SINOPSIS Sweet Stranger and Me (The Man Living in Our House) Episode 1 Bagian 1

SINOPSIS Sweet Stranger and Me (The Man Living in Our House) Episode 1 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: KBS2

Seorang wanita mengenakan seragam pramugari berjalan dengan percaya diri. Semua mata tampak tertuju padanya, menunjukkan rasa kagum padanya. Wanita itu, Hong Na Ri membatin “Ketika aku berjalan menggunakan seragam ini, pria, wanita dan anak – anak menatapku.

Melayani dan membantu para penumpang pesawat merupakan tugasnya. Suasana penerbangan yang gaduh dan tingkah para costumer yang beraneka ragam. Ada yang menyuruhnya dengan teriakan namun Na Ri membalasnya dengan senyuman.

Aku bertemu dengan orang yang sangat menyebalkan entah sebelum atau sesudah penerbangan. Beginilah, ini pekerjaanku.” Batinnya lagi.


Seorang wanita yang tampak berpenampilan menor khas orang kaya menghampiri Do Yeo Joo, ia memperkenalkan dirinya sebagai tunangan Jung Hyun. Yeo Joo sepertinya mengenal wanita itu tapi mengingat mereka akan segera take off, dia memintanya untuk duduk kembali.

Wanita itu malah ngotot memarahi Yeo Joo yang telah mengabaikan panggilannya sampai dia harus menaiki pesawat. Tanpa basa – basi, wanita itu meminta mobil Jung Hyun dikembalikan.

“Itu mobil hadiah.” Tolak Yeo Joo.
Jengkel, wanita itu langsung menjambak rambut Yeo Joo dihadapan semua orang. Para penumpang pun ikut gaduh melihat pertengkaran diantara mereka. Na Ri pun menghentikan keduanya dan memperingatkan bahwa apa yang dilakukan oleh wanita tadi adalah kriminal “Tolong kembali ke kursi anda.”

Wanita tadi tampak takut sehingga menuruti ucapan Na Ri untuk kembali ke tempat duduknya.

Hidup adalah sebuah perjalanan. Kau tak akan pernah tahu situasi apa yang akan terjadi.” – Na Ri.
Setelah pesawat mendarat, Yeo Joo sama sekali tak mengucapkan apapun dan melewati Na Ri begitu saja. Teman Na Ri tampak kesal dengan sikap tak sopannya. Na Ri cuek memainkan ponselnya, mungkin saja dia sudah tak punya energi karena akan dihukum.
“Kau benar.” Teman Na Ri memperhatikan Na Ri yang cengengesan melihat layar ponselnya. Sudah sembilan tahun pacaran tapi sepertinya Na Ri masih begitu mencintai pacarnya. Na Ri sumringah karena pacarnya masih bisa membuatnya excited dan katanya akan memberikan kejutan padanya.
Na Ri berjalan melewati lilin – lilin yang telah tertata rapi dengan hiasan bungan disampingnya. Pacar Na Ri telah menanti dengan memegang sebuket bunga “Hong Na Ri, maukah kau menikah denganku?”

Dia menerima bunga tersebut dengan tampang terkejut yang seolah dibuat – buat. Pacarnya kemudian kebingungan mencari sesuatu diantara beberapa balon. Na Ri keheranan, kenapa?

Na Ri paham betul dengan pacarnya, Jo Dong Jin. Ia pun membantu mencarinya dan menemukan sebuah cincin yang terletak di tali balon.
Tak ada sesuatu dalam hidup yang bisa ditebak. Memanglah begitu, seperti lamaran hubungan jangka panjang pacar konyolku.” – Na Ri.Saat sedang dinner romatis bersama Dong Jin, ponsel Na Ri berdering menerima panggilan dari pamannya. Paman Na Ri menangis diseberang telefon memberitahukan bahwa Ibu Na Ri mengalami kecelakaan mobil. Na Ri terkejut, apa dia luka parah?

Dia meninggal, jawab Paman membuat Na Ri langsung membeku. Suasana ramai ditempat lamaran seketika sunyi bagi Na Ri. Pikirannya melayang entah kemana.

Tak ada sesuatu dalam kehidupan yang bisa ditebak. Seperti saat aku mendengar kabar ini, dimana aku berfikir kalau Ibu akan bersamaku selamanya, dia telah meninggal.” Batinnya.


