SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 14 Bagian 1

SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 14 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: SBS
Dua tahun kemudian, Hae Soo sudah diangkat menjadi Kepala Dayang Damiwon. Chae Ryung juga menjadi dayang disana. Chae Ryung menghampirinya dan memanggilnya dengan sebutan Nona.

Hae Soo menegurnya tapi Chae Ryung beralasan kalau dia sudah terbiasa memanggilnya seperti itu. Ini sudah menjadi kebiasaan sehingga ia tak bisa memperbaikinya. Ia memperhatikan tulisan Hae Soo, apa itu tulisan juga?

Hae Soo membenarkan, dia menyuruh Chae Ryung untuk belajar menulis. Disini Hae Soo mulai menulis menggunakan huruf hangul.

“Selamat ulang tahun..” ucap Chae Ryung seraya menyodorkan kain berbodir. Dia mengingatkan kalau hari ini adalah hari ulang tahun Hae Soo.

Hae Soo menerimanya dengan senang hati, ini cantik. Tapi tetap saja, hadiah paling berarti adalah dengan kehadiran Chae Ryung di Damiwon.

“Ini karena aku dibebaskan atas namamu oleh Pangeran Wook.” Ucap Chae Ryung.

Hae Soo nampak tak terlalu suka ketika mendengar nama Wook disebut.

Baek Ah memberikan hadiah yang ia dapatkan dari Byukrando untuk Hae Soo. Ia rasa ini cocok untuknya. Hae Soo menghirup parfum yang diberikan oleh Baek Ah, dia menyukainya.

“So tak tahu apa yang akan dia pilih, jadi dia berkeliling dan akhirnya kembali tanpa mendapatkan apapun.” Tutur Baek Ah.


So berlagak seperti acuh tak acuh, ini kan hanya ulang tahun Dayang Istana. Hadiah dengan hadirnya Pangeran sudah cukup. Apa lagi yang dia inginkan?

Hae Soo menanggapi dingin tanpa menatapnya. Dia memang seorang Dayang Istana dan dia harusnya sudah berbahagia dengan lahir ke dunia. So tidak bisa membalas ucapan Hae Soo lagi sedangkan Baek Ah tersenyum kecil melihat tingkah keduanya.

Malam harinya, Hae Soo sedang membaca buku. Ia mendengar suara auman serigala tapi dia sama sekali tak takut, ia malah tersenyum kecil mendengarnya.


Iyalah Hae Soo ga takut, soalnya dia tahu kalau pembuat suara serigala itu adalah So. Dia masih bersikap dingin padanya “Apa kau yang membuat suara binatang tadi?”

So membenarkan. Suaranya begitu mirip sampai ia khawatir kalau Hae Soo tak akan keluar menemuinya. Hae Soo mengejek kalau suara tadi tidak mirip anjing ataupun serigala. Suaranya seperti So sedang tersedak kue beras.

So tak memperdulikan ejekannya dan kembali mengaum dihadapan Hae Soo. Meskipun menunjukkan wajah dingin, Hae Soo tak bisa menahan senyum kecilnya.


“Ayo kita pergi, aku akan menunjukkan sesuatu yang indah sebagai hadiah ulang tahunmu.” Ucap So sembari mengulurkan tangannya. Hae Soo masih jual mahal tapi akhirnya menerima uluran tangan So.


Keduanya duduk ditepian kolam yang banyak berterbangan kunang – kunang. Pemandangannya indah dan mereka duduk berdampingan menatap langit. So menunjuk beberapa rasi bintang namun Hae Soo meralatnya, dia salah menyebutkan.

“Apa kau lupa seberapa aku tahu mengenai astronomi?”

“Aku katakan kalau kau sudah salah mempelajari dari awal.” Kekeuh Hae Soo.

Hae Soo menunjuk rasi bintang dilangit itu adalah rasi bintang Cassiopeia. Kisahnya, Ratu Ethiopia, Cassiopeia mengatakan kalau putrinya lebih cantik ketimbang peri laut. Kemudian Ratu mendapatkan hukuman dari Dewa Laut, dia dihukum dengan digantung terbalik dilangit selama setengah hari.

Cerita Hae Soo membuat So teringat akan masa kecilnya.

Saat itu So tak melihat ibunya dalam waktu yang lama. Sampai akhirnya Ibu melahirkan Jung dan suatu ketika ia melihat Jung dipangkuan ibu. Dia berharap kalau Jung akan menghilang, ia ingin menggantikan posisinya. Ibu melihat ekspresinya dan segera menyembunyikan Jung, mungkin dia tahu kalau aku –lah yang akan membunuh saudaraku sendiri.
Seseorang yang memiliki adik akan mengatakan hal yang sama, Hae Soo juga begitu. Dia berharap adiknya pergi. Kenapa adiknya harus ada disekitarnya dan membuatnya kesal.

