SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 4 Bagian 1

SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 4 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: SBS


Setelah sadar manusia dihadapannya adalah So, Ratu Yoo masih terlihat ketakutan. Kenapa kau ada disini?

So berkata kalau dia tak akan membiarkan ibunya meninggal. Dia telah menghilangkan semua jejak yang mengarah padanya. Dia telah menguburnya semua. Ratu Yoo sempat tak mengerti dengan maksud perkataannya. Namun setelah mengerti arah pembicaraan So, ia sempat tak percaya, kau tidak membunuh mereka semua, kan?

“Mereka hidup untukmu. Mereka tak akan menaruh dendam kalau mereka mati karenamu.”

Bukannya disambut baik, Ratu Yoo malah tak mau menerima bantuan yang So berikan. Apa kau pikir aku akan bertanya apa kau terluka? Kau hewan. Pergi! Kau bau darah, aku tak bisa tidur.



So tersenyum miris menerima tanggapan dingin dari Ibunya. Sejak dulu, dia selalu merasa penasaran. Kenapa ibunya tak pernah kasihan padanya? kenapa dia tak pernah khawatir ketika dia terluka? Kenapa dia tak pernah mau menatapnya? So sangat ingin tahu alasannya.

“Kau bukan putraku. Kau putra Kang di Shinju.” Ucap Ratu Yoo seraya memalingkan wajahnya.

Tubuh So terhuyung mundur, kata – kata itu tepat menohok hatinya. Dia berteriak kesal dan menganggap Ratu Yoo membuatnya diadopsi karena wajah cacatnya. So melampiaskan kekesalannya dengan menjatuhkan sebuah vas hingga pecah berantakan.



So terduduk dilantai, wajahnya bergetar menahan amarah namun airmata berhasil lolos mengalir dipipinya. So menceritakan bagaimana kehidupan mengerikan yang ia alami di Kang. Ia dilempar ke sarang serigala terbesar disana. Dia harus membakar gunungnya dan membunuh semua serigala itu untuk bertahan hidup. Belum lagi dia harus menghadapi selir Raja yang gila. Dia akan terus menahannya ketika tak sadar dan menganggap dia sebagai putranya yang sudah mati. Tapi ketika Selir itu sadar, dia memukul dan menguncinya. So bisa tiga – empat hari tak minum namun tak seorang pun memberikan dia air.

“Memangnya kenapa?” tanya Ratu Yoo dingin.

Kesedihan So langsung terhenti, dia perlahan menatap Ratu Yoo dengan tatapan tajam.

Ratu Yoo menambahkan, “Seorang ibu hanya akan mengenali putra yang bisa membuatnya bersinar. Sedangkan kau adalah cacat, cela dan aibku. Itulah kenapa aku mengirimmu pergi. Terimakasih padamu sehingga aku bisa merasakan keadilan dan cinta.”



Tatapan So sudah tak ada keraguan lagi. Dia berdiri kemudian berkata kalau ini hari dimana Ibu telah membuangnya. Dia tak akan pergi. Jadi mau atau tidak, Ibu harus melihatnya.

Omong kosong! Teriak Ratu Yoo. So tetap berjalan pergi meskipun Ratu Yoo mengancam kalau dia tak akan bisa datang ke Songak kalau sesuatu seperti ini terjadi lagi.


Setelah perdebatan panjang dengan Ibunya, So berjalan dengan amarah yang sudah membuncah di ubun – ubun. Ia melihat tumpukan batu tempat para Ibu berdoa. Ia pun tak kuasa menahan amarah dan melampiaskannya pada tumpukan batu tersebut.

Hae Soo datang ke tempat pemujaan dengan membawa beberapa buah batu. Dia terkejut melihat So sedang merusak tumpukan batu disana. Ia mencoba menghentikannya namun So masih kalap dan mendorong Hae Soo sampai jatuh ke tanah.

“Darah..” gumam Hae Soo melihat cairan merah ditangannya.

“Ya. Darah. Itu darah orang yang aku bunuh hari ini.” So kembali menatap tumpukan batu. “Para ibu membuat tumpukan batu ini untuk anaknya? Dia tak seharusnya datang kesini. Dia harus memohon padaku!”



