SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 12 Bagian 1

SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 12 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: SBS
Raja mengutus So untuk pergi ke Dinasti Jin dan mencaritahu seberapa kuat pertahanan mereka. Tanpa banyak alasan, So langsung menerima perintah tersebut. Dia akan meninggalkan Songak sesuai perintah. Hanya saja, Hae Soo tak punya tempat tinggal selain di Damiwon. Tolong kasihanilah dia..

“Apa kau masih saja berpihak padanya?”

Tentu So tak bisa membiarkan Hae Soo begitu saja. Dia bersujud kepada Raja “Aku akan menjalankan tugasku sebagai utusan di Dinasti Jin.”
Setelah So pergi dari hadapan Raja, Raja memerintahkan Ji Mong untuk mengusir Hae Soo ke tempat dimana para pangeran tak bisa menemuinya. Jika So memang tak bisa meninggalkannya, maka dia yang akan membuatnya melupakan gadis itu.

Dikamarnya, Hae Soo masih terus murung setelah eksekusi kematian Dayang Oh. Ji Mong masuk kesana dan berkata bahwa dia (Dayang Oh) memang memiliki martabat layaknya Ratu namun sayangnya dia tidak terlahir dibawah bintang para Ratu.

Apa itu keberuntungan atau kesialan? tanya Hae Soo. Sekian detik kemudian, Hae Soo tersenyum getir karena menganggap semua ini memang sebuah kesialan. Dayang Oh bertemu dengannya kemudian meninggal. Tentu saja kesialan.
Dayang Oh meninggal tanpa dendam ataupun kebencian. Ji Mong meminta Hae Soo untuk percaya, ini adalah sebuah keberuntungan. Sekarang, Hae Soo harus meninggalkan Damiwon tapi tak boleh berpamitan atau menemui Pangeran.
Hae Soo sama sekali tak melontarkan penolakan. Dia hanya bertanya, kemana dia akan pergi? Kemana dia harus pergi supaya tak bisa bertemu dengan para Pangeran?

So tengah mempersiapkan barang bawaannya sebelum pergi, tentu saja alat rias buatan Hae Soo tak ketinggalan. Dia tersenyum menatap alat riasnya. Kemudian, Hae Soo datang dengan kaki terpincang – pincang. Dia kemudian melemparkan senyum kecil pada So dan So pun membalas senyumnya.
Keduanya jalan – jalan ditepian danau. So menanyakan kondisinya. Hae Soo tak bisa memungkiri rasa sakit hatinya tapi sesakit apapun hatinya, dunia ini tak akan pernah berhenti berputar.

So menyarankan agar Hae Soo menyibukkan dirinya, mungkin dengan begitu maka ia akan melupakan rasa sakitnya. Semakin banyak pekerjaan akan semakin cepat melupakannya.
“Yang Mulia, kau juga harus melupakanku.” Ucap Hae Soo menghentikan langkahnya.
Tak begitu menanggapi, So memintanya untuk menunggu di Damiwon. Tunggulah dia sampai tugasnya berakhir.
Hae Soo mengembalikan hiasan rambutnya, dia tidak akan menunggu. Semua ini terjadi karena So telah menolongnya. Dan dia terlihat begitu bahagia ketika bisa kembali ke istana. Hae Soo memohon agar So bisa membedakan mana cinta dan mana pertemanan. Hidupnya akan sulit jika hanya memfokuskan diri pada satu orang.

“Kaulah malah yang terkena sial bila kau berada di sekitarku. Semua orang yang dekat denganku juga begitu.” Ujar So.
So menarik pinggang Hae Soo, menghilangkan jarak diantara mereka. Dia tetap tidak akan melepaskan Hae Soo. Dengan wajah seperti ini, orang lain hanya akan mengutuknya. So mendekatkan wajahnya ke arah Hae Soo tapi Hae Soo buru – buru menunduk, menunjukkan penolakan.

