SINOPSIS Something About 1% (2016) Episode 2 Bagian 1

SINOPSIS Something About 1% (2016) Episode 2 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: DramaX

[Episode 2: Poin Kemenangan. Aku tidak akan kalah dalam permainan.]
Siang hari, Da Hyun pulang mengajar sembari bercanda bersama anak didiknya. Tanpa ia ketahui, sebuah mobil yang ditumpangi oleh Jae In berselisih arah dengannya.

Jae In masuk ke ruang guru untuk mencari Da Hyun. seorang guru wanita mengatakan kalau Da Hyun baru saja pulang. Kalau ada sesuatu yang mendesak, dia akan membantu menghubunginya. Jae In menolak tawaran itu, tak ada sesuatu yang mendesak kok.
Saat keluar dari ruang guru, Jae In bicara pada dirinya sendiri “Kakek, aku sudah datang sampai ke sini. Aku sudah melakukan apa yang aku bisa. Ini menunjukkan kalau memang kita tak seharusnya bersama.”

Disisi lain, Da Hyun membuka tas –nya untuk mengambil dompet. Dia baru sadar kalau dompetnya ketinggalan disekolah. Da Hyun pun berlari kembali ke sekolah.


Tepat saat itu, Jae In sudah melajukan mobilnya untuk pergi. Ia akhirnya turun dari mobil, melambaikan tangan dengan kikuk dan menunjukkan senyum canggungnya. Dalam benaknya dia meyakinkan kalau semua ini hanya kebetulan. Ini bukan takdir.

Da Hyun heran melihatnya disana, ia hanya menunduk memberikan salam pada Jae In.

Keduanya duduk di cafe dan Jae In memberitahukan bahwa Kakeknya menginginkan mereka menikah. Da Hyun jelas menolak, ini sepertinya tidak ada hubungannya dengannya.

“Jelas ada hubungannya. Karena kau seseorang yang kakek –ku pilih. Dikeluargaku, apapun yang pria itu katakan adalah aturan.”

Tetap saja, Da Hyun menyarankan agar Jae In membicarakan ini bersama kakeknya  daripada dia harus membebani orang lain dengan masalah dalam keluarganya.

“Kau tak seharusnya bersikap kau tidak bersalah. Karena dia ingin kita menikah. Kau dan aku harus terlibat didalamnya.” Jelas Jae In.


Da Hyun meyakinkan bahwa dirinya tak mengenal kakek Jae In, bagaimana bisa dia percaya dengannya. Jae In menggebrak meja karena dia juga tak bisa mempercayainya.

“Kalau begitu jangan percaya padaku. Terserah.” Ucap Da Hyun kesal. Dia bersiap untuk pergi.

“Kau mau kemana? Aku belum selesai bicara.”
Da Hyun mengajak Jae In untuk pergi. Dia ingin agar mereka bertiga bisa bicara. Mereka berdua sama – sama saling tak mempercayai, Da Hyun sama sekali tak tertarik dengan kakek Jae In maupun uangnya jadi dia ingin agar mereka bertiga bicara.

“Apa tidak masalah?” tanya Jae In.

“Aku juga mau tanya hal sama denganmu.” Ketus Da Hyun berjalan keluar cafe.

Sebelum pergi, Jae In menemukan ponsel Da Hyun tergeletak diatas meja dan mengambilnya.


Dia memanggil Da Hyun, “Nona Kim!”

Da Hyun terkejut melihat ponsel miliknya ada ditangan Jae In. Dengan kaku ia mengucapkan terimakasih. Jae In merespon dengan mengangkat kedua bahunya.


“Apa kau tak akan naik?”

Da Hyun menolak masuk dalam mobil, dia akan naik taksi saja. Jae In mengajaknya bersama saja lagipula mereka akan menemui orang yang sama. Da Hyun kekeuh menolak dengan alasan tak mengenal Jae In, bagaimana kalau dia melakukan sesuatu padanya.


Jae In akhirnya menutup pintu mobil dan menatap Da Hyun sambil berkacak pinggang.

“Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak akan menelfonnya?” tanya Da Hyun.