Dong Jin pun membantu Na Ri dirumah duka. Dia mempersilahkan teman – teman Na Ri untuk duduk dan salah satu diantara mereka adalah Yeo Joo. Yeo Joo menatap Dong Jin dengan tatapan berbinar “senang bertemu denganmu.”

Dong Jin sempat tertegun beberapa saat memperhatikan Yeo Joo sebelum akhirnya pergi.

Malam harinya, Na Ri masih duduk terpekur memperhatikan foto ibunya di rumah duka.

Tak ada sesuatu dalam kehidupan yang bisa ditebak. Seperti fakta bahwa sebuah kematian bukanlah sebuah akhir melainkan sebuah awal dari masalah besar. Nothing in life is predictable.”

Didekat pintu, seorang pria tampak sedih melihat foto Ibu Nari. Ia juga sempat melihat punggung Na Ri yang duduk di kegelapan. Pria itu adalah Go Nan Gil.  
10 Bulan Kemudian

Saat turun dari pesawat, hal pertama yang Na Ri lakukan adalah mengirimkan pesan untuk Dong Jin. Memberitahukan bahwa ia telah kembali. Dibelakangnya, Yeo Joo juga sedang bermain ponsel dan senyum – senyum sendiri.

“Lihat nenek sihir itu, pria kaya mana lagi yang akan dia peras dan dia campakkan?” bisik teman Na Ri.

Na Ri menebak kalau Yeo Joo belum mencampakkannya. Dia menyukai pria kali ini. Temannya belum percaya dengan tebakan Na Ri soalnya Yeo Joo tampak mengabaikan panggilan pria itu. Na Ri lagi – lagi tak begitu perduli lalu mengirimkan pesan untuk Dong Jin lagi. [Kau membaca pesanku tapi tak membalasnya. Aku sudah kembali] tulisnya.


Dong Jin rupanya sudah ada dibandara tapi dia tak terlalu senang saat melihat kedatangan Na Ri. Dia malah menatap Yeo Joo dan berkata “Anyeong..”

Tak ada yang memperhatikan gelagat keduanya, Yeo Joo kemudian bersikap sok perhatian dan mengajak teman Na Ri pergi. Dong Jin masih terus memperhatikan Yeo Joo.


Na Ri menepuk pundaknya dan bertanya kenapa dia tidak memberitahunya kalau dia datang. Dong Jin tiba – tiba berkata kalau dia harus pergi karena urusan bisnis. Ia akan pergi ke China.

“Kapan? Hari ini? Sekarang? Penerbangan mana?” berondong Na Ri.

Tidak, Dong Jin meralat perkataannya kalau investor China yang akan datang kemari dan ia akan mempersiapkan meeting. Setelah mengucapkan hal itu, Dong Jin tampak mengacak rambutnya seolah merasa bersalah akan ucapannya sendiri.

Na Ri meminta maaf. Semenjak kematian ibunya, dia banyak menghabiskan waktu untuk bekerja. Entah sudah berapa kali dia memutari dunia. Kalau begini terus maka ia akan segera mendapatkan promosi, setelahnya ia mengurangi pekerjaan dan merawat Dong Jin dengan baik.

Dong Jin mengajaknya untuk makan sandwitch dan meminum secangkir kopi. Na Ri menolaknya, dia masih menggunakan seragam maka dia tak bisa membawa benda seperti itu saat bekerja. Dia pun hanya menyemangati Dong Jin agar meeting dengan investornya berjalan lancar.


Saat hendak keluar, Na Ri baru ingat kalau ia berniat memberikan hadiah untuk Dong Jin. Dia kembali ke dalam bandara tapi Dong Jin sedang menghubungi oranglain dan tampak begitu tergesa – gesa bahkan hampir tertabrak bus saat menyebrang jalan.
Na Ri berteriak ngeri.

“Apa dia sudah gila?” gumamnya kembali mengejar Dong Jin.


Orang yang ditemui oleh Dong Jin adalah Yeo Joo. Na Ri awalnya cuma keheranan saat keduanya bertemu tapi saat Yeo Joo mulai mengusap wajah Dong Jin dan memeluknya erat, Na Ri bisa menyadari kalau keduanya menjalin hubungan tanpa sepengetahuannya.

