SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 4 Bagian 2

SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 4 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: SBS


Selepas menerima jepit rambutnya dari Yeon Hwa, So pun melanjutkan jalannya. Dia berpapasan dengan Wook. Tanpa basa – basi, Wook langsung menegaskan bahwa semua yang ada disini bukanlah milik So. Bukan Yeon Hwa. Bukan Hae Soo. Mereka semua adalah orang – orangnya.

So tetap diam mendengarkan seraya memicingkan matanya.

“Saat mengenai adikku atau sepupu istriku, kau tidak boleh sembarangan lagi terhadap mereka.” tandas Wook sebelum meninggalkan So.


Ketika malam telah larut, Hae Soo tidur dengan merintih kesakitan. Ia harus tengkurap karena punggung masih begitu nyeri.

Bayangan seseorang datang di depat pintu, suara Wook terdengar mengatakan kalau dia membawakan obat. Dia meminta Hae Soo untuk mengoleskannya, dia harap Hae Soo juga bisa melupakan kejadian tadi siang.



Awalnya Hae Soo berniat untuk tak keluar kamar namun akhirnya ia keluar juga. Sayangnya Wook telah menghilang sehingga Hae Soo berniat kembali ke kamar, tapi ternyata Wook masih berdiri tak jauh dari tempatnya. Hae Soo sempat berjingkat kaget saat tahu pria itu masih berdiri disana.

Wook menghampiri Hae Soo untuk mengulurkan obat olesnya. Hae Soo masih terus membeku tak menerima uluran tangannya. Wook pun meraih tangan Hae Soo dan meletakkan obat oles tersebut ditangannya.


“Aku malu melihatmu. Aku tadi pura – pura tidur.”

Wook mengerti. Apa kau sakit?

Hae Soo mengaku kalau dia memang sakit, tapi bukan karena dicambuk namun lebih karena diperlakukan semacam ini. Memangnya tempat ini memang selalu seperti ini? Apa tempat ini tak akan menghormatimu kecuali kau anak orang berada? Hae Soo bertanya dengan mata berkaca – kaca.



Wook menepuk pundak Hae Soo. Dia meyakinkan jika hal semacam ini tak akan terjadi lagi.

Hae Soo melihat tangan Wook, dalam batinnya ia teringat dengan Nyonya Hae. Dia tak akan membiarkan Nyonya Hae sedih dengan melihatnya begini. Ia pun segera menggerakkan pundaknya agar tangan Wook tak memegang pundaknya lagi. Hae Soo membungkuk kemudian bergegas kembali kedalam kamarnya.

-oOo-



Keesokan paginya, Hae Soo mondar mandir di jembatan tak tahu sedang gusar memikirkan apa. So melintasi jembatan tersebut. Hae Soo yang sibuk dengan pikirannya sendiri pun tanpa sengaja menubruk tubuhnya. Saat sadar orang yang ditubruk adalah So, Hae Soo pura – pura kesakitan.

“Kau yang menubrukku.” Sindir So.


Wajah Hae Soo langsung berubah sinis, dia milikku. Kenapa kau mengatakan hal semacam itu hingga membuat orang lain salah paham?

“Kau tidak tahu caranya berterima kasih? Aku menyelamatkanmu. Sebelum kau bicara soal itu, kau harusnya berterima kasih padaku.”

Hae Soo bergumam dengan sebalnya, dia heran kenapa tiba – tiba So berubah. Biasanya juga dia bersikap seperti ingin membunuhnya. Hae Soo menunduk dengan malas, terimakasih.

Terulas senyum kecil di wajah So melihat Hae Soo akhirnya menurut juga.



“Darimana kau mendapatkan jepit rambutku?”

Hae Soo kesal sendiri, dia kan sudah bilang mendapatkannya dipemandian istana. Makannya dia tak mengatakan pada Yeon Hwa karena dia tak mau membahas tentang melihat wajah So. Dia sudah menepati janjinya untuk bungkam.

