SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 9 Bagian 2

SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 9 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2

Ra On kembali bertemu dengan Ha Yeon. Ha Yeon mengaku kalau dia sebelumnya sering membaca buku di toko. Tapi sekarang ini, Tuan Putri memperbolehkannya meminjam buku dari perpustakaan istana. Meskipun sejujurnya, itu bukan alasan utamanya masuk istana. Seseorang yang terakhir kali ia bicarakan sebenarnya ada didalam istana.

Ha Yeon memperhatikan kondisi disekitarnya kemudian berbisik, “Dia adalah Putra Mahkota.”

Ra On membeku apalagi ketika mengingat senyuman Ha Yeon saat menyapa Putra Mahkota. Ha Yeon masih tersenyum kasmaran, dia menebak kalau Ra On pasti terkejut.

“Ya. Aku sangat terkejut.” Ucap Ra On.

Ha Yeon berubah mengeluh soalnya Putra Mahkota cuma bicara seperlunya saja lalu pergi. Dia bahkan sampai bingung mau membuat alasan apalagi untuk bisa mendekatinya.


Tanpa sengaja Ha Yeon menjatuhkan tumpukan buku yang terdapat diatas meja. Ra On sontak membantunya memungut buku yang berserakan. Ha Yeon melihat gelang yang melingkar di lengan Ra On. Dia mengaku pernah melihat gelang seperti itu.

Ra On bergegas menutup lengannya dengan baju.

“Mereka mengatakan kalau kau memakai gelang itu, kau akan ditakdirkan untuk bertemu lagi bahkan jika kau berpisah.”

Ra On mengaku tak tahu kalau gelangnya memiliki makna semacam itu. Ha Yeon tersenyum, dia yakin kalau wanita yang memberikan gelang mungkin sudah begitu putus asa sampai berfikir memberikan gelang itu pada seorang pria.

Kini Ra On duduk menyendiri di Jahyeondang dengan bimbang. Ia memegangi gelang pemberian Young dan juga memikirkan kembali ucapannya, Young ingin memperlakukannya seperti wanita yang paling berharga didunia.

Di masa kecil Ra On, dia harus berpura – pura menjadi seorang pria. Namun naluri wanitanya membuat ia ingin bermain bersama anak perempuan lainnya. Duduk memainkan karet dan mengenakan hanbok cantik.

Ibu langsung menyeret Ra On ketika melihat putrinya menatap anak – anak lain dengan iri.


Ra On mengibaskan tangan ibunya, sampai kapan dia harus berpura – pura seperti ini? 10 tahun? 20 tahun? Atau bahkan sampai dia mati? Apa alasannya?

Ibu Ra On tak bisa memberikan alasan, dia hanya mengatakan kalau “sekarang belum saatnnya”. Dia meminta Ra On menunggu sedikit lebih lama lagi.

Kembali ke masa kini, Ra On duduk menangis dalam kebimbangan.

-oOo-

Young menemui Guru Jung setelah berita kekacauan di istana menyebar. Guru Jung mendengar kalau ujian yang dilakukan oleh istana akan menjadi awal bagi kehidupan para sarjana. Namun semua berakhir menjadi kritik atas keputusan pembatalan yang dilakukan oleh Putra Mahkota. Apa kau masih berencana melanjutkan ujian sementara yang diberikan oleh Raja?

Young sepertinya masih kekeuh dengan keputusan yang ia buat. Dia sudah memulai peperangan ini.

“Sebagai Putra Mahkota, kau tidak boleh kalah, kan?”

Young menatap Guru Jung dengan serius. Guru Jung membicarakan pertengkaran sebuah pasangan yang sudah menikah. Tapi kalau tujuan pertengkaran diantara pasangan tersebut hanya untuk sebuah kemenangan, maka yang akan terjadi adalah kehancuran dalam rumah tangga.

“Kenapa tiba-tiba menyebutkan pertengkaran antara pasangan yang sudah menikah?” tanya Young heran.


Guru Jung berkata kalau tujuan awal dilakukan ujian adalah untuk menemukan seseorang yang berbakat. Namun apa yang terjadi sekarang? Guru Jung kemudian bertanya pada Young, sekarang apa tujuanmu berperang? Untuk menang atau untuk perubahan?

“Itu...” ucapan Young terhenti.

Guru Jung tersenyum, “Sangat sulit untuk tak kehilangan akalmu.”

Young menyadari apa makna pembicaraan Guru Jung. Ia pun tersenyum.

Ra On berkunjung ke kediaman Selir Park dan menemukan Putri Young Eun duduk terpekur dipojokan dengan memeluk lututnya. Ra On tersenyum ceria dan berkata akan menceritakan sebuah kisah untuknya.

Young Eun tak bereaksi.

