SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 17 Bagian 2

SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 17 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: SBS

Keesokan harinya, Hae Soo terbangun tapi sudah tak ada seorang pun disampingnya. Dia kemudian bertemu dengan Woo Hee, menceritakan kegundahannya setelah So dinobatkan menjadi Raja. Padahal baru sehari tapi ia sudah sadar betapa naifnya dia. Memang sulit untuk menunggu meskipun ia sungguh menginginkan agar So menjadi Raja.


Woo Hee meminta Hae Soo jangan berbicara seperti itu. Raja telah menikah dengan Putri Kyung Hwagung tapi dia menjadi biksu wanita. Posisi Ratu sedang kosong, banyak orang yang memperhatikan Hae Soo jadi dia harus berhati – hati.


Ditengah perbincangan keduanya, Chae Ryung memanggil Hae Soo dengan panik. Rupanya ada utusan Ratu Yoo yang menyampaikan bahwa Ratu Yoo ingin menemui Hae Soo.


Saat Hae Soo menghadap Ratu Yoo, Ratu Yoo tanpa basa – basi meminta Jung mengeluarkan sesuatu. Jung menunjukkan sobekan kertas yang ditulis oleh Yo disaat – saat terakhirnya. Mereka menemukan sobekan itu di kamar mendiang Raja, kalau memang ada kaitannya dengan penerus Raja maka tak mungkin nama So tertulis disana.

Sontak Hae Soo tampak cemas. Jung memintanya untuk bercerita dengan jujur, kalau ia takut maka mereka akan melindunginya. Sekali lagi Jung bertanya, apa benar Raja menyerahkan takhtanya pada So Hyungnim?

“Ya. Benar.” ucap Hae Soo.

Ratu Yoo tentu saja tak percaya dan mengguncang tubuh Soo, memintanya untuk bercerita yang sebenarnya. Dia kenal betul dengan Yo, dia tak akan menyerahkan takhta itu pada So.

So datang dan menghentikan keributan yang diciptakan oleh Ratu Yoo. Ia segera menarik Hae Soo dan meminta Ratu Yoo untuk menanyakan apapun padanya. Ratu Yoo menuntut alasan kenapa So merobek kerta titah Yo.

“Kata siapa aku merobeknya? Aku tidak tahu alasan Yo Hyungnim merobeknya dan hanya meninggalkan pesan terakhirnya. Dia menyerahkan tahtanya padaku dan hal itu tidak perlu diragukan lagi.” Balas So. Hae Soo mengeratkan tautan tangannya dengan So. Keduanya sama – sama melakukan kebohongan atas semua ini.

Jung belum percaya apalagi Yo Hyungnim memiliki seorang putra, untuk apa dia menyerahkan takhtanya pada adiknya?

So menyarankan agar Jung menanyakan sendiri alasannya pada Yo di dunia lain. Toh ada baiknya pula Yo turun takhta, kalau tidak maka istana ini mungkin sudah dipenuhi darah Jung, saudaranya dan juga keponakannya yang ia bantai.

Sontak Ratu Yoo bungkam.

“Ibu Suri, kenapa Ibu tidak berdoa dan melakukan upacara peringatan saja untuk mendiang raja? Aku akan mengunjungi Ibu sesering mungkin disana.”

Ratu Yoo menolak untuk dipanggil Ibu suri karena So –lah yang menjadi Raja. So menegaskan bahwa dirinya adalah Raja dan Ratu Yoo adalah ibunya, sudah sewajarnya kalau dia mendapat gelar Ibu Suri.

“Kau hanyalah pencuri yang merampas takhta anakku.” Tandas Ratu Yoo.

Ucapan itu sungguh menohok So, tanpa banyak kata lagi ia pun menggandeng Hae Soo meninggalkan ruangan. Ratu Yoo meminta Jung untuk menghubungi keluarga mereka di Chungju dan mengadakan pertemuan.

Hae Soo sampai kesusahan mensejajarkan langkahnya dengan So. So menyuruhnya untuk tak menemui mereka lagi walaupun mereka memanggilnya. Hae Soo mengiyakan. So juga memperingatkan agar Hae Soo harus mendapatkan izinnya saat menemui seseorang, siapapun itu dan apapun posisinya.

