SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 3 Bagian 1

SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 3 Bagian 1 | SINOPSIS The Man Living in Our House Episode 3 Bagian 1 | SINOPSIS The Man Living at My House Episode 3 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: KBS2

Nan Gil tengah menghubungi seseorang dengan geramnya. Memperingatkannya agar jangan kesana lagi atau dia tak tahu apa yang akan terjadi padanya. Ia menekankan bahwa dia selalu menepati kata – katanya.


Na Ri terperangah didepan pintu melihat ancaman Nan Gil pada seseorang. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah dua tato besar yang terdapat dipunggung Nan Gil layaknya gangster. Ia pun jadi ingat pembicaraannya dengan Duk Bong barusan.

Dalam perjalanan pulang, Duk Bong terus mengoceh mengomentari Na Ri yang memutuskan menerima Nan Gil sebagai ayah tirinya. Oke-lah, katakan saja kalau Nan Gil memang mencintai ibu Nari, tapi bukankah seharusnya dia pergi setelah Ibunya meninggal.

Ia menyuruh Na Ri untuk mengambil kembali rumahnya dan ia akan membantu. Na Ri tak begitu memperdulikan, toh kalau Nan Gil mau pergi pasti dia akan pergi.

Duk Bong masih terus mengomporinya, dia yakin kalau Nan Gil adalah penipu “Kau dan ibumu pasti memiliki selera yang sama untuk pria.” Celetuknya.


Sontak Na Ri menoleh dengan wajah tak suka. Duk Bong jadi tak enak hati dan mengatakan maaf atas ucapannya barusan.

Na Ri kemudian mengibaratkan Nan Gil seperti penumpang pesawat, tak semua diantara mereka bahagia. Ada yang dipaksa pergi karena urusan bisnis dan adapula yang sedih karena meninggalkan orang yang mereka cintai. Semua orang memiliki cerita dalam perjalanan mereka. Kini Na Ri perlahan bisa mengerti akan ekspresi – ekspresi itu karena tak ada yang bisa menyembunyikannya.

Dan sekarang Na Ri percaya akan foto yang ibunya ambil bersama Nan Gil. Dia mempercayai senyum mereka. Ekspresi mereka.

Duk Bong tersenyum remeh, dia tahu betapa mudahnya untuk berpura – pura baik karena orang jahat sadar kalau dirinya adalah orang jahat. Seakan tanpa pamrih, banyak tersenyum, dan berpura-pura tidak bersalah. Itu semua pura – pura. Ekspresi Nan Gil adalah adalah ekpresi seorang penipu.

“Kenapa kau begitu membencinya? Apa ada yang terjadi di antara kalian?” tanya Na Ri penasaran.

Duk Bong memberikan kartu namanya, dia yakin kalau Nan Gil akan segera menunjukkan warna aslinya. Datang dan temui dia karena ia tahu mengenai hukum. Mereka akan melihat wajah asli Nan Gil dibalik topengnya.

Na Ri masih tercengang memikirkan kembali ucapan Duk Bong namun tiba – tiba Nan Gil menoleh. Ia pun terkejut dan tanpa sengaja menendang tong hingga membuat keributan. Supaya tak mencurigakan, Na Ri berkata “Ini aku. Aku masuk..”

Nan Gil kelabakan mencari pakaian namun Na Ri langsung saja masuk tanpa memperdulikannya. Nan Gil pun menemukan celemek yang tergantung dan memakai sekenanya.


Na Ri mengolok Nan Gil yang punya kebiasaan aneh saat sendiri. Nan Gil mengelak karena merasa dirinya tak aneh, beginilah saat ia membuat adonan. Na Ri menunjukkan kotak hadiahnya, ia mendapatkan hadiah lotion pria dari seseorang tapi ia tak membutuhkannya.

Nan Gil menerimanya dengan tergesa – gesa sambil menempelkan punggungnya ke tembok menyembunyikan tatonya. Ia meminta Na Ri untuk segera keluar. Na Ri masih belum mau pergi “apa kau menyukainya? Aku harap kau menyukainya.”

