SINOPSIS Sweet Stranger and Me (The Man Living in Our House) Episode 1 Bagian 2

SINOPSIS Sweet Stranger and Me (The Man Living in Our House) Episode 1 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2


Saat kembali ke rumah, seorang pria jangkung mengenakan jas sedang menunggu didepan rumahnya. Kwon Duk Bong menyapa Nan Gil tapi Nan Gil seolah kurang menyukainya. Duk Bong berkata apa benar kalau Nan Gil tak melayani pesan antar, dia tak suka kalau harus menunggu antrian.

“Pergi saja kalau begitu.” Ucap Nan Gil tak perduli.

Rumah Nan Gil adalah sebuah warung makan yang menjual dumpling. Karyawannya berkomentar saat melihat pakaian serta sepeda yang ia kenakan, sudah terlalu buluk. Nan Gil cuma mengisyaratkan agar dia tutup mulut.


Dia langsung masuk kedalam dapur dan mencicipi isi pangsit. Kenapa repot – repot membuat pangsit kalau isinya saja tak enak? Siapa yang membuatnya? Pekerja Nan Gil takut – takut saat menunjuk rekannya. Nan Gil tidak marah, dia meminta mereka jangan berkeluh kesah dan membuat ulang isinya.
 
Nan Gil menatap pintu rumahnya dan bergumam kalau dia sudah datang jauh – jauh tapi ternyata tidak pulang lagi.

Dipesawat, Yeo Joo bersikap sok kuat dan berjalan menghampiri Na Ri. Kenapa juga dia harus menghindarinya?

Na Ri menatapnya tajam dan mempersilahkannya mencoba. Dirinya adalah seorang yang menyedihkan, kehilangan pacar karena juniornya. Dan yang jelas Yeo Joo juga seorang gadis jahat. Haruskah Na Ri memajangnya di intranet?

Yeo Joo berniat melewati Na Ri tapi Na Ri buru – buru pasang badan menghalanginya. Tak punya pilihan, Yeo Joo akhirnya mengalah dan putar balik mencari jalan lain.



Saat makan siang, Na Ri sengaja menghampiri gerombolan temannya dan Yeo Joo ada disana. Yeo Joo tersedak, ia cepat – cepat pamit kepada mereka. Teman Na Ri sampai keheranan dengan perubahan sikap Yeo Joo. Anak manja itu akhir – akhir ini berubah menjadi giat.

“Orang tidak berubah secara drastis.” Ucap Na Ri sambil menjejalkan makanannya dengan dongkol.


Na Ri datang ke ulang tahun anak temannya, Ran Sook. Ran Sook menjejalkan sushi karena melihat wajah tirus sahabatnya. Akhir – akhir ini dia mengabaikan temannya karena sedang mengalami krisis. Dia bahkan tak bisa istirahat setelah melahirkan, tapi Ran Sook meminta maaf untuk kali ini.

“Untuk apa?”

Karena Ran Sook mengudang Dong Jin dan dia akan datang. Dia yakin kalau Dong Jin tak hanya akan memberikan cincin kecil. Tapi ngomong – ngomong, kenapa Na Ri putus dengannya padahal mereka sudah menjalin hubungan selama 10 tahun, apalagi lewat telefon. Ada yang namanya tata cara...

“Tata cara? Tata cara katamu?!” kesal Na Ri.

Tepat saat itu seseorang datang dan memberikan kotak kecil untuk Ran Sook. Sontak Na Ri diam ketika menyadari kalau orang itu adalah Dong Jin.


Akhirnya mereka berdua duduk dikedai pinggir jalan. Dong Jin meminta maaf atas kesalahannya tapi dia sungguh ingin mengakhiri hubungan ini baik – baik. Na Ri menyuruhnya tak usah minta maaf, mereka memang sudah gagal. Mereka sudah pacaran terlalu lama. Yang harus mereka pikirkan saat ini adalah tentang biaya – biaya pembatalan pernikahan.


Dong Jin sekali lagi meminta maaf, dia benar – benar merasa bersalah. Ia bahkan belum mengatakan hal ini pada keluarganya.

Na Ri memintanya berhenti mengucapkan maaf, dia benci mendengar orang yang mengucapkan hal itu terus menerus. Anggap saja ini sebuah trauma, ketika ia kecil, ayahnya bahkan meninggalkan dia dan ibu demi wanita lain. Mereka sudah putus. Itu saja.

