SINOPSIS Something About 1% (2016) Episode 4 Bagian 2

SINOPSIS Something About 1% (2016) Episode 4 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: DramaX

Setelah Jae In menghubungi Da Hyun, mereka berdua akhirnya bertemu. Dia udah kepedean mengira kalau Da Hyun merindukannya padahal baru satu minggu ga ketemu “Kau sebaiknya tak melompat padaku lagi! Aku tidak akan diam saja.”



Da Hyun menanggapi dengan ucapan formal “Hai, hari ini cukup panas, bukan? Kau sampai dirumah dengan selamat malam itu, bukan? Itu sikap yang tepat untuk memulai percakapan seperti ini. Apa kau tidak tahu itu? Apa mereka tidak mengajarimu waktu di SD? Dan juga, kau tidak dalam posisi yang seharusnya berteriak padaku sekarang ini.”

Jae In menanggapi remeh ucapan Da Hyun. Da Hyun menggebrak meja dan bertanya bukankah Jae In sudah tahu kalau disana ada wartawan hari itu?

“Mm.. sedikit.” Santai Jae In “Makanya aku memperingatkanmu sebelumnya! Aku sudah bilang jangan melihat kearahku, atau tersenyum padaku!”


Da Hyun tetep saja kesel karena seharusnya Jae In menghindari jangan sampai hal semacam itu terjadi bahkan sebelum memperingatkannya. Jae In menyela ucapan Da Hyun, dia akan mengatasi pemberitaan para reporter.

“Kalau begitu bertanggung jawablah.”

“Apa yang kau katakan, katanya kau tidak ingin menikah denganku. Dan aku jelas tidak mau menikah denganmu! Aku benci pada wanita yang menendangku!” Balas Jae In salah penafsiran.

Da Hyun keheranan “Apa aku bilang ayo menikah? Bukan itu maksudku! Kenapa kau selalu memikirkan dirimu sendiri? Kau bahkan tidak berpikir untuk minta maaf, kau masih tidak mengerti apa kesalahanmu?”

Jae In sampai bengong sendiri, mungkin agak malu karena dia salah paham. Dia pun menyesap kopinya sambil menunjukkan tampang tanpa dosa. “Tidak. Aku tak tahu.”


Ah.. tapi kemudian Jae In tersenyum dan membahas masalah kecupan semalam. Dia menebak kalau Da Hyun juga senang karena kejadian itu. Sontak Da Hyun menendang kaki Jae In.

“Apa kau benar-benar akan seperti ini? Huh? Seorang guru seharusnya tidak melakukan kekerasan!”

Dengan santai Da Hyun membalas ucapan Jae In kalau sebagai guru, dia diajarkan untuk melakukan hal ini kalau bertemu orang mesum. Dia akan menendang di tempat yang benar – benar akan membuatnya kesakitan.

Jae In langsung memundurkan kursinya ketakutan. Ia melihat ke arah bagian bawah, khawatir kalau itunya diincar oleh Da Hyun.


Saat pekerjaan sedang menumpuk, Ketua Tim Kang terpaksa menemui kakek dengan malasnya. Kakek mengundangnya ke rumah cuma sekedar curhat, kesel karena panggilannya diabaikan oleh Jae In. Ketua Tim Kang memberitahukan kalau Jae In sepertinya sedang menemui Bu Guru lagi.

Mood kakek berubah ceria “Baguslah kalau begitu! Bodoh sekali kalau dia melepaskan Da Hyun..”

Ketua Tim Kang keheranan sendiri kenapa Kakek begitu menyukai Da Hyun padahal ada banyak wanita yang lebih cantik, baik dan ber –body oke. Memang benar, tapi bagi Kakek, wanita itu tak akan bisa mengubah tabiat cucunya.  Di dunia ini, ada manusia yang bisa membuat seseorang yang ada disekitarnya berubah hanya dengan kehadirannya saja. Dia yakin Da Hyun bisa mengubah Jae In.

