninggalkan mereka tanpa memberitahukan permasalahannya.

Duk Bong memberitahukan segalanya pada Na Ri mengenai hubungan antara Nan Gil dan Da Da finance. Na Ri sama sekali tak menyalahkan siapapun lagipula menjadi anak yang dibesarkan di panti dan diadopsi oleh Tuan Bae bukanlah pilihan Nan Gil.

Tidak. Duk Bong sama sekali tak ada niatan membicarakan masa lalu kelam Nan Gil. Dia hanya ingin Na Ri mengetahuinya saja. Meskipun begitu, Na Ri beranggapan kalau Nan Gil harus tahu kalau mereka berdua membicarakannya. Mungkin telinganya akan gatal karena ini.

Duk Bong tak perduli dengan telinga Nan Gil. Tapi ngomong – ngomong, kapan Na Ri akan kembali ke Seoul?

“Dua hari dari sekarang.”

Duk Bong dengan hati – hati menawarkan apakah Na Ri ingin ia mengantarkannya? Na Ri tak merespon dan ingin mereka bertiga bicara dengan Nan Gil.

Mereka bertiga sudah duduk bersama, Duk Bong memperhatikan keduanya dan yakin bahwa tak akan ada yang percaya kalau mereka adalah Ayah – Anak. Nan Gil akan kalah kalau sampai masalah ini sampai ke pengadilan, mereka akan menuntut pernikahan dibatalkan dan menuduhnya melakukan penipuan. Mereka akan membuat Na Ri mendapatkan warisan lalu mereka akan memintanya.

Nan Gil yakin Da Da tak akan mengalahkan mereka. Pengalihan tanah dan pernikahannya dilakukan dengan sempurna. Tidak ada tanda – tanda pemaksaan juga. Baiklah, Duk Bong menyarankan agar Nan Gil menjaga hubungannya dengan Na Ri sebagai keluarga dan jangan sampai membuat orang lain curiga akan hubungan mereka.

Ngomong – ngomong, biaya pengacara itu mahal. Nan Gil bertanya apakah Duk Bong akan terus membantu mereka secara gratis?

Duk Bong juga keheranan kenapa ia melakukan semua ini dengan sukarela, ia bahkan tak akan mengambil alih properti Nan Gil. Duk Bong menatap Na Ri “Na Ri. Apakah kau mau kencan denganku? Bukan sebagai teman. Tapi sebagai sesuatu yang lebih intin seperti pacar.”

Na Ri tentu saja terkejut karena terkesan tiba – tiba. Duk Bong hanya merasa Nan Gil merasa terbebani akan kebaikannya. Ia hanya ingin mengungkapkan keinginannya saja.

Nan Gil mengingatkan bahwa Na Ri barusaja mengalami masa sulit karena kematian ibunya jadi ia berharap Duk Bong melakukannya dengan lebih serius dan bertahap. Jangan terburu – buru.

“Go Nan Gil!” seru Na Ri.

“Apakah kau tidak mendengarnya? Kita harus bertindak seperti sebuah keluarga. Kau tidak seharusnya memanggilku menggunakan namaku.” Tegas Nan Gil.

Na Ri mengantarkan Duk Bong ke halaman. Ia mengingat kalau Duk Shim menganggap dirinya sebagai seorang playgirl. Tidak heran kalau adik Duk Bong salah paham, kenapa juga dia secara tiba - tiba mengatakan hal itu?

Ini bukan tiba – tiba, Duk Bong hanya merasakan kebahagiaan ketika berbicara dengan Na Ri. Saat sedang memarahi Duk Shim, ia merasa kalau Na Ri tampak bijaksana, cerdas dan cantik. Dia tampak bersinar. Itulah sebabnya Duk Bong ingin berkencan dengan Na Ri. Setidaknya, mereka berdua bisa lebih dekat mulai sekarang.

Pujian Duk Bong merupakan pujian terindah yang selama ini ia dapatkan dan ia akan menulisnya dalam diary. Namun ia belum berfikir untuk berkencan.

“Kalau begitu pikirkan saja seorang pria bernama Kwon Duk Bong.”

“Aku pikir aku belum bisa.”

“Kalau tidak, katakan saja kalau kau mempertimbangkannya padahal aku sudah mengatakan pujian terbaik.”

Pikiran Na Ri sudah cukup rumit. Kalau ia mengatakan hal itu maka Duk Bong akan menantikan jawaban darinya. Duk Bong tak akan menunggu jawaban, dia meminta Na Ri memikirkannya kalau ada waktu.

Yeo Joo tengah bertemu dengan wanita dari biro jodoh sepertinya, ia memberikan banyak sekali profil pria kenalannya. Wanita itu sangat berterimakasih, ia berjanji akan menarik akun Yeo Joo dan menghapusnya.

Tapi sebelum itu, ia menunjukkan profil seseorang yang tak lain adalah Dong Jin. Wanita itu memberitahukan kalau Dong Jin menjadi anggota VIP beberapa hari yang lalu. Kriteria utamanya adalah wanita rumah tangga.

