SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 14 Bagian 2

 SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 14 Bagian 2
SINOPSIS Love in The Moonlight Episode 14 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2

Ratu Kim tengah melakukan persalinan dipaviliunnya. Raja khawatir ketika menerima kabar bahwa Ratu melahirkan satu bulan lebih awal. Kasim Han menenangkan karena semuanya akan baik – baik saja.


Tabib istana bergegas menuju ke paviliun Ratu Kim namun kehadiran mereka dicegat oleh Dayang Ratu Kim. Mereka berkata bahwa Tabib tak perlu mendampinginya karena Ratu sudah melahirkan dan sudah mulai pulih.

“Kenapa kau tidak memanggilku lebih cepat?”

“Itu terjadi begitu cepat. Aku minta maaf.”

 
Persalinan berhasil dan seorang Tuan Putri lahir kedunia ini. Ratu Kim yang lemas tak menunjukkan rasa suka-citanya. Dayang sigap membopong bayi itu untuk membawanya pergi. Tapi sebelum itu, dia bertanya apakah Ratu Kim tidak akan melihat wajahnya sama sekali?

“Tidak perlu. Bawa dia pergi.” Jawab Ratu Kim dingin.


Ia hanya menoleh pada seorang bayi pria yang sudah berbaring disampingnya. Ratu Kim menatap bayi itu dengan senyum miris, tampak sedikit kesedihan tapi ia menahannya. Ego-nya terlalu tinggi dan lebih mementingkan kedudukan.

Dayang kemudian memberikan bayi Ratu Kim pada Kasim Song.

Keluarga Kim tertawa puas mendengar seorang bayi laki – laki terlahir dari Ratu Kim. Sekarang mereka tinggal memikirkan tentang penghuni baru Dongungjeon, Menteri Ui Gyo menyatakan kekhawatirannya jika Putri Menteri Jo menjadi seorang Putri Mahkota. Lebih baik mereka memilih penggantinya saja.

“Tidak perlu terburu-buru dengan Putri Mahkota.”

Menteri Ui Gyo dan Menteri Geun Pyo setuju dengan ucapan PM Kim.

Kasim Song membawa bayi itu menggunakan gardus dan gerobak. Ia memberikannya pada seorang kurir, keduanya langsung panik ketika bayi itu menangis dan bergegas membawanya keluar istana.
 
Tanpa mereka sadari, Yoon Sung memperhatikan aksi dan mengetahui apa yang mereka lakukan.
-oOo-

Setelah Duk Ho mengungkapkan perasaan kemarin, kini Myung Eun menantikan kehadirannya dan bersembunyi dibalik tembok saat Duk Ho melintas. Ia menghitung sampai tiga kemudian berjalan seolah tak melihatnya.

“Tuan Putri..” tegur Duk Ho.


Myung Eun berlagak terkejut, dengan tingkah acuh tak acuh berkata kalau dirinya sedang jalan – jalan. Kau mau bergabung denganku? Myung Eun langsung berbalik tanpa menantikan jawaban Duk Ho.

Duk Ho mengepalkan tangannya kesenangan dan berjalan mengikuti Myung Eun.
 
Keduanya duduk berdampingan ditepi kolam. Myung Eun mengaku suka dengan sikap Duk Ho yang terkesan tidak perduli membuatnya merasa lebih bebas. Jadi bagaimana kalau mereka bersikap lebih santai saat berdua saja, Duk Ho-ya?

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Soalnya aku tak tahu namamu.” Duk Ho merangkul Myung Eun.

Myung Eun tersenyum malu. Namanya Myung Eun. 

“Aku mengerti, Myung Eun-ah.” Duk Ho menarik Myung Eun mendekat ke arahnya.
 
Sontak Myung Eun gugup dan memejamkan matanya. Duk Ho jelas langsung berfikiran untuk mengecup bibirnya tapi Myung Eun tiba – tiba membuka matanya dan menampar Duk Ho dengan sangat keras. Ini terlalu cepat.
 
“A-a-aku minta maaf, Myung Eun-nim tapi, ini benar-benar sakit.” Gagap Duk Ho seraya memegangi pipinya yang kesakitan.

 
Raja memberitahukan Young bahwa Ratu Kim telah melahirkan seorang Pangeran. Tentu saja Young mengucapkan selamat pada Ayahandanya.

“Sebagai Putra Mahkota, aku tahu bahwa kau tidak bisa begitu saja bahagia atas kelahiran anak laki-laki.”

Young meminta Ayahnya tidak perlu khawatir. Meskipun posisi Raja adalah posisi yang tinggi dan terhormat tapi adiknya baru saja melihat cahaya.
 
