SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 17 Bagian 2

SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 17 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2

Guru Dasan –lah yang merawat Byung Yeon dan mengatakan bahwa kondisi tubuh dan lukanya sudah sembuh. Young kira Byung Yeon ingin istirahat sedikit lebih lama. Kehidupannya begitu melelahkan.

“Mungkin Ia sedang menyiapkan diri menghadapi Yang Mulia.” Ucap Guru Dasan.

“Ra On.. Tidak kabar darinya?”

Guru Dasan mengangguk. Apa anda kecewa?

Tidak. Dia menghabiskan waktu bersenang – senang dan menikmatinya. Permainan mengejar ekor. Young akan memperhatikan seluruh aktivitas Keluarga Kim, transaksi uang dan orang – orangnya.
Ya. Tapi Guru Dasan berkata kalau menangkap ekor saja perburuan belum selesai. Berhati – hatilah karena mereka bisa saja memotong ekor mereka dan kabur.
Young akan mengingatnya, dia sudah siap akan segala kemungkinan tersebut. Dia juga meminta Guru Dasan bersiap untuk mengisi ruang kosong dalam istana.
Kasim Song bersujud dihadapan Permaisuri Kim dengan ketakutan. Dia memberitahukan bahwa apa yang dikatakan oleh Tuan Yoon Sung memang benar. Dia melihat sendiri kalau anak itu dirawat oleh seorang gisaeng.

Permaisuri Kim meremas rok –nya dengan geram sekaligus khawatir kalau sampai rahasianya terbongkar.

PM Kim berpapasan dengan Young dan berkata kalau diturunkan dari takhta tidaklah terlalu menyedihkan. Beberapa ada yang menikmati hidupnya dengan berburu dan yang lainnya. Mungkin akan lebih baik daripada duduk di singgasana.

Cukup menarik. Tapi ada satu hal yang menahan Young untuk merelakan takhtanya, “Itu adalah kau, Perdana Menteri. Selama Perdana Menteri masih ada,  aku tidak akan meninggalkan istana.”


Ra On tengah menanti ditempat Guru Dasan, Guru Dasan khawatir ketika melihatnya disana. Tidak ada yang mengikutinya? Ra On meyakinkan karena dia sudah mengecek berulangkali dan tak ada apa – apa. Dia mendengar dari ibunya, apakah benar Kim Hyung ada disini?

“Ia masih belum sadarkan diri, tapi sudah membaik.”

Syukurlah, Ra On lega saat mengetahui keadaan Byung Yeon sudah membaik.

Guru Dasan mengajak Ra On untuk menemui Byung Yeon. Kini Ra On duduk disamping Byung Yeon dan mencoba mengajaknya bicara. Pasti sulit untuknya terus bersembunyi selama ini. Apa karena itu Byung Yeon istirahat begitu lama? Musim gugur hampir berakhir, Ra On meminta Byung Yeon berjanji harus sadar ketika semua daun sudah rontok.

“Kim hyung, saat salju turun untuk pertama kali, istana terlihat seperti apa? Saat salju turun di halaman istana, di atap yang rendah Jahyeondang. Pasti indah sekali..”

“Cantik.. Cantik sekali.” terdengar suara lemah seseorang. Ra On langsung menoleh ke arah Byung Yeon dan ternyata dia memang sudah sadarkan diri.


“Kim hyung, kau sudah siuman?”

“Bocah menyebalkan. Kau masih saja cerewet.” Keluh Byung Yeon masih lemah.

Reflek Ra On ingin menyentuh Byung Yeon tapi Byung Yeol langsung terbatuk kesakitan. Keduanya sama – sama tersenyum senang.


Di Jahyeondang, Young duduk dibangku depan dan mengingat kembali masa kebersamaan mereka. Duduk dan makan bersama sambil tertawa menceritakan hal tak penting. Young tersenyum mengingat masa – masa itu.