Ketua Tim Kang yakin kalau Jae In tak akan berubah semudah itu. Kakek tidak setuju, sebenarnya anak itu sudah sedikit berubah. Dia hanya belum menyadarinya.


Jae In memainkan sticker yang diterimanya dari Da Hyun. Dia excited banget soalnya baru kali ini mendapatkan pesan semacam itu. Da Hyun menanggapi dengan dingin dan mengirimkan lebih banyak sticker kemarahan.



Jae In malah cengengesan melihat sticker yang diterimanya.

“Kau tahu kalau itu sticker untuk memaki kan? Itu bukan untuk ditertawakan.” Sinis Da Hyun. Jae In langsung bengong karena lagi – lagi salah tafsir. Hahaha.


Da Hyun meraih buket bunganya dan berniat pergi. Jae In menahan Da Hyun lalu menyuruhnya kembali duduk, dia mempertanyakan asal buket bunga itu. Dia yakin kalau Da Hyun mungkin berniat memberikan bunga itu padanya. Apa kau mendapatkannya dari seorang pria?

Da Hyun enggan untuk memberitahunya, toh dia tak akan mengenal orangnya.

“Dan apakah pria itu tahu tentang aku?”

“Apa kau menjelaskan perjanjianmu denganku pada setiap wanita yang kau temui?” balas Da Hyun tak mau kalah.
Jadi intinya, Da Hyun telah menemui seorang pria. Jae In merasa kalau dia telah melewatkan sesuatu dalam perjanjian mereka. Dia ingin memperbaharui kontraknya dengan Da Hyun.

Tidal selingkuh. Tidak pura – pura tak bersalah dan menusuk dari belakang nantinya. Da Hyun tak boleh menemui pria lain selain dirinya.


“Kapan aku pernah berselingkuh darimu? Jelaskan maksudnya, menemui pria lain.” tanya Da Hyun tak percaya.

Jae In melarang Da Hyun menemui pria lain kecuali keluarganya. Dia harus berhati – hati kalau bertemu pria di jalanan. Da Hyun balik tanya, apa Jae In juga akan menjaga jarak dengan wanita lain?

Berfikir sejenak, Jae In akhirnya menyanggupi.


Da Hyun pikir dia tak perlu melakukan hal sejauh itu. Tapi apa Jae In tak akan menemui  Lee Soo Jin, Kang Mi Ra, atau Yeon Seo Hui lagi. Jae In memintanya untuk tidak terlalu mempercayai berita yang tersebar di internet. Da Hyun penasaran, jadi siapa diantara mereka yang benar – benar dikencani Jae In?

Belum sempat menjawab, Da Hyun sudah lebai dan menebak kalau Jae In mungkin sudah mempunyai anak. Dia dengar Jae In memiliki anak yang dibesarkan di Amerika. Jae In terbelalak dan mengancam akan menuntutnya karena menyebar gosip palsu.

“Yah, baiklah, aku juga tidak akan jadi ibu dari anakmu.” Kekeuh Da Hyun.


Baiklah, Da Hyun setuju yang terpenting Jae In harus menjaga tangannya, jangan menarik tangan tanpa seinjinnya, dan tak ada ciu.. Da Hyun memegang bibirnya speechless.. pokoknya ga ada kontak fisik.

Jae In tertawa penuh makna sambil menatap Da Hyun. Dia menebak kalau Da Hyun belum pernah pacaran sebelumnya.

Da Hyun sebel, “Itu tidak benar.”

Kalau begitu mungkin Da Hyun pacarannya sama Kasim jadi tidak berpengalaman. Jae In menjelaskan bahwa seorang wanita dan pria yang berkencan, mereka berpegangan tangan, ciuman dan tidur bersama. Itu adalah yang dilakukan pasangan. Itu sangat biasa untuk pasangan!

Memang benar, tapi Da Hyun rasa semua itu hanya dilakukan oleh pasangan yang saling menyukai.