So masuk dalam ruangan dengan kesal. Hae Soo sepertinya ingin menyampaikan sesuatu namun kasim yang menjaga ruangan So menghadangnya.

Ji Mong menyampaikan pada So bahwa ada rumor yang tersebar. Mereka mempercayai bahwasannya Kyung Chun Won Keun yang harusnya menjadi raja. Menteri Luar Negeri Park Young Gyu mengira So berbohong tentang permintaan terakhir mendiang raja.

Tanpa pikir panjang, So memintanya untuk membunuh dia. Hukum siapapun yang sekiranya merencanakan pengkhianatan. Pengikut-pengikut mendiang raja. Tangkap semua dayang dan tentara yang berada di Cheondeokjeon. Siapa saja yang meragukan titah penerus takhta, jangan biarkan mereka lolos.

Ji Mong sampai terkejut menerima titah So.

“Tak satu orang pun akan luput.” Tanda So dengan wajah mengerikan. Kejam.

Young Gyu menemui Woo Hee untuk memberitahukan bahwa Raja telah memerintahkan penangkapannya. Woo Hee tak mau disalahkan, lagipula Young Gyu sendiri yang telah menyebarkan rumor bahwa titah Raja hanyalah kebohongan.

Tapi Young Gyu memperingatkan bahwa posisi Woo Hee juga tak aman. Kalau dia memberitahukan mereka bahwa dia telah memata – matai So dan Baek Ah, apa posisinya akan aman?


Young Gyu meninggalkan Woo Hee dengan senyum puas. Reflek Woo Hee mengambil pisau kecil dan menusuk leher Young Gyu. Tentu saja Young Gyu terkejut, ia menatap Woo Hee dengan luka dilehernya.

Akhirnya dia pun tumbang dan mencari pegangan, tanpa sengaja ia menarik baju Woo Hee dan membuat hiasan baju miliknya terjatuh.

Setelah kejadian tersebut, Woo Hee masih terus terbayang – bayang dan memegangi hiasan bajunya gemetaran. Baek Ah datang mengagetkan sampai hiasan baju milik Woo Hee terjatuh. Dia memungutnya dan berkomentar kalau dia sudah lama tak melihatnya, benangnya harus diganti karena sudah usang. Woo Hee panik dan cepat – cepat merebut hiasan bajunya. Dia tak mau barangnya diganti dengan apapun.

Baek Ah mengerti karena benda itu pemberian dari ibu Woo Hee. Tapi sepertinya dia harus melakukan sesuatu yang tak disukai oleh orangtua Woo Hee. Ia pikir, ia harus mendaftarkan Woo Hee sebagai anak keluarga baik – baik.

“Apa karena aku berasal dari Hubaekje, ya?” tanya Woo Hee sedih.

Ini semua karena Nenek Baek Ah masih mengingat kejadian di Gyunhwan. Dia melihat keluarganya dibunuh dihadapannya dan ia tak mau berurusan lagi dengan orang Hubaekje. Tapi tak apa, toh semua terjadi sebelum mereka lahir dan Gyunhwan tidak ada hubungannya dengan Woo Hee. Baek Ah hanya ingin menghindari masalah saja. Dia akan ziarah ke makam orangtua Woo Hee untuk meminta maaf.

Ucapan Young Gyu kembali terngiang dalam benak Woo Hee, kalau sampai hubungannya dengan dia terungkap maka posisi Baek Ah tak akan aman. Woo Hee berkata kalau Raja pendiri Goryeo membunuh keluarga Woo Hee dan Raja Woo Hee membunuh keluarga Baek Ah. Apa tak apa – apa mereka bersama?

Baek Ah memegang kedua lengan Woo Hee, meyakinkan “Ini bukan salahku dan itu juga bukan salahmu. Pikirkan saja kita berdua, kecuali kalau kau tak menyukaiku lagi. apapun yang terjadi, kita takkan pernah berpisah.”