“Aku pasti menyukainya.”

“Memang itu apa isinya?”

Nan Gil mengocok lalu menciumi kotak pemberian Na Ri “Katanya lotion. Hadiah adalah hal terbaik. Aku menyukainya, jadi pergilah.”

Na Ri ngotot tak mau pergi soalnya hadiah harusnya dibuka dihadapan pemberi hadiah.


Nan Gil membuka hadiah itu dengan terburu – buru hingga kotaknya terjatuh. Na Ri berkacak pinggang dengan menunjukkan tampang kesal “Apa kau membuah hadiah dariku?”

Tak mau dimarahi, Nan Gil cepat – cepat memungut hadiah tersebut dan membukanya sesuai permintaan Na Ri. Seketika ia spechless saat melihat isinya, ketegangan di wajahnya seketika lenyap.


“Ekspresi wajah apa itu?”

Nan Gil berkata kalau dia sangat menyukainya.. rasanya seperti.. kau tahu.. Nan Gil tersenyum tulus.. “Ini seperti Ayah yang mendapatkan hadiah dari anaknya.”

Na Ri berdecak tak percaya mendengar ucapan itu. Ia kemudian bertanya – tanya kenapa pamannya tak mau datang ke sini dan memilih untuk menelfon dari Supermarket Seul Gil? Apa ada sesuatu diantara kalian berdua?

Nan Gil menghindar untuk membicarakan masalah ini. Dia menyuruhnya untuk istirahat karena ia akan mengaduk adonan. Na Ri masih ngotot penasaraan.

Dengan wajah serius, Nan Gil menghampiri Na Ri dan memegang kedua belah bahunya. Na Ri sampai melotot tegang. Tapi ternyata Nan Gil gak ada niatan untuk melakukan apapun dan mendorong Na Ri keluar dari kamarnya. Mereka masih harus saling menyesuaikan satu sama lain. Sampai jumpa!

Na Ri menggedor – gedor pintu kamar Nan Gil meminta penjelasan.

Na Ri menenggak air putih setelah berdebat dengan Nan Gil. Beberapa saat berdiri disana, ia baru menyadari kalau isi kulkas sudah penuh dengan bahan makanan dan buah – buahan. Bumbu – bumbu juga sudah tertata rapi disana. Na Ri meyakinkan dirinya sendiri kalau semua ini cuma pura – pura. Dia yakin Nan Gil meletakkan semua itu disana supaya ia bisa melihatnya.


Malam harinya, Nan Gil melihat penerangan kamar ibu Na Ri masih menyala. Dia pun masuk ke dalam rumah dan menemukan Na Ri tengah mengobrak – abrik isi kamar Ibunya. Sontak Na Ri berjingkat kaget saat sadar Nan Gil sudah berada disana, menatapnya dengan tatapan kecewa “Kau mengatakan kalau kau akan percaya kepadaku. Apa yang sedang kau cari? Apa yang ingin kau ketahui?”

Na Ri mengklaim bahwa dirinya hanya ingin mengetahui siapa sebenarnya dia.

Benarkah? Kalau begitu Nan Gil akan memberitahunya. Dia Go Nan Gil. Ia memberi penekanan pada setiap hurufnya “Go. Nan. Gil.”

“Go Nan Gil. Go Nan Gil?” tanya Na Ri frustasi “Siapa Go Nan Gil? Siapa kau?”


Nan Gil meminta Na Ri untuk mendekatkan telinganya. Dia berkata “Aku adalah ayahmu.”

Suara Nan Gil tiba – tiba berubah menyeramkan dan ketika Na Ri menoleh, sosok Nan Gil sudah berubah menjadi pria bertopeng hitam layaknya tokoh jahat di film-film fantasi. Sontak Na Ri menjerit ketakutan dan... terbangun dari tidurnya.

