SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 18 Bagian 1

SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 18 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: SBS

Hae Soo tak begitu saja percaya omongan Yeon Hwa yang katanya akan menikah dengan So dan menjadi Ratu. Dia tak mau mempercayainya sebelum mendengar langsung dari So.

Yeon Hwa membahas masalah dalam istana dimana semua keluarga kerajaan berunding untuk menggulingkan So dari takhtanya setelah dia membatalkan pemindahan ibukota ke Seokyeong. Kelurga Ratu Yoo, Chungju cemas karena seseorang yang mereka aniaya menjadi raja.


Banyak hal yang tak bisa So bicarakan dengan Hae Soo, apa sekarang ia memahaminya? Kalau wanita yang hanya puas menempati ruangan kecil ini menjadi ratu, maka masa depan bangsa akan suram. So akan dipaksa untuk turun takhta.

Dan satu hal lagi... Seorang Raja tak boleh menikah dengan wanita yang memiliki bekas luka.

Baik buruknya bergantung pada keputusan Soo, toh mereka juga masih bisa hidup berdampingan bersama – sama. “Aku anggota Keluarga Hwangbo dari Hwangju. Aku putri almarhum Raja Taejo. Kalau bukan aku, siapa yang bisa melindunginya?”

Setelah mengucapkan semua kata – katanya, Yeon Hwa seperti ada diatas angin ketika melihat ekspresi membeku Soo. Ia pun pergi meninggalkannya, sedangkan Soo masih sangat syok. Sepertinya ia melupakan fakta bahwa dirinya memiliki bekas luka sedangkan seorang Raja tak boleh menikah dengan wanita yang memiliki bekas luka.

Sedangkan diruangan So, Wook tengah membicarakan hal yang tak jauh berbeda. Ia mengingatkan kembali akan bekas luka di tangan Hae Soo. So tentu saja dibuat terkejut dan Wook memberikan pilihan, dia akan merelakan Hae Soo atau takhta?

Semburat keterkejutan dalam wajah So langsung berubah cengiran percaya diri. Dia memilih untuk tak merelakan keduanya karena So mencoba meraih posisi ini untuk mendapatkan segalanya.

“Aku..” So menunjuk bekas luka dibawah matanya “..menjadi seorang raja dengan wajah seperti ini.”

Menerima genjatan dari Wook dan Yeon Hwa, pasangan ini menjadi tak bersemangat terutama Hae Soo yang nampaknya begitu memikirkan ucapan Yeon Hwa. Selama makan malam keduanya terus diam dan terfokus pada kegiatan mereka masing – masing.

Seorang keluarga bangsawan menghadap So dan melaporkan banyak kekacauan ini itu yang terjadi dalam istana. Intinya mereka semua tengah melakukan protes akibat keputusan – keputusan yang diambil oleh So.

So sadar akan maksud perkataannya, dia memintanya untuk tak berbelit – belit dan mengatakan apa yang sebenarnya ia inginkan.

Orang itu meminta So untuk menikah dengan Yeon Hwa dari keluarga Hwangbo. Dengan menikahinya maka masalah yang dihadapi oleh So akan teratasi. So tegas mengatakan bahwa ia akan memutuskan sendiri dengan siapa ia akan menikah.

“Apa anda ingin menikah dengan Dayang Damiwon itu? Anda pasti tak berharap ingin menjadi Raja dari awal.” Celetuk orang itu.

Baek Ah langsung membentak ucapannya yang begitu lancang.

Tinggal Ratu Hwangbo yang menemui So untuk ikut menyudutkannya agar menikah dengan Yeon Hwa. Ayah So telah berjuang mendirikan bangsa ini dan telah banyak melakukan pengorbanan. Dan yang membuat Ratu Hwangbo khawatir karena ia telah menelantarkan putranya, alasan itulah yang membuat Ratu Hwangbo menawarkan putrinya pada So.

Ia kemudian memberikan sebuah buku yang ditulis oleh Soo menggunakan huruf hangul. Hae Soo telah menulis kata – kata yang tidak mereka ketahui. Melihat pekerjaannya di Damiwon, mereka bisa tahu kalau dia bukanlah gadis normal. Dia tak punya latar belakang dan memiliki banyak kekurangan.


So meletakkan bukunya dengan kesal “Aku tidak peduli soal itu. Apa hebatnya memang duduk di atas takhta?”

“Kau tahu kau harus mati jika tidak mau duduk disana lagi.” Ujar Ratu Hwangbo.

Hae Soo pergi ke Damiwon untuk menemui Chae Ryung. Ia memintanya untuk tersenyum karena ia akan memberikan sebuah kabar baik. Raja telah mengizinkannya tetap tinggal di istana.

