SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 3 Bagian 2

SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 3 Bagian 2 | SINOPSIS Man Living in Our House Episode 3 Bagian 2 | SINOPSIS Man Living at My House Episode 3 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2


Dong Jin dan Yeo Joo sedang bersama di sebuah cafe. Ponsel Dong Jin berbunyi ketika keduanya tengah berbincang. Sudah barang tentu Dong Jin tak enak hati untuk mengangkatnya namun Yeo Joo berkata kalau dia mau mengambil kopi. Angkat saja telfonnya, siapa tahu Na Ri masuk UGD. Ucap Yeo Joo dengan nada ramah tapi wajahnya gak ikhlas.

Na Ri bertanya apakah Dong Jin bisa berbicara dengannya. Dong Jin mencari tempat yang agak jauh agar Yeo Joo tak mendengar pembicaraannya. Na Ri kemudian berkata kalau memang Dong Jin ingin uang 30000 dollarnya kembali, ia harus bekerjasama dengannya. Hari ini adalah hari ulang tahun ibunya, datang dan minumlah! Buat dia mabuk sampai pingsan.

Awalnya Dong Jin tak mengerti, akhirnya dia paham maksud Na Ri “Si Pengeruk Harta? Penipu? Baiklah.” Ucapnya mengakhiri panggilan tersebut.


Saat berbalik, Dong Jin dikejutkan dengan Yeo Joo yang sudah berdiri dibelakangnya. Ia salah paham mengira kalau Na Ri sunbae mengatainya sebagai Pengeruk Harta. Matanya berkaca – kaca sok sedih.
Dong Jin mengelak, yang dimaksud oleh Na Ri adalah seseorang. Ibunya sedang berulang tahun, tak ada siapapun disampingnya. Mungkin Na Ri membutuhkannya sekarang ini.

Yeo Joo langsung bersikap lebai, memegangi pinggir matanya dan berkata pada dirinya sendiri kalau ia tak boleh menangis. Mereka harus mengakhiri hubungan mereka. Ia kira Na Ri telah mengakhiri hubungannya dengan Dong Jin tapi sepertinya Na Ri belum bisa melepaskannya begitu saja “Aku mengerti dirinya.”

Dong Jin jadi keceplosan kalau ada masalah uang diantara mereka. Sontak Yeo Joo berubah excited dan mengajaknya pergi bersama, katanya Na Ri sedang sendiri maka ia akan menemani Dong Jin menemuinya. Dong Jin menolak karena ia akan pergi sendiri.

Yeo Joo kekeuh, dia akan bersikap baik menunggu didalam mobil. Membaca atau mendengarkan musih.

“Yeo Joo.. Aku akan pergi sendiri.” Ucap Dong Jin membuat Yeo Joo sebal.

Saat kembali ke rumah, Nan Gil langsung masuk ke kamarnya. Komputernya sudah menyala dan lacinya terbuka. Ia menghela nafas berat akibat kelakuan Na Ri yang sudah mengecewakannya.

Nan Gil membawa nampan berisi makanan ke kamar Na Ri. Dia bertanya dengan nada sarkatis “Apa kau tertidur? Apa kau masih sakit? Aku akan masuk!”

Na Ri mendelik sebal mendengar kedatangannya. Ia pun buru – buru bersembunyi dibalik selimut ketika Nan Gil membuka pintu.

Na Ri pura – pura baru bangun tidur. Nan Gil memberitahukan bahwa ia tak menemukan obatnya disini. Apa mungkin obat itu cuma tersedia di Seoul? Haruskah dia mencarinya disana? Na Ri menolak, dia sudah rada baikan sekarang. Nan Gil masik sok – sokan khawatir, apa dia perlu memanggil ambulans? Bahkan sekarang Na Ri belum bisa bangun.

“Aku akan membaik kalau aku berbaring, tapi hari ini sedikit lebih lama.” Ujar Na Ri.

Nan Gil pikir mungkin Na Ri kelaparan, makanan berat mungkin akan berlebihan jadi makanlah dumpling yang ia bawa. Tapi bagaimana dengan buang air Na Ri?

Na Ri mengaku kalau dia tak buang air setelah makan.

Nan Gil dengan sinis bertanya jadi Na Ri sembelit? Stres, insomnia, kurang gizi, osteoporosis, hernia, dan sembelit. Apa yang tak kau miliki? Karena itulah kau jadi keriput..