Dong Jin kemudian memberitahukan kalau paman Na Ri sebelumnya sering ke kantor dan memintanya uang 10000 dollar setiap kali datang. Katanya dia membutuhkan uang itu untuk keperluan ibunya, dia tak sampai hati meminta uang pada Na Ri hingga minta padanya.

Na Ri tentu saja terkejut dan berniat menghubungi paman. Dong Jin menghentikannya, dia tak mau dianggap seperti kreditur. Toh mereka semua sudah seperti keluarga.

Na Ri tertawa gila. Dong Jin berkata kalau Na Ri sekarang tidak punya siapa – siapa lagi kan. Na Ri tetap menolak untuk dianggap keluarga, apa karena itu Dong Jin bohong padanya? Apa dia punya kartu keluarga? Apa dengan 30000 dollar mereka menjadi keluarga? Kita bukan apa – apa!
Na Ri sudah mabuk parah, dia menyuruh Dong Jin untuk mengambil uangnya sendiri ke pamannya. Dia tak jadi menjual rumah ibunya. Dong Jin mengiyakan dan mengajak Na Ri pulang. Na Ri menampik tangan Dong Jin dan marah – marah padanya.

“Aku tidak suka Yeo Joo. Aku tidak suka karena dia cantik. Aku benci karena dia modis dan memakai riasan dengan benar. Apa Yeo Joo tipemu? Kau mengira kalau aku sangat jelek? Aku benci dengannya!”

Puas teriak – teriak, Na Ri baru sadar kalau dia sudah menjadi pusat perhatian banyak orang. Dia malu dan menutup wajahnya menggunakan rambut. Dong Jin juga malu tapi ia tetap menemani Na Ri yang sudah mabuk.

Na Ri menghubungi pamannya tapi nomornya tak aktif. Dia berjalan di supermarket dengan sempoyongan, entah untuk mencari apa. Dong Jin menghampiri Na Ri untuk kembali membujungnya. Na Ri malah sudah memegang sekop dan mengacungkannya pada Dong Jin.

Sontak Dong Jin ketakutan dan tak lagi mengikuti Na Ri.

Sampai pulang pun Na Ri masih memeluk sekopnya. Eh bukan pulang ding, dia malah pergi ke rumah pamannya tengah malam. Tapi ternyata rumah pamannya sudah tak dihuni dan penuh sarang laba – laba, tak terawat.

Na Ri marah dan berteriak memanggili pamannya, dia sudah mengkhianati keponakan satu – satunya. Na Ri pun melampiaskan kemarahan dengan mengontang – antingkan sekopnya ke semak – semak.

Na Ri melangkahkan kakinya dengan sempoyongan sampai akhirnya tanpa sadar dia sampai ke rumah ibunya. Saat kondisi gelap dan mabuk, Na Ri menginjak selang air tapi halusinasinya membuat dia berfikiran kalau selang itu adalah ular. Dia jejeritan tak karuan memukuli selang itu.

Saat sadar ada keanehan, Na Ri baru menggunakan ponselnya untuk memastikan benda apa yang ia anggap sebagai ular. Dia tertawa gila sendiri saat tahu kalau itu adalah selang air. Lagipula kenapa kau melingkar – lingkar begitu?


Na Ri melangkahkan kakinya menuju rumah tapi dia lagi – lagi harus dikejutkan dengan kehadiran Nan Gil yang tampak mengerikan dikegelapan. Sontak Na Ri memukulinya menggunakan sekop.

Nan Gil sampai terjatuh dan mendesis dengan kesalnya. Ia menghampiri saklar kemudian menyalakan lampu taman. Tentu saja dia marah saat tahu kalau ternyata Na Ri menggunakan sekop untuk memukulnya. Bagaimana kalau dia sampai meninggal? Itu namanya pembunuhan! Pembunuhan!

Na Ri terus waspada mengacungkan sekopnya, dia melangkahkan kakinya mundur sampai tersandung dan jatuh. Na Ri berniat meraih sekopnya lagi tapi Nan Gil menggunakan kakinya untuk menahan sekop Na Ri.