“Apa kau tidak takut padaku? Kau selalu menjawab pertanyaanku.”

Sama sekali tak takut, yang penting Hae Soo meminta So untuk tak mengatakan dia milik –nya lagi. Dia bukan barang atau binatang.


So mengambil satu langkah menipiskan jarak diantara mereka. Dia mencondongkan wajahnya ke arah Hae Soo, haruskah aku memanggilmu wanitaku?

Hae Soo sempat tertegun namun ia buru – buru mundur, itu juga tak boleh. Tak usah khawatirkan dia lagi. Hae Soo pun pergi dengan kesal.

So lagi – lagi mengulas senyum kecilnya. Si abang kalo lagi sama eneng senyum – senyum mulu.

Wang Jung tengah melakukan gulat di pasar. Dengan mudah Jung bisa membanting lawannya. Namun saat pertandingan mereka belum berakhir, segerombolan orang datang dan membuat penonton yang lain langsung kabur.

Entah siapa gerombolan itu, dia mengenali Jung sebagai Pangeran ke-14 dan membawanya entah kemana.


Tak jauh dari sana, Hae Soo sedang berbelanja dengan Chae Ryung dan melihat Jung tengah diseret gerombolan orang. Mereka berdua tak akan mampu membantu Jung, Hae Soo memutuskan untuk menyuruh Chae Ryung mencari bantuan sedangkan dia akan mengikuti orang – orang itu.


Disana juga ada So, dia melihat Hae Soo yang tengah berlarian. Ia ingin memanggilnya tapi jarak diantara mereka terlalu jauh.




Kelompok orang itu membawa Jung ke hutan bambu. Hae Soo memperhatikan dari kejauhan tak, tahu harus berbuat apa.

Jung mengancam gerombolan tadi, apa mereka tak tahu berurusan dengan siapa? Apa mereka tak sayang nyawa sendiri? Gerombolan tadi tak perduli dan menyalahkan Jung atas menghilangnya tangan Si Ketua.  Jung mengelak telah melakukan hal kelewatan macam itu.

“Kau hanya kalah dariku dan Ibumu yang melakukan ini padaku.”

Ketua Gerombolan itu kemudian menunjukkan kapak dihadapan Jung. Ia berniat untuk memotong lengan Jung sebagai balas dendam.



Hae Soo menemukan sebuah cara dan berlari mengagetkan orang – orang itu. Dia menggerakkan batang kayu ke segala arah untuk menghentikan aksi mereka memotong lengan Jung. Minggri! Minggir! Atau kukeluarkan usus kalian! pekik Hae Soo tak karuan.

Jung berhasil melepaskan diri. Dia sempat keheranan melihat Hae Soo bisa ada disana.



Ratu Hwangbo tengah berkunjung ke kediaman Wook, dia membahas mengenai penyakit menantunya yang semakin parah saja. Dengan senang, Yeon Hwa memberitahukan bahwa Nyonya Hae telah menyarankan Wook untuk bercerai dengannya.

Wook meminta ibunya untuk melupakan hal tadi. Dia tak mau berpaling dari istrinya. Yeon Hwa menyarankan agar Wook mau mempertimbangkan tawaran itu demi masa dengannya. Wook menentang keras, apa Yeon Hwa mau dia menikah demi hubungan politik seperti saudara ketiga? Dia akan kehilangan dukungan dari Raja.

“Ada banyak cara untuk menghindari kecurigaan.” Sergah Yeon Hwa.

Ratu Hwangbo menghentikan ocehan putrinya. Keluarga Hae -lah yang telah membuat mereka bisa memijakkan kaki di Songak lagi. Mereka tak boleh lupa untuk membalas kebaikan mereka.


Chae Ryung sampai ke kediaman Wook dengan panik. Dia memberitahukan kalau terjadi sesuatu pada Hae Soo. Mereka harus bergegas menolongnya. Wook terkejut mendengar penuturan Chae Ryung, serta merta dia bangkit dari tempat duduknya.