Sontak Na Ri bangkit, tak terima dikatai keriput dan membentaknya untuk berhenti bicara masalah keriput. Nan Gil memasang tampang polos memperhatikan pinggang Na Ri. Pfft.. Na Ri pun buru – buru kembali ke dalam aktingnya, memegangi pinggang dan menidurkan tubuhnya dengan sok kesakitan.


Asisten Duk Bong (entahlah apa jabatannya) memberikan informasi tentang Na Ri padanya. Duk Bong sampai heran melihat foto Na Ri, apa benar wanita yang ia temui tadi pagi adalah orang yang sama dengan yang difoto? Benar saja kalau pria sering berfantasi tentang pramugari.

Setelah kenyang makan dumpling, perut Na Ri berasa mules. Dia berjalan ke kamar mandi sambil mengendap – endap.

Duk Bong bertamu ke rumah namun Nan Gil menghadangnya saat Duk Bong mengaku ingin menemui putrinya. Na Ri sedang sakit punggung dan tak bisa bergerak. Ia tak tahu seberapa dekat hubungan mereka, tapi sepertinya Duk Bong belum seharusnya masuk ke kamar Na Ri.
“Lalu, siapa yang berdiri disana?” ucap Duk Bong mengedikkan dagu menunjukkan Na Ri yang sedang mengendap – endap ke tangga menuju ke kamar.

Na Ri ketawa garing, mengaku kalau sakitnya semakin parah ketika terus berbaring.

“Duk Bong! Silahkan masuk. Seperti yang kau lihat, aku kesakitan jadi kurasa aku tidak bisa keluar. Kalau begitu, masuklah ke kamarku.” Ucap Na Ri sok akrab pada Duk Bong kemudian bertanya pada Nan Gil “Tidak apa – apa kan?

Nan Gil menanggapinya sinis, lagian Na Ri juga bukan remaja lagi jadi kenapa meminta izin? Perlukah dia membawakan susu untuknya?

Mereka berdua sama – sama memalingkan wajah dengan sebalnya. Nan Gil pun pergi membiarkan Duk Bong ke kamar Na Ri.

Dalam kamar, Duk Bong bertanya apakah Na Ri sudah menemukan sesuatu tentang Nan Gil. Na Ri mengaku belum menemukan apapun karena semuanya terkunci. Yaiyalah, makanya Duk Bong mengatakan kalau semua adalah masalah waktu. Mereka harus melapor sebelum Nan Gil menyadarinya.

Tapi mereka harus melapor masalah apa? Na Ri pikir Nan Gil tak melakukan sesuatu yang salah.

“Pernikahan. Kita akan mengatakan pernikahannya dengan ibumu adalah penipuan. Kau harus mencurigainya secara menyeluruh. Aku juga akan memeriksa kecelakaan yang menimpa ibumu.”

Sejenak Na Ri terdiam, seolah dia ragu untuk melakukan usulan Duk Bong. Dalam hati nuraninya sepertinya ia agak mempercayai Nan Gil apalagi melihat senyuman Ibunya dan Nan Gil yang tampak begitu tulus.

Ketika sedang bicara serius, Nan Gil datang memberikan sebotol minuman. Dia kemudian bertanya apa pekerjaan ayahmu, nak?

“Nak?” tanya Duk Bong tak percaya.

“Iya benar, Nak. Berapa saudara kandungmu? Apa keluargamu akur? Kenapa kau selalu berpakaian kumuh?” cecar Nan Gil. Pfft. Padahal baju Duk Bong bagus loh.

“Nan Gil..”

“Kau harus tahu siapa orangtua disini..” sela Nan Gil.

Na Ri diam dengan tampang malu. Duk Bong juga ingin meluruskan kalau mungkin Nan Gil menganggap dirinya tertarik pada Na Ri.. tapi sebenarnya...

“ABEOJI!!!” teriak Na Ri menghentikan penjelasan Duk Bong. Dia meminta untuk diambilkan minum juga.

Sontak wajah Nan Gil berbunga – bunga karena dipanggil Ayah oleh Putri Tirinya. Ia pun pergi dengan tampang bahagia se bahagianya.

Duk Bong terkejut kenapa Na Ri memanggilnya Ayah? Kalau begitu berarti dia telah menerimanya? Ini berbahaya!