Masih setengah tak percaya, Na Ri mendapatkan panggilan dari Petugas Jasa Pembuat undangan. Petugas ingin mengkonfirmasi apakah benar kalau kata – kata dalam undangannya adalah “Kita akan melihat di peta yang sama dan berjalan dijalan yang sama. Datanglah dalam awal perjalanan kami.”

Pandangan Na Ri masih tertuju pada Dong Jin dan Yeo Joo. “Sepertinya kami memiliki peta yang berbeda” Ucapnya mengakhiri panggilan.


Rambut Na Ri sudah acak – acakan dan menghentikan mobil yang ditunggangi oleh keduanya. Dia menarik Yeo Joo keluar dengan marah dan mengguncangnya.


“Kau sengaja mengabaikan panggilannya agar dia gila, kan? Kau melakukannya agar aku bisa melihatnya, kan? Kau pikir kau menang? Baiklah. Simpan saja sampah yang sudah aku buang!”

Na Ri memegang kedua pundak Yeo Joo kemudian menumbuk kepalanya sampai Yeo Joo terjengkang ke jalan.

“Ini salah paham.” Kilah Dong Jin.

Tanpa banyak kata, Na Ri memukul perut Dong Jin kemudian menari kerah bajunya. Memukulkan kepala Dong Ji ke mobil berulang kali “kau berpikiran dangkal, bodoh, pemalas!”

Tapi itu cuma khayalan Na Ri saja. Nyatanya dia malah memalingkan wajah ketika mobil yang ditumpangi oleh Yeo Joo dan Dong Jin melewatinya. Na Ri memilih diam dan meninggalkan bandara dengan perasaan sedih yang bercampur aduk dengan kemarahan.
Di bus, Na Ri membayangkan dirinya yang mengenakan toga, dirinya dari sisi orang terpelajar meyakinkan bahwa apa yang ia lakukan tidaklah salah. Dia masihlah orang yang luar biasa “Apa dia ingin balas dendam? Apa kau pikir kau akan senang saat berhasil balas dendam? Kau ingin putus dengannya atau akan memberikan kesempatan sekali lagi? Kau ingin memaafkannya?

 Na Ri termenung melihat jalanan kota, entah apa yang akan dilakukan setelah kejadian yang menimpanya hari ini.

Dalam mobil, Yeo Joo tersenyum licik dan mengajak Dong Jin untuk minum teh untuk terakhir kalinya. Dong Jin menolaknya karena dia ingin pergi ke pantai sesuai keinginan Yeo Joo. Yeo Joo terkejut, rupanya Dong Jin masih stalking media sosial –nya.

Dong Jin memang seperti orang yang dimabuk cinta. Dia tak tahan karena tak bisa menghubungi Yeo Joo selama ini. Ia mencium tangannya tapi Yeo Joo memperingatkan kalau ini terakhir kalinya jadi dia hanya bisa melakukan sampai sejauh ini saja.

Saat memalingkan wajah, Yeo Joo kembali tersenyum licik.


Na Ri pergi ke makam ibunya dan memeluk pohon yang terdapat foto sang Ibu. Nan Gil sedang tiduran santai dibawah pohon saat mendengar suara Na Ri, ia mengangkat kepalanya sejenak untuk melihat siapa yang datang. Nan Gil tak menegurnya dan melanjutkan tidur santainya kembali dibalik bebatuan.

Sepanjang perjalanan, Dong Jin terlihat murung dan mengabaikan ucapan Yeo Joo. Yeo Joo merengek memanggil namanya, karena tak mendapatkan balasan maka ia pun mengecup pipi Dong Jin.

Dong Jin akhirnya kembali tersenyum. Saat kembali ceria, Na Ri menghubungi Dong Jin. Yeo Joo nakal merebut ponselnya dan menerima panggilan Na Ri. Dong Jin panik mengatakan kalau dia tak bisa bicara sekarang ini.

“Kalau begitu dengarkan saja.” Ucap Na Ri.

Na Ri mengaku kalau dia sedang menemui ibunya. Dong Jin mengerti dan akan menghubungi Na Ri lagi nanti. Na Ri hilang kesabaran, “Diam dan dengarkan! Kau berandalan gendut tukang bohong! Hubungan kita berakhir! Dong Jin, kenapa harus Yeo Joo? Apa hubungan kita hanya bermakna sekecil itu? Kita berakhir!”

Keduanya terperangan mendengar umpatan Na Ri. Dong Jin kembali meminta bicara lagi nanti.