Terdengar suara langkah kaki seseorang, Young menoleh penuh harap tapi wajahnya langsung berubah kecewa saat tahu Ha Yeon –lah yang datang menemuinya. Ha Yeon duduk disamping Young, apa anda kecewa karena aku yang datang?

“Tidak. Aku hanya terkejut.”

“Sebenarnya, belakangan ini aku menderita sakit hati sendirian.” Ucap Ha Yeon.

“Karena upacara pernikahan?”


Bukan, tapi karena dia sudah mengetahui seseorang yang ada dihati Putra Mahkota. Dia menjadi Putri Mahkota atas dasar kesepakatan jadi ketika ia meminta lebih maka akan sangat memalukan. Ha Yeon harap kalau dirinya bisa fokus menjalankan tugas. Meskipun dia tidak bisa menghibur Young seperti wanita itu, tapi dia ingin menjadi pendamping agar Young tetap menjadi Puta Mahkota. Karena orang yang berada disamping Young, pada akhirnya adalah.. aku.

Ha Yeon tersenyum kecut pada Young yang balas menatapnya, tak mengatakan apapun.
“Ada apa memanggilku kemari?” tanya Yoon Sung.

“Kau tanya karena tidak tahu? Tidak lama lagi Putra Mahkota akan turun takhta. Kapan kau akan berhenti berkompetisi dengan Pangeran baru yang akan jadi Putra Mahkota?” Permaisuri Kim sinis.


Ratu.. tidak.. Bibi.. Selama ini Yoon Sung masih tutup mulut meskipun dia mengatahui segalanya. Dia juga berharap tak mengetahuinya, semua ini hanyalah alasan darah dan daging. Meskipun begitu, Yoon Sung pikir Permaisuri Kim ingin melihat wajahnya sekali saja. Anak yang dibuang karena keserakahannya pada kekuasaan.

“Tutup mulutmu.” Kesal Permaisuri Kim dengan suara bergetar.

“Mengaku saja sendiri. Itu adalah tawaran terakhirku untukmu.”

Diluar ruangan Permaisuri Kim, seorang berjubah merah mendengarkan pembicaraan mereka. Dia tak lain tak bukan adalah PM Kim. Ia pun berjalan meninggalkan ruangan Permaisuri Kim tanpa mengatakan apapun.

Keesokan harinya, Kasim Jang memberitahukan bahwa mereka tak punya banyak waktu lagi. Young masih duduk menanti di Dongungjeon sampai akhirnya Duk Ho datang untuk melapor.

“Bagaimana?”

“Ia ditangkap di pelabuhan saat ingin melarikan diri dari ibukota. Setelah ditanyai, dapat dipastikan Ia yang mengumpulkan para pembunuh itu.” lapornya.

Sekarang waktunya, Young bangkit dari duduk untuk menuju ke aula pertemuan.


Raja sudah mendapat desakan terus menerus dari Menteri Ui Gyo dan Geun Pyo. Mereka menuntut penurunan Young sebagai Putra Mahkota karena tidak meminta maaf atas skandalnya dan juga sering pergi ke gibang serta tempat judi.

Ketika mereka tengah membahas hal itu, Young datang bersama dengan Kasim Jang. Raja langsung menanyakan kebenaran kalau dia meninggalkan istana. Dia pergi kemana?

“Sesuai perkataan Mentri, aku pergi ke gibang dan tempat judi, Yang Mulia.”


Dia mendengar kalau menjadi pemimpin yang baik harus mendengarkan rakyatnya. Sepanjang malam, Young mendengarkan tentang keluh kesah mereka. Menteri Ui Gyo tersenyum sinis “Apakah rakyat yang dimaksud anda adalah penjudi dan gisaeng?”

“Benar. Kenapa? Ada yang salah?” tanya Young polos.