So tersenyum memperhatikan Hae Soo, “Kau mencoba untuk membuatku menyerah mendapatkanmu atau kau ingin agar aku hanya melihatmu? Setiap aku menemuimu, bebanku terasa lebih ringan. Jadi bagaimana aku bisa hidup tanpamu? Kalau kau tak ingin bersamaku maka jangan beri aku harapan. Untukku... itu adalah penyiksaan.”


Perlahan So mendekatkan wajahnya pada Hae Soo. Hae Soo cepat – cepat menahannya, bukankah dia sudah berjanji untuk mendapatkan izin darinya lebih dulu.

So menyingkirkan tangan Hae Soo dan bersiap menciumnya,  bolehkah aku melakukannya?”

“Tidak. Tidak boleh.” Tolak Hae Soo.

Keduanya duduk dengan canggung namun lagi – lagi So ingin mencuri ciuman. Hae Soo langsung menegurnya, dia sendiri yang mengatakan tak akan melakukannya tanpa izin.

“Aku tak akan melakukannya. Pada tahap ini, kau akan dinikahkan oleh Raja sebagai Istri kedua pria tua.” gertak So.

Hae Soo tidak percaya soalnya Raja sangat menyukainya. So mendesis sebal, pamer!

So merebahkan dirinya di rerumputan. Besok adalah hari libur Hae Soo, ia ingin mengajaknya pergi ke menara pemujaan bersama. Dia ingin mengatakan sesuatu dan ia pikir disana tempat yang tepat, kau mau datang kan?
-oOo-

Saat rapat pagi, Wook menggantikan Raja karena hari ini Raja tak bisa hadir. Dia menyampaikan bahwa Raja ingin mengubah struktur pertahanan istana. Prajurit yang berasal dari keluarga berpengaruh akan di pindahkan ke istana.

Sontak semua orang kasak – kusuk seolah tak setuju. Wook menambahkan bahwa penyakit Yang Mulia semakin memburuk. Mereka semua tahu jika Raja kesulitan untuk hadir di rapat setiap harinya. Ini adalah perintah istana yang tak bisa ditunda.

Seusai rapat, So menghampiri Woo “Kau sepertinya sudah melewati batas akhir – akhir ini. Kau seperti membuat aturan dengan penyakit Yang Mulia sebagai alasan.”

Wook mengaku akan bersikap lebih hati – hati agar orang lain tak menganggapnya demikian.

Faktanya Wook bersikap seperti Menteri Senior sudah membuat semua Klan waspada padanya. Kalau dia terus menekan para klan, meskipun itu kemauan Raja maka kecemburuan akan tetap tumbuh.

Wook tersenyum kecil, awalnya ia mengira So hanya pandai dalam berkelahi tapi ternyata ia cukup bagus dalam politik.

Tentu saja, So belajar agar bisa berhadapan dengan Wook. Ia masih mencurigainya.

“Aku hanya mengisi kekosongan Yang Mulia Raja dan sedikit berlebihan dalam menjalankannya. Aku akan mengingat saranmu. Ini bukan sesuatu yang Menteri Senior Biasa bisa melakukannya.” Ucap Wook kemudian berjalan meninggalkan So.

Raja Hyejong (Pangeran Moo) tengah berendam di Damiwon. Dia terlihat kelelahan dan menceritakan keluhannya pada Hae Soo. Akhir – akhir ini, setelah berendam ia merasa kelelahan. Ketika bangun dari tidurnya, ia tak tahu apakah dia bangun hari ini atau keesokan harinya. Ingatannya kabur.
Dokter mengatakan kalau itu karena Raja kurang tidur. Hae Soo akan menyiapkan teh dan bantal guling untuk membantu tidurnya.


Ia meninggalkan Chae Ryung yang tampak bingung dalam melakukan pekerjaannya. Ia kemudian menambahkan ramuan herbal ke bak tempat Raja Hyejong berendam. Raja tampak tak terlalu suka karena baunya terlalu menyengat.

Saat keluar dari tempat berendam, Chae Ryung melihat Won yang sedang mengintip. Won cepat – cepat bersiap pergi tapi sebelum itu, dia bilang kalau ia mendengar kaca di Damiwon banyak yang pecah. Dia sudah memesan merkuri untuk membuat kaca. Apakah sudah sampai?

Chae Ryung membenarkan kalau pesanan telah sampai. Sebelum pergi, Won sempat menoleh dan tersenyum ke arah Chae Ryung.
Malam harinya, Raja tampak panik meskipun tak ada apapun yang terjadi padanya. Dia mengaku tak bisa tidur dan sekalinya tidur, ia mengalami mimpi buruk. Sekarang sedang musim panas tapi kenapa ia merasa begitu kedinginan?

