SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 20 Bagian 1

SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 20 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: SBS



Jung menyambut kehadiran Hae Soo dirumahnya. Ia mengulurkan tangannya untuk Soo yang beniat keluar dari tandu. Uluran tangan Jung malah mengingatkan Soo akan So yang pernah melakukan hal yang sama. Mengulurkan tangan dan mengajaknya pergi untuk menunjukkan sesuatu yang indah (dipinggir danau waktu itu).
Soo tersenyum kecil menyambut uluran tangan Jung dan meraihnya.


Yah, karena menerima larangan dari Raja untuk menikah makanya Jung hanya bisa menyiapkan perayaan sesederhana ini. Tak ada apapun, hanya sebuah vas bunga yang tergeletak diatas meja dan dekorasi sederhana dalam kamar. Soo tidak mempermasalahkannya, ini sudah lebih dari cukup.

Dan satu hal lagi, meskipun mereka sudah menikah tapi tujuan utama Jung hanya untuk memboyong Soo keluar istana. Jadi dia masih bisa menganggapnya sebagai teman. Jangan khawatir.

“Aku tidak khawatir dengan hal-hal seperti itu.” Ungkap Soo.

Jung harap mereka bisa tinggal dengan tenang karena rumahnya jauh dari keramaian. Rumahnya keluarganya tak jauh dari sini, Soo bisa berkunjung kalau dia mau.


Ia kemudian mengembalikan hairpin yang digunakan Soo untuk menyampaikan pesan. Ia mengucapkan terimakasih karena Soo sudah mau mengatakan “Aku menginginkannya.”

Soo menerima hairpin itu dengan wajah sedih. Dia kemudian membuka kotak yang terdapat diatas meja dan menemukan kumpulan kertas yang berisi ungkapan kesukaannya, ungkapan yang ditulis oleh So [Ketika danau telah kering, 'Ku menunggu di tepi danau, Namun awan mulai mendung.] – mata Soo berkaca – kaca membacanya.


Mereka menghabiskan hari – hari bersama, Soo menggambar wajah pangeran diatas batu. Sedangkan Jung sibuk berlatih pedang sampai akhirnya ia lelah dan kesal. Ia menancapkan pedangnya ke tanah dengan marah. Mungkin marah karena ia sudah berlatih keras tapi pada akhirnya kemampuan itu tak digunakan lagi di medan perang.

Hae Soo memuji kerja keras So dan menyarankan agar ia beristirahat. Ia mengulurkan sapu tangan untukknya.


Jung menyadari sesuatu yang aneh dibalik tembok. Ia langsung bersikap manis dan meminta Soo untuk melap keringat yang menetes diwajahnya “Ini. Coba kita lihat seberapa perhatiannya kau terhadap suamimu.”

Soo menurut saja, kemudian Jung memegang tangannya dan mengatakan kalau seorang tabib kerajaan yang sudah pensiun akan datang kesini. Hae Soo mengaku kalau dirinya baik – baik saja tapi Jung tetap menyuruhnya diperiksa. Dia sakit dan harus menemui tabib.

Jung melirik ke arah tembok ketika membimbing Hae Soo masuk dalam rumah. Dibelakang tembok memang ada seseorang yang tengah mengintai mereka.

Setelah memeriksa denyut nadi Soo, tabib bisa merasakan kalau Soo sedang mengandung. Padahal terakhir kali memeriksanya di istana, tabib tak merasakan adanya bayi di perut Soo. Hae Soo sepertinya memang sudah menyadari bahwa ia tengah mengandung, waktu itu memang janinnya masih sangat muda jadi belum menunjukkan tanda – tanda kehamilan.
Tabib itu kembali mengingatkan bahwa jantung Soo itu lemah dan sekarang semakin lemah akibat janin itu. Jika dia bersikeras mempertahankan bayinya maka...

“Aku baik-baik saja.” Sela Soo “Asalkan bayi ini selamat, aku tidak masalah.”

Jung baru menyadari akan arah pembicaraan mereka. Ia pun meminta tabib untuk tetap berada dikediamannya untuk sementara waktu.

So marah besar setelah menerima laporan dari mata – matanya. Kata Baek Ah pernikahan mereka hanyalah sebuah formalitas tapi kenapa disini tertulis kalau Hae Soo selalu menemani Pangeran Ke-14 berlatih, mereka berpegangan tangan dan saling perduli satu sama lain.

Ji Mong menenangkan, lagipula So tahu sendiri bagaimana sifat Soo. Mereka berdua sudah berteman sejak masih muda dan Hae Soo adalah seorang yang ceria, dia tak memperdulikan status diantara mereka.