“Jadi maksudmu, kau tidak menyukaiku?”

“Tentu!” jawab Da Hyun tanpa banyak berfikir.

Baiklah, Jae In menyuruh Da Hyun jangan sampai jatuh hati padanya atau semua akan menjadi rumit. Da Hyun tak perduli, hari ini mereka melakukan pertemuan jadi hitung sebagai pertemuan resmi.

Jae In menolak usulan itu, mereka seharusnya melakukan pertemuan lebih dari sekali dalam seminggu. Dia mengajak Da Hyun keluar cafe dan menyambar buket bunga yang tergeletak di meja.

Da Hyun khawatir meminta bunganya dikembalikan tapi Jae In malah membunganya kedalam tong sampah. Dia mencoba memungutnya lagi tapi lagi – lagi Jae In mengebalikannya ke tong sampah.

“Apa orang lain tahu betapa mengerikannya dirimu?” tanya Da Hyun.

Ya. Tapi Jae In tak perduli.


Da Hyun mengeluh ketika mereka harus kembali menonton konser musik klasik. Ia menebak kalau Jae In pasti belum pernah berkencan. Kalau dilihat dari sosoknya, kemungkinan memang dia sudah pernah berkencan. Tapi, apa dia selalu dicampakkan? Itu sebabnya dia jadi orang menyebalkan seperti ini?

Jae In jelas mengelak, dia tak pernah dicampakkan sebelumnya. Da Hyun tidak sependapat, kemungkinan Jae In dicampakkan tapi dia tak pernah menyadarinya. Mungkin wanita itu tak menyukai dia apa adanya, dia hanya menyukai posisi Jae In.

“Kenapa kau sangat yakin dengan hal itu?”

Iyalah, lagipula siapa yang suka kalau pacaran tapi Jae In sibuk bermain ponsel sendiri. Jae In membela diri kalau dia hanya ingin menghemat waktu. Membunuh burung dengan satu batu.

Da Hyun tersenyum tak percaya, syukurlah!
“Kenapa?”

Karena itu tandanya Jae In tak menyukai Da Hyun saat ini. Tak ada orang didunia ini yang pelit waktu saat jatuh cinta. Bagaimana pun mereka akan meluangkan waktu untuk orang yang disukainya. Da Hyun memperingatkan agar Jae In tak menyukainya dan terus saja seperti sekarang.

Karena terakhir kali Da Hyun sudah menurut pergi ke konser musik klasik, maka kali ini Jae In gantian mengikutinya.

Tae Ha yang baru keluar dari gedung bisa melihat Jae In dan Da Hyun bergandengan tangan.

Da Hyun membawa Jae In ke toko permainan anak – anak. Dia meyakinkan Jae In yang terlihat malas – malasan, sepertinya ini akan menyenangkan. Ini mengingatkan anak didiknya yang masih berusia 10 tahunan, dia sering melakukan hal ini untuk mereka.


Jae In enggan merangkai mainannya dan terdiam memperhatikan Da Hyun. Dia tanpa sengaja, ia melihat seorang anak yang merengek minta dibelikan mainan. Ibunya menolak dan mengancam akan meninggalkan anaknya, dia akan mencari anak baru kalau anaknya terus begitu.

Percakapan mereka membuat Jae In mengingat masa kecilnya.


Jae In masuk ke tempat duka seorang anak kecil, sepertinya seumuran dengan Jae In. Entah hubungan apa yang dimiliki antara anak itu dan Jae In, tapi seseorang yang kita kira adalah Ibu Jae In, dia ada disana mewakili keluarga duka.


Jae In kecil terus berada disana memainkan sapu tangannya seraya memperhatikan ‘ibunya’ yang terua menangis. Sampai akhirnya dia memberanikan diri memberikan sapu tangan itu, Ibu memeluknya dan Jae In menepuk punggung menenangkan.

Kakek melihat keduanya dengan sedih .