Hae Soo kembali menghentikan So, dia terluka. So dengan marah menarik kerah baju Hae Soo. Dia menekankan bahwa ia telah membunuh orang.

“Ya sudah, katakan padaku kenapa kau membunuhnya? Kau.. melakukannya untuk kesenangan?”

Wajah So masih bergetar menunjukkan emosinya yang belum reda. Dia meminta Hae Soo untuk pergi dari sana.


Hae Soo memperhatikan So yang tampak terluka secara fisik dan pikiran. Dia berkata kalau tempat ini memang seperti itu, kan? Mereka harus menghunuskan pedang di usia yang masih sangat muda. Dia harus membunuh orang lain jika ingin bertahan hidup. Bagi Hae Soo, keinginan untuk bertahan hidup bukanlah sebuah kejahatan. Hae Soo bisa mengerti meskipun perbuatannya memang tak termaafkan. Dia juga yakin kalau So kini merasa sedih.

Hae Soo berjalan meninggalkan So sendirian. Namun ketika ia menoleh kembali, ia bisa melihat So yang sudah terduduk ditanah dengan pedihnya.

-oOo-


Keesokan paginya, Wook melaporkan pada Raja mengenai rencana pembunuhan yang terjadi dikerajaan. Para pembunuh itu telah dimusnahkan oleh orang yang menyuruh mereka. Moo menambahkan bahwa orang – orang itu ada dibawah naungan sebuah kuil. Pemilik kuil itu adalah..


“Kuil itu milik Ratu Yoo.” potong So ketika sadar Moo ragu untuk mengatakannya.

“Apa kau bilang aku yang telah merencanakan pembunuhan? Aku yang mencoba untuk membunuh putra mahkota?” protes Ratu Yoo.

“Semua juga akan beranggapan demikian.”

Raja bertanya, “Ratu Yoo, apa kau yang telah merencanakan pembunuhan Putra Mahkota?”


Yo buru – buru bersujud dihadapan Raja, dia mengaku kalau semua ini adalah kesalahannya. Dia tak tahu bahwa kuil tersebut melakukan hal semacam itu. Dia yang telah menjadi donatur dengan mengatas namakan ibunya.

“Ini adalah salahku. Kalau seorang anak salah maka itu kesalahan ibunya.” Ucap Ratu Yoo.

Dengan mengejutkan, So maju untuk mengaku kesalahannya membunuh biksu dikuil. Semua orang terkejut mendengar ucapan So. Raja bertanya apakah dia yang telah merencanakan pembunuhan?


Wook bersimpuh dihadapan Raja, dia berkata bahwa semua ini hanyalah trik yang dilakukan oleh pelaku untuk membuat keluarga Raja saling tuduh.

So ikut bersimpuh, “Seperti kata Wook, aku takut ibu akan tertuduh. Maafkanlah keputusan burukku.”



Dayang – dayang saling dorong kotak makanan. Mereka ribut menolak untuk melakukannya. Nyonya Hae datang hingga mereka pun langsung berbaris, ada apa ini? Chae Ryung mengadu kalau tak ada dayang yang mau mengantarkan makanan untuk Pangeran Ke –empat.

Nyonya Hae menegur mereka yang menganggap enteng soal makanan Pangeran. Dia tak mau hal semacam ini terjadi lagi. Jadi orang yang akan mengantarkan makanan adalah..

Semua orang menantikan keputusan Nyonya Hae. Dan tatapan Nyonya Hae tertuju pada Hae Soo. Hae Soo terkesiap menerima tatapan itu, dia tertawa garing. Aku? Aku kan nona juga, aku tak seharusnya mengantar makanan kan?



Hae Soo kelelahan setelah sampai ke bukit tempat So tengah menyendiri. Dia terus saja merutuki tingkah So yang nyebelin. Kalau makan mah dikamar aja, kenapa sampai ke tempat yang susah begini?

Dia menatap punggung So yang tengah terhanyut pemandangan dihadapannya, “Kemarin, dia membuat keributan. Tapi dia terlihat begitu polos dari belakang. Dia terlihat kesepian.”