So tak mengizinkan Jendral Park yang berniat pensiun dan kembali ke kampungnya. Dia sangat membutuhkannya saat ini. Jendral Park mengaku bahwa kesehatannya belakangan ini memburuk dan ia sudah muak dengan keluarga kerajaan. Setiap kali berkeliling istana, dia selalu mengingat tentang Soon Duk. Ia ingin berpura – pura tak ada apapun yang terjadi tapi dia selalu terbayang saat So mengayunkan pedangnya.

“Jangan pergi.” Pinta So dengan sedih.

“Yang Mulia, demi bangsa dan rakyat bangsa ini jadilah seorang raja yang baik dan bijaksana.” Ucap Jendral Park bersujud dihadapannya.

Malam harinya, So menceritakan kegundahannya setelah ditinggal Jendral Park. Katanya dia sudah muak dengan kerajaan dan takut padanya. So menebak kalau Hae Soo juga sebenarnya penasaran pada siapa Raja sesungguhnya memberikan takhta, ya kan? Hae Soo pasti bertanya – tanya apakah dia mencuri takhtanya atau tidak.

Hae Soo sama sekali tidak penasaran. Dia malah tak ingin mengetahuinya.

Tak ada nama siapapun. Sebenarnya dalam kertas itu tak tercantum nama siapapun sehingga So berinisiatif merobeknya, kalau sampai hal itu ketahuan maka akan menyebabkan kekacauan. Tapi bagaimanapun juga ia telah mengambil alih istana.

“Apa yang kaulakukan itu sudah benar.”

So sedih karena Jendral Park meninggalkannya. Baek Ah menganggapnya sebagai Raja, bukan lagi seorang Kakak. Ji Mong menganggapnya sebagai pengganti kakak tertua. Jung menganggapnya sebagai kakak yang membunuh kakak – kakaknya. Dan ibu sekalipun... So meneteskan air mata dan mengucapkan fakta pilu bahwa ibu “menganggapku pencuri.”

So membenarkan bahwa takhta telah membuatnya takut dan kesepian.

Hae Soo duduk disamping So, menepuk tangannya menyalurkan sedikit ketenangan. Meletakkan kepalanya di pundak So “Aku ada di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Hae Soo sudah pindah ke istana Cheondeokjeon dan Chae Ryung mengantarkan barang – barangnya. Dia membuat sebuah permintaan pada Hae Soo, karena ada penobatan Raja baru maka mereka boleh membebas-tugaskan beberapa dayang. Chae Ryung termasuk yang akan dibebas-tugaskan. Dia meminta Hae Soo untuk membujuk Raja agar ia bisa tetap tinggal di Damiwon.

Setelah menemui Hae Soo, Chae Ryung menemui Won dan memberitahukan kalau Hae Soo akan membujuk Raja untuknya. Tapi bukankah ini sebuah kesempatan agar dia bisa tinggal bersama Won? Dia tak akan tahu kapan bisa keluar dari istana lagi.

Won meyakinkan bahwa mereka masih punya banyak hal untuk dilakukan disini. Saat waktunya telah tiba, ia akan mengeluarkan Chae Ryung.

Tanpa keduanya sadari, tampaknya ada yang melihat kedekatan diantara mereka.

Jung bersama keluarganya meminta otonomi untuk wilayah Chungju. Mereka mencurigai cara So untuk bisa naik takhta. Bagaimana bisa mereka melayani Raja yang tak mendapatkan kepercayaan dari mereka? Loyalitas terjadi karena adanya kepercayaaan.

“Aku juga dibesarkan sebagai cucunya Tuan Yu Geung Dal. Meski begitu, seluruh keluarga itu berniat menentang aku, saat aku jadi raja?” tanya So.

Jung meminta So untuk mempertimbangkan pendapat keluarga lain. Mana ada seorang Raja yang tak mendapatkan kepercayaan dari keluarganya sendiri. So bertanya apakah Jung ingin memutuskan tali persaudaraan mereka?

“Jika memang keinginan mendiang raja  di saat terakhirnya sudah lebih jelas maka kita akan segera tahu.” Tandas Jung.

Ji Mong menyarankan agar So mengambil tindakan. Mereka bisa menunjukkan bukti pesan Raja atau mencari sekutu dari keluarga yang sama kuatnya dengan Keluarga Chungju yu.
“Ternyata sampai akhir, aku bukan anaknya.” Ucap So.


