SINOPSIS The Legend of Blue Sea Episode 2 Bagian 1

SINOPSIS The Legend of Blue Sea Episode 2 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: SBS


Dimalam yang cerah, Dam Chung bersama anak – anak desa menerbangkan lampion. Mereka sangat riang memperhatikan lampion cantik itu terbang ke udara. Tapi satu diantara lampion tersebut malah terbang ke arah berbeda sehingga Dam Chung memutuskan untuk mengejarnya.


Lampion tersebut jatuh dibatu karang dan Dam Chung berhasil menemukannya. Ia tanpa sengaja melihat ada penampakan seseorang tapi pandangannya terhalang oleh lampion. Dam Chung bertanya siapa dia? Jangan khawatir, keluarlah!

Perlahan sosok seorang wanita pun nampak dari balik lampion, Si Putri Duyung.

Itulah ikatan yang ditakdirkan seharusnya tidak terjadi tapi karena sudah terjadi, ikatan takdir itu pasti akan terus berlanjut. Mereka akan bertemu lagi.” Jelas seseorang pada Bangsawan Yang.

Dia pun membuat kesimpulan bahwa nasib keduanya akan selalu terhubung, jadi jika Bangsawan Yang mengikuti Pejabat itu (Dam Chung) maka kemungkinan ia bisa menangkap Puteri Duyung lagi. Bangsawan Yang tersenyum penuh ide licik.


Sim Chung menangkap raut ketidak percayaan pada Dam Chung “Bukankah kau mengatakan supaya aku tak takut, tapi sepertinya sekarang kau yang ketakutan?”

Dam Chung semakin heran mendengarnya bisa bicara padahal waktu tertangkap ia tak mengatakan sepatah katapun.

Sim Chung mengaku bahwa dirinya bisa bicara, Puteri Duyung bisa melakukan apapun yang manusia lakukan. Dia bicara pada hari itu tapi suaranya tak kedengaran.


Memang benar. Saat Bangsawan menunjukkan Sim Chung pada Dam Ryung, ia menatap matanya sambil membatin “Tolong selamatkan aku..”


Puteri Duyung tak perlu mengatakan apapun karena mereka bisa mendengar pikiran manusia. Dam Chung semakin penasaran, lalu bisakah manusia mendengar ucapan Puteri Duyung?

Sim Chung menatap ke manik mata Dam Ryung dengan sorot mata sendu “Dahulu kala ada anak laki-laki yang mencintai putri duyung dan mendengar suara Puteri Duyung.”

“Lalu apa yang terjadi pada anak laki – laki itu?”

Sim Chung melirik gerombolan anak yang menerbangkan lampion, mereka semua beranjak pergi. Dam Ryung bertanya, kapan mereka bisa bertemu lagi?

Saat lampion harapan berterbangan di atas lautan, maka Shim Chung akan menjadikannya sebagai pertanda pertemuan mereka.

Bangsawan Yang terus memata – matai Dam Ryung namun mata – matanya tak menemukan sesuatu yang istimewa. Dia hanya membuat sebuah permintaan aneh pada prajuritnya. Mata – mata itu pun membisikkan sesuatu pada Bangsawan Yang.


Di lautan, Shim Chung melihat ada sebuah cahaya di permukaan. Ia pun berenang menuju ke permukaan dan mendapati banyak lampion harapan berterbangan diatas laut. Ia melihatnya dengan penuh kekaguman.


Tak lama setelah itu, sebuah perahu kecil mundul dibalik karang. Dam Ryung –lah yang mengendarainya. Keduanya pun bertatapan lama satu sama lain.

Di dunia modern, Joon Jae mengulurkan tangannya untuk membantu Shim Chung berdiri. Satu hal yang paling dibenci olehnya yaitu pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Karena itulah Joon Jae kemari untuk mengucapkan selamat tinggal, dia akan segera pergi.

Shim Chung meraih uluran tangan itu tanpa mengatakan apapun. Dia terus saja mengusap lengannya yang kedinginan.

“Tidak ada alasan lain. Lagipula, aku sudah menyelesaikan tujuanku, jadi aku akan pergi.” Ucap Joon Jae.


Pfft.. Meskipun sudah mengatakan hal itu, nyatanya Joon Jae tak tega untuk meninggalkan Shim Chung sendirian ditengah hujan lebat. Ia bahkan memberikan secangkir kopi untuk menghangatkannya dan meniupnya terlebih dulu sebelum Shim Chung meminumnya.

Shim Chung ikut – ikutan meniup kopi itu.

“Nah.. begitu.”

Mendengar ucapan itu, Shim Chung tersenyum senang dan kembali meniupnya sekuat tenaga.

“Berhentilah. Kau sudah bisa meminumnya.”