Hae Soo meletakan kotak makanannya di samping So. So menyuruhnya untuk meninggalkan makanannya disana saja. Hae Soo mengiyakan permintaan tersebut, kau senang makan sendiri dengan tenang? Kau bisa melakukannya.

Hae Soo berjalan pergi namun belum sempat melangkah lebih jauh, dia seolah merasa iba melihat So kesepian disana. Ia memilih duduk disamping So dengan alasan harus membawa mangkoknya saat kembali.



So memperingatkan agar Hae Soo menjaga ucapannya dengan apa yang ia lihat kemarin. Jelas saja Hae Soo langsung nyerocos setelah mendengar perintah So, lagipula dia tak akan mungkin mengatakan pada siapapun. Dia punya masalah sendiri, kenapa susah – susah ngomongin orang lain.

Hae Soo ikut memandangi pemandangan luas dihadapan mereka. Rupanya disana, So bisa melihat istana dari sana. Hae Soo berkata kalau istana itu nantinya akan menjadi rumah So. Kenapa dia harus menatapnya sambil makan?



“Kalau itu rumah, harusnya aku punya keluarga disana.”

Loh, setahu Hae Soo di istana ada Ayah, saudara serta Ibu So? Hae Soo kemudian berbalik menatap So dengan penasaran, apa yang telah kau lakukan kemarin?

So tergagap namun buru – buru melemparkan pertanyaan balasan pada Hae Soo. Lalu kenapa kau masuk ke pemandian istana?

Hae Soo sontak kebingungan untuk memberikan alasan. Dia mengalihan pembicaraan dengan memuji makanan yang telah ia bawakan.



Keduanya kembali ke rumah setelah hari telah gelap. Hae Soo berjalan dengan kesusahan ketika ia harus membawa kotak makanan yang besar dan berat. So mengedikkan dagu untuk memberi tanda agar Hae Soo berjalan didepannya. Hae Soo tak banyak komentar, dia mencincing rok –nya dengan kepayahan dan berjalan mendahului So.

Dibelakang, So seolah ingin membantu mengangkat kotak makanannya namun mengurungkan niatnya. Ia malah tersenyum saat melihat Hae Soo berhasil menaiki undakan dengan kesusahan.


Dikediamannya, Nyonya Hae terus terbatuk – batuk tak ada hentinya. Hae Soo berada dikamarnya untuk membantu merawat Nyonya Hae. Wook juga khawatir saat melihat kondisi istrinya semakin memburuk saja.

Nyonya Hae kemudian meminta Hae Soo untuk membantunya duduk.

“Pergilah.” Ucap Nyonya Hae.


Hae Soo pun meninggalkan kamar Nyonya Hae dengan segera. Tapi saat ia masih berdiri dibibir pintu, terdengar Nyonya Hae menyuruh Woo untuk mencari istri lagi.

Dia sempat terkejut namun ia memutuskan untuk bergegas pergi karena tak mau mendengarkan pembicaraan pribadi mereka.



Nyonya Hae mengatakan kalau dia adalah seseorang yang lemah. Dia tak bisa mengurus rumah tangga maupun memberikan keturunan untuk Wook. Dia merasa tak bisa melakukan apapun untuk Wook. Dia memintanya menikah dengan orang lain ataupun menceraikannya sebelum itu.

“Aku tak mau.”

Nyonya Hae tersenyum, Wook harus melakukannya. Dia juga tahu.. Nyonya Hae memaksakan tersenyum untuk menahan air matanya.. dia tahu kalau Pangeran Wook tak mencintainya.

-oOo-


Setelah semalam mendengar ucapan Nyonya Hae, Hae Soo tak bisa berhenti memikirkannya hingga ia murung sejak pagi. Wang Eun datang dan meledeknya tapi Hae Soo menanggapi dengan serius, berhenti!

Eun mengubah cara bicaranya menjadi sok bijak, “Apa yang membuatmu khawatir? Apapun yang membuatmu khawatir, kau akan melupakannya saat bermain.”