Menteri Geun Pyo mengatakan kalau Dewan Negara, 6 Menteri dan 3 biro sudah mengajukan petisi untuk menurunkan Putra Mahkota dari takhtanya. PM Kim meminta  agar Raja menurunkan Putra Mahkota dari takhta kemudian diasingkan.

kalau memang sudah waktunya maka Young akan pergi. Tapi sebelum itu, dia ingin menceritakan sebuah kisah menarik yang ia dengar di gibang dan tempat judi. Apa kalian mau mendengarnya?

Permaisuri Kim menemui Gisaeng yang dititipi bayi oleh Yoon Sung. Gisaeng itu mengusap tangan Permaisuri Kim dengan khawatir karena ia terlihat begitu kurus. Apa karena ibunya tidak ada saat dia melahirkan...

“Ibu? Jaga mulutmu baik – baik.” tanya Permaisuri Kim sinis.

Gisaeng itu langsung menarik tangannya dan meminta maaf.

Dimana anak itu? tanya Permaisuri Kim. Gisaeng tampak tak mengerti. Permaisuri Kim memperjelas kalau anak yang dia maksud adalah anak yang dibesarkan oleh para gisaeng.


Sontak gisaeng itu terkejut, jangan – jangan.. Dia menggeleng.. tidak? Tidak kan?

“Dimana dia?”

“Tadi, ada orang dari istana yang mengambilnya.”

Permasuri Kim langsung melotot tak percaya. Dia tentu sangat khawatir kalau sampai rahasianya terbongkar.



Young meletakkan gambar beberapa orang dihadapan para menteri. Dia meminta Raja untuk memberinya sedikit waktu. Young menyuruh mereka melihat wajah orang itu baik – baik, mereka terlihat tak asing.

“Tapi, kenapa matanya tertutup semua?”

“Karena mereka sudah mati.” Ucap Young membuat mereka terkejut.

Young berkata kalau orang itu meninggal karena salah buka mulut. Ada juga yang tak boleh membuka mulutnya. Young juga cukup terkejut karena mereka meninggalkan cukup banyak barang bukti. Dia menyelidiki mayat – mayat yang menyusup ke Dongungjeon dan sudah menemukan siapa yang mengumpulkan mereka, yang memberikan perintah dan uang.

“Bukankah kita sudah tahu bahwa pelakunya adalah orang dari Baekwoon?” tanya Menteri Geun Pyo.

“Kita akan mengetahuinya setelah bertanya sendiri.” jawab Young.

Penjaga menyeret seorang kriminal yang sudah menerima siksaan. Young bertanya apakah orang yang memerintahkan melakukan pembunuhan ada disini? Tunjuk dia. Pria itu mengedarkan pandangannya dan menatap Menteri Geun Pyo dan Ui Gyo. Dia menunjuk mereka berdua.

“Orang yang sudah memberikan tanah untuk bertani siapa?” tanya Young.

Kepala Keamanan menunjukkan pembukuan rahasia Menteri Ui Gyo. Mereka telah melakukan penyelidikan dan menemukan bahwa orang memberikan lahan itu adalah Menteri Ui Gyo.


“Lekas katakan, siapa yang menyuruhmu menyalahkan pembunuhan itu pada perkumpulan Awan Putih?!” lanjut Young.

“Itu adalah Mentri Kim Eui Gyo dan Mentri Kim Geun Gyo! Hamba layak mati, Yang Mulia.”

Menteri Ui Gyo mengelak, bagaimana bisa Yang Mulia Raja lebih mempercayai seorang Putra Mahkota yang dikelilingi oleh penjudi dan gisaeng. Semua ini tuduhan palsu. Young sama sekali tak goyah mendengar oceannya, dia memerintahkan Kepala Keamanan untuk membawa mereka berdua ke Biro Investigasi dan melakukan interogasi seutuhnya.


Young melirik benci pada PM Kim yang seolah tak punya sangkut - paut akan apa yang dialami oleh antek  - anteknya.

