SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 15 Bagian 2

SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 15 Bagian 2
SINOPSIS Love in The Moonlight Episode 15 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2

Didepan rumahnya, Ra On sedang mondar – mandir seperti menantikan kedatangan seseorang. Ibu memanggilnya untuk masuk ke rumah. Ra On tersenyum mengiyakan.

Namun secara mengejutkan, seorang pria menggunakan cadar membekap mulut Ra On. Ibu panik dan berniat membantunya tapi seseorang lagi muncul lalu memukul tengkuknya sampai ia pingsan.


Untungnya Byung Yeon datang tepat waktu dan langsung menyerang gerombolan orang tidak dikenal itu. Ia langsung melumpuhkan mereka semua dan berniat menghadang salah satu diantara mereka yang mencoba kabur.

Sayangnya Byung Yeon tak bisa menangkap pria bercadar dan terpaksa membiarkannya lepas.

Ra On panik bukan kepalang karena ibunya pingsan ditanah. Ia memeluknya dengan khawatir.
-oOo-

Keesokan harinya, PM Kim mengunjungi paviliun Ratu Kim untuk menggendong Pangeran yang telah lahir. Ratu Kim mengaku tubuhnya begitu ringan setelah melahirkan seorang Pangeran.

“Dia tampan sekali.”


“Apa kau senang?” tanya Yoon Sung dengan tatapan serius.

Tentu saja. Ratu Kim bahkan tak bisa mengungkapkan kebahagiannya dengan kata – kata.
“Benarkah sebahagia itu?”

Ratu Kim menatap raut wajah Yoon Sung yang terlihat begitu serius. Yoon Sung pun sepertinya tak ingin berlama – lama disana dan segera pamit pergi.
PM Kim seperti merasakan kejanggalan dari sikap Yoon Sung barusan. Dia mengernyit keheranan karenanya.

Malam harinya, Menteri Ui Gyo melakukan pertemuan dengan Pengkhianat Awan Putih. Dia tampak kecewa saat meninggalkan tempat pertemuan.

Tanpa mereka sadari ternyata Byung Yeon melihat pergerakan mereka.
Byung Yeon mengejar pengkhianat tadi dan langsung mencekiknya. Dia meletakkan pedangnya tepat dileher pria itu, “Orang Topeng Putih yang mengikuti Perdana Mentri seperti anjing ternyata kau?”

Pria itu sama sekali tak takut, kalau identitasnya terbongkar memang bagaimana nasib Byung Yeon dan Kepala Kasim. Byung Yeon tak akan bisa melakukan apapun padanya karena yang selama ini disisipkan ke dalam istana sebagai mata – mata adalah Byung Yeon. Kalau dia tertangkap bagaimana? Sedih? Bukankah dia sudah bilang agar Byung Yeon tak seharusnya berteman dengan Putra Mahkota?

Byung Yeon emosi mendengar ocehan Pengkhianat itu. Ia menghantamnya dengan tangan dan memukulnya membabi buta.

Keributan diantara mereka membuat seorang penjaga mendengarnya. Penjaga menghentikan keduanya dan menunjukkan gambar seorang buronan. Dia harus menangkap pria itu atas perintah Putra Mahkota.

Byung Yeon sedikit khawatir dan melihat ke arah pengkhianat.
-oOo-

Keesokan harinya, Young mengumumkan bahwa dia telah menangkap pelaku yang menyusup ke Dongungjeon dan menjebaknya dengan surat palsu. Young melirik ke arah PM Kim “Orang itu mengikuti perintah seseorang.”

Menteri Geun Pyo menyarankan agar Young segera mengirimkan kriminal itu ke Departemen Kehakiman.

“Ia juga meminta hal yang sama. Ia berkata.. Ia akan membongkar segalanya di depan semua orang.” Ucap Young kembali melirik tajam ke arah PM Kim.
Menteri Geun Pyo dan Menteri Ui Gyo panik seusai rapat barusan. Menteri Geun Pyo menyarankan agar mereka menemuinya lebih dulu sebelum terlambat.

Ditempat lain, Kasim Han menemui Ra On dan disini Ra On memang sudah menduga kalau teman Ayahnya mungkin melakukan hal yang sama. Kasim Han membenarkan, dia kini mencari Ra On untuk memintanya melanjutkan tugas sang Ayah.