Eun sudah mempersiapkan satu kotak penuh mainan gaje seperti bola, kartu, dll. Hae Soo terbengong menatap Eun dengan aneh. Dia mengembalikan mainan ditangan kedalam kotak, “Berapa umurmu sampai bermain dengan benda semacam ini?”



Eun meminta Hae Soo untuk berbagi masalah dengannya, mungkin dia bisa membantu. Dia berkacak pinggang dengan bangga, aku kan pangeran. Hae Soo akhirnya bersedia angkat bicara, apa kau sudah menikah?

Hahaha. Eun langsung baper, “Belum.”

“Berapa kali kau akan menikah?”

Eun duduk bak anak patuh, dia belum memikirkannya sampai sekarang. Hae Soo lalu berandai – andai, kalau istrinya sakit, apakah dia akan membawa wanita lain kedalam rumahnya?

“Tidak mungkin. Aku tak mau tertekan karena punya istri banyak seperti Ayahku. Aku akan menemukan wanita yang sempurna dan bersamanya selama 100 tahun.”


Hae Soo memuji sikap Eun yang ternyata polos juga. Akan baik kalau semua orang seperti dia. Hae Soo pun berjalan dengan lemas meninggalkan Eun.


Eun makin kepedean setelah pembicaraannya tadi, dia mengira kalau Hae Soo ada rasa untuknya. Lumayan cepat juga Hae Soo jatuh hati padanya. hahaha.


Dengan panik, Chae Ryung meletakkan jepit rambut milik So dikamarnya. Dia diperintahkan oleh Hae Soo. Awalnya Chae Ryung menolak karena takut ketahuan. Tapi Hae Soo meyakinkan kalau barang itu milik Pangeran, jadi kalau ketahuan pun tak akan ada masalah. Sembunyikan saja ditempat yang tak disadari.

Chae Ryung membuka kotak milik So, tepat saat itu Yeon Hwa datang.

Karena sangat terkejut, Chae Ryung menjelaskan kalau dia tak mencuri. Tangannya gemetaran sampai jepit rambut ditangannya terjatuh. Yeon Hwa pun cuma tersenyum sinis melihatnya.


Chae Ryung pun mendapatkan hukuman, punggungnya dipukul sampai berdarah. Ketika ditanya, dia masih berkata kalau ia tak mencurinya.

“Jadi kau mau bilang, Pangeran memberikannya padamu sebagai hadiah?” tanya Yeon Ha seraya tertawa mengejek. Hukuman Chae Ryung pun terus berlanjut.



Hae Soo terkejut melihat Chae Ryung dipukuli dan bergegas menghalangi dayang yang memukulinya. Dia menuntut penjelasan kenapa Chae Ryung mendapat hukuman semacam ini. Yeon Hwa mengatakan kalau Chae Ryung telah mencuri barang berharga milik Pangeran.

“Ah, jepit rambut itu? Aku yang menyuruhnya untuk meletakkan jepit rambut itu. Dia tak mencurinya.”

“Ini bukan sesuatu yang bisa kau miliki.”

“Karena itu memang milik Pangeran.”

“Itu –lah kenapa aku bilang mencuri.”

Baiklah, kalau memang harus begitu maka pukuli dia saja. Hae Soo tak mungkin bisa menjelaskan dengan detail tapi yang jelas Chae Ryung tak bersalah. Dia yang telah memerintahkannya jadi pukul saja dia.



Rombongan Pangeran datang, Eun memohon agar Wook mau menghentikan Yeon Hwa. Wang Yo paling menikmatinya, pelayan memang harusnya diberi pelajaran.

Yeon Hwa tanpa ampun langsung memukul Hae Soo ketika tangannya sudah diikat. Ia melakukannya dengan tersenyum seolah menikmati kegiatan ini.


Wook berniat menghentikan dia namun seseorang sudah lebih dulu datang. Dia adalah So yang kini menahan tangan Yeon Hwa. Yeon Hwa meminta tangannya dilepaskan, dia telah melakukan tugasnya.

So menatap Hae Soo, “Dia milikku.”

Mereka terkejut mendengar ucapan So khususnya untuk Wook.