Menteri Ui Gyo kira Putra Mahkota sekarang sedang memikirkan banyak hal. Kasim Song membenarkan, apalagi Kasim kesayangannya menghilang.

“Seorang kasim menghilang?”
 
Ya. Kasim yang ada dikediaman Putra Mahkota menghilang tepat dihari kekacauan saat mencari Putri Hong Gyeong Nae. Dia menghilang seperti angin dan sangat mencurigakan.

Dia sering membuat keributan, saat hari pertama saja sudah tertangkap basah mencoba kabur. Baru – baru ini, ditemukan pakaian wanita ditempatnya sehingga Ratu Kim menyeretnya.
 
Seolah memiliki rencana buruk, Menteri Ui Gyo tersenyum licik. Ini semakin menarik.
 
Saat berpapasan dengan Young, Menteri Ui Gyo sengaja mengajaknya bicara. Dia membahas mengenai seorang kasim yang meninggalkan Dongungjeon. Setelah mendengar kekhawatiran Young semakin dalam, Menteri Ui Gyo merasa prihatin padanya.
 
Memang benar. Tapi Young juga ingin memberitahukan jika ia menemukan sebuah fakta menarik saat menyelidiki kriminal yang diseret ke ruang penyiksaan.

“Temuan menarik?”
 
“Hartamu, sejumlah emas batangan, diberikan kepada anggota keluarganya.”

“Apa yang baru saja kau katakan?” tanya Menteri Ui Gyo terkejut.

Nah itulah yang ingin Young tanyakan pada Menteri Ui Gyo. Persisnya, apa yang membuatnya membayar begitu banyak untuk seorang pembunuh yang masuk ke tempat Putra Mahkota?

Menteri Ui Gyo tak bisa memberikan jawaban dan hanya tertawa garing saat Young menuntut jawaban darinya.
 
Menteri Geun Pyo menebak – nebak bagaimana Putra Mahkota mengetahuinya, apa dia memberi nomor pada emas batangan tersebut. Menteri Ui Gyo pusing memikirkannya, dia tak punya penjelasan lain kecuali dia akan dianggap membayar untuk melakukan pembunuhan pada Putra Mahkota.

Posisi keduanya bisa semakin berbahaya kalau kejadian ini membawa dampak negatif untuk PM Kim.
 
PM Kim datang. Mereka berdua buru – buru bangkit dan mengucapkan permintaan maaf.
“Jangan memulai sesuatu yang akan kau sesali.” Ucap PM Kim.
 
Yoon Sung melihat rumah Ra On dan memutuskan untuk pergi ketika melihat penerangannya mulai dimatikan. Tapi ternyata Ra On tidak tidur, dia malah keluar dari rumahnya.

Keduanya akhirnya duduk bersama memandangi bulan.

 
Yoon Sung memuji bulan yang tampak nan cantik. Ia menunjukkan sebuah benda agar Ra On dapat melihat bulannya lebih dekat. Ra On bertanya apa itu?

“Ini dikenal sebagai teropong. Benda ini memungkinkan untuk melihat sesuatu yang jauh lebih dekat.” Jelas Yoon Sung kemudian menunjukkan cara menggunakannya.
Ra On mencoba menggunakan teropong tersebut, matanya seperti dipenuhi dengan pemandangan bulan. Dalam benak Ra On, ia teringat akan ucapan Young.
Entah kau melihatnya dari istana atau banchon, bulan tetap saja bulan. Terlepas dari aku yang seorang Putra Mahkota dan apapun kau, dimanapun dan kapanpun, semuanya baik-baik saja selama hati kita tetap sama. Seperti bulan.”
“Bukankah ini menakjubkan?” tanya Yoon Sung. Ra On tak memberikan jawaban hingga akhirnya Yoon Sung meraih teropong di tangannya. Ia pun bisa melihat raut kesedihan Ra On. Dia menebak kalau Ra On pasti tengah merindukan seseorang yang jauh darinya.
 
Ra On menyangkal. Ia hanya tertarik saat melihat bulan terasa begitu dekat sehingga terlalu lama membuka matanya. Ra On mengerjapkan – ngerjapkan matanya, menahan air mata.
Seorang pria misterius menggunakan tudung bambu datang ke kediaman PM Kim. Penjaga disana mempersilahkannya masuk sambil memperhatikan kondisi sekitar.
-oOo-

Keesokan harinya, PM Kim tahu bahwasannya kasim yang ada di tempat Putra Mahkota adalah anak Hong Gyeong Nae. Mereka sempat bertanya – tanya, bagaimana bisa seorang wanita menjadi kasim dan memata – matai Putra Mahkota? Menteri Geun Pyo menyarankan agar mereka bisa segera menangkapnya.

