SINOPSIS Something About 1% (2016) Episode 8 Bagian 2

SINOPSIS Something About 1% (2016) Episode 8 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: DramaX

Ketika baru sampai ke kantor, Jae In memerintahkan Ketua Tim Kang untuk menemuinya didalam ruangan. Ketua Tim Kang takut sendiri untuk mengikuti perintah Jae In. Deputy Han berkata “Kembalilah hidup – hidup.”


Jae In memberikan sebuah amplop berisi dokumen penting dan memintanya untuk menganalisis laporan tersebut. Ketua Tim Kang sampai terkejut menerimanya, apalagi Jae In tahu kalau dia dikirimkan ke perusahaan Jae In untuk dijadikan mata – mata. Jae In mengaku kalau Ketua Tim Kang adalah satu – satunya orang yang bisa ia percaya. Terserah dia mau berpihak pada siapa, kakek mungkin memang menyulitkan Ketua Tim Kang tapi dirinya berniat untuk lebih kejam dalam 30 tahun kedepan.

Sontak Ketua Tim Kang melongo dan berbicara dengan gagap “Te..ten..tu.. Saja aku memihakmu Pak.”


Bu Guru teman Da Hyun mengeluh karena mereka masih kekurangan kelas demo. Da Hyun sependapat, ia kemudian melihat ke arah kalender –nya dan disana sudah penuh dengan kegiatannya sendiri.


Saat menemani muridnya menari, Da Hyun sibuk menjahit kain. Tiba – tiba ponselnya berbunyi karena mendapat panggilan dari Jae In. Tanpa basa – basi, Da Hyun meminta maaf karena berniat membatalkan janjian mereka. Jae In tentu saja menolak, apa dia akan terus – terusan begini? Da Hyun sudah membatalkan janji waktu itu.

Da Hyun membela diri lagipula dia sudah menggantinya dengan jalan – jalan kemarin. Ia sibuk karena harus menyiapkan demo untuk muridnya. Muridnya bulan depan akan berkompetisi dalam lomba menari.

“Tunggu, jadi maksudmu semua itu lebih penting daripada aku?”

Tentu saja. Da Hyun memintanya untuk membatalkan janjian hari ini, mereka bisa bertemu akhir pekan. Dan juga bukankah kali ini giliran Jae In yang harusnya menemuinya? Itu baru adil.


Jae In mendatangi sekolah Da Hyun karena ia membatalkan janji mereka. Entah menggunakan alasan apa sampai akhirnya Jae In bisa masuk ke ruang kelas Da Hyun setelah mendapatkan izin dari Wakil Kepala Sekolah.

Da Hyun tentu saja terkejut, dia berusaha tersenyum pada muridnya dan meminta mereka mengerjakan tugas yang telah ia terangkan. Perlahan ia pun mendekati Jae In “Kenapa kau datang kesini?” tanyanya dengan suara lirih.

Jae In mengaku kalau dirinya hanya ingin mendapatkan sedikit pelajaran. Lagipula Da Hyun yang sudah menyuruhnya kesini. Da Hyun ingin mengomelinya tapi ia tak bisa melakukan semua itu dihadapan murid – muridnya. Akhirnya ia cuma bicara ketus dengan suara pelan “Ini ruang kelas.”

“Aku sudah mendapatkan izin dari Wakil Kepala Sekolah.”

“Tapi kau bukan wali murid.”

“Kenapa kau tidak katakan saja pada Wakil Kepala Sekolah?” jawab Jae In enteng.

Sepulang sekolah, ada dua orang murid yang memberi salam pada Jae In. Mereka bertanya kenapa dia belum pulang? Jae In jujur saja bilang kalau dia sedang menunggu bu guru mereka. Dua bocah itu jadi kepo “Apa kau pacarnya bu guru?”

Da Hyun datang dan langsung mengelak dugaan mereka. Tapi Jae In memperingatkan agar dia tak membohongi anak kecil kemudian mengakui kalau ia memang pacar Da Hyun. Da Hyun buru – buru menyuruh dua muridnya untuk bergegas pulang dan memperingatkan agar mereka tak bicara dengan orang asing.

Ia mengisyaratkan pada Jae In untuk tetap di tempat. Ia menunjuk matanya ingin bilang kalau mereka harus bicara empat mata.


Da Hyun memberikan secangkir minuman untuk Jae In dengan kasarnya, gosip diantara mereka akan menyebar disekolah. Loh, lalu apa yang seharusnya Jae In lakukan? Bertanggung jawab? Katanya tak mau menikah denganku..

