SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 13 Bagian 1

SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 13 Bagian 1
SINOPSIS Love in The Moonlight Episode 13 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: KBS2
Setelah mendengar percakapan antara Ibu dan Guru Dasan, Ra On kini duduk di tepi danau bersama ibunya. Selama ini dia terus berpura – pura menjadi pria, berlari dan bersembunyi. Dulu ia selalu bertanya – tanya tapi sekarang ia mengerti, ibunya tak akan mengatakan kalau dirinya adalah anak seorang pengkhianat yang diketahui seluruh negeri.

Ibu meminta Ra On tak membenci Ayahnya, dia mencoba membuat dunia yang Ra On tinggali menjadi lebih baik. Ra On tetap menangis, seharusnya Ibu mengatakan hal ini sedikit lebih awal.

Keduanya berpelukan saling menguatkan, “Ra On-ah, maafkan aku.”

“Ibu, biarkan aku pergi.”
Tentu saja Ibu khawatir. Ra On meyakinkan dia akan segera kembali, “Dia menungguku, dia tak tahu apa – apa.”

Ibu tahu siapa yang membuat Ra On berat untuk meninggalkan istana. Dia memeluk Putrinya paham. Paham betul perasaannya.

“Apa kau sudah lama menunggu, Yang Mulia?”

Dengan memasang tampang cemberut, Young menghampiri Ra On. Dia sudah berniat tak akan tersenyum saat Ra On pulang. Ra On sudah terlampau jauh melewati waktu yang ia janjikan untuk kembali.

“Kenapa? Kau akan memarahiku lagi?”

“Sepertinya kau mengharapkan hal itu..” ucap Young menyipitkan matanya.

Dia memeluk Ra On, ia sudah memaafkannya berhubung Ra On sudah kembali dengan selamat. Dalam pelukan Young, Ra On tersenyum sekaligus menunjukkan kesedihannya yang mendalam. Dia menitikkan air mata tanpa Young sadari.

Love In The Moonlight Episode 13: Good Bye, with affection.
Keesokan harinya, Ra On memakaikan pakaian Young seperti biasanya. Young celingukan melihat tak seorang pun membantunya. Apakah Hoon Nam (Kasim Jang) yang memerintahkan melakukan pekerjaannya sendirian? Ra On membenarkan, dia sendiri yang sudah mengatakannya pada mereka.

Young khawatir soalnya pekerjaan Ra On sudah banyak. Ra On mengerti tapi dia ingin menghabiskan waktu bersama Young, “Aku tak melihatmu untuk waktu yang lama karena kau sakit.”
Young bersikap serius mengatai Ra On wanita yang cemburuan. Tapi kalau dia memang ingin memilikinya sepenuhnya maka... Young tersenyum, “aku akan membiarkamu melakukannya.”
Ra On meraih tangan Young untuk membuat sebuah permintaan. Bisakah dirinya menghabiskan waktu seharian penuh tanpa jarak dengan Young? Dia bisa bersandar dipundak Young dan melamun dipangkuannya? Dia akan menatap Young ketimbang membaca bukunya?

Tentu saja Young tak akan melarangnya. Tapi akankah Ra On siap?

Ra On tak mengerti maksudnya. Young langsung saja menari tengkuk Ra On mendekat ke arahnya. Ra On salah paham sehinga memejamkan matanya dan sedikit memonyongkan bibir. Young cuma tersenyum geli melihat tingkah Ra On.

Tak ada yang terjadi, Ra On perlahan membuka matanya.
“Jangan mengatakan ini sebagai sebuah permintaan. Apapun itu, aku akan membiarkanmu” ucap Young seraya menyentuh pipi Ra On dengan gemas. Keduanya pun tersenyum berbunga – bunga.

Rapat paginya, Menteri Ui Gyo langsung membahas mengenai penyerangan yang terjadi di Dongungjeon. Bagaimana mereka bisa menerobos istana? Ucapnya berlagak terkejut sekaligus prihatin.