“Bodoh. Aku kan sudah bilang, aku akan meminta izin lebih dulu.” Kata So seraya melepaskan pinggang Hae Soo.
Setelah pelukan terlepas, So malah mencuri sebuah kecupan kilat dibibir Hae Soo “Tapi bohong..” ledek So lalu mengambil hiasan rambut ditangannya. Dia akan meminjam jepit rambut itu sebagai jimat keberuntungan.
So berjalan pergi meninggalkan Hae Soo. Dia menunjukkan jepit rambut ditangannya dengan wajah riang.
Melihat tatapan itu, batin Hae Soo berkata “Aku tak akan menunggumu. Walaupun kau mengorbankan nyawamu untukku, walaupun kau bilang aku ini milikmu, aku tak bisa menunggumu. Aku takut tiap kali kita bertemu. Aku tahu aku mencintai orang lain. Tapi kenapa sulit sekali mengabaikanmu?
Di istana, Wook melihat Hae Soo yang kesulitan menaiki tangga. Ia khawatir melihat kakinya yang terpincang – pincang, ia ingin membantu tapi sebuah ganjalan dihatinya membuat niatannya urung.

Ia memilih meninggalkan Hae Soo.

Hae Soo menoleh, yang ia lihat hanya punggung Wook yang mengabaikannya. Hae Soo yang sempat ingin memanggil Wook akhirnya malah diam. Ia memilih untuk melanjutkan perjalanannya.

Keduanya berjalan menuju ke arah yang berlawanan.
So melakukan perjalanan menuju ke Dinasti Jin dengan mengenakan topeng –nya lagi.
Sedangan saat kepergian Hae Soo meninggalkan istana, Para Pangeran tak ada yang tahu dan hanya Ji Mong yang mengantarnya ke gerbang istana.
Wook sedang melamun sendirian, menuliskan nama Hae Soo diatas kertas. Jung datang dengan tergesa – gesa, dia tak bisa menemukan Kakak Soo dimana – mana. Dia bahkan tak ada di Damiwon, apa mungkin dia sudah diusir?

Tentu saja berita ini membuat Wook terkejut, dia pun bergegas menuju Damiwon.

Benar saja, kamar yang ditempati oleh Hae Soo sudah kosong dengan kasur yang telah tergulung rapi. Seketika Wook terduduk marah, ia meremas kasurnya dan memanggil nama Hae Soo dengan keras, “Soo- ah!”
Diluar istana, Soo nampak berat hati meninggalkan istana. Ia sempat menoleh memperhatikan istana yang tampak megah dari kejauhan.
Ratu Yoo berkata kalau salah satu wanita incarannya telah mati. Apa ini semua rencana Yeon Hwa?

Toh Ratu juga menginginkan kematian wanita itu, ucap Yeon Hwa dengan santai. Ratu Yoo memuji cara bicara Yeon Hwa yang seperti anaknya sendiri. Mereka bisa menjadi rekan yang hebat.
Dengan dingin, Yeon Hwa menolak penawaran tersebut. Dia baru ingat Ibunya pernah diasingkan dari istana karena tuduhan menggugurkan kehamilan dayang kesayangan Raja, dayang itu adalah Dayang Oh. Orang yang telah membunuh dayang kecintaan Raja adalah Ratu Yoo. Ratu Yoo bisa kapan saja diasingkan, mana mau Yeon Hwa menjadi rekannya.
Ratu Yoo tertawa palsu dan meminta Yeon Hwa menjaga ucapannya. Yeon Hwa adalah kaki tangannya.
Yeon Hwa pikir tidak akan ada yang mencurigainya karena dia sudah meminum racun dihadapan semua orang. Sedangkan orang yang mengetahui kenyataan dan orang yang telah membantunya, semua sudah lenyap. Jadi sekarang, (pelakunya) hanya Yang Mulia Ratu sendiri.

Ucapan Yeon Hwa membuat Ratu Yoo bungkam. Yeon Hwa menekankan, “Jangan pernah membuat ibuku berlutut lagi. Ratu Yoo, sebaiknya kau jaga sikapmu.”
Setelah Yeon Hwa pergi, Yo muncul dari balik pagar pembatas. Dia tersenyum bangga melihat kelicikan Yeon Hwa, bagaimana mungkin dia tak jatuh hati padanya. Ratu Yoo menyuruh putranya menjauhi Yeon Hwa, dia lebih ambisius dari kebanyakan pria.

“Itulah serunya.”

“Kau sudah bertemu pamanmu Wang Shik Ryeom?”

Sudah. Yo berkata kalau Paman siap membantu mereka kapanpun. Ibunya akan segera menjadi Ibu Suri. Ratu Yoo paham betul dengan watak Wang Shik Ryeom, dia bertanya apa yang diminta olehnya?