Baiklah, Ra On mengajaknya untuk berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Menunjukkan jempol kalau dia suka dan....


Ucapan Ra On terhenti karena Putri Young Eun masih saja diam tak berkutik. Kini ia sadar tak bisa memaksanya untuk menjawab pertanyaannya. Ra On memilih menceritakan dirinya sendiri, sebenarnya ia juga punya banyak sekali rahasia.

Young Eun mulai tertarik, ia mendongakkan kepala menatap Ra On.

Ra On memang tak tahu pasti apa yang menimpa Young Eun namun sepertinya ia sedikit paham dengan perasaan yang menghantuinya. Ra On juga merasa terjebak dalam perasannya sendiri. Ia mencoba sekuat tenaga menyembunyikan rahasianya namun seseorang perlahan membuka tabir rahasia itu. Dia gemetar ketakutan dan bertanya – tanya, kapan dia bisa menyingkap pintu rahasia itu sendiri dan kabur?

Young Eun sepertinya terhanyut dalam ketulusan cerita Ra On.

Ditempat lain, Young melakukan pertemuan dengan PM Kim. Dia memutuskan untuk meneruskan ujian. Jadi dia meminta PM Kim agar menyuruh para menteri kembali.

“Apa anda yakin?”

Young sangat yakin dengan ucapannya, yang dia inginkan hanyalah ujian yang adil dibawah komando Raja. Dia menginginkan ujian seperti yang ada dimasa lalu dan ia tak punya niatan untuk menentang pejabat senior.

PM Kim mengingatkan bahwa mengatasi masalah tanpa mengikuti prosedur bukanlah solusi yang tepat. Kalau Putra Mahkota mau melanjutkan prinsip yang sebenarnya maka mereka sanggup untuk kembali ke istana.

Young menyuruhnya tak khawatir, dia akan mengikuti prinsip yang sebenarnya dalam menjalankan ujian ini sesuai yang mereka inginkan.

Ujian benar dilaksanakan dengan sebuah pertanyaan yang terpasang: siapa pemilik joseon?

Beberapa sarjana sudah siap untuk menjawab pertanyaan itu dengan sangat percaya diri. Tapi.. Young sudah memiliki sebuah rencana tak terduga. Dia sampai ke lokasi ujian lalu mengganti soal yang telah terpajang disana.

[Menentang oposisi; bagaimana kau akan meyakinkan mereka?]


Beberapa sarjana kelimpungan karena mungkin sudah mendapatkan bocoran. Young meyakinkan kalau pertanyaan ini tak memiliki jawaban yang pasti. Dia meminta mereka yakin atas jawabannya sendiri. Dia menantikan jawaban dengan ide segar demi masa depan joseon.

Malam harinya, Ra On pergi ke perpustakaan. Ia diam termenung menatap gelang yang melingkar ditangannya.

Tanpa diduga Young masih ada disana. Dia memuji kepintaran Ra On untuk memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menghindarinya. Ra On begitu mengenalinya sampai ia tak mungkin bisa menang kalau Ra On memutuskan untuk bersembunyi.

Ra On mengingatkan bahwa mata dan telinga banyak yang terfokus pada Young. Tak akan ada waktu damai kalau ia terus bersamanya.

“Kalau begitu, kau pikir aku bahagia tanpa kau disisiku?”

Ra On tak berani menjawab pertanyaan itu, hanya saja ia merasa 1/10 dari waktunya terasa menjadi seorang yang berguna saat berada disamping Putra Mahkota. Tapi sekarang ia tak bisa merasakan semua itu. Dia takut Putra Mahkota terluka atau mendapatkan masalah. Ia khawatir untuk melangkah maju.


Gelang yang ada digenggaman, Ra On letakkan ke atas meja. Memang sangat tak pantas mengatakan semua ini. Tapi kalau Putra Mahkota membiarkannya keluar dari istana, dia tak akan melupakan semua rahmat dan kebaikannya. Dia akan hidup dengan baik.

Young menatap Ra On mencari kebenaran dalam kata - katanya, “Apa itu benar-benar yang kau inginkan?”

“Iya.”

Jelas saja Young merasakan kekecewaan yang begitu mendalam. Banyak hal yang ingin ia lakukan untuk Ra On tapi dia malah memilih untuk lari ke pengasingan agar tak melihatnya lagi. Itu permintaan pertama dan terakhir yang ingin kau minta kepadaku?!


Mata Ra On berkaca – kaca tapi ia tak punya niatan untuk mengubah permintaannya. Dia membenarkan ucapan Young.

“Aku mengerti sekarang. Kau bisa pergi.” Titah Young dengan marah. Ra On menuruti titahnya dan bergegas keluar dari perpustakaan.

Young kemudian mengambil gelang pasangan yang sudah ditinggal Ra On, ia menggenggamnya dengan perasaan kecewa sekaligus sedih.