Chae Ryung tersenyum riang, namun keriangan itu sesaat kemudian berubah muram. Ia mendengar kabar kalau Putri Yeon Hwa akan menjadi Ratu. Kenapa dia yang menjadi Ratu bukannya Agasshi? Putri Yeon Hwa sudah memerintahkan mereka untuk melakukan persiapan pernikahan. Ini sebuah kesalahpahaman, kan?

Soo tak bisa memberikan jawaban. Tepat saat itu, Ji Mong datang menemui Hae Soo.

Dia membawa Hae Soo untuk datang ke menara. Tempat dimana para Pangeran sering berkumpul dan melakukan banyak hal bersama. Kehidupan damai yang mereka jalani sebelum adanya perebutan takhta.

Pangeran ke-10 yang sangat menyukai rancangan pesawat disana.

Pangeran ke-3 dan Pangeran ke-8 yang lebih senang membaca buku – buku itu.

Gambar rasi bintang yang sangat disukai Pangeran ke-14. Pangeran ke -9 yang selalu bertanya masalah alkimia.

Dan seorang Baek Ah yang sering menghabiskan waktu menggambar ditangga.

Hae Soo mengerti kalau Ji Mong sangat perduli dengan para pangeran. Ya, oleh karena itu, Ji Mong meminta Soo untuk menyerah. Menyerah dari pernikahannya dengan Raja. Raja pasti akan bersikeras menikah dengan Soo jadi Soo –lah yang harus melepaskannya.

Soo terkejut menerima permintaan seperti itu dari Ji Mong. Tentu saja dia tak mau, dia sudah mengalami banyak hal dan telah menanti saat ini sejak lama. Ia percaya kalau dirinya pasti akan mendapatkan kebahagiaan. Jika akhirnya dia harus menyerah, mungkin dia sudah menyerah sejak dulu. “Jika Raja teguh akan keputusannya, kenapa aku yang harus menyerah? Aku akan bertahan.”

Apa yang telah terjadi pada semua orang yang dulu ada di sini? Tanya Ji Mong mengenang kembali kematian para Pangeran ditangan saudara mereka sendiri. Moo. Eun. Yo. Bau darah yang tercium ketika seorang Raja merasa terancam. Soo tak tahu apa yang akan terjadi, jika seseorang meninggal akibat Soo yang keras kepala, apa dia akan bebas dari rasa bersalah?

Telah banyak kematian yang disaksikan oleh Ji Mong. Agar tragedi tak kembali timbul, Raja harus kuat. Mungkin Hae Soo memang sebuah sumber kenyamanan untuk So tapi dia tidak akan bisa menjadi sumber kekuatan untuknya. Soo tidak akan bisa menjadi istri So.

Mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut Ji Mong membuat dada Hae Soo sesak. Sebuah fakta yang tak dapat dipungkiri namun sulit untuk dibenarkan olehnya.

Nyatanya kejadian ini pun menjadi beban pikiran untuk So, dia termenung di singgasananya dengan wajah serius. Hae Soo tiba – tiba datang dengan ekspresi sumringah. So masih berlagak jual mahal dan mengomentari sikap Hae Soo yang masuk ke ruangannya begitu saja.

“Semua orang sudah tahu kau sangat peduli padaku, Yang Mulia.”

“Karena kau, orang pasti bakal bilang kalau aku hanya menakutkan di luarnya saja.” Balas So.

Kalau begitu, maukah So jalan – jalan keluar dengannya? Ingatkan kalau hari ini diadakan ritual pengusiran hantu.

So menolak soalnya malam ini bukan malam tahun baru, ini cuma malam ritual saja. Hae Soo mengajaknya untuk pergi ke pasar bukan di istana. So sekarang udah gak liar lagi, terlalu mendadak kalau keluar sekarang. Belum ada persiapan dayang dan pengawal.


Hae Soo tersenyum lebar menunjukkan dua topeng miliknya. Tak akan ada yang mengenali mereka. So berfikir sejenak, akhirnya dia luluh juga dan menuruti keinginan kekasih tersayangnya.

Senyum lebar kembali terulas di bibir Hae Soo.




Akhirnya keduanya bisa lolos dan berbaur dalam keramaian kota. Menikmati indahnya lampion warna warni yang begitu cantik menghiasi malam ritual. Keduanya bercanda, berdoa, dan menghabiskan waktu indah mereka malam ini. Malam indah yang lebih dirasa menyesakkan untukku (penonton) karena pada akhirnya kita tahu, bahwa malam indah ini MUNGKIN akan menjadi penutup kebahagiaan mereka.