So tersenyum menatap Hae Soo, dia mengulang kembali kalau ‘Dia adalah miliknya’. Juga jepit rambut itu miliknya jadi dia yang berhak memberikan keputusan.


Eun menghalangi Yeon Hwa dan mengatakan kalau dia melihatnya sendiri. Dia melihat Hae Soo memungut jepit rambut tersebut. Wook murka. Dia membetak Yeon Hwa untuk menghentikan semua ini.

Hae Soo akhirnya dilepas. Dia segera memapah Chae Ryung yang terlihat lemah.

Antara Hae Soo dan Yeon Hwa sempat bersitatap untuk sejenak. Terasa ada aroma persaingan diantara mereka.



Ketika Chae Ryung dipapah, dia sempat mencuri pandang pada Pangeran Wang Won namun Wang Won langsung membuang muka. Ada apa diantara mereka berdua? Apa cuma perasaan g aja?


Wook marah karena Yeon Hwa bertindak terlalu gegabah. Dia pun meninggalkan tempat itu setelah masalah usai.

Satu persatu pangeran meninggalkan tempat hukuman. Dada Yeon Hwa masih naik turun menandakan emosinya belum reda.

Ketika tinggal berdua, So mengulurkan tangan untuk meminta jepit rambutnya. Yeon Hwa memberikan jepit rambut tersebut. Namun sesuatu mengganjal dalam benaknya, So yang ia tahu bukanlah seperti ini. Apa kau menyukainya?

So hanya menjawab dengan senyuman, “Yeon Hwa. Maaf, aku tak sopan padamu.”


16 Responses to "SINOPSIS Scarlet Heart: Ryeo Episode 4 Bagian 1"

  1. Cpet ep.4 sesi 2 di tunggu sista..😊😁

    ReplyDelete
  2. Wah makin seru..thank sinopnya.semangat y nulisnya....

    ReplyDelete
  3. Cpet ep.4 sesi 2 di tunggu sista..😊😁

    ReplyDelete
  4. Semangat mimin yang baik hati 😊 jadi makin penasaran

    ReplyDelete
  5. jiaaaahhhhhh...aq nih selalu ketar-ketir nungguin sinop ini keluar...suka sama ceritanya berasa saeguk ala zaman modern...makin penasaran deh.makasih ya oennie udh mau ngerecap...

    ReplyDelete
  6. pling cepat muncul. terimakasih, aku tunggu part 2'y... semangat!!!

    ReplyDelete
  7. Gosh,,, gwe yg senyum gaje sendirian.. DIA ADALAH MILIKKU,,, ahhhhhhhh

    ReplyDelete
  8. Ya ampunn paling suka liat adegan so sama haesoo..😊 di tunggu part 2 nya min... 👍👍

    ReplyDelete
  9. Ya ampunn paling suka liat adegan so sama haesoo..😊 di tunggu part 2 nya min... 👍👍

    ReplyDelete
  10. Iiiiih gemes...ditunggu ya min part2nya min sdh gk sbar soale

    ReplyDelete
  11. Iiiiih gemes...ditunggu ya min part2nya min sdh gk sbar soale

    ReplyDelete
  12. its funny.. ada iaa ibu yg takut anakny.. klu benci anak mgkn ad ddnia nyata meski sbgian kcil tpi paling krna misakom.. heran deh.. tuh ibu ambisi bngt sma kekuasaan ehh posisi.. dh jdi ratu jg.. emg iaa manusia mah dkasih emas sgnung ja ga pernah ckup.. kasihan wang so, salah asuhan jadiny.. ga patut dcontoh..

    ReplyDelete
  13. Awww gapapa oppa ga sopan...yang penting oppa tau otu ^^
    jun ki emang cocok peran ginian haha makasih buat so-nya puji. Lee yeongnya ntaran gapapa kok *sembunyidibalikso

    ReplyDelete
  14. Ternyata Bagus dramanya, kupikir gak bagus gara2 liat rattingnya.

    ReplyDelete
  15. Iiiihhhhh eun kepedean weehhh :v

    so kyaknya udah mulai ada rasa niiieeee

    semangat ya lanjutin part 2nya

    ReplyDelete
  16. Semangat ya bikin sinopsisnya.

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^