Na Ri mengklaim bahwa ini adalah rumahnya. Itu perbedaan rak –nya, eh bukan.. maksudnya pembelaan dirinya (pengucapannya mirip). Na Ri ngomong pakai belibet sampai lidahnya kesleo.

“Aku tinggal disini. Itulah pembelaan diriku.” Balas Nan Gil.

Na Ri tertawa gila saat mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Mungkin dia sudah salam alamat karena lama tak pulang ke rumah. Ia meminta maaf dan meminta sekop yang ada ditangan Nan Gil untuk dikembalikan. Nan Gil masih memegang sekopnya erat – erat.

Na Ri sampai terjatuh saat Nan Gil mempaskan sekopnya. Menyedihkan, kau bahkan tak mengenali rumahmu sendiri..

“Rumahku sendiri?” herannya.

Memang benar kalau rumah ini milik Na Ri, lalu kenapa Nan Gil ada dirumahnya? Nan Gil mengaku bahwa dia tinggal disini. Ah, Na Ri berfikiran kalau mungkin Nan Gil sudah menyewa rumah ini pada pamannya. Meskipun rumit tapi Na Ri menjelaskan bahwa dia adalah pemilih rumah ini.

“Aku bukan penyewa. Aku pemilik rumah ini.” tandas Nan Gil.

“Kau membeli rumah ini?”

“Ya.”

Nan Gil memberikan segelas air untuk sedikit meredakan mabuk Na Ri. Setelah memandangi wajah Nan Gil, dia baru sadar kalau mereka pernah bertemu sebelumnya. Dia orang yang sudah mengerjainya, kenapa tak memberitahunya?

Nan Gil menolak untuk menjelaskan pada orang mabuk. Na Ri tetep ngotot mempertanyakan masalah rumah ini.


“Na Ri –ssi.”

Na Ri ngeri karena orang asing dirumahnya juga mengetahui namanya. Nan Gil menjelaskan bahwa ia yakin Na Ri tak akan menerima penjelasannya dalam kondisi saat ini. Dia akan menjelaskannya esok pagi saat pikiran Na Ri sudah jernih.

Na Ri naik kekamarnya, mencium bau selimutnya yang harum. Saat memperhatikan kamarnya, dia merasa semuanya tampak baru. Dia sudah kewalahan menangani uang 30000 dollar pamannya dan sekarang pria itu mungkin akan meminta rumah mereka.


Ia kemudian menuju kamar ibunya, tersenyum memperhatikan foto – foto lama mereka. Ibunya masih saja tampak cantik. Kini dirinya sudah kembali, bisakah ibunya menunjukkan senyum manisnya sekali lagi? Na Ri tersenyum dengan mata berkaca – kaca.
-oOo-

Keesokan harinya, Nan Gil sudah sibuk mempersiapkan adonan dumplingnya untuk hari ini.


Asisten Duk Bong sudah menunjukkan wajah kesal pagi – lagi gegara dia menyuruhnya untuk mengantri dumpling. Duk Bong jengkel soalnya pemilik dumpling itu tak mau mengirimkannya padahal dia tak suka mengantri. Lalu bagaimana dengan izinnya?

Asisten mengatakan bahwa izin tak bisa didapatkan kecuali mereka mendapatkan bangunannya, tapi sayangnya pemilik tak mau menjualnya. Duk Bong meminta Asistennya untuk membujuk pemiliknya dan berikan hanbok modern atau sesuatu sebagai hadiah.

“Ada pemilik baru.”

Dalam keterangan itu tertera bahwa pemiliknya adalah Go Nan Gil. Pemilik dumpling Hong? Kenapa dia? Duk Bong tersenyum dan menganggapnya sebagai penipu.

Nan Gil sedang menyirami tanaman dengan pikiran tak karuan. Dia bingung caranya untuk memberikan penjelasan pada Na Ri. Saking bingungnya, akhirnya dia menyerah dan tak tahu harus mengatakan apa nantinya.


Saat mengerjapkan matanya, Na Ri terkejut karena pandangannya memburam. Dia kelabakan mencari tempat berpegangan dan tanpa sengaja menjatuhkan botol krim ke kakinya. Sontak Na Ri teriak kesakitan.

Nan Gil buru – buru menemuinya di kamar, dia mengetuk pintu dan bertanya apa yang terjadi.