Hae Soo membawa So menuju ke tumpukan batu tempatnya memanjatkan doa. Meskipun tidak sebagus aslinya tapi tumpukan batu buatannya cukup cantik dilihat. Sepertinya bisa membuat permohonan mereka terkabul. So meledek, dia pasti membuat tumpukan batu itu agar dilamar olehnya.
Ya, Hae Soo membenarkan. Lagipula So yang sudah berjanji akan melamarnya di menara pengharapan. Jadi Soo terpaksa mengumpulkannya sendiri.


“Ketika kita pertama kali bertemu, kau harusnya lari.”

“Aku berlari tapi kau menangkapku.” Balas Hae Soo.

So mengaku tak tahu hal apa yang membuatnya tertarik pada Hae Soo, soalnya sangat banyak yang menarik darinya. So harus hidup dengan Soo. Mereka harus hidup bersama, So menatap ke dua bola mata Hae Soo, mengucapkannya dengan suara pelan namun meyakinkan “Menikahlah denganku..”

Soo tersenyum. Seketika itu pula air mata menggenang, “Aku tidak bisa. Aku.. tidak bisa berbuat apa – apa untukmu kecuali memberikan sebuah kenyamanan. Berat bagiku menikah denganmu.”

So meyakinkan bahwa ia tak akan menyerah dengan bekas luka Hae Soo.


Sekali lagi Hae Soo tersenyum, senyum getir yang sungguh kentara terpoles diwajahnya. Dia juga tidak akan menyerah dan terus berada disamping So. Jika dirinya menjadi Ratu maka aturan istana akan mengekangnya, tak bisa menemui So semaunya dan harus menjaga sikap. Dia tak cocok dengan hal semacam itu. Soo meyakinkan “Aku baik – baik saja.”

Mengusap pipi So penuh kelembutan “Aku sungguh.. baik – baik saja.”

“Kalau memang aku tak bisa menikahimu, kau tak boleh meninggalkanku. Aku tak akan melepaskanmu. Kau tak boleh pergi kemanapun. Aku takkan pernah membiarkan hal itu terjadi.”

So memeluk Hae Soo dengan erat “Hanya kaulah.. ratu bagiku.” ucapnya bersamaan dengan sebutir air mata yang meluncur dipipinya.

Upacara pernikahan kerajaan dilangsungkan, semua orang memberikan salam penghormatan mereka. Yeon Hwa tersenyum senang namun So tetap diam, menunjukkan wajah tak nyaman.


Disisi lain, Soo memandangi baju yang seharusnya kini ia kenakan di upacara pernikahan. Ia mencoba menggunakan pakaian itu, mengusap hiasan rambut yang sebagai pengganti mahkotanya. Dalam batinnya dia ingat ucapan Soo, “Hanya kaulah.. Ratu bagiku.”

Seolah kita bisa menafsirkan bahwa hiasan rambut itu adalah sebuah mahkota. Mahkota ratu dalam hati So.

Hae Soo kembali berdoa di menara batu buatannya. Jung berjalan sambil bersiul mengatakan kalau ia tak datang pesta pernikahan meskipun Yeon Hwa mengundangnya berulang kali. Apa Hae Soo akan tetap bertahan setelah diperlakukan seperti ini?

“Aku tidak sedih. Almarhum Raja Taejo berpesan jangan terlalu fokus pada masa depan. Dia menyuruhkan menghargai saat ini. Itulah yang aku lakukan sekarang.”

“Kenapa kau tak bersandar padaku sekarang? Aku sudah muak dengan tempat ini.” tanya Jung.


Jung mengajak Hae Soo untuk pergi ke tempat yang jauh seperti kupu – kupu yang menjadi hiasan rambutnya. Hae Soo menolak karena Jung paling mau mengajaknya ke medan perang. Jung bersungguh – sungguh dan bersedia membawa Soo keluar dari istana. Dia cukup mengatakan “aku menginginkannya.” Ingai itu!

2 Responses to "SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 18 Bagian 1"

  1. Setidaknya so akhirnya ngelamar soo...ungkapan yg membuat soo makin yakin dengan perasaan pria di hadapannya. Gemes liat soo sekarang yang sudah bisa membalas perasaan so. Ngeliat soo membelai pipi so hal yg cuma dilakukan so sebelumnya, ngeliat soo tersenyum menerima keromantisan so yg sebelumnya ga pernah dilakukan. Semuanya...kok kayak cuma mimpi buat so hahahahaha terlalu indah.
    Soo ya, terimakasih untuk mimpi ini ^^"

    ReplyDelete
  2. Hiiks baca sinop ny aja sedih,,, heuu baru baca karena kuota abis.... hhehehehe

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^