Menteri Ui Gyo yakin kalau anak itu sudah melarikan diri. Ia tersenyum ketika mengingat wajah terkejut Young saat ia menyebut nama Hong Ra On sebagai putri Hong Gyeong Nae.
“Kalau dia melarikan diri, kita bisa menangkapnya di sana.” Kata PM Kim.

“Mungkinkah kau tahu di mana dia bersembunyi, Tuanku?” tanya Menteri Ui Gyo.
 
Saat tengah bersama dengan PM Kim, Young tetap kekeuh akan memberhentikan Menteri Ui Gyo dalam kurun waktu satu bulan. Dia juga akan meminta penjelasan mengenai emasnya.

“Apa kau tahu informasi apa yang Menteri Dalam Negeri beli dari orang itu?”

“Apa?”

“Hong Ra On.”

 
Young seketika terdiam. PM Kim menambahkan jika Menteri Ui Gyo membeli informasi mengenai gadis itu.

“Apa buktinya?”

PM Kim menjadikan gadis itu sebagai bukti pasti. Dia memastikan akan menangkapnya meski harus memotong lengan dan kakinya. Dia memperhatikan Young, apa mungkin anda juga sudah mengetahuinya?

Young diam termenung tak memberi jawaban.

Malam harinya, Young sama sekali tak bisa bekerja. Pikirannya terus tertuju pada permasalahan pemberontakan. Ucapan dari kriminal yang tertangkap dan mengatakan kalau seorang dari istana telah membantunya. Mata – mata telah membukakan pintu agar mereka bisa masuk.
Young membayangkan jika Ra On telah membuka pintu gerbang Dongungjeon dan membiarkan para pemberontak masuk.
Omong kosong. Young menggelengkan kepala, melenyapkan dugaan – dugaan negatif dalam benaknya. Tapi tetap saja saat ia mencoba bekerja lagi, pikirannya tetap tak bisa fokus.

Pemilihan Putri Mahkota dimulai, ada tiga kandidat yang memberikan salam hormatnya pada Raja dan Ratu.

“Akan menjadi Putri Mahkota macam apa kau?” tanya Raja.

“Aku hanya akan mencintai, mencintai dan mencintai lagi karena aku percaya bahwa hanya hati yang penuh kasih akan menjadi jalan untuk bersabar dan berkorban bagi Putra Mahkota.” Jawab Ha Yeon.

Ratu memalingkan wajah tak suka sedangkan Raja tampak puas menerima jawaban Ha Yeon.


Serombongan dayang menyambut kehadiran Ha Yeon. Mereka menyebutnya sebagai Putri Mahkota dan tandanya Ha Yeon sudah lulus seleksi. Dia akan tinggal di tempat itu selama melakukan pelatihan.

Ha Yeon tampak cukup senang melihat tempat barunya tersebut.
Ra On menghampiri ibunya yang tengah sibuk membereskan baju. Dia mengomentari Ibunya yang terlalu banyak bekerja. Ibu rasa cukup bagus untuk memiliki banyak pekerjaan, dia mendapatkan cukup uang. “Apa semua orang mencari pakaian yang cantik karena mereka ingin menikah? Aku mendengarnya dalam perjalananku ke sini bahwa sudah ada penetapan pernikahan kerajaan.”

“Hm?”

“Pasangan Putri Mahkota sudah diputuskan dan yang tersisa adalah untuk melangsungkan pernikahan. Aku pikir Putri Mahkota adalah putri dari Menteri Ritus.” Jelas Ibu.
Meskipun diam saja, Ra On meremas pakaian yang tengah ia pegang. Dia berkomentar dengan senyum palsu “Itu bagus.”

Dia kemudian membuat alasan untuk pergi dari hadapan ibunya.

Ditaman, Young tidak bisa berkosentrasi ketika tengah membaca bukunya. Ia langsung bangkit dari tempat duduk ketika melihat Ra On datang.
Tapi setelah beberapa saat diperhatikan, seorang yang ia kira Ra On ternyata adalah Ha Yeon. Bukankah kau seharusnya ada di vila kerajaan? Ia sudah mendengar kabarnya kalau Ha Yeon telah menjadi Putri Mahkota.

Ha Yeon tersenyum dan berjanji akan mengabdikan dirinya setulus hati. Young menolaknya, toh ini hanya sebuah kesepakatan jadi tak perlu sejauh itu. Sebagai seorang yang memiliki kesepakatan maka Young juga akan melakukan yang terbaik.

Ha Yeon pun cuma bisa kecewa mendengar ucapan Young.

“Sebaliknya, tolong berjanji satu hal kepadaku.”