Ia mengingat pembicaraannya dengan Guru Dasan, kalau seandainya dia sudah berhasil menangkap ekor dan buruannya memotong ekornya. Apa yang harus dia lakukan?

Guru Dasan berkata kalau buruannya adalah seekor harimau besar maka tak akan mudah menangkapnya. Dia harus memotong dari tangan kanan dan kirinya. Sampai akhirnya dia bisa memenggal kepalanya.

Young tersenyum sinis mengingat ucapan Guru Dasan.



Saat pertemuan sudah berakhir, Young kembali menemui PM Kim untuk menunjukkan gambar seorang wanita. Dia adalah dayang yang meninggal tanpa mengatakan apapun. Young dengar, wanita itu baru saja melahirkan tapi anaknya tidak tahu ada dimana. Kira – kira ada kisah tersembunyi apa? Apa perempuan ini, membuatmu penasaran?
PM Kim menatap sekilas dengan wajah datar.

Permaisuri Kim baru saja keluar dari tandunya. Dia melihat Ha Yeon bersama dayangnya tengah bermain dengan bayi. Ia langsung terkejut apalagi saat mengingat Gisaeng mengatakan kalau bayinya dibawa ke istana.

Akhirnya Permaisuri Kim memanggil Ha Yeon untuk bertanya tentang bayi itu. Ha Yeon mengaku kalau bayi perempuan itu dibawa oleh Putra Mahkota. Karena alasan tertentu dia harus merawat bayi itu dan meninggalkannya di Dongungjeon, tapi bayi itu cantik sekali jadi Ha Yeon meminta untuk merawatnya.

“Lihatlah, bukankah Ia sangat elegan?” tanya Ha Yeon.


Permaisuri Kim melihat wajah bayi itu, entah dia merasa sedih atau malah merasa ketakutan kalau rahasianya sampai terbongkar.

Akhirnya Byung Yeon sudah bisa bangun. Young bertanya kenapa Byung Yeon lama sekali tertidur? Byung Yeon mengaku tak punya muka untuk menemui Young.

“Bukankah, kau melindungi wanita yang aku cintai dan aku? Terlebih, terimakasih karena kau tetap hidup.”

“Orang itu (Ra On).. terkadang datang dan merawatku.”


Kalau persiapan sudah selesai, dia akan membawa orang itu kembali ke sisinya. Dengan bersamanya, mereka bisa tertawa, mengobrol dan bahagia seperti dulu. Saat tiba waktunya, mereka bertiga akan kembali ke Jahyeondang lalu minum bersama.

Byung Yeon tersenyum mendengar rencana indah sahabatnya.
Dibalik pagar, Ra On juga bisa mendengar ucapan Young. Ia tersenyum juga mendengar rencana Young.

PM Kim menemui Permaisuri Kim untuk mempertanyakan alasannya ingin menaikkan Pangeran ke singgasana Raja. Anak itu bahkan bukan darah daging dari Keluarga Lee (Marga Keluarga Raja). Permaisuri Kim menekankan agar PM Kim tidak menghina keturunan Raja.

Baiklah, kalau dia memang kekeuh maka PM Kim menyarankan agar dia bisa membuat semua orang tak pernah mencurigainya. Jika dia tak bisa melakukannya, maka ia akan mati.

PM Kim bangkit dari duduknya.


“Perdana Menteri, duduk. Kau pikir kau akan selamat, Perdana Menteri?”

“Apa kau baru saja mengancamku?”

Tak ada pilihan lagi, hidupnya ada ditangan PM Kim. Tapi ingat kalau PM Kim yang telah menempatkan perempuan kotor sepertinya disini. Permaisuri Kim memegang rahasia yang sama seperti PM Kim. Dia, anak yang tak mengenal Ayahnya dan dibesarkan oleh seorang gisaeng bisa duduk disinggasana Ratu. Beraninya kau berbuat begitu! Apakah ada dosa yang lebih besar selain mempermalukan Keluarga Raja Joseon seperti ini?!