Da Hyun menyadarkan Jae In dari lamunannya. Dia bertanya – tanya apakah Jae In sakit atau dia sangat membenci tempat ini? Apa mereka harus pergi? Jae In menolaknya, dia tak apa – apa.

Jae In menyuruh Da Hyun untuk menyelesaikan mainannya, dia mau membeli minum sebentar.

“Dia pria yang aneh.” Desis Da Hyun saat Jae In pergi.


Rupanya, Jae In pergi ke lantai bawah untuk membelikan mainan yang diminta oleh anak tadi. Dia menasehati agar anak itu tak membantah ucapan ibunya. Da Hyun terkejut saat melihat sikap Jae In. Dia buru – buru pergi sebelum Jae In memergokinya sedang memperhatikan.


Sedang ada pertemuan keluarga dirumah kakek, Ibu Tae Ha membahas tentang Jae In yang sepertinya memiliki pacar baru. Dia tersenyum sinis, bagaimana bisa dia menggandeng gadis yang berbeda tiap harinya?

Ibu Jae In berkomentar bahwa apa yang dilakukan Jae In wajar saja diusianya sekarang. Dia boleh melakukan apa yang disukainya sebelum kembali bekerja di kantor utama SH Grup. Apapun yang dia katakan, Jae Ha tetap anak tertua keluarga ini.

“Aku juga anak ayah kau tahu. Anak ayah bukan hanya kakakku saja! Tae Ha memiliki hubungan darah dengan ayahku, sama seperti Jae In!”

“Apa aku pernah mengatakan sebaliknya? Lagipula yang terpenting adalah kemampuannya.” Balas Ibu Tae Ha.

Kemarahan Ibu Tae Ha mulai meluap – luap dan membahas hubungan darah antara Jae In dan ibunya. Jae In adalah anak kakaknya! Bukan anaknya, mereka tak memiliki hubungan darah sedikit pun. Jae In tidak akan menjadi putrnya dengan hanya berada disampingnya terus.

Ibu Jae In menghentikan ucapan Ibu Tae Ha yang semakin kelewatan. Toh tak akan berdampak baik kalau dia bersikap buruk padanya. Ibu Jae In juga memiliki saham di Mall SH Grup.

Kakek menghentikan pertengkaran diantara mereka. Ibu Tae Ha pergi dari sana dengan kesalnya.

Ibu Jae In meminta maaf atas keributan ini. Tapi sekali lagi dia mengingatkan bahwa Jae In sekarang adalah cucu dari Presdir Daehan Elektrik juga. Kakek berkomentar kalau Jae In dan Ibunya sangatlah mirip, dia memintanya jangan khawatir.

Da Hyun kesulitan merangkai mainannya. Jae In datang dengan membawa dua gelas minuman, tanpa banyak kata dia membantu Da Hyun merangkai mainanan itu. Da Hyun yang biasanya cerewet, kali ini diam saja saat Jae In meletakkan tangan dipundaknya.


Da Hyun bertanya apakah Jae In mengenal anak yang dibelikan mainan tadi. Tidak, Jae In hanya merasa terganggu mendengar rengekannya. Dan juga mereka sudah satu jam disini tapi Da Hyun belum selesai merangkai mainannya. Da Hyun menyalahkan instruksi –nya yang salah.

“Jangan lakukan ini di depan anak-anak. Lagian anak-anak berpikir guru mereka hebat dalam semua hal.” Ucap Jae In merangkai mainan milik Da Hyun.

Dalam sekejap mainan itu sudah selesai dirangkai. Da Hyun takjub dengan kemampuan Jae In.

“Bahkan anak-anak bisa menyusunnya, cuma kau yang tidak bisa, Dada.” Jae In menunjuk tulisan kalau mainan itu cocok untuk anak usia 10 tahun. Hahaha.

Ketika hendak pulang, hujan turun dengan derasnya. Lagi – lagi Jae In termenung dan mengingat masa remajanya.