Woo Hee jadi sering melamun. Hae Soo sedang senang mempersiapkan hadiahnya untuk So.

“Soo, jika aku berbuat salah pada orang lain demi kebahagiaanku maka aku akan dapat balasan dari perbuatanku, 'kan? Pasti perbuatanku takkan bisa dimaafkan.” tanya Woo Hee.

“Betul. Kau tidak seharusnya menyakiti seseorang demi menyelamatkan hidupmu sendiri. Tapi...”

Soo tersenyum, tapi ia pikir mereka tak perlu terus – terusan memikirkan hal yang membuat sedih. Banyak hal yang sudah mereka alami bahkan menyebabkan bekas luka ditangan mereka. Mereka hanya menginginkan secercah harapan yang nyaris tak pernah mereka rengkuh. Sepertinya masih bisa dimaafkan, meski sedikit egois.

Saat kembali ke kamarnya, Soo berpapasan dengan Wook. Ia pun meminta dayang yang menemaninya untuk meletakkan barangnya ke kamar. Wook berkata kalau Hae Soo akhirnya memilih So padahal dulunya dia bilang Wook serakah karena menginginkan cinta dan takhta. Tapi sekarang dia malah menjadi kekasih Raja. Mana bisa dia menerima kenyataan?

Setidaknya So sudah jujur pada Hae Soo. So sudah mengatakan bahwa ia tak ingin kehilangan dirinya maupun takhta. Dia mengakui semuanya bahkan keserakahannya. Hae Soo tak punya pilihan dan mencoba memahaminya.

Ada satu hal yang membuat Wook penasaran selama ini, kenapa Hae Soo bersikeras kalau dia tak bisa menjadi Raja? Apa dimata Hae Soo, dirinya sama sekali tak pantas menjadi Raja?

Bukan. Hae Soo berkata kalau bintang So selalu berada disamping Raja. Bahkan Raja Taejo mengetahuinya. Ini bukan salah Wook melanikan sebuah kehendak alam dan takdirlah yang berkata demikian.

“Bintang raja? Semua ini karena bintang yang tak seberapa itu? Hukum alam dan takdir?” tanya Wook tak percaya.


Wook duduk merenung menatap gelang kenangannya bersama Hae Soo. Lantas pikirannya pun melayang, kenangan manis keduanya dimasa lalu yang tak pernah ia lupakan. Tapi kenangan itu hilang seketika saat ucapan Hae Soo mengenai takdir dan hukum alam terngiang dalam ingatannya.

Dia langsung memukul gelang pemberiannya untuk Hae Soo sampai hancur.


Yeon Hwa masuk dalam ruang kerja Wook disaat yang tepat. Wook berubah pikiran dan setuju untuk membantunya menjadi Ratu. Didunia ini tak ada seorang pun yang bisa memiliki segalanya, bukankah itu lebih adil?

Hae Soo meminta So untuk menuliskan kata – kata favoritenya [Ku menunggu di tepi danau, namun, awan mulai mendung] So mengeluh karena Hae Soo memintanya menulis kata – kata itu berulang kali. Tadi juga dia bilangnya mau memberikan hadiah karena sudah memberinya kamar baru, eh ternyata cuma nasi herbal saja.

Loh, buktinya So memakan semuanya sampai tak meninggalkan sebutir nasi pun. Padahal Hae Soo ingin memberikan sedikit untuk Baek Ah dan Ji Mong.

So melarang Hae Soo memikirkan orang lain. Karena .. “Kau milikku.”
Hae Soo heran melihat senyum So sejak tadi. Apa ada suatu hal yang terjadi, dia terlihat senyum terus. So menyuruh Hae Soo jangan sok tahu tentang dirinya. Jika dia terus melakukannya sebelum menikah, mungkin So akan melarikan diri.

Hae Soo meminta izin untuk bekerja di Damiwon siang hari. Dia lelah terus menunggu So sepanjang hari. Meskipun dia tak melayani orang lain, masih banyak yang bisa ia lakukan.