Na Ri sempat lupa dengan sosok pria asing yang ditemuinya semalam. Dia baru ingat dan buru – buru bilang tak ada apapun yang terjadi. Ia menenangkan dirinya, melakukan yoga dan memejamkan mata.

Ia perlahan membuka matanya tapi penglihatannya masih saja buram. Na Ri berteriak frustasi.

Nan Gil semakin panik, kenapa? Apa yang terjadi?

Akhirnya Na Ri terpaksa membuka pintu dan mengatakan kalau dia tak bisa melihat. Ia membuka matanya lebar – lebar, apa ada sesuatu dimatanya?

Nan Gil tak tahu dan melihat botol obat tidur yang sudah tumpah. Dia tahu sekarang penyebabnya, ia pun langsung membopong Na Ri untuk membawanya ke rumah sakit.


Disaat sedang ribut mencari tumpangan, Nan Gil malah harus bertemu dengan Duk Bong. Pekerjanya menyuruhnya untuk menumpang pada Bos Kwon saja. Nan Gil terlihat ogah – ogahan tapi ia tak punya pilihan.

Nan Gil bertanya dengan panik, obat apa yang dikonsumsi oleh Na Ri sampai dia jadi begini. Na Ri mengaku kalau ia cuma makan pil tidur alami saja. Dia hanya mengkonsumsi sebutir.. atau mungkin dia makan sebutir lagi?

“Tidak ada yang namanya pil tidur alami. Apa kamu merasa pusing dan sulit berbicara?” tanya Duk Bong.

Na Ri berbisik pada Nan Gil, siapa dia?

“Aku...”

“Bukan siapa – siapa.” Sela Nan Gil. Hahaha. Nan Gil hanya memperdulikan Na Ri, dia tak seharusnya mengkonsumsi obat saat minum – minum.

Saat sampai, Na Ri turun dari mobil tanpa mengenakan alas kaki. Tanpa pikir panjang Nan Gil langsung membopongnya. Dengan pandangan kabur, Na Ri terus menatap Nan Gil sampai akhirnya tatapan kabur itu perlahan menjadi jelas.

Duk Bong berkomentar, apa mereka sedang syuting film?

Nan Gil membawa Na Ri ke UGD dan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang seperti karung. Punggung Na Ri sampai sakit dibuatnya. Nan Gil langsung ngoceh pada suster menjelaskan kronologi sampai Na Ri kehilangan penglihatan. Na Ri mengaku kalau dia sudah baik – baik saja, tinggal pusing sedikit.

Suster menyuruh Nan Gil untuk mengisi formulir terlebih dulu. Na Ri menolaknya, orang itu bukanlah walinya. Nan Gil tak memperdulikan ucapannya dan pergi bersama suster.

Duk Bong menemui Na Ri dan memperkenalkan dirinya, dia yang telah mengantarnya kemari. Na Ri dengan malas mengucapkan terimakasih.

“Aku Kwon Duk Bong.”

“Ya.”

“Aku Kwon Duk Bong.”

“Ah, ya. Aku Hong Na Ri.” Balasnya dengan malas.

Duk Bong bertanya – tanya apakah Na Ri mencoba untuk bunuh diri. Na Ri mengelak dan kembali mendesis sebal, orang yang suka ikut campur bertambah. Duk Bong mengaku kalau dia mengenal pemilik dumpling Hong, ngomong – ngomong Na Ri itu siapanya?

“Pemilik Dumping Hong? Siapa?”

“Yang menggendongmu kemari. Go Nan Gil adalah pemilik dumpling Hong.”

“Kenapa Go Nan Gil mengelola Dumpling Hong, bukannya Dumpling Go?”

Mana Duk Bong tahu, terserah pemiliknya dong. Na Ri masih tak terima karena pemilik dumpling Hong adalah Hong Na Ru bukannya Go Nan Gil.

Dokter datang, dia bertanya mana pasiennya? Tanpa menunggu jawaban, ia langsung memeriksa Duk Bong yang sedang berdiri. Nan Gil memberitahukan kalau Na Ri –lah pasiennya.

Saat Dokter memeriksa matanya, Na Ri masih terus menatap Nan Gil tajam.

Cinta... ucap Dokter dengan lebaynya. Dia harus mencintai tubuhnya selagi muda. Kemungkinan tak bisa melihat secara tiba – tiba adalah karena stres berat. Apa akhir – akhir ini dia berada dibawah tekanan?