“Aku tidak mau.” Tolak Ra On tanpa pikir panjang.

Kasim Han menduga kalau alasan Ra On menolaknya karena Putra Mahkota. Tapi sekarang Putra Mahkota sendiri mencoba menunda pernikahan dengan tidak makan dan tidak tidur. Ra On sudah terlalu lama terikat dalam benang kusut dan sekarang ia dihadapkan pada benang kusut lainnya, saat itu.. bukankah lebih baik memotong benangnya tanpa ragu. Kau mengerti apa yang aku katakan kan?

Kasim Han meminta Ra On untuk menjaga kesehatannya, dia akan menemuinya lagi lain waktu. Ra On masih duduk ditempatnya dengan sedih. Ia pasti memikirkan kondisi Young saat ini.

Saat malam sudah larut, Menteri Ui Gyo dan Menteri Geun Pyo menemui Pengkhianat bersama dengan seorang tabib. Mereka saling memberi isyarat dan si tabib langsung menyiapkan jarumnya. Tabib itu berniat masuk ke dalam penjara si Pengkhianat.
“Diwaktu selarut ini.. sedang apa disini?” tegur Young.

“Yang Mulia, sedang apa disini?”

Young mengaku ingin melihat kriminal yang berusaha melukainya. Begitu pula dengan Menteri Ui Gyo, ia ingin melihat kriminal dan memeriksa motifnya.

“Maksudmu, orang itu?” tanya Young seraya menunjuk pria yang sedang tertidur didalam sel.

“Ya. Yang Mulia.”

Tapi tahu darimana kalau dia adalah kriminal yang Young tangkap. Dia belum pernah mengatakan pada siapapun tentang nama dan wajahnya. Penyidik sendiri tidak mengetahui alasannya menangkap pria itu.
Menteri Ui Gyo membeku ditempat. Dia tak bisa mengatakan apa – apa lagi dihadapan Young.

“Sekarang ayo kita tanya, siapa dalang dibalik tindakannya.” Perintah Young.


Saat penyidik berniat membangunkan pengkhianat, ternyata dia sudah meninggal. Young tentu langsung memarahi Menteri Ui Gyo, menuduhnya sudah menyentuh kriminal tanpa melakukan penyelidikan lebih dulu.
-oOo-


Keesokan harinya, PM Kim datang terlambat dan tak mengenakan pakaian kerjanya. Dia mengatakan bahwa dirinya telah melayani negara lebih lama daripada Putra Mahkota yang barusaja diangkat menjadi wali. Dia telah berusaha keras menjalankan negara tapi sekarang dirinya malah dituduh sebagai kriminal.

Demi membuktikan ketidakbersalahannya, PM Kim menyerahkan semua jabatannya.

“Buktikan ketidakbersalahanmu dengan cara lain.” perintah Young.
Menteri Geun Pyo berseru, “Kami semua kriminal. Mohon pecat kami.”

Semua orang dalam ruang rapat pun langsung berseru agar Putra Mahkota mau memperimbangkan kembali keputusannya.

PM Kim meminta Putra Mahkota untuk mempercayainya maka dia akan membawa semua pemberontak yang berusaha mensabotase hubungan diantara mereka.
Prajurit Istana memasang gambar Ra On dipapan pengumuman. Dia dikatakan sebagai dalang dibalik penyerangan Dongungjeon. Semua orang melihat pemberitahuan itu dan seorang pria menggunakan tudung bambu juga membacanya. Tanpa tunggu waktu, pria misterius bertudung bambu itu langsung melepas gambar Ra On dari papan pengumuman.
Young khawatir ketika melihat Ra On diumumkan sebagai kriminal. Byung Yeon yang menemani Young memandangi bulan berkata akan sulit untuk Ra On kalau harus terus tinggal di ibukota.

“Maksudmu dia akan pergi?” Young sedih.

Ra On sibuk memikirkan kembali ucapan Kasim Han. Kasim Han yang menyarankan agar dia memutus saja benang jika ikatannya sudah terlalu kusut.

“Apa dia sungguh tidak ingin sesuatu dariku, ataupun mendengarkan sesuatu dariku? Tidak memberikan pendapat atau meminta tolong. Apa dia tak penasaran apakah aku merindukannya atau tidak? Apa dia.. masih hidup?”