Mungkin karena penasaran akhirnya So mematai sendiri rumah Jung dan memperhatikan Soo yang tengah menggambar sendirian. Soo berhasil menyelesaikan gambar wajah So diatas batu. Namun tepat saat itu, jantungnya sakit . Ia pun meremas dadanya yang nyeri. Jung yang datang mengkhawatirkan kondisinya, ia sigap membopong Hae soo masuk ke dalam rumah.

Di balik pagar, So memperhatikan mereka berdua. Tersirat kecemburuan diwajahnya tapi juga ada raut kekhawatiran ketika melihat Soo tampak kesakitan.

Malam harinya, Jung tiduran dikamar Hae Soo meskipun masih dengan ranjang yang berbeda. Soo meyakinkan bahwa dia sudah baik – baik saja jadi Jung tidak perlu menemaninya. Jung menolak, ini pertama kalinya dia tidur sekamar dengan istrinya. Kenapa Soo terus menyuruhnya untuk pergi?

“Kalau dipikir-pikir, kita berdua sepertinya sudah menua. Waktu telah banyak berlalu.” Ujar Jung.

“Jika ada saat-saat kebahagiaan, pasti juga ada saat-saat kesusahan. Semua hari-hari itu juga telah berlalu. Aku sudah lama hidup mempelajari hal itu.”

“Apa kau ingat pertama kali kita bertemu?”

Soo berfikir, mungkin saat di perpustakaan Pangeran ke -8 atau.. saat aku menyelamatkanmu?

Jung membenarkan, dulu dia kaget karena tak pernah sekalipun dia melihat perempuan yang begitu berani. Apalagi saat Soo bertarung dengan Eun Hyungnim. Jung selalu tertawa ketika memikirkannya, rambut Soo yang berantakan dan mata Eun memar “Dan kenapa kau tidak tepati janjimu menyanyi untukku di hari ulang tahunku? Aku selalu menunggu tiap tahun.”

“Baiklah. Aku akan bernyanyi untukmu tahun ini.”

Kemudian kalau di pikir – pikir, Soo sebenarnya genit juga yah. Dulu dia mengintip pemandian para pangeran. Kenapa kau melakukan itu?

Hae Soo juga tak tahu kenapa dia melakukannya. Jung tak percaya, dia yakin kalau Soo melihat semuanya. Keduanya pun berdebat sambil bercanda.

Diluar kamar, seorang pria terluka mendengar suara tawa diantara mereka.

“Serius aku tak melihat apa – apa.” Elak Soo.

“Memang ada yang aneh dengan tubuhku?” tanya Jung dengan menggeram. Penerangan dikamar mereka pun padam.

Apa yang terfikir dalam benak So ketika mendengar percakapan mereka? Ia pun berbalik dengan wajah kecewa, hatinya pasti terluka menafsirkan dan membayangkan apa yang tengah pasangan ‘suami – istri’ itu lakukan.
Setelah malam itu, So memutuskan untuk tak mau lagi mendengar kabar Soo dan Jung. Pastikan agar dia tak mendengar kabar apapun lagi dari mereka. So mengucapkan hal itu dengan tegas namun matanya.. matanya menunjukkan kesedihan.


Soo menghabiskan waktunya bersama So dalam angannya. Mengingat kembali kebersamaan mereka, senyuman So yang terbayang jelas dibenaknya. Dia pun melukis wajah So diatas batu.

Akhirnya, cuma ada  kita berdua sekarang, dan jauh dari Istana. Hanya kau dan aku, aku dan kau. Sekarang aku bisa melupakan semua kebenaran dan kebohongan, kesalahpahaman dan kecemburuan, perebutan takhta dan kematian. Dan disini aku mencurahkan waktuku, untuk mencintaimu..”

Soo menoleh dan melihat So sudah berada disampingnya, menemaninya dengan senyuman lebar. Namun apa daya, kebersamaan mereka hanyalah sebuah ilusi. Dalam kerjapan mata, sosok So pun menghilang dari hadapan Hae Soo.

Kira – kira enam bulan kemudian,


Jung menunggu diluar kamar dengan gelisah dan tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi. Seorang yang membantu persalinan Hae Soo pun keluar dengan menggendong bayi wanita yang cantik. Jung bertanya bagaimana kondisi istrinya? Kenapa bayi itu lahir lebih cepat?

“Putrimu sehat.” Jawabnya.

Jung nampak tak terlalu suka dengan kelahiran anak itu. Dia meminta perawat untuk membawanya pergi dan menganggapnya sudah mati. Rahasiakan dari semua orang dan bawa anak itu ke tempat seorang yang bisa menyusuinya.

Jung memberitahukan pada Hae Soo bahwa bayinya lahir dengan selamat dan sehat. Ia telah mengirimkannya pada seseorang yang bisa menyusui bayi itu. Hae Soo meneteskan air mata kelegaan. Jung memintanya untuk tak mengkhawatirkan anak itu lagi dan fokus saja pada penyembuhannya.