“Aku harus berjanji tentang apa kepadamu?” Ha Yeon kembali tersenyum.

“Jangan datang ke tempat ini... Lagi.” Pungkas Young meninggalkan taman.
Tentu saja Ha Yeon semakin sedih dibuatnya, dia hampir meneteskan air mata karena kata-kata Young.
Yoon Sung menemui Ra On yang duduk di pinggiran danau. Dia mengajaknya untuk makan. Ra On menolaknya tanpa basa – basi lagi, berat baginya untuk melihat Yoon Sung karena dia selalu ingin menanyakan kabar Putra Mahkota. Ra On harus melupakannya tapi dia tetap ingin tahu apakah Putra Mahkota makan dengan baik, tidur dengan baik, atau apakah dia sakit.

Sedangkan untuk Yoon Sung yang begitu baik padanya, Ra On merasa membenci dirinya sendiri. Dia memohon agar Yoon Sung tidak menemuinya lagi.

Tidak apa – apa. Yoon Sung sebenarnya memikirkan apakah mungkin Ra On bisa memberikan hatinya padanya.

Ra On tertunduk menahan air matanya.

“Menangislah.” Ucap Yoon Sung. Dia tak akan mengharapkan apapun atau salah paham pada apapun.

Air mata yang tergenang di mata Ra On tak bisa ditahan lagi. Dia menangis sesenggukan dihadapan Yoon Sung. “Aku tidak ingin menangis tapi hatiku terasa sakit.”

Yoon Sung seolah bisa merasakan perasaan Ra On, matanya menunjukkan kesedihan ketika melihat gadis yang dicintai terluka. Ia ingin meraih Ra On tapi tangannya tertahan di udara.

Di istana, Young pun mengalami kesedihan yang sama. Ia mengingat kembali janji Ra On yang tak akan meninggalkannya disaat sulit. Dan juga ciuman terakhir mereka ketika Young tengah tertidur.

Ia berniat melepaskan gelang pasangannya, tapi Young ragu. Young menangis dalam kebimbangannya karena kepergian Ra On yang tanpa kejelasan sama sekali.
-oOo-

Keesokan harinya, Ra On duduk diberanda membereskan barang – barang. Seorang yang tak ia kenali mencari Kasim Hong, dia diutus oleh Kepala Kasim.

“Kau dari istana?”

Orang itu tak menjawabnya dan memberikan secarik kertas pada Ra On.

Ra On membaca isi surat tersebut, “Ada hal-hal yang aku lupa beritahu kepadamu di istana, tentang ayahmu. Aku akan segera mengirimkan tanggal dan waktunya.
Malam harinya, seseorang berjalan menuju ke rumah Ra On. Ra On sepertinya tengah menantikan kehadiran seseorang. Ia langsung berbalik ketika mendengar seseorang melangkah masuk kerungannya.

Dia terkejut melihat sosok yang menemuinya.


PM Kim rupanya sudah mengetahui keberadaan Ra On. Seharusnya gadis itu telah ditangkap dan dengan memanfaatkannya, mereka akan melakukan hal yang lebih besar.

“Lalu... kau berencana untuk melibatkan Putra Mahkota?” tanya Menteri Ui Gyo.

“Kalau berita ini menyebar bahwa Putra Mahkota secara diam-diam berkomunikasi dengan putri pemberontak, menurutmu apa yang akan terjadi?”

Untungnya, orang yang menemui Ra On adalah Young. Keduanya bertatapan dalam diam, tak ada sepatah kata pun meluncur dari mulut keduanya.

Diluar rumah Ra On, prajurit yang dipimpin oleh Menteri Geun Pyo telah bersiap disana. Menteri Geun Pyo melangkahkan kakinya menuju rumah Ra On.
“Aku tak akan memaafkanmu.” Ucap Young.

Dia berjalan menghampiri Ra On kemudian... memeluknya. Memeluknya dengan erat, melampiaskan kerinduannya selama ini.

-oOo-

5 Responses to " SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 14 Bagian 2"

  1. Aduh.....young !knp begitu buru2?
    Jangan2 entar dijebak!
    Tapi apa mau dikata......rindu !!!!!!!
    Kamsaeyo puji.....

    ReplyDelete
  2. berat rasanya rindu dengan orang yg tidak bsa kita miliki...fightinggg young...\^^/

    ReplyDelete
  3. mbaaaakkkkk ... episode selanjutnya
    benar benar benar benar benar di tunggu_T

    ReplyDelete
  4. Aduhhh.. ksian liat putra makota �� knpa di episode ini sngt mnydihkan��

    ReplyDelete
  5. Nyesek.... Sayangnya aku nggk bisa nangis

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^