-oOo-

Entah apa yang dilakukan oleh Putri Young Eun, dia memutuskan untuk masuk ke sebuah bangunan yang tak terawat dalam istana. Dia membuka pintu lemari berlukis, dia seolah memiliki kenangan buruk dengan lemari itu. Matanya berubah berkaca – kaca ketika membuka pintunya.

FLASHBACK 3 Tahun Yang Lalu

Saat itu, Young Eun bermain petak umpet bersama dayang yang lain. Dia bersembunyi dalam lemari,  Ia berniat keluar karena mengira situasi sudah aman tapi niatannya terhenti. Ia mendengar suara langkah kaki menuju ke tempatnya bersembunyi.

“Apa itu?” ucap Young Eun buru – buru masuk lagi dalam lemari.


Seorang dayang masuk ke ruang itu bersama PM Kim dan kedua anak buahnya. PM Kim bertanya apa yang telah dayang itu berikan pada Putra Mahkota?

Meskipun ketakutan, Dayang itu tak memberitahu apa yang ia berikan pada Putra Mahkota. Memangnya ada hal yang tak boleh ia berikan pada Putra Mahkota? Kalau memang dia bisa menyembunyikan kebenaran dengan membunuhnya, ia mempersilahkan PM Kim membunuhnya.

PM Kim mengedikkan dagu memberi isyarat. Anak buahnya langsung menusukkan pedang ke perut Dayang tadi.

Dengan suara terbata – bata dayang itu berkata, “Bahkan jika aku mati, aku tak akan meninggalkan tempat ini. Aku akan mengungkapkannya, kematian tak adil yang dialami Yang Mulia Ratu..”


Young Eun menjadi saksi dari kematian dayang tadi. Ia membekap mulutnya sendiri dengan sangat ketakutan. PM Kim memiliki firasat aneh pada lemari yang ada didalam ruangan itu. Ia perlahan mendekatinya dengan penasaran.

“Tuan Putri! Tuan Putri!” teriak dayang mencari Putri Young Eun.

PM Kim tak jadi membuka pintu lemari dan memilih bergegas kabur dari sana.
FLASHBACK END

Ra On menemui Young Eun untuk bertanya alasannya pergi ruangan itu. Young Eun seolah ingin mengeluarkan suara, mulutnya bergerak – gerak namun tak ada secuil pun suara yang keluar dari mulutnya.

Ra On tak memaksanya menjawab, kalau dia tak mau maka ia tak harus menjawabnya.


Young Eun mencari secarik kertas lalu menuliskan sesuatu.

[Bukankah kau berkata seperti itu, kita bisa membuka pintu dengan tangan kita sendiri?]

Ra On tersenyum melihat kepolosan Young Eun.

Young berdiri didepan pintu kamar Young Eun. Dia kesana setelah menerima kabar bahwa sesuatu terjadi pada Young Eun. Namun pada akhirnya, dia hanya memperhatikan Ra On dan Young Eun yang berbicara dari hati ke hati dari luar pintu.

Young berjalan keluar dari kediaman Putri Young Eun bersama dengan Ra On. Dia berhenti ditengah jalan dan mengaku menyesal. Seharusnya ia berpura – pura tak tahu saja. Sekarang setelah ia mengetahui segalanya, Ra On malah berusaha untuk kabur darinya setiap memiliki kesempatan. Kalau ia tahu, ia tak akan pernah mengeluh entah Ra On seorang kasim atau wanita. Yang ia khawatirkan sekarang, bagaimana membuat Ra On berada disampingnya lebih lama.

Kini Ra On sama sekali tak berani mengarahkan tatapannya pada Young. Ia menunduk pamit, “Jaga diri anda, Yang Mulia.”

Young menahan tangan Ra On, “Terlepas dari segala sesuatunya, apa kau tak bisa bertahan? Bukan ditempat lain, tapi disisiku?”

Ra On tak mampu memberikan jawaban, ia hanya membalas tatapan Young yang seolah sangat mengharapkan kesediaannya.

Wah, Jung lulus dari ujian dan berhasil menjadi petugas istana. Dia berdoa agar bisa hidup dengan baik dalam istana tanpa bantuan dari Dal Bong. Dal Bong memperingatkan agar Tuan Muda Jung harus berhati – hati pada wanita dari bukit Magnolia.

Jung panik, “Tuan Putri tak mengenali wajahku, kan?”

“Hati-hati jangan sampai tertangkap.”


Seorang wanita keluar dari dalam tandu tapi tanpa sengaja ia tersandung dan jatuh tepat dihadapan Jung. Jung mengulurkan tangan memberi bantuan, Tuan Putri Myung Eun yang sudah berubah menjadi langsing awalnya berniat menerima uluran tangan itu. Tapi sekian detik kemudian, ia berubah pikiran, “Aku baik – baik saja.”