Tentang Chae ryung, Hae Soo memohon agar So bisa membuatnya tetap tinggal di istana. Katanya dia dibebas tugaskan tapi kalau dia pergi, Hae Soo akan kesepian. Hae Soo menunjukkan tampang memelas, sambil merengek “Ya? Ya?”

So emang paling tak bisa menolak permintaan Hae Soo. Ia pun menyetujuinya tapi nanti juga Hae Soo tak akan kesepian lagi. Mereka harus punya anak dan membesarkan mereka.
Hae Soo terkejut, “Anak?”
Hae Soo cemberut karena So membicarakan soal anak padahal mereka belum menikah. So sama sekali tak masalah, mereka bisa menikah? Terserah Hae Soo mau kapan menikahnya. Hae Soo tambah cemberut, dia tak mau menikah. Paling tidak dia harus melamarnya dulu, katanya kemarin ada yang ingin ia katakan di menara pengharapan. Dia tahu kok kalau So sebelumnya berniat melamarnya disana.

So sok jual mahal soalnya dia tak bisa meninggalkan istana segampang itu sekarang. Tapi apa yang harus ia lakukan untuk menyenangkan hati Soo, agar dia mau menerimanya? Ternyata berurusan dengan Hae Soo jauh lebih sulit ketimbang berurusan dengan politik.

Keesokan paginya, tabib memeriksa Hae Soo untuk mengecek kondisi tubuhnya. Dia tampak tak nyaman sehingga Hae Soo memintanya untuk bicara saja. Dia yang akan menyampaikannya sendiri pada Raja.

Tabib memberitahukan bahwa kondisi lutut Hae Soo lemah. Saat dia menerima penyiksaan, lututnya tak menerima perawatan yang seharusnya. Mungkin suatu hari nanti, dia tak bisa berjalan.


Tapi yang lebih parah adalah kondisi jantungnya. Saat dia bekerja terlalu keras atau terkejut, dadanya sesak bahkan pernah pingsan? Hae Soo mengiyakan. Tabib kerajaan mengira kalau Hae Soo  memendam rasa frustasinya. Penyakit jantungnya membuat tubuhnya lemah, ia tak bisa menjamin sampai kapan ia bertahan.

Hae Soo mencoba tetap tegar, “Tolong beritahu aku berapa lama lagi waktu yang kupunya?”

Hae Soo berdoa setelah tabib memperkirakan kalau usianya tinggal 10 tahun lagi. Sungguh tak adil karena usianya baru menginjak dua puluhan. Dia harap hidupnya bisa lebih lama.... bersamanya.

Jung datang, ia menyindir Hae Soo yang mungkin sedang mendoakan So Hyungnim agar ia bertahan lama dalam memimpin kerajaan. Hae Soo mengelak, dia sedang berdoa agar Pangeran ke-14 yang jantan dan baik hati mau menjadi temannya lagi.

Tapi Jung sudah kadung merasa dikhianati, dulu dia bilang tak akan membela siapapun.

Hae Soo pikir Jung salah kalau marah pada So. Apa dia lupa kalau Yo yang telah membunuh Moo dan juga Eun? Jadi wajar saja kalau So yang menjadi Raja saat ini.

Mungkin memang benar, tapi Jung masih berfikiran kalau So yang menimbulkan kesialan ini. Semenjak kedatangannya ke songak, perebutan kekuasaan menjadi semakin rumit. Memang benar kalau dia telah mencuri takhta. Dia khawatir kalau semua orang dalam bahaya. Lalu apakah Hae Soo pikir dia akan menjadi Ratu?

“Entahlah. Aku tak pernah memikirkan hal itu.” ucap Soo tak yakin.

Seorang Ratu harus memanfaatkan koneksi untuk membantu Raja. Karena itulah Raja Taejo memiliki banyak selir. Kalau seperti ini, kemungkinan Hae Soo hanya akan menjadi seorang selir. Jung bertanya apakah Hae Soo mau hidup seperti itu? Lalu bagaimana impiannya naik unta di padang dan berlayar? Jung menyuruh Hae Soo memberitahunya kalau dia sudah muak tinggal di istana.

Hae Soo mengiyakan, dia akan mengingatnya.