Young menanggapinya dengan sindiran karena Menteri Ui Gyo masih berada disana ketika ia sudah memecatnya.

PM Kim menimpali bahwa Menteri Ui Gyo telah menjadi hamba setia dan mengisi kesenjangan ketika Young tengah sakit. Menteri Jo angkat bicara mendukung Young, tindakan mereka sudah melawan perintah agar Ui Gyo keluar istana dan merenungkan kesalahannya.

Antara PM Kim dan Menteri Jo saling bertatapan menunjukkan persaingan diantara mereka.
Kembali berlagak perduli, Menteri Ui Gyo berkata kalau dia tak mungkin diam ketika bencana tidak terduga melanda istana.

“Tolong terimalah keinginan kami, Yang Mulia.” Ucap PM Kim dan diikuti oleh menteri – menteri lain.
Kepala Penjaga menyampaikan pada Young bahwa saat prajurit sampai ke lokasi kejadian, mereka hanya  menemukan sembilan mayat saja. Mereka tak berhasil menangkap salah satu diantara pemberontak. Insting Young langsung mengatakan kalau ada seseorang dalam istana yang menginginkan kejadian ini. Pemberontak tak akan mungkin masuk ke istana tanpa seorang pun tahu. Mereka harus bisa menemukan kaki tangan yang tersisa.
Byung Yeon menatap raut wajah Young, tatapannya sungguh sulit diartikan.
Tangan Yoon Sung terluka hingga ia kesulitan membawa gulungan dan jatuh berantakan di tanah. Ra On datang membantunya memunguti gulungan tersebut. Melihat kedatangan Ra On, tentu saja membuat wajah Yoon Sung berbinar “Kasim Hong.”

Ra On menyerahkan gulungan tersebut. Sepertinya luka ditangan Yoon Sung membuatnya tak nyaman.
Yoon Sung malah menuduh Ra On yang lebih tak nyaman bertemu dengannya. Ra On terdiam mendengar candaan Yoon Sung. Yoon Sung bertanya mengenai keadaannya, kau pasti sangat ketakutan hari itu?

“Aku baik-baik saja. Aku juga tidak terluka.”

“Bagaimana dengan Putra Mahkota?”
“Aku tidak apa – apa.” Jawab Young tiba – tiba muncul dan menghampiri mereka. “seperti yang kau lihat.”
Keduanya duduk bersebelahan dan Young memecahkan kebisuan diantara mereka dengan berkata kalau dia tidak bisa menghadapi Yoon Sung sebagai diri Yoon Sung. Yoon Sung sama sekali tak heran pasalnya dia memang putra sah tertua yang ada di Klan Kim.
Itu memang tidak salah. Tapi ketika Young melihat Yoon Sung menghalau pedang menggunakan tangannya, itu membuatnya menyesal. Menyesal telah mengabaikan Yoon Sung dan memikirkan dirinya sendiri.
Yoon Sung juga merasa berhutang budi pada Young. Tapi bisakah dia tidak berfikir demikian dan mulai sekarang, dia tidak akan menunggu, memberi perhatian ataupun membantunya?
Young membalas ucapan Yoon Sung dengan tatapan tajam. Dia sama sekali tak ada niatan untuk menghentikannya. Kalau Yoon Sung melakukannya, kemungkinan dia akan mulai menyerah.
Di perpustakaan, Ra On sibuk menata buku – buku. Dia lalu memberitahukan pada Young kalau buku – buku ini sudah di pisah. Sisi ini adalah buku yang harus dianginkan. Yang ini buku bergambar sedangkan buku kosong ada disini.

Young menganggap apa yang Ra On lakukan adalah hal yang sia – sia. Memangnya dia harus melakukan hal semacam itu sekaligus?

“Tidak peduli jika aku melakukan semuanya sekaligus atau melakukannya perlahan-lahan, bagaimanapun itu tetap pekerjaanku.” Ucap Ra On.