Baiklah kalau begitu, lain kali Da Hyun akan datang ke hotel dan menulis namanya dipapan yang besar. Jae In sama sekali tak mempermasalahkannya, wartawan pasti akan menyukainya.

Da Hyun menyesap minumannya dengan kesal “menyebalkan.”

Jae In tak lagi merespon dan terus memandang keluar jendela kelas.


Mereka berdua akhirnya duduk di jungkat – jungkit sambil menikmati semilir angin sejuk disana. Da Hyun bilang kalau tempat ini sangat cocok untuk anak - anak. Jae In setuju tapi pastinya akan lebih baik kalau dibangun resor disini. Sontak Da Hyun tak menyetujuinya “Kau tidak dengar aku bilang tempat ini bagus untuk anak-anak? Jangan harap! Tanah ini milik Dewan Pendidikan.”

Melihat Da Hyun yang asyik duduk diujung jungkat – jungkit, muncul ide jahil dikepala Jae In. Ia buru – buru berdiri dari duduknya sehingga membuat Da Hyun hampir terjatuh.

Jae In tersenyum kemudian memberikan uluran tangan. Da Hyun sempat ragu tapi ia menerima uluran tangan itu. Jae In duduk diayunan, ia mengajak Da Hyun untuk memainkannya.

Da Hyun pun duduk diayunan dan menceritakan kenangan masa kecilnya. Ia kemudian mendorong ayunan Jae In tapi ayunan itu sulit bergerak, ia pun meledek Jae In yang gemuk dan menyuruhnya menurunkan berat badan.


Da Hyun mencoba kabur dari Jae In tapi Jae In bisa menangkapnya. Da Hyun terduduk disebuah tempat bermain dan Jae In berdiri tepat dihadapannya. Ia tersenyum seraya menyisipkan rambutnya kebelakang telinga kemudian mencium bibir Da Hyun.


Ketika hari sudah gelap Jae In mengantarkan Da Hyun kerumahnya kemudian berbisik jahil, mengundangnya ke kamar hotel. Sontak suasana berubah horor untuk Da Hyun. Ia cuma menjawabnya dengan lirikan sinis dan berniat masuk ke dalam rumah. Tapi Jae In mencegahnya, apa kau tak mengunci pintu?

Da Hyun terkejut melihat pintu rumahnya terbuka. Ia bersembunyi dibalik punggung Jae In dengan ketakutan. Tentu saja dia sudah mengunci pintunya.


Keduanya sama – sama masuk dalam rumah dan rupanya rumah Da Hyun sudah sangat berantakan. Lutut Da Hyun lemas karena khawatir tapi Jae In menenangkannya, yang terpenting tak ada siapapun terluka.

Da Hyun kebingungan harus bagaimana. Jae In bertanya apakah dia berani tinggal dirumahnya?

Tidak, Da Hyun menggeleng. Jae In menyuruhnya untuk mengambil baju ganti dan sementara menginap dirumahnya.

Sesampainya di rumah Jae In, Jae In memintanya untuk tak mengkhawatirkan apapun dan rumahnya aman kok.

Dia pergi ke kamar untuk berganti pakaian namun sebelum itu ia menghubungi seseorang untuk menyelidiki pelaku yang sudah masuk ke rumah Da Hyun. Disana tak ada barang mahal tapi seseorang sudah menyentuh barang – barang tak penting milik Da Hyun. Dia memintanya untuk menyelidiki hal ini secepat mungkin.

Da Hyun berkeliling dan akhirnya sampai didepan kamar Jae In. Celakanya tepat saat ia berdiri disana, Jae In sedang berganti pakaian sehingga Da Hyun bisa melihat Jae In bertelanjang dada. Kontan dia menjatuhkan tas –nya dan buru – buru pergi dari kamar Jae In dengan gugup.

Jae In cuma tersenyum menertawakan tingkah polosnya.

Sehabis berganti pakaian, Jae In menemui Da Hyun namun Da Hyun masih saja terus gugup akibat kejadian tadi. Ia bertanya apakah Jae In tak akan pergi ke hotel? Jae In bersikap seolah tak mengerti maksudnya, untuk apa dia pergi? Bukankah dengan adanya ia dirumah maka Da Hyun akan merasa lebih aman. Rumahnya luas dan tak ada orang jahat disana.

Dengan ragu Da Hyun menunjuk Jae In “Tapi.. kau yakin tidak ada orang jahat disini?”

Jae In menarik jari telunjuk Da Hyun hingga ia jatuh terduduk disampingnya. Da Hyun semakin gugup saja, ia mengaku tak melihatnya.

“Kau berkata sebaliknya.”

“Aku benar – benar tak melihatnya.” Elak Da Hyun terus menunduk.