Soo pun kembali melanjutkan doanya.


Wook menghadap So sebagai perwakilan keluarga pemuka untuk mengajukan beberapa permintaan. Pertama, pemilihan Panglima Tinggi yang memimpin 300.000 prajurit harus dipilih berdasarkan pemungutan suara. Kedua, meminta Raja untuk membiarkan keluarga kerajaan menangani pajaknya sendiri.

So bisa menebak kalau Wook ingin dia menyerahkan pasukan militer serta uangnya. Memotong kedua sayapnya, tapi dia keliru, ancaman Wook tak akan berhasil.

“Jika kau ingin mempertahankan sayapmu maukah kau menyerahkan hatimu? Keluarga Hwangbo dari Hwangju ingin mengajukan pernikahan denganmu, Yang Mulia.” Ucap Wook.
Yeon Hwa menemui Hae Soo dan memuji dekorasi cantik kamarnya. Hae Soo memintanya tak banyak berbasa – basi dan katakan apa yang ingin ia katakan.

“Kau bisa terus tinggal di sini jika itu maumu. Maksudku aku akan menerimamu sebagai kekasih Raja. Tapi kau tidak akan pernah menjadi selir kerajaan. Aku takkan ikut campur siapa yang melayani Raja siang dan malam.”

Hae Soo terkejut tapi ia masih bilang tak mengerti maksud perkataan Yeon Hwa.


Yeon Hwa menegaskan bahwa keinginannya adalah mendapatkan pengakuan dan penghormatan. Juga, ia ingin putranya kelak menjadi seorang Raja. “Aku akan menikah dengan Raja. Aku akan menjadi istri Raja. Aku akan menjadi Ratu.”

Ditempat lain, Wook berkata bahwa ia akan memberikan seluruh kekuatan keluarga Hwangbo jika So bersedia menikah dengan Yeon Hwa. So sudah duduk di kursi yang sulit didapatkan apalagi dipertahankan. Dia akan melihat dengan jelas kalau keluarga kerajaan bagaikan pedang bermata dua, jika dia ingin mempertahankan posisinya maka ia membutuhkan mereka.

“Aku sudah berjanji akan menikahi orang lain.”


Wook menegaskan bahwa So tak bisa menikahi Hae Soo. So tetap tak perduli, kalau dia mau menikahinya maka dia akan menikah.  

Rupanya So sudah lupa kalau dulu saat Hae Soo menolak untuk menikah dengan Raja Taejo, dia telah melukai tangannya sendiri. Seorang wanita yang memiliki bekas luka tak boleh menikah dengan Raja.

-oOo-

10 Responses to "SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 17 Bagian 2"

  1. Bagaimana ini selanjutnya??? Jadi penasaran bgd ama kelanjutannya..... So akan menikah dg Soo atw tdk???? :'(

    ReplyDelete
  2. Waduhh.. Prnasarn nich..
    Demi mndptkn tahta semua cara d lakuin kya wook dia ga jd raja tp malahan buat rencana agar ade'a jd ratu emg sich dia pinter tp licik kasian soo 😂

    ReplyDelete
  3. Kan lukanya bisa ditutup makeup kayak luka so. Wah.. Cepat ya nulisnya.. Makasih. Keep fight!

    ReplyDelete
  4. Wajar ya dulu so marah banget soo ngelukain dirinya. Emang enak puna bekas luka? Jadi ga bisa nikah kan sekarang looooooool so bisa liat masa depan^^"

    ReplyDelete
  5. Kasian soo...akhirnya gk bs nikah sama laki2 yg dia cintai😢

    ReplyDelete
  6. Kayaknya aku tau jalan ceritanya..
    Pasti nanti haeso nikahnya sama jung karena sakitnya itu dan akhirnya biar dia meninggal wang so tanpa kesedihan...haduhhhh

    ReplyDelete
  7. Oooooaaaalllaaaaaahhh,,, ga bisa nikah juga ternyata, hhahahahhaa

    ReplyDelete
  8. walaupun mimin ngepost sinopsisnya kalah sama web lain, tapi tulisan mimin yg terbaik. Enak dibaca.

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^