“Dia ingin memindahkan Ibu Kota Goryeo dari Songak menjadi Seoknyang. (dalam masa milenium Pyongyang, Korea Utara)” ucap Yoo.

[Satu Tahun Kemudian]
[26 Tahun Kepemimpinan Raja Taejo Wang Geon]
Yo berjalan dengan para pendukungnya menuju ke istana. Jung dan Wook berpapasan dengan mereka, tumben sekali ada tamu keluarga pedesaan?
Dengan gamblang, Yo memberitahukan kalau orang – orang ini akan memberikan petisi dukungan untuknya. Raja telah mengeluarkan 10 titah baru sebelum meninggal, siapapun diantara putranya bisa mawarisi takhta.

“Aku tak percaya itu.” desis Jung.

Yo menanyakan kabar Jung, katanya dia sudah membasmi perompak tapi sekarang jarang mengunjungi Ibu. Dia sedih. Jung mengaku kabarnya baik – baik saja, Hyungnim tak perlu mengkhawatirkannya. Lagipula, Ibu juga hanya mengandalkan Yo Hyungnim.

“Lihatlah bicaramu itu. Kau sudah berubah sejak kau mulai bergaul dengan Wook.” Sindir Yo.
Disisi lain, Moo gusar karena keputusan yang dibuat oleh Raja. Dia telah mendorongnya ke mulut harimau. Semua saudaranya bisa merebut takhta, sudah barang tentu kalau mereka akan mengincarnya.

“Raja sengaja mengeluarkan 10 Titah itu dengan maksud untuk melihat siapa yang ada di pihakmu, Putra Mahkota.”

Moo tetaplah khawatir kalau saudaranya yang ia sayangi akan terluka karena ini.

Woo Hee tengah menari dihadapan Raja, dia memainkan pedangnya dan melompat ke arah meja Raja. Tanpa ragu, ia langsung menusuk raja menggunakan pedang. Raja pun seketika tumbang.
Ternyata itu cuma imaginasi Woo Hee yang tengah berlatih tari pedang bersama Baek Ah. Baek Ah langsung ngomel karena Woo Hee terus saja mengarahkan pedangnya ke arah sana. Kalau terus begini, dia hanya akan mempermalukan diri sendiri di pertemuan nanti.

“Ayo kita coba lagi.”

Baek Ah menolak, menunjukkan bibir keringnya yang sudah berbusa dari tadi. Woo Hee menunduk karena jarak diantara mereka sangat dekat, mata jeli Baek Ah bisa melihat ekspresi groginya.

“Istriku sudah memasak untukku. Aku harus pergi sekarang.” Ucapnya.

Woo Hee terkejut mendengar Baek Ah sudah menikah. Baek Ah makin meledeknya saja, kenapa? Kau kesal karena aku sudah menikah?
Jelas saja Woo Hee mengelak, bukan urusannya. Tapi sudah berapa lama ia menikah? Sudah punya anak?

Baek Ah berfikir mungkin sudah sampai 20 tahun. Woo Hee merasa tak masuk akal dengan jawaban Jung.

“Memang ada seorang istri. Tapi istri Ayahku. Ibuku sudah menungguku. Jadi aku harus pergi.”

Woo Hee kesal karena ditipu tapi dalam hatinya sebenernya bersyukur juga, dia langsung tersenyum saat tahu kalau Baek Ah cuma bercanda. Sebelum pergi, Baek Ah meminta Woo Hee untuk berhati – hati ketika latihan. Oke?

Woo Hee hanya membalasnya dengan senyuman kecil.
Disisi lain, Soon Duk sedang belajar bersama Eun. Eun ngotot kalau dia sudah membaca buku karya Mencius. Soon Duk tetap tak percaya. Dan pada akhirnya Eun kalah dan Soon Duk memberi tanda disetiap bagian tubuh Eun “Tangan ini milikku.”

Eun menggerutu sebal dan menyuruhnya untuk mencoret saja semuanya.
Soon Duk menurut kemudian berniat mencoret jari Eun. Eun langsung melarang. “Jangan jari ini, jari ini milik Soo.”
Eun tak enak hati saat Soon Duk memunggunginya. Dia pun bertanya dengan hati – hati “kau tidak menangis kan?”

Pisau melayang dan Soon Duk reflek mendorong Eun ke arah meja. Ikatan rambut Soon Duk terlepas dan rambutnya terurai, untuk sejenak Eun terpesona melihat tampilannya.