Young berbalik menatap Byung Yeon. Dia ingin menarik kata – katanya kembali, satu kali saja, bolehkah dia menemuinya?

Byung Yeon bingung untuk menjawab permintaan Young.
Malam sudah larut tapi Ibu dan Ra On tak bisa terlelap. Ibu menawarkan kalau mereka pergi saja ketempat yang jauh seperti Qing atau pulau yang jauh dari ibukota. Ditempat dimana tak seorang pun mengenali Ra On. Bagaimana?

Ra On menguatkan dirinya sebelum menatap Ibu. Dia tersenyum ketika berbalik, “Ya. Ayo pergi. Kita tinggal saja ditempat lain.”


Tapi sebelum itu, Ra On ingin melakukan sesuatu. Dia ingin mengucapkan salam perpisahan agar tanpanya, dia bisa hidup dengan baik.

“Agar dia tidak menyimpan rasa lagi padamu?”

“Tidak. Agar dia tidak merasa bersalah lagi.”
Ibu memeluk putrinya, keduanya sama – sama menangis dalam kepiluan mereka.
PM Kim menemukan lukisan yang dibuat oleh Yoon Sung dan membandingkannya dengan gambar Ra On. Hidupnya gadis itu begitu menyedihkan, Ayahnya seorang pemberontak dan dia adalah seorang pemain sandiwara jalanan.

“Dia hidup dengan baik tanpa bantuan orangtuanya.” Sela Yoon Sung.

“Jangan bilang, kau punya hati pada putri pemberontak yang pura-pura menjadi kasim?”

Yoon Sung tak memberikan jawaban tapi PM Kim sudah bisa menafsirkan diamnya sebagai jawaban Ya.
Anak tak berguna, bukankah dia sudah membiarkan Yoon Sung untuk menggambar wanita sebanyak mungkin! Dia boleh tidur dengan siapapun dan ia bisa membawakan gisaeng dari seluruh dunia!

Yoon Sung menyela ucapan kakeknya “Seperti kakek? Setiap malam meniduri wanita lalu dibuang? Baik wanita atau manusia bahkan anakmu sendiri, dipeluk saat diperlukan dan dibuang kalau sudah tak dibutuhkan. Apa itu tradisi keluarga kita? Haruskah aku hidup seperti itu?”

“Apa yang tidak kau suka?” tanya PM Kim.

Yoon Sung tak menyukai lukisan besar yang terdapat dalam benak kakeknya. Gambar dimana ia berperan besar dalam gambar itu.
“Masa depanmu yang telah aku gambar demi klan kita? Kau tak menyukai hal itu?”

Yoon Sung mengiyakan. Meskipun dirinya kasar dan dangkal tapi ia menginginkan hidup yang ia gambar sendiri.

Di Jahyeondang, Young akhirnya bisa menemui Ra On. Dia langsung menghampirinya dan bertanya kenapa ia tampak begitu tegang? Apa saat perjalanan kesini ada yang mengikutinya?

Ra On meremas tangannya seolah mencari meneguhkan hati. “Saat aku bersama dengan Yang Mulia, adalah waktu paling berbahaya. Dengan satu perintah Yang Mulia, aku pasti akan dibawa pergi.”

Young mengambil satu langkah mendekati Ra On tapi Ra On langsung menodongkan sebuah pisau padanya.


Young membujuk Ra On untuk membuang pisaunya. Dia tak akan berusaha melukainya.

“Banyak hal telah berubah dibanding saat anda tidak tahu identitasku, Yang Mulia. Kudengar, Yang Mulia Raja sedang sakit karena perbuatan ayahku 10 tahun silam.” Ucap Ra On dengan tangan gemetaran.

Young mengkhawatirkan tangan Ra On yang bisa terluka karena pisaunya. Tapi Ra On malah semakin mewaspadainya, “Yang Mulia pasti punya banyak kebencian. Tapi, aku juga begitu. Ayahku dibunuh atas perintah kejam siapa?” seru Ra On menangis.

Young tak tahan lagi mendengar ucapan serta sikap Ra On. Ia tanpa ragu menggenggam tangan Ra On dan mengarahkan pisaunya pada gelang pasangan yang terpasang dipergelangan tangannya.