Tak mau disalahkan, Na Ri juga memperingatkan kalau Duk Bong tak seharusnya membocorkan privasi kliennya.


Saat berniat pulang, Duk Bong melirik ke arah Nan Gil dengan wajah sengit. Nan Gil berlagak seperti Ayah mertua yang rese, mengomentari sikap kasarnya yang tak memberi salam. Sontak Duk Bong ingin melabraknya tapi Na Ri buru – buru menahan Duk Bong kemudian mendorongnya pergi.

“Bagaimana kau bisa mentolerir anak nakal yang kasar itu? Aku menahannya karena aku membutuhkan tanahnya. Jangan lupa kita berada di pihak yang sama.”

Na Ri lelah harus berurusan dengan dua pria ini, ia pun mempersilahkan Duk Bong untuk pulang. Duk Bong mengajak toss tapi Na Ri tak merespon, akhirnya ia pun mendekati Na Ri dan menepuk tangan Na Ri. Fighting! Ucapnya.

Sehabis mengantarkan Duk Bong pergi, Na Ri mendekati Nan Gil dan memperhatikannya dari atas sampai bahwa. Dimana kira – kira dia menyimpan kuncinya? Nan Gil terkejut saat menyadari Na Ri sudah ada dibelakangnya, ada apa kau melihatku?

“Aku tidak melihatmu.” Ucap Na Ri kemudian menaburkan bumbu ke bahan makanan buatan Nan Gil seenaknya. Mereka berdua berdebat lagi sampai akhirnya Na Ri bertanya kenapa dia dia bersikap begitu barusan? Apa dia ingin semua orang tahu hubungan diantara mereka?

“Bukankah kau sendiri yang memanggilku Ayah? Ah. Menjengkelkan sekali.” Keluh Nan Gil.

Na Ri masih terus menguntitnya dan berkata kalau ia mencoba menghubungi ponsel Ibu, panggilannya masih tersambung tapi tak pernah ada yang menjawab. Kalau sudah ada orang lain yang menggunakan nomor itu, seharusnya ada yang menjawabnya setidaknya sekali. Kau memiliki ponselnya kan? Kenapa kau menyembunyikannya? Apa yang kau sembunyikan? Kenapa gudangnya terkunci? Banyak kenangan dia dan Ibu disana, memangnya siapa Nan Gil hingga membuat dinding pembatas antara ia dan ibunya?

“Ini hari ulang tahunnya. Jadilah hormati dia.” Ucap Nan Gil.

Na Ri kembali mengaitkan masalah ini dengan uang, ia menduga Nan Gil mendekati ibunya karena uang.

“Satu hal yang pasti. Aku tidak ingin memberitahumu..” ucap Nan Gil membuat Na Ri mendekatkan wajahnya penasaran “..tapi ibumu yang mendekati aku terlebih dulu.”

Kalau begitu, Na Ri menuntut agar ponsel ibunya diberikan padanya. Nan Gil menolak karena itu bukan haknya. Baiklah kalau begitu, tapi Na Ri penasaran kenapa Nan Gil mengatakan kalau rumah ini miliknya tapi ia memilih tidur didekat dapur? Kenapa dia tak mengusirnya dan tinggal di kamar utama?

“Metodeku dalam mengaduk adalah unik. Aku harus membolak-baliknya sepanjang malam dan mengatur suhunya. Aku harus berada dekat dengan ruang kerja restoran.” Jelasnya.

Dengan berhati – hati, Na Ri bertanya apakah Nan Gil tidak tidur dengan ibunya? Nan Gil tentu saja menolak untuk menjawabnya. Memang sebenarnya apa yang ia ingin tanyakan? Na Ri tak suka dirinya tingga disini? Apa karena uang? Apa dia membutuhkan uang?

“Kau menakutkan saat kau sedang marah, Sang Legendaris Go Nan Gil. Apa yang harus kau lakukan untuk menjadi legendaris itu?”
Nan Gil mendekatkan wajahnya pada Na Ri, seorang legendaris tidak pernah menceritakan kisah legendarisnya. Intinya, Nan Gil masih akan terus tinggal disini dan membuat dumpling selamanya. Dia akan menunggu sampai pohon yang ia tanam dipinggir danau tumbuh tinggi.