Dihutan, Hae Soo dan Jung sudah dikepung preman tadi. Hae Soo berbisik mengajak Jung untuk kabur saja. Ego Jung tak mau dipermalukan dong, dia tak mau kabur. Dengan berani dia menyerang beberapa orang dihadapannya. Namun Jung kalah jumlah dan Hae Soo pun juga ikut diserang.

Jung tak bisa tinggal diam. Akhinya dia memutuskan untuk melindungi Hae Soo dari pukulan orang – orang itu.



Beruntung, tak berselang lama Wook datang dan membantu Jung serta Hae Soo. Dia menanyakan kondisi mereka lebih dulu. Keduanya mengaku baik – baik saja. Wook pun kemudian menyerang preman yang mengitari mereka. Dengan kemampuannya, tak butuh waktu lama ia berhasil menumbangkan mereka semua.

Kini hanya tersisa Si Ketua yang ada dihadapan Wook. Ketua berkata, “Terlalu percaya diri adalah musuh terbesarmu. Apa kau tidak tahu pepatah itu?”

Wook melihat mengedarkan pandangan kesekelilinya dan beberapa orang membawa senjata mulai berdatangan. Dengan tatapan bengis, mereka mengepung Wook.




“Betul. Terlalu percaya diri  adalah musuh terbesarmu.” Ucap seseorang.

Para preman tadi langsung ketakutan melihat sosok Anjing Serigala. Preman itu berkasak – kusuk kemudian pergi dengan terbirit – birit saat yakin pria gagah berkuda itu adalah Anjing Serigala.

Ketua masih berdiri ditempat, dia berdecih kesal saat anak buahnya kabur semua. Tapi dia juga tak punya keberanian untuk melawan So sendirian. Ia pun terpaksa kabur bersama yang lain.



Jung mengucapkan terimakasih pada kedua kakak yang telah membantunya. Ia juga tak lupa memberikan ucapan terimakasih pada Hae Soo yang telah menyelamatkan lengannya. Dia akan menganggap hidup Hae Soo adalah hidupnya juga. Dia akan menyelamatkannya meski dengan taruhan nyawa.

Hae Soo berbinar mendengar ucapan Jung, ia memeluknya dengan reflek. Aigoo~ Aigoo~ Pangeran bungsu kita ini~ Kau akan menjadi pria yang handal dan kuat. Hae Soo menepuk – nepuk punggungnya tanpa canggung.


Perlakuan Hae Soo ini sontak membuat dua pangeran yang lain terkejut. Cieeee... cemburu.


Tersadar perlakuannya termasuk lancang, Hae Soo buru – buru melepaskan pelukan dan memohon maaf. Dia hanya mengingat Jung seperti adik kecilnya. Jung tak mempermasalahkan hal tersebut. Kakak... Hae Soo? Dia membusungkan dada kemudian meminta Hae Soo untuk melihatnya ketika ia tumbuh nanti.

Hae Soo tersenyum lebar, “Tentu saja. Pangeran Jung, fighting!”

Jung sempat keheranan namun ia ikut mengepalkan tangannya dan berkata Fighting dengan kesulitan. Hehehe.



Saat perjalanan pulang, Wook berjalan dengan sangat cepat meninggalkan Hae Soo dibelakangnya. Hae Soo mencoba memanggilnya untuk memelankan langkah tapi Wook tak perduli.
Hae Soo akhirnya berpura – pura kakinya sakit karena dia berlari tadi. Aigoo~ seberapa lukanya yah?



Namun suara keluhan Hae Soo langsung berhenti ketika Wook sudah berdiri tepat dihadapannya. Dia memegang kedua lengan Hae Soo dengan erat. Matanya memerah dan berkata kalau dia pikir dia sudah kehilangan Hae Soo. Dia pikir ia tak akan melihatnya lagi.