“Apapun katamu, aku akan mempercayainya meskipun sebuah kebohongan. Aku sudah mengerti jadi hentikan. Aku tak akan memintamu bertemu lagi.” Ucap Young. Air mata pun mengalir dipipinya, sedih sekaligus kecewa melihat sikap Ra On.

Sedangkan Ra On membeku ditempatnya. Dia tak bisa berkata apa – apa lagi.
-oOo-

Pernikahan kerajaan siap dilangsungkan, Young dan Ha Yeon tengah melakukan persiapan ditempatnya masing – masing.

Menteri Jo menemui putrinya karena ritual penjemputan akan segera dimulai. Apa dia sudah menyiapkan hatinya?

Ya. Ha Yeon tersenyum mengatakan kalau dia akan terkungkung dalam istana. Menteri Jo berkata bahwa istana memang terlihat megah tapi belum seberapa apalagi Ha Yeon harus menjaga sikapnya yang terbiasa berterus terang.



“Ha Yeon –ah, ini terakhi kalinya aku memanggil namamu sebagai seorang Ayah. Hiduplah dengan sehat dan tak terluka.” Ucap Menteri Jo.

Ha Yeon terharu mendengar ucapan Menteri Jo. Ia pun menghambur dalam pelukan Ayahnya.

Kasim Jang bersiap mengenakan topi dikepala Young, “Tapi, aku juga begitu. Sekarang waktunya untuk menyambut Putri Mahkota. Hamba merasa sangat terharu karena saat pertama kali datang ke Dongungjeon, Putra Mahkota masih kecil. Semoga sehat selalu dan hidup bahagia selamanya.”

Young malah teringat akan kenangannya bersama Ra On. Dia yang selalu bertugas memakaikan topi dan Young setia menjahilinya, menjijit agar Ra On semakin kesulitan meletakkan topi diatas kepalanya.

Ra On menatap ke arah kota dengan tatapan sedih tapi kemudian ia tersenyum pada akhirnya. Ia pun kembali setelah menenangkan diri dibawah pohon, ia tanpa sengaja berpapasan dengan beberapa prajurit. Ra On pun langsung bersembunyi.




“Kenapa kau lama sekali?” tanya Ibu ketika mengira Ra On baru pulang.

Tapi seseorang yang menemui ibu bukanlah Ra On. Dia seorang pria bertudung dan Ibu langsung terpaku melihat sosok pria itu. Hong Gyeong Nae?

Upacara pernikahan siap dilangsungkan namun Raja mendapatkan kabar mendesak dari petugas investigasi.

Ra On sampai di rumah dan menemukan halaman rumahnya sudah berantakan. Ia tak mengerti apa yang tengah terjadi dan melihat Ibu sudah duduk membeku di rumah. Ibu melamun seperti orang linglung.

Young bersiap naik ke tandu namun Kasim Jang memberikan kabar bahwa Raja ambruk. Kasim Jang ingin menyampaikan sesuatu tapi dia tampak ragu. Young memintanya untuk bicara saja.

“Barusan pegawai investigasi kerajaan memberitahuku bahwa Hong Gyeong Nae baru saja ditangkap.”

-oOo-

10 Responses to "SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 15 Bagian 2"

  1. baca sinopsisnya aja deg²an, apalagi nontonnya. gomawo puji dah nulis sinopnya dan hwaiting.. tinggal 3 ep lagi

    ReplyDelete
  2. Makin seruuu .. itu bakalan jadi ga yah upacara pernikahannya .. penasaran πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
    DI LANJUT MBAAAA ... MAKASIH YAH MBAA

    ReplyDelete
  3. Drama yang bikin baper sangat😭😁😁 semangat kakak nulis sinopsisnya.

    ReplyDelete
  4. Drama yang bikin baper sangat😭😁😁 semangat kakak nulis sinopsisnya.

    ReplyDelete
  5. info donk min smpe berpa episode ini?18kah atau 20?pleasee jwb

    ReplyDelete
  6. Ayo dong diselesaiin scepetnya sinopsisnya,udah pnasaran sama endingnya heheheh

    ReplyDelete
  7. Mkasih eonni..bru lihat filmnya bbrapa episode awal...tp gpp yg pnting lanjut bca sinopsisnya hehe....

    ReplyDelete
  8. Mkasih eonni..bru lihat filmnya bbrapa episode awal...tp gpp yg pnting lanjut bca sinopsisnya hehe....

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^