SINOPSIS Something About 1% Episode 10 Bagian 1

SINOPSIS Something About 1% Episode 10 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: DramaX

Episode 10: Benci – Cinta. Haruskah aku menghindarinya?

Da Hyun dan Jae In berada di kamar yang terpisah, namun keduanya sama – sama merasa ada yang kosong. Keduanya merasa aneh dalam kesendiriannya, sesuatu terasa ada yang hilang.


Keesokan paginya, Da Hyun agak keberatan kalau harus pergi ke hotel. Kalau memang Jae In sibuk maka mereka bisa bertemu besok. Tidak, Jae In tidak sibuk namun ia hanya ingin menuntut keadilan. Sebelumnya kan dia sudah datang ke kelas Da Hyun.

“Aku akan datang kesana dengan papan namamu.” Ucap Da Hyun. Mungkin maksudnya papan nama kalau dia adalah pacar Jae In, seperti yang ia katakan sebelumnya.

“Tidak masalah.” Jae In kemudian mengakhiri panggilannya karena ada seseorang yang datang.


Tamu itu adalah Ibunya dan ia sudah mengetahui isi wasiat Kakek yang mensyaratkan agar Jae In menikah dengan Da Hyun. Ibu cuma tertawa, dia menyarankan supaya Jae In tidak terlalu melibatkan perasaannya karena orang seperti mereka tak boleh menikah dengan sembarang orang terutama Jae In.

“Ya. Baiklah.” Jawabnya.


“Mana papan namanya?” tanya Jae In pada Da Hyun yang sudah menanti di lobi hotel. Da Hyun mengerucutkan mulutnya sebal. Jae In tersenyum kemudian mengajaknya untuk menemui seseorang bersama – sama, mungkin hanya butuh waktu 20 menit.

Da Hyun menolak, ia akan menunggunya di kedai kopi saja.

“Tidak masalah. Ikut saja denganku.”

Tidak, terimakasih. Da Hyun takut kalau Jae In akan menjadi perhatian karena menggandeng seorang gadis. Merekan akan menggosipkannya. Tak masalah, Jae In tak perduli asalkan mereka tak berbicara dihadapannya.

Tetap saja Da Hyun tak mau kalau seseorang berbicara buruk tentangnya. Baiklah, Jae In memintanya untuk menunggu di kedai.


Bibi Jae In melihat keduanya tengah berbincang dan langsung menegur Da Hyun saat berpapasan “Kau pacarnya Jae In kan?”

“Maaf?” tanya Da Hyun tak kenal.

“Aku bibi Jae In. Aku melihatmu di konser.” Ucapnya dengan tatapan remeh pada Da Hyun.

Jae In melakukan rapatnya dengan se-efektif mungkin dan memberikan tugas pada bawahannya. Ia pun langsung mengakhiri rapat tersebut saat semua materi sudah dibahas. Deputy Han dan Ketua Tim Kang bisa menghirup nafas lega setelah atasannya itu pergi.

Saat hendak menaiki lift, Jae In tak sabar untuk menunggu liftnya terbuka sehingga ia memutuskan untuk turun tangga. Jiaah.. demi Da Hyun.


Da Hyun pun akhirnya mengobrol dengan Bibi Jae In yang masih terus menatapnya dengan tatapan tak mengenakkan “Apakah kau mengenal Jae In karena kakek Jae In yang mengenalkan kalian?”

“Ya.” Jawab Da Hyun sopan.

“Sepertinya ayahku tak menyinggung masalah Tae Ha?”

Da Hyun mengernyit.. Tae Ha?

“Kenapa anda disini?” tanya Jae In tiba – tiba muncul.

Bibi mengaku kalau dia punya urusan disini, memangnya tak boleh kalau dia berbicara dengan tamu. Kalau begitu, Jae In menyuruhnya untuk bicara dengan tamunya saja. Da Hyun menarik lengan baju Jae In, tak enak dengan sikap kurang sopannya.

Kesal, Bibi meremas tangannya sendiri. Ia pun pergi dan mengajak Da Hyun untuk ngobrol lagi lain waktu. Banyak hal yang ingin ia tanyakan padanya.

Da Hyun pun kembali mengiyakan dengan sopan.

Setelah kepergian bibi, Da Hyun menepuk lengan Jae In karena bersikap tak sopan pada orang yang lebih tua darinya.

“Give and take. Apa yang ia tanam adalah yang ia tuai. Apa yang kau bicarakan?”

Apa maksud Jae In? Dia bahkan belum menyapanya dengan sopan karena Jae In tiba – tiba datang. Jae In tak mau membahas hal ini lebih lanjut, dia lapar dan mengajaknya pergi makan.

Da Hyun mencari sebuah tempat makan, dia sempat tersesat namun akhirnya bisa menemukannya juga. Itu adalah sebuah warung makan sederhana, Da Hyun sering tersesat tapi bisa menemukan warung makan ini juga. Da Hyun mengaku kalau ia biasanya diajak oleh Hyun Jin kemari.