“Dan kau Yeo Joo..” sela Na Ri “Jangan biarkan aku melihatmu lagi! Kalau kau melihatku lagi, ambil jalan lain. Kalau kita ada diruangan yang sama, jangan lihat aku! Jangan bicara padaku! Jangan tersenyum dihadapanku! Jangan makan didepanku! Jangan lakukan apapun!”

Dong Jin menepuk punggung Yeo Jin menenangkan.

Nan Gil mulai tak nyaman mendengar pembicaraan pribadi Na Ri dan mencoba pergi tanpa diketahui olehnya.


Na Ri mengatakan kalau dia melihat mereka berdua dibandara. Dia juga mendengar suara Yeon Joo barusan. Akhirnya Yeo Joo bicara bahwa Dong Jin yang terus – terusan datang ke bandara dan menghubunginya. Apa yang bisa ia lakukan? Sedangan dia dan Na Ri bekerja ditempat yang sama, bagaimana dia menghindar agar tak ada disekitar Na Ri?

Na Ri makin kesel “Coba saja.. coba saja bicara padaku! Coba lihat aku, tersenyum dihadapanku dan makan didepanku? Kalau kau ingin tahu apa yang akan terjadi, lakukan saja! Saat semua orang memanggilmu gadis licik, aku tak pernah sekalipun bicara...”

Yeo Joo tak mau mendengar ucapan Na Ri lagi dan langsung mematikan panggilannya.


Na Ri menatap foto ibunya. Dia berjanji akan hidup lebih baik mulai sekarang.


Meskipun sudah berhati – hati agar tidak ketahuan oleh Na Ri, tapi akhirnya Na Ri memergoki Nan Gil yang gelosotan di rumput. Nan Gil pura – pura habis tiduran. Na Ri menatapnya sinis “Pasti sangat menghibur, kan?”

Nan Gil menyembunyikan wajahnya yang menahan tawa menggunakan topi. Melihat penampilan Nan Gil, Na Ri menebak kalau dia adalah penajaga kuburan. Harusnya dia memberikan tanda karena ia selalu kesasar kalau kesini.

“Aku bukan penjaga kuburan.” Elak Nan Gil.

Na Ri meminta maaf dengan tak ikhlas kemudian pergi.

“Ular! Ular!” seru Nan Gil tiba – tiba.

Sontak Na Ri jejingkrakan takut tapi ternyata Nan Gil bohong dan menyuruhnya untuk berhati – hati dengan ular. Na Ri melongo karena sudah dikerjai.

“Sampai bertemu lagi.” Ucap Nan Gil mengayuh sepedanya.


“Wah.. beruang liar! Beruang liar!” teriak Na Ri membalas Nan Gil. Tapi Nan Gil sama sekali tak jatuh pada tipuan itu, dia malah santai melambaikan tangan pada Na Ri.

11 Responses to "SINOPSIS Sweet Stranger and Me (The Man Living in Our House) Episode 1 Bagian 1"

  1. Crita NY menarik...aq tunggu kelanjutn NY...mksi...😊 fighting

    ReplyDelete
  2. Suka suka pake banged dg recapan drama mba puji yg terbaru ini, tp yg something about 1 nya dilanjut ya mba, gomawoo

    ReplyDelete
  3. Suka bgt sama recapnya mudah dipahami . thanku.part 2 nya dong :)

    ReplyDelete
  4. gomawo dah bikin sinopnya..
    suka sma ceritany ditunggu part 2nya ya.
    something about 1% nya di lanjut donk min

    ReplyDelete
  5. Kim young kwang.....
    Soo ae.....
    Chua......

    ReplyDelete
  6. kok peran jo bo ah kejam kali padahal aku suka drama ini karna ada dia sama lee soo hyuk. walaupun kayak gitu tetap semangatnya nulisnya.
    ditunggu park 2. fighting

    ReplyDelete
  7. Huaaaa,,, aku mulai lg baca sinop kamu, setelah joseon abis, goryeo yg bentar lagi mau abis dan berhenti baca sinop k2 yg baru aku baca 2 episode, tp emang aku ga minat sama genre yg begitu,, hhehehe,, kayanya ini drama asik juga,, ν™”μ΄νŒ… 푸지...

    ReplyDelete
  8. Sepertinya ceritanya seru....aku tebak nanti soo ae pasti jadian sama ayah tirinya ya...

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^