Hae Soo terpaku menatap Wook, ia hendak melepaskan diri dari cengkeraman Wook namun tak bisa.


“Nona Soo!” teriak Chae Ryung.

Wook pun bergegas melepaskan tangannya saat melihat orang – orang berkumpul mencari Hae Soo. Mereka pun bergegas menghampiri keduanya. Hae Soo meminta maaf pada Nyonya Hae karena membuatnya khawatir.

Yeon Hwa juga datang, dia menyuruh Wook untuk pergi ke istana besok. Ibu sangat mengkhawatirkannya. Wook tak menjawab, rupanya dia masih marah dan berjalan meninggalkan mereka semua tanpa mengatakan apapun.



So masih menemani Jung, dia khawatir kalau Ibu tahu dia menyamar keluar istana. Jung mengucapkan terimakasih perhatiannya. So menebak kalau dia sudah sering keluar istana sampai bisa mengenal orang – orang tadi. Jung risih juga mendengar ucapan So yang terdengar sarkastik itu, aku cuma kena sial.

“Kena sial? Karena kau, seorang pria kehilangan tangannya dan keluarganya hancur. Bagaimana kau bisa mengatasi hal itu?”

“Kubilang aku tidak tahu! Aku tidak melakukannya.”



So mengingatkan kedudukan Jung sebagai seorang Pangeran. Kalau bukan Jung yang melakukannya, bukan berarti dia tidak harus mempertanggung jawabkannya. Semakin tinggi posisinya, semakin tinggi tanggung jawab yang ia emban.

“Lucu sekali. Sejak kapan posisimu itu tinggi? Apa kau seperti ini karena Ibu memperlakukanmu dengan kejam? Atau kau merendahkan adikmu ini karena aku tukang pamer? Apa yang dikatakan  Yo Hyungnim ternyata benar. Sungguh memalukan aku telah lahir dari rahim yang sama denganmu.”

So hilang kendali mendengar ocehan Jung, reflek tangannya pun melayang menampar wajah Jung.



Ratu Yoo datang melihat putra kesayangannya dipukul. Ia langsung mendorong So dengan paniknya, dia tak ingin dia dekat – dekat dengan putranya. Jung menghentikan ibunya, dia memberitahukan kalau So yang sudah menolongnya. Kalau bukan karena So, maka lengannya sudah hilang.

Ratu Yoo tak mau mendengar alasan apapun, dia tak mau Jung dekat – dekat dengan So. Dia pembawa sial. Dia tak mau Jung harus menderita karenanya. Ratu Yoo meminta So untuk pergi.

“Jika itu yang kau inginkan, maka itu yang akan kulakukan.”

So berjalan dengan menyenggol lengan Jung, “Sampai kapan kau akan hidup dilindungi olehnya?”


Ratu Yoo memperhatikan setiap jengkal wajah putranya. Jung cuma diam, entah dia malas dengan ibunya atau karena ucapan So barusan. Ratu Yoo makin panik ketika melihat tubuh Jung penuh dengan luka memar.


Wook berkuda tengah malam, pikirannya masih sangat terganggu setelah kejadian yang menimpanya. Wook menampari wajahnya sendiri dan duduk dibawah pohon dengan gusarnya.

Menurutku, dia sudah sadar dengan perasaannya pada Hae Soo. Selama ini mungkin dia masih terlalu abu – abu untuk menafsirkan perasannya, namun ketika ia sadar Hae Soo mungkin menghilang dari hadapannya. Ia pun mulai gusar dan perasaan abu – abunya telah berubah menjadi perasaan cinta yang sebenarnya. 


Hae Soo pun juga memikirkan hal tersebut. Dia memegang lengannya yang tadi dicengkeram oleh Wook. Wanita mana yang tak akan meleleh ketika menerima perlakuan istimewa dari seorang pria.


Ditempat lain, So membangun tumpukan batunya sendiri. Ia memikirkan kembali perlakuan Ratu Yoo yang begitu kontras padanya dan pada Jung. Ini membuat hatinya semakin terluka.