Sontak Yeo Joo sebal tapi buru – buru menunjukkan senyum ramah. Keluarganya belum mengetahui hubungan mereka jadi kemungkinan Ibunya yang memasukkan profil Dong Jin.

Yeo Joo pun buru – buru pamit dan saat ia sudah berbalik, dia tampak sangat kesal.

Na Ri sedang menghubungi seseorang yang ia panggil Ibu, mungkin saja ibunya Dong Jin. Saat panggilan sudah berakhir, Na Ri menggerutu sebal “Yang dia perdulikan hanya keluarganya?”

Tak lama kemudian, ponsel Na Ri kembali berdering menerima pesan dari nomor yang diberi nama “Berandal Yang Tinggal Dirumaku”. Dia memintanya bertemu di tepi danau.

Sesampainya di tepi danau, Nan Gil sudah menantinya di bangku tepi danau. Ia dengan gamblang bertanya apakah Na Ri melihatnya telanjang kalau dia mendengar pembicaraannya dalam telefon?

Na Ri mendesis sebal karena orang – orang bisa salah paham kalau mendengar omongannya.
“Kau melihatku dan mendengarku mengancam pamanmu. Kenapa kau masih percaya padaku?”

“Apa kau marah padaku karena aku percaya padamu? Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

Pada dasarnya, Nan Gil tak mau kalau mereka berdua tinggal dibawah atap yang sama. Mereka berdua menjalani kehidupan yang berbeda jadi Nan Gil meminta Na Ri untuk menjauhinya. Nan Gil yang akan mengatasinya jadi Nan Gil lupakan saja masalah dan tempat ini.

“Setelah semuanya beres, apa yang akan kau lakukan?” tanya Na Ri.

Nan Gil akan mengembalikan tanahnya pada Na Ri kembali. Na Ri kembali bertanya bagaimana kalau ia langsung menjualnya? Nan Gil percaya kalau Na Ri tak akan melakukan hal itu.

Jangan percaya, Na Ri meminta Nan Gil jangan mempercayainya. Kalau memang tujuannya ingin menjaga properti ini maka lindungi terus. Masalah dirinya mau percaya atau tidak, itu adalah pilihannya sendiri.

Baiklah, terserah apa mau Na Ri tapi Nan Gil memintanya untuk pergi. Na Ri tetap kekeuh tidak mau pergi, hidup di dunia yang berbeda bukan alasan yang bisa membuat mereka tak bersama. Na Ri tak ingin pergi ke Seoul, ia merasa semua ini seperti hadiah dari Ibunya. Ia hampir mengucapkan terimakasih pada Ayah karena utangnya, lalu kenapa Nan Gil malah menyuruhnya pergi?

Tapi Nan Gil sudah berjanji bahwa ia akan melepaskan perasaannya.

Meskipun begitu, Na Ri yakin kalau ibu tak akan menentang hanya karena alasan mereka berdua berbeda.

“Jika dia masih hidup, aku tidak akan pernah muncul dihadapanmu. Sama seperti aku hidup selama ini. Juga bukan ibumu yang akan menentang melainkan.. aku.” Ucap Nan Gil.


Duk Bong sudah memakai setelan jas rapi dengan rambut yang sudah mengkilap. Dia menyuruh Duk Shim untuk berkemas karena ayah akan datang kemari. Ia akan mengubah kamar yang ditinggali Duk Shin sebagai gudang. Duk Shim mengajaknya untuk membuat kesepakatan. Ia akan membuat permintaan maaf pada wanita itu.

“Itu masalahmu dengan Na Ri.”

“Aku akan memata – matainya untukmu.”

Mengintai? Baiklah. Kali ini Duk Bong setuju, lalu apa yang diinginkan oleh Duk Shim. Duk Shim menolak untuk tinggal di Seoul.

Kalau itu mustahil, Duk Bong tak jadi sepakat. Duk Shim meyakinkan bahwa ia akan membuatnya menjadi mungkin.


Duk Bong menantikan kehadiran ayahnya yang datang dengan istri dan adiknya. Mereka hanya saling sapa sejenak dan Ayah Duk Bong langsung menyalami orang lain. Ayahnya bersalaman dengan Duk Shim yang mengenakan kaos training warna kuning. Ayahnya menyalaminya seperti tak kenal dengan anaknya sendiri.

Istrinya langsung menegur kalau anak itu adalah putrinya.

Duk Shim buru – buru menghormat dengan gaya pendekar “Ketua Kwon.”

Ketua Kwon langsung tersenyum, dia hanya berpura – pura tak mengenalinya. Kalau Duk Shim tahu maka ia tak akan menyapanya lebih dulu.

2 Responses to "SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 7 Bagian 1"

  1. Wa....akhirnya keluar...wlpn cuman separo tp happy...ditunggu selanjutnya yah...tq tq tq :)

    ReplyDelete
  2. Wa....akhirnya keluar...wlpn cuman separo tp happy...ditunggu selanjutnya yah...tq tq tq :)

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^