Waktu makan ponsel Jae In terus berdering sampai akhirnya Jae In me-non-aktifkan ponselnya. Da Hyun menatapnya kasihan, seseorang biasanya bekerja untuk memenuhi kebutuhannya tapi Jae In makan saja tak bisa. Jae In berkata kalau ia tidak setiap hari begini, hanya saja akan ada event untuk para VIP.

“Tapi sepertinya kau memang seperti ini setiap hari. Kau harus kembali setelah makan.”


Ah.. Da Hyun teringat tentang Tae Ha yang diucapkan oleh Bibi Jae In. Ia penasaran kemudian menanyakan langsung pada Jae In.

“Kenapa? Apa bibiku mengatakan sesuatu?”

Bukan begitu, hanya saja Jae In pernah menyinggung tentangnya. Jae In mengatakan kalau Tae Ha adalah nama sepupunya. Beritahu dia kalau Tae Ha mendekatinya kalau bisa abaikan.

“Bagaimana aku bisa mengabaikannya? Melihat wajahnya saja belum pernah.”

Baguslah, kalau ada yang mencoba mendekatinya dan mengatakan kalau namanya adalah Tae Ha maka langsung abaikan saja.

Jae In meminta maaf karena tak bisa mengantarkan Da Hyun. Da Hyun tak mempermasalahkannya, lagipula dia mau naik taksi dan pergi ke toko Hyun Jin. Jae In membelai rambutnya, ia akan menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dan mengantarkan Da Hyun lain waktu.

“Ya. Kalau kau mau melakukannya.”

Jae In pun mengusap pipi Da Hyun dengan senyuman penuh sayang.


Celakanya saat sampai ke toko Hyun Jin, dia malah bertemu dengan Joo Hee. Joo Hee langsung bicara tentang hubungan mereka, sepertinya Da Hyun masih berpacaran dengan Jae In. Sepertinya hubungan mereka lebih lama dibanding dengan hubungan Jae In dengan mantan lainnya.

“Jae In berkencan dengan banyak perempuan. Dan tidak ada yang bertahan lama, paling singkat satu bulan tapi dia tidak pernah berhubungan lebih dari 6 bulan. Dia berkencan dengan tapi akhirnya akan putus cepat atau lambat karena pasangannya sudah ditentukan.”

“Benarkah?” Da Hyun mulai tak nyaman.

“Bukankah sudah jelas. Jangan bilang kau punya pikiran kalau kalian akan menikah? Aku memperingatkanmu demi kebaikanmu."

Da Hyun tak begitu perduli, siapa yang bisa memprediksi hubungan antara dua orang? Dia tahu maksud Joo Hee mengatakan semua itu tapi mereka akan mengurusi hubungannya sendiri.

Da Hyun mencoba sebuah sepatu tapi kekecilan dan kurang nyaman.

“Aku yakin Jae In seperti sepatu yang tak nyaman untukmu.” Sinis Joo Hee.

Tidak. Da Hyun menyangkalnya karena Jae In lebih nyaman dari yang Joo Hee pikirkan. Da Hyun mencoba sepatu yang lain “Yang ini bagus.” Ucapnya. Dia menambahkan “Kau tidak pernah tahu sampai kau mencobanya.”

Dalam perjalanan pulang, Da Hyun terus menggerutu sebal. Dia sebaiknya membiarkan wanita itu hidup atau mati? Memangnya dia punya urusan apa!

Da Hyun menantikan bus –nya dengan mood yang sudah memburuk. Seseorang menghubunginya tapi dia abaikan.

Orang yang menghubunginya adalah Jae In, dia khawatir kalau sampai Da Hyun tersesat.

Di rumah, Da Hyun curhat tentang wanita yang terus memanggil Jae In dengan “Jae In-ku” dan sikapnya juga kurang baik. Hyun Jin berfikir siapa sebenarnya wanita itu, sepertinya ia mengenal semua pelanggan di tokonya.

Jae In menghubunginya lagi tapi Da Hyun masih mengabaikannya. Hyun Jin menawarkan agar dia saja yang mengangkat telfonnya, ia yakin kalau Da Hyun penasaran dengan wanita itu. Da Hyun masih tidak berniat mengangkatnya, paling tidak dia ingin memberinya pelajaran hari ini. Itu baru adil.

Da Hyun kembali meletakkan kepalanya ke meja dengan malas. Tapi kemudian sebuah ide merasup dalam benaknya “Ya benar. Adil!”

-E)(O-

5 Responses to "SINOPSIS Something About 1% Episode 10 Bagian 1"

  1. D tunggu kelanjutan y..suka bgt sama dahyun & jein..

    ReplyDelete
  2. wah da hyun bermain tarik ulur ini mah😀😀 makasih kakak buat sinopsisnya. ditunggu kelanjutannya kakak😙 fighting😙😙

    ReplyDelete
  3. Fighting unni puji utk part 2 nya ,, fighting fighting ,,,,, :-)

    ReplyDelete
  4. Bagus banget..trims yaa sinop nya ditunggu

    ReplyDelete
  5. Bagus banget..trims yaa sinop nya ditunggu

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^