-oOo-




Moo menemui Raja untuk memintanya izin menjadikan So sebagai tangan kanannya. Ji Mong mengaku kalau dia melihat bintang biduk milik Pangeran ke-4 telah naik dan bergabung dengan bintang biduk milik putra mahkota. Ia meyakini bahwa semua itu ada kaitannya.

“Ibumu berusaha membunuh Putra Mahkota. Keinginan kakakmu adalah menjadi Putra Mahkota.” Ucap Raja.

So berkata bahwa ia tak bergabung bersama mereka. Raja kemudian bertanya mengenai rencananya tentang alasannya diadopsi oleh Selir di Kang? Bagaimana dia akan mengatasinya?

“Tidak sehari pun, aku dianggap anak disana. Aku hanyalah seorang sandera. Bukankah Yang Mulia harusnya lebih tahu?”


“Apa yang akan kau korbankan demi Putra Mahkota? Apa kau akan menjadi Chungju Yoo atau Shinju Kang?”

So bersimpuh dihadapan Raja, dia akan tunduk pada Putra Mahkota dan Yang Mulia. Bukan sebagai anak atau saudara tetap sebagai orangnya (tangan kanannya). Raja kembali meminta pendapat astronomi Ji Mong.

Ji Mong menjelaskan bahwa bintang Yang Mulia dan Putera Mahkota sejajar jadi ia yakin bahwa dengan kehadiran Pangeran ke –empat akan membawa keberuntungngan. Baiklah, Raja menyetujui permintaan mereka. Dia menyuruh mereka segera mengumumkan kalau Pangeran ke-empat akan menetap di Songak.

So bersujud dengan senang dihadapan Raja.



Dirumah Wook, dia dan istrinya tengah makan. Wook sepertinya tak punya nafsu makan karena memikirkan sesuatu. Nyonya Hae menyuruhnya untuk makan namun Wook malah menyuruhnya jangan mengkhawatirkan dia. Wook berbicara dengan nada cukup kesal.

Wook sadar dia salah, ia langsung meralatnya. “Kau jarang makan. Aku jadi khawatir.”

Hae Soo masuk kedalam ruang makan. Kedatangan Hae Soo membuat suasana semakin canggung saja. Dia sempat ingin kembali ke kamarnya namun Nyonya Hae melarang, kalau dia kekamar maka ia tak akan makan.


Nyonya Hae memperingatkan agar Hae Soo tak lagi melakukan hal berbahaya seperti kemarin. Hae Soo mengangguk dengan kikuk dia lalu mengucapkan terimakasih pada Wook.

“Aku hanya melakukan tugasku.” Ucap Wook jutek.

Nyonya Hae kemudian meminta Hae Soo untuk berlatih pekerjaan rumah. Seperti menjahit atau menyulam. Soo tersenyum, dia akan mencari apa yang dia sukai.

Wook tiba – tiba bangkit, dia sudah selesai makan. Ia akan melanjutkan membaca bukunya. Wook pun pergi, Hae Soo sempat menatapnya dengan penuh tanda tanya.



Hae Soo pergi ke kuil seperti biasanya, lagi – lagi dia melihat ada So ada disana. Hae Soo buru – buru menghampirinya karena mengira So tengah menghancurkan gunungan batu lagi. So berkata kalau dia sedang membuat yang baru. Hae Soo keheranan, tak biasanya? Memangnya kau punya keinginan apa?

“Kau sekarang mau tahu harapan orang? Aku akan meninggalkan rumah ini sekarang. Aku akan tinggal di istana. Aku tak akan sering bertemu denganmu.”

Hae Soo bersyukur dia tak perlu mengantarkan makanan lagi.

“Kau jarang melakukannya.” Potong So.