Soo kemudian memberikan sebuah amplop dan meminta Jung mengantarkannya. Surat itu untuk So, Jung bertanya apakah Hae Soo berniat memberitahukan kelahiran putrinya?
Hae Soo menggeleng.. “Aku.. ingin melihat Raja.”


Jung memberikan surat itu kepada kurir sesuai janjinya. Namun sebelum itu, ia mengubah tulisan pada amplopnya agar tak terlalu kentara kalau surat itu dikirim oleh Soo. Tulisan tangan Hae Soo terlalu mirip dengan tulisan tangan So. Ia menuliskan kalau surat itu dikirim oleh Wang Jung.

Ia berpesan pada kurir agar suratnya segera dibaca.


Hari berlalu dan kondisi Soo semakin memburuk namun surat yang dikirim olehnya tak kunjung menerima balasan dari So. Dia menatap khawatir kondisi Istrinya dan juga surat yang ia tulis untuk So.


Sepucuk surat kembali dikirim untuk So namun So cuma menanggapi remeh, berdecih tak sudi untuk membacanya. Ia pun melempar surat itu ke tumpukan surat Jung yang ia abaikan “Dia masih saja tidak bosan mengirim surat padaku.”

“Apa Anda tak akan membacanya?” tanya Ji Mong.

“Aku yakin isinya hanyalah kebencian terhadapku. Aku tidak ingin membacanya dan merasa bersalah.”

Pelayannya mengatakan kalau Pangeran ke-14 punya pesan dan mengirimkan seorang utusan. Namun So ketus membalasnya, apa dia punya waktu untuk menemui utusannya?

Sedangkan Soo terus menanti kedatangan So. Dia bertanya – tanya apakah So begitu membencinya? Dia meminta Jung untuk mengirimkan seorang utusan, kalau dia tahu surat itu dikirim olehnya mungkin dia mau membacanya.

“Aku sudah utus seseorang, tapi...” Jung terdiam sejenak. Ah, dia mengaku lupa melakukannya dan akan segera mengirimkan utusan.

Jung mengajak Soo keluar, dia butuh tersenyum agar kondisinya membaik. Ia telah memanggil musisi paling terkenal di Songak. Jung juga sudah menyiapkan bunga peoni untuk Soo.

“Peoni?”

Musisi itu selesai menyanyikan sebuah lagu dan Jung menawarkan agar Soo meminta lagi namun Soo tak menginginkan apapun. Musisi berkata kalau ada sebuah lagu yang disukai Raja, sebuah lagu yang membuat Raja jatuh cinta pada seorang dayang.

Musisi itu mulai menyanyikan nadanya.. cuma nadanya.. dan Soo pun ingat kalau lagu itu adalah lagu yang ia nyanyikan untuk Eun saat ia berulang tahun. Dia tersenyum kecil mengingatnya.



Dalam sekejap ingatan manisnya bersama So terulas kembali dalam benak Soo. Senyuman serta kebersamaan mereka dimasa lalu.

“Dulu kau berjanji kau akan menganggap hidupku seperti hidupmu juga. Apa kau ingat? Putriku, tolong lindungi dia dan jangan biarkan ia menginjakkan kaki di Istana.” Ucap Soo. Dia yakin kalau So tak akan menemuinya.

Jung memeluknya, apakah dikehidupan selanjutnya Soo akan mengingatnya?

Tidak. Soo akan melupakannya. Melupakan semuanya, meskipun dalam mimpi ia akan melupakan mereka semua.

Seusai mengucapkan hal itu, perlahan Soo menutup matanya. Tubuhnya terkulai lemas dipundak Jung. Jung sadar kalau Istrinya telah menghembuskan nafas terakhirnya, ia mencoba kuat dan menepuh pundak Soo seolah memberi ketenangan disaat terakhirnya.

-oOo-

3 Responses to "SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 20 Bagian 1"

  1. Ah..sad ending sesuai perkiraan tp ada bbrp hal yg mengganjal y menurutku eksekusi ending drama ini kurang cantik y...Puji tlg komen yg panjang di part 2 y..biar kita yg baca jg bs tw persepsi ending dri versi penulis,penulis sinopsis aka Puji n aku sndiri..nangis2 aku nntn ending ep 19 n awal ep 20 ini...tp tetep y mengganjal di hati endingnya.nnti komennya di part 2 aja biar g diblg ksh spoiler.

    ReplyDelete
  2. Oya td aku jg udh baca dramabeans..sm dg yg aku pikirkan..ah..g tw lah yg penting udh nntn endingnya.4 jmpol untuk akting Lee Jun Ki udh nntn dri jaman My Girl tp ini akting dia yg menurutku paling jjang..ekspresinya dari ep 1-20 semua dpt bgt sangaaat memuaskan..

    ReplyDelete
  3. sedih kali, hae soo meninggal tanpa so.

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^