Malam harinya, Da Hyun ragu saat Jae In mengatakan kalau mereka akan tidur seranjang. Jae In menarik pinggang Da Hyun agar mendekat kearahnya “kenapa? Apa tidak boleh?”

Da Hyun salah tingkah dibuatnya, Jae In memang seperti seorang playboy yang tengah menggoda perempuan. Jae In benar – benar sudah menggodanya tapi ia rasa, ia tak bisa melakukannya. Mungkin salah satu diantara mereka berdua akan menyesal keesokan harinya.
Jae In meyakinkan bahwa ia tak akan menyesalinya. Tapi ia juga menghargai keputusan Da Hyun, ia akan pergi mengerjakan tugasnya dan membiarkan Da Hyun tidur dikamar sendirian.

Setelah sendirian di kamar bukannya tidur nyenyak, Da Hyun malah tampak resah dan melihat kondisi diluar ruangan. Ia tak bisa tidur meskipun malam sudah larut.

Diruangan yang terpisah, Jae In tak bisa berkosentrasi mengerjakan pekerjaannya. Pikirannya entah kabur kemana dan beberapa kali memperhatikan ke arah pintu dengan ragu.

Da Hyun memutuskan untuk minum air tapi perhatiannya malah tertuju pada alkohol yang bermerk DaDa. Ia mengambilnya sebotol kemudian melihat pintu ruang kerja Jae In, ia bertanya – tanya kenapa Jae In tak keluar sama sekali? Apa dirinya kurang menarik? Ini hal yang baik tidak?


Saat Jae In keluar dari ruangannya, Da Hyun sudah mabuk dan bermain mainannya sambil terus ngedumel tak jelas. Jae In mengatai Da Hyun curang, minum sendirian adalah sebuah perbuatan curang.

Rupanya Da Hyun sudah menghabiskan beberapa botol alkohol, ia pun memberikan sisa minumnya untuk Jae In. Dia melihat ke arah jendela, diluar hujan dan sepertinya tak akan reda.

Da Hyun menyenderkan kepalanya ke pundak Jae In, dia memperingatkan agar Jae In tak menyentuhnya ataupun memikirkannya. Jae In mengerti tapi apa dia benar – benar tak diizinkan menyentuhnya?

Tidak. Karena jika Jae In berani menyentuh seorang wanita mabuk, ia bukanlah seorang manusia.

“Jadi itulah kenapa kau minum sebanyak ini?” tanya Jae In.

Da Hyun mengelak, ia hanya bingung harus berbuat apa dirumah seorang pria.

Dia kemudian menatap ke kedua belah mata Jae In. Ia mengusap pipinya dan menyentuh bibir Jae In “Sepertinya aku.. menyukaimu, Jae In. Aku juga sepertinya ingin.. menciummu.” Ucapnya kemudian melayangkan sebuah kecupan ke bibir Jae In.

Da Hyun seperti anak kucing yang mencari kehangatan, ia kembali tidur dipundak Jae In.

Jae In spechless dibuatnya, ia tersenyum bahagia menerima pengakuan cinta dari Da Hyun.

Ia pun membopong Da Hyun untuk tidur dikamarnya. Jae In menatap Da Hyun dengan senyuman cinta, ia pun melayangkan sebuah kecupan kasih sayang dipipinya. Sesuai janjinya, ia sama sekali tak menyentuh Da Hyun dan memutuskan tidur dilantai.

“Mungkin aku yang akan menyesal besok.” Ucapnya.

Keduanya memang tidak tidur satu ranjang tapi pada nyatanya jarak diantara mereka begitu dekatnya.

Setelah semalam hujan lebat, pagi ini begitu cerah dan sinar matahari membangunkan Da Hyun dari tidur lelapnya. Begitu terbangun, bayangan kejadian semalam langsung terngiang dalam pikirannya. Pengakuan cintanya serta kecupannya pada Jae In, ia memukuli mulut sendiri “Alkohol adalah musuhku.”

Da Hyun berjalan keluar kamar sambil mengendap – endap, ia bisa bernafas lega setelah memastikan tak ada siapapun disana. Ia pun menghirup udara segar di balkon tapi tanpa sengaja ia malah melihat seekor anjing tengah berjalan di tepian tembok. Anak anjing itu seperti kebingungan dan seolah akan terjun dari sana.

Tentu saja Da Hyun khawatir dan memutuskan untuk menolong anak anjing itu. Ia berjalan di tepian tembok yang sempit untuk menyelamatkannya.