Na Ri benar – benar masih penasaran akan identitas Nan Gil yang sebenarnya.
-oOo-

Karena rasa penasaran masih menggebu – gebu dalam diri Na Ri, ia memutuskan untuk menemui Duk Bong dengan waspada. Ia bertanya apakah Duk Bong benar – benar belajar mengenai hukum? Dia punya lisensi?


“Aku lulus ujian bar dengan skor tertinggi.”

“Lalu kenapa kau disini?”

Karena Duk Bong merasa kalau hal seperti itu bukanlah tipenya. Dia tak suka cara jaksa melihat penjahat dan tak suka cara pengacara menangani klien yang merengek padanya.

Loh, lalu kenapa Duk Bong menawarkan diri untuk membantunya? Tanya Na Ri.

Siapa bilang Duk Bong mau membantunya, dia hanya akan menciptakan siatuasi yang saling menguntungkan diantara mereka. Na Ri masih cengo tak mengerti makna ucapan Duk Bong. Duk Bong mengajaknya masuk dan menarik tali hoodie Na Ri sampai wajahnya tertutup semua.

Duk Shim berjalan dengan malas, tanpa sengaja ia melihat Na Ri dan Duk Bong tengah bersama. Ia langsung bersembunyi “tidak mungkin.” Desisnya.

Duk Bong menunjukkan sebuah peta yang telah ia beri tanda. Ia sangat menginginkan tanah yang berada didekat danau. Didekat sana ada tempat Dumpling Hong dan jalan satu – satunya menuju tanah yang diinginkan Duk Bong adalah dengan melalui Dumpling Hong.

Na Ri kira kalau Paman Jung Nam ada hubungannya dengan hal ini. Duk Bong berdecak tak percaya karena tanah disana sudah menjadi hak milik Nan Gil. Na Ri tertegun, dia masih belum bisa mempercayainya, Ibu tak pernah mengatakan apapun tentang hal ini.

“Bahkan ayahku tidak memberitahu aku tentang harta miliknya.” Timpal Duk Bong.

Tidak begitu, soalnya Ibu biasanya mengatakan semua hal padanya. Duk Bong tak sependapat, orang tua tak selamanya memberitahukan semua hal pada anaknya terutama tentang hal yang memalukan.

Duk Bong meletakkan surat perjanjian pengacara yang telah ia persiapkan. Ini akan menjadi sebuah pertarungan kotor, tak perduli apakah Ayah Tiri Na Ri adalah orang yang baik. Semua ini masalah uang. Bisa saja dia mengusir Na Ri tanpa memberinya uang. Mungkin mereka berdua akan saling menyakiti untuk uang atau bahkan akhirnya menghancurkan keluarga Na Ri.

Tanpa mempelajari surat perjanjian itu, Na Ri langsung menandatanganinya begitu saja. Duk Bong diam – diam tersenyum puas ketika tanpa Na Ri sadari.

Sepulangnya ke rumah, Na Ri jalan dengan mengendap – endap. Dan tak lama setelah itu terdengar suara jeritannya. Nan Gil yang tengah mencuci buru – buru ke kamarnya dan menanyakan apa yang terjadi. Na Ri menjerit kesakitan, mengatakan kalau punggungnya sakit.

Nan Gil panik menawarkan untuk memanggil ambulans. Na Ri menolak dengan alasan sakitnya biasa membaik setelah beberapa saat. Nan Gil pun tak memaksanya dan mengabilkan bantal serta selimut. Nari kemudian mengatakan kalau dia biasanya meminum obat tertentu, apa Nan Gil mau membelikannya?

Jelas Nan Gil bersedia, memang apa obatnya?

Na Ri seketika diam, ia beralasan bahwa namanya agak rumit sehingga ia harus mencatatnya. Nan Gil bergegas mengambilkan pulpen dan kertas untuk Na Ri.

Na Ri berfikir kemudian menulis sekenanya saja “Cho Royal Dimple..”

Nan Gil sempat agak heran tapi dia tak memperdulikannya dan mencarikan obat untuk Na Ri.