Wook menatapnya dengan wajah datar “Yang Mulia. aku kira, waktunya telah tiba. Kenapa kau tak memberikan takhtanya padaku? Aku tahu kau menyuruh Ji Mong untuk menyebarkan rumor palsu kalau kau adalah putra naga. Karena kudis di kulitmu, kau memiliki kulit mengerikan seperti sisik.”


Raja terkejut mendengar penuturan Wook. Tapi Wook tetap menyuruh Raja memberikan takhta padanya. Dia akan menjamin hidup Raja sampai akhir hidupnya. Dia tahu kalau takhta ada beban untuknya. Demi kebaikan semua orang, kenapa kau tak melepaskan beban itu?
-oOo-


Keesokan harinya, Raja tak bisa menahan ketakutannya dihadapan semua orang. Ji Mong mengantarkan putrinya menuju ke tandu. Raja memerintahkan putrinya untuk segera pergi, dia harus pergi untuk dirinya dan kerajaan ini bisa bertahan.

Putrinya menangis. Ia menolak untuk menikah.

Ji Mong menyarankan agar Raja tidak melakukan hal ini. Putrinya masih terlalu muda. Bagaimana bisa beliau mengirimnya ke Khitan? Ini tidak bisa dibenarkan.

“Kalau dia melakukan pernikahan dengan Khitan, mereka akan mengirimkan prajurit ketika aku dalam bahaya.” Ucap Raja panik.
Halusinasinya membuat ia semakin panik, ia mendengar ada suara kaki kuda yang mendekat. Ia meminta putrinya untuk segera masuk ke dalam tandu, dia tak akan tahu kapan bisa meninggal.



So tak tega mendengar tangisan Putri. Dia ingat masa kecilnya saat ia tersiksa, dia berdiri diatas benteng dan menangis meminta bantuan. Ratu Yoo mengabaikannya. Dia buang muka tidak perduli kemudian menggerakkan tangan memberi isyarat, prajurit disana pun langsung menembakkan panah ke arah So.
Ia menghentikan tindakan tak masuk akal Raja. Mengirimkan Putri ke Khitan hanya akan menjadikannya sebagai sandera.
Raja memarahi So karena ia tak tahu betapa khawatirnya dia setiap malam. Dia ketakutan akan dibunuh dan tidak bisa tidur sekalipun. Orang yang pernah ia percayai malah meminta takhtanya. Mengatakan padaku untuk melepaskan takhta! Aku dan Putri akan mati kalau terus begini. Siapa yang akan melindungi kita?

“Apa kau akan melakukannya? Apa kau mau menikah dengan Putri untuk melindungi kita?”
Mulut So bergetar menahan amarahnya. Hal mustahil untuk dilakukan karena ia memiliki wanita yang ia cintai, tapi disisi lain ada nasib gadis kecil yang berada diujung tanduk.
Dipinggir danau, Hae Soo sudah berdandan cantik menantikan kedatangan So. Hiasan rambut pemberian So pun ia pakai, ia tersenyum manis ketika memegang jepit rambut tersebut.
So datang dan melihat Hae Soo mengenakan jepit rambut pemberiannya. Tampak ada perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Ia menunjukkan senyumnya untuk menyembunyikan perasaannya saat ini.

“Aigo~ Aku pikir kau tidak akan benar – benar datang, jadi aku sedikit terlambat kesini. Apa kau sudah lama menunggu?”

“Kau bilang kau akan mengatakan sesuatu yang penting.”

Sesuatu yang penting? So pura – pura melupakan apa yang akan dia katakan. Dia bertanya – tanya sendiri, apa yang akan ia katakan ya?

“Kenapa kau bertanya padaku? Kau meminta bertemu disini dan bilang aku harus datang karena sesuatu yang penting.” Ucap Hae Soo kecewa.

“Apa? Kau punya harapan yang tinggi karena mengira sesuatu yang baik akan terjadi? Aku jadi merasa tak enak.”

Hae Soo mengelak tapi wajahnya tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Baiklah kalau begitu, So tetap merasa tak enak hati pada Hae Soo. Dia mengajaknya untuk melakukan hal lain saja.

4 Responses to "SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 14 Bagian 1"

  1. wow... asiknya sudah keluar sinopsisnya. thanks yach
    di tunggu kelanjutannya
    anastasia

    ReplyDelete
  2. Lanjut Part.2 nya min..thx mimin udh update dluan..��

    ReplyDelete
  3. Akhirnya yg ditunggu tunggu. Terima kasih

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^