Young cuma menoleh sekilas. Menunjukkan senyumnya.
Ra On menawarkan untuk memisah buku cerita yang biasanya dia bacakan ketika memakaikan Young piyama.
Lupakan. Young akan memanggil Ra On kalau ingin mendengarnya.
Sejenak Ra On menunduk, dia menunjukkan senyumnya dengan mata memerah. Senyum kesedihan.

Dia memeluk Young dari belakang dengan tiba – tiba. Ia ingin tetap seperti ini untuk sementara waktu. Young sempat terkejut dengan sikap Ra On tapi kemudian ia tersenyum dan mempersilahkan Ra On melakukannya. Mereka bisa seperti ini untuk waktu yang lama.

Ra On menautkan tangannya dipinggang Young, mengeratkan pelukan. Young pun menggenggam tangan Ra On dengan senyum bahagia tanpa tahu kalau Ra On menunjukkan raut kepedihan dibalik punggungnya.
-oOo-
Ha Yeon menemui Ra On untuk bercerita mengenai perasaannya. Perasaan tulusnya pada Putra Mahkota mungkin tidak akan pernah tersampaikan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menyembunyikan perasaannya agar bisa berada disamping Putra Mahkota. Dia tidak akan menjadi seseorang yang Putra Mahkota sayangi tapi dia masih bisa membantunya.
“Apa itu tidak berat untukmu, nona?”

Dengan senyum tulusnya, Ha Yeon pikir memang cukup berat tapi bukankah akan tiba saatnya ketika Putra Mahkota menyadari perasaannya? Bukankah aku menyedihkan?

Tidak sama sekali. Ra On rasa orang seperti Ha Yeon sangatlah cocok untuk Putra Mahkota. Tolong bantu dia.

Ha Yeon senang mendengar ucapan Ra On, kini ia menganggap Ra On seperti temannya. Dia akan menemui Ra On kalau mengalami kesulitan. Tidak apa – apa kan? Ra On hanya membalasnya dengan senyuman sedih.

Ha Yeon pamit pergi, dia habis menunggu Pangeran ditaman sampai kaki pegal dan sekarang masih terasa sakit.

Sebelum pergi, Ra On memanggilnya “Nona..”
Tak lama setelah itu, Ha Yeon masuk ke perpustakaan dan menemukan Young membaca buku didekat jendela. Young mengira Ra On datang dan langsung merutuk sebal, tapi kemudian dia sadar kalau Ha Yeon –lah yang datang. Bagaimana kau bisa kemari?

Ha Yeon mengaku menggunakan sekutu untuk bisa sampai kesini. Dia bertanya mengenai luka yang dialami Young.

“Aku baik-baik saja. Lukaku sudah sembuh.”
Ha Yeon membahas perbincangan mereka yang sempat tertunda. Mengenai seseorang yang ada dalam hati Young. Dia adalah seseorang yang tidak bisa menikah?

“Apa yang sebenarnya kau katakan?”

Ha Yeon ingin menjadi kawan Young. Pernikahan kerajaan tak bisa selamanya ditunda dan tidak bisa dihindari. Bagaimana kalau Young menempatkan seseorang yang bisa membantunya dan mengukuhkan posisi Yang Mulia?

“Apa kau akan menjadi seseorang yang membantuku?” tanya Young.
Iya. Ha Yeon akan membantu Young mewujudkan ambisinya dan melebarkan sayap. Manfaatkanlah aku dan Klanku.

-oOo-

5 Responses to "SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 13 Bagian 1"

  1. Hadeuh.....mesti siap2 tisu yg banyak nih.kayaknya sad scenenya udah mau mulai.....ha yeon nah....charesso!!!!!!
    Ra on ah......fighting!takdir pasti menemukan jalan utk yg setia pada cintanya! Chie!.....and puji!kamsaeyo.....:-) (nur, nurilasoka@gmail.com)

    ReplyDelete
  2. Udh g semgt nonton..., ep 13 pahit. Bgt.

    ReplyDelete
  3. Emang ga bisa benci juga sama hayeon, dia tulus suka sama putra mahkota

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^