Hae Soo berharap So bisa tinggal dengan tenang dalam istana. Jangan mengancam membunuh orang sepanjang waktu. Jangan memandang orang seperti yang kaulakukan saat mereka tidak mendengarmu. Jangan langsung menghunus pedang begitu saja. Jangan menghancurkan sesuatu yang sudah dibuat oleh orang dengan kerja keras.

“Cukup.”

“Makanlah dengan benar. Tidur yang nyenyak. Kalau bisa, jangan mimpi buruk.”


So terdiam mendengar wejangan dari Hae Soo, dia menatapnya dengan dalam. Disisi lain, Hae Soo keheranan mendapatkan tatapan seperti itu, kenapa kau menatapku begitu?

“Aku baru ingat kau kau itu tidak takut padaku. Kenapa kau bisa tidak takut padaku?”

Karena yang Hae Soo takutkan adalah dirinya sendiri. Dia mencoba mengubah perasaannya namun tak berhasil. Hae Soo menatap kearah langit, mereka (orangtua) tak akan mengkhawatirkannya, kan?




Salju turun di Goryeo, Hae Soo menatapnya dengan takjub. So menatap Hae Soo dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Ia tersenyum ketika melihat Hae Soo tersenyum. Keduanya pun menikmati malam pertama salju turun.


Disisi lain, Wook tengah memandangi salju sendirian. Dia menatapnya dengan hati yang resah (?)
-oOo-
KOMENTAR:
Aku mengerti sekarang kenapa So akhirnya mampu jatuh hari pada Hae Soo.

Ketika Hae Soo satu – satunya yang tak merasa takut dengan tatapan So. Dia mengungkapkan segala pikirannya entah buruk atau tidak dihadapan So. Tak seperti yang lain, mereka lebih memilih bungkam entah yang ia lakukan salah atau tidak.

So bukan butuh seseorang yang baik padanya. Tapi seseorang yang bisa ia ajak bertatapan ketika berbicara. Berbagi curahan hati tanpa ketakutan ketika berbicara dengannya. Dan Hae Soo punya itu. Aaah.... Apalagi saat Hae Soo bilang kalau dia juga harus makan dan tidur yang nyenyak.. disitulah, tatapan lembut So mulai terlihat. Karena sejak awal, dia hanya jahil dan belum sepenuhnya ada rasa. Namun setelah mereka duduk berdua malam ini, hanya sekedar obrolan ringan. Tapi sebuah obrolan ringan ini pun jarang So dapatkan karena orang lain akan memilih kabur dan menjauh darinya. Awwww... So~~..

Oya..  Siapa yang belum nonton Running Man ep 314 (Jun Ki, Jong Hyun, Ha Neul)? Sama Interview V apps Moon Lover? Jun Ki unyus banget loh. Jangan lupa ya guys. Cari di google deh... :D





24 Responses to "SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 4 Bagian 2"

  1. Saya suka Jun ki dan Kim Han Nuel disini... tapi saya agak terganggu dengan akting IU Menurut saya kurang cocok dn agak kaku... T_T

    ReplyDelete
  2. Puji baik banget sih sampe ngasih tau hahaha kapan si abang ini nikah? Anaknya mungkin sama unyusnya^^

    ReplyDelete
  3. Episode yang penuh emosi...
    Hemmm...

    ReplyDelete
  4. weww seruuu aku sukaa,klo menurutku akting iu emang seperti itu karakter yg disuruh sm sutradaranyaa,tetep kerenn kokk,lucuu liat iu sama jun ki

    ReplyDelete
  5. Uuuuuuuuaaaaq lebih bagus dari cinderella and 4 knight ketika wang soo dan wang wook baru galau berasa minta ciummm
    .
    si mbak IU menang banyak

    Fighting author-nim

    ReplyDelete
  6. Gak sabar saat hae soo jatuh hati sama so,klo wook aku kurang setuju

