SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 14 Bagian 1

SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 14 Bagian 1
SINOPSIS Love in The Moonlight Episode 14 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: KBS2

Semua dayang muda yang berniat meninggalkan istana pun dicegat tanpa kecuali. Ra On grogi ketika menunjukkan tanda izin keluarnya. Beruntung Yoon Sung muncul dan mengatakan pada penjaga kalau Ra On akan keluar menemaninya. Apa dia perlu diperiksa lebih lanjut?

 “Tidak.” Jawab Penjaga seraya membungkuk hormat.

Yoon Sung mengisyaratkan pada Ra On agar mengikutinya.


Episode 14: Jalan Berkabut
Keesokan harinya, Kasim Jang menggantikan Ra On untuk memakaikan pakaian Young. Sedangkan Young masih terus termenung mengingat ucapan Byung Yeon bahwa mereka sudah mencari kemana-mana, tapi dia tak menemukan jejak apapun.

Saat rapat pagi, Young membahas mengenai pepatah tentang seorang bayi yang harus membayar pajak dan juga orang mati harus membayar pajak. Menteri Geun Pyo langsung mengerti arah pembicaraan Young, dia sedang membahas mengenai ketidak-adilan dalam pemungutan pajak. Ia beralasan bahwa pekerja pemerintah kadang membuat kesalahan.

“Kenapa kau menyalahkan bagian manajemen? Cari cara untuk mengembalikan pajak yang sudah mereka bayar secara tidak adil. Segera.” Tegas Young.
Menteri Jo menyuarakan ketidak-setujuannya pada keputusan Young. Daripada mengebalikan uang mereka, lebih baik mendisiplinkan praktek kejahatan dengan mendisiplinkan mereka.

Menteri Ui Gyo juga tak setuju apalagi disaat kondisi tengah krisis seperti sekarang.
Dengan nada sarkastik, Young memuji para Menteri yang telah memikirkan keadaan negara. Karena kondisi tengah kritis maka Young akan mengambil langkah berbeda. Dia akan mengurangi gaji semua pejabat.
Sontak keputusan ini membuat semua anggota rapat ribut. Mereka tentu saja menolak keputusan ini.
“Bahkan orang mati di negara ini harus membayar pajak karena kalian yang tidak bertanggungjawab. Bagaimana bisa para bangsawan, akar bangsa ini, mengeluh tentang keputusan ini? Apa kalian semua benar-benar berpikir bahwa kalian layak hidup dari hasil kerja keras bangsa ini?!” kesal Young.
Kasim Jang berjalan menuju ke departemen kasim dengan loyo. Do Gi dan Sung Yeol langung mengomentarinya, berkata kalau Putra Mahkota bertindak seperti es di pertengahan musim dingin. Dia sangat dingin dan tajam, pasti sakit kalau tertusuk olehnya.

Kalau hanya Kasim Jang yang sakit, dia sama sekali tak keberatan. Ia hanya mengkhawatirkan Putra Mahkota yang bekerja siang dan malam.
“Tapi menurutmu kemana hilangnya Kasim Hong kita?” tanya Do Gi.

Kasim Jang juga tak tahu. Dia pergi tengah malam tanpa mengatakan apapun seperti kelinci yang melompat. Hong Sam Nom.. “Aku merindukanmu.”

“Sangat kejam... Tanpa berpamitan, seperti orang yang tak berperasaan.” Imbuh Sung Yeol sedih.
Duk Ho melaporkan pada Young bahwa organisasi awan putih belum menunjukkan pergerakan sampai saat ini. Young menduga mereka akan menunggu sampai situasi lebih tenang.
Selain itu, Duk Ho mendapatkan informasi kalau Menteri Ui Gyo menjual barang dan menerima peti uang. Tapi anehnya peti itu malah kini berada ditangan seorang saudara dari salah satu pembunuh yang mati.

Young menyimpulkan bahwa seorang pembunuh dibayar untuk membantu Menteri Ui Gyo.
Ketika keduanya tengah berbincang, Kepala Investigasi datang melapor. Ia telah menangkap seorang berusia dibawah dua puluh tahun yang terlihat mencurigakan dikediaman Jung Man Sik, seorang pedagang dari kota.
Wajah Young langsung menegang, dia bergegas untuk memeriksanya.

Young masuk ke dalam penjara dan melihat seorang gadis dengan perawakan mirip Ra On. Ia menghampirinya dengan khawatir namun akhirnya ia bisa menghela nafas lega saat mengetahui gadis itu bukanlah Ra On.

Ibu tengah membordir kain dengan gambar anggrek putih. Ra On ingat akan jahitan yang ada di meja milik Kasim Han dan bertanya apakah Ayah tahu tentang arti dari jahitan ibunya? “Dalam mimpi pun aku merindukanmu..”

Mendengar pertanyaan Ra On, ibu malah mengusap tangannya lembut dan bertanya apakah ini semua sulit untuk Ra On?

“Tidak.” Elaknya. “Tapi, bagaimana Ayah dan Ibu bisa bertemu?”
Dengan senyumnya, ibu bercerita kalau dia dan Ayah Ra On adalah teman dari desa yang sama. Beberapa anak menyukai Ibu dan sering membawakannya mainan atau bunga liar yang mereka petik. Tapi Ayah Ra On berbeda, dia datang dan membawakannya gandum atau jagung terkadang malah tanaman liar dari hutan. Ibu tak meminta banyak, yang penting mereka tak kelaparan.  