Sudah cukup untuk hari ini, mereka masih punya banyak waktu. Nan Gil menyuruhnya untuk berganti pakaian.
Setelah sembahyang, keduanya duduk akur seperti tak ada perdebatan panjang diantara mereka. Na Ri menceritakan kalau saat ia kecil, ia tak memiliki teman. Nan Gil mengetahuinya. Na Ri berdecak karena ibu telah menceritakan hal itu. Dulu teman - teman mengoloknya saat Ayah lari dan mengejek rasa dumpling yang katanya tidak enak. Setelah itu, ia merasa selalu diejek sehingga ia memilih menghindari mereka. Sejak itu, ibu adalah teman sekaligus ayahnya.

Ia berencana untuk mengetahui apa yang terjadi. Jadi apakah Nan Gil memiliki sesuatu yang ingin ia akui?


Mengakui? Yah, Nan Gil ingin mengakui sesuatu. Na Ri mendekatkan wajahnya penasaran tapi Nan Gil malah berkata kalau ia beranggapan dumpling itu mengerikan sampai akhirnya dia sampai disini.

Na Ri jengkel karena sesuatu yang diakui Nan Gil sangat tidak penting. Ia mendesis kesal dan berdiri dengan dongkolnya. Nan Gil sampai kaget karena reaksi mengejutkan Na Ri.

Saat sedang ribut, Dong Jin datang dan Na Ri segera membukakan pintu. Ia melihatnya membawa dua kantung soju. Apa ini semua cukup? Dong Jin yakin cukup soalnya dia membawa dua botol besar.

Nan Gil menyeretnya masuk lalu memintanya untuk memberi hormat pada Ibu. Na Ri sempat menolak tapi Nan Gil menyuruhnya sehingga Dong Jin pun melakukan apa yang diminta Nan Gil. Na Ri memilih memalingkan wajah, tak ikhlas orang yang sudah mengkhianatinya memberikan salam dan menyebutnya sebagai Ibu.

Saat sedang basa – basi dan Nan Gil memintanya untuk makan, Na Ri langsung menyela tak setuju. Mereka harus minum sekarang juga, semuanya cuma formalitas saja.

Ketika Na Ri pergi mempersiapkan minum, Dong Jing bertanya apakah Na Ri tak mengetahuinya apa – apa?

Flashback,


Nan Gil menemui Dong Jin dikantornya kemudian memberikan uang sejumlah yang telah pamannya pinjam. Dong Jin heran kenapa dia membayarnya kembali? Dia juga tak menyukai cara bicara Nan Gil padanya.
Nan Gil mengerti, ia pun juga tak nyaman dengan itu. Dong Jin kemudian bertanya berapa harga rumah Na Ri sebenarnya? Dia minta maaf karena telah menyebut Nan Gil sebagai pengeruk harta. Tapi meskipun Nan Gil membayar hutang atas nama Na Ri, rumah itu tetap milik Na Ri.

“Aku tidak membayarmu karena rumahnya.”

“Bukankah ini tentang rumah? Lalu apa? Apa karena hubunganku dengannya? Kenapa kau ikut campur...”

Nan Gil tak mau ikut campur kok. Mereka bisa mengatasi masalah mereka sendiri, hanya saja ia berfikir tak seharusnya ada masalah uang diantara mereka. Ia juga meminta Dong Jin mengatakan kalau Paman Na Ri yang telah membayar hutang ini.


Setelah Nan Gil pergi, Dong Jin sepertinya tak enak hati untuk menerima uang tersebut. Ia mengejarnya untuk mengembalikan uang itu, ia akan mengatasi masalah ini dengan Paman Na Ri.

Tapi ketika itu, Nan Gil malah tampak pucat. Berjalan sempoyongan seperti seorang yang panik, nafasnya tak beraturan dan mengabaikan Dong Jin begitu saja.

Saat ia menyebrang jalan, ia hampir tertabrak mobil. Nan Gil seperti hilang kesadaran, nafasnya masih naik turun tak teratur. Pandangannya seperti tak jelas dan nampak linglung.
Flashback berakhir.

Dong Jin bertanya – tanya apakah dia mengidap sebuah penyakit? Nan Gil celingukan memperhatikan Na Ri dan buru – buru membungkam menampik mulut Dong Jin. Ia bertanya padanya untuk mengalihkan pembicaraan.

Saat minum, dua orang itu seperti berduel untuk adu siapa yang lebih kuat. Keduanya saling lirik penuh persaingan sedangkan Na Ri diam – diam menuangkan air mineral ke dalam gelasnya.