Myung Eun berjalan memasuki gerbang istana bersama beberapa dayang.

Dal Bong sepertinya mengenali wanita itu. Jung berkata kalau wanita itu tajam sana sini alias kurus banget. Harusnya seorang wanita itu lebih gemukan dikit seperti Tuan Putri mereka. hehehe.

Young sudah melakukan pertemuan dengan PM Kim. Dia berkata kalau ujian berjalan dengan sangat lancar. PM Kim tahu tapi ia mendengar kalau Putra Mahkota mengganti soal ujian sesaat sebelum ujian dimulai.

Young membenarkan. Meskipun mereka sudah mengurus ujian sendiri namun 7 dari 33 peserta yang lulus berasal dari keluarga Kim. Keluarga Kim memang masih memiliki banyak orang berbakat meskipun ujian dijalankan dengan adil.

PM Kim mengangguk menerima pujian (sekaligus) ejekan dari Young.

“Aku akan berjanji kepadamu, Perdana Menteri. Mulai sekarang, di bawah aturan dan prinsip-prinsip yang adil tanpa mengizinkan adanya ketidakjujuran atau kolusi. Hanya orang – orang berbakat saja yang bisa lolos ujian.” Jelas Young.

PM Kim kembali menunduk namun wajahnya menunjukkan ketidak-sukaan pada sikap dan ucapan Young.

Kasim Han menghadap pada Raja, konferensi telah berakhir namun tak semua menteri kembali. Raja langsung gusar dan merasa dirinya memang Raja yang tak berguna. Ini semua disebabkan karena ia tak punya orang – orang yang ada disampingnya. Semua pejabat dalam istana adalah orang – orang PM Kim.

Raja tak mau Putra Mahkota berakhir seperti dia, dia akan mencarikan seseorang yang setia berada disampingnya. Raja memerintahkan Kasim Han untuk mempersiapkan pernikahan Putra Mahkota.


Putri Young Eun menyeret Ra On menuju ke suatu tempat. Tanpa memberikan penjelasan apapun, ia kemudian meninggalkan Ra On sendiri. Ra On sempat tak mengerti dan ia melihat Young berdiri tak jauh dari sana.

Ra On berniat pergi namun niatannya terhenti ketika melihat Young memberikan isyarat tangan. Dia menyatukan tangannya didepan dada seolah memohon agar ia jangan pergi.

Rupanya Putri Young Eun telah memberitahukan isyarat yang Ra On ajarkan padanya. Young rasa tulisan yang ia ajarkan pada Young Eun mungkin tak berguna lagi kalau semua orang di istana mengerti isyarat tangan yang diajarkan Ra On. Dia meminta Putri Young eun mengajarkan isyarat itu padanya.


Kembali pada Young yang memberikan isyarat pada Ra On. Ia menggerakkan tangannya sepertu apa yang telah Young Eun ajarkan.

[Aku. Suka. Padamu. Bukan.. Aku. Mencintaimu. Tolong. Jangan Pergi. Dari sisiku.]

Dibawah sinar rembulan malam ini, Young mengakui perasannya dan meminta Ra On untuk terus berada disampingnya. Ra On menatap Young dengan mata berkaca – kaca.

Ra On duduk menatap hanbok yang ada dihadapannya. Ingatannya kembali ke masa kecilnya, ketika itu ia menuntut jawaban atas alasan ibu menyuruhnya menjadi pria. Ibu memberikan jawaban kalau Ra On bisa menjadi wanita ketika ia bisa hidup dan melindungi dirinya sendiri. saat itulah ia boleh menjadi seorang wanita.

“Dalam sepuluh tahun terakhir tanpamu, aku sudah hidup dengan berani. Karena aku sudah tumbuh sampai aku bisa melindungi diriku bahkan saat sendirian.”

Ra On tersenyum membuat keputusan.

-oOo-

Ra On membuat keputusan dan menemui Young menggunakan hanbok keesokan harinya. Young terpesona melihat tampilan anggunnya, ia bertanya bagaimana ia memanggil Sam Nom setelah berubah menjadi wanita?

“Hong Ra On, Putra Mahkota.”

Young tersenyum senang. Dia memanggilnya lembut, “Ra On –ah..” jiaaaaaaaahhhhhh..

Keduanya pun berbalas senyum dengan manisnya.

3 Responses to "SINOPSIS Moonlight Drawn by Clouds Episode 9 Bagian 2"

  1. Huaaaaaa,,, apa yang terjadi selanjutnyaaa ??, jreng jreng jreng

    ReplyDelete
  2. Hahaha.....dan saya pun ikut meleleh, hahaha......

    ReplyDelete
  3. Hahaha.. Ra On - ah klo di IND Onah,, :-D.

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^