Na Ri malu untuk mengakui masalahnya dan mengatakan kalau ia sibuk bekerja hingga kesulitan untuk tidur. Dokter membenarkan, ia menyarankan agar Na Ri mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Na Ri menolak, ia akan melakukannya lain kali. Nan Gil berteriak tak setuju dan menyuruhnya melakukan pemeriksaan sekarang juga. Dokter membenarkan lagipula wali telah membayar biayanya. Na Ri menegaskan kalau Nan Gil bukanlah walinya.
“Dia bilang kamu keluarga.”

“Siapa yang bilang? Keluarga? Siapa yang keluarga siapa?”

Nan Gil cepat – cepat menyeret suster agar tak mengatakan hal yang lebih lanjut.

Saat pemeriksaan, Na Ri terus memikirkan tentang Nan Gil.

Sedangkan diluar rumah sakit, Duk Bong mendapatkan kabar kalau Na Ri adalah putri pemilik Dumpling Hong yang terdahulu.



Setelah menjalani pemeriksaan, Na Ri mengajak Nan Gil untuk berbicara. Disini Na Ri menegaskan kalau mereka tak memiliki hubungan apapun. Entah dia insomnia, stres atau apapun itu, mereka tak memiliki hubungan. Jadi dia menyuruh Nan Gil untuk keluar dari rumahnya.

“Kenapa?” tanya Nan Gil menggunakan banmal.

Na Ri memperingatkan kalau dia lebih tua darinya, jadi ia meminta Nan Gil tak menggunakan ucapan kasar. Ia menduga kalau Nan Gil adalah utusan Ayahnya untuk mengklaim dumpling Hong.

“Ayahmu?”

“Iya. Namanya Hong Sung Kyu. Siapa nama aslimu? Bukankah Go Nam Gil?”

“Bukan. Go Nan Gil, bukan Go Nam Gil.”


Na Ri bertanya apa hubungan antara Nan Gil dan ayahnya? Apa dia mengatakan kalau warung dumpling adalah miliknya?

“Pangsit Hong adalah milikmu. Kau pasti mengira kalau Dumpling Hong adalah milik ayahmu. Ibumu akan kecewa. Ibumu mengatakan padaku kalau dia menamai Dumpling Hong sesuai dengan namamu.”

Na Ri tak terima Nan Gil membicarakan ibunya. Yang jelas dia harus segera angkat kaki dari rumahnya.

“Sudah kubilang itu rumahku. Aku tidak bisa pergi.”


Na Ri mencecar Nan Gil, memangnya siapa dia sampai mengatakan kalau rumahnya adalah milik Nan Gil.

“Ayahmu.”

“Lihat? Aku benar. Ayahku memang mengutusmu.”

“Aku tidak mengatakan ayahmu adalah Hong Sung Kyu, tapi aku. Aku Ayahmu. Aku Ayah Tiri Hong Na Ri.” Tegas Nan Gil.

-oOo-

11 Responses to "SINOPSIS Sweet Stranger and Me (The Man Living in Our House) Episode 1 Bagian 2"

  1. Ne maksud ny ibu na ri nikah sama brondong (nan gil).. ??

    ReplyDelete
  2. woopps...ibunya nikah ma cwok yg usianya lbh muda dari anaknya? 😱
    *trm ksih sinopsisnya ya

    ReplyDelete
  3. Hah ??? Emaknya nikah ama brondong ??? Aku pikir ini drama fantasi roh ayah nya nari masuk ke tubuh nan gil, hhahahahahaha

    ReplyDelete
  4. Drama yang Q tunggu tunggu semangat kakak 😘😘😘

    ReplyDelete
  5. mwo ?? ayah tiri Na Ri ?? brondong gilee hahaa .. gomawo unnie..

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. woopps...ibunya nikah ma cwok yg usianya lbh muda dari anaknya? 😱
    *trm ksih sinopsisnya ya

    ReplyDelete
  8. Thx fighting πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

    ReplyDelete
  9. waah klah w ama emak2 buseh bronies bu.. w jh msh muda gini jh klahπŸ˜œπŸ˜€πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
  10. ikut nyimak. Jelas deh alir ceritanya rapih πŸ‘

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^