Soon Duk buru – buru bangkit dari meja, “Ayah!”
Ayah cuma tersenyum polos dan mengejek Eun yang tiduran diatas meja. Bagaimana dia bisa hidup di dunia yang keras ini kalau begitu. Soon Duk sama sekali tak perduli, dia buru – buru meniupi siku Eun yang sakit.
Yo memberikan cincin untuk Yeon Hwa. Dia berjanji akan menceraikan semua istrinya kalau dia sudah menjadi Raja. Yeon Hwa tentu tidak akan percaya begitu saja, apalagi Istri Yo saat ini adalah Putri Perdana Menteri Yeong Gyu.

“Park Young Gyu sebenarnya  berasal dari Hubaekje. Aku hanya membutuhkannya sampai aku menjadi raja. Aku hanya membutuhkannya sampai aku menjadi raja.” Jelas Yo kemudian memasangkan cincin dijemarinya.
Wook datang. Yeon Hwa buru – buru menarik tangannya. Dia mengingatkan bahwa Yo seharusnya tak terlalu sering datang kesini, mereka seharusnya bersikap layaknya musuh. Yo sama sekali tak pikir pusing masalah itu, toh dia datang untuk menemui Yeon Hwa.
“Bagaimana kalau kita mulai menyerang Raja sekarang daripada menunggu begini? Jika Putra Mahkota berhasil menduduki takhta maka semakin sulit bagi  kita menyerangnya.” saran Yo.

Wook menolak untuk melakukan cara picik tak bermoral seperti itu.

“Seorang ayah sendiri saja  tak segan-segan mau membunuh anaknya. Lalu kenapa seorang anak tak bisa menyerang balik?”

Wook sempat terdiam. Yo tertawa geli, dia cuma bercanda. Tapi yang jelas, Yo mengingatkan agar dia tak lupa kalau Wook adalah pendukungnya.
Setelah Wook pergi, Yeon Hwa mengutakan ketidak – setujuan kalau Wook hanya menjadi pion ketimbang merebut takhtanya sendiri.

“Jika kita menghabisi Putra Mahkota maka raja berikutnya akan menjadi pengkhianat. Tapi lain ceritanya kalau pengkhianat menggantikan pengkhianat, dia akan menjadi pahlawan.” Ujar Wook.

Yeon Hwa tersenyum menyadari rencana cerdik kakaknya. Tapi bagaimana kalau sampai Yo berkhianat?

Wook memuji cincin yang tersemat di jari Yeon Hwa. Begitu cocok untuknya. Yeon Hwa bisa menyadari makna tersirat dari ucapan Wook, apa kau ingin menjadikanku sebagai sandera?

“Rekan, jaminan, terserah kau mau menyebutnya apa. Kita saling berhutang satu sama lain, sangat besar. Aku ingin kau melunasinya.”

Yeon Hwa terdiam mendengar ucapan Wook, sedikit kengerian tampak diwajahnya.

9 Responses to "SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 12 Bagian 1"

  1. Wahhhh makin seruuu makin tegang...sukaa lihat eun dan soon duk.. mksh puji sinopsis nya..semangattt part 2

    ReplyDelete
  2. Cepet banget keluar sinopsisnya.. Ditambah comment pribadi disetiap sinopsisnya dong ennie, biar tambah seruuu :)

    ReplyDelete
  3. berasa nonton beneeran...

    gomawoyeo...

    ReplyDelete
  4. Haduuuhh, masa wook jadi mengerikan kaya gitu yaa. Ckckckcck, padahal dulunya baik yah.
    Hmmm
    Q tunggu untuk part 2, semangat

    ReplyDelete
  5. ditunggu sangat part 2 nya... smngat!!" :-)

    ReplyDelete
  6. Buat keluarga apa yg nggak bisa dilakuin wook dan yeon hwa. Buat soo dan baek ah apa yg nggak bisa dilakuin so hahahaha.

    ReplyDelete
  7. tapi bohong.. hahaha wang so ♡

    ReplyDelete
  8. duh lihat wajah sumringah so saat mo pergi bawa jepit rambut sebagai jimat itu lho bikin meleleh sweet banget haha

    ReplyDelete
  9. Serem yaa,, sodaraan tapi sadis semua, kecuali uri eun !!!! Hhahahahaha

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^