Joon Jae bertanya – tanya kemana ia harus mengantarkan Shim Chung? Dia benar – benar tak memiliki tujuan? Ke rumah atau officetel, atau mungkin teman dan kenalan yang bisa dihubungi?

Tak ambil pusing, Shim Chung sudah menyeruput kopinya sampai habis. Joon Jae mendesis kesal karenanya “Sejak tadi aku bicara dengan siapa sebenarnya? Lebih baik tadi aku meninggalkanmu saja.”


Ia pun terpaksa membawa Shim Chung ke hotel tempatnya menginap. Uwah, dan hotel yang digunakan oleh Joon Jae benar – benar mewah. Ia memasangkan cardlock –nya untuk menyalakan lampu kamar.

Sontak Shim Chung kagum melihat semua lampu seketika menyala. Joon Jae melemparkan bajunya untuk Shim Chung “Aku mau mandi, jadi kau bisa ganti baju dulu.”


Saat sudah sendirian, Shim Chung penasaran dengan cardlock –nya dan melepaskan dari slot kunci sehingga listril langsung padam. Joon Jae yang tengah mandi pun berteriak supaya dia berhenti bermain – main.

Bukannya berhenti, Shim Chung semakin ketagihan untuk memainkannya. Ia mencabut dan memasang kartunya dengan sangat cepat.


Joon Jae akhirnya keluar untuk merebut cardlock –nya tapi Shin Chung menyembunyikannya dibalik punggung. Joon Jae terpaksa merebutnya sehingga jarak diantara mereka begitu dekat. Shim Chung jadi terdiam dengan malu ketika lampu sudah menyala.

“Apa kau sekarang ini jadi sok pemalu di depan laki-laki?”

Shim Chung menyisipkan rambutnya kebelakang telinga dengan malu.

“Jangan! Jangan lakukan itu! Jangan sok pemalu! Tipe idealku itu wanita intelektual. Berbeda darimu!”

Shim Chung kembali mengisipkan rambut di sebelah kanan ke belakang telinga dan menatap Joon Jae dengan tatapan polos.

Wah.. Joon Jae menegaskan sekali lagi supaya Shim Chung tak salah paham. FYI aja, dia membawanya ke sini hanya karena sudah malam, hujan, dan otaknya kurang waras. Jangan pernah berfikir kalau Joon Jae tertarik padanya dan Shim Chung coba – coba menggunakan kesempatan untuk berhubungan badan! Itu tak akan pernah terjadi! Bagunlah dari mimpimu!

Shim Chung memainkan jemarinya dengan malu saat Joon Jae sudah pergi.

Joon Jae menggeleng – geleng “Dia sedang bernafsu.”

Ia kemudian menatap pantulan dirinya didepan cermin, ia tersenyum seolah bangga akan wajahnya sendiri.

Ponsel yang tergeletak di meja berbunyi, Shim Chung berjingkat kaget dan memeriksanya dengan takut – takut.

Disisi lain, Cha Shi An menghela nafas karena panggilannya tak menerima jawaban. Seorang wanita yang merupakan kakak iparnya, Ahn Jin Joo bertanya apakah Shi An tengah menghubungi teman satu almamaternya di KAIST? Apa pria itu tak menjawab panggilan darinya lagi?

Shi An malas menanggapinya, ia bersiap pergi dengan alasan akan lembur di laboratorium karena banyak temuan yang baru tiba. Jin Joo menyarankan supaya Shi Ah mengikuti ucapan Ibu yang menyuruhnya kuliah kedokteran dan jadi dokter ketimbang kon..kon..serva..

Bagi Shi An, ilmu kedokteran memang bisa memperpanjang hidup manusia. Dan Ilmu Konservasi juga penting untuk memperpanjang warisan budaya umat manusia.

“Baiklah. Pergilah sana memperpanjang nyawa pot keramik, batu tinta, dan semacamnya itu.” Sinis Jin Joo.


“Tapi apa bibinya Ji Hyeon lulusan dari KAIST?” tanya Moo Yoo Ran, pembantu rumah tangga disana. Putranya juga sekolah di KAIST.

Yoo Ran kurang percaya ucapan pembatu rumah tangganya itu. Anak yang ia banggakan karena ketampanannya. Yoo Ran membenarkan bahkan ia sampai kesulitan mengajak putranya jalan soalnya orang – orang sering minta untuk memeluknya.

“Pasti dulu susah ya, bagi naga yang dilahirkan di sungai kecil. (Sulit bagi gelandangan menjadi orang kaya)” sindir Jin Joo.

“Itu bukan sungai kecil. Itu lautan yang luas dan biru.”

Tak lama kemudian, ponsel Jin Joo berdering dan seseorang memberitahukan bahwa Jin Ok tak bisa datang karena habis kena tipu.