“Siapa?”

“Tentu saja kakekmu. Mungkin dia kaki tangan kejahatanmu juga.” Tuduh Da Hyun.

“Kejahatan?!”

“Maaf, aku tidak seharusnya mengatakan hal-hal seperti itu, benarkan?” olok Da Hyun.


Jae In akhirnya menghubungi kakek dihadapan Da Hyun. Dia memberitahukan kalau wanita yang kakek kenalkan padanya meminta bicara bertiga. Kakek menolaknya, kenapa dia harus ikut campur dalam pembicaraan mereka.

“Dengan siapa lagi dia mau berbicara? Dia bilang tidak mengenal kakek!”

Kakek menolak untuk bertemu, toh itu menjadi misi Jae In untuk meyakinkannya. Dia langsung memutuskan sambungan telfonnya.

Kakek berkata kalau ini giliran Jae In untuk menderita. Tidak semua hal dalam dunia ini berjalan sesuai keinginannya.


“Ada apa? Dia takut waktu kau bilang aku akan datang kan? Kau harus membuat rencana sebelumya kalau kau ingin mengusir berandalan!” tuduh Da Hyun lagi.
Jae In kesal soalnya Da Hyun tetap tak bisa percaya padanya. Tentu saja Da Hyun tak percaya, memangnya dia pikir situasi seperti ini tak terlihat mencurigakan.

“Jadi maksudmu, aku gila?” tanya Jae In.

“Setidaknya kau cukup mengerti.”

Jae In tertawa palsu dengan kerasnya lalu menarik Da Hyun kembali ke dalam cafe. Da Hyun menolak tapi Jae In mengancam akan menyeretnya. Da Hyun ketakutan dan segera melepaskan tangannya dari tarikan Jae In, ia berlari duluan ke dalam cafe.


Da Hyun mengancam akan menelfon polisi. Jae In mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Setelah terjepit karena Da Hyun masih tak mempercayainya, Jae In menunjukkan fotonya yang tersebar di internet. Da Hyun awalnya acuh tak acuh tapi saat melihat foto dalam artikel itu, dia langsung melotot membandingkan Jae In dan fotonya.

“Apa kau percaya padaku sekarang?”

Da Hyun masih enggan untuk mengakuinya, “Aku akui kalian berdua kelihatan sedikit mirip.”

Jae In kesel banget, bukan mirip! Itu memang aku!

Da Hyun merebut ponsel Jae In untuk memastikan sekali lagi. Jae In cuma bisa mendesis sebal melihatnya masih kekeuh tak percaya.

Ketua Tim Kang bertanya pada Kakek, apakah dia memang benar – benar berhutang pada Da Hyun? Dia memang tak tahu hutang macam apa tapi apa tidak sebaiknya membayar hutangnya dengan cara lain. Kalau memberinya CEO Lee Jae In, bukankah dia hanya membuat Da Hyun menjadi musuh?

“Apakah cucuku benar-benar buruk?”

“Tidak. Saat dia tidak punya kekurangan sama sekali adalah sebuah masalah! Berandalan..” Ketua Tim Kang langsung memegang mulutnya yang kebablasan.

Karena itulah, Kakek pikir Jae In membutuhkan Da Hyun. Selama ini Jae In hanya berkencan dengan wanita yang hanya mengincar uang. Dia tidak bisa membiarkannya seperti itu terus. Dan sekarang, kakek merasa waktunya sudah hampir habis.


Di cafe, Da Hyun menyimpulkan kalau Kakek akan meninggalkan warisan untuknya dengan syarat menikahi Jae In. Tapi tetap saja, Da Hyun tak menyukai kondisi semacam ini. Jae In berkata kalau nilai dividen sahamnya selama setahun lebih banyak ketimbang gaji Da Hyun sebagai pengajar selama 10 tahun.

Bukan ‘pengajar’, Da Hyun tak mau dipanggil sebagai ‘wanita’ atau ‘pengajar’ seperti yang Jae In lakukan. Dirinya adalah Guru.

“Pengajar. Guru atau apalah yang penting semuanya mengarah padamu. Lebih baik kalau kita tidak membuang buang waktu membicarakan tentang itu.”