Ia mengejek mereka berdua yang begitu lambat dalam minum.

Yeo Joo menggalau ria karena pesannya tak kunjung menerima balasan. Sekalinya membalas, Dong Jin mengatakan kalau ia akan menghubunginya nanti.

Yong Chul menghubungi Yeo Joo namun Yeo Joo mengatakan kalau ia tak akan datang ke gym hari ini. Dia dalam perjalanan mengantarkan seseorang karena sepertinya Dong Jin mabuk. Yong Chul mengatai Yeo Joo yang tak punya harga diri.

“Harga diri? Kenapa kau mengatakannya? Apa kau tahu apa yang pria inginkan? Seorang wanita yang seperti seorang teman, kekasih, seorang ibu, seorang putri, malaikan dan penyihir. Apa kau pikir wanita seperti itu ada? Ada dan itu aku. Membodohi orang itu mudah jadi harga diri? Berikan saja pada anjing!”

Setelah dongkol bicara pada Yong Chul, Yeo Joo makin dongkol lagi mengingat ucapan Dong Jin.

Dong Jin dan Nan Gil sudah mabuk berat. Mereka bertingkah aneh sampai minum soju layaknya seperti pasangan.


Sedangkan Na Ri sibuk menggeledah kamar Nan Gil. Dia membuka dompetnya dan mengetahu kalau Nan Gil kelahiran 1990. Namanya memang tercatat Go Nan Gil tapi ia masih meragukannya.

Dibalik KTP itu, dibelakangnya ada sebuah foto kecil menunjukkan gambar pohon – pohon tepi danau. Ia ingat kalau Nan Gil bilang akan menunggu sampai pohon danau tumbuh besar. Na Ri pun kemudian menemukan kunci, ia membakarnya dan membuat menempelkannya ke plastik. Ia akan membuat duplikatnya.

Dia kemudian menemui dua manusia yang sudah seperti orang gila. Dari Dong Jin yang meminta maaf dan Nan Gil memarahinya karena sudah bersikap brengsek, Na Ri harusnya menghindari hal konyol seperti itu sebelum menikah. Bukannya bertarung, mereka malah seperti pasangan lovey dovey.

Dijalan, Yeo Joo tengah mencari Dumpling Hong dan bertanya pada seorang gadis yang tidak lain adalah Duk Shim. Duk Shim sempat mengabaikannya sampai Yeo Joo keluar belangnya dan memanggilnya dengan kasar. “Gadis kecil!”

Yeo Joo sadar sudah keceplosan dan langsung berlagak manis, bertanya dimana Dumpling Hong?

Duk Shim terkejut dan menatap Yeo Joo dari atas sampai bawah. Ia menunjuk ke arah sebuah gang. Yeo Joo sampai takut dengan tatapan itu dan buru – buru pergi setelah bertanya padanya.

Karena kesal, Na Ri melampiaskannya dengan minum soju dan ikut mabuk bersama Nan Gil. Nan Gil meminta maaf sudah mengatai pengalamannya sebagai sesuatu yang konyol. Na Ri masih terus ngedumel tentang seberapa sebalnya dia karena Dong Jin sudah berselingkuh, apalagi dengan junior yang menyebalkan.

Dia harusnya berkabung karena ibunya meninggal tapi gara – gara dia.. Na Ri menunjuk Dong Jin yang sudah ngorok dilantai “aku menjadi sebal setelah kehilangan ibuku. Dia berpura-pura menghiburku, membuat janji-janji palsu, dan mengkhianatiku.”


Nan Gil mengacak rambutnya dengan frustasi, lalu kenapa dia datang kesana hari ini? Dia melihat mereka berdua tersenyum, lalu kenapa dia datang kesana? Ia tak menyukainya. Nan Gil merengek marah.

Na Ri berkata kalau semua sudah berakhir.

Baiklah, Nan Gil yang akan mengatasinya. Ia kemudian menarik tubuh Dong Jin yang tak sadarkan diri. Menyeretnya keluar rumah, ia akan membuangnya. Dong Jin bahkan sudah tak bisa didaur ulang lagi.

Tepat saat di gerbang, Yeo Joo sudah sampai disana dan kesal karena Dong Jin diperlakukan seperti itu. Na Ri tak perduli lalu meminta Nan Gil untuk membuang sampah itu dengan menggunakan mobil.