Jin Ok adalah wanita yang kemarin kena tipu Joon Jae. Ia malu karena berita kena tipunya sudah menyebar. Dulu ia bisa menggunakan nama Jang Jin Ok tapi kini nama itu tak bisa dimanfaatkan lagi. Anak buahnya menyarankan supaya Jin Ok mengubah namanya, cuma satu minggu kok.

Tambah kesal, Jin Ok langsung berdiri dan membuat semua bawahannya langsung berlutut ketakutan. Dia memutuskan untuk menangkap penipu itu, mereka yang telah menghancurkan kehidupan anaknya dan suaminya terkena inspeksi pajak.

“Pastikan tangkap mereka, terutama si berandal itu yang pura-pura jadi jaksa, pastikan tangkap dia.”

Joon Jae tengah menonton film melalui laptopnya. Shim Chung tiba – tiba datang dan membuatnya terkejut. Ia kemudian meraih laptop yang Joon Jae letakkan diatas meja dengan tatapan kagum.

“Apa kau melihat setiap pria setengah tampan dengan jenis tatapan seperti itu?” tanya Joon Jae berasumsi kalau Shim Chung tertarik dengan Kang Dong Won yang ada dilayar.

Shim Chung terus memainkan laptonya sampai mengguncangnya penasaran. Joon Jae membiarkannya memainkan laptop dan ia pergi tidur.


Shim Chung pun menonton berbagai macam video. Dari film yang membuatnya pengin nangis, video tinju dan ia pun menirukan gaya mereka sambil gerak sana sini seperti sedang kurang waras.


Tapi sorot matanya berubah serius saat menonton video liputan tentang lautan biru. Ia mengusapnya seolah begitu merindukan lautan.

Keesokan harinya, Joon Jae terkejut melihat kelopak mata Shim Chung sudah menghitam akibat begadang semalaman. Apa dia sebegitu sukanya menonton wajah tampan? Ia meminta laptonya dikembalikan tapi Shim Chung melarangnya.


Tiba – tiba Nam Doo menghubungi Joon Jae untuk memberitahukan siatuasi yang tengah gawat. Rupanya Myeong Dong Capitol adalah tempat yang menakutkan, jaringan lintah darat itu tersusun rapi. Dia mengutus orang untuk menangkap mereka bahkan menggunakan pesawat yang biayanya dua kali lipat soalnya sedang musim libur. Mereka pasti sudah gila!

“Hyung, kau ketahuan?”

“Bukan aku tapi kau! Kenapa kau mengangkat telfon barusan? Kenapa kau ceroboh sehingga GSP –mu terlacak?”

Joon Jae langsung bergegas menutup telfonnya karena orang suruhan sudah menuju ketempatnya.

Ia mengepak pakaiannya dan menyuruh Shim Chung segera mengingat tempat tinggalnya. Mereka tak bisa bersama – sama lagi. Kalau tak tahu maka hubungi kantor pelayanan masyarakat.


Sim Chung terbengong – bengong saat Joon Jae pergi begitu saja. Tapi tak butuh waktu lama, Joon Jae masuk kembali dalam kamarnya dengan frustasi. Mengacak rambutnya dengan panik.

Bukannya ikut khawatir, Shim Chung tersenyum karena Joon Jae kembali kesana. Joon Jae mencoba menenangkan diri dari kepanikannya, ia melihat ada jam, tabung gas, dan botol. Ia pun langsung meraih tiga benda tersebut.

Orang kiriman Jan Ok sudah memasuki pelataran hotel dan langsung menuju ke kamar Joon Jae. Karena pintu tak bisa dibuka, mereka sudah menyiapkan bor untuk membuka paksa pintunya.

-oOo-

13 Responses to "SINOPSIS The Legend of Blue Sea Episode 2 Bagian 1"

  1. Semangat buat sinopsisnya. Tolong buat sinopsis go ho the starry night dong......

    ReplyDelete
  2. Semangat buat sinopsisnya. Tolong buat sinopsis go ho the starry night dong......

    ReplyDelete
    Replies
    1. bantu jwb klo ga slh ada di sinopsisdrama.net

      Delete
  3. Semangatttt..

    Btw yg jdi jin ok mama ny kim tan dulu ya?
    ��

    ReplyDelete
  4. Semangatttt..

    Btw yg jdi jin ok mama ny kim tan dulu ya?
    ��

    ReplyDelete
  5. Aq sukaaa bngett... ditunggu episode berikutnya yaa.. 😍😘

    ReplyDelete
  6. Aq sukaaa bngett... ditunggu episode berikutnya yaa.. 😍😘

    ReplyDelete
  7. Udah nonton...ngakak parah ���� tapi gx afdol klo gx baca sinopsis di sini..semangat ����

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^