“Dia tidak punya ambisi.” Komentar Ra On.

Benar. Memang harapan Ayah Ra On hanyalah memiliki ladang untuk digarap, makanan ketika lapar dan rumah untuk berteduh dimalam hari. Ra On terdiam mendengar harapan sederhana Ayahnya. Dia menatap ke arah bordiran bunga anggrek buatan Ibu dengan sedih.

Kasim Han menerima laporan dari Byung Yeon bahwa Ra On telah menghilang sebelum sempat mereka pindahkan ke markas Awan Putih. Hal ini terasa cukup aneh bagi Kasim Han, bukankah dia tak mengetahui tentang keluarganya selama pemberontakan ataupun tentang Awan Putih?

Dengan agak tergagap, Byung Yeon mengatakan kemungkinan Ra On hanya berpura – pura tidak tahu.
Baiklah. Kasim Han menyuruh Byung Yeon untuk pergi. Tapi sebelum itu dia berkata, “Yang harus kau ingat, kalau sampai anak itu tahu siapa dirinya, tempat yang paling aman adalah dengan bersama Awan Putih.”
Yoon Sung menghadap Young dan menanyakan kondisinya. Young berkata kalau seorang yang ia cintai menyatakan perang kemudian menghilang. Ia penasaran apakah orang itu meninggalkan pesan untuknya atau akankah dia mengatakan kemana perginya.

Meskipun salah satu diantara mereka tahu, Yoon Sung pikir dia dan Young tidak dalam posisi untuk saling berbagi informasi.
“Aku ingin bertanya apa kau tahu tentang sesuatu, apapun itu.” tanya Young.

“Aku menyesal karena aku tak bisa membantu apapun, Putra Mahkota.” Jawab Yoon Sung.
Dari apa yang ia dengar, Young menyimpulkan jika Yoon Sung tidak mengetahui sesuatu maka akan berkata tak tahu. Dan jika pun dia mengetahui sesuatu maka ia akan tetap mengatakan tidak tahu.

Yoon Sung membenarkan. Kecewa sekaligus kesal, Young pun meninggalkan Yoon Sung tanpa mengatakan apapun lagi.
Ha Yeon berpapasan dengan Young dan memberikan salam hormat, hanya saja Young sama-sekali tak memperdulikannya. Dia berjalan melewati Ha Yeon tanpa melirik sedikitpun.

“Putra Mahkota..” panggil Ha Yeon menghampirinya “Bahkan saat kita bertemu secara kebetulan, apa kau bahkan tidak akan mengenaliku?”

“Aku tidak melihatmu.” Jawab Young.
Ha Yeon merasa iri dengan Putra Mahkota. Dia juga berharap tak harus melihat Putra Mahkota ketika berpapasan. Lebih baik lagi kalau dia bisa acuh tak acuh saat saling berpapasan. Kenapa anda memiliki ekspresi seperti itu? Itu menyakitiku.

“Hal yang sama berlaku untukmu. Kenapa kau membuat ekspresi seperti itu padaku. Kau mengatakan bahwa ini hanya kesepakatan.”


Ha Yeon gelagapan saat ingin menjelaskan, hanya saja dia ingin mengatakan pada Putra Mahkota untuk tak berjalan dengan lemah seperti itu. Jangan membuat ekspresi seolah dia telah kehilangan seluruh dunianya. Wanita yang ia cintai mungkin akan mengatakan hal yang sama sepertinya.

Dia pun permisi dari hadapan Young. Ia akan menemuinya lagi lain waktu.
Young masih terdiam ditempat. Termenung setelah mendengar ucapan Ha Yeon.

Malam harinya, Young memandangi bulan dilangit. Cahayanya tampak sedikit redup karena awan tipis menyelimutinya.

Ditempat berbeda, Ra On melakukan hal yang sama. Memandangi bulan dan mengenang kembali masa kebersamaan mereka. Ketika keduanya duduk di istana memandangi bulan bersama – sama. Ra On menganggap kalau melihat bulan di istana tampak berbeda. Dia sering berkeliling, di desa Yeongnam bulan tampak bulat dan di desa Honam tampak sabit. Apa kau tak pernah memiliki pikiran acak semacam itu?
Tidak, tidak pernah. Usia lima tahun, Young sudah mempelajari tentang matahari, bulan dan perubahan musim. Bagaimana kau bisa begitu bodoh?
“Iya. Iya.” Jawab Ra On dengan wajah sebal dan berniat untuk pergi.

Young menahannya, sejujurnya dia sendiri merasa lebih bodoh dari Ra On. “Ketika aku kecil, aku mengira kalau istana adalah keseluruhan dunia. Paling tinggi, paling berharga dan paling dalam di Joseon – itulah tempatku dibesarkan.”

“Sepertinya aku lebih baik daripada kau. Bahkan jika itu adalah tempat terendah dan terkumuh di Joseon, aku hanya bermain di kolam besar.” Candanya.
Young kemudian menepuk pundaknya mengisyaratkan agar Ra On bersandar disana. Ra On tersenyum malu dan meletakkan kepalanya dipundah Young sesuai perintah.

Ra On menunduk sedih. “Putra Mahkota..”
-oOo-

2 Responses to "SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 14 Bagian 1"

  1. Ouch....patah hati meereka berdua.....
    Apeuda.......!

    ReplyDelete
  2. Kalo aku sih lebih greget liat scarlet heart dr pd love in the moonlight, tp tetep aja drama ini bikin jantungan d setiap episode ny hahahahah

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^