Dengan sempoyongan, Nan Gil menyeret – ngeret Dong Jin.


Yeo Joo bertanya apa Nan Gil adalah adik Na Ri?

“siapa kau?” tanya Nan Gil sambil tersenyum. Seketika Yeo Joo terpesona dan mengubah nada bicaranya menjadi manja. Ah.. tolong hati – hati menyeretnya.. ucapnya sambil memukul manja lengan Nan Gil.

Na Ri mendorong Yeo Joo yang sudah menggoda Nan Gil hingga Nan Gil dan Dong Jin pun terjatuh. Bukannya khawatir pada Dong Jin, Yeo Joo malah mengkhawatirkan Nan Gil yang ia kira sebagai adik Na Ri.

“Aku bukan adiknya.”

Yeo Joo terkejut, mungkin dia mengira kalau Nan Gil pacarnya kali yah. Na Ri buru – buru membungkam mulut Nan Gil supaya tak mengatakan apapun lagi. Ia mengisyaratkan agar Yeo Joo cepat – cepat pergi.

Duk Shim melihat keributan diantara 4 orang aneh itu dari kejauhan sedangkan kakaknya, Duk Bong tengah memeriksa kamarnya. Asisten mengatakan kalau Duk Shim bolos sekolah lagi.

“Kamarnya seperti zona perang. Dia benar-benar membutuhkan terapi.” Ucapnya.

Yeo Joo masih bersikap sok berani dihadapan Na Ri dan menyuruhnya untuk tak lagi menghubungi Dong Jin atapun merengek memintanya datang. Na Ri hilang kesabaran, menendang dan merusak kaca spionnya. Kalau Yeo Joo punya rasa hormat, seharusnya dia tak datang ke sini. Dia mengancam akan mengatakan rahasia Yeo Joo dihadapan semua orang. Dia akan memberitahu tempat kerjanya dan mengatakan masalalu kotor Yeo Joo.
Sontak Yeo Joo ketakutan, merengek minta ampun di lengan Na Ri. Na Ri mendorongnya sampai ia terjatuh.

Yeo Joo masih memohon tapi Na Ri memperingatkan kalau ia akan mengatakan kapanpun dia mau. Na Ri pun pergi dan seketika itupula ekspresi ular Yeo Joo muncul.


Setelah meletakkan Dong Jin dalam mobil, Nan Gil keluar masih sempoyongan. Ia membetulkan kaca spion mobil Yeo Joo. Yeo Joo berterimakasih apalagi saat Nan Gil memintanya untuk berkendara dengan baik. Jangan sampai kecelakaan, mungkin Na Ri akan menyalahkan dirinya sendiri kalau dia sampai terluka. Na Ri adalah orang yang sangat baik.

Seketika senyum Yeo Joo lenyap.

“dia akan menjadi stres lagi!” sentak Nan Gil. “Mengemudilah dengan berhati – hati dan jadilah orang baik.”

Yeo Joo masuk dalam mobil dengan dongkolnya. Dia pun pergi setelah itu.


Na Ri sudah hampir masuk ke rumah tapi Nan Gil belum juga kembali. Akhirnya ia keluar dan mengajaknya masuk, tapi saking mabuknya Nan Gil malah jatuh ke pelukan Na Ri. Na Ri terkejut dibuatnya.

-oOo-

7 Responses to "SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 3 Bagian 2"

  1. lucu2 penasaran deh dibuatnya.
    trm ksh sinopsisnya

    ReplyDelete
  2. Thx.
    Cemungut bikin sinopnya terus ya cingu 💪💪💪

    ReplyDelete
  3. wah bner2 penasaran bgt tntang msa lalunya nan gil
    lanjuuuuut

    ReplyDelete
  4. lucu2 penasaran deh dibuatnya.
    trm ksh sinopsisnya

    ReplyDelete
  5. Ini satu minggu main bra x sih...??
    Masuk Ep.4 ,koq sering telat ya...

    ReplyDelete
  6. Lucuu... pemilihan gambarnya juga W A W.... mantap deh...
    Lanjut ya chinguuu...

    ReplyDelete
  7. sebel deh lama2 sama Yeo Joo. mau godain Nan Gil juga hmm 😒 .. gomawo unnie sinopsisnya

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^