Jae In yang sedang jalan – jalan heran melihat apa yang tengah dilakukan oleh Da Hyun. Ia pun menghampirinya dan tempat saat itu pula Da Hyun berhasil menyelamatkan anjing itu tapi tubuhnya kehilangan keseimbangan. Da Hyun pun oleng dan jatuh tepat menimpa Jae In yang berada dibawahnya.

Da Hyun panik melihat Jae In tak bereaksi saat ia memanggilnya. Apa dia mati?

“Aku tidak mati.”

Jae In menyuruh Da Hyun memikirkan dirinya sendiri sebelum berniat menyelamatkan anjing. Bagaimana dia bisa jatuh begitu? Dia sangat bodoh. Kalau tahu dirinya lamban seharusnya ia lebih berhati – hati.

“Apa? Lamban? Aku gesit kok.”

Sudahlah. Jae In mengulurkan tangannya untuk membantu Da Hyun berdiri. Tapi saat Da Hyun menerima uluran tangan itu, Jae In malah mengerang kesakitan.

Tae Ha berangkat pagi ke perusahaan, dia mengatakan pada ayahnya bahwa ada sesuatu yang aneh. Saham SH Mall meningkat secara drastis. Ayah Tae Ha pikir hal semacam itu adalah sesuatu yang biasa lagipula ini akan menguntungkan untuk mereka. Yang terpenting saat ini adalah memikirkan hubungan Tae Ha dengan bu guru.
Ada luka disiku dan lutut Da Hyun. Rupanya Jae In sangat peka dan langsung menggeret Da Hyun untuk mengobatinya. Da Hyun meyakinkan bahwa ia baik – baik saja, harusnya malah Jae In yang pergi ke rumah sakit dan merawat lengannya.

Jae In tetap diam kemudian mendudukkan Da Hyun seperti anak kecil. Dia sedang tak semangat pagi ini karena tak bisa tidur. Diam saja..

Da Hyun menggerutu sebal, memangnya kenapa tak bisa tidur? Sudah biasa kan kalau dia tak bersemangat. Meskipun sudah bilang baik – baik saja, nyatanya Da Hyun meringis kesakitan saat diobati.


Diam. Da Hyun terus memandangi Jae In dengan pandangan berbeda. Jae In menyadari tatapan itu “Kenapa?”

“Jangan berubah tiba – tiba.” Da Hyun berbisik “Katanya orang akan meninggal kalau dia tiba-berubah drastis.”

Jae In hanya membalas ucapan itu dengan tatapan aneh dan meninggalkan Da Hyun tanpa mengatakan apa – apa lagi.


Da Hyun membereskan kotak obat dan meletakkan ke dalam rak lemari. Tanpa sengaja, ia malah menemukan foto Jae In kecil bersama ibunya.

Ia menemui Jae In yang tengah berada dikamarnya. Jae In kesulitan mengenakan bajunya sehingga Da Hyun menawarkan bantuan. Ini bukan hanya memar biasa buktinya ia tak bisa mengangkat tangan. Jae In memberikan dasi putih yang akan ia kenakan. Da Hyun mengaku tak pandai dalam memasang dasi.

Meskipun begitu, mungkin saat ini Da Hyun bisa memasangkannya lebih rapi dibandingkan dirinya.

Da Hyun pun akhirnya memasangkan dasi itu dan tanpa sadar jarak diantara mereka menjadi sangat dekat. Jae In menundukkan kepalanya, meledek. Da Hyun dengan polos mengambil langkah mundur tapi jarak diantara mereka tetap saja begitu dekat. Keduanya menjadi canggung saat bertatapan satu sama lain.

-oOo-

10 Responses to "SINOPSIS Something About 1% (2016) Episode 8 Bagian 2"

  1. aaaaaaa mkin so sweet♥♥
    Next!!!
    di tunggu kelanjutannya:)
    fighting

    ReplyDelete
  2. Akhirnya, muncul juga. setelah lama ditunggu.
    Semangat mbak.
    Lanjutttt

    ReplyDelete
  3. trima kasih ,munculnya lama banget

    ReplyDelete
  4. setelah cukup lama nunggu akhirnya nongol juga, ditunggu kelanjutan ceritanya ya dan jangan bosen2 nulis..
    gomawo ^_^

    ReplyDelete
  5. Go go goooo semangat.. D tunggu kelanjtannya

    ReplyDelete
  6. Ga sabar nunggu next eps ,fighting ����

    ReplyDelete
  7. kayaknya next nya bakalan tambah seru ni .. update trz donk mb.. gomawoo

    ReplyDelete
  8. Thank you..ditunggu lanjutannya.. semangat mbk..

    ReplyDelete
  9. Ditunggu banget sinopsissssnyaaaaaa yaaaaa I love this couple

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^