    ReplyDelete
  7. bukan cuma Wook yg galau, tp aku jugaaaaaa T_T aku pengin Haesoo sma Wook tp kayaknya So lebih membutuhkan Haesoo. kasian gak ada yg ngertiin So.
    ah molla, aku bingung mustidukung yang mana.
    Ratu Yoo nyebelin bgt sumpah, masa anak sendiri tega digituin si, T_T

    ReplyDelete
  8. pangeran So dan Hae soo jado SoSo Couple :D
    aku dukung mereka berdua... ^_^

    ReplyDelete
  9. kenapa ratu yoo setega itu sama wang so yaa ???
    pdhl lee jun ki cute bgt gtu,,
    walupun karakternya kejam,,
    ciyee,, mulai ada rasa wang so'nya😚

    ReplyDelete
  10. teman untuk berbagi itu perlu kyk wang so dia bth seseorang yg dia ajak bicara berbagi keluh kesah kyk si hae soo
    kyk nya bakalan beda alur ceritanya gk kyk versi aslinya sejauh ini asik2 aja gk tau ke dpn nya moga lbh bagus versi korea nya

    ReplyDelete
  11. Ah, eoteokkhae? Niat awal tertarik buat nonton drama ini karena Baekhyun tapi endingnya malah kesemsem sama Jun Ki. Nice post. Ditunggu sinopsis selanjutnya. Love it!

    ReplyDelete
  12. Sukaaa bgt klo lihat haeso sm pangeran so..mudah2an ceritanya ga serumit versi drama cina..bikin pusing terlalu ruwet..ditunggu episode berikutnya..

    ReplyDelete
  13. Aku gak sabar drama ini cepet tamat, wkwkwk
    Biar tau endingnya. Semangat buat penulis sinopsisnya, suka deh bahasanya dalam menjelaskan :D

    ReplyDelete
  14. Aaahhh,,mulai baper deh, aku si pengennya soo sama wook,mereka tuh chemistrynya dapet banget,,huhuu kenapa aku yg galau yak??Btw aku seneng banget sam sinopnya bahanya mudah dipahami dan gak borringπŸ‘,,gomawo unnie ditunggu loh kelanjutannya...πŸ˜ƒπŸ˜˜πŸ˜‹

    ReplyDelete
  15. D tunggu episode 5 nya suka dengn komentar mba jd lebih memahami karekter pemain nya.

    ReplyDelete
  16. Aduh jdi baper gegara lee jun ki mossitta..dtunggu lnjutanya eonni fighting..q udh liat RM episode 314 lee jun ki neomu neomu mossita...

    ReplyDelete
  17. Emang ya Lee Jun Ki itu senyum kecil aja manis banget. Gakuat dd liatnya. Gemes wkwk

    ReplyDelete
  18. Aduh jdi baper gegara lee jun ki mossitta..dtunggu lnjutanya eonni fighting..q udh liat RM episode 314 lee jun ki neomu neomu mossita...

    ReplyDelete
  19. Ratu yo jahat bgt ma putra ny..udh dtlong tp ttp ja gt..ksihan bgt pangeran so..oppa jun ki mang keren bgt...stiap kali senyum,,meleleh nie hati...gamsahamida eonni..q tnggu sinop ke 5 ny y...fighting...😊

    ReplyDelete
  20. Dari awal lee jon ki di my girl udah ngefans lee jon ki... pokoknya keren

    ReplyDelete
  21. suka sm pangeran so, menghanyutkan

    ReplyDelete
  22. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  23. Kalo di sejarah aslinya sih wang so bakal jadi raja ke 4..
    Dengan nama gelar gwangjon, yg disebutkan hae so di episode awal..
    Ni drama ceritanya bakal sampe wang so jadi raja gak ya???

    ReplyDelete
  24. saya suka ama drama ini. tapi ada yang membuat saya bingung dengan urutan anak2 dari rajanya kok ga ada ket. anak ke-2,5,6,7,11,dan 12 nya ya? balas ya soalnya saya kepo banget tentang history cerita ini gomawo

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^