“Jaga mulutmu!”

Permaisuri Kim menyuruh PM Kim untuk menyiapkan diri sebelum mengancamnya lagi.

Hubungan antara Yoon Sung dan Young semakin membaik. Keduanya tengan memandangi bulan bersama. Yoon Sung mengaku iri pada Putra Mahkota ketika ia masih kecil, sepandai atau sekuat apapun, dia tetaplah pelayannya.

Young mengetahuinya karena itulah dia haus akan teman. Sedekat apapun dia dengan mereka..

“Kau tetaplah Putra Mahkota yang harus kami sembah.” Sela Yoon Sung.

Young merenung karena mungkin itulah alasan kenapa mereka bertentangan seperi sekarang.



Yoon Sung juga mengaku ingin melepaskan posisinya sebagai pewaris tunggal keluarga Kim. Entah Young bisa mempercayainya atau tidak. Tanpa diduga, Young mengaku percaya karena dia berkali – kali ingin melepaskan posisinya juga. Tapi, dia akan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.

“Tolong lakukan apa yang menurutmu benar.”

“Tapi, kalau kau terluka, aku juga khawatir.” Ucap Young.

Yoon Sung sama khawatirnya, dia takut kalau dia ingin melindungi keluarganya. Maka jika sesuatu terjadi, jangan sampai merasa bersalah. Yang Mulia dan dia, mereka tidak memulai tanpa mengetahui resikonya.



PM Kim merenung dalam kamarnya dan kembali mengingat ramalan seseorang delapan tahun yang lalu. Dimana orang itu mengatakan bahwa Young memiliki aura seorang pemimpin tapi dia memiliki waktu hidup yang singkat. Terlebih, temannya yang menggunakan topi bersulam bangau, dia tak lain adalah Yoon Sung, memiliki aura yang hangat dan tak diragukan memiliki wajah seorang Raja yang besar.

Batin PM Kim berkata, “Jika harus mengakhiri rezim Disnasti Lee, maka harus ada orang yang tepat untuk singasana.”



Yoon Sung menemui kakeknya, “Anda memanggilku?”
-oOo-

Keesokan paginya, kesibukan didapur istana sudah dimulai. Seseorang menggunakan sepatu merah berjalan menuju tungku tempat mendidihkan air. Dia terhenti disana, tampak mencurigakan.


Ha Yeon menemui Young membawakan tonik. Dia mendengar kalau tabib istana membawakan tonik tapi Young menolak untuk meminumnya. Young sempat ingin menolak tapi Ha Yeon memintanya untuk membantunya melaksanakan tugas sebagai Putri Mahkota.

Pelayan mengetes tonik itu lebih dulu kemudian memberikannya pada Ha Yeon. Ha Yeon barulah menghidangkannya pada Young. “Lekas diminum.”



Young menuruti permintaan Ha Yeon dan meminum toniknya. Ha Yeon menyentuh jarinya, dia merasakan sesuatu yang aneh. Ia panik menghentikan Young untuk tak meminum tonik tersebut tapi sayangnya Young sudah meminum beberapa teguk.

Young langsung pucat.


Disisi lain, Ra On mengingat kembali saat Young memutuskan untuk memotong gelang pasangan yang dikenakan oleh Young. Ra On tampak sedih memandangi pergelangan tangannya.


Di Donggungjeon, Young roboh akibat racun yang diminumnya.

-oOo-

7 Responses to "SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 17 Bagian 2"

  1. Hwaaaaaaa,, apa apaan iniiiii,,, apa ramalan ny bener ???? Young-ah !!!

    ReplyDelete
  2. Tidaaaaaaaak..........

    ReplyDelete
  3. Aaaa raon sama young kapan bersatunya? Gregretttt

    ReplyDelete
  4. gak mungkin young meninggal kan ???😞😞😞

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^