Da Hyun tetap mempermasalahkannya. Sedangkan Jae In tetap ingin membahas tentang permasalahannya, ada banyak sekali uang yang dipertaruhkan di sini! Tapi kau tidak perduli?

“Dengan!....” Da Hyun menggaruk kepalanya yang tak gatal, siapa namamu?

“Lee Jae In.” Jawabnya dengan bete.

Disini Da Hyun ingin mempertegas bahwa dirinya tak dalam kondisi yang memprihatinkan seperti rumahnya mau digusur atau pun kelaparan. Dia masih baik – baik saja tanpa mendapatkan warisan. Jadi kenapa dia harus menikah? Kenapa harus Jae In dari sekian banyak orang?


Tapi Jae In juga memperjelas kalau seandainya Da Hyun mau menikah dengannya, dia akan mendapatkan kekuasaan dari SH Grup. Banyak orang yang menginginkan hal itu dan kalau bisa, Jae In juga akan memilih orang lain.

Kedengarannya menarik tapi Da Hyun tak ingin memilih Jae In sebagai orang yang akan ia nikahi. Da Hyun menduga kakek Jae In punya keinginan kuat untuk menutupi sikap buruknya. Tapi warisan itu sama sekali tak sebanding kalau Jae In termasuk sebagai hadiah gratisnya.


Jae In kembali ke kantornya dengan marahnya. Pengacara Park bertanya apakah guru itu cukup sulit untuk diatasi. Jae In kesal karena dia sama sekali belum mengatasi masalahnya. Guru itu benar – benar menabur garam dalam lukanya, ahli dalam membuat orang marah. Licik. Picik. Tak tahu malu.

Pengacara Park tersenyum, “Dengan kata lain, dia cerdas, pandai dan tak kenal takut?”

“Apa kau tahu apa yang rubah itu katakan padaku? Dia menyebutku hadiah gratis.”

Pftt. Pengacara Park hampir tersedak ingin tertawa mendengar ucapan Jae In. Lalu apa yang akan dia lakukan. Jae In berkata kalau Da Hyun sama sekali tak mau menikah dan tidak tertarik dengan uang maka dia akan menekannya terus sampai hancur. Apa kau pernah melihatku kalah dari orang lain?

Ditoko buku, Da Hyun memilih beberapa buku dan melihat salah satu buku karya Lee Gyu Chul (Kakek Jae In) “Apa kau mengenalku? Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau tidak memberiku uang saja? Itu jauh lebih baik. Kenapa kau harus melibatkan cucumu dalam syaratnya?”


Seseorang menepuk pundak Da Hyun, rupanya dia adalah Ji Soo. Da Hyun langsung khawatir karena Ji Soo tak mengenakan topi. Ji Soo santai saja soalnya dia belum terkenal.

“Tidak, kau sangat terkenal! Kau mulai jadi pembicaraan di internet sekarang!” ucap Da Hyun seraya memakaikan topi dikepalanya.

“Cuma kau yang berpikir seperti itu, guru.”

Da Hyun memintanya tidak memanggilnya seperti itu, dia sekarang adalah ketua fansclubnya. Ia kemudian memberikan tumpukan buku pada Ji Soo, mereka harus menyelesaikan pelajaran ini karena sebentar lagi ada ujian masuk perguruan tinggi. Da Hyun mengajaknya pergi, dia akan membelikan sesuatu yang enak atas nama fans-nya.


Dikantornya, Jae In melihat foto Da Hyun yang sudah lecek. Dia tak akan kalah dalam permainan ini.

-oOo-

5 Responses to "SINOPSIS Something About 1% (2016) Episode 2 Bagian 1"

  1. baru eps awal udh bikin penasaran..
    semangat yak kak buat sinopsis nya.. 😘

    ReplyDelete
  2. Cerita ny seruuu..lanjut ya ka sinopsisny..semangattt..

    ReplyDelete
  3. Lead male nya yg main drinking solo ya?

    ReplyDelete
  4. Ga sabar nunggu kelanjutanny..��

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^