Saat itu hujan deras, Jae In remaja berniat menyebrang jalan dan melihat seorang wanita setengah baya sendirian disebrang jalan. Jae In tersenyum sumringah namun senyuman Jae In memudar ketika seorang pria dan anak kecil menghampiri wanita setengah baya tadi.

Mereka berpelukan dan nampak seperti keluarga bahagia. Belum sempat menemuinya, wanita itu pergi bersama keluarganya.

Lamunan Jae In buyar saat Da Hyun memberikan kotak mainan sebagai hadiah. Jae In menolak karena dia sibuk. Da Hyun kekeuh memberikan mainan itu, dia bisa merangkainya saat waktu luang.

Hujan belum juga reda, Da Hyun menyarankan agar mereka berlari ke tempat parkir saja. Jae In mengambil payung yang ada ditoko itu.

“Kau harusnya mengambil satu lagi.” Keluh Da Hyun.

“Untuk apa?”


Jae In menarik Da Hyun kemudian merangkulnya. Keduanya berteduh di payung yang sama menuju ke tempat parkir. Da Hyun berkata kalau merangkai mainan bisa meningkatkan kosentrasi. Jae In pun langsung mengolok kemampuan kosentrasi Da Hyun yang rendah. Keduanya pun berjalan bersama sambil terus saling ejek.

-oOo-
KOMENTAR:
Drama yang tak diduga mencuri hati.. Awalnya gak tahu mau nulis ini/Shopping King Louis. Tapi ternyata aku lebih kena sama drama ini gara - gara mba Imma ngajakin recap. Agak bingung mau nyari download dimana, tapi akhirnya dapet di dramacool. 

Aku awalnya sempet bingung, kok yang jadi Ibu Jae In masih muda banget tapi ternyata disini ketahuan kalau dia bukan ibu kandungnya. Ibu kandungnya sudah punya keluarga baru dan Ayahnya menikah lagi sepertinya dengan Ibu yang sekarang.

Aku lebih suka lagi sama interaksi antara Da Hyun dan Jae In di episode ini. Jae In yang nyatanya menikmati interaksinya dengan Da Hyun, mungkin memang dia menemukan sesuatu yang berbeda dalam diri Da Hyun. Selama ini semua orang bersikap baik padanya, tapi cuma dihadapannya saja. Dibelakangnya? mereka mencemooh dan tentu ga menyukai Jae In. Jae In sadar akan hal itu, tapi tak ada seorang pun diantara mereka yang menegurnya secara terang - terangan. Dia memilih mengabaikan mereka. Tapi dengan adanya Da Hyun, dia selalu mengatakan apa yang dia tak suka secara langsung sama dia. 

10 Responses to "SINOPSIS Something About 1% (2016) Episode 4 Bagian 2"

  1. Thanks buat sinopsisnya
    Akhirnya muncul juga
    Di tunggu episode berikutnya
    Terima Kasih

    Anastasia

    ReplyDelete
  2. love it, much2 more, d rnggu klnjutn'y y min

    ReplyDelete
  3. Ini drama remake ya mbak? Perasaan dulu pernah nonton drama gang dong won yg ceritanya sama kyk drama ini..

    ReplyDelete
  4. Setuju dengan komentarnya mbak. Terima kasih sinopsisnya. Semoga bersedia terus menuliskan sinopsis lanjutannya mbak..

    ReplyDelete
  5. tengkiuu buat sinopsis yang detail banget,,, ini drama remake tahun 2003 pernah saya tonton tapi versi yang ini jauh lebih ok....ditunggu sinopsis selanjutnya ...

    ReplyDelete
  6. menyesal aku gak baca duluan, rupanya dramanya bagus kali. ditunggu lanjutannya

    ReplyDelete
  7. stuju banget sm komentarnya kak Puji. lama2 aku jd suka sm drama ini. gak nyesel ngikutin dramanya.. gomawo kak Puji sinopsisnya..

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^