Saat Nan Gil sudah pergi, Na Ri mempergunakan waktu ini untuk masuk ke kamar Nan Gil. Ia menemukan note – note yang berisi pujian Nan Gil pada ibunya “Kau menyegel hatiku seperti menutup kulit Dumpling. Apa yang terjadi padamu ketika kau lahir? Kau dan dumplingmu yang sempurna.”

Na Ri sinis mengatai Nan Gil yang menggoda semua gadis. Namun ucapan sinis Na Ri langsung hilang saat ia melihat foto Ibunya dan Nan Gil yang duduk bersama, menunjukkan senyum bahagia nan tulus mereka.


Nan Gil sibuk mencari obat sakit punggung untuk Na Ri tapi tak ada satu apotek pun yang menyediakannya atau lebih tepatnya memang tak ada. Sedangkan Asisten Duk Bong berada didalam mobil memperhatikan Nan Gil, entah sengaja memata – matai atau cuma kebetulan saja ada disana.



Sampai – sampai dia ke rumah sakit tapi tetap dokter pun tak tahu akan obat itu. Ponsel Nan Gil berbunyi dan ia menerima foto Na Ri yang berada didalam kamarnya. Alarm ponselnya memberitahukan kalau seseorang sudah tiga kali salah memasukkan sandi dalam komputernya.

Nan Gil pun sadar akan akal – akalan Na Ri sekarang.

Na Ri keluar dari kamar Nan Gil dan melihat gudang dirumahnya tergembok. Sejak kapan gudang disana tergembok, Nan Gil memang punya banyak rahasia. Ia pun kemudian memotret gembok tersebut.

Sekeluarnya dari rumah sakit, asisten Duk Bong ternyata adalah orang Nan Gil. Ia memberikan sebuah dokumen yang menunjukkan identitas Na Ri dan ia adalah seorang pramugari dengan predikat baik. Nan Gil heran, Asisten itu sudah tak ada disampingnya tapi masih mau memberikan informasi seperti ini padanya.

Asisten itu meminta Nan Gil untuk pergi saja sebelum identitas masalalunya terungkap. Na Ri tengah mencari tahu tentang dirinya. Dia masih muda, tak seharusnya mencampuri urusan orang lain.

“Ini adalah bagaimana aku menjalani hidupku. Aku benar – benar melakukannya dengan baik tanpa membuang waktu sedikit pun. Dan ini juga bukan tentang orang lain melainkan keluargaku.” Tegas Nan Gil.

Duk Shin berniat naik ke bus namun teman – temannya memanggilnya. Dia bertanya tapi lebih dengan intonasi menyuruh. Mana sepedanya? Kenapa dia tak jalan kaki saja? Eh katanya dia terlahir dari keluarga kaya. Darimana ia mendapatkan tasnya? Headseatnya? Kapan – kapan traktir yah?

Mendengar ocehan temannya itu, Duk Shim jadi risih dan memilih untuk berjalan kaki saja.

Nan Gil yang sedang lewat tanpa sengaja mendengar ucapan mereka pada Duk Shim.

Nan Gil mensejajari Duk Shim menggunakan sepedanya, Duk Shim tidak mengacuhkannya hingga ia pun menunjukkan kebolehannya dalam memainkan sepeda. Nan Gil mengaku kalau ia melihat sepeda milik Duk Shim disuatu tempat. Toko bekas dikota ini memilikinya.

Duk Shim akhirnya tersenyum. Nan Gil pun memujinya, dia tampak cantik saat tersenyum.

“setelah kau kehilangan sesuatu, tidak akan pernah ada akhirnya karena mereka yang mengambil tak memiliki hati nurani.” Ucap Nan Gil. Dia meminta Duk Shim datang ke Dumpling Hong kalau ingin sepedanya kembali.

Ia pun pergi dan Duk Shim memotretnya. Ia pun terdiam, mengulang ucapan Nan Gil “Setelah aku kehilangan sesuatu, tidak akan pernah ada akhirnya karena mereka yang mengambil tak memiliki hati nurani.”

0 Response to "SINOPSIS Sweet Stranger and Me Episode 3 Bagian 1"

Post a Comment

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^